BAB II KERANGKA TEORI
B. Hak Asasi Manusia
4. Macam-macam Hak Asasi Manusia
Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, muatan hak asasi manusia dirumuskan sepuluh hak sebagai berikut:45
1. Hak Asasi Manusia Yang Berkaitan dengan Hidup
Hak untuk hidup dimiliki oleh setiap orang dalan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia menyebutkan bahwa setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya, landasan hukun perlindungan hak asasi manusia yang berkaitan dengan hidup berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia yaitu, Pasal 9 ayat (1) „setiap orang berhak untuk hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya.‟ Pasal 9 ayat (2) Setiap orang berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin.” Pasal 9 ayat (3) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.”
2. Hak Asasi Manusia Yang Berkaitan dengan Keluarga dan Melanjutkan Keturunan.
Membentuk sebuah keluarga yang sah menurut peraturan yang berlaku merupakan sebuah hak asasi manusia. Membentuk keluarga yang sah adalah melaksanakan perkawinan sesuai peraturan perundang-undangan. Adapun landasan hukum perlindungan hak asasi manusia yang berkaitan dengan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia yaitu, Pasal 10 ayat (1) “Setiap orang berhak membentuk suatu keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.” Pasal 10 ayat (2) “Perkawinan yang sah hanya dapat berlangsung atas kehendak bebas calon suami dan calon istri yang bersangkutan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”
30
3. Hak Asasi Manusia yang Berkaitan dengan Pekerjaan
Memperoleh pekerjaan yang layak merupakan hak setiap orang. Pekerjaan berguna untuk memenuhi setiap kebutuhan hidup manusia. Adapun landasan hukum perlindungan hak asasi manusia yang berkaitan dengan pekerjaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia yaitu: Pasal 38 ayat (1) “Setiap orang berhak, sesuai dengan bakat, kecakapan, dan kemampuan, berhak atas pekerjaan yang layak.”Pasal 38 ayat (2) “Setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang disukainya dan berhak pula atas syarat-syarat ketenagakerjaan.” Pasal 38 ayat (3) “Setiap orang, baik pria maupun wanita yang melakukan pekerjaan yang sama, sebanding, setara atau serupa, berhak atas upah serta syarat-syarat perjanjian kerja yang sama.” Pasal 38 ayat (4) “Setiap orang, baik pria maupun wanita, dalam melakukan pekerjaan yang sepadan dengan martabat kemanusiaannya berhak atas upah yang adil sesuai dengan prestasinya dan dapat menjamin kelangsungan kehidupan keluarganya.”
4. Hak Asasi Manusia yang Berkaitan dengan Kebebasan Beragama dan Meyakini Kepercayaan.
Terdapat beberapa agama atau kepercayaan yang ada di Indonesia. Setiap orang berhak memilih dan memeluk masing-masing agama atau kepercayaan tersebut. Adapun landasan hukum prlindungan hak asasi manusia yang berkaitan dengan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia yaitu, Pasal 22 ayat (1) “setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Pasal 22 ayat (2) “negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan unuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”
5. Hak Asasi Manusia yang Berkaitan dengan Kebebasan Bersikap, Berpendapat, dan Berserikat.
Membentuk atau turut serta dalam keanggotaan ataupun menjadi pengurus organisasi lam kehidupan bermasyarakat dalam wilayah Republik Indonesia merupakan hak setiap orang. Kebebasan tersebut diatur dalam Undang-unang no 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia yaitu, Pasal 23 ayat (2) “Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa.” Pasal 24 ayat (1) “Setiap orang berhak untuk berkumpul, berapat, dan berserikat untuk maksud-maksud damai.” Pasal 25
“Setiap orang berhak untuk menyampaikan pendapat di muka umum, termasuk
hak untuk mogok sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”
6. Hak Asasi Manusia yang Berkaitan dengan Informasi dan Komunikasi.
Mengakses Informasi merupakan hak setiap orang. Landasan hukum yang menyatakan bahwa informasi dan komunikasi merupakan hak asasi manusia terdapat dalam undang-undang no 39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia yaitu, pasal 14 ayat (1) “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya.” pasal 14 ayat (2) “Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis sarana yang tersedia.”
7. Hak Asasi Manusia yang Berkaitan dengan Rasa Aman dan Perlindungan dari Perlakuan yang Merendahkan Derajat dan Martabat Manusia.
Rasa aman diperlukan oleh setiap orang, termasuk setiap orang yang mendiami wilayah republik indonesia. Oleh karena itu, untuk mewujudkan rasa aman dan perlindungan perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat manusia diperlukan landasan hukum yang mengaturnya. Landasan hukum perlindungan hak asasi manusia yang berkaitan dengan rasa aman dan perlindungan perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat manusia berdasarkan undang-undang no 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia yaitu,
32
Pasal 28 ayat (1) “Setiap orang berhak mencari suaka untuk memperoleh perlindungan politik dari negara lain.” Pasal 28 ayat (2) “Hak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku bagi mereka yang melakukan kejahatan nonpolitik atau perbuatan yang bertentangan dengan tujuan dan prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa.” Pasal 29 ayat (1) “Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan hak miliknya.” Pasal 30 “Setiap orang berhak atas rasa aman dan tenteram serta perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.” Pasal 35 Setiap orang berhak hidup di dalam tatanan masyarakat dan kenegaraan yang damai, aman, dan tenteram, yang menghormati, melindungi, dan melaksanakan sepenuhnya hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini.
8. Hak Asasi Manusia yang Berkaitan dengan Kesejahteraan Sosial.
Kesejahteraan sosial merupakan salah satu hak asasi manusia, oleh karena itu, pemerintah berusaha mewujudkan kesejahteraan sosial yang memiliki landasan hukum Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia yaitu, Pasal 36 ayat (1) “Setiap orang berhak mempunyai milik, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain demi pengembangan dirinya, keluarga, bangsa, dan masyarakat dengan cara yang tidak melanggar hukum.” Pasal 36 ayat (2) “Tidak boleh seorangpun boleh dirampas miliknya dengan sewenang-wenang dan secara melawan hukum.” Pasal 36 ayat (3) “Hak milik mempunyai fungsi sosial.” Pasal 37 ayat (1) “Pencabutan hak milik atas suatu benda demi kepentingan umum, hanya diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar dan segera serta pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Pasal 37 ayat (2) “Apabila sesuatu benda berdasarkan ketentuan hukum demi kepentingan umum harus dimusnahkan atau tidak diberdayakan baik untuk selamanya maupun untuk sementara waktu maka hal itu dilakukan dengan mengganti kerugian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan kecuali ditentukan lain.” Pasal 41 ayat (1) “Setiap warga negara berhak atas
jaminan sosial yang dibutuhkan untuk hidup layak serta untuk perkembangan pribadinya secara utuh.”
9. Hak Asasi Manusia yang Berkaitan dengan Persamaan dan Keadilan
Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama baik dalam hukum, pendidikan, maupun kesehatan. Hak tersebut menunjukan adanya persamaan dan keadilan. Adapun landasan hukum yang mengatur tentang hak asasi manusia yang berkaitan dengan persamaan dan keadilan dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia sebagai berikut: Pasal 17 “Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak untuk memperoleh keadilan dengan mengajukan permohonan, pengaduan, dan gugatan, dalam perkara pidana, perdata, maupun administrasi serta diadili melalui proses peradilan yang bebas dan tidak memihak, sesuai dengan hukum acara yang menjamin pemeriksaan yang obyektif oleh hakim yang jujur dan adil untuk memperoleh putusan yang adil dan benar.” Pasal 18 ayat (1) “Setiap orang yang ditangkap, ditahan, dan dituntut karena disangka melakukan sesuatu tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya secara sah dalam suatu sidang pengadilan dan diberikan segala jaminan hukum yang diperlukan untuk pembelaannya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Pasal 19 ayat (1) “Tiada suatu pelanggaran atau kejahatan apapun diancam dengan hukuman berupa perampasan seluruh harta kekayaan milik yang bersalah.”
10. Hak Asasi Manusia yang Berkaitan dengan Kewajiban Menghargai Hak Orang Lain
Menghargai orang lain merupakan kewajiban setiap orang. Ketentuan tersebut dikukuhkan dengan landasan hukum yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia yaitu, Pasal 69 ayat (1) “Setiap warga negara wajib menghormati hak asasi manusia orang lain, moral, etika dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.” Pasal 69 ayat (2) “Setiap hak asasi manusia seseorang menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab untuk menghormati hak asasi orang lain secara timbal balik serta
34
menjadi tugas Pemerintah untuk menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukannya.”
5. Hak Atas Kebebasan Beragam dan Berkeyakinan dalam Konteks HAM
Hak kebebasan beragama dan berkeyakinan merupakan salah satu problem krusial dalam konteks relasi antarumat beragama serta relasi umat beragama dan negara. Secara konstitusional negara menjamin tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Karena itu, kasus intoleransi terhadap pemeluk agama, sekalipun berjumlah kecil, mengindikasikan bangsa ini dalam kondisi darurat toleransi.
Hak seseorang untuk memeluk agama diakui sebagai bagian dari hak asasi manusia yang dijamin secara hukum baik hukum nasional maupun hukum internasional, sebagai hak dasar yang bersifat kodrati yang melakat pada manusia sejak berada dalam kandungan sebagai pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa. Secara normatif hak asasi manusia diartikan sebagai Seperangkat hak yang melakat pada hakekat dan keberadaan setiap manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugera-nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh hukum negara, pemerintahan, dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.46
Agama atau suatu keyakinan berfungsi sebagai pedoman dalam kehidupan manusia. Cita-cita, sikap, dan tingkah laku manusia banyak dan sangat dipengaruhi oleh agama atau keyakinan yang dianutnya. Oleh sebab itu, memeluk suatu agama atau keyakinan merupakan hal yang prinsipal dalam kehidupan manusia. Hak untuk memeluk suatu agama atau keyakinan tersebut harus dilindungi. Deklarasi universal tentang hak asasi manusia mengatur mengenai hak kebebasan beragama ini dalam pasal 18 yang berbunyi: “setiap orang berhak atas
46 Pieter Radjawane, Kebebasan Beragama Sebagai Hak Konstitusi di Indonesia, Jurnal Sasi Vol. 20 No.1 Bulan Januari - Juni 2014, h. 30.
kebebasan pikiran, keinsafan batin dan agama. Dalam hak ini termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan dan kebebasan untuk menyatakan agama atau kepercayaannya dengan cara menganjurkannya, mengamalkannya, beeribadat dan mentaatinya, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, baik ditempat umum maupun di tempat trsendiri”.47
Toleransi merupakan kesadaran yang tumbuh dari keyakinan bahwa pluralitas mempunyai hak untuk menunjukkan eksistensinya. Selain muncul dari kesadaran agama yang moderat (tasamuh), toleransi dapat tumbuh melalui sejumlah regulasi, terutama hak-hak yang terkait dengan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Dalam konteks ini, negara wajib menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan warga negara.
Secara garis besar, kerangka normatif jaminan hak kebebasan beragama atau berkeyakinan di indonesia tercantum dalam UUD 1945, UU No. 39/1999 dan instrumen internasional. UUD 1945 menjamin secara tegas hak kebebasan beragama dan dan keyakinan. Bagian pembuka menyebut sila pertama dari Pancasila. “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dengan adanya sila ini, indonsia digambarkan sebagai negara yang bukan sekuler melainkan sebagai negara yang mempunyai ciri religius. Sedang Bab XA tentang hak asasi manusia mngatur hak kebbasan beragama dan berkeyakinan. Pasal 28E, brbunyi “setiap orang bbas memeluk agama dan dan beribadat menurut agamanya”, dan “setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan”. Pada prinsipnya hak ini tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. 48 Namun demikian, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan Undang-undang. Pembatasan ini dimaksudkan semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demikratis.49 Dalam hal ini, negara adalah institusi yang pertama-tama berkewajiban untuk menjamin kebebasan beragama dan
47 Ikhwan, Hak Aasi Manusia Dalam Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2004), h. 61.
48 “Undang-undang Dasar Tahun 1945”, Pasal 28I Ayat (1).
36
berkeyakinan, dan segala sesuatu yang menjadi turunannya, seperti pengakuan hak-hak sipil lainnya.
Sebagaimana dikutip Syamsul Arifin, hak kebebasan beragama dan berkeyakinan dapat diimplementasikan berdasarkan sembilan norma, yaitu kebebasan internal agama, kebebasan manifestasi agama, tidak ada paksaan, tidak ada diskriminasi, hak orang tua memilih dan mengajarkan agama kepada anaknya, kebebasan membentuk organisasi keagamaan, pembatasan manifestasi agama hanya dapat dengan hukum yang didasarkan atas keselamatan umum, ketentraman umum, kesehatan umum, atau nilai-nilai moral atau hak-hak dasar dan kebebasan orang lain serta non-derogable rights.50
Jaminan hak kebebasan beragama dan berkeyakinan ini ditindaklanjuti dengan penegasan bahwa setiap orang berhak bebas dari paerlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat dikriminatif itu.51
Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dapat dikatakan merupakan undang-undang payung dari semua regulasi yang mengatur tentang hak asasi manusia di Indonesia. Pasal yang secara khusus mengatur hak kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah pasal 22 yang berbunyi “setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Dan “negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Sesuai dengan UUD 1945, hak ini tidak boleh dikurangi dalam keadaan apapun namun boleh dibatasi oleh undang-undang. Pembatasan ini dimaksud untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan
50 Syamsul Arifin, Indonesian Discourse on Human Right and Freedom of Religion of
Belief: Muslim Perspectives, (Brigham Young University Law Review, 2012), h. 781 & 2.
moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.52
Hak kebebasan beragama dan berkeyakinan sudah lama dikaji dan dibicarakan di tingkat internasional, dan ketentuan hukumnya pun sudah mendetail. Perlu dicatat disini bahwa walaupun hukum internasional menggunakan istilah “kebebasn beragama dan berkeyakinan”, dan bukan hanya melindungi salah satu dari agama dan keyakinannya. Hak ini meliputi hak kebebsan berfikir, berhati nurani dan beragama (termasuk kebebasan menghayati keyakinan.
Hak ini memiliki sifat internal dan eksternal. Sifat internal dari hak ini diartikan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan untuk setiap orang mnganut, menetapkan, mempertahankan atau pindah agama atau kepercayaan. Sedangkan sifat eksternal dari hak ini berarti bahwa setiap orang mempunyai kebebasan, baik sendiri atau bersama-sama dengan orang lain, di tempat unun atau tertutup, untuk menjalankan agama atau keyakinannya dalam kegiatan pengajaran, ibadahn dan penaatan.53
Berdasarkan sifat internal dari hak ini, maka sesungghnya tidk seorang pun dapat dipaksa sehingga terganggu kebebasannya untuk menganut atau menetapkan agama atau keyakinannya sesuai dengan pilihannya.54 Dalam hal ini negara berkewajiban untuk menhormati dan menjamin hak kebebasan beragama atau berkeyakinan bagi semua orang yang berada dalam wilayahnya dan tunduk pada wilayah hukumnya, tanpa pembedaan apapun seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, agama, politik atau status lainnya.55 Hak ini tidak boleh dikurangi dalam keadaan apapun, bahkan dalam keadaan darurat. Namun kebebasan eksternal
52
Rafael Edy Bosko dkk, Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan seberapa jauh?,
(Yogyakarta: Kanisius 2010). h. 684.
53 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005 Pasal 18 Ayat (1) Tentang Kovenan Interna-sional Hak-Hak Sipil Dan Politik.
54
Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005 Pasal 18 Ayat (2) Tentang Kovenan Interna-sional Hak-Hak Sipil Dan Politik.
55 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005 Pasal 2 Ayat (1) Tentang Kovenan Interna-sional Hak-Hak Sipil Dan Politik.
38
dapat dibatasi oleh ketentuan hukum sepanjang diperlukan untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan, moral masyarakat, atau hak-hak mendasar orang lain.
Berbagai pengaturan diatas membenarkan pendapat bahwa jaminan kebebasan kehiudpan beragama atau berkeyakinan di indonesia cukup kuat. Manun, sangat penting diingat bahwa negara harus mengakui keterkaitan antara jaminan ini dengan kewajibannya untuk memenuhi hak tersebut. Keterkaitann ini mewajibkan negara, terutama pemerintah, untuk melakukan serangkaian tindakan yang menjamin implementasi yang efektif dan sesuai dengan HAM.
C. Maqashid al-Syariah
1. Pengertian Maqashid al-Syariah
Islam diturunkan ke bumi dilengkapi dengan jalan kehidupan yang baik (syariah) yang diperuntukan bagi manusia berupa nilai-nilai agama yang dituangkan secara fungsional dan dalam makna yang konkret yang ditujukan untuk mengarahkan kehidupan manusia baik secara individual maupun secara kolektif. Syariah adalah sebuah jalan yang ditetapkan oleh Allah dimana manusia harus mengarahkan hidupnya unruk merealisasi kehendak Allah sebagai syar‟i (pembuat syariah) yang menyangkut seluruh tingkah laku manusia, baik secara fisik, mental maupun spiritual.
Kehendak Allah yang dimaksud adalah maqasyid al-syari‟ah diperlukan perangkat untuk menganalisis setiap perbuatan hukum yang dilakukan oleh mukallaf dalam khidupan pribadi dan sosialnya. Dengan demikian apa yang dikehendaki syari‟ah dalam mengatur hubungan secara vertikal maupun hubungan secara horizontal bisa tercapai dalam rangka kemaslahatan umum. Itulah sebabnya, maqasyid al-syari‟ah dipandang penting untuk dikaji secara intens oleh para pengkaji dan pemerhati masalah fiqih dan ushul fiqh.56
56 Suyanto, Dasar-Dasar Ilmu Fiqh & Ushul Fiqh, (Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2011), h. 153.
Maqashid al-syari‟ah terdiri dari dua kata yaitu maqashid dan al-syari‟ah
yang hubungan antara satu dan lainnya dalam bentuk mudhaf dan mudhafun ilaih, kata maqashid adalah jamak dari kata maqashad yang artinya adalah maksud dan tujuan. Kata syari‟ah yang sejatinya berarti hukum Allah, baik yang ditetapkan sendiri oleh Allah, maupun ditetapkan Nabi sebagai penjelasan atas hukum yang ditetapkan Allah atau dihasilkan oleh mujtahid berdasarkan apa yang ditetapkan oleh Allah atau dijelaskan oleh Nabi. Karena yang dihubungkan dengan kata
syaria‟t berarti itu adalah kata “maksud”, maka kata syari‟ah berarti pembuat
hukum atau syari‟, bukan hukum itu sendiri. Dengan demikian, kata maqashid
al-syari‟ah berarti apa yang dimaksud oleh Allah dalam menetapkan hukum, apa
yang dituju Allah dalam menetapkan hukum atau apa yang ingin dicapai pleh Allah dalam menetapkan suatu hukum.57
Sedangkan secara terminologis, makna māqaṣid al-Syarī„ah berkembang dari makna yang paling sederhana sampai pada makna yang holistik. Di kalangan ulama klasik sebelum Imam Al-Syạtibī, belum ditemukan definisi yang konkrit dan komperhensif tentang māqaṣid al-Syarī„ah. Definisi mereka cenderung mengikuti makna bahasa dengan menyebutkan padanan-padanan maknanya. Al-Bannānī memaknainya dengan hikmah hukum, al-Asnawī mengartikanya dengan tujuan-tujuan hukum, al-Samarqandī menyamakanya dengan makna-makna hukum, sementara al-Ghazālī, al-Ᾱmidī dan al-Ḥājib mendefinisikanya dengan menggapai manfaat dan menolak mafsadat. Definisi tersebut mengindikasikan kaitan erat māqaṣid al-Syarī„ah dengan hikmah, illat, tujuan atau niat, dan kemaslahatan.58
Menurut Yusuf al-Qaradhawī dalam bukunya “Membumikan Syariat Islam” dengan mengutip dari “Mu„jam Al-Fāẓ al-Qur‟ān al-Karīm” menjelaskan bahwa kata al-Syarī„ah berasal dari kata „syara„a‟ yang berarti menerangkan atau menjelaskan sesuatu, atau juga berasal dari kata syir‟ah dan syarī„ah yang berarti
57
Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2008), h. 231.
58 Ahmad Imam Mawardi, Fiqh Minoritas Fiqh Al-Aqlliyat Dan Evolusi Maqashid
40
suatu tempat yang dijadikan sarana untuk mengambil air secara langsung sehingga orang yang mengambilnya tidak memerlukan bantuan alat lain.59
2. Pembagian Maqashid Syariah
Substansi pokok dari maqashid syariah adalah maslahah. Maslahah secara bahasa berarti kemanfaatan, kebaikan, kepentingan. Adapun secara terminologi yaitu memelihara atau mewujudkan tujuan syara‟ yang meliputi memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Setiap sesuatu yang dapat menjamin dan melindungi eksistensi kelima hal tersebut, dikualifikasi sebagai maslahah.60 seorang akan memperoleh kemaslahatan manakala ia dapat memelihara kelima aspek pokok tersebut. sebaliknya, ia akan mendapatkan mafsadat apabila ia tidak dapat memeliharanya dengan baik.
Abu Ishaq al-Syatibi memaparkan hasil penelitian para ulama terhadap ayat-ayat Al-qur‟an dan Sunnah Rasulullah bahwa hukum-hukum disyariatkan Allah untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusai, baik di dunia mauoun di akhirat kelak. Kemaslahatan yang akan diwujudkan itu menurut as-Syatibi terbagi kepada tiga tingkatan, yaitu kebutuhan dharuriyat, kebutuhan tahsiniyat, kebutuhan hajiyat.61
a. Kebutuhan Dharuriyat
Kebutuhan dharuriyat ialah tingkat kebutuhan yang harus ada atau disebut dengan kebutuhan primer. Bila tingkat kebutuhan ini tidak terpenuhi, akan