• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makam Pahlawan

Dalam dokumen PT. ADITYA RIDHO GUMILANG (Halaman 152-156)

Ketinggian Bangunan Blok 4

C. Makam Pahlawan

 Tanaman diarahkan untuk menambahkan kesan estetis atau keindahan untuk menghindari kesan seram

 Sesuai dengan budaya Jambi yang biasanya menanam pohon yang berkanopi lebar disekitar makam yang berfungsi sebagai petanda berupa pohon rindang.

7.8. TATA KUALITAS LINGKUNGAN

Penataan Kualitas Lingkungan merujuk kepada upaya rekayasa elemen-elemen kawasan yang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu kawasan dengan system lingkungan yang tertata, informafif, berjati diri, dan berkesinambungan.

7.6.1. Konsep Identitas Lingkungan

Konsep identitas lingkungan adalah perencanaan berjati diri suatu lingkungan yang dapat diwujudkan melalui pengaturan maupun perencanaan elemen fisik dan non fisik lingkungan.

Konsep identitas lingkungan terdiri dari tata karakter bangunan dan lingkungan, tata penanda identitas bangunan dan tata kegiatan pendukungnya.

a. Tata Karakter Bangunan dan Lingkungan (Built-in Signage and Directional System) Untuk menentukan cirri/karakter bangunan tidak saja tergantung dari fungsi bangunan, tetapi ditentukan juga dari konsep makro, visi dan misi serta kondisi social budaya dimana bangunan tersebut berada.

Karakter bangunan dibentuk dan ditampilkan secara visual, untuk member identitas kepada bangunan yang mempunyai fungsi tertentu, sebagaimana pendekatan (Forms Follows Function (Louis Henry Sullivan). Namun pendekatan ini tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Setiap fungsi bangunan akan memiliki cirri dan tipologi tertentu. Sehingga setiap bangunan dengan fungsi yang sama akan menampilkan karakter yang sama.

Dengan demikian maka cirri/karakter bangunan yang akan diciptakan untuk memperkuat kesan lingkungan. Konsep karakter bangunan dan lingkungan di kawasan rencana adalah sebagai berikut :

 Karakter Bangunan Perkantoran

Bangunan perkantoran di kawasan perencanaan terletak di koridor Jalan Arteri Lintas Timur Sumatera. Karakter Bangunan perkantoran (secara visual) yang masih dapat dipertahankan adalah :

 Bersifat formal, mengandung unsur keteraturan

 Warna-warna formal, soft dan menghindari warna cerah dan ramai

 Bukaan berupa jendela mengindikasikan adanya pola pembagian ruang-ruang perkantoran

 Terdapat entrance, hall dan ruang tunggu (tamu) yang cukup menonjol

 Terdapat identitas berupa papan informasi

 Menonjolkan bentuk-bentuk arsitektur tradisional Jambi

 Karakter Bangunan Jasa dan Perdagangan

Bangunan jasa perdagangan sangat mendominasi peruntukan lahan dan bangunan di kawasan rencana, terutama pada kawasan Pasar Merlung dan pertokoan Jalan Arteri Lintas Timur Sumatera. Di dalam konsep rencana penataannya, kawasan ini akan dipertahankan sebagai kawasan jasa/perdagangan komersil. Kegiatan ini diharapkan akan mampu berfungsi sebagai penggerak ekonomi dan aktifitas masyarakat di kawasan rencana.

Karakter bangunan jasa perdagangan yang dapat dipertahankan adalah :

 Langgam yang digunakan mengadopsi bentuk-bentuk lokal dan dipadu dengan gaya modern.

 Bangunan didukung oleh unsure-unsur penunjang bangunan komersial seperti umbul umbul, papan reklame, tata lampu dan desain ruang terbuka.

 Bangunan bersifat terbuka dan mengundang, dimana pengunjung dapat memasuki kawasan perbelanjaan tanpa terhalang oleh batas pagar atau batas fisik lainnya.

 Tersedianya lahan parkrr dan jalur pedagang kaki

 Tersedianya space untuk mengantisipasi munculnya pedagang kaki lima

 Karakter Bangunan Pendidikan

Dalam rencana lahan mikro bangunan fungsi pendidikan haru memiliki karakter dan cirri bangunan pendidikan seperti :

 Bangunan pendidikan bersifat formal dan resmi yang ditandai dengan penggunaan warna yang soft, standar, bentuk-bentuk yang formal dan simetris

 Tertatanya deretan jendela, kelas, bangunan yang menandakan adanya bangunan sekolah

 Mempunyai halaman/pelataran yang cukup memadai untuk areal bermain dan upacara bendera.

 Dapat dipasang papan informasi yang bernuansa pendidikan

 Karakter Bangunan Ibadah

Bangunan ibadah Masjid memiliki karakter yang kuat dan dibangun dengan konsep arsitektur Islam yang ketat dan konsisten. Bangunan ibadah yang cukup menonjol di kawasan perencanaan adalah Masjid Raya Merlung dan Masjid jami Al Mujahidin Mrlung.

Masjid Raya Merlung merupakan Masjid terbesar di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Keberadaan Masjid Raya Merlung ini dikonsepkan dapat menjadi salah satu bangunan yang dapat memperkuat karakter/jatidiri Kawasan Kota Merlung:

 Menunjukkan cirri arsitektur Islam yang kuat

 Mempunyai halaman yang cukup , agar bangunan ini menonjol dan tidak berimpit dengan bangunan lainnya serta bermanfaat bagi masyarakat pengguna lintasan antar kota – kota bagian Timur Aumatera, sekaligus sebagai area singgah.

 Karakter Bangunan Umum dan Sosial

Karakter bangunan umum dan social diwakili oleh bangunan balai pertemuan, gedung kesenian, pelayanan kesehatan dan lain-lain yang mempunyai karakter sebagai berikut :

 Menggunakan bentuk bujursangkar atau persegi panjang yang mempunyai atap dan langgam tradisional Jambi.

 Mempunyai kesan teratur, formal yang diwujudkan dalam bentuk yang simetris

 Bangunan terbuka dan mudah diakses oleh masyarakat sebagai tanda dari adanya bentuk pelayanan yang mudah dan cepat

 Karakter Lingkungan Permukiman

Karakter lingkungan permukiman diwakili oleh bangunan-bangunan perumahan yang relative masih terdapat rumah tradisional terutama yang berada area kota lama Merlung (sekitar Pasar) dan permukiman masyarakat di sekitar Jalan Kemakmuran dengan karakter sebagai berikut :

 Dibangun dengan konsep perumahan tradisional Jambi

 Pola jalan berbentuk grid

b. Tata Penanda Identitas Bangunan (Private Sign-board)

Untuk mengatur tata penanda identitas bangunan, selain disesuaikan dengan karakter bangunan (sesuai fungsi) dapat dijelaskan melalui elemen-elemen/unsure bangunan yang nampak secara visual dan mudah dilihat dan diamati.

Elemen-elemen tersebut antara lain : atap, dinding, jendela, pintu, pagar dan gerbang.

 Atap, dapat digunakan sebagai salah satu elemen identitas bangunan.

 Sebagaimana ciri khas atap tradisional Jambi yang formal, sederhana dan berwibawa merupakan salah satu bentuk ekspresi identitas bangunan tradisional Jambi. Bangunan rumah tinggal pada umumnya menggunakan atap standar, yaitu limas dan pelana dengan penonjolan ornamnen list plank dan.

 Dinding, peran dinding dalam membentuk identitas bangunan yang berkarakter tradisional Jambi dikuatkan dengan penggunaan material dengan warna-warna natural

 Pintu dan Jendela, dengan bentuk yang standar (kotak/persegi) merupakan bentuk klasik dan formal. Bentuk ini sesuai dengan bangunan yang berfungsi formal seperti :

 perkantoran dan fasilitas pendidikan.

c. Tata Kegiatan Pendukung (Support Activities)

Tata kegiatan pendukung juga dikonsepkan dapat membentuk identitas kawasan seperti dominasi kegiatan pelayanan masyarakat (perkantoran), perdagangan-jasa dan kegiatan social-budaya.

 Kegiatan yang terkait dengan pelayanan kepada masyarakat berada di koridor JL Lintas Timur Sumatera dimana terdapat kegiatan Kantor Kecamatan dan perkantoran Swasta.

 Kegiatan perdagangan-jasa atau pusat pertokoan yang dominan berada di sepanjang Jalan Arteri JL Lintas Timur Sumatera dan Pasar Merlung. Di dalam koridor ini dan jalan di sekitarnya dikonsepkan untuk dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat yang didominasi dengan kegiatan berjalan kaki. Kegiatan di sepanjang JL Lintas Timur Sumatera ini merupakan salah satu implementasi dari rencana etalase kota. Untuk itu diperlukan desain pedestrian dengan pola kesinambungan sirkulasi, agar terjadi proses pergerakan yang menerus dari titik satu ke titik yang lain. Yang dapat dilakukan pada kawasan ini antara lain : menata koridor jalan dan pasar menjadi menarik dan atraktif, menata elemen vegetasi dan street furniture, membuat, desain trotoar yang lebih lebar dan menarik, penataan lampu penerangan jalan dan pedestrian dan penataan setra Pedagang Kaki Lima pada malam hari.

 Kegiatan Sosial-Budaya, didominasi oleh kegiatan adat dan keagamaan masyarakat yang masih secara rutin dilakukan seperti kegiatan upacara keagamaan. Kegiatan ini didukung oleh sebagian besar masyarakat yang terhimpun ke dalam satu lembaga kemasyarakatan.

7.6.2. Konsep Orientasi Lingkungan

Konsep orientasi lingkungan merupakan konsep penataan yang berfungsi atau dapat dimanfaatkan untuk kepentingan orientasi. Orientasi ini dapat digunakan sebagai pengingat atau penanda suatu lokasi/tempat atau sebagai penunjuk arah. Konsep orientasi lingkungan terdiri dari system tata informasi dan system tata rambu pengarah.

a. Sistem Tata Informasi

Sistem tata informasi merupakan bagian dari elemen lingkungan yang berfungsi memberikan informasi terkait dengan kondisi lingkungan di kawasan rencana.

 Informasi Tata Tempat dan Nama Bangunan, diletakkan pada bagian dari kavling/bangunan tersebut,

sedemikian rupa sehingga cukup terlihat dari arah datangnya sirkulasi. Informasi nama tempat harus dapat terbaca baik di siang hari atau malam hari. Sehingga untuk malam hari dibutuhkan tata pencahayaan yang dapat member nilai tambah pada bangunan tersebut.

 Informasi Komersil (Papan Reklame), dipasang dengan memperhatikan view yang dittimbulkan , keselamatan dan kenyamanan warga di sekitarnya,

 pada papan reklame free standing diletakan pada area-area (sudut sudut tertentu) yang tidak merusak kaindahan kota dan ditata secara teratur dengan desain yang menarik.

 Papa reklame yang menyatu (integrated) dengan elemen street furniture, seperti menyatu dengan lampu taman/jalan, kursi taman, bak sampah, pot bunga.

 Reklame yang dipasang dapat berupa papan nama (billboard), spanduk dan umbul-umbul.

 Pemasangan reklame tetap mempertimbangkan nilai-nilai social budaya Jambi dan tetap dikoordinasikan pemasangannya agar tidak terjadi tumpang tindih antara papan reklame satu dengan yang lainnya.

 Informasi untuk Pelayanan Umum/non Komersial seperti papan informasi pembayaran pajak, papan informasi kegiatan budaya, informasi kesadaran lingkungan dan sebagainya. Papan informasi diletakkan pada areal yang banyak didatangi warga seperti perempatan jalan, pasar, taman kota, , pintu masuk kota dan tempat-tempat umum lainnya.

b. Sistem Tata Rambu Pengarah

Sistem tata rambu pengarah yaitu pengolahan elemen fisik di linkungan untuk mengarahkan pemakai bersirkulasi dan berorientasi baik menuju maupun dari bangunan ataupun area tujuannya. Sistem perencanaan rambu pengarah dimaksudkan untuk :

 Memberikan system informasi bagi pengguna ruang kawasan perencanaan

 Memudahkan pencapaian (aksebilitas)

 Mengarahkan pola sirkulasi menuju ke tempat-tempat penting

 Memperindah ruang luar serta mengatur tata squance kawasan

Sistem tata rambu pengarah yang direncanakan pada kawasan perencanaan adalah petunjuk sirkulasi /Rambu-rambu lalu lintas, petunjuk ke lokasi dan fasilitas lain.

7.6.3. Wajah Jalan

Wajah jalan merupakan perancangan elemen fisik dan non fisik guna membentuk lingkungan berskala manusia pemakainya, pada suatu ruang public berupa ruas jalan akan memperkuat karakter suatu blok perancangan yang lebih besar. Pengaturan ini terdiri dari :

Dalam dokumen PT. ADITYA RIDHO GUMILANG (Halaman 152-156)