• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.5 Lokasi Pengambilan Sampel

Tempat pengambilan sampel akan dilakukan di Waduk Lahor Kabupaten Malang Jawa Timur dengan mengg unakan 4 titik sampling yaitu npada stasiun 1 sampai stasiun 4. Lokasi pengambilan sampel dapat di lihat pada Gambar 2.

 Pada stasiun 1 (S1) dilakukan pengambilan sampel di bagian teluk bagian selatan waduk

 Pada stasiun 2 (S2) dilakukan pengambilan sampel pada bagian dekat arah inlet waduk

 Pada stasiun 3 (S3) dilakukan pengambilan sampel pada bagian teluk sebelah utara Waduk Lahor.

 Pada stasiun 4 dilakukan pengambilan sampel di bagian pintu keluarnya air waduk.

Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel 3.6 Prosedur Pengambilan dan Pengukuran Sampel

Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan di perairan Waduk Lahor. Pengambilan sampel dilakukan pada pagi hari pada pukul 08.00 WIB-selesai. Waktu pengambilan sampel fitoplankton tersebut disesuaikan dengan waktu dimana fitoplankton naik ke permukaan perairan. Pengambilan sampel pada penelitian ini termasuk dalam pengambilan sampel sesaat yang digunakan untuk menunjukkan kondisi lingkungan pada waktu sampel diambil. Pengambilan sampel kualitas air dan sampel fitoplankton dilakukan dua kali dengan selang waktu pengambilan seminggu sekali. Hal ini dilakukan untuk memberikan informasi terhadap kondisi pada saat penelitian sebagai bahan pertimbangan dalam pemanfaatan waduk yang optimal.

3.7.1 Pengukuran Produktivitas Primer

Prosedur pengukuran produktivitas primer dengan menggunakan botol gelap-terang menurut Brower, (1990) adalah sebagai berikut:

a Menyiapkan 3 botol Winkler, 2 buah botol merupakan botol terang dan 1 botol gelap (dibungkus alumunium foil).

b Mengisi masing-masing botol dengan air sampel pada kedalaman yang diinginkan dengan menggunakan water sampler.

c Menginkubasi botol terang dan botol gelap sesuai dengan kedalaman selama 8 jam, sedangkan botol inisial dititrasi dengan cara menambahkan 2 ml MnSo4 dan 2 ml NaOH+KI. Dan mengkoocok sampai terbentuk endapan berwarna coklat, menambahkan 1 ml H2SO4 dan mengkocok sampai endapan larut, menambahkan 3-4 tetes amylum sampai berwarna kuning, kemudian mentitrasi dengan menggunakan Na2S2O3 dann mencatat sebagai kondisi O2 initial (I).

d Mentitrasi botol terang dan botol gelap yang telah diinkubasi selama 7 jam (dari jam 07;00-14;00).

e Menambahkan 1 ml H2SO4 dan mengocok sampai endapan larut.

f Menambahkan 3-4 tetes amylum sehingga berwarna kuning, lalu melanjutkan dengan titrasi Na2SO3 sampai tidak berwarna.

Sampel yang telah diukur dicatat hasilnya dihitung dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

NP = Produktivitas primer bersih (mgO2/m3/jam)

LB = konsentrasi oksigen terlarut dalam botol terang (mg/l).

IB = Konsentrasi oksigen terlarut dalam botol gelap (mg/l) T = lama waktu inkubasi (7 jam).

1000 = konversi dari l ke m3

,( ) ( )

PQ = Konstanta fotosintesis (1,2) (Wetzel dan likens, 1979).

Nilai Produksi oksigen bersih dikonversi menjadi karbon dengan cara

= Mg O2/l/jam x 0,375= mg C/ m3/jam

PP (produktivitas primer ) = mg C/m3/(7jam/24 jam)= mgC/m3/hari= mg C/m2/Hari

3.7.2 Suhu

Menurut Standart Nasional Indonesia (1990), pengukuran suhu dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Memasukkan thermometer Hg kedalam perairan dengan cara membelakangi matahari

b. Menunggu 1-2 menit sampai air raksa dalam thermometer berhenti pada skala tertentu.

c. Membaca skala pada saat thermometer masih dalam air, jangan sampai tersentuh tangan pada bagian air raksa thermometer. Kemudian mencetet hasilnya dengan skala 0C.

3.7.3 Kecerahan

Menurut SNI (1990), prosedur analisis kecerahan pada perairan adalah sebagai berikut:

a. Menyiapkan secchi disk dan memasukkan secara perlahan kedalam perairan sampai tidak nampak pertama kali.

b. Mencatat sebadai d1 kemudian memberi tanda dengan menggunakan karet gelang pada d1.

c. Memasukkan kembali kedalam perairan sampai benar-benar tidak terlihat.

d. Menaarik pelan-pelan secchi disk sampai tampak pertama kali kemudian beri tanda dengan karet gelang sebagai d2

e. Kemudian menghitung dengan menggunakan rumus:

3.7.4 Derajad Keasaman (pH)

Menurut Subarjanti (2015), pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH paper. Adapun prosedur pengukurannya adalah :

 Diambil sampai air sungai dengan wadah botol.

 Dicelupkan pH paper kedalam sampel air.

 Dikibas-kibaskan sampai setengah kering, supaya tepat mendapatkan warna akhirnya.

 Dicocokkan perubahan warnanya dengan kotak standar.

 Dicatat warna apa yang sama dengan warna kotak standar dilihat berapa pH tersebut dan dicatat hasilnya.

3.7.5 Oksigen Terlarut (DO)

Menurut SNI (1990), prosedur pengukuran oksigen terlarut adalah sebagai berikut:

a. Mengukur dan mencatat volume botol DO yang akan digunakan.

b. Memasukkan botol DO kedalam air secara perlahan-lahan dengan posisi miring dan diusahakan jangan sampai ada gelembung udara.

c. Menambahkan MnSO4 2 ml dan NAOH +KI 2 ml lalu bolak-balikkan botolnya sampai homogen dan didiamkan selama kurang lebih 30 menit sampai membentuk endapan coklat.

d. Membuang air yang bening di atas endapan, dan menambahkan 1-2 ml H2SO4 dan menghomogenkan sampai endapan larut.

e. Menambahkan 3-4 tetes amylum, diaduk dan dititrasi dengan menggunakan Na-thiosulfat 0,025 N sampai jernih. Mencatat volume titran.

f. Mengukur kadar oksigen yang terlarut dengan rumus sebagai:

Keterangan:

v : ml larutan Natrium Thiosulfat untuk titrasi N : Normalitas larutan Natrium thiosulfat V : Volume Botol DO

3.7.6 Karbondioksida (CO2)

Prosedur pengukuran karbondioksida (CO2) menurut Hariyadi et al (1992) adalah sebagai berikut:

 Masukkan 25 ml air sampel kedalam erlenmeyer, kemudian menambahkan 2

tetes indikator pp ( bila tidak ada perubahan warna segera dititrasi)

 Menitrasi dengan menggunakan larutan Na2CO3 0,0454 N sampai warna menjadi merah muda (pink) pertama kali

 Menghitung kadar karbondioksida dengan rumus:

3.7.7 Nitrat (NO3-)

Menurut APHA (1992), prosedur analisis nitrat pada perairan adalah sebagai berikut:

a. Menyaring 25 ml sampel dengan kertas saring dan tuangkan kedalam cawan porselin.

b. Memanaskan cawan porselen yang berisi sampel air dengan hot plate sampai membentuk kerak.

c. Menambahkan 1 ml asam fenol disulfonik, aduk dengan spatula dan mengencerkan dengan 10 ml aquades.

d. Menambahkan dengan meneteskan NH4OH (1:1) sampai terbentuk warna.

( ) ( ) ( )

( ) ( ) ( )

e. Mengencerkan dengan aquades sampai 25 ml. Kemudian masukkan dalam cuvet. Bandingkan dengan standart yang telah dibuat baik secara visual atau dengan menggunakan spektofotometer (pada panjang gelombang 410µm).

3.7.8 Orthofosfat (PO43-)

Menurut APHA (1992), prosedur analisis orthofosfat pada perairan adalah sebagai berikut:

a. Menuangkan 25 ml air sampel kedalam beaker glass dengan menggunakan gelas ukur.

b. Menambah 1 ml ammonium molybdat- asam sulfat kedalam masing-masing larutan standar yang telah dibuat dan dihomogenkan.

c. Menambah 2 tetes larutan SnCl2. Warna biru akan timbul 10-12 menit. Sesuai dengan kadar fosfornya.

d. Menuangkan 25 ml air sampel kedalam erlenmayer berukuran 50ml.

e. Menambah 1 ml amonium molybdat dan 2 tetes SnCl2 lalu kocok.

f. Membandingkan warna biru air sampel dengan larutan standar atau dengan spektofotometer (panjang gelombang 690 nm).

3.7.9 Total Fosfor

Menurut SNI (1999), prosedur pengukuran total fosfor dalam perairan adalah sebagai berikut:

a Mengambil air sampel sebanyak 25 ml yang tidak disaring

b Menambahkan 1 tetes indikator pp (penol ptialin), bila berubah berwana merah muda maka tambahkan 1 atau beberapa tetes asam sulfat (30%) sampai warna merah muda hilang

c Menambahkan 4 ml K2S2O8 (Potassium persulfate) 5% (dibuat dengan melarutkan 5gr Potassium persulfate dalam 100 ml aquadest, dan mengaduknya dengan menggunakan sentrifuge selama ±2 jam).

d Menambahkan 0,5 H2SO4 30% atau 2 tetes asam sulfat.

e Menutup erlenmayer dengan menggunakan alumunium foil dan

memasukkan kedalam autoclave pada 780-1.040 mmHg dan suhu 2500C selama 30 menit, kemudian didinginkan.

f Menambahkan 1 tetes penol ptialin kemudian di titrasi dengan NaOH (8 gr/100 ml aquadest) sampai tidak berwarna. Menngukur sampel yang sudah dinetralisir dengan gelas ukur

g Melakukan seperti pada prosedur pengukuran orthofosfat pada 25 ml sampel air.

h Menghitung konsentrasi total fosfor (total-P) dengan persamaan berikut

Keterangan:

P : konsentrasi P dari persamaan regresi atau grafik A : volume sampel yang sudah dititrasi

3.7.10 Klorofil-a

Menurut SNI (1990), pengukuran klorofil-a adalah sebagai berikut:

a. Memasang atau meletakkan filter pada alat saring (filter holder) kemudian menyaring sampel air sebanyak 1,5 liter

b. Membilas dengan 10 ml larutan magnesiun karbonat, hisap kembali sampai filter tampak kering.

c. Memasukkan filter hasil saringan kedalam tabung reaksi 15 ml, tambahkan 10 ml aceton 90%

d. Menggerus kertas filter dalam tabung reaksi sampai halus dengan menambahkan aceton

e. Mensentrifuge tabung reaksi yang berisi kertas filter yang sudah dihaluskan dengan putaran 400rpm selama 30-60 menit.

( )

f. Memasukkan cairan bening kedalam cuvet 1 cm

g. Melihat absorbannya dengan spektofotometer pada panjang gelombang 740, 664, 647, ndan 630 nm.

h. Menghitung dengan menggunakan rumus :

Keterangan:

E664 = absorban 664nm – absorban 750 E647 = absorban 647nm – absorban 750 E630 = absorban 630 nm – absorban 750 Vs = Volume sampel air yang disaring (liter) d = lebar diameter cuvet (1,10,15 cm)

3.7.11 Prosedur Pengambilan Fitoplankton

Menurut Herawati (1989) pengambilan sampel fitoplankton dilakukan dengan menggunakan plankton net no 25 sebagai berikut :

1. Menyaring air sampel minimal 10 liter dengan plankton net no 25.

2. Mengambil sampel dengan kedalaman tertentu dengan menggunakan water sampler atau timba.

3. Menambahkan larutan lugol.

4. Mengidentifikasi dengan menggunakan mikroskop perbesaran minimal 400x untuk dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif.

5. Kemudian melanjutkan dengan mengamati jenis fitoplankton secara kualitatif yaitu dengan cara sebagai berikut:

 mengamati preparat fitoplankton dibawah mikroskop.

 mengamati jenis fitoplankton pada tiap bidang pandang

 memfoto tiap fitoplankton yang ditemukan.

 melakukan identfikasi fitoplankton dengan menggunakan buku presscott (1973).

*( ) ( ) ( )+

Kemudian mengamati fitoplankton secara kuantitatif yaitu dengan cara sebagai berikut:

o Mengamati preparat fitoplankton di bawah mikroskop.

o Menghitung jumlah plankton pada setiap bidang pandang

o Mencatat data dan menghitung kelimpahan fitoplankton dengan menggunakan Sedgwick Rafter Counting Cell

Keterangan:

C = number of organisme counted

L = length of each strip (cell length) (mm) D = depth of a strip (cell depth) (mm) W = widch of strip (grid image wicth) (mm) S = number of strip counted

Dokumen terkait