• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makroalga yang ditemukan Pada 3 Stasiun Penelitian

4.1. Faktor Biotik Lingkungan

4.1.1. Makroalga yang ditemukan Pada 3 Stasiun Penelitian

4.1. Faktor Biotik Lingkungan

4.1.1. Makroalga yang ditemukan Pada 3 Stasiun Penelitian

Hasil identifikasi genus dan keberadaan makroalga pada 3 stasiun penelitian dapat dilihat seperti pada Tabel 4.1.1:

Tabel 4.1.1. Makroalga yang ditemukan Pada Tiga Stasiun Penelitian

KELAS ORDO FAMILI GENUS STASIUN

1 2 3 I. Chlorophyceae Cladophorales Cladophoraceae 1.Chaetomorpha + + + II. Rhodophyceae Cryptonemiales Corallinaceae 2. Amphiroa + + + Gelidiales Gelidiaceae 3. Gelidiella - - + 4. Gelidium + - - Gigartinales Gracilariaceae 5. Gracilaria + + +

Solieriaceae 6. Eucheuma + - - Rhodymeniales Rhodymeniaceae 7. Rhodymenia + - - III. Phaeophyceae Dictyotales Dictyotaceae 8. Padina + + +

Fucales Sargassaceae 9. Sargassum - - + 10. Turbinaria - + - Ket: (+) = ditemukan; (-) = tidak ditemukan

Dari Tabel 4.1.1. diketahui bahwa makroalga yang didapat pada seluruh stasiun penelitian adalah 3 kelas yang terdiri dari 7 ordo, 8 famili dan 10 genus. Adapun genus yang ditemukan, diidentifikasi berdasarkan ciri-ciri morfologi seperti bentuk tallus, panjang tallus, warna tallus, percabangan dan tempat melekat makroalga tersebut yaitu:

a. Chaetomorpha

Makroalga ini memiliki tallus yang menyerupai rambut atau benang kusut. Memiliki warna tallus berwarna hijau, banyak ditemukan menempel pada batuan, karang, jaring-jaring dsb. Dalam http://www.iptek.net.id, Chaetomorpha

memiliki tallus silindris menyerupai rambut atau membentuk gumpalan seperti benang kusut dan berwarna hijau. Makroalga ini banyak ditemukan di zona

pasang surut. Membentuk koloni yang tebal dan sering menutupi perairan. Menempel atau mengaitkan diri pada benda-benda padat seperti sisa tali, jaring atau sisa bangunan di perairan dangkal.

Gambar 4.2 Chaetomorpha b. Amphiroa

Makroalga ini ditemukan melekat pada terumbu karang dan bergerombol, berwarna merah kecoklatan. Tallusnya berukuran 3 cm dan tallusnya bercabang. Dalam http://www.iptek.net.id, Amphiroa merupakan genus makroalga yang berwarna merah dan mempunyai banyak cabang. Tallus berkapur mengandung Ca. Tallus membentuk hamparan setinggi 2-4 cm. Tinggi mencapai 5-10 cm. Tumbuh menempel pada dasar pasir atau menempel pada substrat dasar lainnya di dasar lamun. Persebarannya banyak terdapat di daerah tropis, seperti di Indonesia.

c. Gelidiella

Makroalga ini ditemukan menempel pada batuan dan karang mati. Memiliki tallus silindris dan bercabang tidak teratur. Warna tallus merah kecoklatan. Menurut Juneidi (2004), Gelidiella merupakan makroalga yang memiliki tallus silindris dengan percabangan tidak teratur. Tallus mempunyai ranting-ranting pendek. Tumbuh pada batu di intertidal atau subtidal. Menurut Sterrer (1986), Gelidiella hidup melekat pada substrat batu-batuan dan karang yang sudah tua/mati.

Gambar 4.3 Gelidiella

d. Gelidium

Makroalga ini memiliki warna merah, ukuran tallus 4 cm, ditemukan melekat pada karang mati, tallus bercabang dan berukuran kecil. Menurut Sterrer (1986), menyatakan bahwa Gelidium memiliki batang utama yang tegak, bercabang tipis, berukuran kecil, hidup soliter atau menyebar. Biasanya ditemukan pada perairan yang dangkal.

e. Gracilaria

Makroalga ini memiliki tallus berwarna hijau, tallusnya seperti agar, ditemukan menempel pada batuan karang, karang mati dan karang hidup. Tallus berbentuk silindris, licin. percabangan tidak teratur. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (2009), Genus Gracilaria mempunyai ciri-ciri tallus yang bulat dengan permukaan licin, bersegmen-segmen. Membentuk rumpun yang lebat dan tumbuh melebar, percabangan timbul pada setiap antar buku. Memiliki warna hijau hingga kekuning-kuningan, cartiginous.

Gambar 4.4 Gracilaria

f. Eucheuma

Makroalga ini memiliki tallus yang licin, berwarna coklat kemerahan, percabangan tidak teratur, terdapat tonjolan di pinggiran tallus, panjang tallus ± 6 cm. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (2009), Eucheuma

merupakan makroalga yang memiliki tallus silindris, permukaan licin,

cartiginous, memiliki warna coklat tua. Percabangan berlawanan arah, cabang tumbuh dari ruas tallus tetapi agak pendek dan mudah melekat pada substrat.

g. Rhodymenia

Makroalga ini memiliki tallus yang seperti lembaran, warna coklat kemerahan, tallus licin, halus, percabangan dichotomus, ditemukan melekat pada karang mati. Dalam http://www.iptek.net.id, Rhodymenia merupakan makroalga yang memiliki tallus membentuk lembaran, licin, halus, warna merah pirang. Pangkal batang utama tumbuh percabangan dichotomous atau trichotomous. Ujung lembaran urnumnya dichotom dengan pinggiran rata atau sedikit bergerigi. Biasanya makroalga ini tumbuh di rataan terumbu karang, yang terkena ombak.

Gambar 4.7 Rhodymenia

h. Padina

Makroalga ini memiliki tallus menyerupai lembaran kipas, tipis, berwarna hijau kekuningan, ditemukan melekat pada batuan, karang, batang pohon dan pasir. Dalam http://www.iptek.net.id, Padina memiliki ciri-ciri umum, yaitu tallusnya seperti kipas yang membentuk segmen-segmen lembaran tipis (lobus) dengan garis-garis berambut radial dan mengandung kapur di bagian permukaan daun. Warna tallus coklat kekuningan atau kadang memutih karena mengandung kapur. Padina biasanya ditemui meluas daerah rataan terumbu karang.

i. Sargassum

Makroalga ini memiliki tallus gepeng, licin, pinggirannya bergerigi. Memiliki batang utama silindris. Percabangan tallus dichotomous, panjang talus 2 cm, tinggi rumpun tallus 20-35 cm. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (2009), Sargassum memiliki tallus yang licin, agak gepeng, batang utama bulat agak kasar dan memiliki holdfast. Cabang pertama muncul pada bagian pangkal. Percabangan berselang-seling, pinggir daun bergerigi jarang, berombak dan ujung melengkung atau meruncing,

Gambar 4.9 Sargassum

j. Turbinaria

Makroalga ini memiliki batang utama yang silindris, tegak, kasar. Memiliki holdfast seperti cakram. Tallus berwarna hijau kecoklatan, kaku. Ditemukan melekat pada karang. Dalam Sterrer (1986), menyatakan bahwa

Turbinaria merupakan genus makroalga yang memiliki tinggi ± 15 cm, berwarna kecoklatan, memiliki holdfast untuk melekat pada batu-batuan. Tallus tegak dan bercabang.

Gambar 4.20 Turbinaria

Dari Tabel 4.1.1 dapat dilihat beberapa genus yang dapat ditemukan pada ketiga stasiun, yaitu: Chaetomorpha, Amphiroa, Gracilaria dan Padina. Keempat

genus ini merupakan genus makroalga yang dapat tumbuh meluas pada kondisi perairan yang memiliki substrat karang mati, batuan dan pasir. Genus

Chaetomorpha, Amphiroa, Gracilaria dan Padina merupakan genus makroalga yang dapat dijumpai di zona pasang surut bagian tengah hingga subtidal dan menempel pada batu karang atau pecahan karang mati dan tersebar meluas (http://www.iptek.net.id).

Menurut Connaughay dan Zatholi (1983), penyebaran makroalga dibatasi oleh daerah litoral dan sublitoral dimana masih terdapat sinar matahari yang cukup untuk dapat berlangsungnya proses fotosintesis. Menurut Kadi (2004), menyatakan bahwa penurunan produksi alami oleh pengaruh penyimpangan musim yang berakibat buruk tehadap pertumbuhan makroalga sebagai akibat dari faktor hidrologi yang tidak sesuai, sehingga pertumbuhan akan kerdil atau mati. Pertumbuhan dan kelangsungan hidup juga ditunjang oleh kestabilan substrat sebagai tempat tumbuh, yakni pengaruh aktivitas manusia sehari-hari di atas substrat "reef flats" di daerah terumbu karang yang dapat menimbulkan tekanan terhadap kehadiran dan keanekaragaman makroalga.

Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa makroalga banyak ditemukan pada stasiun 1 yaitu sebanyak 7 genus. Makroalga yang paling sedikit ditemukan pada stasiun 2 yaitu sebanyak 5 genus. Tingginya genus makroalga yang ditemukan pada stasiun 1 berhubungan dengan faktor fisik kimia perairan. Menurut Connel (1974) dalam Kadi (2008), menyatakan suatu lingkungan perairan dalam kondisi stabil akan menunjukan jumlah individu yang seimbang dari semua spesies yang ada, sebaliknya suatu lingkungan perairan yang berubah-ubah akan menyebabkan penyebaran jenis rendah dan cenderung ada individu yang dominan.

Menurut Suin (2002), menyatakan bahwa tingkat kekeruhan air pada suatu perairan akan mengakibatkan penyebaran organisme tumbuhan hijau seperti makroalga tidak begitu dalam, karena mengganggu jalannya proses fotosintesis. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (2009), menyatakan bahwa kecerahan pada suatu perairan sangat berhubungan erat dengan keberadaan makroalga. Kecerahan perairan yang ideal lebih dari 1 m. Air yang keruh

biasanya mengandung lumpur dan dapat menghalangi tembusnya cahaya matahari di dalam air sehingga proses fotosintesis makroalga terganggu.

4.1.2. Kerapatan Jenis Makroalga (K), Kepadatan Relatif (KR) dan

Dokumen terkait