• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : KRITIK CENDEKIAWAN MUSLIM TERHADAP

A. Isu-isu Ekonomi dalam Jurnal Prisma

2. Luar Negeri

Dalam tulisannya berjudul “Kemana Harus Berpaling?” yang dimuat dalam Prisma No. 1 Tahun 1985, Ismid Hadad mengungkapkan bahwa pada saat memasuki Pelita IV, pemerintah dihadapkan pada suatu masalah bagaimana mencari dana serta sumber-sumber pembiayaan pembangunan untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi yang cenderung terus merosot. Resesi ekonomi dunia dan merosotnya harga minyak OPEC membawa dampak yang berkelanjutan. Pada tahun 1983 pemerintah berusaha untuk membendung gelombang krisis ekonomi yang lebih besar tersebut.9 Semakin merosotnya penerimaan negara dari ekspor minyak dan gas bumi telah memperkecil volume kenaikan APBN 1985/1986 dan membawa penurunan minat investor asing maupun kemampuan investor domestik untuk menanam modal pada sektor-sektor produktif di Indonesia.10

Kalau pada tahun 1967/1968, Indonesia bisa dengan mudah berpaling ke sumber-sumber dana dan bantuan dari luar negeri, justru pada tahun 1985 ini sumber-sumber dana dan modal asing itulah yang semakin langka, mahal dan sulit diperoleh, sehingga segala daya dan upaya perlu lebih dicurahkan untuk menggali dan memanfaatkan sumber-sumber daya di dalam negeri. Untuk menjawab berbagai masalah ekonomi dan tantangan pembangunan pada awalnya sangat mengandalkan kemampuan pemerintah melalui mekanisme APBN, dengan

9Sektor industri dan manufaktur pada tahun 1982/1983 sudah tidak mampu lagi berkembang atau memberi sumbangan kenaikan Produk Domestik Kotor, beban hutang luar negeri dan bunga pembayaran cicilan yang semakin meningkat sehingga semakin menguras cadangan devisa yang terbatas.

10Lihat Ismid Hadad dalam rubrik Topik Kita”Kemana Harus Berpaling?” Prisma No. 1, Tahun XIV (Januari, 1985), h. 2.

84

beralihnya tiang penyangga APBN dari migas ke sektor non-migas dan penerimaan pajak, maka andalan kemampuan pun mulai bergeser ke dunia usaha dan sektor masyarakat. Dan Apabila pada awal pemerintahan Orde Baru segala perhatian dan upaya pembangunan bisa difokuskan pada sasaran stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, dalam pelita IV perhatian pemerintah terbagi pada pemerataan dan keadilan sosial sebagai sasaran utama sementara peningkatan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional menjadi sasaran berikutnya. Demikianlah, Ismid Hadad membayangkan kesuraman yang membayangi perekonomian nasional, akhirnya disadari pentingnya peranan sektor swasta dan masyarakat, hingga pemerintah berpaling kepada dunia usaha. Namun, dunia usaha pun sedang dirundung malang, hingga tak akan mampu memikul sendiri beban harapan tersebut. Tingkat bunga pinjaman dan kurs dolar AS yang tinggi, daya beli yang rendah dan lesunya pasar, tingginya ongkos produksi dan beban stok yang tak terjual, semuanya merupakan masalah berat yang dihadapi dunia usaha pada saat itu. Namun yang terberat dari semua itu adalah dikenakannya berbagai beban pajak yang merupakan pendapatan pemerintah mulai April 1985. Bantuan luar negeri pun sulit diharap, kemampuan pemerintah terbatas, dunia usaha di sektor formal juga dalam kesulitan.11

Selanjutnya dalam menentukan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan tentang pembangunan ekonomi perlu menjadikan hukum sebagai dasar untuk mengambil kebijakan dalam pembangunan ekonomi. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Ny. Sunaryati Hartono dalam tulisannya berjudul Fungsi

85

Hukum, Pembangunan dan Penanaman Modal Asing. Dalam perencanaan

pembangunan, fungsi hukum mengalami perubahan. Apabila dalam masyarakat agrarian hukum mempunyai fungsi untuk menjaga ketertiban dan keamanan, maka dalam masyarakat industri lebih banyak diperlukan kaidah-kaidah hukum dari pada di dalam masyarakat agraria. Oleh sebab itu maka dalam masyarakat industri diperlukan berbagai peraturan yang mengatur segala tindakan manusiasampai pada tahap detailnya demi kelancaran hidup masyarakat dan untuk mencegah terjadinya hambatan atau ketidakadilan. Tanggung jawab pribadi dan disiplin perseorangan menjadi lebih penting lagi dari pada di dalam masyarakat agrarian. Oleh karenanya liberalism dan individualism tidak hanya menjadi landasan industrialisasi, tetapi juga merupakan akibatnya.12

Perbedaan antara sistem hukum di dalam masyarakat agraria dan sistem hukum dalam masyarakat industri sangat dirasakan misalnya oleh warga negara Singapura pada tahun 1970-an, dalam waktu singkat (delapan tahun) masyarakatnya berubah dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat industri. Segala sesuatunya diatur oleh hukum sampai kepada larangan membuang punting rokok di jalan raya atau penggunaan air yang tidak perlu.

Sebenarnya apabila dilihat jumlah investasi modal asing dan ekspor serta impor, maka Jepang mempunyai angka-angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika Serikat bila kita meninjau kaitannya dengan ekonomi Indonesia.13 Dalam neraca modal dari neraca pembayaran luar negeri,

12

Prisma No. 3 Tahun ke-2 (Februari, 1973), h. 46.

13Menurut Toshihiko Kinoshita, Chief Representative, The Export-Import Bank of Japan di Jakarta, ekspor Indonesia ke Jepang adalah 49,4% dari total ekspor (AS hanya 22,4%) dan

86

pinjaman luar negeri juga semakin “seret” masuk, sedangkan arus investasi sulit diharapkan untuk berlangsung seperti 1970-an. Seperti pepatah “dimana ada gula di situ ada semut” dengan jelas menampakkan sosoknya di Indonesia, dilihat dari kasus investasi asing yang masuk ke Indonesia. Sebagai contoh, investasi langsung Jepang (investor terbesar pada saat itu) merosot drastis di tahun 1984 dan seorang bankir Jepang menilai bahwa kemerosotan bukan bersifat siklis tetapi struktural sifatnya.14

Pada Tahun 1970-an, terutama ketika tingkat bunga masih rendah, banyak negara mengambil hutang luar negeri yang relatif mungkin terlalu besar. Ada kecenderungan, Dunia Ketiga mengambil hutang jangka panjang yang sekitar 80% diantaranya berasal dari swasta. Kini, tingginya tingkat bunga menyebabkan angsuran dan bunga hutang itu semakin berat. Tawang Alun dalam tulisan ini mengungkapkan bahwa hutang luar negeri Dunia Ketiga tersebut membengkak lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan GDP maupun ekspor barang dan jasanya. Diperkirakan sepanjang 1980-an ini Dunia Ketiga membuat penyesaian yang diperlukan.15

impor dari Jepang ke Indonesia adalah 25,2% dari total impor (AS 16,1%). Kinoshita juga mengolah data dari BKPM mengenai investasi asing yang disetujui secara total kumulatif dari 1969 hingga 1984. Investasi Jepang paling atas mencakup 33% dari total investasi, sedang investasi AS hanya 8,2% (Angka-angka tersebut didapatkan dari penjelasan T. Kinoshita yang disampaikannya pada seminar di LPEM-FEUI Salemba Raya No. 4 , Jakarta, 1985).

14Hal ini dijelaskan dalam makalah terbatas dari Toshihiko Kinoshita, Chief Representative, The Export Import Bank of Japan dalam Diskusi Terbatas di LPEM-FEUI, 20 Februari 1985, Indonesia Economy Now and Foreseeable Future, lihat Prisma No. 1 (Januari,1985), h. 15.

15 Lihat Tawang Alun, “Hutang Dunia Ketiga: Prospek dan Masalah”, Prisma No. 1 (Januari, 1985), h. 65.

87

Dokumen terkait