• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKANYA, JANGAN PANGGIL-PANGGIL

NAMA ORANG KALAU KAGAK NGERTI

ARTINYA!”

Semantik Latar “Dia berjalan keluar dari pintu kelenteng, meniti tangga turun perlahan-lahan. Asap dupa memenuhi udara malam, menyelimuti dirinya. Kelenteng yang telah berusia ratusan tahun terlihat lebih

menyedihkan daripada di siang hari.Cat merahnya terlihat pudar, dimakan usia dan angin malam. Debu

serta remehan abu menempel di sekitar

tembok,membuat gedung itu menjadi suram oleh karena warna abu pekat.”

Sintaksis Pengingkaran “Sebagai keturunan Cina di Indonesia, o yeah, baby…Siska punya banyak sekali komplain kepada pemerintah. Saking banyaknya, jika dibuat list, mungkin urutannya bisa lebih panjang daripada permintaannnya kepada sinterklas.”

“Lalu apakah kemudian dia turun ke jalan, berteriak –teriak? Apakah dia sibuk memaki-maki

pemerintah, meminta presiden terpilih—yang dia pilih saat Pemilu—meletakkan jabatan?”

“Dulu mereka sekeluarga: mama papa dan ketiga adik-adiknya berkunjung, sejak si bungsu Novera memutuskan menjadi penganut Kristen, kepergian mereka ke sana selalu tidak pernah merasa lengkap. Tapi untung juga Novera sungguh-sungguh

menepati janjinya. Dia tidak keberatan berkunjung ke kelenteng untuk acara-acara istimewa, seperti Imlek.

Praanggapan “Ya mungkin orang lain akan mengatakan Siska makhluk planet lain, atau bahkan Cina

keturunan…yang tidak peduli pada keadaan bangsanya. Benarkah demikian? Atau ada hal lain yang perlu dijelaskan olehnya? Siska yakin, orang-orang miskin memang banyak yang menderita di Negara ini…sama menderitanya seperti dia, orang-orang Cina keturunan. Tidak mendapat pengakuan di sana-sini sama perihnya dengan hidup tanpa makan.

Lebih menderita lagi, karena yang sudah miskin pun, orang-orang Cina keturunan di sini tidak pernah mendapat pengakuan.”

“Kesetaraan sebagai warga Negara. Full pledge citizenship. Menjadi orang Indonesia tanpa embel-embel kata “keturunan.”

Akan tetap ada anak-anak keturunan Cina yang dilecehkan dengan kata “amoy”.

Retoris Metafora Seperti pepatah Cina, dia memilih untuk

Bab 10 Analisis

Tema atau inti pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa bagaimana gambaran seorang Cina keturunan di Indonesia, yang walaupun tertekan tetapi tidak dapat berbuat sesuatu untuk menyuarakan aspirasinya.

Story diawali oleh percakapan Rosi dengan Siska tentang masalah dirinya, bahwa ia adalah seorang lesbi. Hal ini mengingatkan Siska akan kejadian masa lalu ketika Novera dan Rosi berebutan mau menjadi seorang papa. Kemudian kenangan masa-masa mereka kecil dilecehkan karena seorang Cina keturunan, kisah bahwa Novera harus tetap sekolah pada hari Imlek padahal Novera sedang sakit. Dan diakhiri dengan pembicaraan Nung dengan Siska.

Latar yang mempengaruhi semantik terlihat pada:

“Dia berjalan keluar dari pintu kelenteng, meniti tangga turun perlahan-lahan. Asap dupa memenuhi udara malam, menyelimuti dirinya. Kelenteng yang telah berusia ratusan tahun terlihat lebih menyedihkan daripada di siang hari. Cat merahnya terlihat pudar, dimakan usia dan angin malam. Debu serta remehan abu menempel di sekitar tembok, membuat gedung itu menjadi suram oleh karena warna abu pekat.”

Latar yang digunakan dalam bab ini adalah kelenteng yang sudah berusia ratusan tahun. Hal ini menunjukkan bahwa begitu tuanya budaya religi yang orang Cina anut. Dalam wacana ini digambarkan bahwa Siska dan keluarganya selalu pergi ke kelenteng ketika ingin berdoa.

Apa yang diperbandingkan sering kali merupakan cara yang bagus untuk menyembunyikan maksud si pengarang, hal ini disebabkan karena adanya elemen pengingkaran dalam wacana berikut:

“Sebagai keturunan Cina di Indonesia, o yeah, baby…Siska punya banyak sekali komplain kepada pemerintah. Saking banyaknya, jika dibuat list, mungkin urutannya bisa lebih panjang daripada…” “Lalu apakah kemudian dia turun ke jalan, berteriak–teriak? Apakah dia sibuk memaki-maki pemerintah, meminta presiden terpilih—yang dia pilih saat Pemilu—meletakkan jabatan?”

Unsur pengingkaran seperti yang terdapat dalam kalimat diatas, jelas terlihat bahwa Siska sebagai keturunan Tionghoa banyak sekali hal yang ingin dia sampaikan kepada pemerintah. Kalimat “…mungkin urutannya bisa lebih panjang daripada permintaannnya kepada sinterklas.” Menggambarkan bahwa ternyata banyak sekali hal-hal yang perlu diperbaiki dalam kehidupan mereka. Jika sudah banyak uneg-uneg pastilah akan segera disampaikan. Unsur pengingkaran sangat kontras terlihat bahwa sebenarnya pengarang berpendapat bahwa budaya diam yang telah lama merasuki masyarakat Indonesia, khususnya warga Tionghoa, selalu menjadi satu alasan untuk menyimpan hak berbicara itu sendirian. Tigapuluh dua tahun di bawah sistem politik represif Orde Baru telah membangun satu budaya diam dalam masyarakat Indonesia. Budaya diam ini, sesungguhnya, merupakan mekanisme pertahanan diri yang pasif—melarikan diri dari realita penindasan itu sendiri. Namun, sekalipun “reformasi” telah mulai digulirkan, budaya ini masih erat melekat dalam masyarakat Tionghoa maupun masyarakat Indonesia pada umumnya.

Disini pengarang juga menyinggung soal demonstrasi yang tengah dilakukan mahasiswa, menurut pengarang bahwa masyarakat Indonesia jika memiliki masalah kecil akan dibesar-besarkan sampai mengadakan demonstrasi segala. Sedangkan orang Cina yang memiliki masalah lebih

Dalam wacana ini juga terdapat pengingkaran untuk mengekspresikan pendapat pengarang yang seolah-olah menyetujui sesuatu padahal ia tidak setuju dengan memberikan argumentasi atau fakta yang menyangkal persetujuannya tersebut. Dapat dilihat pada kalimat berikut:

“Dulu mereka sekeluarga: mama papa dan ketiga adik-adiknya berkunjung, sejak si bungsu Novera memutuskan menjadi penganut Kristen, kepergian mereka ke sana selalu tidak pernah merasa lengkap. Tapi untung juga Novera sungguh-sungguh menepati janjinya. Dia tidak keberatan berkunjung ke kelenteng untuk acara-acara istimewa, seperti Imlek.

Dalam kalimat diatas, kesetujuan dan ketidaksetujuan terhadap adiknya yang pindah agama digambarkan secara eksplisit. Contoh yang paling jelas pada kalimat pertama tidak terdapat pengingkaran tetapi dalam kalimat kedua pengingkaran terjadi. Penulis seakan mengatakan bahwa dulu mereka adalah keluarga yang lengkap. Menjadi satu dalam agama yang sama, tetapi maksud sebenarnya adalah karena Novera pindah agama maka satu keluarga tidak lagi terasa utuh. Karena salah satu dari mereka sudah menjadi Kristen. Lalu untuk menyeimbangkan pengingkaran tersebut maka terdapat kalimat “…untung juga Novera sungguh-sungguh menepati janji…”

“Novera kesal sekali dan sering bertanya-tanya sendiri.

Salah siapa jika mata Novera memang sipit dan berbentuk seperti bulan sabit?

Salah siapa jika kulit Novera putih dan bukan berwarna hitam seperti kulit mereka?

Salah siapa jika profil wajahnya memang terlihat sangat oriental?”

Komentar seperti ini mencerminkan kegelisahan etnis Tionghoa yang merasa tertekan atas sikap orang-orang pribumi. Sampai-sampai si tokoh

tidak tahu harus mengadu pada siapa akan kondisi dirinya. Komentar dari pihak yang bertentangan dalam hal ini dapat dilihat pada kalimat berikut:

“Amoy! Ngapain nyanyi keras-keras…lu bukan orang Indonesia…Amoy…”

Komentar tersebut sangat kental akan makna diskriminasi. Dalam komentar tersebut jelas bahwa masyarakat pribumi menganggap bahwa orang Cina yang hidup di Indonesia itu tidak termasuk orang Indonesia. Komentar tersebut diucapkan ketika Novera masih kecil, hal ini mencerminkan bahwa anak-anak pada zaman itu sudah dicekoki dengan hal-hal yang negatif mengenai orang Cina di Indonesia.

Awalnya semua pandangan ini berasal dari arah politik yang rasis. Ini diberlakukan masa pemerintahan Orde Baru. Demikian Soeharto naik ke tampuk kekuasaan, beberapa dekrit dan keputusan presiden yang diskriminatif terhadap etnis Tionghoa diberlakukan efektif. Beberapa peraturan lain, yang dikeluarkan para menteri menambah panjang daftar peraturan yang rasis di negeri ini. Diberlakukannya peraturan-peraturan itu menciptakan pandangan yang keliru pada etnis lain yang tinggal di negeri ini bahwa etnis Tionghoa itu adalah orang asing, pendatang, orang terbuang yang layak diperlakukan sesuka hati.

Unsur metafora selalu dimunculkan dalam wacana ini, hal ini mencerminkan bahwa pengarang juga ingin memberikan suatu nilai-nilai kepada pembacanya. Seperti kutipan berikut: “Seperti pepatah Cina, dia memilih untuk menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan.”

IV.1.10 Bab 12

Dokumen terkait