yang dilakukan dalam persiapan audit.
M elaksanakan Audit terhadap Auditan Baru
Auditor harus memiliki kemampuan untuk memahami situasi baru dengan cepat. Ini merupakan bagian dari pekerjaannya. Persiapan untuk mengaudit auditan baru juga memerlukan kemampuan tersebut. Pada umumnya, akuntan publik menginvestigasi calon auditan sebelum memutuskan menerima penugasan atau tidak. Investigasi ini meneliti bagaimana status auditan dan hubungannya dengan akuntan publik. Seringkali, calon auditan telah diaudit oleh akuntan publik lainnya. Dalam situasi ini, auditor yang kemudian harus berkomunikasi dengan auditan sebelumnya berdasarkan SPAP No. 16. Tujuannya adalah untuk membantu auditor yang kemudian mengevaluasi apakah akan menerima penugasan. Meminta informasi dari auditor sebelumnya adalah prosedur yang harus dilakukan karena auditor sebelumnya dapat memberikan informasi bagi auditor yang kemudian dalam menentukan apakah akan menerima atau menolak penugasan. Auditor yang kemudian harus menaruh perhatian dalam beberapa hal, misalnya auditor yang sebelumnya dan yang kemudian dapat mempunyai perbedaan pendapat mengenai implementasi prinsip akuntansi, prosedur audit dan hal-hal penting lainnya.
Auditor yang kemudian harus mendapatkan persetujuan dari calon auditan sebelum meminta penjelasan dari auditor yang sebelumnya karena auditor dilarang memberikan informasi rahasia yang diperoleh sepanjang audit tanpa persetujuan dari calon auditan. Jika calon auditan menolak memberikan ijin kepada auditor yang sebelumnya dalam memberikan jawaban atau membatasi jawaban, auditor yang kemudian harus menyelidiki alasan- alasannya dan mempertimbangkan pengaruh dari pembatasan tersebut dalam menentukan untuk menerima penugasan. Auditor yang kemudian harus menanyakan penjelasan yang spesifik dan logis kepada auditor yang sebelumnya tentang hal-hal yang menurut auditor yang sebelumnya akan mendukung dalam memutuskan penerimaan penugasan. Auditor yang sebelumnya harus memberikan jawaban segera dan lengkap terhadap pertanyaan-pertanyaan auditor yang kemudian.
Akuntan publik dapat menggunakan sumber-sumber lain untuk penyelidikannya, seperti penasehat hukum, organisasi lain, perbankan, dan lembaga-lembaga tertentu yang menjadi pengamat organisasi yang diaudit. Akuntan publik dapat menyewa penyelidik profesional untuk mendapatkan
organisasi yang diperiksa. Penyelidikan yang lebih ekstensif diperlukan bila organisasi tersebut belum pernah diaudit atau auditor yang sebelumnya tidak memberikan informasi yang dibutuhkan atau ada indikasi masalah-masalah timbul selama komunikasi.
Dalam hal melanjutkan penugasan dari auditan yang tahun sebelumnya diaudit (auditan lanjutan), kantor akuntan publik harus secara rutin melakukan evaluasi ulang terhadap auditannya untuk menentukan apakah mereka tetap melanjutkan penugasan audit. Hubungan kerja jangka panjang dapat mempengaruhi independensi auditor dalam melaksanakan audit. Suatu tuntutan hukum terhadap kantor akuntan publik yang dilayangkan oleh auditan juga dapat mempengaruhi independensi akuntan publik tersebut. Mungkin juga ada konflik di masa lalu antara auditor dan auditan berkenaan dengan penugasan-penugasan sebelumnya, seperti ruang lingkup audit dan jenis opini yang diterbitkan. Konflik-konflik seperti ini dapat membuat auditor memutuskan untuk tidak melanjutkan penugasan. Keputusan untuk tidak melanjutkan audit juga dapat didasarkan pada pertimbangan auditor terhadap ketidaaan integritas dari calon auditan sehingga tidak layak menjadi auditan.
Apabila penugasan audit diterima oleh auditor pemerintah (seperti BPK atau Inspektorat Jenderal), auditor pemerintah tidak dapat melakukan penolakan penugasan. Mereka harus tetap melanjutkan audit instansi pemerintahan untuk terselenggaranya akuntabilitas instansi pemerintahan. Bila suatu institusi pemerintahan tidak memiliki integritas misalnya, auditor pemerintah tidak akan memutuskan untuk tidak melanjutkan audit terhadap institusi tersebut seperti yang dilakukan oleh akuntan publik, tetapi auditor pemerintah harus memperluas cakupan audit, dan bila diperlukan melakukan jenis audit yang lain, seperti audit investigasi, untuk mendeteksi kecurangan- kecurangan yang memunculkan ketiadaan integritas tersebut.
Dalam hal auditor pemerintah menerima penugasan untuk auditan yang baru, persiapan untuk menghadapi auditan ini, cara termudah untuk memulainya adalah dengan anggaran atau laporan dari periode sebelumnya. Informasi ini dapat diperoleh dari auditor sebelumnya dengan meminta kertas kerja mereka. Kertas kerja ini dapat menjadi sumber informasi yang berharga dan pada umumnya antar auditor pemerintah tidak ada pembatasan untuk menelaah kertas kerja di antara mereka selama dalam supervisi yang memadai.
Daftar Persiapan untuk Auditan Baru
1. Dapatkan angka-angka dan penelaahan-penelaahan rinci dari periode
sebelumnya.
2. Dapatkan, bila memungkinkan, kertas kerja auditor periode
sebelumnya.
3. Jika tidak memahami operasi auditan baru, kegiatan penelitian
diperlukan untuk memperoleh pemahaman tentang:
a. Kegiatan-kegiatan secara umum. Apa saja yang dikerjakan
auditan.
n Membaca buku.
n Berdiskusi dengan auditor lain.
b. Peraturan perundang-undangan yang secara khusus terkait
dengan auditan.
c. Permasalahan-permasalahan umum yang berkaitan dengan
organisasi auditan.
d. Pengguna jasa atau pelanggan dari organisasi auditan.
e. Pemasok organisasi auditan:
n Para pegawainya sendiri
n Rekanan-rekanan
4. Diskusikan penugasan audit dengan manajemen puncak auditan:
a. Alasan melakukan audit – untuk kesopanan.
b. Latar belakan operasional secara umum seperti yang dinyatakan
dalam point 3. di atas.
c. Penyelenggaraan administrasi.
d. Berbicara dengan manajemen puncak tentang:
n Untuk alasan kesopanan dan untuk menjelaskan
alasan-alasan audit bila alasan-alasan ini belum jelas.
n Tentang perubahan-perubahan utama dalam sistem.
n Tentang perubahan-perubahan dalam jajaran
manajemen dan personil kunci.
n Tentang perubahan-perubahan perundang-undangan.
n Tentang kontrak-kontrak baru yang besar.
n Tentang adanya tuntutan hukum dan kewajiban
kontinjen lainnya.
5. Kemudian diskusikan:
a. Kapan auditan siap menerima auditor melaksanakan
pekerjaannya.
b. Kapan laporan audit diperlukan.
6. Untuk penugasan audit yang besar, riset atas operasional sistem secara rinci diperlukan sebelum perencanaan rinci dimungkinkan. Hal ini akan meliputi evaluasi sistem dan pembuatan flowchart. (Dibahas pada bab berkenaan dengan pengendalian intern.)
M engidentifikasi Alasan Penugasan Audit
Ketika auditor ditugaskan atau memutuskan untuk melaksanakan penugasan, ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pada kebanyakan audit dilaksanakan secara tahunan karena peraturan yang mengharuskannya. Beberapa audit lain dilaksanakan tidak berdasarkan persyaratan yang ada dalam perundang-undangan dan dilaksanakan secara tidak teratur. Staf auditan yang paham audit-audit ini untuk alasan suatu hubungan yang baik dan untuk memudahkan pelaksanaan audit meminta penjelasan tentang sebab dan sifat audit. Kegagalan memberikan informasi kepada staf auditan tepat pada waktunya dapat mengganggu proses perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan- pekerjaan audit berikutnya.
Identifikasi alasan penugasan audit berguna dalam merencanakan bukti-bukti yang akan dikumpulkan. Jika laporan keuangan akan digunakan oleh pengguna yang lebih luas, auditor harus memperoleh bukti lebih banyak lagi. Pada sektor publik, penugasan audit mungkin diminta oleh instansi pemerintahan, terutama berkaitan dengan audit kinerja.
M emperoleh Kesepahaman dengan Pihak yang
M emberikan Penugasan
Setelah auditor menerima penugasan, auditor melakukan pertemuan dengan auditan atau pihak yang memberikan penugasan untuk memperoleh kesepahaman. Kesepahaman dengan pihak yang memberikan penugasan dituangkan dalam suatu surat penugasan. Dokumen ini berisi tujuan-tujuan penugasan, tanggung jawab auditor dan auditan, dan pembatasan-pembatasan dalam penugasan. Ini merupakan persetujuan antara auditor dengan pihak yang memberikan penugasan. Persetujuan ini harus berisi apakah auditor akan melakukan suatu audit, review atau jasa lainnya. Persetujuan ini juga harus menyatakan pembatasan-pembatasan yang dikenakan atas pekerjaan auditor, batas waktu penyelesaian audit, bantuan-bantuan yang diberikan oleh auditan dalam memperoleh bukti-bukti dan catatan-catatan, dan jadwal yang disiapkan, serta persetujuan akan besarnya honorarium (dalam hal penugasan diterima oleh akuntan publik).