• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lokasi dan Waktu Penelitian

DAFTAR LAMPIRAN

3. METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 9 hari, dimulai pada tanggal 19 Maret hingga 27 Maret 2011. Seluruh kegiatan pengambilan sampel air dilakukan dengan menggunakan kapal riset Baruna Jaya VIII milik PUSLIT Oseanografi LIPI. Titik pengambilan sampel air dilakukan pada posisi lintang antara 8,39-9,08 °LS dan posisi bujur antara 114,14-115,39 °BT.

Stasiun pengamatan dalam pengambilan sampel air dalam pendugaan kualitas perairan Selat Bali terdiri 9 titik pengamatan yang melintang dari wilayah Grajagan, Jawa Timur sampai Jimbaran, Bali yang disesuaikan dengan rute pelayaran kapal Baruna Jaya VIII. Letak koordinat, waktu pengambilan sampel dan kedalaman perairan tiap stasiun dapat dilihat pada Lampiran 4. Peta lokasi penelitian di perairan Selat Bali dapat dilihat pada Gambar 2. Pengambilan sampel air dilakukan pada kedalaman yang berbeda, hal ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik perairan pada beberapa kolom perairan (permukaan, termoklin, dan dekat dasar perairan).

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian meliputi alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengambilan air sampel dan analisis parameter kualitas perairan (fisika kimia). Alat dan metode yang digunakan dalam analisis kualitas perairan parameter fisika kimia perairan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Alat/metode yang digunakan dalam analisis parameter kualitas air

Parameter Satuan Alat/metode Keterangan

a. Fisika

1. Suhu °C CTD In-situ

2. Kekeruhan NTU Spektrofotometer Ex-situ

3. TSS mg/L Gravimetri Ex-situ

b. Kimia

1. pH - pH meter In-situ

2. Salinitas PSU Salinometer In-situ

3. DO mg/L DO meter In-situ

4. BOD mg/L Titrasi Winkler In-situ

5. Amonia mg/L Spektrofotometer Ex-situ

6. Nitrat mg/L Spektrofotometer Ex-situ

7. Fosfat mg/L Spektrofotometer Ex-situ

8. Raksa mg/L AAS Ex-situ

9. Kadmium mg/L AAS Ex-situ

10. Tembaga mg/L AAS Ex-situ

11. Timbal mg/L AAS Ex-situ

Mengacu pada: Eaton et al. 2005

Alat yang digunakan dalam proses pengambilan air sampel adalah Rossete

Water Sampler yang terdiri dari 10 tabung niskin dan tiap tabung memiliki kapasitas

sebesar 10 liter. Bersamaan dengan Rossete Water Sampler, CTD (Conductivity

Temperature Depth) beserta alat yang digunakan untuk keperluan pengambilan data

in-situ seperti pHmeter, salinometer dan DOmeter dirangkai dalam satu unit

(lampiran 1).

3.3. Pengumpulan Data

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer yang dilakukan selama survey. Data in-situ yang diambil selama penelitian antara lain data kedalaman, DO, pH, suhu, BOD, dan salinitas. Data ex-situ seperti kekeruhan, TSS,

nutrien dan logam terlarut dilakukan analisis di Laboratorium Fisika-Kimia Perairan, bagian Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Pengukuran parameter seperti kedalaman dan suhu dilakukan dengan menggunakan CTD (Conductivity Temperature Depth). Kedalaman selama penelitian sangat bervariasi, kedalaman yang paling dangkal yaitu 29,4 m dan yang paling dalam mencapai 2.549 m. CTD memiliki tiga sensor utama yaitu sensor konduktivitas listrik, sensor suhu, dan sensor tekanan. Prinsip pengoperasian CTD ini adalah dengan menurunkannya ke perairan dan secara kontinu CTD akan mengambil data numerik tiap satu meter kedalaman yang dihubungkan langsung ke ruang kontrol atau ruang operasi CTD. Dalam ruangan ini, CTD dikontrol dan dikendalikan dengan perangkat komputer. Pada pengukuran pH, pHmeter yang digunakan hanya mampu mengukur hingga kedalaman kurang dari 1.000 meter, maka ketika pengambilan sampel air pada stasiun yang memiliki kedalaman lebih dari 1.000 meter, pHmeter tidak dipasang.

Pengambilan sampel air untuk kebutuhan analisis lab dilakukan dengan mengggunakan tabung Niskin. Contoh air laut yang diambil berdasarkan 3 kolom perairan, yaitu lapisan permukaan, lapisan termoklin, dan lapisan dekat dasar perairan.

Pengambilan sampel air pada lapisan permukaan dilakukan pada kedalaman 5- 10 m. Secara otomatis Rossete Water Sampler dapat dikontrol untuk dibuka dan ditutup dari ruang kontrol untuk keperluan pengambilan air sampel. Penentuan lapisan termoklin perairan dapat terlihat dari adanya perubahan suhu yang drastis. Ketika CTD diturunkan ke perairan, data parameter seperti kedalaman, temperatur, salinitas, pH, dan DO dapat langsung terbaca dalam bentuk grafik pada layar monitor dari ruang kontrol yang menghubungkan perangkat komputer dengan CTD yang diturunkan ke perairan. Ketika monitor pengamatan terlihat perbedaan suhu yang signifikan, maka satu unit tabung niskin diberhentikan untuk proses pengambilan sampel air. Setelah itu, tabung Niskin ditutup dan Rossette Water

Sampler diturunkan kembali ke dasar perairan untuk mengambil contoh air pada

berbeda ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kualitas air pada masing- masing kolom perairan.

Pengambilan sampel air untuk keperluan analisis ex-situ, dengan memindahkan air sampel dari tabung Niskin ke dalam botol sampel polyethylene

beserta pengawetnya yang disesuaikan untuk keperluan analisis tertentu (Lampiran 2). Botol yang diberi label biru yang memiliki kapasitas satu liter digunakan untuk keperluan analisis parameter fisika seperti kekeruhan dan TSS. Botol biru ini tidak menggunakan pengawet apapun untuk keperluan analisis. Botol polyethylene yang diberi label warna merah muda memiliki kapasitas sebesar 500 ml digunakan untuk keperluan analisis parameter logam terlarut, seperti Hg, Pb, Cd, dan Cu diberi pengawet berupa HNO3, sedangkan untuk keperluan analisis parameter seperti total

P, NH3, dan NO2 digunakan botol polyethylene 500 ml yang diberi label warna

jingga dengan bahan pengawet H2SO4. Botol BOD yang terbuat dari gelas bening

yang memiliki kapasitas sebesar 125 ml digunakan untuk inkubasi. Beberapa sampel untuk analisis parameter seperti BOD, nitrat, amonia dan fosfat disimpan pada suhu 4 °C. Pengawetan atau penanganan sampel mengacu pada APHA (2005). Parameter fisika-kimia yang diamati dan alat/metode analisisnya selengkapnya disajikan pada Tabel 2.

3.4. Analisis Data

Data yang diperoleh terlebih dahulu dikelompokkan ke dalam parameter dan stasiunnya masing-masing. Kemudian dalam menganalisis data, hasil pengolahan lebih lanjut ditampikan dalam bentuk grafik sehingga perbedaan mengenai karakteristik fisika dan kimia perairan dapat terlihat.

3.4.1. Sebaran menegak

Profil sebaran menegak dibuat untuk melihat pola pelapisan (stratifikasi) massa air pada setiap stasiun. Nilai parameter fisika-kimia perairan diletakkan pada sumbu x sedangkan kedalaman (m) diletakkan pada sumbu y. Parameter yang dianalisis secara vertikal adalah semua parameter in-situ pada proses pengoperasian CTD yang terekam secara kontinu setiap 1 meter (suhu, salinitas, pH, dan DO).

Profil ini dapat digunakan untuk melihat kedalaman, sebaran maksimum dan minimum nilai parameter fisika kimia pada kedalaman tiap stasiun serta pola distribusi secara vertikal parameter-parameter tersebut.

3.4.2. Sebaran melintang

Sebaran melintang dibuat untuk mengetahui perbedaan secara spasial karakteristik fisika-kimia perairan berdasarkan tiga lapisan perairan, yaitu lapisan permukaan, termoklin, dan dekat dasar perairan (Lampiran 5). Lapisan termoklin tiap stasiun berada pada kedalaman yang berbeda. Penentuan lapisan termoklin dilihat dari perbedaan suhu yang signifikan yang dapat terlihat pada saat CTD diturunkan yang dikendalikan dengan komputer yang mengukur kedalaman, suhu, salinitas, DO secara kontinu tiap satu meter. Nilai dari parameter fisika-kimia perairan yang ditampilkan pada sebaran melintang dapat melihat kisaran maksimum dan minimum pada titik stasiun yang telah ditentukan serta melihat perbedaan antara stasiun yang relatif dekat dengan daratan sampai ke laut lepas. Sebaran melintang diolah dan disajikan dengan menggunakan software ODV (Ocean Data View) versi 3.0.1-2005. Pola sebaran warna yang ditampilkan dalam ODV didasarkan atas data parameter fisika-kimia perairan di setiap stasiun yang dianalisis dan pendekatan interpolasi pada wilayah diluar stasiun pengamatan.

3.4.3. Penentuan status mutu air dengan Metode Storet

Metode Storet merupakan metode yang umum digunakan untuk menentukan status mutu perairan. Secara prinsip, Metode Storet membandingkan data kualitas perairan dengan baku mutu air yang disesuaikan dengan peruntukannya. Penelitian analisis kualitas perairan ini disesuaikan dengan Kepmen-LH nomor 51 tahun 2004 tentang baku mutu air laut untuk biota perairan (Lampiran 3).

Cara menentukan status mutu air adalah dengan menggunakan sistem nilai dari US-EPA (United States Enviromental Protection Agency) dengan mengklasifikasikan air ke dalam 4 kelas, yaitu:

1. Kelas A : baik sekali, skor = 0  memenuhi baku mutu

3. Kelas C : sedang, skor = -11 s/d -30  tercemar sedang 4. Kelas D : buruk, skor ≥ -31  tercemar berat

Prosedur penggunaan: data pengamatan mengenai kualitas air dibandingkan dengan baku mutu yang sesuai dengan kelas air. Jika hasil pengukuran memenuhi

baku mutu air (hasil pengukuran ≤ baku mutu) maka diberi skor 0. Jika hasil pengukuran tidak memenuhi baku mutu air (hasil pengukuran > baku mutu) maka diberi skor seperti pada Tabel 3. Jumlah negatif dari seluruh parameter dihitung dan ditentukan status mutunya dari jumlah skor yang di dapat dengan menggunakan sistem nilai (lampiran 6).

Tabel 3. Penentuan sistem nilai untuk menentukan status mutu air pada Indeks Storet berdasarkan Kepmen-LH No.115 tahun 2003

Jumlah Nilai Parameter

Data Fisika Kimia Biologi

< 10 Maksimum -1 -2 -3 Minimum -1 -2 -3 Rata-rata -3 -6 -9 ≥ 10 Maksimum -2 -4 -6 Minimum -2 -4 -6 Rata-rata -6 -12 -18

Untuk penentuan indeks storet ini, data dikelompokkan menjadi tiga kelompok data, yakni:

1. Kelompok I yang terdiri dari stasiun 1 dan 2 2. Kelompok II yang terdiri dari stasiun 3, 4, dan 5 3. Kelompok III yang terdiri dari stasiun 6,7, dan 8

Pengelompokkan stasiun ini bertujuan untuk membandingkan status mutu perairan dari stasiun yang relatif dekat pantai dan stasiun yang berada jauh dari pantai.

3.4.4. Penentuan status mutu air dengan Indeks Pencemaran

Indeks pencemaran (Pollution Index) merupakan indeks yang berkaitan dengan senyawa pencemaran yang digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran relatif terhadap parameter kualitas perairan yang diizinkan (Nemerow 1974 in Kepmen-LH Nomor 115 tahun 2003). Pengelolaan kualitas air atas dasar

Indeks Pencemaran (IP) dapat memberi masukan pada pengambilan keputusan agar dapat menilai kualitas perairan untuk suatu peruntukan serta melakukan tindakan untuk memperbaiki kualitas jika terjadi penurunan kualitas akibat kehadiran senyawa pencemar.

Jika Lij menyatakan konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan

dalam baku mutu peruntukan air (j) (Lampiran 3) dan Ci menyatakan konsentrasi

parameter kualitas air (i) yang diperoleh dari hasil analisis, maka Pij adalah Indeks

Pencemaran bagi peruntukan (j) yang merupakan fungsi dari Ci/Lij. Pij ditentukan

dengan cara:

1. Memilih parameter yang terdapat dalam baku mutu

2. Menghitung nilai dari Ci/Lij untuk tiap parameter pada setiap stasiun.

3. a). Jika nilai konsentrasi yang menurun menyatakan tingkat pencemaran meningkat (misalkan DO), maka penentuan nilai maksimum Cim (misalkan

untuk DO, maka Cim merupakan nilai DO jenuh). Dalam kasus ini nilai Ci/Lij

hasil pengukuran digantikan oleh nilai Ci/Lij hasil perhitungan,yaitu:

b). Jika nilai baku mutu Lij memiliki rentang,

- untuk Ci≤ Lij rata-rata

- untuk Ci > Lij rata-rata

c). Jika dua nilai (Ci/Lij) berdekatan dengan nilai acuan 1,0. Misalkan

(C1/L1j)= 0,9 dan (C2/L2j) = 1,1 atau perbedaan yang sangat besar, misalkan

(C3/L3j) = 5,0 dan (C4/L4j) = 10,0. Dalam contoh ini tingkat kerusakan badan

air sulit untuk ditentukan. Cara untuk mengatasinya adalah:

- Penggunaan nilai (Ci/Lij) hasil pengukuran jika nilai ini < 1,0 maka nilai

- Jika hasil (Ci/Lij) hasil pengukuran > 1,0 maka nilai (Ci/Lij) baru dapat diperoleh

dari:

P adalah konstanta dan nilainya ditentukan dengan bebas dan disesuaikan dengan hasil pengamatan lingkungan dan atau persyaratan yang dikehendaki untuk suatu peruntukan (biasanya digunakan nilai 5).

4. Menentukan nilai rata-rata dan nilai maksimum dari keseluruhan Ci/Lij ((Ci/Lij)R

dan (Ci/Lij)M).

5. Sehingga nilai dari Indeks Pencemaran dapat diketahui dari persamaan:

Dari hasil perhitungan nilai Indeks Pencemaran, besarnya nilai atau skor menggambarkan kondisi kualitas perairan sesuai dengan kriteria pada Tabel 4. berikut.

Tabel 4. Penentuan status mutu air berdasarkan Indeks Pencemaran

Skor Kriteria

0,0 ≤ PIj≤ 1,0 Kondisi baik

1,0 < PIj≤ 5,0 Tercemar ringan

5,0 < PIj≤ 10 Tercemar sedang

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Parameter Fisika Perairan 4.1.1. Suhu

Sebaran menegak suhu di perairan bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011 pada masing-masing stasiun pengamatan dapat dilihat pada Gambar 4. Setiap stasiun pengamatan memiliki kedalaman yang bervariasi mulai dari kedalaman 29,4 m hingga 2.549 m. Pengelompokkan stasiun pada Gambar 4 berdasarkan kedalaman maksimum tiap staiun. Grafik pertama, pengelompokkan berdasarkan kedalaman stasiun yang kurang dari 100 meter. Grafik kedua adalah stasiun yang memiliki kedalaman antara 100-1.000 m. Sedangkan grafik ketiga adalah pengelompokan stasiun yang memiliki kedalaman lebih dari 1.000 m. Pada Gambar 4 terlihat bahwa secara umum nilai suhu pada semua stasiun pengamatan akan semakin menurun seiring bertambahnya kedalaman perairan.

Pada lapisan permukaan, terlihat bahwa kisaran nilai suhu pada semua stasiun relatif sama yaitu berkisar antara 28-30 °C. Di bawah lapisan permukaan, terdapat lapisan termoklin yang dapat terlihat dari adanya perubahan suhu yang drastis pada kolom perairan. Kedalaman lapisan termoklin pada tiap stasiun berbeda antara satu stasiun dengan stasiun lainnya. Pada stasiun 1, lapisan termoklin terbentuk pada kedalaman 10 m, sedangkan pada stasiun 2 sampai stasiun 9 secara berturut-turut kedalaman lapisan termoklin adalah 80 m, 70 m, 80 m, 80 m, 100 m, 110 m, 120 m dan 14 m.

Lapisan termoklin merupakan lapisan yang mengalami perubahan nilai suhu yang cepat terhadap kedalaman yang berada diantara massa air permukaan yang lebih hangat dengan massa air yang lebih dingin dibawahnya. Kedalaman atau letak dari lapisan termoklin ini dapat menunjukkan perbedaan karakteristik perairan baik sifat fisika, kimia, maupun biologi suatu perairan. Kedalaman dari lapisan termoklin dan permukaan ini dapat berbeda-beda tergantung pada musim. Selain terjadinya penurunan suhu yang drastis, lapisan termoklin ini biasanya ditandai dengan penurunan kandungan oksigen terlarut dan penaikan yang cepat dari kadar zat hara. Di wilayah perairan Indonesia, kedalaman termoklin pada lautan Hindia mencapai

120 meter (Wyrtki 1961). Hal ini sesuai dengan data pengamatan pada stasiun 6,7, dan 8 yang memiliki kedalaman lebih dari 1.000 meter pada wilayah selatan Selat Bali yang berbatasan dengan Samudera Hindia, lapisan termoklin teramati berada pada kolom perairan dengan kedalaman antara 100-120 meter.

Gambar 4. Sebaran menegak suhu tiap stasiun di perairan Selat Bali pada bulan Maret 2011

Di bawah lapisan termoklin kembali menunjukkan penurunan suhu yang lambat dengan bertambahnya kedalaman. Lapisan ini merupakan lapisan homogen dalam yang dimulai dari batas bawah lapisan termoklin hingga pada kedalaman di bawahnya. Penyebaran suhu di perairan Indonesia tergantung dari musim yang diakibatkan oleh angin musim. Di Indonesia memiliki angin musim (monsoon) yang mengalami pembalikan arah dua kali setiap tahun (Wyrtki 1961). Angin musim dari

tenggara berhembus sepanjang bulan Mei sampai November. Angin musim tenggara ini mencapai puncaknya pada bulan Juni sampai Agustus dan disebut sebagai musim timur karena angin bertiup dari arah timur ke barat. Pada bulan Desember sampai April dipengaruhi oleh angin musim dari Barat Laut dan mencapai puncaknya pada bulan Desember sampai Februari yang dikenal sebagai musim barat karena angin berhembus dari barat ke timur. Bulan Maret-Mei dan September- November disebut sebagai musim pancaroba atau musim peralihan karena angin yang berhembus pada bulan tersebut tidak beraturan. Pada setiap awal periode masa peralihan ini, pengaruh angin musim sebelumnya masih sangat kuat (Nontji 1987).

Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2011 yang merupakan musim peralihan I dimana proses penaikan air pada musim ini tidak terjadi, hal ini ditunjukkan dengan tidak ditemukannya suhu permukaan yang lebih rendah dibanding suhu yang berada di kolom perairan di bawahnya. Hal ini mengindikasikan tidak terjadinya proses upwelling pada saat proses pengambilan data. Pada saat musim timur, perairan Selat Bali dikatakan cukup subur, hal ini diakibatkan proses upwelling atau kenaikan massa air yang lebih rendah ke atas permukaan air laut (Illahude 1974). Naiknya massa air yang cenderung relatif lebih rendah ini diikuti oleh tingginya kandungan unsur hara seperti nitrat dan fosfat yang memicu tingginya perkembangan fitoplankton dan produktivitas perairan.

Sebaran suhu permukaan di Selat Bali dapat dilihat pada Gambar 5. Suhu permukaan laut mempunyai hubungan dengan keadaan lapisan air laut yang ada di bawahnya, sehingga data suhu permukaan laut dapat digunakan untuk menafsirkan fenomena-fenomena yang terjadi di laut seperti front atau pertemuan dua massa air yang berbeda, arus, upwelling, dan aktivitas biologi di dalamnya. Pada lapisan permukaan umumnya memiliki suhu yang relatif tinggi, salinitas dan kandungan zat hara yang tinggi (Sverdrup et al. 1946).

Gambar 5. Sebaran melintang suhu lapisan permukaan di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011

Sebaran suhu permukaan di Indonesia memiliki kisaran antara 28-31 °C (Nontji 1987). Perbedaan warna yang tidak terlalu mencolok pada gambar diatas menunjukkan bahwa pada lapisan permukaan, suhu pada tiap stasiun pengamatan tidak terlalu bervariasi atau cenderung seragam. Sebaran suhu permukaan laut merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui terjadinya proses upwelling di suatu perairan. Di dalam proses upwelling terjadi penurunan suhu permukaan laut dan tingginya kandungan zat hara dibanding daerah sekitarnya. Tingginya kandungan zat hara tersebut merangsang perkembangan fitoplankton di lapisan permukaan. Perkembangan fitoplankton ini erat kaitannya dengan kesuburan perairan, oleh karena itu penaikan massa air pada suatu perairan sering dihubungkan dengan kenaikan kesuburan perairan yang berkorelasi dengan dengan semakin meningkatnya populasi ikan di perairan tersebut (Wyrtki 1961).

Gambar 6. Sebaran melintang suhu lapisan termoklin di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011

Lapisan kedua dibawah lapisan homogen permukaan adalah lapisan termoklin. Sebaran melintang suhu (Gambar 6) memperlihatkan adanya perbedaan nilai suhu pada tiap titik pengamatan. Warna merah tua menunjukkan bahwa pada wilayah yang relatif dekat darat memiliki nilai suhu yang lebih tinggi dibanding pada stasiun yang jauh dari daratan. Hal ini erat kaitannya dengan kedalaman lapisan termoklin yang berbeda pada tiap stasiun. Pada Stasiun 1-5 yang berada pada wilayah 114- 114,5 °BT, sebaran suhu termoklin cenderung lebih hangat dibanding dengan stasiun 6-8 yang terletak pada 114,5-115°BT. Pada stasiun 1-5 kisaran suhu termoklin dengan kedalaman 10-80 m adalah sebesar 26-29°C sedangkan kisaran suhu pada stasiun 6-8 yang memiliki kedalaman antara 100-120 meter memiliki kisaran suhu sebesar 14-25 ° C. Intrusi masa air dari Samudera Hindia dan kedalaman lapisan termoklin yang lebih dalam diindikasikan menjadi penyebab suhu pada lapisan termoklin di wilayah ini lebih dingin dibanding dengan stasiun yang lainnya. Pada

stasiun 9 dengan kedalaman termoklin sebesar 14 meter, suhu perairan pada lapisan ini relatif menjadi lebih hangat yaitu sebesar 29 °C.

Gambar 7. Sebaran melintang suhu lapisan dekat dasar di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011

Lapisan terakhir adalah lapisan homogen dalam. Lapisan homogen dalam ini berada di bawah lapisan termoklin. Semakin ke dasar perairan, teramati bahwa perbedaan suhu sangat mencolok dan bervariasi khususnya pada stasiun 6,7, dan 8 yang berbatasan dengan Samudera Hindia yang memiliki kedalaman lebih dari 1.000 meter. Hal ini tentu berdampak pada semakin rendahnya nilai suhu pada lapisan dasar perairan. Cahaya matahari merupakan sumber bahang utama yang diterima oleh badan perairan. Menurut Nontji (1987), lapisan dingin (deep layer) di lapisan dalam perairan Indonesia merupakan lapisan dengan suhu dingin biasanya kurang dari 5°C pada kedalaman lebih dari 1.000 meter. Hal ini sesuai dengan data pengamatan pada stasiun 6 sampai 8 yang memiliki kedalaman lebih dari 1.000 meter, suhu yang teramati berkisar antara 2-3 °C.

4.1.2. Kekeruhan

Hasil analisis yang dilakukan terhadap parameter kekeruhan, sebaran melintang pada tiap stasiun pada lapisan permukaan, lapisan termoklin, dan lapisan dekat dasar perairan dapat dilihat pada Gambar 8, 9 dan 10. Secara keseluruhan nilai kekeruhan yang teramati baik pada lapisan permukaan, termoklin maupun dekat dasar perairan nilainya berkisar antara 0,2-0,7 NTU. Pada lapisan permukaan, nilai kekeruhan cenderung lebih tinggi pada wilayah sebelah barat dan semakin tinggi ke arah timur. Hal ini ditunjukkan dengan perbedaan gradien warna pada gambar 8. Pada lapisan termoklin, nilai kekeruhan yang teramati berkisar antara 0,4-0,5 NTU. Pada dasar perairan kisaran nilai dari parameter kekeruhan yang teramati lebih besar dibanding lapisan permukaan dan termoklin (0,4-0,6 NTU).

Gambar 8. Sebaran melintang kekeruhan lapisan permukaan di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011

Jika dilihat penyebaran secara spasialnya, nilai kekeruhan pada stasiun 1-5 yang terletak pada posisi 114-114,5 °BT nilainya lebih tinggi dibanding dengan nilai kekeruhan pada stasiun 6-9 yang terletak pada 114,5-115 °BT. Posisi stasiun 1-5

yang relatif dekat dengan daratan dibanding dengan stasiun 6-8 yang berada di laut lepas menyebabkan pengaruh dari daratan lebih besar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Anwar (2008) yang menyatakan bahwa secara spasial nilai kekeruhan akan semakin meningkat ke arah estuari atau daratan yang diakibatkan masih adanya pengaruh air limpasan dari darat (run off).

Gambar 9. Sebaran melintang kekeruhan lapisan termoklin di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011

Pada lapisan termoklin terlihat bahwa nilai kekeruhan pada stasiun 1-5 cenderung lebih rendah dibanding stasiun 6-8 yang memiliki kedalaman termoklin lebih dari 100 meter. Berdasarkan hasil penelitian Anwar (2008), nilai kekeruhan yang rendah umumnya akan semakin berkurang nilainya seiring dengan bertambahnya kedalaman. Namun dari hasil pengamatan perbedaan nilai kekeruhan di lapisan termoklin tidak terlalu berbeda jauh, hanya berkisar 0,1 NTU.

Gambar 10. Sebaran melintang kekeruhan pada lapisan dekat dasar di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011

Analisis kekeruhan pada lapisan dekat dasar perairan diketahui bahwa perbedaan warna yang tidak terlalu signifikan menunjukkan bahwa nilai kekeruhan pada lapisan dekat dasar relatif seragam, namun cenderung semakin ke arah timur

Dokumen terkait