H. Definisi Operasional Variabel
III. M ETODOLOGI PENELITIAN
M et ode Dasar Penelit ian
Metode dasar penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. Metode deskriptif analitik mempunyai ciri memu-satkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang, pada masalah-masalah yang aktual. Data yang dikumpulkan mula-mula disu-sun, dijelaskan, dan kemudian dianalisis (Surakhmad, 1994).
Lokasi Penelit ian
Lokasi penelitian diambil secara purposive sesuai dengan tujuan penelitian yaitu kabupaten yang mempunyai produksi perikanan laut terbesar di Jawa Tengah dan memiliki TPI paling banyak sehingga lokasi yang dipilih adalah Kabupaten Rembang. Arikunto (2006) mengatakan bahwa purposive sampling dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah akan tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Teknik ini biasanya dilakukan karena beberapa pertimbangan, misal keterbatasan waktu, dana dan tenaga sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh. Syarat-syarat yang harus dipenuhi:
1. Pengambilan sampel harus didasarkan atas cirri-ciri, sifat atau karakteristik tertentu yang merpakan cir-ciri pokok populasi.
2. Subjek yang diambil sebagai sampel benar-benar merupakan subjek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi
3. Penentuan karakteristik populasi dilakukan dilakukan dengan cermat di dalam studi pendahuluan
Hal ini dapat dilihat dari data produksi perikanan laut Kabupaten Rembang sebagai berikut:
Tabel 2. Banyaknya TPI, Produksi dan Nilai Produksi Perikanan Laut yang Dijual di Tempat Pelelangan Ikan Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah
No Kabupaten/ Kota Banyaknya TPI
Produksi (kg) Nilai Produksi (Rp) 1 Kab. Cilacap 11 3.219.403 15.647.080 2 Kab.Kebumen 5 1.631.630 18.625.485 3 Kab.Rembang 12 28.815.364 153.465.745 4 Kab.Pati 7 6.860.046 28.343.572 5 Kab.Jepara 12 872.219 2.366.106 6 Kab.Demak 2 1.096.947 6.314.636 7 Kab.Kendal 4 1.077.203 5.421.704 8 Kab.Batang 4 16.776.284 54.562.240 9 Kab.Pekalongan 2 925.928 4.870.431 10 Kab.Pemalang 6 10.634.341 37.893.664 11 Kab.Tegal 3 340.498 2.459.150 12 Kab.Brebes 8 1.177.193 3814.362 13 Kota Semarang 1 323.617 662.328 14 Kota Pekalongan 1 26.682.076 121.852.494 15 Kota Tegal 3 21.258.064 107.256.097 Jumlah 81 121.690.813 563.555.007
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang Tahun 2007
Berdasarkan Tabel 2. Kabupaten yang memiliki produksi tangkap terbesar adalah Kabupaten Rembang sebesar 28.815.364 kg dan didukung dengan adanya sarana TPI sebanyak 12 buah. Produksi perikanana laut yang besar membuat subsektor perikanan laut di Kabupaten Rembang diunggulkan oleh pemerintah setempat. Selain memberikan sumbangan PDRB yang tinggi sebesar Rp 153.465.745,00 subsektor perikanan laut juga merupakan icon
Kabupaten Rembang.
Pemasaran produksi perikanan laut Kabupaten Rembang telah menjangkau tingkat nasional dan internasional. Pada tingkat nasional dipasarkan ke Yogyakarta, Semarang Lampung, Jambi, dan sekitar Sumatera Tengah sedangkan untuk ekspor masih dilakukan melalui Semarang dan Surabaya, karena Rembang belum memiliki perwakilan ekspor. Negara tujuan
ekspornya adalah Amerika Serikat, Jepang, Singapura dll. Retribusi hasil perikanan bagi pendapatan asli daerah mencapai hampir Rp 1 miliar tiap tahun. Data mengenai produksi perikanan laut Kabupaten Rembang berdasarkan jenis ikan adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Produksi Perikanan Laut Kabupaten Rembang Berdasarkan Jenis Ikan
No Uraian 2003 2004 2005 2006 1. Layang 10.787.171 9.251.480 5.854.967 12.102.321 2. Bawal Hitam 230.612 283.692 411.317 651.352 3. Kembung 2.152.298 1.871.443 2.417.841 2.937.689 4. Selar 2.412.225 2.563.426 2.834.806 3.564.636 5. Tembang/Jui 5.458.695 1.634.698 2.321.946 2.735.030 6. Tongkol 1.113.875 1.189.407 1.222.959 1.303.864 7. Tenggiri 212.373 313.820 272.784 194.822 8. Cumi-cumi 473.465 890.364 487.179 457.292 9. Petek 1.288.959 1.518.099 1.340.833 1.125.051 10. Tiga Waja 92.693 267.120 247.866 93.972 11. Ekor Kuning - - 1.676.845 965.952 12. Kurisi 964.159 1.116.528 - 130.071 13. Pari/Peh 263.657 365.611 138.836 94.662 14. Layur 7.056 - - 33.190 15. Kapasan - - 61.335 - 16. Demang - - 1.684.659 263.740 17. Baracuda - - 1.830 - 18. Badong - - 1.240 33.416 19. Krisik Kecil - - 465.116 - 20. Balak/Beloso - - 40.302 - 21. Bambangan 10.409 4.430 860 - 22. Manyung - 675 - - 23. Cucut 12.745 - - 21.100 24. Teri 41.049 38.494 35.977 91.787 25. Udang 10 732 530 - 26. Julung-julung 3.810 - - - 27. Rajungan 195 422 - - 28. Lemuru 172.998 727.466 244.927 77.590 29. Kerapu - - 213.464 112.495 30. Bukur - - 155.935 32.841 31. Lain-lain 3.880.817 11.114.533 9.300.179 10.884.232 Jumlah 29.579.271 33.152.440 31.434.533 37.907.105 Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Rembang, 2007
Jenis ikan laut yang ada di perairan laut di Kabupaten Rembang sebanyak 54 jenis diantaranya yaitu ikan layang, bawal hitam, kembung, selar, tembang, tongkol, tenggiri, cumi-cumi dan petek namun tidak semua ikan tersebut memiliki produksi tangkap yang kontinyu. Jenis ikan yang memiliki produksi tinggi di Kabupaten Rembang dari tahun 2003-2006 adalah ikan layang kemudian ikan kembung dan ikan selar.
Jenis dan Sum ber Dat a
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari instansi atau lembaga yang berhubungan dengan penelitian ini. Dalam penelitian ini, data diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rembang, Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang. Pengambilan data dari berbagai dinas disebabkan adanya perubahan isi Rembang Dalam Angka dari BPS sehingga tidak semua data dari dinas masuk ke dalamnya. Meskipun demikian pengambilan data dari berbagai dinas ini valid karena memiliki nilai yang sama. Data yang diambil oleh peneliti ialah data time series selama 15 tahun mulai dari tahun 1994-2008.
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data konsumsi ikan laut, perkembangan harga ikan laut, harga daging ayam, harga beras, pendapatan per kapita dan produksi tangkap ikan laut serta pendukung lain.
Teknik Pengumpulan Dat a
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara pencatatan data pada instansi atau lembaga pemerintahan yang terkait dengan penelitian. Teknik ini untuk memperoleh data sekunder.
M et ode Analisis Dat a
Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel berupa pendekatan teori ekonomi, statistik dan ekonometrika. Penekanannya pada model analisis seri waktu (time series analysis). Analisis seri waktu dapat digunakan untuk mengetahui hubungan statistik yang baik antara nilai-nilai dari variabel yang sama tetapi pada periode yang berbeda.
Hubungan antara permintaan ikan laut dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya dapat diketahui denngan menggunakan model non linier berganda. Persamaan model ini dapat ditulis sebagai berikut :
Keterangan:
Qd = jumlah pemintaan ikan laut (kg) b0 = konstanta
PT = produksi tangkap ikan laut (kg) HI = harga ikan laut tahun t (Rp/kg) HB = harga beras tahun t (Rp/kg)
HA = harga daging ayam tahun t (Rp/kg) Y = pendapatan per kapita tahun t (Rp) e = variabel pengganggu
b1, b2, b3, b4,b5 = koefisien regresi
Proses penaksiran dan fungsi permintaan model regresi non linier berganda ditransformasikan ke dalam bentuk logaritma natural sehingga berbentuk :
Ln Qd=ln b0+b1 lnPT+b2 lnHI+b3 lnHA+b4 lnHB +b5ln Y+ e ……..(1.2) Satu ciri yang menarik dari model log natural berganda adalah koefisien kemiringan b1, b2, b3, b4 dan b5 yang dapat digunakan untuk mengukur elasitisitas variabel dependen terhadap variabel independen, yaitu persentase perubahan dalam variabel dependen untuk persentase perubahan tertentu dalam variabel independen.
1. Permint aan Ikan Layang
LnQdL=lnb0+b1lnPTL +b2 lnHIL+b3lnHB +b4lnHA+b5 lnY +e ……..(1.3) Keterangan :
QdL = jumlah pemintaan ikan layang (kg) b0 = konstanta
PTL = produksi tangkap ikan layang tahun t (kg) HIL = harga ikan layang tahun t (Rp/kg)
HA = harga daging ayam tahun t (Rp/kg) Y = pendapatan per kapita tahun t (Rp) e = variabel pengganggu
b1, b2, b3, b4,b5 = koefisien regresi 2. Permint aan Ikan Kembung
Ln QdK=lnb0+b1lnPTK+b2lnHIK+b3lnHB +b4lnHA+b5ln Y+ e……..(1.3) Keterangan:
QdK = jumlah pemintaan ikan kembung (kg) b0 = konstanta
PTK = produksi tangkap ikan kembung tahun t (kg) HIK = harga ikan kembung tahun t (Rp/kg)
HB = harga beras tahun t (Rp/kg) HA = harga daging ayam tahun t (Rp/kg) Y = pendapatan per kapita tahun t(Rp) e = variabel pengganggu
b1, b2, b3, b4, b5 = koefisien regresi 3. Permint aan ikan selar
LnQdS=lnb0+b1lnPTS+b2ln HIS +b3lnHB +b4lnHA+b5 lnY +e ……..(1.3) Keterangan :
QdS = jumlah pemintaan ikan selar (kg) b0 = konstanta
PTS = produksi tangkap ikan selar (kg) HIS = harga ikan selar tahun t (Rp/kg) HB = harga beras tahun t (Rp/kg)
HA = harga daging ayam tahun t (Rp/kg) Y = pendapatan per kapita (Rp)
e = variabel pengganggu
b1, b2, b3, b4,b5 = koefisien regresi
Hasil perhitungan di uji menggunakan uji statistik dan uji asumsi klasik agar tidak menghasilkan persamaan yang bias, meliputi uji F, uji R2dan uji t.
Uji asumsi klasik meliputi uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi.
a. Uji statistik meliputi :
1) Uji F (uji secara bersama-sama)
Yaitu uji untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel-variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Tingkat kepercayaan yang digunakan 90%, 95% dan 99% atau tingkat
signifikansi (α) 10%, 5% dan 1%. Prosedur pengujiannya sebagai
berikut:
a). Ho : R2 = 0 (semua variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen secara serentak dengan signifikan).
b). Ha : R2≠0 ( semua variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara serentak signifikan ).
Kriteria pengambilan keputusan :
a). Nilai signifikansi < maka Ho ditolak dan Ha diterima, berarti variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap permintaan ikan laut di Kabupaten Rembang.
b). Nilai signifikansi > maka Ho diterima dan Ha ditolak, berarti variabel bebas secara bersama-sama tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan ikan laut di Kabupaten Rembang.
2) Uji R2 Adjusted
Koefisien diterminasi adalah angka yang menunjukkan proporsi variabel dependen yang dijelaskan oleh variasi variabel independen. Artinya R2 adjusted menunjukkan seberapa jauh kesesuaian persamaan regresi tersebut dengan data. Misalnya R2 adjusted =0,90 menunjukkan bahwa perubahan pada variabel-variabel independen menyebabkan 90% perubahan pada variabel dependen. Nilai R2 adjusted =1
menunjukkan bahwa hubungan semua variasi variabel independen terhadap variabel dependen kuat. R2 adjusted digunakan jika dalam regresi menggunakan lebih dari dua variabel independen (Arsyad, 2008).
3) Uji t (uji secara individu)
Pengujian ini dilakukan untuk menguji kemampuan variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen secara sendiri-sendiri. Tingkat kepercayaan yang digunakan 90%, 95% dan 99% atau
tingkat signifikansi (α) 10%, 5% dan 1%. Langkah pengujiannya
dengan mengajukan hipotesis :
a). Ho :β = 0 ( Variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen secara signifikan ).
b). Ha :β ≠ 0 ( Variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen secara signifikan ).
Kriteria pengambilan keputusan :
a). Nilai signifikansi < maka Ho dit olak dan Ha dit erim a, berart i variabel bebas secara individu berpengaruh nyat a t erhadap permint aan ikan laut di Kabupat en Rembang.
b). Nilai signifikansi > maka Ho dit erima dan Ha dit olak, berart i variabel bebas secara individu t idak berpengaruh nyat a t erhadap permint aan ikan laut di Kabupat en Rembang.
Variabel bebas yang paling berpengaruh terhadap permintaan ikan laut, dicari menggunakan standard koefisien regresi partial, yang dapat diperoleh dengan rumus :
βi = β x
i
y
Keterangan :
βi = Standar koefisien regresi variable bebas ke-i
y = Standar deviasi variable tak bebas i = Standar deviasi variable bebas ke-i
Variabel yang memiliki nilai standart koefisien regresi yang terbesar merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap permintaan ikan laut di Kabupaten Rembang.
b. Uji asumsi klasik
Model regresi linier klasik didasarkan pada asumsi :
1. Nilai rata-rata bersyarat dari unsur gangguan populasi Ui, tergantung pada nilai tertentu, variabel yang menjelaskan adalah nol.
2. Variabel bersyarat dari Ui adalah konstan atau homoskedastisitas. 3. Tidak ada autokorelasi dalam gangguan.
4. Variabel independen adalah non stokastik.
5. Tidak ada multikoliniearitas diantara variabel independen.
6. Ui didistribusikan secara normal dengan rata-rata dan variabel yang diberikan oleh asumsi 1 dan 2.
Asumsi di atas membuat penaksir OLS dari koefisien regresi adalah tidak bias linier (BLUE/ Best Linier Unbiased Estimator). Penyimpangan terhadap asumsi di atas akan mempengaruhi hasil analisis. Model
penyimpangan OLS antara lain : a). Uji Multikolinieritas
Multikolinearitas merupakan suatu keadaan yang menunjukkan dalam model regresi terdapat korelasi antar variabel independen. Pemeriksaan asumsi multikolinearitas juga dapat dilihat dari nilai VIF (varian inflected factor). Apabila nilai 0,1<VIF<10, berarti tidak terjadi multikolinearitas/tidak terdapat hubungan linier yang sangat tinggi antarvariabel independen (Yamin dan Heri, 2009).
b). Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedatisitas digunakan untuk menguji terjadinya ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan
lain dalam model regresi. Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan grafik scatterplot. Apabila dari grafik terlihat titik-titik menyebar secara acak dan tidak membentuk pola yang teratur maka hal tersebut menunjukkan bahwa kesalahan pengganggu memiliki varian yang sama (homoskedastisitas) dan dapat disimpulkan dari model yang diestimasi tidak terjadi heteroskedastisitas.
c). Uji Autokorelasi
Autokorelasi adalah hubungan yang terjadi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t sebelumnya. Model regresi yang baik seharusnya tidak menunjukkan autokorelasi. Pengujian ada atau tidaknya korelasi antar variabel bebas (otokorelasi), dilakukan dengan menggunakan uji statistik d dari Durbin Watson dengan kriteria (Sulaiman, 2002):
1. 1,65 < DW < 2,35 yang artinya tidak terjadi autokorelasi. 2. 1,21 < DW < 1, 65 atau 2,35 < DW < 2,79 yang artinya tidak
dapat disimpulkan.
3. DW < 1,21 atau DW > 2,79 yang artinya terjadi autokorekasi. c. Elastisitas
Elastisitas dari fungsi permintaan dapat diketahui dengan melihat dari nilai koefisien regresi dari masing-masing variabel bebas. Jadi dengan model ini, nilai elastisitas merupakan nilai koefisien regresi dari masing-masing variabel bebas.
1) Elastisitas Harga
Pada elastisitas permintaan terhadap harga, variabel yang menyebabkan perubahan jumlah ikan laut yang diminta adalah harga ikan laut. Kriteria elastisitas permintaan terhadap harga dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 4. Kriteria Elastisitas Permintaan Terhadap Harga Elastisitas Istilah Keterangan
|Εp| = 0 Inelastis sempurna
Jumlah yang diminta tidak berubah dengan adanya perubahan harga
0 < |Ep| <1 Inelastis Jumlah yang diminta berubah dengan persentase yang lebih kecil daripada perubahan harga
|Εp| = 1 Unitary elasticity
Jumlah yang diminta berubah dengan persentase sama dengan perubahan harga
1 <|Ep|< ~ Elastis Jumlah yang diminta berubah dengan persentase lebih besar daripada perubahan harga
|Εp| = ~ Elastis sempurna
Pembeli siap membeli sesuai kemampuan mereka pada beberapa tingkat harga dan tidak sama sekali walaupun dengan harga yang sedikit lebih tinggi Sumber: Arsyad, 2008
2) Elastisitas Pendapatan
Pada elastisitas permintaan terhadap pendapatan, variabel yang menyebabkan perubahan jumlah ikan laut yang diminta adalah pendapatan per kapita penduduk. Kriteria elastisitas permintaan terhadap pendapatan dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 5. Kriteria Elastisitas Permintaan Terhadap Pendapatan Elastisitas Golongan barang Interpretasi
Positif Negatif
Barang Normal Inferior
Jumlah yang diminta meningkat begitu pendapatan naik
Jumlah barang yang diminta menurun begitu pendapatan naik.
Sumber: Sudarsono,1995 3) Elastisitas Silang
Pada elastisitas permintaan harga silang, variabel yang menyebabkan perubahan jumlah ikan laut yang diminta adalah harga barang substitusi dan barang komplementernya. Kriteria elastisitas permintaan silang dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 6. Kriteria Elastisitas Permintaan Silang Elastisitas Golongan barang Interpretasi Positif Negatif Nol Subtitusi Komplementer Barang tidak berhubungan
Kenaikan harga barang substitusi berakibat meningkatnya jumlah yang diminta untuk barang ini (dan untuk barang substitusinya berkurang)
Kenaikan harga barang komplementer berakibat turunnya jumlah yang diminta untuk barang ini (juga untuk barang komplemennya) Perubahan harga suatu barang tidak
mempunyai pengaruh terhadap permintaan akan barang lainnya