KAJIAN PUSTAKA
2.4. Luas dan Penyebaran Mangrove
Luas dan Penyebaran Menurut Santono et al., (2005) terdapat variasi yang nyata dari luas total ekosistem mangrove Indonesia, yakni berkisar antara 2,5 juta- 4,25 juta ha. Perbedaan jumlah luasan ini lebih banyak disebabkan oleh perbedaan metodologi pengukuran luas hutan mangrove yang dilakukan oleh berbagai pihak. Walaupun demikian diakui oleh dunia bahwa Indonesia mempunyai luas ekosistem mangrove terluas di dunia (21% luas mangrove dunia). Hutan-hutan
mangrove menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika.
Luas hutan mangrove Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha). Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar, yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan. Di bagian timur Indonesia, ditepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan mangrove Indonesia (Santono, et al , 2005).
Beberapa faktor yang menjadi penyebab berkurangnya ekosistem mangrove antara lain:
1. Konversi hutan mangrove menjadi bentuk lahan penggunaan lain, seperti permukiman, pertanian, tambak, industri, pertambangan, dll.
2. Kegiatan eksploitasi hutan yang tidak terkendali oleh perusahaan HPH (Hak Pengusaha Hutan) serta penebangan liar dan bentuk perambahan hutan lainnya.
3. Polusi di perairan estuaria, pantai, dan lokasi - lokasi perairan lainnya dimana tumbuh mangrove.
4. Terjadinya pembelokan aliran sungai maupun proses sedimentasi dan abrasi yang tidak terkendali.
12
Penambahan hutan mangrove di beberapa provinsi belum diketahui dan dilaporkan secara pasti, namun ada beberapa faktor yang memungkinkan bertambahnya areal hutan mangrove dibeberapa provinsi, yaitu:
1. Adanya reboisasi atau penghijauan.
2. Adanya perluasan lahan hutan mangrove secara alami yang berkaitan dengan adanya proses sedimentasi dan atau penaikan permukaan air laut. 3. Adanya metoda perhitungan luas hutan yang lebih baik dari metoda yang
digunakan sebelumnya (Santono et al., 2005). 2.5. Fungsi Dan Manfaat Mangrove
Mangrove mempunyai berbagai fungsi. Fungsi fisiknya yaitu untuk menjaga kondisi pantai agar tetap stabil, melindungi tebing pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya abrasi dan intrusi air laut, serta sebagai perangkap zat pencemar. Fungsi biologis mangrove adalah sebagai habitat benih ikan, udang, dan kepiting untuk hidup dan mencari makan, sebagai sumber keanekaragaman biota akuatik dan nonakuatik seperti burung, ular, kera, kelelawar, dan tanaman anggrek, serta sumber plasma nutfah. Fungsi ekonomis mangrove yaitu sebagai sumber bahan bakar (kayu, arang), bahan bangunan (balok, papan), serta bahan tekstil, makanan, dan obat-obatan (Gunarto, 2004).
Ekosistem hutan mangrove mempunyai arti penting karena tidak sedikit jumlah masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya alam ini (Sugiarto dan Willy, 2003). Disamping itu adanya berbagai komponen rantai makanan yang saling bergantung pada ekosistem mangrove ini, yaitu serasah yang berasal dari tumbuhan mangrove, yang prosesnya dimulai oleh bakteri dan cendawan yang mengubah daun-daun menjadi detritus yang disebut sebagai bahan
organik. Selanjutnya bahan organik ini menjadi makanan bagi udang atau rebon, kemudian binatang pemakan detritus menjadi makanan larva ikan, udang, dan kepiting.
Gambar 2.2. Hubungan Keterkaitan Komponen Ekosistem Mangrove (Nontji, 1987)
Kordi (2012), menjelaskan hutan mangrove disebut sebagai ekosistem pesisir yang paling produktif, yang menghasilkan serasah daun dan ranting sekitar 9 ton/ha/tahun. Di Indonesia produksi serasah daun dan ranting hutan mangrove berkisar antara 78 ton/ha/tahun. Serasah daun dan ranting yang gugur merupakan sumber bahan organik penting dalam rantai pakan (food chain) di lingkungan perairan. Daun dan ranting yang gugur kedalam air segera menjadi bahan makanan bagi berbagai jenis hewan air atau dihancurkan lebih dulu oleh kegiatan bakteri dan jamur. Pada tingkat berikutnya hewan-hewan inipun menjadi makanan bagi hewan-hewan lainnya yang lebih besar dan seterusnya (Gambar 2.2).
2.6. Fauna Akuatik di Ekosistem Mangrove
Menurut Bengen (2001), komunitas fauna ekosistem mangrove membentuk percampuran antara 2 (dua) kelompok:
14
1. Kelompok fauna daratan / terestrial yang umumnya menempati bagian atas pohon mangrove, terdiri atas: insekta, ular, primata dan burung. Kelompok ini tidak mempunyai sifat adaptasi khusus untuk hidup di dalam hutan mangrove, karena mereka melewatkan sebagian besar hidupnya diluar jangkauan air laut pada bagian pohon yang tinggi, meskipun mereka dapat mengumpulkan makanannya berupa hewan laut pada saat air surut.
2. Kelompok fauna perairan / akuatik, terdiri atas dua tipe yaitu : a. Yang hidup di kolom air, terutama berbagai jenis ikan dan udang.
b. Yang menempati substrat baik keras (akar dan batang mangrove) maupun lunak (lumpur) terutama kepiting, kerang dan berbagai jenis invertebrata lainnya.
Menurut Nybakken (1988), kelompok hewan lautan yang dominan dalam hutan mangrove (bakau) adalah moluska, udang-udangan, dan beberapa jenis ikan. Moluska diwakili oleh sejumlah siput, yang umumnya hidup pada akar dan batang pohon bakau. Kelompok kedua dari moluska termasuk pelecypoda/bivalvia, yaitu tiram, mereka melekat pada akar-akar bakau. Selain itu hewan yang hidup di bakau adalah sejumlah kepiting dan udang. Kawasan bakau juga berguna sebagai tempat pembesaran udang penaied dan ikan-ikan seperti belanak, yang melewatkan masa awal hidupnya pada daerah ini sebelum berpindah ke lepas pantai.
Para ahli mengelompokkan ikan di ekosistem mangrove ke dalam empat kelompok, yaitu (a) Ikan penetap sejati, yaitu ikan yang seluruh siklus hidupnya berada di daerah ekosistem mangrove, seperti ikan gelodok; (b) Ikan penetap sementara, yaitu ikan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove selama
periode anakan, tetapi pada saat dewasa cenderung bergerombol di sepanjang pantai berdekatan dengan ekosistem mangrove, seperti ikan belanak; (c) Ikan pengunjung pada periode pasang, yaitu ikan yang berkunjung ke ekosistem mangrove pada saat air pasang untuk mencari makan, seperti ikan gulamah; (d) Ikan pengunjung musiman, yaitu ikan-ikan yang menggunakan ekosistem mangrove sebagai tempat memijah dan asuhan, serta tempat perlindungan musiman dari predator (Nirarita et al., 1996).
Ekosistem mangrove juga merupakan habitat bagi biota crustasea dam molusca. Menurut Kartawinata et al. (1979) tercatat 80 spesies crustasea yang hidup di ekosistem mangrove. Spesies penting yang hidup atau terkait dengan ekosistem mangrove adalah udang (Penaeus, Metapenaeus) dan kepiting bakau (Syclla). Kemudian, biota molusca yang tercatat sekitar 65 spesies yang terdiri dari gastropoda dan pelecypoda/bivalvia. Beberapa spesies molusca penting di ekosistem mangrove yaitu kerang bakau atau tiram bakau (Crassotrea sp.), kerang hijau (Mytilus sp.), kerang alang (Gelonia sp.), kerang darah (Anadara sp.), dan popaco atau kerang teleskop (Telescopium sp.).
16 BAB III