Penulis: Moulana
P
ernahkan anda menonton film Captain America: Civil War? Mungkin mayoritas dari kita sudah pernah menyaksikan film yang disutradarai oleh Russo bersaudara ini. Dirilis tahun 2016, film ini menceritakan konflik yang muncul diantara para super hero Avengers. Konflik tersebut bermula dari adanya perbedaan pendapat antara Captain America dengan Iron Man tentang perlu tidaknya Avenger diawasi oleh suatu panel yang berada di bawah kendali Perserikatan Bangsa-Bangsa.Desakan untuk mengawasi Avenger ini muncul setelah rentetan pertarungan Avenger mengakibatkan kerusakan di beberapa negara.
Sehingga, masyarakat global merasa sudah saatnya Avenger diawasi. Ada hal menarik yang dapat dipahami dari silang pendapat terkait urgensi pengawasan ini. Kubu Captain America menilai pengawasan akan membuat independensi
dan respon cepat mereka terganggu. Disisi lain, menurut kubu Iron Man pengawasan akan mencegah mereka dari pengambilan keputusan yang salah dan penggunaan kekuatan yang berlebihan.
Sama halnya dengan yang digambarkan di dalam film tersebut. Di dunia nyata, pandangan seseorang terhadap pengawasan tidak keluar dari dua cara pandang ini. Pihak yang kontra menilai pengawasan akan menghambat kinerja dan mengurangi kecepatan dalam merespon perubahan. Sedangkan pihak yang pro terhadap pengawasan menilai bahwa pengawasan dibutuhkan untuk mengendalikan penerima wewenang, agar wewenang yang telah didelegasikan dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Hal ini tentu sejalan dengan ungkapan dari Lord Acton, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely” (kekuasaan
Sumber: https://www.radioidola.com/2018/menakar-ancaman-revisi-uu-md3-bagi-demokrasi-bangsa/
itu cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut cenderung korup secara absolut). Sehingga tidak mengherankan jika konsep pengawasan erat kaitannya dengan teori hubungan keagenan.
Suatu teori yang menjelaskan hubungan antara prinsipal dan agen. Agen adalah pihak punya akses yang lebih besar terhadap sumber daya dibandingkan prinsipal. Jika agen memiliki kekuasan yang terlampau besar, pada suatu titik akan merugikan prinsipal. Sehingga prinsipal yang memiliki akses yang lebih sedikit terhadap sumber daya punya kepentingan untuk mengawasi agen. Di luar dari pertentangan diantara dua pihak ini, pengawasan harus dilaksanakan secara transparan, profesional dan memberi nilai tambah, bukan malah menggangu objek dan mencari-cari kesalahan.
Model hubungan keagenan telah menarik perhatian para ahli dalam beberapa dekade terakhir. Para ahli menelaah lebih jauh terkait model ini dari berbagai perspektif ilmu, seperti ilmu sosial, politik, ekonomi, psikologi. Misalnya, studi yang dilakukan oleh Smith dan Bertozzi (1998), dengan perspektif politik dan akuntansi, melihat adanya ketidakserasian interaksi hubungan di antara aktor anggaran publik.
Mereka menemukan bahwa ketidakharmonisan antara prinsipal dan agen membawa dampak pada proses kebijakan anggaran. Sementara, Carr dan Brower (2000), dari perspektif organisasi, menemukan perilaku oportunistik (prinsipal dan agen) yang digambarkan dalam organisasi pemerintahan lebih beragam dan rumit, apabila dibandingkan dengan model prinsipal-agen konvensional. Di samping itu, Waterman dan Meier (1998) dari perspektif politik ekonomi mengkritisi asumsi yang menjadi permasalahan model hubungan keagenan konvensional, yaitu konflik kepentingan dan informasi asimetri.
Mereka mengembangkan asumsi permasalahan dalam kerangka kerja teoretis yang lebih luas,
yaitu dari sudut pandang politik, birokrasi, dan anggaran.
Berkaitan dengan masalah keagenan, Lupia (2001), berargumentasi bahwa masalah keagenan muncul pada teori keagenan konvensional, karena adanya perbedaan kepentingan antara prinsipal dan agen, yang membawa konsekuensi pada biaya keagenan. Maknanya adalah semakin besar konflik prinsipal dan agen akan berdampak pada semakin besar biaya keagenan yang harus dikeluarkan untuk mengurangi terjadinya perbedaan kepentingan tersebut. Pengeluaran ini mempengaruhi kesejahteraan yang akan diperoleh prinsipal, karena pengeluaran tersebut ditujukan untuk mengurangi konflik.
Pengurangan kesejahteraan prinsipal ini dikenal dengan istilah value loss atau agency loss atau sering juga disebut residual loss. Namun jika berbicara mengenai konsep hubungan keagenan di pemerintahan dalam konteks anggaran, persoalan tidak sesederhana konsep keagenan konvensional. Seperti yang diungkap Moe (1984), hubungan keagenan sektor pemerintahan tidak dapat didekati sepenuhnya dengan pendekatan keagenan konvensional, karena beberapa pertimbangan.
Pertama, adanya perbedaan ideologi organisasi.
Ideologi dasar organisasi sektor publik (khususnya pemerintahan) adalah memaksimalkan social welfare dengan mengutamakan kepentingan publik (public interest) dan pelayanan kepada masyarakat (public service) di atas kepentingan lainnya. Sementara, ideologi yang terkandung dalam hubungan keagenan, umumnya, dan menjadi paradigma yang populer dalam penelitian akuntansi mainstream (aliran utama/
positivis) selama hampir dua dekade adalah ideologi kapitalisme dengan sikap individualis yang menempatkan self-interest sebagai sesuatu yang lebih dominan.
Kedua, teori keagenan konvensional hasil karya Jensen dan Meckling (1976) tidak dapat diaplikasikan dalam anggaran sektor pemerintahan, karena salah satu alat yang digunakan prinsipal untuk mengontrol agen adalah pemberian insentif. Insentif ini, umumnya, diukur berdasarkan pencapaian laba, sementara organisasi pemerintahan tidak memiliki laba sebagai alat ukur kinerja. Bentuk lain insentif adalah kepemilikan saham perusahaan oleh agen, sementara pemerintahan bukan terdiri atas saham yang dapat diperjualbelikan, dan atau diserahkan kepemilikannya pada segelintir orang. Organisasi ini adalah organisasi yang kepemilikannya bersifat kolektif dan tidak dimiliki oleh orang per orang.
Pada kenyataannya, hubungan keagenan pada organisasi pemerintahan menjadi suatu konsep yang penting. Hal ini disebabkan karena keseharian aktivitas organisasi tersebut selalu berhubungan dengan pendelegasian wewenang, seperti pada skala lokal, penyediaan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan beragam pelayanan lainnya yang berhubungan dengan masyarakat, semua didelegasi kepada level bawah. Masalahnya, sejauh ini belum tersedia sebuah konsep nyata (teori) yang mewadahi model hubungan keagenan di sektor pemerintahan. Studi-studi berkaitan dengan hubungan keagenan eksekutif-legislatif yang dilakukan para peneliti (Jones, 1986) telah mengelompokkan keterkaitan akuntansi sektor publik dengan model hubungan keagenan ke dalam sistem pengawasan, manipulasi anggaran, informasi asimetri, dan sistem insentif antara eksekutif dan legislatif.
Karakteristik permasalahan keagenan pada sektor publik yang memiliki perbedaan dengan permasalahan keagenan konvensional memerlukan penanganan yang berbeda pula.
Salah satunya ialah dengan mengefektifkan
peran dari Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Lembaga ini memiliki keunikan tersendiri, selain karena perannya yang lebih adaptif, yaitu dapat berperan sebagai pengawas dan juga sebagai konsultan intern, juga karena posisinya di dalam hubungan keagenan, disatu waktu dapat bertindak sebagai agen dan di waktu yang lain sebagai prinsipal.
Dalam konteks hubungan keagenan secara luas, APIP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu Lembaga pemerintahan (agen).
Akan tetapi jika dilihat dalam konteks yang lebih khusus (pimpinan Lembaga dengan Unit Kerja di bawahnya), APIP juga dapat bertindak sebagai prinsipal untuk menjamin visi, misi serta program kerja pimpinan Lembaga berjalan sesuai perencanaan dan aturan yang berlaku. Oleh karenanya, peran APIP yang efektif dengan cara menjaga independensi, profesionalitas dan integritas menjadi penting dalam mengelola permasalahan keagenan pada sektor publik.
Dan jika peran APIP tersebut berjalan secara efektif, maka akan memberikan nilai tambah dan terciptanya sistem pengendalian internal yang kuat.
Referensi
Carr, Jered B. & Ralph S. Brower. 2000. Principled opportunism: Evidence from the organizational middle. Public Administration Quarterly(Spring):
109-138.
Jensen, Michael and William Meckling. 1976. Theory of Firms; Managerial behavior, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial Economics. Vol.3.
Jones, M. J. 2008. Internal Control, Accountability and Corporate Governance. Accounting, Auditing & Accountability Journal.Vol. 21 (7), pp:
1052-1075.
Lupia, Arthur. 200. Delegation of Power: Agency Theory, dipublikasikan di Neil J. Smelser; dan Paul B. Baltes, 2001, (eds.), International Encyclopaedia of the Social and Behavioral Sciences, 5: 3375-3377, Elsevier Science Limited, Oxford, UK.
Moe, T. M. 1984. The new economics of organization. American Journal of Political Science28(5): 739-777
Smith, Robert W. & Mark Bertozzi. 1998. Principals and agents: An explanatory model of public budgeting. Journal of Public Budgeting, Accounting and Financial Management(Fall): 325-353.
Waterman R. W.; dan K. J. Meier. 1998. Principal-agent models: an expansion?, Journal of Public Administration. 8: 173-202.