KAJIAN PUSTAKA
A. Metode Menghafal
2. Macam-macam Metode Menghafal Al Qur’an
Setiap orang memiliki metode atau cara yang berbeda-beda dalam menghafalkan Al-Qur‟an. Metode-metode tersebut digunakan sesuai dengan kemampuan dan kecocokan otak pada setiap orang. Dan diharapkan
dengan penggunaan metode-metode tersebut seseorang dapat mengingat dan menghafal Al-Qur‟an lebih cepat dan tahan lama. Ada beberapa macam metode menghafal Al-Qur‟an, antara lain:
a. Metode Kitabah
Kitabah artinya menulis. Metode menulis yang dimaksud disini adalah metode menghafal Al-Qur‟an yang diawali dengan menulis ayat- ayat yang akan dihafal terlebih dahulu pada secarik kertas yang telah disediakan. Kemudian ayat-ayat tersebut dibaca sehingga lancar dan benar bacaannya lalu dihafalkan.
Kelebihan dari metode ini adalah cukup praktis dan baik, karena disamping membaca dengan lisan, aspek visual menulis juga akan sangat membantu dalam memepercepat terbentuknya pola hafalan dalam bayangannya sekaligus melatih santri/ penghafal untuk menulis tulisan Arab.
Metode ini masih ada sampai sekarang. Karena apa yang ditulis kemudian di hafal maka akan menjadikan kekuatan hafalan akan lebih kuat. Salah satu Negara yang menerapkan metode ini adalah Negara Maroko. Di Maroko santri-santri penghafal Al-Qur‟an harus menulis semua ayat Al-Qur‟an yang akan dihafalnya. Ayat-ayat tersebut ditulis diatas papan, sestelah itu ayat yang telah ditulis tersebut diteliti oleh sang ustadzah dan di check apabila terdapat kesalahan, kesalahan tersebut kemudian dibenarkan. Ayat-ayat yang sudah dibenarkan tersebut kemudian dibaca oleh santri secara berulang-ulang sampai
hafal. Tahap akhirnya kemudian dilanjutkan dengan membacakan ayat- ayat yang telah dihafal tersebut ke depan ustadzah tanpa melihat tulisan.
Metode ini dianggap istimewa dikarenakan dapat menambah tingkat ketelitian santri ketika menuliskan ayat-ayat Al-Qur‟an tersebut. Selain itu, ada keistimewaan lain yaitu dapat menambah konsentrasi dan kefokusan santri yang menghafal Al-Qur‟an hanya pada ayat-ayat yang ingin dihafalkannya (http://catatanbocah pelajar.blogspot.co.id/2014/08/metodemetode-yang-digunakan-
dalam_2.html diakses senin 6 Agustus 2017). b. Metode Tasmi/ Sima‟i
Sima‟i artinya mendengar. Yang dimaksud dengan metode ini adalah mendengarkan suatu bacaan Al-Qur‟an untuk dihafalkan. Metode ini sangat efektif bagi penghafal yang memiliki daya ingat ekstra, terutama bagi penghafal tunanetra atau anak-anak yang masih dibawah umur yang belum mengenal tulis baca Al-Qur‟an.
Metode ini bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, bisa langsung mendengarkan dari ustadzah atau kaset. Sebenarnya metode ini juga sudah diajarkan di dalam Al-qur‟an Surat Al-Qiyamah ayat 18 yaitu; َ َ َ َ َََ
“Apabila Kami telah selesai membacakannya (AL-Qur‟an)
Maka ikutilah bacaannya itu” (Departemen Agama Republik Indonesia, 1993: 577).
c. Metode Tasalsuli (Menghafal secara berantai)
Metode tasalsuli yaitu menghafal satu halaman Al-Qur‟an dengan cara menghafal satu ayat sampai hafal dengan lancar. Setelah itu, gabungkan ayat pertama dengan ayat ke dua tanpa melihat mushaf. Jangan berpindah ke ayat selanjutnya kecuali ayat sebelumnya lancar, begitu juga ayat ketiga dengan ayat ke empat sampai satu halaman, kemudian gabungkan dari ayat pertama sampai ayat terakhir. Cara ini membutuhkan kesabaran dan sangat melelahkan karena harus banyak mengulang-ulang setiap ayat yang sudah dihafal kemudian digabungkan dengan ayat sebelumnya sehingga menguras banyak energy, tetapi akan menghasilkan hafalan yang benar-benar sempurna (http://catatanbocahpelajar.blogspot.co.id/2014/08/metodemetode-yang- digunakan-dalam_2.html diakses senin 6 Agustus 2017)
d. Metode Jam‟ii (menghafalkan dengan cara menggabungkan)
Metode jam‟ii yaitu menghafal satu halaman Al-Qur‟an dengan cara menghafal satu ayat sampai lancar. Kemudian berpindah ke ayat kedua, setelah ayat kedua lancar berpindah ke ayat ketiga, begitu juga seterusnya sampai satu halaman. Setelah dapat menghafal satu halaman, menggabungkan hafalan dari ayat pertama sampai terakhir tanpa melihat mushaf. Kalau dianggap sulit, maka dibagi dua menjadi
setengah halaman dengan melihat mushaf terlebih dahulu dan setelah itu membacanya tanpa melihat mushaf. Dan setengah yang kedua pun demikian. Setelah lancar, maka gabungkan setengah pertama dan setengah kedua dengan cara di hafal.
e. Metode Muqsam (menghafal dengan cara membagi-bagi)
Metode ini merupakan gabungan dari metode tasalsul dan metode
jam‟ii. Metode muqsam yaitu menghafal satu halaman Al-Qur‟an dengan cara membagi-bagi menjadi beberapa bagian. Setiap bagian itu menghafalnya secara tasalsul (mengulangi dari awal), setelah tiap-tiap bagian telah sempurna sampai satu halaman dihafal, kemudian di satukan/ digabungkan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya sampai seluruh bagian dapat digabungkan tanpa melihat mushaf. f. Metode Wahdah
Yang dimaksud dengan metode ini yaitu menghafal satu persatu ayat yang hendak dihafalkan. Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat bisa dibaca sebanyak sepuluh kali atau dua puluh kali atau lebih sehingga proses ini mampu membentuk pola dalam bayangannya. Dengan demikian penghafal akan mampu mengkondisikan ayat-ayat yang dihafalkan bukan saja dalam bayangannya akan tetapi hingga benar-benar membentuk gerak reflex pada lisannya.
Salah satu bentuk penerapan dari metode ini yaitu; 1) Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali
3) Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali 4) Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
5) Keempat ayat diatas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
6) Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali 7) Bacalah aya keenam sebanyak 20 kali 8) Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali 9) Bacalah ayat ke delapan sebanyak 20 kali
10)Keempat ayat tersebut (ayar ke lima sampai ke delapan) digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
11)Bacalah ayat pertama hingga ayat ke delapan sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
12)Demikian seterusnya pada setiap surat hingga selesai menghafal seluruh surat dalam Al-Qur‟an.
g. Metode Jama‟i
Metoe jama‟i yaitu cara menghafal yang dilakukan secara bersama- sama, dipimpin oleh seorang pembimbing. Pertama, pembimbing membacakan satu ayat atau beberapa ayat dan santri menirukan secara bersama-sama. Kemudian pembimbing mengulang kembali ayat-ayat tersebut dan santri mengikutinya. Kedua, setelah ayat-ayat itu dapat mereka baca dengan baik dan benar, selanjutnya mereka mengikuti bacaan pembimbing dengan sedikit demi sedikit mencoba menutup mushaf, demikian seterusnya sampai ayat-ayat itu benar-benar dihafal.
h. Metode Pemahaman Pramenghafal
Metode ini sebenarnya sangat efektif dan bagus namun sulit diterapkan di usia dini, karena untuk bisa pada tingkatan mampu memahami Al-Qur‟an membutuhkan waktu yang lama. Metode ini juga akan sangat membantu seseorang di dalam menyelesaikan target hafalannya, karena seseorang yang telah paham dengan isi ayat maka ia akan lebih cepat menghafalkannya dan sangat membantu menguatkan hafalan. Sehingga tidak heran jika orang Arab bisa lebih cepat ketika menghafal Al-Qur‟an dibanding dengan orang yang belum paham dengan bahasa Arab, karena mereka di bantu dengan kemampuan bahasa mereka sendiri yaitu bahasa Arab. Maka untuk menggunakan metode ini, seseorang harus mempelajari bahasa Arab walaupun sedikit demi sedikit sehingga dapat digunakan sebagai perangkat untuk bisa memahami a-Qur‟an sebelum ia menghafal al-
Qur‟an(http://catatanbocahpelajar.blogspot.co.id/2014/08/metodemetod
e-yang-digunakan-dalam_2.html diakses senin 6 Agustus 2017) i. Metode Sorogan
Metode sorogan adalah kegiatan pembelajaran bagi santri yang menitik beratkan pada pengembangan kemampuan perseorangan (individu) dibawah bimbingan seorang ustadz atau kyai (Departemen Agama RI, 2003:74). Arief juga menyebutkan metode sorogan ialah sebuah sistem belajar dimana para murid satu persatu menghadap guru untuk membaca dan menguraikan isi kitab atau menyetorkan hafalan
(Arief, 2002:150). Sedangkan metode bandongan atau metode wetonan dilakukan oleh seorang kyai atau ustadz terhadap sekelompok peserta didik atau santri untuk mendengarkan atau menyimak apa yang dibacanya dari sebuah kitab (Departemen Agama RI, 2003:86)