HUKUM PIDANA BAGI ORANG MURTAD
1. Macam‐Macam Bid’ah
Dan dalam riwayat lain disebutkan :
ﱞﺩ َﺭ َﻮُﻬَﻓ ُﻪْﻨِﻣ َﺲْﻴَﻟ ﺎَﻣ ﺍَﺬَﻫ ﺎَﻧ ِﺮْﻣَﺃ ﻰِﻓ َﺙَﺪْﺣَﺃ ْﻦَﻣ
“Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak didasari oleh urusan kami maka amalannya tertolak”.
Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yang diada‐adakan dalam Ad‐Dien (Islam) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan tertolak. Artinya bahwa bid’ah di dalam ibadah dan aqidah itu hukumnya haram.
Tetapi pengharaman tersebut tergantung pada bentuk bid’ahnya, ada diantaranya yang menyebabkan kafir (kekufuran), seperti thawaf mengelilingi kuburan untuk mendekatkan diri kepada ahli kubur, mempersembahkan sembelihan dan nadzar‐nadzar kepada kuburan‐kuburan itu, berdo’a kepada ahli kubur dan minta pertolongan kepada mereka, dan seterusnya. Begitu juga bid’ah seperti bid’ahnya perkataan‐perkataan orang‐orang yang melampui batas dari golongan Jahmiyah dan Mu’tazilah. Ada juga bid’ah yang merupakan sarana menuju kesyirikan, seperti membangun bangunan di atas kubur, shalat berdo’a disisinya.
Ada juga bid’ah yang merupakan fasiq secara aqidah sebagaimana halnya bid’ah Khawarij, Qadariyah dan Murji’ah dalam perkataan‐perkataan mereka dan keyakinan Al‐Qur’an dan As‐Sunnah. Dan ada juga bid’ah yang merupakan maksiat seperti bid’ahnya orang yang beribadah yang keluar dari batas‐batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shiyam yang dengan berdiri di terik matahari, juga memotong tempat sperma dengan tujuan menghentikan syahwat jima’ (bersetubuh).
1. Macam‐Macam Bid’ah
Bid’ah Dalam Ad‐Dien (Islam) Ada Dua Macam :
a. Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah : Bid’ah perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti ucapan‐ucapan orang Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah‐firqah (kelompok‐kelompok) yang sesat sekaligus keyakinan‐keyakinan mereka.
b. Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah : seperti beribadah kepada Allah dengan apa yang tidak disyari’atkan oleh Allah : dan bid’ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :
Bid’ah yang berhubungan dengan pokok‐pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at Allah Ta’ala, seperti mengerjakan shalat yang tidak disyari’atkan, shiyam yang tidak disyari’atkan, atau mengadakan hari‐hari besar yang tidak disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya.
Bid’ah yang bentuknya menambah‐nambah terhadap ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar.
Bid’ah yang terdapat pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yang sifatnya tidak disyari’atkan seperti membaca dzikir‐dzikir yang disyariatkan dengan cara berjama’ah dan suara yang keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas‐
batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Bid’ah yang bentuknya menghususkan suatu ibadah yang disari’atkan, tapi tidak dikhususkan oleh syari’at yang ada. Seperti menghususkan hari dan malam nisfu Sya’ban (tanggal 15 bulan Sya’ban) untuk shiyam dan qiyamullail.
Memang pada dasarnya shiyam dan qiyamullail itu di syari’atkan, akan tetapi pengkhususannya dengan pembatasan waktu memerlukan suatu dalil.
Contoh Bid’ah
a) Shalat Sunnah dua raka’at sebelum dibunuh. Orang yang pertama kali melakukannya adalah Khubaib ibn ‘Adiyy al‐Anshari; salah seorang sahabat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Tentang ini Abu Hurairah berkata:
b) Penambahan Adzan Pertama sebelum shalat Jum’at oleh sahabat Utsman bin
‘Affan. (HR. al‐Bukhari dalam Kitab Shahih al‐Bukhari pada bagian Kitab al‐
Jum'ah).
c) Pembuatan titik‐titik dalam beberapa huruf al‐Qur’an oleh Yahya ibn Ya’mur.
Beliau adalah salah seorang tabi'in yang mulia dan agung. Beliau seorang yang alim dan bertaqwa. Perbuatan beliau ini disepakati oleh para ulama dari kalangan ahli hadits dan lainnya. Mereka semua menganggap baik pembuatan titik‐titik dalam beberapa huruf al‐Qur’an tersebut. Padahal ketika Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendiktekan bacaan‐bacaan al‐Qur’an tersebut kepada para penulis wahyu, mereka semua menuliskannya dengan tanpa titik‐
titik sedikitpun pada huruf‐hurufnya.
d) Pembuatan Mihrab dalam majid sebagai tempat shalat Imam, orang yang pertama kali membuat Mihrab semacam ini adalah al‐Khalifah ar‐Rasyid ‘Umar ibn Abd al‐'Aziz di Masjid Nabawi. Perbuatan al‐Khalifah ar‐Rasyid ini kemudian diikuti oleh kebanyakan ummat Islam di seluruh dunia ketika mereka membangun masjid. Siapa berani mengatakan bahwa itu adalah bid’ah sesat, sementara hampir seluruh masjid di zaman sekarang memiliki mihrab?! Siapa yang tidak mengenal Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al‐‘Aziz sebagai al‐Khalifah ar‐
Rasyid?!
e) Peringatan Maulid Nabi adalah bid’ah hasanah sebagaimana ditegaskan oleh al‐
Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al‐Hafizh al‐'Iraqi (W 806 H), al‐Hafizh Ibn Hajar al‐
'Asqalani (W 852 H), al‐Hafizh as‐Suyuthi (W 911 H), al‐Hafizh as‐Sakhawi (W 902 H), Syekh Ibn Hajar al‐Haitami (W 974 H), al‐Imam Nawawi (W 676 H), al‐Imam al‐‘Izz ibn 'Abd as‐Salam (W 660 H), Mantan Mufti Mesir; Syekh Muhammad Bakhit al‐Muthi'i (W 1354 H), mantan Mufti Bairut Lebanon Syekh Mushthafa Naja (W 1351 H) dan masih banyak lagi para ulama terkemuka lainnya.
f) Membaca shalawat atas Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam setelah adzan adalah bid’ah hasanah sebagaimana dijelaskan oleh al‐Hafizh as‐Suyuthi dalam kitab Musamarah al‐Awa‐il, al‐Hafizh as‐Sakhawi dalam kitab al‐Qaul al‐Badi’, al‐
Haththab al‐Maliki dalam kitab Mawahib al‐Jalil, dan para ulama besar lainnya.
g) Menulis kalimat “Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam” setelah menulis nama Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam termasuk bid’ah hasanah. Karena Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam surat‐surat yang beliau kirimkan kepada para raja dan para penguasa di masa beliau hidup tidak pernah menulis kalimat shalawat semacam itu. Dalam surat‐suratnya, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi
Wa Sallam hanya menuliskan: “Min Muhammad Rasulillah Ila Fulan…”, artinya:
“Dari Muhammad Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada Si Fulan…”.
h) Beberapa Tarekat yang dirintis oleh para wali Allah dan orang‐orang saleh.
Seperti tarekat ar‐Rifa'iyyah, al‐Qadiriyyah, an‐Naqsyabandiyyah dan lainnya yang kesemuanya berjumlah sekitar 40 tarekat. Pada asalnya, tarekat‐tarekat ini adalah bid’ah hasanah, namun kemudian sebagian pengikut beberapa tarekat ada yang menyimpang dari ajaran dasarnya. Namun demikian hal ini tidak lantas menodai tarekat pada peletakan atau tujuan awalnya
Sebab‐ sebab munculnya Bid’ah
1. Tidak memahami hukum‐hukum Islam.