• Tidak ada hasil yang ditemukan

7.4 Makna Ipteks Representasi Posrealitas

7.4.1 Makna Ilmu Pengetahuan

Pengetahuan pada hakikatnya merupakan semua hal yang diketahui oleh manusia tentang objek tertentu, termasuk di dalamnya adalah ilmu. Oleh karena itu, ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia di samping

berbagai pengetahuan lainnya, seperti seni dan agama (Suriasumantri, 1995: 104). Menurut Anshari (1987: 47-50), salah satu corak dari pengetahuan adalah pengetahuan ilmiah, yang lazim disebut ilmu pengetahuan atau ilmu, ekuivalen artinya dengan science dalam bahasa Inggris. Science berasal dari kata scio, scire dalam bahasa Latin, yang berarti tahu. Demikian pula halnya dengan ilmu, berasal dari kata alima dalam bahasa Arab, berarti tahu. Jadi, baik ilmu maupun science, secara etimologis berarti pengetahuan. Akan tetapi secara terminologis, ilmu dan science itu semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat yang khas, yaitu sistematik, rasional, empiris, umum, dan kumulatif.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli tentang ilmu pengetahuan, Anshari kemudian merumuskan bahwa ilmu pengetahuan merupakan usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian, dan hukum-hukum tentang halihwal yang diselidiki (alam, manusia, dan agama) sepanjang dapat dijangkau daya pemikiran manusia dan dibantu pengindraannya serta kebenarannya diuji secara emperis, riset, dan eksperimental. Menurut Anshari (1987: 52), yang membedakan satu ilmu dengan ilmu yang lain adalah objeknya. Apabila kebetulan objek materialnya sama, maka yang dapat membedakan ilmu yang satu dengan ilmu lainnya adalah objek formalnya, yaitu sudut pandang tertentu yang menentukan macam itu.

Makna ilmu pengetahuan dalam representasi posrealitas desain Gedung Puspem Badung tersirat dari penggunaan teknologi komputer desain 3D dengan realitas virtual untuk pembuatan desain Gedung Puspem Badung. Dikatakan demikian karena teknologi komputer berkembang dari ilmu hitung sederhana

ribuan tahun sebelum Masehi. Pada abad ke-17 ilmu hitung diaplikasikan ke ilmu fisika mekanik sehingga melahirkan alat hitung mekanik. Setelah berkembang teknologi elektronika pada awal abad ke-20, aplikasi teknologi ini sebagai alat hitung kemudian melahirkan teknologi komputer pada akhir dekade 1940-an.

Kata komputer berasal dari kata computare dalam bahasa Latin. Kata com berarti menggabungkan dalam pikiran atau secara mental dan kata putare berarti memikirkan perhitungan atau penggabungan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka istilah komputer berarti memperhitungkan atau menggabungkan bersama-sama (Siauw, 1995: 13). Teknologi komputer pun makin terus berkembang seiring dengan perkembangan elektronika sehingga bentuk komputer makin kecil, tetapi kemampuannya makin besar. Setelah kemampuan komputer makin besar untuk melakukan berbagai program, muncullah ide untuk mengaplikasikan ilmu menggambar untuk desain ke dalam komputer. Lahirlah kemudian komputer yang dapat membantu membuat desain (Computer Aided Design) pada 1982 dan komputer desain 3D dengan realitas virtual pada 1990. Seiring dengan kemampuan ilmuwan dalam mengembangkan teknologi komputer dari masa ke masa, pengetahuan tentang komputer kemudian menjadi ilmu tersendiri.

Dari uraian di atas, diketahui bahwa penemuan teknologi komputer pada dekade 1940-an merupakan hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan pada pertengahan abad ke-20. Arah kebudayaan pada abad ke-20 kemudian didominasi oleh perkembangan iptek sehingga abad ke-20 disebut sebagai abad iptek atau abad sains dan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan. Abad Iptek ini ditandai

dengan pembangunan patung simbol atomium dari bahan aluminium setinggi 11 meter dan berat 1.200 ton pada pameran internasional produk-produk teknologi modern, yang berlangsung pada 17 April s.d. 19 Oktober 1958 di Brusel, Jerman (Widagdo, 2005: 3 dan 187). Simbol atonium merupakan pembesaran dua puluh juta kali molecule de fer alpha (lihat Gambar 7.5).

Gambar 7.5 Patung simbol atomium, tanda abad Iptek (Sumber: Google.co.id)

Selain menyiratkan makna ilmu pengetahuan tentang komputer, penggunaan teknologi komputer desain 3D dengan realitas virtual untuk pembuatan desain Gedung Puspem Badung juga menyiratkan makna pengetahuan tentang ruang. Sesuai dengan pendapat Baudrillard, komputer desain 3D dengan realitas virtual merupakan teknologi simulasi yang dibangun oleh dimensi ruang simulakrum sehingga manusia dapat merasakan hidup di dalam suatu halusinasi estetis realitas. Virilio kemudian menyebut ruang-ruang yang tercipta di dalam

layar komputer sebagai desain ruang-ruang elektronik dengan citra gerak atau kronoskopi.

Sebelum munculnya pengetahuan tentang ruang elektronik dan ruang simulakrum, pengetahuan tentang ruang seperti yang diungkapkan oleh Ashihara (1974: 5--6), pada dasarnya ruang terjadi akibat adanya hubungan antara sebuah objek dan manusia yang melihatnya. Ashihara berkeyakinan bahwa Lao Tzu peletak dasar konsep mengenai ruang berdasarkan prinsip filosofis dan fenomenologis polaritas “Yang Ada” dan “Yang Tak Ada”. Bagi Lao Tzu, ruang adalah kekosongan. Untuk menciptakan ruang kosong diperlukan materi untuk membentuknya. Menurut van de Ven (1991: xvii), tokoh-tokoh pemikir Yunani kuno menafsirkan ruang berdasarkan filosofi alam. Pada abad pertengahan, perkembangan konsep ruang banyak didasarkan pada pandangan kosmologi. Kemudian pada zaman modern, teori ruang lebih banyak didasarkan pada pandangan antroposentris.

Pengetahuan ruang pada kebudayaan Timur, khususnya tentang ruang tradisional di Bali memiliki kesamaan dengan konsep ruang pada abad pertengahan di Eropa yang didasarkan pada pandangan kosmologi. Filosofi ruang tardisional di Bali, berkembang dari ajaran tat twam asi, yang berarti “itu (ia) adalah aku” (Parisadha Hindu Dharma Pusat, 1967: 51). Inti ajaran tat twam asi adalah menjaga keharmonisan dalam kehidupan. Dalam hal ini, ruang makro (Bhuwana Agung) senantiasa harus seimbang dengan ruang mikro (Bhuwana Alit). Makrokosmos yang memiliki struktur ruang vertikal tri loka (Bhur-Bwah-Swah), kemudian dijabarkan ke dalam konsep tri hitakarana. Filosofi Tri

hitakarana mengajarkan kepada manusia Bali untuk menjaga keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, antarsesama manusia, serta hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Dalam desain, pendekatannya dilakukan ke dalam perencanaan ruang secara makro (macro planing) dan perencanaan ruang mikro (micro design). Bangunan perumahan atau gedung, dalam konsep filosofi tradisi Bali adalah tiruan ruang alam makro (Bhuwana Agung) dan manusia sebagai pemilik atau penggunanya merupakan alam mikro (Bhuwana Alit).

Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa sejak zaman klasik sampai dengan abad pertengahan, pengetahuan tentang ruang di Eropa memiliki kesamaan dengan pengetahuan ruang di dunia timur, seperti pengetahuan tentang ruang di Bali. Dengan lahirnya teknologi komputer desain 3D dengan realitas virtual pada akhir abad ke-20, pengetahuan ruang arsitektur yang muncul di akhir abad ke-19 mengalami perubahan karena pengetahuan ruang arsitektur lebih bersifat fisik dan mengandung ajaran kebijaksanaan. Sebaliknya, pengetahuan tentang ruang virtual, bersifat nonfisik, tidak terikat oleh hukum gravitasi, dan tidak mengandung ajaran kebijaksanaan. Meskipun demikian, ruang yang tervisualisasikan di dalam layar elektronik komputer hanya merupakan simulasi desain ruang secara virtual.

Dokumen terkait