PENDEKATAN, MODEL, DAN DESAIN KURIKULUM
B. Model-model Pengembangan Kurikulum 1. Pengertian Model Pengembangan Kurikulum
2. Macam-macam Model Pengembangan Kurikulum
Adapun macam-macam model pengembangan kurikulum dapat dipetakan sebagaimana gambar 4.1 berikut.
Gambar 4.1: Model-Model Pengembangan Kurikulum
a. Model Ralp Tyler
Menurut Tylermodel pengembangan kurikulum harus mengacu pada empat pertanyaan dasar yang harus di jawab, yaitu:
1) What educational purposes should the school seek to attain? (objectives). Berkenaan dengan tujuan yang hendak dicapai.
2) What educational experiences are likely to attain these objectives? (instructional strategic and content/selecting learning experiences). Berkenaan dengan jenis pengalaman apa yang harus disediakan untuk mencapai tujuan.
3) How can these educational experiences be organized effectively? (organizing learning experiences). Berkenaan dengan organisasi kegiatan atau pengalaman belajar yang dinilai efektif untuk mencapai tujuan.
4) How can we determine whether these purposes are being attain? (assessment and evaluation). Berkaitan dengan upaya mekanisme apa yang digunakan untuk mengetahui apakah tujuan sudah dicapai atau belum.
Berdasarkan empat pertanyaan yang diajukan Tyler tersebut bisa dipahami bahwa yang pertama harus diperhatikan adalah tujuan, yaitu: apa tujuan pendidikan yang seharusnya dicari oleh pihak sekolah untuk dicapai. Kedua, mengenai strategi dan isi pembelajaran yang berhubungan dengan seleksi pengalaman belajar, yaitu pengalaman belajar seperti apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Ketiga, mengorganisasikan pengalaman belajar, yaitu bagaimana pengalaman-pengalaman belajar tersebut dapat diorganisasikan dengan efektif. Dan Keempat, penilaian dan evaluasi, yaitu menentukan dan menyimpulkan apakah tujuan tersebut telah tercapai.
Ralp Tyler sebagai bapak pengembang kurikulum (curriculum developer), telah menanamkan perlunya hal yang lebih rasional, sistematis, dan pendekatan yang berarti dalam tugas mereka. Tyler juga menguraikan dan menganalisis sumber-sumber tujuan yang datang dari anak didik, mempelajari kehidupan kontemporer, mata pelajaran yang bersifat akademik, filsafat dan psikologi belajar
Langkah-langkah pengembangan kurikulum model Tyler bisa dilihat dari bagan berikut.
Gambar 4.2: Langkah Pengembangan Kurikulum Model Tyler Objectives Selecting Learning Experiences Organizing Learning Experiences Evaluation Menentukan tujuan
Menentukan pengalaman belajar yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Menentukan organisasi pengalaman belajar
Menentukan evaluasi pembelajaran untuk mengetahui apakah tujuan telah dicapai.
Dengan demikian, maka pengembangan kurikulum model ini secara makro perlu melibatkan berbagai pihak termasuk perguruan tinggi dan masyarakat.
b. Model Hilda Taba
Model pengembangan kurikulum Taba adalah model yang memodifikasi model dasar Tyler. Adapun langkah-langkah dalam proses pengembangan kurikulum model Taba yaitu:
Step 1: Diagnosis of needs. Step 2: Formulation of objectives. Step 3: Selection of content. Step 4: Organization of content.
Step 5: Selection of learning experiences. Step 6: Organization of learning experiences.
Step 7: Determination of what to evaluate and of the ways and means of doing it.105
Diagnosis merupakan langkah pertama yang paling penting dalam menentukan kurikulum apa yang seharusnya diberikan kepada siswa. Karena latar belakang siswa sangat beragam, maka perlu untuk mendiagnosa perbedaan atau jurang pemisah, kekurangan dan variasi dalam latar belakang tersebut. Menurut Taba sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah Idi bahwa mendiagnosis kebutuhan anak didik merupakan hal pertama yang sangat penting.
Berdasarkan langkah di atas, dapat diketahui bahwa langkah-langkah yang digunakan Taba dalam mengembangkan kurikulum adalah diagnosis kebutuhan, formulasi pokok-pokok, seleksi isi, organisasi isi, seleksi pengalaman belajar, organisasi pengalaman belajar, dan penentuan tentang apa yang harus dievaluasi dan cara untuk melakukannya.
106
105Hilda Taba, (1962). Curriculum Development Theory and Practice. New York: Harcont Drace and World. Hal.12
106 Abdullah Idi, (2010). Pengembangan Kurikulum…, hal.158.
Informasi ini berguna dalam menentukan langkah keduanya yaitu formulasi yang jelas dan tujuan-tujuan yang kompre-hensif untuk membentuk dasar pengembangan elemen-elemen
berikutnya. Dan hakikat tujuan (objectives)akan menentukan jenis pelajaran yang perlu diikuti.
Adapun beberapa area yang perlu diperhatikan dalam merumuskan tujuan menurut Taba adalah sebagai berikut.
1) Concepts or ideas to be learned (konsep atau ide yang akan dipelajari).
2) Attitude, sensitivities, and feelings to be developed (sikap, sensitivitas, dan perasaan yang akan dibangun).
3) Ways of thinking to be reinforced, strengthened, or initiated (cara berfikir yang akan ditekankan, dikuatkan, atau dirumuskan). 4) Habits and skills to be mastered (kebiasaan dan kemampuan yang
akan dikuasai).107
Selanjutnya Taba juga memberikan beberapa kriteria dalam memformulasikan tujuan dalam pendidikan, yaitu:
1) A statement of objectives should describe both of the kind of behavior expected and the content or the context to which that behavior applies. Seharusnya pernyataan tujuan menggambarkan sikap yang diharapkan dan isi dari penerapan sikap. Yang dimaksud dengan “the content or the context to which that behavior applies” adalah isi yang terdapat dalam setiap mata pelajaran.
2) Complex objectives need to be stated analytically and specifically enough so that there is no doubt as to the kind of behavior expected, or what the behavior applies to. Tujuan yang komplek perlu dianalisis dan dikhususkan sehingga tidak ada keraguan terhadap sikap yang diharapkan atau perilaku yang diterapkan.
3) Objectives should also be so formulated that there are clear distinctions among learning experiences required to attain different behavior. Tujuan hendaknya memberikan petunjuk bahwa ada perbedaan yang jelas tentang pengalaman belajar yang dibutuhkan untuk mencapai sikap yang berbeda.
4) Objectives are developmental, representing roads to travel rather than terminal points. Tujuan adalah hal yang dikembangkan, yang merupakan langkah (perjalanan) yang lebih dari sekedar titik akhir.
5) Objectives should be realistic and should include only what can be translated into curriculum and classroom experiences. Tujuan seharusnya realistis dan seharusnya termasuk hal yang dapat diterjemahkan ke dalam kurikulum dan pengalaman belajar. 6) The scope of objectives should be broad enough to encompass all types of
outcomes for which to school is responsible. Jangkauan dari tujuan seharusnya menyeluruh yang meliputi semua tujuan yang akan dicapai sekolah.
Sedangkan dalam langkah ketiga yaitu seleksi isi, Taba memberikan kriteria sebagai berikut:
1) Validity of significance of content (validitas dan signifikansi isi). 2) Consistency with social realities (konsisten dengan realitas sosial). 3) Balance of breadth and depth (keseimbangan antara keluasan dan
kedalaman).
4) Provision for wide range of objectives (ketentuan untuk keluasan cakupan dari tujuan).
5) Learn ability and adaptability to experiences of students (pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan sesuai dengan pengalaman siswa).
6) Appropriateness to the needs and interests of the students (sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa).
Langkah keempat dalam model Taba adalah organisasi isi, dimana terdapat tiga macam organisasi kurikulum yaitu, separated subject curriculum (kurikulum dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-pisah), correlated curriculum (sejumlah mata pelajaran dihubungkan antara satu dengan yang lainnya), dan broad field curriculum (mengkombinasikan beberapa mata pelajaran).108
1) Validitas, dapat diterapkan di sekolah.
Pada langkah kelima yaitu seleksi pengalaman belajar ini, Yuleawati sebagaimana yang diikuti oleh Arifin memberikan kriteria yang perlu dicermati.
2) Kelayakan dalam hal waktu, kemampuan guru, fasilitas sekolah, dan pemenuhan terhadap harapan masyarakat.
3) Optimal dalam mengembangkan kemampuan peserta didik.
4) Memberikan peluang untuk pengembangan berpikir rasional. 5) Memberikan peluang pengembangan kemampuan peserta didik
sebagai individu dan anggota masyarakat.
6) Terbuka terhadap hal baru dan toleransi terhadap perbedaan peserta didik.
7) Memotivasi belajar lebih lanjut. 8) Memenuhi kebutuhan peserta didik. 9) Memperluas minat peserta didik.
10) Mengembangkan kebutuhan pengembangan ranah kognitif, afektif, psikomotorik, sosial, emosi, dan spiritual peserta didik. Tahap organisasi pengalaman belajar selanjutnya harus memper-hatikan tingkat perkembangan peserta didik. Pada tahap yang terakhir yaitu evaluasi dan cara melakukan evaluasi. Taba menganjurkan beberapa hal yaitu:
1) Criteria for a program of evaluation (menentukan kriteria evaluasi program).
2) A comprehensive evaluation program (program evaluasi yang menyeluruh).
3) Techniques for securing evidence (teknik mengumpulkan bukti/ data).
4) Interpretation of evaluation data (menginterpretasikan data evaluasi).
5) Translation of evaluation data into the curriculum (menerjemahkan data evaluasi ke dalam kurikulum).
6) Evaluation as a cooperative enterprise. (evaluasi sebagai usaha kerjasama).109
Dakir menyatakan bahwa model pengembangan kurikulum yang dikembangkan Taba ini adalah model terbalik yang didapatkan atas dasar data induktif, karena biasanya pengembangan kurikulum didahului oleh konsep-konsep yang datangnya dari atas secara deduktif. Sedangkan model Taba ini dilaksanakan dengan terlebih dahulu mencari data dari lapangan dengan cara mengadakan
percobaan, kemudian disusun teori atas dasar hasil nyata, kemudian diadakan pelaksanaan.110
Secara lebih detail Sukmadinata menunjukkan lima langkah pengembangan kurikulum model terbalik Taba. Pertama, mengada-kan unit-unit eksperimen bersama guru-guru. Kedua, menguji unit eksperimen. Ketiga, mengadakan revisi dan konsolidasi. Keempat, pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum. Kelima adalah implementasi dan diseminasi.111
1) Menghindari kebingungan dimana para pendidik dan para pengembang kurikulum memberikan suatu jalan yang tidak berbelit-belit dan mempunyai pendekatan waktu yang efisien, sehingga bisa menemukan atau melakukan tugas kurikulum dengan baik.
Model pengembangan kurikulum Tyler dan Taba dikategorikan ke dalam Rational Model atau Objectives Model, karena keduanya berpendapat bahwa dalam pengembangan kurikulum bersifat rasional, sistematis dan berfokus pada tujuan. Model tersebut memiliki beberapa kelebihan dan juga kekurangan sebagai berikut. Adapun kelebihan Rational Model yaitu:
2) Dengan menekankan pada peranan dan nilai tujuan-tujuan (objectives), model ini membuat para pengembang kurikulum bisa berpikir serius tentang tugas mereka.
3) Dengan tata urutan pengembangan kurikulum dari tujuan, formulasi isi, aktivitas belajar, sampai pada evaluasi sejauh mana tujuan-tujuan tersebut dicapai, merupakan daya tarik tersendiri dari model ini.112
Sedangkan kelemahan Rational Model yaitu:
1) Latar belakang pengalaman dan kurangnya persiapan diri seorang pendidik untuk berpikir dan mengembangkan pemikirannya secara logis dan sistematis akan mengalami kesulitan dalam menggunakan model ini.
2) Kurang jelasnya hakikat belajar mengajar, karena seringkali pembelajaran justru terjadi di luar tujuan-tujuan tersebut.
110 Dakir, (2004). Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 97
111 Nana Syaodih Sukmadinata, cet 14, (2011). Pengembangan …, hal.166.
3) Terlalu berlebihan menekankan pada formula hasil seperti mementingkan tujuan perilaku (behavior objectives).
c. Model D.K. Wheeler.
Berbeda dengan Tyler dan Taba, Wheeler mempunyai argumen tersendiri agar pengembang kurikulum dapat menggunakan proses melingkar (a cycle process) dalam mengembangkan kurikulum, dimana setiap elemen saling berhubungan dan saling bergantung. Sebenarnya model Wheeler ini juga rasional, karena secara umum suatu langkah tidak dapat diselesaikan sebelum langkah-langkah sebelumnya terselesaikan, tetapi hanya representasinya agak berbeda. Adapun langkah-langkah atau Phases Wheeler adalah:
1) Selection of aims, goals, and objectives (seleksi maksud, tujuan dan sasaran).
2) Selection of learning experiences to help achieve these aims, goals, and objectives. (seleksi pengalaman belajar untuk membantu mencapai maksud, tujuan dan sasaran).
3) Selection of content through which certain types of experiences may be offered (seleksi isi melalui tipe-tipe tertentu dari pengalaman yang mungkin ditawarkan).
4) Organization and integration of learning experiences and contents with respect to the teaching learning process (organisasi dan integrasi pengalaman belajar dan isi yang berkenaan dengan proses belajar mengajar).
5) Evaluation of each phase and the problems of goals (evaluasi setiap fase dan masalah tujuan-tujuan).
Kontribusi Wheeler dalam pengembangan kurikulum adalah penekanannya terhadap hakikat melingkar yang memberikan indikasi bahwa langkah-langkah di dalamnya bersifat berkelanjutan memiliki makna responsif terhadap perubahan-perubahan pendi-dikan yang ada. Hal ini juga menekankan pada saling ketergan-tungan antara satu elemen dengan elemen kurikulum lain.
d. Model Howard NichollsAudery
Howard Nicholls dan Audery menjelaskan kembali model Tyler, Taba, dan Wheeler dengan menekankan pada kurikulum proses yang bersiklus atau berbentuk lingkaran dengan langkah awalnya adalah analisis situasi. Mereka menitikberatkan pada pengembangan kurikulum yang rasional, khususnya kebutuhan untuk kurikulum baru yang muncul dari adanya perubahan situasi. Fase analisis situasi ini merupakan sesuatu yang memaksa para pengembang kurikulum untuk lebih responsif terhadap lingkungan dan terutama dengan kebutuhan anak didik.
Langkah-langkah yang digunakan meliputi: (1) Situational analysis (analisis situasi); (2) Selection of objectives (pemilihan tujuan); (3) Selection and organization of content (pemilihan dan organisasi isi); (4) Selection and organization of method (pemilihan dan organisasi metode); dan (5) Evaluation (evaluasi).
Model pengembangan Wheeler dan Nicholls termasuk ke dalam model pengembangan kurikulum cycle models. Sama dengan rational models, maka cycle models ini juga memiliki beberapa kelebihan dan juga kelemahan. Adapun kelebihan dari cycle models adalah: 1) Memiliki struktur logis kurikulum yang dikembangkannya
2) Dengan menerapkan situational analysis sebagai titik permulaan dapat memberikan dasar data sehingga tujuan-tujuan yang lebih efektif mungkin akan dikembangkan.
3) Melihat berbagai elemen kurikulum sebagai asal yang terus menerus, sehingga dapat menanggulangi situasi-situasi baru dan mempunyai konsekuensi untuk bereaksi terhadap perubahan situasi.
Sedangkan kelemahan dari cycle models adalah karena model ini memiliki beberapa kesamaan dengan rational model, maka kelemahan yang dimiliki oleh model ini pun hampir sama dengan yang telah diuraikan sebelumnya. Tetapi kelemahan yang lebih menonjol adalah membutuhkan banyak waktu untuk menganalisis situasi belajar. Melihat kondisi juga bahwa kebanyakan pendidik lebih suka mengandalkan intuisi daripada menggunakan basis data yang sistematis dan sesuai dengan situasi.113
e. Model Decker Walker
Walker berpendapat bahwa proses pengembangan kurikulum yang terjadi dalam persiapan yang natural lebih baik dari pada proses di dalam kurikulum itu sendiri. Berikut fase-fase yang ditunjukkan oleh Walker.
113Ibid, 168-169.
Gambar 4.5: Langkah Pengembangan Kurikulum Walker
Langkah pertama pada model Walker ini adalah adanya pernyataan platform yang diorganisasikan oleh para pengembang, yang berisi serangkaian ide, preferensi atau pilihan, pendapat, keyakinan, dan nilai-nilai yang dimiliki kurikulum. Sehingga para pengembang kurikulum tidak memulai tugasnya dalam keadaan kosong.
Memasuki fase berikutnya adalah fase pertimbangan mendalam dimana individu mempertahankan pernyataan platform mereka sendiri dan menekankan pada ide-ide yang ada. Berbagai peristiwa ini memberikan suatu situasi dimana pengembang juga berusaha menjelaskan ide-ide mereka dan mencapai suatu konsensus. Hal yang sangat kompleks ini terjadi sebelum actual curriculum didesain.114
Fase terakhir model ini adalah pengembang membuat keputusan tentang berbagai komponen proses atau elemen-elemen kurikulum, dimana keputusan ini diambil setelah ada diskusi mendalam dan dikompromikan oleh individu-individu.115
114Ibid, hal. 171.
f. Model Malcolm Skilbeck
Malcolm Skilbeck mengembangkan suatu interaksi alternatif atau model dinamis bagi proses kurikulum, yang disebut dengan model dynamic in nature. Model ini menetapkan bahwa pengembang kurikulum harus mendahulukan suatu elemen kurikulum dan memulainya dengan suatu urutan dari urutan yang telah ditentukan oleh model rasional. Hal itu tergambar sebagai berikut.
Gambar 4.6: Langkah Pengembangan Kurikulum Skilbeck
Jika dilihat bahwa susunan model ini secara logis termasuk kategori rational by nature. Pengembang kurikulum perlu mendahu-lukan rencana mereka dengan memulainya dari salah satu langkah dari langkah yang ada dan meneruskannya dalam bentuk berurutan. Pengembang kurikulum juga harus mampu mengatasi segala perbedaan dalam langkah-langkah tersebut secara bersamaan.
Model pengembangan kurikulum yang dikembangkan oleh Walker dan Skilback merupakan model pengembangan kurikulum Interaction Model atau Dynamic Model. Adapun kelebihan dari model pengembangan kurikulum ini adalah:
Situation analysis Goal formulation Program building Interpretation and implementation Monitoring, feedback, assessment reconstruction
1) Memiliki prosedur yang lebih realistis dan fleksibel untuk pengembangan kurikulum, khususnya dari sudut pandang guru atau pendidik yang tentunya memiliki tugas yang banyak.
2) Pengembang lebih bebas dan menjadi lebih kreatif dengan tidak dituliskannya tujuan-tujuan yang bersifat perilaku.
Selain kelebihan di atas, juga terdapat kelemahan dari model pengembangan ini, yaitu:
1) Dalam pelaksanaannya akan cukup membingungkan karena pendekatannya yang tidak sistematis sehingga akan memuncul-kan hasil yang kurang memuasmemuncul-kan.
2) Kurangnya penekanan dalam menempatkan pembangunan dan penggunaan objectives serta petunjuk-petunjuk yang diberikan. 3) Dengan tidak mengikuti susunan yang logis dalam
pengem-bangan kurikulum, para pengembang hanya membuang-buang waktu sehingga kurang efektif dan efisien.116
g. Beauchamp’s System Model
Model pengembangan kurikulum ini dikembangkan oleh Beauchamp dengan mengemukakan lima langkah pengembangan kurikulum, yaitu:
1) Menetapkan area atau wilayah di mana kurikulum diperuntuk-kan, wilayah tersebut mencakup sekolah, kecamatan, daerah, kabupaten, provinsi, distrik, atau Negara.
2) Menetapkan pihak-pihak yang akan terlibat dalam pengembangan kurikulum beserta tugas-tugas yang akan dilaksanakannya.
3) Menentukan prosedur yang akan ditempuh, yakni perumusan tujuan (umum dan khusus), memilih isi dan pengalaman belajar, serta menetapkan alat dan jenis evaluasi.
4) Implementasi Kurikulum. Agar implementasi kurikulum baru dapat berjalan dengan efektif, diperlukan dukungan dari berbagai sumber, seperti guru, biaya, sarana-prasarana, manajemen dan lain sebagainya.
5) Evaluasi Kurikulum. Kegiatan ini meliputi: (a) evaluasi pelaksanaan kurikulum oleh guru di sekolah; (b) evaluasi
terhadap desain kurikulum: (c) evaluasi keberhasilan anak didik; dan (c) evaluasi sistem rekayasa kurikulum.
Adapun langkah-langkah/tahap-tahapnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 4.7: Langkah Pengembangan Kurikulum Beauchamp
Dalam menetapkan personalia yang terlibat dalam pengembangan kurikulum dibedakan dalam empat kategori yaitu: 1) Para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat
pengembangan kurikulum dan para ahli bidang ilmu dari luar. 2) Para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan
guru-guru terpilih.
3) Para profesional dalam sistem pendidikan. 4) Profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat. h. Model Peter F. Oliva
Model kurikulum Olivia ini terdiri dari tiga ciri utama, yaitu: sederhana (simple), menyeluruh (komprehensif) dan sistematis. Walaupun model ini mewakili komponen yang paling penting, namun model ini dapat diperluas menjadi model menyediakan detail tambahan dan menunjukkan beberapa proses yang menyediakan
Menetapkan area atau lingkup wilayah
Menetapkan personalia
Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum
Implementasi kurikulum
detil tambahan dan menunjukkan proses yang diasumsikan sebagai model yang sederhana. Model Olivia ini memiliki enam komponen, yaitu: (1) Rumusan filosofis (Statement of philosophy); (2) Rumusan tujuan umum (Statement of goals); (3) Rumusan tujuan khusus (Statement of objectives); (4) Desain perencanaan (Design of plan); (5) Implementasi (Implementation); dan (6) Evaluasi (Evaluation).
i. Model Zais
Model Zais ini menekankan pada inisiatif berawal, personil yang terlibat, kedudukan personil dan keputusan yang diambil. Zais, Smith dan Shores dengan merujuk pada model pengembangan kurikulum Stanley mengemukakan tiga model pengembangan kurikulum, yaitu: (1) model administratif; (2) model grass root; (3) model demonstrasi.