BAB III METODE PENELITIAN
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan
2. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Anak
Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat diketahui bahwa kondisi anak tunagrahita masih sangat kurang dari segi IQ-nya, dan perlunya adanya tugas dan bimbingan dari guru PAI serta bantuan orangtua dalam menjalankan proses pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-harinya karena masih banyak tantangan-tantangan yang dihadapi oleh guru PAI seperti siswa yang tidak memiliki keinginan untuk melakukan pembelajaran, kurangnya konsentrasi anak berkebutuhan khusus saat melakukan pembelajaran dimasa covid-19, dan terus melatih anak kebiasaan hidupnya sehingga bisa hidup mandiri.
2. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Anak Tunagrahita di SLB ABCD Aisyiyah Banggae
Metode pembelajaran adalah sebuah proses sistematis dan teratur yang dilakukan oleh guru atau pendidik dalam menyampaikan materi kepada siswanya.
29 Mahmud, Wawancara SLB ABCD Aisyiyah Banggae, 10 Agustus 2021
30 Ardiansyah Mahmud, S.Pd, Wawancara SLB ABCD Aisyiyah Banggae, 12 Agustus 2021
Pendapat lain juga mengatakan sebuah strategi atau taktik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan bisa tercapai dengan baik.
Metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang sering digunakan pada anak tunagrahita di SLB ABCD Aisyiyah Banggae adalah :
a. Metode Ceramah
Metode ceramah berupa menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan secara langsung kepada sekelompok siswa oleh guru terhadap kelas. Dengan kata lain dapat pula diartikan dengan cara penyajian atau penyampaian informasi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap siswa. Namun satu hal yang harus diperhatikan bagi pengguna metode ceramah ini untuk menyampaikan materi secara sederhana dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh para peserta didik tunagrahita. Hal ini disebabkan karena tingkat intelegensi atau pemahaman anak tunagrahita sangat rendah atau dibawah rata-rata.
Namun dalam pembelajaran agama Islam tentunya ada kelebihan dan kekurangan dari metode yang digunakan. Begitu juga pada metode ceramah memiliki kelebihan diantaranya: guru dapat berbicara langsung dengan siswa dan mengajarkan materi sekaligus melihat keadaaan kelas, selain itu siswa dapat langsung mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru. Sedangkan kelemahan dari metode ceramah diantaranya: siswa tidak
45
memperhatikan apa yang disampaikan guru dalam hal ini siswa bermain sendiri dan siswa banyak diam.
b. Metode Menghafal
Metode menghafal adalah suatu teknik yang digunakan oleh seorang pendidik dengan menyerukan peserta didiknya untuk menghafalkan sejumlah kata-kata (mufradat) atau kalimat-kalimat maupun kaidah-kaidah. Dengan kata lain metode menghafal adalah cara yang tepat dan cepat dalam melakukan kegiatan belajar mengajar pada bidang pelajaran dengan menerapkan menghafal yakni mengucapkan di luar kepala tanpa melihat buku atau catatan lain dalam pengajaran pelajaran terebut. Adapun tujuan metode ini adalah agar peserta didik mampu mengingat pelajaran yang diketahui serta melatih daya kognisi, ingatan, dan imajinasi.
c. Metode Demonstrasi
Guru dituntut untuk menyajikan materi dengan cara memperagakan dan mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses prosedur atau pembuktian suatu materi yang sedang dipelajari dengan menunjukkan media sebenarnya (praktik langsung) ataupun media tiruan berupa gambar.
Tujuannya adalah mengembangkan kemampuan, pengamatan, pendengaran, dan penglihatan peserta didik secara bersama-sama. Metode demonstrasi digunakan dalam pelajaran fiqh. Peserta didik diberikan materi terlebih dahulu sebelum praktik, agar mereka tahu teori dan tata caranya.
Namun dalam pembelajaran agama Islam tentunya ada kelebihan dan kekurangan dari metode yang digunakan begitu juga pada metode demonstrasi memiliki kelebihan diantaranya: siswa dapat melihat secara langsung peragaan dari guru, kemudian siswa dapat mempraktekkan secara langsung gerakan sholat dengan dibimbing guru agama Islam.
Sedangkan kelemahan dari metode demonstrasi diantaranya: kadangkala siswa ada yang tidak memperhatikan secara seksama dari peragaan yang dicontohkan oleh guru, kemudian dalam peragaannya siswa justru kadang dibuat main-main.
d. Metode Apersepsi
Metode apersepsi merupakan metode yang digunakan dalam menyampaikan materi pada mata pelajaran akhlak. Hasil dari proses pembelajaran dengan metode tersebut berjalan sesuai dengan standarisasi yang telah ditentukan oleh guru, hal ini dapat dilihat dari hasil pembelajaran, dimana siswa dapat membedakan perbuatan yang baik dan perbuatan yang tidak baik, serta siswa dapat berperilaku yang baik kepada guru, dan teman. Maka metode apersepsi yang digunakan dalam menyampaikan materi pelajaran akhlak di SLB ABCD Aisyiyah Banggae berjalan cukup efektif. Karena kebiasaan buruk siswa sedikit demi sedikit sudah terkurangi.
Namun dalam pembelajaran agama Islam tentunya ada kelebihan dan kekurangan dari metode yang digunakan. Begitu juga pada metode apersepsi memiliki kelebihan diantaranya: siswa dapat menyatu dalam
47
proses belajar mengajar dan sebagai bentuk intervensi guru selama proses pembelajaran. Metode apersepsi bisa diterapkan dalam pergaulan sehari-hari di lingkungan sekolah, jadi sifatnya elastis dan kapan saja dapat dipakai. Sedangkan untuk kelemahan dari metode tersebut tidak ada.
e. Metode Latihan
Metode latihan merupakan metode yang digunakan dalam menyampaikan materi pada mata pelajaran al-quran. Hasil dari proses pembelajaran dengan metode tersebut berjalan sesuai dengan standarisasi yang telah ditentukan oleh guru. Hal ini dapat dilihat dari hasil pembelajaran, dimana siswa dapat kreatif dalam menyalurkan bakat sesuai dengan kemampuannya, seperti: siswa mampu menulis, menggambar, mewarnai, dan membaca. Maka metode latihan yang digunakan dalam menyampaikan materi pelajaran al-quran di SLB ABCD Aisyiyah Banggae berjalan cukup efektif, sesuai dengan hasil pembelajaran yang dikemukakan diatas.
Namun dalam pembelajaran agama Islam tentunya ada kelebihan dan kekurangan dari metode yang digunakan. Begitu juga pada metode latihan memiliki kelebihan diantaranya: dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitas sesuai dengan dayanya atau kemampuannya. Sedangkan kelemahan dari metode latihan diantaranya:
kadang kala siswa diminta untuk latihan menulis atau menggambar tetapi siswa justru menggunakan kesempatan itu untuk bermain bersama teman.
Berdasarkan analisa terhadap hasil temuan di atas metode dalam pelaksanaan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada anak tunagrahita di SLB ABCD Aisyiyah sangat beragam. Untuk menyampaikan materi-materi pendidikan agama islam diperlukan cara penyampaian tertentu agar sampai kepada tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini, penggunaan metode dalam proses pembelajaran merupakan salah satu unsur terpenting dalam pencapaian tujuan.
3. Faktor Penghambat dan Pendukung Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Anak Tunagrahita di SLB ABCD Aisyiyah Banggae a. Faktor Penghambat
Dalam setiap pembelajaran tentu adanya berbagai hambatan yang dihadapi, apalagi dengan adanya anak-anak berkebutuhan khusus sudah merupakan kendala tersendiri dalam proses pembelajaran. Adapun faktor penghambat yang dihadapi dalam pembelajaran pendidikan agama islam pada anak tunagrahita :
1. Minimnya jumlah guru pendidikan agama Islam
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan bapak Mahmud selaku guru mata pelajaran pendidikan agama Islam adalah :
“Kurangnya guru agama Islam di SLB ABCD Aisyiyah Banggae ini merupakan salah satu penghambat dalam proses pembelajaran.
Dikarenakan guru agama Islam hanya 2 orang guru, yang satu mengampu mata pelajaran agama Islam pada jenjang SDLB, dan saya sendiri mengampu mata pelajaran agama Islam jenjang SMPLB juga mengajar pada jenjang SMALB ditempat yang sama.”31
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa guru pendidikan agama Islam masih kurang di sekolah tersebut, dikarenakan banyak yang
31 Ibid
49
harus dipelajari dalam proses pembelajaran kepada anak berkebutuhan khusus, seperti menguasai bahasa isyarat, mengetahui karakteristik anak berkebutuhan khusus, dll.
2. Keterbatasan fasilitas dalam menunjang pembelajaran pendidikan agama islam.
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan bapak Mahmud selaku guru pendidikan agama Islam mengatakan bahwa :
“Minimnya alat peraga di sekolah membuat kami mengalami kesulitan dalam penyampaian materi, karena pada proses belajar mengajar membutuhkan sarana tersebut untuk mendukung dan mempermudah proses belajarnya siswa, maka dari itu kami membuat inovasi sendiri membuat media atau alat peraga sendiri agar mempermudah siswa dalam belajar, agar siswa tidak bosan pada saat proses pembelajaran berlangsung dan merangsang siswa untuk giat belajar.”32
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan Nurmayanti siswi tunagrahita kelas VII :
“Alat peraga di sekolah masih kurang sehingga kami sering tidak paham pada materi yang diberikan guru”33
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan Nasyrah siswi tunagrahita kelas VIII :
“Masih kurang kak seperti gambar miniatur buah dan binatang. Jadi saya sering bosan dan hanya duduk diam saat belajar di kelas”34
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan Nurul Islami siswi tunagrahita kelas IX :
“alat peraganya kak masih kurang di sekolah tapi Alhamdulillah guru membuat alat peraga sendiri supaya kami mudah untuk belajar.”35
32 Mahmud, op. cit
33 Nurmayanti, Wawancara, Rumah Siswa, 10 Agustus 2021
34 Nasyrah, Wawancara, Rumah Siswa, 23 Agustus 2021
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa Salah satu keluhan yang dirasakan guru saat ini adalah minimnya alat peraga pembelajaran di sekolah sehingga hasil belajarnya kurang maksimal.
3. Kurangnya dukungan orang tua siswa dan belum antusias memberikan pemahaman tentang agama Islam kepada anaknya yang berkebutuhan khusus sehingga membuat anak kurang paham tentang agama Islam.
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan bapak Mahmud selaku guru pendidikan agama Islam mengatakan bahwa:
“orang tua siswa kurang memperhatikan anaknya sehingga pemahaman siswa tentang agama Islam masih kurang disebabkan orang tua siswa sibuk bekerja, orang tuanya hanya mengantar dan menjemput di sekolah.”36
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa dukungan terhadap pendidikan anak sangatlah penting dan merupakan hal utama yang harus diperhatikan oleh orang tua. Pada masa pembelajaran online sangat dibutuhkan partisipasi orang tua agar pembelajaran dapat terlaksana dengan optimal. Dalam pembelajaran online, orang tua merupakan rekan kerja guru dalam mengajar anak-anak di rumah.
b. Faktor pendukung
Dalam melaksanakan pembelajaran terdapat faktor pendukung dalam menerapkan metode pembelajaran pendidikan agama islam, sehingga dapat terlaksana dengan baik dalam penerapannya. Terdapat beberapa faktor pendukung
35 Nurul Islami, Wawancara, Rumah Siswa, 23 Agustus 2021
36 Mahmud, op. cit
51
dalam memberikan pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak tunagrahita adalah:
1. Guru memiliki kecakapan dalam memahami karakteristik siswa dan kebutuhan siswa serta membuat inovasi sendiri dalam membuat media-media pembelajaran agar mempermudah siswa dalam memahami materi dan agar siswa tidak bosan belajar. Guru yang memiliki kesabaran dan memberikan pelayanan yang baik secara ikhlas untuk anak-anak yang memiliki keterbatasan walau mereka bukan guru lulusan sarjana pendidikan luar biasa.
2. Memberikan tugas dirumah akan menimbulkan siswa lebih berusaha untuk belajar sendiri dirumah. Dengan pemberian tugas, anak menjadi memiliki usaha mengerjakan dan akan senang jika mendapatkan nilai yang bagus.
Pemberian tugas ini bermaksud untuk mengetahui seberapa penguasaan materi yang telah di dapat anak dari pembelajaran yang telah di ajarkan oleh guru
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan bapak Mahmud selaku guru pendidikan agama Islam mengatakan bahwa:
“Memberikan tugas di rumah adalah salah satu faktor pendukung bagi siswa tunagrahita untuk lebih giat belajar di rumah, dan mereka tidak hanya terfokus ke sekolah.”37
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa memberikan tugas di rumah merupakan faktor pendukung bagi siswa, agar siswa lebih berusaha belajar sendiri di rumah dan untuk mengetahui seberapa
37 Mahmud, op.cit
penguasaan materi yang telah di dapat anak dari pembelajaran yang telah di ajarkan oleh guru.
3. Siswa dekat dengan guru sehingga siswa senang menerima pelajaran, serta siswa menunjukkan perilaku yang baik ketika di dalam lingkungan sekolah.
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan bapak Ardiansyah Mahmud, S,Pd selaku kepala sekolah mengatakan bahwa :
“Alhamdulillah interaksi anak-anak tunagrahita dengan guru-guru itu mereka sangat ramah, suka menegur dan sosialisasinya terhadap siswa-siswa lainnya walaupun bukan tunagrahita mereka sangat ramah.”38
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan bapak Mahmud selaku guru pendidikan agama Islam mengatakan bahwa :
“Mereka sangat ramah, sopan dan dekat dengan saya juga dengan guru-guru lainnya sehingga mereka senang menerima pelajaran, ya meskipun kadang juga mereka merasa bosan di kelas karena alat peraga masih terbatas tapi sudah tugas kami bagaimana saat memberikan atau menyampaikan materi itu bisa menyenangkan bagi siswa agar semangatnya kembali. Kalau di luar kelas bahkan di luar sekolah pun mereka tetap ramah, suka menegur, bermain dengan teman-temannya meskipun bukan sesama tunagrahita”39
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan Nurmayanti siswi tunagrahita kelas VII :
“Guru-guru di sekolah semuanya sangat baik, suka senyum jadi kami tidak takut.”40
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa kedekatan seorang guru dengan siswa sangat diperlukan dalam rangka meraih hati dan pikiran siswa agar lebih cepat menerima apa yang guru sampaikan. Dengan adanya
38 Ibid
39 Mahmud, op.cit
40 Ibid
53
kedekatan antara guru dan siswa maka proses belajar mengajar akan menjadi efektif dan efesien.
Berdasarkan analisa hasil temuan diatas, peneliti dapat simpulkan bahwa masih banyak faktor penghambat dari segi proses pembelajaran salahsatunya keterbatasan fasilitas yang ada sehingga anak berkebutuhan khusus masih sangat membutuhkan fasilitas pembelajaran, dan faktor pendukung salahsatunya siswa berkebutuhan khusus sangat antusias dalam proses pembelajaran, dan semangat dalam mengikuti pembelajaran.
54 A. Kesimpulan
Setelah melakukan analisis terhadap data yang diperoleh atau digali dari lapangan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Kondisi akademik peserta didik tunagrahita IQ-nya dibawah rata-rata tidak seperti anak seusianya dan dalam proses pembelajaran diharuskan melaksanakan pembelajaran di rumah atau secara online dengan menggunakan media daring sesuai dengan ketentuan dan aturan sekolah serta pemerintah yang disebabkan pandemic corona. Sedangkan kondisi ketunagrahitaannya siswa memiliki keadaan yang berbeda-beda. ada yang kemampuan bicaranya sangat terbatas, tidak bisa mengontrol dirinya sendiri sehingga bergantung pada orang lain, ada juga tingkat emosinya tidak stabil, ada yang bisa dan belum bisa bersosialisasi dengan orang lain.
2. Metode pembelajaran pendidikan agama Islam yang digunakan dalam menyampaikan materi kepada siswa tunagrahita SMPLB di SLB ABCD Aisyiyah Banggae antara lain : metode ceramah, menghafal, demontrasi, apersepsi dan latihan. Dari beberapa metode pembelajaran pendidikan agama Islam yang diterapkan berjalan cukup efektif. Hal ini karena melihat hasil pembelajaran sudah berjalan sesuai dengan standarisasi yang telah ditentukan oleh guru. Meskipun masih ada kekurangan atau kelemahan dari metode yang digunakan.
55
3. Faktor penghambat metode pembelajaran pendidikan agama Islam adalah minimnya jumlah guru pendidikan agama Islam. Keterbatasan fasilitas dan kurangnya dukungan orang tua siswa dan belum antusias memberikan pemahaman tentang agama Islam kepada anaknya yang berkebutuhan khusus. Kemudian faktor pendukung yaitu guru memiliki kecakapan dalam memahami karakteristik siswa dan kebutuhan siswa serta membuat inovasi sendiri dalam membuat media-media pembelajaran, memberikan tugas di rumah agar siswa berusaha belajar sendiri di rumah, dan siswa dekat dengan guru, serta siswa menunjukkan perilaku yang baik ketika di dalam lingkungan sekolah.
B. Saran
Sebagai akhir dari penulisan skripsi ini, dengan mendasarkan pada penelitian, maka peneliti ingin memberikan saran yang mungkin dapat menjadi bahan masukan, antara lain sebagai berikut:
1. Bagi pihak sekolah disarankan lebih banyak memfasilitasi alat peraga untuk proses pembelajaran anak berkebutuhan khusus, agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar
2. Bagi Guru PAI, sebaiknya lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan proses pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus.
3. Bagi siswa tunagrahita jangan pernah menyerah dalam menuntut ilmu meskipun berada dalam keterbatasan, tetap yakin dan optimis dalam meraih cita-cita hidup
4. Mengingat penelitian ini jauh dari kata sempurna, bagi peneliti selanjutnya diharapkan mampu melanjutkan dan mengembangkan lebih dalam lagi data penelitian metode pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak tunagrahita.
57
DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an Al-Karim
Arief Armai, 2002. Pengantar Ilmu dan Metode Pendidikan Islam, Ciputat Pers Amin Muhammad, 2006. Ortopedagogik Anak Tunagrahita, Jakarta: Proyek
Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan.
Anwar Rosihon, 2008. Akidah Akhlak, Bandung: Pustaka Setia.
Aplikasi Lidwa Hadist. http://lidwa.com/.
Arikunto Suharsimi, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta.
Arifin Zainal, 2009. Evaluasi Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Djani Martasuta Umar, 2001. Mengenal Peserta Didik Yang Mengalami Gangguan Mental (Makalah Seminar). Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.
Efendi Mohammad, 2006. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan, Jakarta:
Bumi Aksara.
Gunawan Imam, 2017. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktek, Jakarta:
Bumi Aksara.
Hardayani, 2020. Metodoe Penelitian Kuantitatif & Kualitatif, Yogyakarta:
Pustaka Ilmu.
M. Arifin, 2014. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
Majid Abdul dkk, 2006. Pendidikan Agama Islam.Berbasis Kompetensi.
Bandung: Rosda Karya.
M. Ngalim Purwanto, 2002. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: PT Rosdakrya.
Munawir, 2012. Strategi Belajar Mengajar, Ponorogo: Lembaga Penerbitan Karya Ilmiah STAIN Ponorogo.
Musthafa al-Maraghi Ahmad, 2006. Semarang: Toha Putra
Namsa Yunus, 2000. Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus.
Ramayulis, 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Rochyadi Endang, 2005. Pengembangan Program Pembelajaran Individual Bagi Anak Tunagrahita, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Sapariadi, 2002. Mengapa Anak Berkelainan Perlu Mendapat Pendidikan, Jakarta: Balai Pustaka.
Sriyono, 2012. Teknik Belajar Mengajar Dalam KBSA, Jakarta: Melton Putra.
Tafsir Ahmad, 2008. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tafsir Ahmad, 2001. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Tayar Yusuf dkk, 2005. Metodologi Pengajaran Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Tunagrahita, 2018. Wikipedia the Free Encyclopedia.
http://id.wikipedia.org/wiki/Tunagrahita.
UUD 1945, Pasal 31 (Amandemen 4)
UUD No. 20 Tahun 2003 tentang “Sistem Pendidikan Nasional” bab IV pasal 5 ayat 1.
Yusuf, 2014. Metodologi Pengajaran Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
59
RIWAYAT HIDUP
Oktavia Rini, Lahir di Majene, tanggal 19 oktober Tahun 1999, Merupakan anak kedua dari tiga bersaudara buah hati dari pasangan bapak H.Hasanuddin (rahimahullah) dan ibu Hj. Ernawati. Pada tahun 2005 mulai memasuki jenjang pendidikan formal tingkat dasar di SDN 01 Mosso dan lulus pada tahun 2011, kemudian melanjutkan pendidikan pada tahun yang sama di SMPN 5 Sendana dan lulus pada tahun 2014. kemudian penulis melanjutkan pendidikan ditingkat menengah atas pada tahun yang sama di SMAN 1 Sendana penulis mengambil jurusan IPS dan lulus pada tahun 2017. Pada tahun 2017 terdaftar sebagai mahasiswi di Universitas Muhammadiyah Makassar, Fakultas Agama Islam, Program Studi Pendidikan Agama Islam Strata 1. Syukur Alhamdulillah, berkah rahmat Allah SWT, dan doa kedua orang tua, penulis telah menyelesaikan skripsi dengan judul:
“Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Anak Tunagrahita Di SLB ABCD Aisyiyah Banggae, Kec.Banggae Timur, Kab.Majene.”
L A M P I R A N
61
KEGIATAN WAWANCARA PEDOMAN WAWANCARA
Kepala Sekolah :
1. Kurikulum apa yang diterapkan di SLB ABCD Aisyiyah Banggae ? 2. Tata tertib apa saja yang berlaku di SLB ABCD Aisyiyah Banggae ? 3. Untuk anak tunagrahita dibagi menjadi berapa kelas ?
4. Bagaimana kondisi perserta didik khususnya anak tunagrahita di SLB ABCD Aisyiyah Banggae ?
5. Adakah program tambahan PAI untuk peserta didik tunagrahita ? 6. Adakah kendala yang dihadapi dalam menjalankan program tersebut ? 7. Bagaimana tingkat kesuksesan program tersebut ?
Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam :
1. Bagaimana kondisi anak tunagrahita di SLB ABCD Aisyiyah Banggae ? 2. Bagaimana proses pembelajaran yang diberikan kepada anak tunagrahita ? 3. Materi PAI apa saja yang diberikan pada anak tunagrahita ?
4. Apakah materi yang diberikan sama antara tunagrahita ringan, sedang dan berat ?
5. Apakah ada strategi yang dilakukan dalam memberikan pelajaran Pendidikan Agama Islam pada anak tunagrahita ?
6. Bagaimana metode pembelajaran yang diberikan untuk menyampaikan materi pelajaran PAI ?
7. Metode pembelajaran apa yang sering digunakan pada anak tunagrahita ? 8. Apakah sama metode pembelajaran yang digunakan untuk peserta
tunagrahita ringan, sedang dan berat ?
9. Dengan menggunakan metode tersebut, hambatan apa saja yang menjadi tidak tercapainya tujuan yang diharapkan ? apakah sudah ada solusi untuk mengatasinya ?
10. Apakah hasil yang dicapai dalam proses pembelajaran menggunakan metode tersebut sudah sesuai harapan yang diinginkan ?
11. Bagaimana respon anak tunagrahita pada saat proses pembelajaran ? 12. Apakah mereka aktif dalam proses pembelajaran ?
13. Sejauh mana tingkat pengetahuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam anak tunagrahita ?
14. Faktor pendukung apa saja dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam kepada anak tunagrahita ?
15. Apa saja yang menjadi faktor penghambat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam kepada anak tunagrahita ?
Siswa Tunagrahita :
1. Bagaimana nilai mata pelajaran PAI ? 2. Senang tidak dengan pelajaran PAI?
3. Apa saja yang sudah diajarkan guru Pendidikan Agama Islam ? 4. Bagaimana interaksi adik-adik dengan guru PAI ?
5. Sejauh mana kemampuan adik-adik dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam ?
6. Apakah adik-adik melakukan sholat di rumah ? 7. Kalau iya, hafal tidak gerakan dan bacaan sholatnya ? 8. Sudah sampai iqro‟ berapa ?
9. Siapa yang mengajari anda mengaji ?
10. Apakah ada kesulitan dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam ?
63
DOKUMENTASI WAWANCARA
Gambar 1 : Wawancara dengan bapak Ardiansyah Mahmud, S.Pd, Kepala Sekolah SLB ABCD Aisyiyah Banggae (12 Agustus 2021)
Gambar 2 : Wawancara dengan bapak Mahmud, guru mata pelajaran Pendidikan
Gambar 2 : Wawancara dengan bapak Mahmud, guru mata pelajaran Pendidikan