• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lupa dan Salah

Dalam dokumen Catatan Komunitas Kenduri Cinta I (Halaman 100-106)

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 30 Juli 2010 jam 11:51 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Ada 4 jenis Kelupaan atau Kesalahan dalam diri manusia.

Pertama, namanya 'Nisyan', itu artinya lupa, tapi lupa dan melupakan itu berbeda. Kalau lupa itu gak ada kesalahan, tidak ada pasal hukumnya, pasal akhlak maupun akidahnya, tapi kalau melupakan itu suatu tindakan moral, suatu tindakan yang bisa menyentuh batas hukum, baik hukum negara maupun akhlak.

Yang kedua, namanya 'Qoto', itu salah. Kesalahan juga ada 2 macam, kesalahan teknis manajemen, ada kesalahan dalam arti bermakna moral, misalnya saya ujian berhitung matematik, saya melakukan kesalahan, saya tidak dosa karena saya ada kekeliruan ngitung, kalau keliru ngitung-nya ini dalam administrasi negara, dalam klausul-klausul, policy-policy aturan, ini bukan kesalahan intelektual, ini sebagai kesalahan moral.

Nomer ketiga, namanya 'Dhulm', itu artinya aniaya, penindasan, penganiayaan. Jadi ini ketika lupa dan kesalahan sudah pada tingkat dimana kekuatan

berbenturan pada manusia. Yang kuat ke yang lemah dan terjadi pada berbagai macam lini, bidang atau level pada kehidupan manusia. Ada penganiayaan dalam arti praksis politik kekuasaan, dalam arti violence, kekerasan. ada kekerasan fisik pakai peluru, pakai sepatu lars. Ada kekerasan kata-kata, ada kekerasan tayangan, ada kekerasan religius.

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Page 101

Yang keempat 'junun', namanya Junun itu dari kata jin, jadi 'something outside of the logics' itu namanya majnun. Jin itu aplikasi kemahlukannya, majnun itu orang biasa, orang manusia yang ditimpa oleh junun. Kata junun bisa dijelaskan secara psikiatrik maupun psikologis. Cinta kalau disakiti terus menerus akan menjadi kebencian, tapi kalau engkau menyelam kedalam apa yang disebut kebencian sesungguhnya dia adalah cinta yang tulus.[]

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Page 102

Makalah Diskusi Forum Martabat: Pertanyaan

dalam "Bertanya"

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 03 Agustus 2010 jam 12:45 Ditulis Oleh: Sabrang Mowo Damar Panuluh

“Segelas kopi panas, diminum dikala sore hari sambil ngobrol-ngobrol sembari menikmati rokok yang baru kemarin lusa difatwa haram, benar-benar membuat sore ini terasa sangat nikmat.”

Jawab dengan jujur, dengan sekali baca cerita diatas, bagaimana reaksi anda ? membayangkan suasana sore hari yang nikmat, membayangkan gelak canda tawa sekelompok orang, membayangkan dua orang ngobrol ngga jelas sambil

melamun, atau justru mengkernyitkan dahi?

Prekonsepsi pengalaman sore hari yang biasa pembaca alami sangat

mempengaruhi ‘hantaman imajinasi’ pertama sebagai respon terhadap cerita diatas. Jika anda diberi kesempatan melontarkan satu pertanyaan untuk menggali informasi lebih dalam, kira-kira apa yang akan anda tanyakan ?

Dari teori bertanya yang selama ini kita kenal, yaitu 5W 1 H (What, why, where, who, when dan how), kira-kira yang mana yang akan anda lontarkan ? Atau teori itu justru tidak menjadi pedoman ketika anda bertanya?

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Page 103

Ada teori lain tentang ‘pertanyaan’ yang saat ini tidak begitu populer, (mungkin karena baru dikarang) yang disebut PRWT (Pitakonan Ra Waton Takon), jangan dikritik dulu, ini juga baru dikarang. Teori ini mengatakan bahwa setiap

pertanyaan harus mempunyai syarat, prasyarat dan kerangka yang jelas pada peta yang lebih luas. Samasekali bukan untuk menggantikan 5W1H, teori ini justru mencoba menambahkan apa yang masih belum terdefinisikan dalam 5W1H.

Sebelum menentukan jenis pertanyaan yang akan dilontarkan, adalah wajib memastikan bahwa si penanya dan yang ditanya mempunyai ‘bahasa’ yang sama (duh ). Ngga lucu juga si penanya pakai bahasa Jawa sementara yang ditanya berbahasa Swahili. Bisa saja terjadi, tapi maksud saya adalah ‘bahasa’ pada level pemahaman. Setiap bangsa, setiap budaya, setiap suku, bahkan setiap orang mempunyai ‘bahasa’nya sendiri. Kata yang terucap tidak selalu mempunyai

makna yang sama untuk pengucapnya, walaupun tidak sama sekali berbeda. Mari ambil contoh populer. Cinta, tanyakan definisinya pada 100 orang dan anda akan mempunyai 100 jenis jawaban.

Jika anda mengatakan bahwa tidak mungkin kita mengkonfirmasi bahwa semua kata bisa tersampaikan sempurna, saya setuju. Tapi adalah kewajiban penanya untuk meminimalisir dicrepancy pemahaman kata. Disini kata kuncinya adalah menghindari ambigu atau bahkan salah faham.

Pernahkah anda berargument dengan diri anda sendiri ? sepertinya tidak harus menjadi orang gila untuk punya penglaman tersebut. Jika anda belum pernah, mungkin ada baiknya sekali-sekali dicoba. Paling tidak, berguna ketika tidak ada lawan ngobrol dikala sepi. usul saya cobalah tanyakan pertanyaan ini pada pertanyaan yang akan anda tanyakan.

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Page 104

Pertama, tujuan/fungsi pertanyaan ini apa ya ? Untuk menggali informasi, memancing informasi, memancing emosi, mengerucutkan tema bahasan, melebarkan tema bahasan, mengganti tema, menghabiskan waktu, mengajak berkonklusi dst dst … sangat banyak kemungkinan. Dengan modal itu, konsep pertanyaan akan menjadi lebih terarah karena anda akan siap dengan reaksi lanjutannya.

Kedua, apakah pertanyaan saya mengandung asumsi pribadi yang belum

terkonfirmasi oleh object yang ditanya ? Kalau ini belum ‘clear’, potensi ambigu dan salah faham akan meningkat. Contoh : “Ketika bapak sedang tidak kerja, apa yang bapak lakukan”. Sepertinya pertanyaan yang sangat innocent. Apakah anda sudah meluruskan bahwa arti kata “kerja” antara anda dan penanya adalah sama ? misalnya dijawab begini : “Loh dik, kapan saya ngga kerja, orang bernafas saja sudah saya anggap kerja, ibadah kepada Tuhan”. Tambah ruwet pastinya. Jangan asumsikan si bapak tidak tahu maksud anda, dia hanya berperilaku jujur terhadap pemahaman dia kepada kata “kerja”. Kewajiban penanya lah mencari kata yang lebih tajam atau memberi ‘lambaran’ kepada si bapak agar tidak bisa

‘menghindari’ pertanyaan.

Ketiga, apakah pertanyaan saya ‘sesuai’ ? Sesuai memang kata-kata yang sangat cair, tidak mudah mendefinisikanya. Karena selalu dibutuhkan kesensitifitasan terhadap konteks, ruang dan waktu. Faktornya bisa kesopanan, kepantasan, pilihan istilah, ranah bahasan dll. Keempat, dengan apa saya akan menggali

informasi. Jangan lupa alat bertanya tidak hanya kata-kata yang keluar dari mulut. Hanya dengan mengernyitkan dahi anda bisa membuat orang berbicara lebih banyak, hanya dengan senyuman anda akan bisa mendapat respon yang lebih friendly. Hanya dengan tertawa anda akan bisa membuat object yang ditanya

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Page 105

merasa lebih nyaman mengungkapkan informasi. Dari cerita ‘minum kopi sore sore’ diatas, siapa diantara pembaca yang bertanya : “nikmat karena rokoknya haram kah ? (sambil tersenyum)” ?. Anda baru saja membuat pencerita

tersenyum atau bahkan tertawa, yang berarti membuka pintu-pintu pertanyaan lain yang akan dijawab dengan senyuman. Selamat.

Diskusi Martabat kali ke 7 ini mencoba mencari formula yang berhubungan dengan ‘pertanyaan’ agar setiap kita bertanya, kritis itu menjadi otomatis, tidak perlu nyinyir atau amis, tapi praktis, pragmatis dan etis. Pisss !!

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Page 106

Dalam dokumen Catatan Komunitas Kenduri Cinta I (Halaman 100-106)