HAK ATAS PEKERJAAN DAN PENGHIDUPAN YANG LAYAK
JANGAN LUPA!
Surat gugatan wajib dilampiri dengan risalah penyelesaian melalui mediasi atau konsiliasi jika tidak, maka surat ggatan akan dikembalikan kepada penggugat disertai perintah agar surat gugatan dilengkapi dengan risalah mediasi atau konsiliasi.
Jika penggugat berjumlah banyak (misalnya dalam PHK massal), maka gugatan dapat diajukan secara kolektif dengan memberikan kuasa khusus.
Gugatan yang nilainya dibawah Rp. 150.000.000 tidak dikenakan biaya perkara.
Khusus untuk gugatan perselisihan PHK, tenggang waktu pengajuan gugatan adalah 1 (satu) tahun sejak diterimanya keputusan PHK dari pihak pengusaha.
Bagaimana tahap pemeriksaan di pengadilan?
Jika seluruh tahapan proses di atas telah kita lakukan, maka tahap berikutnya adalah pemeriksaan di pengadilan yang terdiri dari:
1. Penetapan majelis hakim
Setelah kita memasukkan surat gugatan, maka dalam waktu selambat-nya tujuh hari kerja setelah menerima gugatan tersebut, ketua peng-adilan negeri akan menetapkan majelis hakim yang memeriksa dan memutus peselisihan. Selanjutnya dalam waktu selambatnya tujuh hari kerja sejak penetapan majelis hakim akan diadakan sidang pertama.
2. Pemanggilan sidang
Pemanggilan untuk datang ke sidang dinyatakan sah apabila disampai-kan dengan surat panggilan kepada para pihak di alamat tempat ting-galnya atau apabila tempat tingting-galnya tidak diketahui disampaikan di tempat kediamannya terakhir. Apabila pihak yang dipanggil tidak ada di tempat tinggalnya atau tempat kediaman terakhir, surat panggilan disampaikan melalui kepala kelurahan atau kepala desa yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal pihak yang dipanggil atau tempat kediaman yang terakhir. Apabila tempat tinggal maupun tempat kediaman terakhir tidak dikenal, maka surat panggilan ditempelkan pada tempat pengumuman di gedung pengadilan hubungan industrial
3. Pemeriksaan pendahuluan
Dalam pemeriksaan pendahuluan, majelis hakim berkewajiban memeriksa isi gugatan dan bila terdapat kekurangan, hakim akan meminta penggugat untuk menyempurnakan gugatannya. Setelah surat gugatan dinyatakan memenuhi syarat, maka persidangan untuk memeriksa materi gugatan dapat dimulai.
4. Pembacaan gugatan penggugat
Setelah gugatan penggugat telah dinilai memenuhi persyaratan admi-nistratif, maka persidangan pertama adalah pembacaan gugatan penggugat. Dalam hal salah satu pihak atau para pihak tidak dapat menghadiri sidang tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, ketua majelis hakim menetapkan hari sidang berikutnya, selambatnya tujuh hari kerja terhitung sejak tanggal penundaan. Penundaan sidang karena ketidakhadiran salah satu atau para pihak diberikan maksimal dua kali penundaan. Jika ketidakhadiran tersebut di atas dilakukan oleh tergugat, maka majelis hakim dapat memeriksa dan memutus perselisihan tanpa kehadiran tergugat.
5. Pengajuan jawaban tergugat.
Terhadap surat gugatan dari penggugat, maka majelis hakim akan memberikan hak kepada tergugat untuk mengajukan surat jawaban-jawaban dari tergugat ini biasanya berisikan tangkisan (eksepsi) dan bantahan terhadap semua dalil diajukan oleh penggugat.
6. Pengajuan replik dan duplik
Replik adalah tanggapan penggugat terhadap surat jawaban dari tergugat. Duplik adalah tanggapan tergugat terhadap replik penggugat.
Jadi, sebagaimana halnya surta gugatan dari surat jawaban, replik dan duplik adalah kelanjutan dari jawab-menjawab antara penggugat dan tergugat. Karena merupakan kelanjutan dari jawab menjawab, pengajuan replik dan duplik dalam praktek sangat tergantung pada kebijakan majelis hakim, untuk menilai perlu tidaknya pengajuan replik dan duplik ini.
7. Pemeriksaan alat bukti
Karena hukum acara PHI menggunakan hukum acara perdata, maka alat bukti yang diperiksa adalah, bukti surat,bukti saksi, persangkaan,
INGAT!
Melihat pentingnya bukti surat pada pemeriksaan di PHI ini, maka jangan lupa untuk selalu menyimpan surat/dokumen yang berkaitan dengan pekerjaan anda, seperti kartu identitas, perjanjian kerja, struk upah, perjanjian kerja bersama, dll. Baik asli ataupun fotocopy.
8. Pengajuan kesimpulan
Pengajuan kesimpulan dari penggugat dan tergugat sering ditemukan dalam praktek persidangan perdata di pengadilan negeri. Sifatnya tidak wajib dan kembali pada kebutuhan para pihak dan kebijakan majelis hakim, apakah membutuhkan agar para pihak mengajukan kesimpulan (konklusi) ini, para pihak membuatnya secara tertulis yang isinya merangkum seluruh proses yang telah dilaksanakan sejak persidanghan pertama sampai dengan pemeriksaan alat bukti.
9. Pembacaan keputusan.
Dalam proses pemeriksaan di PHI, majelis hakim wajib memberikan putusan dalam waktu selambat lambatnya 50 hari kerja terhitung sejak sidang pertama. Dalam pengambilan putusan majelis hakim mem-pertimbangkan hukum, perjanjian yang ada, kebiasaan dan keadilan.
Putusan dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum. Jika pada saat pembacaan putusan salah satu pihak tidak hadir, maka ketua majelis hakim memerintahkan panitera pengganti untuk menyampaikan pemberitahuan putusan kepada pihak yang tidak hadir tersebut.
Terhadap perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat pe-kerja dalam satu perusahaan, putusan pengadilan hubungan industrial merupakan putusan akhir dan bersifat tetap. Terhadap perselisiahan PHK dan perselisihan hak, putusan pengadilan hubungan industrial mempunyai kekuatan hukum tetap jika tidak diajukan kasasi dalam waktu selambatnya 14 hari kerja: bagi pihak yang hadir pada saat pembacaan putusan, terhitung sejak putusan dibacakan. Bagi pihak yang tidak hadir pada saat pembacaan putusan, terhitung sejak tanggal menerima pemberitahuan putusan.
Dalam UU PPHI ini, penggugat mempunyai hak untuk mengaju-kan permohonan agar pengadilan dapat melakumengaju-kan pemeriksan secara cepat, dengan alasan adanya kepentingan penggugat yang cukup
men-desak. Misalnya seluruh aset perusahaan akan segera dilelang karena pe-rusahaan yang bersangkutan pailit, sehingga ada kekhawatiran jika per-selisihan tidak diputus secara cepat, maka pihak penggugat tidak akan memperoleh hak atas pembayaran pesangon.
Setelah permohonan pemeriksaan cepat diajukan, maka dalam waktu tujuh hari setelahnya diterimanya permohonan, Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan penetapan tentang dikabulkan atau tidak dikabul-kannya permohonan tersebut. Jika permohonan dikabulkan, Ketua pe-ngadilan negeri dalam waktu tujuh hari setelah dikeluarkan penetapan menentukan hari, tempat dan waktu sidang tanpa melalui prosedur pemeriksaan pendahuluan. Berbeda dengan pemeriksaan biasa, dalam pemeriksaan capat ini tenggang waktu untuk jawaban dan pembuktian kedua belah pihak, masing-masing ditentukan tidak melebihi 14 hari kerja.
Dalam perselisihan hak dan perselisihan pemutusan hubungan kerja, pihak yang keberatan atau tidak menerima putusan majelis hakim PHI tingkat pertama dapat mengajukan kasasi ke PHI tingkat kasasi.
Caranya adalah dengan menyatakan kasasi pada saat setelah majelis hakim tingkat pertama membacakan putusannya atau menyatakan kasasi melalui bagian kepaniteraan pengadilan dalam tenggang waktu:
1. Bagi yang hadir saaat pembacaan putusan, 14 hari sejak putusan ma-jelis hakim dibacakan.
2. Bagi yang tidak hadir saat pembacaan putusan, 14 hari sejak putusan diketahui.
Untuk mengajukan kasasi tidak cukup hanya menyatakan kasasi secara lisan, tetapi juga harus menyampaikan secara tertulis/menan-datangani akta pernyataan kasasi di bagian kepaniteraan. Perlu diperha-tikan, permohonan kasasi tersebut sebaiknya dilengkapi dengan me-mori kasasi, yang berisi keberatan anda terhadap putusan majelis hakim pengadilan tingkat pertama. Selanjutnya bagian kepaniteraan pengadilan hubungan industrial dalam waktu selambatnya 14 hari kerja terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan kasasi harus sudah menyam-paikan berkas perkara kepada ketua Mahkamah Agung.
Agung dan 2 dua hakim ad hoc di Mahkamah Agung yang bersal dari unsur serikat pekerja dan oranisasi pengusaha. Penyelesaian perkara kasasi pada Mahkamah Agung selambatnya 30 hari terhitung sejak tanggal penerimaan permohonana kasasi. Berbeda dengan PHI tingkat pertama, proses pemeriksaan di PHI tingkat kasasi hanya dilakukan sebatas pemeriksaan berkas berkas yang telah diperiksa di PHI tingkat pertama.
Bagaimana tahap pelaksanaan putusan pengadilan?
Jika pihak yang dikalahkan bersedia melaksanakan putusan secara sukarela, maka para pihak dapat melaksanakan putusan segera setelah putuan dibacakan. Akan tetapi jika pihak yang dikalahkan tidak bersedia melaksanakan secara sukarela, maka pihak yang dimenangkan harus mengajukan surat permohonan pelaksanaan putusan kepada ketua pengadilan negeri. Terhadap surat permohonan tersebut, biasanya ketua pengadilan negeri akan terlebih dahulu melakukan peneguran terhadap pihak yang dikalahkan untuk melaksanakan putusan. Proses acara peneguran ini dilakukan secara resmi di kantor pengadilan yang dihadiri pihak yang dikalahkan, pihak yang dimenangkan dan ketua pengadilan negeri. Jika pihak yang dikalahkan setelah ditegur ternyata bersedia melaksanakan putusan, maka perkara selesai.
Akan tetapi, jika para pihak yang telah ditegur tetap tidak berse-dia melaksanakan putusan, maka pihak yang dimenangkan harus meng-ajukan surat permohonan sita dan dilanjutkan dengan lelang eksekusi kepada ketua pengadilan negeri. Berdasarkan permohonan dari pihak yang dimanangkan ini maka ketua pengadilan akan menunjuk juru sita yang akan bertugas untuk melakukan penyitaan dan selanjutnya pele-langan terhadap barang barang yang merupakan harta kekayaan dari pihak yang dikalahkan sebagai pengganti pelaksanaan putusan yang tidak dilaksanakan secara sukarela tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
UU Nomor 21 Tahun 2000 tentang SerikatPekerja/SerikatBuruh
UU Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), Laporan Pengkajian Hu kum Tentang Menghimpun Dan Mengetahui Pendapat Ahli Me-ngenai Pengertian Sumber-Sumber Hukum MeMe-ngenai Ketenaga-kerjaan, Jakarta, 2010
www.hukumketenagakerjaan.com