BAB III: METODE PENELITIAN
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Makassar, yaitu pada Pemerintah Kota Makassar, khususnya pada Kantor Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Makassar.
Mengenai waktu penelitian, penelitian ini akan dilaksanakan selama tanggal 24 September s/d 22 Oktober 2021.
C. Sumber dan Jenis Data
Menurut cara pengumpulannya maka data yang dibutuhkan penelitian ini adalah bersumber data sekunder, yaitu data yang sudah jadi atau terpublikasi, berupa pajak daerah yang berasal dari restoran berupa target dan realisasi dan PAD Pemerintah Kota Makassar.
Lalu data menurut waktu pengumpulannya adalah berupa data dari waktu ke waktu / berkala (time series data) yaitu dari tahun 2016 hingga tahun 2020.
Sedangkan menurut sifat data yang dikumpulkan peneliti adalah berupa data kuantitatif atau dalam bentuk numerik.
D. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran
Tabel 3.1 Operasional Variabel dan Pengukuran
No Variabel Definisi Indikator
1 Efektivitas
40
No Variabel Definisi Indikator
2
E. Teknik Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah observasi dan dokumentasi yang berasal dari Kantor Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Makassar, juga ditunjang data yang berasal dari Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Makassar berupa:
1. Data realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Kota Makassar dalam periode 2016-2020.
2. Data target dan realisasi penerimaan pajak restoran Pemerintah Kota Makassar tahun 2016-2020.
Data-data yang telah terkumpul selanjutnya dipilah dan ditabulasi untuk kepentingan analisis terhadap data tersebut.
F. Analisis Data
Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Analisis Efektivitas
Efektivitas merupakan kemampuan dalam merealisasikan besarnya penerimaan pajak restoran dari target yang telah direncanakan pada suatu periode tertentu.
Besarnya tingkat efektivitas pajak restoran dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut (Setiawati, 2018):
Kriteria yang digunakan dalam melakukan penilaian terhadap tingkat efektivitas pajak restoran adalah sebagai berikut:
Tabel 3.2 Kriteria Penilaian Efektivitas Pajak Restoran
Persentase Kriteria
>100% Sangat Efektif
>90-99% Efektif
>80-89% Cukup Efektif
>60-79% Kurang Efektif
<60% Tidak Efektif
Sumber: (Setiawati, 2018) 2. Analisis Kontribusi
Analisis kontribusi pajak restoran merupakan suatu analisis yang dipakai untuk mengetahui seberapa besar tingkat kontribusi yang didapatkan dari penerimaan Pajak Restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah.
Kontribusi pajak restoran merupakan sebuah bentuk sumbangsih dari penerimaan pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah.
Rumus yang digunakan dalam menghitung seberapa besar kontribusi menurut Budiyuwono (1996) adalah sebagai berikut:
Realisasi Pajak Restoran
Efektivitas Pajak Restoran = X 100%
Target Pajak Restoran
42
QXn
Pn = X 100%
Qyn Keterangan :
Pn : Kontribusi Penerimaan Pajak Restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (Mata uang Rupiah).
QX : Jumlah Penerimaan Pajak Restoran (Mata uang Rupiah).
QY : Jumlah Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (Mata uang rupiah).
n : Tahun atau periode tertentu
Kriteria yang digunakan dalam melakukan penilaian terhadap kontribusi pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3 Kriteria Penilaian Kontribusi Pajak Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Persentase Kriteria
0-0,9% Tidak Berkontribusi
1-1,9% Kurang Berkontribusi
2-2,9% Cukum Berkontribusi
3-3,9% Berkontribusi Baik
>4% Sangat Berkontribusi
Sumber: Fuad Bawazier (Esti Wulandari, 2017)
43
Sumber: Web Pemerintah kota Makassar (makassarkota.go.id) BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Objek Penelitian a. Sejarah Kota Makassar
Dilihat dari portal resmi Kota Makassar (Makassarkota.go.id), Pada awalnya kota Makassar disebut kota dan bandar Makassar. Terletak di muara Sungai Tallo dengan pelabuhan niaga kecil yang ada diwilayah tersebut pada masa akhir abad XV.
Pada akhir abad ke-18,
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengganti kompeni perdagangan VOC yang bangkrut. Kemudian pada tahun 1846, Makassar kembali dihidupkan dengan menjadikannya pelabuhan bebas. Pada tahun-tahun selanjutnya, terjadi kenaikan volume perdagangan yang pesat, dan hal ini menjadikan Makassar kembali sebagai bandar Internasional. Pada Abad ke-19, Makassar dijuluki sebagai “kota kecil terindah di seluruh HIndia- Belanda”
(Joseph Conrad, seorang penulis Inggris-Polandia terkenal), dan menjadi salah satu port of call utama bagi para pelaut dan pedagang dalam memburu hasil hutan yang sangat diminati dunia saat itu. Pada awal abad ke-20, daerah-daerah yang independen di Sulawesi dapat ditaklukkan kolonial Belanda dan menjadikan Makassar sebagai pusat pemerintahan kolonial Gambar 4.1 Logo Kota Makassar
44
Belanda di Indonesia Timur. Pada masa itu, ekonomi Makassar berkembang pesat akibat tidak terjadinya perang. Pada tahun 1906, Makassar dideklarasikan sebagai Kota Madya, dan pada tahun 1920-an menjadi kota besar kedua di luar jawa, dengan berbagai kemajuannya.
Pada saat perang dunia kedua dan pendirian Republik Indonesia, tahun 1949 sebagian besar warga asing mulai kembali ke negaranya dan akhir tahun 1950an terjadi nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, sehingga hal-hal ini menjadikan Makassar kembali menjadi sebuah kota provinsi. Antara tahun 1930- 1961, jumlah penduduk meningkat dari kurang lebih 90.000 yang sebagian besar merupakan pendatang baru dari wilayah luar kota yang berusaha menyelamatkan diri akibat berbagai pargejolakan pada saat itu. Akibat dari sebagian besar warga merupakan pendatang baru, beberapa tahun kemudian tepatnya tahun 1971, terjadi pergantian nama kota menjadi Ujung Pandang yang berasal dari “Jumpandang” yang merupakan julukan yang menandai Kota Makassar bagi orang pedalaman selama berabad-abad.
Pada 13 oktober 1999, Ujung Pandang kembali berubah ke nama sebelumnya, yaitu Makassar. Hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 1999 Nama Ujung Pandang dikembalikan menjadi Kota Makassar. Serta sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, yang kemudian diganti dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, dengan luas wilayah Kota Makassar ditambah kurang lebih 4 mil kearah laut, atau setara dengan 10.000 Ha dan menjadikan luas daratan dan lautan seluruhnya seluas kurang lebih 27.577Ha.
Sumber: Web Pemerintah kota Makassar (makassarkota.go.id) b. Kondisi Geografis
Secara astronomis Kota Makassar terletak antara 119º24’17’38”
Bujur Timur dan 5º8’6’19” Lintang Selatan yang berbatasan sebelah utara dan timur, sebelah selatan terdapat Kabupaten Gowa dan sebelah barat merupakan Selat Makassar. Kota Makassar memiliki topografi dengan tingkat kemiringan lahan 0-2 (datar) dan kemiringan lahan 3-15
(bergelombang). Tercatat, Kota Makassar
memiliki luas sebesar 175,77 km persegi. Memiliki kondisi iklim sedang sampai tropis dan memiliki suhu udara yang rata-rata berkisar antara 26C sampai dengan 29C.
Kota Makassar merupakan sebuah kota yang terletak dekat dengan pantai yang membentang sepanjang koridor barat dan utara, yang juga dikenal dengan sebutan “Waterfront City” yang didalamnya mengalir beberapa sungai, diantaranya yaitu Sungai Tallo, Sungai Jeneberang dan Sungai Pampang), semuanya bermuara ke dalam kota. Kota Makassar merupakan hamparan daratan rendah yang berada di ketinggian antara 1–25 meter dari permukaan laut, kondisi ini yang menyebabkan Kota Makassar sering terdapat genangan air pada saat musim hujan, terutama pada saat bersamaan naiknya air pasang.
Secara administrasi, Kota Makassar terdiri dari 15 Kecamatan dengan 153 Kelurahan. Secara umum, topografi Kota Makassar Gambar 4.2 Peta Kota Makassar
46
dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu:
a) Pada bagian barat ke arah utara relatif lebih rendah berdekatan dengan pesisir pantai.
b) Pada bagian timur demgham keadaan topografi berbukit seperti di kelurahan Antang, kecamatan Panakkukang.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Makassar, jumlah Penduduk Kota Makassar berdasarkan sensus penduduk tahun 2020 sebanyak 1.423.877 jiwa. Dibandingkan dengan hasil dari sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Kota Makassar mengalami pertumbuhan sebesar 0,60 persen.
c. Visi dan Misi Pemerintah Kota Makassar
Adapun visi yang diusung oleh Pemerintah Daerah Kota Makassar adalah “Percepatan Mewujudkan Makassar Kota Dunia yang Sombere &
Smart City dengan Imunitas Kuat untuk semua” dengan misi sebagai berikut:
1) Revolusi SDM dan Percepatan Reformasi Birokrasi menuju SDM Kota yang unggul dengan pelayanan public kelas dunia bersih dari indikasi korupsi.
2) Rekonstruksi Kesehatan, ekonomi, social dan budaya menuju masyarakat sejahtera dengan imunitas ekonomi dan kesehatan yang kuat untuk semua.
3) Restorasi ruang kota yang inklusif menuju kota nyaman kelas dunia yang “Sombere’ & Smart” city untuk semua.
d. Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Makassar
Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Makassar merupakan
satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Kota Makassar yang mempunyai tugas untuk membantu walikota dalam melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan bidang keuangan yang menjadi kewenangan daerah, hal ini tertuang dalam Peraturan Walikota Makassar Nomor 110 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Pendapatan Daerah.
Adapun uraian tugas dan fungsi dari Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar menurut Peraturan Walikota Makassar Nomor 110 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Pendapatan Daerah, yakni sebagai berikut:
1) Fungsi Bapenda Kota Makassar
a) Perumusan kebijakan penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang keuangan.
b) Pelaksanaan kebijakan urusan pemerintahan bidang keuangan.
c) Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan urusan pemerintahan bidang keuangan.
d) Pelaksanaan administrasi badan urusan pemerintahan bidang keuangan.
e) Pembinaan, pengkoordinasian, pengelolaan, pengendalian dan pengawasan program dan kegiatan bidang keuangan.
f) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh walikota terkait dengan tugas dan fungsinya.
2) Tugas Bapenda Kota Makassar
a) Merumuskan dan melaksanakan kebijakan dibidang pendapatan daerah.
48
b) Merumuskan dan melaksanakan Visi dan Misi badan.
c) Merumuskan dan mengendalikan pelaksanaan program dan kegiatan sekretariat dan bidang pendaftaran dan pendataan, bidang pajak I dan retribusi daerah, bidang pajak daerah II dan bidang koordinasi, pengawasan dan perencanaan.
d) Merumuskan Rencana Strategis (RENSTRA) dan Rencana Kerja (RENJA), Indikator Kinerja Utama (IKU), Rencana Kerja dan Anggaran (RKA)/RKPA, Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA)/DPPA dan Perjanjian Kinerja (PK) badan.
e) Mengoordinasikan dan merumuskan bahan penyiapan penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD), Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)/
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) kota dan segala bentuk pelaporan lainnya sesuai bidang tugasnya.
f) Merumuskan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)/Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) badan.
g) Merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Standar Pelayanan (SP) badan.
h) Mengkoordinasikan pembinaan dan pengembangan kapasitas organisasi dan tata laksana.
i) Menyelenggarakan pembinaan, pemeriksaan, pengawasan, pengendalian, dan penindakan terhadap pengelolaan pendapatan daerah yang bersumber dari pemungutan pajak
daerah, retribusi daerah, deviden Badan Usaha Milik Daerah dan penerimaan daerah lainnya.
j) Menyelenggarakan pelayanan administrasi pengelolaan dan pemungutan pajak hotel, pajak hiburan, pajak restoran, pajak parkir, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak pengambilan dan pengolahan mineral bukan logam, pajak air bawah tanah, pajak sarang burung walet, pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah bangunan, serta pajak/pendapatan daerah dan retribusi daerah lainnya.
k) Melaksanakan perencanaan dan pengendalian teknis operasional pengelolaan keuangan, kepegawaian dan pengurusan barang milik Daerah yang berada dalam penguasaannya.
l) Melaksanaan tugas pembantuan dari pemerintah Provinsi ke pemerintah Kota sesuai dengan bidang tugasnya.
m) Mengevaluasi pelaksanaan tugas dan menginventarisasi permasalahan di lingkup tugasnya serta mencari alternatif pemecahannya.
n) Mempelajari, memahami dan melaksanakan peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan lingkup tugasnya sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas.
o) Memberikan saran dan pertimbangan teknis kepada pimpinan p) Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait lainnya sesuai
dengan lingkup tugasnya.
q) Membina, membagi tugas, memberi petunjuk, menilai dan
50
mengevaluasi hasil kerja bawahan agar pelaksanaan tugas dapat berjalan lancar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
r) Melaksanakan pembinaan jabatan fungsional.
s) Melaksanakan pembinaan unit pelaksana teknis,
t) Menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tugas kepada walikota melalui sekretaris Daerah.
u) Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh walikota.
Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar memiliki susunan organisasi sebagai berikut:
1) Kepala badan
2) Sekretariat, terdapat:
a) Subbagian perencanaan dan pelaporan.
b) Subbagian keuangan.
c) Subbagian umum dan kepegawaian.
3) Bidang pendaftaran dan pendataan, terdiri dari:
a) Subbidang pendataan wilayah I.
b) Subbudang pendataan wilayah II.
c) Subbidang pengelolaan data dan informasi.
4) Bidang pajak I dan retribusi daerah, terdiri dari:
a) Subbidang restoran, minerba dan burung walet.
b) Subbidang reklame, parkir dan retribusi daerah.
c) Subbidang penetapan, pembukuan dan pelaporan pajak dan retribusi daerah.
5) Bidang pajak daerah II, terdiri dari:
a) Subbidang hotel dan air bawah tanah.
b) Subbidang hiburan dan pajak penerangan jalan.
c) Subbidang penetapan, pembukuan dan pelaporan pajak.
6) Bidang koordinasi, pengawasan dan perencanaan, terdiri dari:
a) Subbidang koordinasi, perencanaan dan regulasi.
b) Subbidang penagihan pajak daerah dan retribusi daerah.
c) Subbidang pembinaan, pengawasan dan penindakan.
7) Kelompok Jabatan Fungsional.
8) Unit Pelaksana Teknis (UPT).
Struktur organisasi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar akan dilampirkan.
Adapun Jumlah objek pajak restoran di Kota Makassar yang terdaftar pada Bada Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Makassar dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.1 Jumlah Objek Pajak Restoran di Kota Makassar Tahun 2016- 2020
Jenis
Tahun
2016 2017 2018 2019 2020
Restoran 160 199 246 300 330
Rumah Makan 476 715 834 914 968
Kafetaria 256 369 437 490 534
Warung 190 360 426 474 534
Jasa Boga/Katering 19 29 52 167 217
Jumlah 1101 1672 1995 2345 2583
Sumber: Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Makassar
52
2. Penyajian Data (Hasil Penelitian)
Penelitian ini dilakukan di Pemerintah Kota Makassar, yakni pada kantor Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Makassar untuk menganalisis dan mengukur tingkat efektivitas dan besarnya kontribusi pajak restoran Kota Makassar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada tahun 2016 sampai tahun 2020.
Untuk menganalisis dan mengukur tingkat efektivitas dan besarnya kontribusi pajak restoran Kota Makassar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), data yang diolah adalah data dari tahun 2016 sampai 2020 yang mencakup target dan realisasi penerimaan pajak restoran serta realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berikut ini penyajian data hasil penelitian:
Tabel 4.2 Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Restoran Kota Makassar Tahun 2016-2020
Tahun Target Realisasi
2016 Rp 171,138,613,000 Rp 115,009,325,364
2017 Rp 140,000,000,000 Rp 140,867,931,059
2018 Rp 156,000,000,000 Rp 166,283,919,526
2019 Rp 185,000,000,000 Rp 210,332,199,489
2020 Rp 111,637,986,374 Rp 136,496,439,278
Sumber: Badan Pendapat Daerah Kota Makassar (Data diolah)
Dari tabel 4.2, dapat dilihat bahwa pada tahun 2016 target penerimaan pajak restoran Kota Makassar sebesar Rp. 171.138.613.000.- dengan realisasi sebesar Rp. 115.009.325.364. Pada tahun 2017, target penerimaan pajak restoran mengalami penurunan sebanyak 18% atau sebesar Rp.31.138.613.000.-
meskipun mengalami penurunan target dari tahun sebelumnya, namun realisasi pajak restoran mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar 22% atau sebesar Rp. 25.858.605.695.- Pada tahun 2018, target penerimaan pajak restoran mengalami naik sebesar 11% sedangkan realisasi penerimaan pajak restoran terus mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar 18%. Tahun 2019, target penerimaan pajak restoran sebesar 19%, dengan realisasi penerimaan pajak restoran mengalami kenaikan signifikan sebesar 26%. Target dan realisasi di tahun 2019 mengalami kenaikan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan tiga (3) tahun sebelumnya. Pada tahun 2020, target penerimaan pajak restoran mengalami penurunan yang sangat signifikan yakni sebesar 40%, begitu juga dengan realisasi yang turun sebesar 35% dari realisasi tahun sebelumnya.
Tabel 4.3 Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Makassar Tahun 2016-2020
TAHUN REALISASI (Rp)
2016 971.859.753.605
2017 1.337.231.094.232
2018 1.185.453.010.989
2019 1.303.316.337.553
2020 1.078.328.561.269
Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah(BPKAD) Kota Makassar (Data diolah)
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Makassar mengalami kenaikan dan penurunan di setiap tahun. Pada tahun 2016, realisasi PAD sebesar Rp. 971.859.753.605.- dan pada tahun 2017,
54
realisasi PAD meningkat sebesar 38% atau sebanyak Rp. 365.371.340.627.- Sedangkan pada tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 11% dari tahun sebelumnya atau sebesar Rp. 151.778.083.243.- Pada tahun 2019, PAD Kota Makassar kembali mengalami kenaikan sebesar 10% dari tahun sebelumnya. Dan di tahun 2020, realisasi pendapatan asli daerah di Kota Makassar kembali mengalami penurunan sebesar 17% atau sebanyak Rp. 224.987.776.284.
B. Analisis
1. Analisis Efektivitas Pajak Restoran di Kota Makassar
Menurut Mardiasmo (2017: 134), efektivitas merupakan ukuran berhasil tidaknya pencapaian tujuan suatu badan organisasi maupun individu dalam mencapai tujuannya. Tolak ukur dari efektivitas menggambarkan jangkauan dampak (outcome) dari keluaran (output) kegiatan dalam mencapai tujuan kegiatan.
Efektivitas pajak restoran merupakan sebuah indikator yang menggambarkan seberapa besar kemampuan pemerintah dalam merealisasikan penerimaan pajak restoran yang direncanakan, dibandingkan dengan yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah.
Besarnya tingkat efektivitas pajak restoran dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Setiawati, 2018):
Berikut ini hasil perhitungan efektivitas pajak restoran Kota Makassar dari tahun 2016 sampai 2020:
Realisasi Pajak Restoran
Efektivitas Pajak Restoran = X 100%
Target Pajak Restoran
Rp. 140.867.931.059
Efektivitas = X 100%
Rp140.000.000.000
= 101%
Rp. 115.009.325.364
Efektivitas = X 100%
Rp. 171.138.613.000
= 67%
Rp. 166.283.919.526
Efektivitas = X 100%
Rp. 156.000.000.000
= 107%
Rp. 210.332.199.489
Efektivitas = X 100%
Rp. 185.000.000.000
= 114%
Efektivitas = Rp136.496.439.278 X 100%
Rp111.637.986.374
= 122%
1) Tahun 2016
2) Tahun 2017
3) Tahun 2018
4) Tahun 2019
5) Tahun 2020
56
Tabel 4.4 Tingkat Efektivitas Penerimaan Pajak Restoran Kota Makassar Tahun 2016-2020
Tahun Target Realisasi Efekti
vitas Ket.
2016 Rp 171,138,613,000 Rp 115,009,325,364 67% Kurang Efektif 2017 Rp 140,000,000,000 Rp 140,867,931,059 101% Sangat Efektif 2018 Rp 156,000,000,000 Rp 166,283,919,526 107% Sangat Efektif 2019 Rp 185,000,000,000 Rp 210,332,199,489 114% Sangat Efektif 2020 Rp 111,637,986,374 Rp 136,496,439,278 122% Sangat Efektif Sumber: data diolah penulis
Keterangan pada tabel 4.4 berdasarkan klasifikasi kriteria yang digunakan untuk menilai tingkat efektivitas pajak restoran yang tertera dalam tabel 3.2 pada Bab III.
Berdasarkan tabel 4.4, diketahui bahwa tingkat efektivitas pajak restoran pada tahun 2016 hanya sebesar 67% (Kurang efektif). Pada tahun 2017, efektivitasnya naik sangat signifikan sebesar 34% menjadi 101% (Sangat Efektif), yang menandakan adanya evaluasi dan kemajuan dari tahun sebelumnya serta sudah memasuki kriteria sangat efektif. Pada tahun 2018 kembali meningkat menjadi 107%, mengalami kenaikan sebesar 6%, namun kenaikannya tidak terlalu signifikan jika dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2019, tingkat efektivitas pajak restoran naik sebesar 7% menjadi 114% (sangat efektif). Dan pada tahun 2020, efetivitas pajak restoran di Kota Makassar terus meningkat menjadi 122%. dari tahun 2016-2020 efektivitas pajak restoran Kota Makassar mengalami peningkatan dan memiliki trend yang positif.
2. Analisis Kontribusi Pajak Restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Makassar
Pajak bagi pemerintah daerah berperan sebagai sumber pendapatan utama yang digunakan untuk membiayai pengeluaran- pengeluaran pemerintah daerah.
Kontribusi pajak restoran merupakan sebuah bentuk sumbangsih dari penerimaan pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah. Analisis kontribusi pajak restoran merupakan suatu analisis yang dipakai untuk mengetahui seberapa besar tingkat kontribusi yang didapatkan dari penerimaan Pajak Restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah.
Rumus yang digunakan dalam menghitung seberapa besar kontribusi menurut Budiyuwono (1996) adalah sebagai berikut:
QXn
Pn = X 100%
QYn
Realisasi Pajak Restoran satu periode
Kontribusi = X 100%
Realisasi PAD satu periode
Berikut ini perhitungan dari kontribusi pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah di Kota Makassar dari tahun 2016-2020:
58
Rp. 115.009.325.364
Kontribusi = X 100%
Rp. 971.859.753.605
= 12%
Rp. 140.867.931.067
Kontribusi = X 100%
Rp. 1.337.231.094.232
= 11%
Rp. 166.283.919.526
Kontribusi = X 100%
Rp. 1.185.453.010.989
= 14%
Rp. 210.332.199.489
Kontribusi = X 100%
Rp. 1.303.316.337.553
= 16%
Rp. 136.496.439.278
Kontribusi = X 100%
Rp. 1.078.328.561.269
= 13%
1) Tahun 2016
2) Tahun 2017
3) Tahun 2018
4) Tahun 2019
5) Tahun 2020
Tabel 4.5 Kontribusi Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Makassar) Tahun 2016-2020
Tahun Realisasi Pajak
Restoran Realisasi PAD Kontribusi
Ket.
2016 Rp 115,009,325,364 Rp 971,859,753,605 12% Sangat Berkontribusi
2017 Rp 140,867,931,067 Rp 1,337,231,094,232 11% Sangat Berkontribusi
2018 Rp 166,283,919,526 Rp 1,185,453,010,989 14% Sangat Berkontribusi
2019 Rp 210,332,199,489 Rp 1,303,316,337,553 16% Sangat Berkontribusi
2020 Rp 136,496,439,278 Rp 1,078,328,561,269 13% Sangat Berkontribusi Sumber: Data diolah penulis
Keterangan pada tabel 4.5 berdasarkan klasifikasi kriteria yang digunakan untuk menilai kontribusi pajak restoran yang tertera dalam tabel 3.3 pada Bab III.
Berdasarkan dari tabel 4.5 diketahui bahwa, pada tahun 2016 pajak restoran berkontribusi sebesar 12% (Sangat berkontribusi) terhadap pendapatan asli daerah di Kota Makassar. Sedangkan pada tahun 2017, kontribusinya turun 1% menjadi 11%, tetapi masih dalam kriteria sangat berkontribusi. Pada tahun 2018, kontribusi naik sebesar 3% menjadi 14% (Sangat berkontribusi). Terdapat peningkatan dari tahun 2016 dan 2017. Pada tahun 2019, kontribusi pajak restoran kembali meningkat menjadi 16% (Sangat berkontribusi). Sedangkan pada tahun 2020, kontribusi pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah kembali menurun sebesar 3% menjadi 13%. Namun masih dalam kriteria sangat berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah di Kota Makassar.
60
C. Pembahasan
1. Efektivitas Pajak Restoran di Kota Makassar
Menurut Mardiasmo (2017: 134), efektivitas merupakan ukuran berhasil tidaknya pencapaian tujuan suatu badan organisasi maupun individu dalam mencapai tujuannya. Efektivitas pajak restoran merupakan sebuah indikator yang menggambarkan seberapa besar kemampuan pemerintah dalam merealisasikan penerimaan pajak restoran yang direncanakan, dibandingkan dengan yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah.
Berdasarkan dari hasil analisis efetivitas penerimaan pajak restoran di kota Makassar yang telah ada pada tabel 4.4, pada tahun 2016 persentase efektivitas pajak restoran di Kota Makassar sebesar 67%, 2017 sebesar 101%, 2018 sebesar 107%, 2019 114% dan pada tahun 2022 sebesar 122%.
Hal ini menunjukkan bahwa, pada tahun 2016 tingkat efektivitas pajak restoran di Kota Makassar kurang efektif. Dan tingkat efektivitas penerimaan pajak restoran pada tahun 2017, 2018, 2019 serta 2020 yaitu sangat efektif karena memiliki tingkat persentase melebihi 100% atau realisasi pungutan pajak restoran melebihi dari target yang sudah ditetapkan.
2. Kontribusi Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Makassar
Kontribusi pajak restoran merupakan sebuah bentuk sumbangsih dari penerimaan pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah. Dalam menentukan seberapa besar kontribusi pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah, dihitung dengan rumus yaitu realisasi pajak restoran dibagi (:) dengan realisasi pendapatan asli daerah dalam periode yang sama dikali (x) 100 persen.
Adapun kriteria yang digunakan untuk menilai tingkat kontribusi pajak
restoran terhadap pendapatan asli daerah di Kota Makassar berdasarkan tabel 3.3.
Berdasarkan analisis yang telah penulis lakukan, pada tabel 4.5 diketahui bahwa besaran kontribusi pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah di Kota Makassar dari tahun 2016 sampai 2020 mengalami perubahan yang sifatnya fluktuatif, yaitu terlihat bahwa pada tahun 2016 sebesar 12%, tahun 2017 sebesar 11%, tahun 2018 sebesar 14%, 2019 sebesar 16%, dan pada tahun 2020 adalah sebesar 13%.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2016 sampai tahun 2020, meskipun persentase kontribusi pada setiap tahunnya berfluktuasi, namun penerimaan pajak restoran di Kota Makassar sangat berkontribusi terhadap PAD di Kota Makassar. Dalam 11 jenis pajak yang dipungut oleh Pemerintah Kota Makassar, pajak restoran memiliki kontribusi yang sangat baik terhadap PAD di Kota Makassar.
Semua kondisi tersebut adalah sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Annisa pada tahun 2018 dengan judul “Kontribusi Pajak Hotel dan Pajak Restoran terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Maros”.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi pajak restoran terhadap penerimaan pendapatan asli daerah Kabupaten Maros pada tahun 2011- 2016, jika dilihat secara keseluruhan dalam enam (6) tahun ini memiliki rata-rata kontribusi sebesar 4,98%, artinya penerimaan pajak restoran sangat berkontribusi terhadap penerimaan pendapatan asli daerah Kabupaten Maros pada tahun 2011-2016.
62 BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan hasil penelitian ini adalah:
1. Tingkat efektivitas pungutan pajak restoran di Kota Makassar dalam periode tahun 2016 hingga tahun 2020 adalah berkategori sangat efektif, kecuali
1. Tingkat efektivitas pungutan pajak restoran di Kota Makassar dalam periode tahun 2016 hingga tahun 2020 adalah berkategori sangat efektif, kecuali