B. Rumusan Masalah
Oleh karena itu, untuk mendapat gambaran secara jelas dan bisa melihat posisinya tersebut, maka perlu dilakukan pembedahan dan penelusuran pemikiran para aktor media tersebut. Sehingga rumusan permasalahannya adalah :
“Bagaimana kecenderungan konsep pemikiran para aktor media terhadap system penyiaran di Indonesia yang terekonstruksikan dalam proses gugatan di Mahkamah Konstitusi pada perkara No : 005/PUU‐I/2003, No : 030/PUU‐
IV/2006, No : 031/SKLN‐IV/2006, dan No : 6/PUU‐VII/2009?”
C. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana deskripsi dan konstruksi peta pemikiran system penyiaran para aktor media di Indonesia
2. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan ide dan konsep tentang system penyiaran dari para aktor media.
3. Untuk mengetahui posisi relasi aktor‐aktor dan aktor‐sistem dalam pemikiran konstruksi system penyiaran dalam proses gugatan tersebut
4. Untuk mengetahui makna yang ada di balik proses gugatan tersebut
5. Untuk mengetahui dan mengkaji konstruksi system broadcasting yang bisa diterima para aktor media.
D. MANFAAT
1. Dengan penelitian ini, maka akan diperoleh gambaran rekonstruksi system penyiaran para aktor media yang bergerak di broadcasting sehingga bisa memetakan pemikiran yang memberi manfaat di dalam proses pembuatan kebijakan
2. Dengan penelitian ini, maka diperoleh gambaran potensi permasalahan pelaksanaan UU 32/2002 baik secara konseptual maupun praktis
3. Dengan penelitian ini maka akan diperoleh kajian akademis yang bisa melacak peta pemikiran para aktor media penyiaran di Indonesia, yang memberi manfaat sebagai
bahan pertimbangan dalam proses pembuatan kebijakan di bidang media massa lainnya
4. Dengan studi ini, maka akan memperkuat landasan studi kebijakan di bidang komunikasi sebagai sebuah kajian yang penting di dalam pengembangan media massa dan ilmu komunikasi di Indonesia.
5. Dengan studi ini diharapkan bisa menemukan model dan tatacara penyusunan kebijakan di bidang media berdasarkan dari pemikiran aktor media.
E. KERANGKA PEMIKIRAN
1. Setting Politik dan Sistem Penyiaran yang Demokratis, Merugikan Publik ?
Ketika membicarakan sistem penyiaran yang demokratis, setidaknya ada dua hal yang perlu dipahami. Pertama adalah proses dan mekanisme proses pembuatan kebijakan melalui tahapan yang demokratis, dan yang kedua adalah hasilnya atau substansi isi kebijakannya pun memenuhi ukuran sebagai sebuah sistem penyiaran yang demokratis. Pernyataan ini penting, sebab sistem demokrasi mempunyai banyak variasi model, yang tidak setiap model bisa memberikan jaminan hasil substantive yang demokratis. Dalam tingkatan proses, Thomas Meyer dan Lew Hinchman (2002) memberikan gambaran tentang tiga variasi model demokrasi yang dikaitkan dengan media, terutama untuk melihat posisi media dalam proses politik dalam pembuatan kebijakan.2 Dalam model demokrasi as marketplace, proses dan mediasi dilakukan secara individual dan dilakukan secara bebas, sehingga media bisa berkolaborasi dengan kekuatan kapital dan kekuatan politik untuk mencapai tujuan masing‐masing yaitu pertumbuhan kekuasaan dan kapital.3 Dalam model demokrasi as participation, proses
2 Negara yang mengadopsi model demokrasi as a marketplace, atau as a participatory, atau as a civil society mempunyai focus perhatian terhadap dimensi politik sebagai polity (struktur dan kultur), Policy (deal yang diperoleh dari banyak kepentingan) dan political process (proses perjuangan untuk dialog, negosiasi, deliberasi dan mencapai consensus), hanya saja pembedanya kepada luasnya ruang publik yang disediakan untuk membangun dialog, deliberasi dan konsensus. Pada proses politik tersebut maka posisi media sangat penting. Dalam model as marketplace media ikut bermain sendiri secara bebas dalam pasar bebas, dalam model as participatory media sebagai alat sehingga relasi dan tindakannya ditentukan oleh kekuatan lain, sedangkan dalam model as civil society media berposisi sebagai intermediasi diantara kekuatan yang ada, sehingga relasi dan tindakannya untuk melakukan mediasi.
3 Lebih lanjut bisa baca McChesney, Robert W; The Problem of Media, US Communications Politics In The 21st Century, Mountly Review Press, New York, 2004 dan Bourdieu, Piere; Jurnalistik Televisi; Yayasan Kalamakara dan AKINDO, Yogyakarta, 2002 yang memberikan gambaran tentang bertemunya kepentingan media dan kepentingan politik untuk tujuanmasing‐masing.
dan mediasi dilakukan secara kelembagaan sehingga posisi media sering bersifat subordinasi, seperti yang terjadi di Italia dengan fenomena Berlusconi yang menjadikan media sebagai alat politiknya melakukan tekanan dan bargaining; sedangkan model demokrasi as civil society, proses dan mediasi dilakukan oleh masyarakat secara individual maupun terwakili dalam kelompok masyarakat. Posisi media menjadi bagian proses politik sebagai lembaga intermediasi.
Model demokrasi yang diukur dengan mengaitkan posisi media di dalam proses politiknya, bisa dilihat dalam banyak aspek. Siebert dkk (1958) melihat dari perspektif filsafat dan sejarah sosial yang dialami masyarakatnya, Chaudahry dan Martin (1983) melihat dari perspektif fungsional struktural dengan melihat peran, tujuan dan fungsinya di masyarakat, atau Habte (1983) dan McQuail (2000) menempatkan dalam perspektif strukturalis dalam konteks konstelasi kekuatan politik, ekonomi dan budaya masyarakatnya. Sedangkan Hallin dan Mancini (2004) melihat dari sisi relasi struktur politik dan struktur media, sehingga dihasilkan derajat intervensi terhadap institusi media.
Aspek‐aspek yang dilihat tersebut memang bisa dengan jelas menunjukkan perbedaan relasi media dalam proses politik, sebab berada di dalam sistem politik yang berbeda‐beda. Tentu berbeda dengan pandangan Meyer dan Hinchman, yang melihat relasi media dalam sistem politik yang sama, yaitu sistem demokrasi. Sehingga di dalam sebuah sistem yang demokratis di dalam satu Negara sekalipun, dalam proses politik pembuatan kebijakan sistem media bisa dihasilkan sistem media yang corak dan sistem relasi diantara institusi yang ada menghasilkan derajat demokrasinya tidak sama.
Bahkan bisa menghasilkan sebuah sistem yang tidak demokratis, sebagaimana digambarkan dan dikeluhkan oleh Robert W McChesney (2004) ketika memotret problem media di Amerika di abad 21. Bagi McChesney proses pembuatan kebijakan media massa di Amerika yang demokratis, telah di dominasi oleh korporasi dan elit politik dengan meninggalkan partisipasi publik. Sehingga kebijakan di bidang media yang dihasilkan di AS lebih memperhatikan pertimbangan untuk memberikan pelayanan kepada kepentingan korporasi, memaksimalkan profit dan kesehatan investor daripada
untuk menjaga berjalannya fungsi‐fungsi demokrasi, berjalannya sistem pemerintahan oleh warga serta terpeliharanya kesehatan budaya.
Dalam setting Indonesia, kekawatiran sebagaimana digambarkan McChesney pun terbuka sangat lebar untuk bisa terjadi di Indonesia. Di masa orde baru, hubungan patron‐klien antara penguasa dan pengusaha di dalam proses pembuatan kebijakan maupun di dalam proses pengendalian perilaku politik sangat menonjol baik untuk menentukan kebijakan politik, ekonomi dan media (Masoed, 1990; Muhaimin, 1991;
dan Dhakidae, 1991). Sehingga menurut Husein dan Hufron (2008) serta Mahfud (2009), menjadikan konstruksi hukum adalah produk sistem politik. Mahfud mengasumsikan bahwa konfigurasi politik yang demokratis akan melahirkan hukum yang responsive, sedangkan konfigurasi politik yang otoriter akan melahirkan hukum yang orthodox atau konservatif. Oleh karena itu, menurut Satjipto Raharjo (2009), terjadinya proses perubahan hukum selalu di awali dengan perubahan sosial di masyarakat. Semakin besar kesenjangan yang terjadi antara hukum yang mengatur dengan dinamika masyarakat, maka semakin besar tingkatan urgensi untuk melakukan perubahan hukum.
Dengan demikian proses reformasi sejak 1998 di Indonesia, tentu akan diikuti dengan proses perubahan hukum yang mengatur kepentingan kehidupan di masyarakat.
Persoalannya kemanakah arah perubahan paradigmatic yang terjadi di Indonesia ? Apakah menuju demokrasi as marketplace (melalui individu yang bebas dalam negosiasi), atau as participation (melalui kelompok yang representative dan subordinatif) atau as civil society (melalui individu dan kelompok dalam proses intermediasi) sebagaimana digambarkan Meyer dan Hinchman di atas ?.4 Ketika McChesney sangat risau dengan fisafat politik neoliberalisme yang dikembangkan AS, yang menjadikan korporasi dan elit dominan terhadap wacana dan proses politik dalam
4 Pandangan model demokrasi tersebut sejalan dengan tiga tipe teori demokrasi, yaitu : liberal individualism, pluralistic political democracy dan holistic socialism. Liberal Individualisme berbasis kepada persamaan universal bagi warga Negara dalam mengikuti proses politik. Individu yang mewakili dipilih secara bebas (one person one vote). Pluralistic political democracy tidak berdasar kepada kepentingan individu, tetapi agregasi kepentingan individu melalui kelompok kepentingan yang melakukan mediasi kompetisi kepentingan menuju social equilibrium. Sedangkan holistic socialism lahir dari kritik dan koreksi liberal individualism yang menjadikan relasi mandeg, memandang demokrasi harus menjamin terdistribusikannya sejumlah kebutuhan ekonomi sehingga kesejahteraan social menjadi dasar dan tujuan demokrasi politik. Tiga konsepsi dasar teori demokrasi ini hanya menguatkan adanya banyak variable dan model demokrasi yang bisa dijadikan dasar konstruksi kebijakan sistem media atau penyiaran. Selanjutnya lihat David Held, Models of Democracy, Polity and Akbar Tanjung Institute, Jakarta, 2006
pembuatan kebijakan publik, sebenarnya konstruksinya menyerupai gambaran demokrasi as marketplace‐nya Meyer dan Hinchman atau mirip dengan demokrasi korporasi‐nya Hallin dan Mancini. Indonesia juga mempunyai potensi menuju paradigm seperti tersebut di atas.
Ketika Sistem politik di Indonesia semakin menunjukkan sistem liberalism individual, yaitu dengan mengusung ikon “one man, one vote, one value” yang diwujudkan dengan sistim pemilihan langsung (pilkada, pilpres dan pileg serta pilkades yang sudah berlangsung jauh sebelumnya) dan sistem ekonomi menganut mekanisme pasar dalam jaring kapitalisme global, maka sistem demokrasi akan berpotensi cenderung mengarah kepada model as marketplace. Kuskrido Ambardi (2009) telah membuktikannya bahwa proses pembuatan kebijakan dan konstruksi pembuatan hukum dilakukan dengan sistem kartelisasi. Yaitu proses pengambilan keputusan lebih banyak di tentukan oleh kepentingan individu daripada kepentingan ideologis masing‐
masing partai. Kondisi tersebut mempunyai potensi tidak mempunyai kesatuan gagasan, visi dan paradigma yang konsisten. Kondisi tersebut sangat jauh dengan pandangan James Anderson (Winarno, 2002) yang menguraikan lima kategori nilai‐nilai yang dapat membantu mengarahkan perilaku para pembuat keputusan, yaitu nilai‐nilai politik, nilai organisasi, nilai pribadi, nilai kebijakan dan nilai ideology. Selain kondisi seperti tersebut diatas juga telah menafikkan fungsi hukum sebagai alat kontrol sosial (social engineering) sebagaimana gambaran Raharjo (2009a).5
Setting politik seperti hal tersebut, ditambah dengan proses transisi dari rezim otoriter ke rezim demokratis yang tidak tuntas, yang dalam pandangan Budi Winarno (2007) menunjukkan gerakan reformasi di Indonesia selama ini gagal membangun system politik yang baru. Reformasi hanya berhasil mengubah struktur politik dan refungsionalisasi, tetapi tidak tuntas membangun proses intitusionalisasinya. Reformasi juga gagal mengubah budaya politik yang menjadi faktor penting kuatnya sistem politik yang baru. Hal itu disebabkan oleh faktor birokrasi yang tidak tersentuh proses
5 Satjipto Raharjo (2009) melihat bahwa perubahan hukum yang didasarkan oleh perubahan dan dinamikamasyarakat bisa dilakukan melalui : (1) tekanan‐tekanan yang datang dari wilayah pemilihnya; (2) tuntutan partai atau golongannya; (3) tekanan‐tekanan kelompok kepentingan; (4) pengaruh system nilai yang dihayati; (5) dan kerangka norma‐norma, baik yang formal maupun informal.
perubahan secara mendasar, sehingga sistem birokrasi masih disebutnya dengan sistem pemerintahan yang patrimonial‐otoritarian.
Meskipun demikian, perubahan paradigma dari otoritarian dan sentralisasi menjadi demokratis dan desentralisasi, dan disusul dengan gelombang liberalisme dan individualisme yang datang bersama‐sama dengan globalisasi dan perkembangan tekonologi komunikasi dan informasi, tidak hanya memperlemah posisi dan peran pemerintah, tetapi juga memperkuat posisi masyarakat dan aktor‐aktor politikya. Dalam bahasa Pratikno (2007),”... pemerintah tidak bisa lagi memaksakan kehendaknya, akibat semakin kuatnya posisi aktor sosial, akibatnya kebijakan publik yang sebelumnya menjadi domain pemerintah, harus selalu dinegosiasikan.” Pada posisi ini, terkesan lepasnya proses subordinasi pemerintah, dan bergeser kepada posisi otonom dari para aktor media yang semakin kuat.
Selain itu, kebijakan nasional sistem penyiaran dalam konteks kebijakan publik, juga tidak mungkin melepaskan kekuatan elit politik atau pemerintah dan kekuatan publik yang salah satu diantaranya akan menjadi dominan dalam membentuk karakter sistem media (Habte, 1983) atau kekuatan politik dan kekuatan ekonomi atau pasar yang menjadi dasar terbentuknya institusi media (McQuail, 2000). Sehingga posisi aktor media, relasinya dan tarik menarik orientasi nilai yang terjadi, baik yang berada di dalam kekuatan publik, state dan pasar menjadi factor penting untuk terbentuknya karakter sistem media atau sistem penyiaran di sebuah negara.
Dalam setting politik dan model demokrasi yang seperti tersebut di atas, penelitian ini mencoba menelusuri pemikiran para aktor media di dalam mengkonstruksikan kebijakan nasional sistem penyiaran. Apakah pemikiran sistem penyiaran tersebut menempatkan aktor media dalam posisi mewakili dirinya sendiri, atau mewakili kelompok kepentingan dalam posisi subordinasi, atau menjadi representasi publik dengan posisi intermediasi, di dalam proses politik yang terjadi. Oleh karena itulah, konstruksi relasi aktor dan sistem, menjadi alat analisis yang bisa menjelaskan posisi aktor media dalam sistem penyiaran yang di persandingkan untuk merebut konstruksi dominannya.
2. Kebijaksanaan Nasional Sistem Penyiaran : menakar arah dan komitmen General Public Interest (GPI) dan Responsibility of Media (RoM)
Frame yang kedua untuk memahami sistem penyiaran di sebuah Negara adalah dengan melihat bagaimana isi atau substansi dari kebijakan nasional sistem penyiaran tersebut apakah sudah mencerminkan sebuah sistem penyiaran yang demokratis atau setidaknya bisa menunjukkan derajat demokrasi yang di bangun. Oleh karena itu perlu memahami tentang basic factor dan teori normative sistem broadcasting atau sistem media, sehingga kemudian akhirnya ditemukan frame untuk mengukur pemikiran sistem penyiaran, yaitu general publik interest (GPI) dan responsibility of media (RoM).
Donald R Browne (1989) melihat bahwa dalam membangun sebuah sistem penyiaran, harus mempertimbangkan basic factor yang dimiliki oleh sebuah Negara.
Yaitu karakteristik yang relative tetap dan tidak berubah drastis, serta melekat dan tidak terpisahkan oleh kondisi apapun yang dihadapi sebuah masyarakat atau Negara.
Menurut Browne, basic factor sistem penyiaran meliputi : geografi, demografi/language, ekonomi, kultur dan politik. Kondisi fisik, struktur kependudukan, kekuatan ekonomi masyarakat dan negara, kultur masyarakat dan pandangan politik adalah elemen dasar yang membentuk kelompok, komunitas dan entitas setempat. Oleh karena itu, system penyiaran bisa dilakukan secara terpusat, jika faktor geografis, kultur dan demografi memang relative homogen dan terjangkau. Bisa juga dilakukan secara terdesentralisasi dan berjaringan jika komposisinya sangat heterogen, luas dan multikultur.
Meskipun demikian, basic factor tersebut tetap akan memunculkan perbedaan cara memahami dan sudut pandang setiap aktor ketika sudah dihubungkan dengan kepentingan setiap aktor media. Sehingga akan memunculkan proses relasi, negosiasi dan bahkan perbenturan pandangan diantara para aktor media. Masalahnya adalah apakah proses tersebut bisa berlangsung secara fair dan adil sehingga mampu membangun sistem penyiaran nasional yang demokratis. Untuk itulah, maka perlu didiskusikan tentang standar minimal sebuah kebijakan nasional sistem media yang memenuhi aspek normatif sistem penyiaran yang sehat.
Menurut McQuail (2000) secara normatif ada lima elemen untuk melihat standar kebijakan media, yaitu media freedom, equality, diversity, information quality, social order and solidarity, dan cultural order. Atau secara minimal, menurut Cuilenburg dan Mcquail (2003), setidaknya mempunyai tiga prinsip inti yang harus ada dalam paradigma kebijakan komunikasi yang baru, yaitu freedom of communication, acces, dan control/accountability. Dengan demikian, setiap kebijakan tentang media atau penyiaran akan diukur dengan pertanyaan : bagaimana jaminan kebebasan medianya, apakah mempunyai kesamaan hak untuk menyebar dan menikmati aneka informasi yang berkualitas, dan mampu menjaga integrasi dan tata nilai dinamis yang berkembang di masyarakat.
Persoalannya adalah apakah dengan demikian kebijakan media atau penyiaran yang memberi jaminan lebih bebas dan lebih memberi hak dan kesempatan yang sama adalah kebijakan yang lebih baik ?. Meyer & Hinchman dan McChesney tentu mengatakan tidak, sebab untuk mencegah kemungkinan terjadinya aliansi korporasi dan kekuasaan, sebagaimana bisa terjadi di dalam setting politik demokrasi as marketplace..
Ada kekawatiran menjadikan masyarakat sebagai subyek pasar dan politik sebagaimana pandangan Croteau dan Hoynes (2004). Bahkan bisa memungkinkan terjadinya konsolidasi kepemilikan dan korporasi untuk melakukan mega‐mergers dalam rangka menghadapi globalisasi dan internasionalisasi, bisa dihindarkan (Doyle, 2002). Sebab kebebasan dan hak yang sama tersebut juga harus secara bersamaan mampu memberikan jaminan tersajinya kualitas informasi, keanekaragaman yang mampu memelihara nilai social dan budaya. Dalam bahasa Cuilenburg dan McQuail harus mampu memberikan jaminan general public interest (GPI). Dalam konteks ini, maka sebuah kebijakan bisa dilihat mempunyai kecenderungan GPI berdasarkan terpenuhinya ukuran‐ukuran terbentuknya kelembagaan menuju proses demokratisasi, kebebasan, partisipasi; terciptanya tatanan social yang adil, maju dan berkembang; serta ketersediaan infrastruktur, professional, efisien dan profit.
Padahal kenyataannya, sebagaimana sinyalemen Meyer & Hinchman dan McChesney, bahwa kebijakan nasional di bidang media sangat ditentukan oleh dinamika
relasi yang terjadi antara interest of state dan corporate interest yang berkepentingan untuk mendesakkan konstruksi dominannya. Oleh karena itu, menurut Cuilenburg dan McQuail, elemen utama sebuah kebijakan media harus bisa menjawab konteks permasalahan : tujuan dan sasaran yang dikehendaki, nilai dan kriteria untuk mencapai tujuan, beragam pelayanan isi dan komunikasi untuk menerapkan kebijakan, perbedaan pelayanan penyebarannya, ketersediaan ukuran dan alat implementasi kebijakan.
Dalam hal ini ukuran yang digunakan adalah terpenuhinya general public interets, yang meliputi political welfare, social welfare dan economic welfare.
Sebuah kebijakan nasional sistem penyiaran disebut mempunyai nilai political welfare jika mendorong terjadinya proses demokratisasi, kemerdekaan, dan persamaan hak. Nilai social welfare yang dimaksud harus mampu mendorong terjadinya proses integrasi dan kohesifitas sosial, keleluasaan akses, dan partisipasi. Sedangkan nilai economic welfare sebuah kebijakan nasional sistem penyiaran harus mampu menyiapkan sarana dan prasarana terbentuknya masyarakat informasi, dan tingkat kompetisi dan kepemilikan yang mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.6
Selain masalah perhatian terhadap GPI, perdebatan tentang sebuah kebijakan di bidang media massa atau system penyiaran tidak bisa meninggalkan pemahaman tentang responsibility of the media (RoM). Sebuah ungkapan yang mengacu kepada pertanggungjawaban media kepada masyarakat dan tatacara media mendengar dan mempertimbangkan public (Bardoel, 2004), atau “obligations and expectations”
(McQuail, 2000), atau dalam tingkatan social, masuk dan mendorong terbentuknya wilayah publicsphere (Habermas, 1996).
Persoalannya adalah siapa yang disebut dengan publik itu ? Ada yang memahami sebagai warga, consumer, audience, atau konstituen. (McQuail, 2000; Wiio, 1983). Oleh karena itu, logika tanggungjawab sosial media kepada masyarakat bisa berbeda‐beda
6 Ini sejalan dengan pandangan Osmo A Wiio (dalam Wiio, Osmo A. 1983. “The Mass Media Role in the Western World”
dalam Martin, John, J. dan Chaudhary, Anju Gover. 1983. Comparative Mass Media System. New York : Longman Inc.,) yang melihat kepemilikan, kebebasan dan keterbukaan sebagai faktor yang penting di dalam mengidentifikan dan mengkonstruksikan system penyiaran. Jadi pandangan Wiio dalam konteks penelitian ini, membantu memperkuat untuk mengidentifikasikan apakah system penyiaran yang digagas tersebut memberikan proporsi yang memadai untuk pengaturan kepemilikan sehingga bisa tercipta sebuah akses media yang lebih demokratis, memberi ruang ekspresi yang bebas dan terbuka.
alamat, cara perlakuan dan pendekatannya. Menurut Bardoel (2004), pertanggungjawaban media mempunyai empat mekanisme responsiblity of media (RoM), yaitu melalui market, politik, professional dan public. RoM melalui mekanisme market, jika ukuran yang digunakan adalah mempertimbangkan kemampuan dan struktur pasar. RoM melalui mekanisme politik jika ukuran yang digunakan adalah pertimbangan efektifitas, struktur dan hirarki kekuasaan norma hukum. RoM melalui mekanisme professional jika ukuran yang digunakan mempertimbangkan mekanisme dan nilai kerja professional yang diatur dalam kode etik. Sedangkan RoM melalui mekanisme publik jika ukuran yang digunakan adalah terbukanya akses kepentingan dan partisipasi sukarela publik.
Dengan memahami konsep dan teori tentang penyiaran seperti tersebut diatas, maka konstruksi kebijakan nasional sistem penyiaran dalam penelitian ini, akan dilihat dengan menjadikan GPI dan RoM sebagai frame atau kerangka berpikir untuk menilai pemikiran masing‐masing aktor media dalam membangun sistem penyiaran yang diinginkannya. Sehingga pemetaan pemikiran bisa dilihat dari isu‐isu yang dimunculkan dan menjadi pro‐kon oleh aktor media, kemudian direkonstruksikan dalam konsep pemikiran sistem penyiaran atau dalam bahasa Brainard adalah “regulatory regime”
(Wahyuni, 2008). Brainard menyatakan bahwa sebuah struktur terbangun dari ideas, institusions dan policies. Artinya setiap ide harus ada pelembagaannya dan materi aturannya. (deskripsi lebih lanjut dijelaskan dalam Bab II)
3. Posisi Aktor Media dan Teori Pilihan Rasional
Dalam penelitian ini, dijadikannya aktor media sebagai fokus kajian, disamping posisinya yang penting dan lebih otonom dalam konstelasi dan setting politik saat ini, juga karena relasi diantara aktor media dan relasinya dengan sistem atau struktur akan menjadi dasar model konstruksi kebijakan nasional sistem penyiaran. Yang disebut aktor media dalam penelitian ini, sebagaimana pandangan Bardoel dan d’Haenens (2004) meliputi organisasi media, perusahaan media, warga, badan pengawas dan komisi.
Dalam lingkungan masyarakat, meminjam isitilah Dietz dan Burns tentang aktor social
(Ritzer&Goodman, 2003), maka aktor media di dalam dirinya melekat suatu kekuasaan, yang mampu menciptakan perbedaan; bertindak dengan sengaja; mempunyai pilihan dan peran yang bebas; dan harus reflektif dan mampu memonitor tindakan mereka serta mampu menggunakan pengetahuannya untuk melakukan modifikasi basis tindakannya.7
Dengan demikian tindakan aktor media yang secara sadar untuk melakukan gugatan terhadap UU 32/2002 tentang penyiaran adalah tindakan sadar aktor media untuk melakukan perubahan paradigmatik dan memonitor basis tindakannnya, terutama terkait dengan tatacara relasinya dengan aktor media lain atau dengan sistem penyiarannya. Perilaku sadar aktor media yang ingin melakukan perubahan paradigmatik basis tindakannya itulah, yang dalam penelitian ini akan ditelusuri secara
Dengan demikian tindakan aktor media yang secara sadar untuk melakukan gugatan terhadap UU 32/2002 tentang penyiaran adalah tindakan sadar aktor media untuk melakukan perubahan paradigmatik dan memonitor basis tindakannnya, terutama terkait dengan tatacara relasinya dengan aktor media lain atau dengan sistem penyiarannya. Perilaku sadar aktor media yang ingin melakukan perubahan paradigmatik basis tindakannya itulah, yang dalam penelitian ini akan ditelusuri secara