TRANSKRIPSI DAN ANALISIS STRUKTUR MUSIKAL DAN TEKSTUAL ORDINARIUM BERGAYA BATAK TOBA
4.4 Analisis Tekstual
4.4.4 Terjemahan Teks Anak Domba Allah Agnus Dei, qui tollis peccata mundi, Miserere nobis
4.4.4.1 Makna Teks Anak Domba Allah
Nyanyian ini dinyanyikan untuk mengiringi “pemecahan roti” atau hosti
oleh imam di meja altar. Saat imam memecah-mecah roti dan memasukkan sepotong kecil dari roti kedalam piala yang berisi anggur, maka secara bersamaan dinyanyikan Anak Domba Allah bersama umat, solis, dan paduan suara.
Pada mulanya ritus “pemecahan roti” sangat rumit dan memakan waktu yang lama. Maka biasanya ritus ini diiringi oleh pelbagai macam nyanyian. Paus Sergius I (687-701) memasukkan nyanyian Anak Domba Allah untuk mengiringi ritus pemecahan roti. Teks ini didasarkan pada kata-kata Santo Yohanes
Pembabtis ketika ia memperkenalkan Yesus kepada beberapa orang dari murid- murid-Nya. Kemudian ritus “pemecahan roti” ini menjadi singkat maka Anak Domba Allah dinyanyikan hanya tiga kali. Anak Domba Allah merupakan Yesus sendiri yang merupakan satu-satunya kurban untuk penebusan dosa-dosa manusia.
BAB V PENUTUP 5.1RINGKASAN
Inkulturasi dalam gereja Katolik memang telah ada dan berlangsung prosesnya sebelum Konsili Vatikan II, namun hal ini terlihat belum menjadi fokus penting dan perhatian gereja. Selama proses dan perjalanannya, inkulturasi
membawa perubahan dan dampak terhadap berbagai hal, sehingga dalam Konsili Vatikan II ini menjadi sebuah pembahasan yang penting untuk dikaji dan diperhatikan oleh gereja. Setelah Konsili Vatikan II, berbagai dokumen-dokumen tentang inkullturasi dihasilkan dan inkulturasi diusahakan dalam gereja secara lebih baik dan lebih bertanggung jawab.
Keterbukaan gereja terhadap tradisi-tradisi dan budaya-budaya lokal, disadari karena gereja berdiri di berbagai daerah, suku, bahasa dan bangsa. Sehingga perlu adanya keterbukaan terhadap nilai kekayaan budaya dan tradisi dari daerah, suku, bahasa dan bangsa tersebut. Sejauh unsur-unsur dari kebudayaan itu tidak bertolak belakang dengan ajaran pokok agama Katolik.
Inkulturasi mendapatkan tempat dan bentuknya dalam gereja, baik dari bahasa, bangunan gereja, pakaian, musik liturgi dan sebagainya.
Sebelum adanya inkulturasi, setiap perayaan misa musik liturgi yang digunakan adalah gregorian chant ataupun polifoni suci. Hal ini memang merupakan musik liturgi yang diresmikan gereja Katolik dalam tiap misa. Namun bagi kebanyakan umat, gregorian chant atau polifoni suci kurang bisa dipahami, dimengerti, diapresiasi, serta berpartisipasi di dalamnya. Terkendala oleh
beberapa hal, baik dari segi bahasa yang digunakan, maupun bentuk musik yang cukup sulit dinyanyikan. Itulah sebabnya gereja mulai terbuka terhadap tradisi serta budaya setempat, demi kepentingan umat, sehingga inkulturasi dirasakan penting di berbagai daerah misi gereja. Penggunaan unsur-unsur musik tradisi/ lokal mulai digunakan, disesuaikan dan dikreasikan dalam musik Liturgi sehingga tercipta kreasi baru yang luhur, yang lebih dikenal dan dimengerti oleh umat setempat. Salah satu hasil konsili yang menyatakan keterbukaan gereja terhadap tradisi-tradisi dan budaya lokal, terdapat dalam Sacrosanctum Consilium (SC).
“Konsili memberi kedudukan pada musik dan nyanyian sebagai bagian yang penting dan integral dari liturgi (SC 112). Konsili
memberi penghargaan dan tempat yang sewajarnya kepada tradisi musik yang memiliki peranan penting dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, terutama di daerah misi, untuk membentuk sikap religius umat setempat dan dalam menyesuaikan liturgi dengan sifat dan perangai umat setempat (SC 119). Oleh karena itu, alat-alat musik lain (selain organ pipa) dapat juga dipakai dalam ibadat suci, sejauh memang cocok atau dapat disesuaikan dengan penggunaan dalam liturgi, sesuai pula dengan keanggunan gedung gereja, dan sungguh membantu memantapkan penghayatan umat beriman (SC 120). Nyanyian Gregorian
dipandang sebagai nyanyian khas Liturgi Romawi, namun jenis- jenis lain musik liturgi, terutama polifoni, sama sekali tidak dilarang dalam perayaan ibadat suci, asal saja selaras dengan jiwa upacara liturgi (SC 116)”.
Gereja Santo Antonius Hayamwuruk Medan, inkulturasi musik liturgi dalam bentuk-bentuk musik tradisi/lokal sangat diapresiasi dan dihargai. Terlihat dalam pemakaian ordinarium yang bernuansa Batak Toba dengan memakai ansambel gondang hasapi dalam perayaan misa menunjukkan kesungguhan gereja terhadap inkulturasi. Makna inkulturasi dalam liturgi gereja ialah membuat umat berpartisipasi secara lebih penuh ke dalam perayaan misa. Prinsip dasar
inkulturasi bukan untuk kepentingan budaya tetapi untuk kepentingan liturgi, sehingga umat yang datang ke gereja bisa berpartisipasi secara lebih. Lebih dalam pengertian, lebih bersemangat dan lebih berdaya guna untuk hidupnya.
Hal inilah yang membuat Konsili Vatikan II memiliki konsep baru tentang arti pluralisme gereja dan rasa hormat terhadap kebudayaan umat manusia.
Inkulturasi pada dasarnya merupakan cara mewartakan iman di tengah budaya plural. Yaitu, pewartaan iman yang masuk ke dalam berbagai budaya. Tentunya hal ini bukan sekedar basa-basi saja, namun bertujuan supaya iman sungguh berakar dan meresapi sebuah kehidupan orang perorangan dan masyarakat, maka iman itu sedapatnya harus menyatu dengan kebudayaan supaya dapat diekspresikan selaras dengannya.
5.2Kesimpulan
Bentuk ordinarium yang dipakai dalam perayaan misa gereja Katolik pada awalnya adalah Gregorian chant. Bentuk musik ini bersifat monofonik tanpa iringan alat musik, karena pada saat itu alat musik dipakai sebagai ritual penyembahan berhala sehingga gereja tidak mengijinkan alat musik masuk ke dalam peribadatan. Gregorian chant selalu menggunakan teks-teks bahasa Latin dan bersifat restitatif. Musik Gregorian chant disusun berdasarkan modus gerejawi yang terdiri dari: Doris (D), Frigris (E), Lydis (F), Mixolydis (G). Jadi, tidak mengenal mayor-minor seperti dalam musik tonal. Tidak mengenal metrum (3/4, 6/8, 4/4), melainkan berdasarkan suatu sistem ritmik tertentu (iramanya bebas).
Setelah proses inkulturasi sebagai hasil Konsili Vatikan II banyak nyanyian ordinarium yang sengaja diciptakan dengan menggunakan unsur-unsur musik tradisi/lokal. Salah satunya ordinarium yang menggunakan unsur-unsur musik Batak Toba yang digunakan dalam Gereja Santo Antonius Hayamwuruk Medan
Dari hasil analisis struktur musikal terhadap ke empat nyanyian
ordinarium dapat dilihat keseluruhan unsur-unsur musik yang terdapat di dalamnya. Dari segi tangga nada nyanyian ordinarium memang cenderung
heksatonik kecuali nyanyian Kemuliaan. Hal ini memang berbeda dengan musik Batak Toba yang lebih cenderung pentatonik. Namun dari segi frekwensi pemakaian nada-nadanya, penulis melihat terdapat kemiripan terhadap nada-nada pentatonis Batak Toba. Kemiripan ini terlihat pada nyanyian Tuhan Kasihanilah Kami yang menggunakan nada-nada, G-A-B-C-D, nyanyian Kemuliaan yang menggunakan nada-nada D-E-Fis-G-A, nyanyian Kudus yang menggunakan G-A- B-C-D, dan nyanyian Anak Domba Allah menggunakan nada-nada E-Fis-Gis-A- B. Kontur nyanyian ordinarium yang cenderung melangkah/conjuct dalam nyanyian Kemuliaan dan Kudus dan pendulous pada nyanyian Tuhan Kasihanilah Kami dan Anak Domba Allah. Dari segi bentuk nyanyian Tuhan Kasihanilah Kami cenderung repetitive, nyanyian Kemuliaan cenderung progressive, nyanyian Kudus cenderung iratif, dan nyanyian Anak Domba Allah stropic.
Meskipun dari segi tangga nada tidak memiliki kemiripan, namun aransemen gondang hasapi membuat keempat nyanyian ordinarium terasa bernuansa Batak Toba. Untuk melihat adanya hubungan nyanyian dengan
ansambel gondang hasapi, penulis melakukan pentraskripsian pada instrumen
sulim dan garranttung. Penulis melakukan pentranskripsian pada kedua instrumen ini karena merupakan instrumen yang representative dari gondang hasapi.
Instrumen sulim dan garrantung dianggap representative karena mampu mengikuti pola-pola melodis dari keempat nyanyian ordinarium dengan melakukan improvisai-improvisasi sehingga terasa nuansa musik Batak Tobanya. Keempat nyanyian ordinarium ini tidak dapat diketahui secara pasti mengikuti pola musik atau repertoar gondang apa, namun Penulis melihat dalam setiap Misa bila menggunakan ansambel gondang maka ordinarium yang digunakan adalah ordinarium yang dianalisis penulis. Penulis mendapatkan keempat nyanyian ordinarium dari Buku Doa dan Nyanyian Gerejawi Puji Syukur yang digunakan oleh Gereja Santo Antonius Hayamwuruk Medan.
Dari segi tekstual, penterjemahan teks nyanyian ordinarium dari bahasa Latin ke dalam bahasa Indonesia memudahkan umat untuk dapat memahami isi dan makna dari keempat nyanyian ordinarium. Pemahaman dan pendalaman terhadap nyanyian menciptakan apresiasi, partisipasi, serta pemaknaan bagi umat Katolik Santo Antonius Hayamwuruk Medan.
Dengan pengkajian struktur musikal dan tekstual dari keempat nyanyian
ordinarium ini, maka penulis menyimpulkan dengan demikian hal ini bisa diterima oleh umat katolik di Santo Antonius Hayamwuruk, karena dekat dengan budaya dan tradisi setempat.