• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna Moderat Perspektif Alquran dan Hadis

Dalam dokumen Gerakan Islam Moderat di Jawa Barat (Halaman 46-50)

BAB II TINJAUAN TEORETIS GERAKAN ISLAM

2.2 Konsep Moderat

2.2.1 Makna Moderat Perspektif Alquran dan Hadis

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata moderat diartikan tidak ekstrem; ditengah-tengah dan lunak; atau tidak condong kepada golongan tertentu.57 Kata itu berasal dari bahasa Latin, moderare yaitu: mengurangi atau mengontrol. The American Heritage Dictionary of

the English Language menulis, bahwa kata moderat mempunyai

beberapa arti, yaitu: a) not excessive or extreme (tidak melampaui atau ekstrem); b) tempera (sederhana); c) average; mediocre (puritan; sederhana); dan d) opposed to radical views or measures (berlawanan dengan sikap radikal atau pendapat-pendapat atau langkah-langkah).58

Dari pengertian etimologi tersebut, dipahami, bahwa istilah moderat berarti berada pada posisi tengah-tengah (wasath). Bersikap moderat, berarti seseorang tidak berpihak kepada golongan tertentu. Adapun secara istilah, kata moderat mengandung arti bersikap lunak atau tidak terjerumus ke dalam ekstremisme yang berlebihan. Definisi yang disebut terakhir sesuai dengan firman Allah Swt., sebagai berikut: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu...”.59

57Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), 924.

58Adian Husaini, “Memahami Makna Muslim Moderat”, dalam http://www.hidaya-tullah.com. Diakses, tanggal 19 September 2018, pukul 21.19 WIB.

48

Kata wasath pada firman Allah Swt., di atas, dapat ditafsirkan dengan makna baik dan adil.60 Menurut imam al-Qurthubi, lapadz wasath dapat diartikan adil dan di tengah-tengah sesuai dengan

qaidah, sebaik-baiknya perkara berada pada pertengahannya (khair al-umur ausathuha). Senada dengan al-Qurthubi, Yusuf al-Qardhawi

menafsirkan, bahwa kata wasath dalam Alquran identik atau sama dengan kata “tawazun” (seimbang). Kata tersebut kemudian dikorelasikan dengan kata syahadah, yaitu turunnya agama Islam merupakan saksi atas kesesatan dua umat terdahulu (Yahudi dan Nasrani). Kesesatan Yahudi terletak pada kecenderungan mengutamakan kebutuhan jasmaniah belaka (hedonism) dan hanya mengedepankan persoalan dunia semata (hub al-dunya). Sebaliknya umat Nasrani lebih mengikat diri mereka hanya kepada kepentingan-kepentingan rohaniah secara total.61

Kemudian agama Islam diturunkan sebagai wasath (penengah) yang mengintegrasikan keduanya (Yahudi dan Nasrani) dengan memberikan hak-hak manusiawi secara seimbang. Karena itu, firman berikut jika dihubungkan (munasabah) dengan ayat sebelumnya, Q.S.

Al-Baqarah: 14, sebagai berikut: “... Allah Swt., memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”.62

Kata mustaqiim dalam firman Allah Swt., tersebut dapat diterjemahkan sebagai lurus (menghadap) ke arah kiblatnya

Nabiyallah Ibrahim As., yang dijadikan oleh umat manusia sebagai

imam. Pemahaman tersebut dapat ditautkan dengan Firman Allah Swt., yang lain:

60Jalaluddin Muhammad ibn Ahmad Al-Mahally dan Jalaluddin Abdurahman ibn Abi Bakr As-Suyuty, Tafsir Jalalain, jilid I, cetakan pertama, (Kairo: Dar el-Hadits, tt. ), 27.

61Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, Jilid 6, (Semarang: Karya Toha Putra Semarang, 1992), 229.

49

“Katakanlah wahai Muhammad sesungguhnya aku telah memberikan kalian sebuah petunjuk untuk menghadap lurus kearah masjidil haram sebagaimana kiblatnya Ibrahim as, dan aku telah menyesatkan orang-orang yahudi, munafik, serta orang-orang yang menyekutukanku maka aku terlantarkan mereka dari petunjuk yang aku berikan kepada kalian”.

Sebagaimana tafsir surat Al-Fatihah: 6-7, ketika mufasir mencoba menafsirkan lafadz sirothol mustaqqim. Dijumpai, beberapa mufasir memaknainya dengan jalan lurus yang penuh petunjuk. Pada suatu kesempatan, Jibril As., berdialog dengan Rasulullah Saw., sebagai berikut: ”Katakanlah wahai Muhammad ihdina shirothol

mustaqqim (berikanlah petunjuk jalan yang lurus kepada kami)

kemudian Nabi Muhammad berkata lain, yaitu: alhimna thoriqol haadi (berikanlah petunjuk jalan yang penuh hidayah)”. Jumhur ulama, memaknai lafadz al-mahgdub adalah orang-orang Yahudi, sedangkan adh-dholiin ditujukan kepada orang-orang Nasrani. Melalui dialog yang dilakukan antara malaikat jibril As., dengan Rasulullah Saw., tampak jawaban yang meyakinkan dari Rasulullah yang mempertegas antara kaum Yahudi dan Nasrani. Hingga di sini dapat dipahami, bahwa lapadz shirothol mustaqqim yang dimaksud adalah jalan yang lurus yang terdapat di tengah-tengah antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Kedua golongan tersebut dimurkai dan dilaknat, karena sikap mereka yang tidak moderat.

Baik orang-orang Yahudi maupun Nasrani, keduanya telah melakukan perbuatan yang menyimpang dari kehendak Allah Swt. Kekeliruan terbesar yang membuat Allah memasukan orang-orang Yahudi ke dalam kategori al-mahgdub, karena mereka tega membunuh Nabi. Sedangkan orang-orang Nasrani dimasukkah ke dalam orang-orang adh-dholiin, karena menuhankan Nabi. Yahudi berlebihan-lebihan dalam melalukan sesuatu yang dilarang,

50

sedangkan Nasrani berlebih-lebihan dalam sesuatu yang dibolehkan.63

Oleh karena itu, agar umat manusia tidak terlalu hanyut terjerumus ke dalam pemahaman keagamaan orang-orang Yahudi dan Nasrani, Islam turun sebagai agama penengah agar umat manusia tidak selamanya terjebak ke dalam ekstremisme dan merasa paling benar sendiri. Konsep moderasi dalam agama terakhir (Islam), jika dibuat analogi (qiyas), laksana refree (wasit) dalam sebuah kejuaraan. Ia tidak memprioritaskan tim tertentu dan memojokkan tim yang lain. Ia bersikap netral dan bertindak dengan seadil-adilnya. Dengan demikian, penganut agama Islam dituntut untuk mampu berlaku bak wasit dalam sebuah kejuaraan, tanpa memandang suku, ras, agama, dan bangsa tertentu. Agama Islam diturunkan sebagai pembawa risalah moderat. Sikap dan karakter itulah yang harus terpatri pada setiap jiwa kaum Muslim. Jika sudah demikian, maka Islam dapat menjadi agama rahmatan lil-‘alamin --bagi seluruh umat manusia-- di tengah pergumulan pola keyakinan yang ekstrem dan fundamentalis yang mewabah pada satu dekade terakhir. Jika benar umat Islam adalah kumpulan orang-orang moderat sesuai prinsip dasar agama sebagai umatan wasathan, maka akan muncul pada diri mereka sebagai manusia-manusia pembawa rasa berkeadilan, kerkejujuran, berkebaikan, dan toleran terhadap semua orang.64

Selanjutnya, akan dikemukakan konsep moderat perspektif hadis. Penjelasan Alquran terkait dengan konsep moderasi sebetulnya sudah lebih dari cukup. Hal tersebut, karena kedudukan hadis merupakan mu’akkid (penguat) terhadap penjelasan Alquran. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan Rasulullah Saw., sebagai berikut:

63Yusuf Qaradhawi, Memahami Karakteristik Islam: Kajian Analitik, Terj. (Surabaya: Risalah Gusti, 1994), 147.

51

“Meriwayatkan kepada kami Salam ibn Junadah dan Ya’qub ibn Ibrahim berkata: meriwayatkan kepada kami Hafsh ibn giyats, dari Al-‘Amasy, dari Abi Sholih, dari Abi Said, dari Nabi Muhammad Saw., pada perkataan Rasulullah, wa kadzalika

ja’alnakum ummatan wasahtan (dan begitu pula kami jadikan

kalian umat yang adil), Rasulullah bersabda: ‘udhulan (adil).”

Dalam konteks hadis ini, Nabi Muhammad Saw., menjelaskan istilah wasathan dengan pengertian al-‘adl (adil). Jika demikian, dapat dipahami, bahwa posisi hadis di sini merupakan penguat terhadap penjelasan Alquran tentang makna wasath. Kuat dugaan, pengertian tersebut disandarkan pada hadis Rasulullah Saw.: “sebaik-baiknya perkara berada pada pertengahannya”.

Dengan mencermati beberapa penjelasan sebelumnya, dapat dipahami, bahwa prinsip moderat ialah sesuatu (orang, individu, kelompok, dan seterusnya) yang mampu menciptakan suasana harmonis, damai, toleran, tidak berada di pihak dan memihak, atas dasar saling menghormati dan menghargai. Dengan demikian, jika ia seorang Muslim, maka ia telah mampu meletakan dirinya sebagai proto-type rahmatan lil ‘alamin. Dengan demikian dapat dipahami pula, bahwa term moderat adalah sebuah penekanan mengenai Islam sebagai ajaran yang sangat membenci kekerasan dan mencintai kerukunan. Islam diturunkan dengan tujuan sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh masyarakat dunia).65

Dalam dokumen Gerakan Islam Moderat di Jawa Barat (Halaman 46-50)

Dokumen terkait