• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.3. Tujuan dan Mamfaat Penelitian

1.3.2. Mamfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, mamfaat penelitian yang diharapkan adalah sebagai berikut :

1. Bagi Lembaga Akademik.

Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan kualitas pengajaran, sehingga menambah mutu lulusan sebagai pekerja intelektual yang siap

pakai sesuai kebutuhan pasar dan membantu membuat kurikulum dalam sistem pendidikan akuntansi yang relevan dalam dunia kerja saat ini.

2. Bagi Mahasiswa Akuntansi.

Dapat memberikan informasi kepada mahasiswa akuntansi yang ingin berprofesi sebagai akuntan publik.

3. Bagi Peneliti

a. Diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa akuntansi dalam pemilihan karier sebagai akuntan publik.

b. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi peneliti yang lain.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Pengertian Mahasiswa Akuntansi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi”. Definisi akuntansi yang dikemukakan oleh American Institute of Certified Public Accounting (AICPA) yaitu :

“akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian yang umunya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya” (Harahap, 2012). Dari kedua pengertian diatas, peneliti mengambil kesimpulan bahwa pengertian mahasiswa akuntansi adalah orang yang menuntut ilmu di perguruan tinggi dengan mengambil jurusan akuntansi.

2.1.2. Teori Pengharapan

Konsep dari pemilihan karier ini berhubungan dengan teori motivasi, yakni teori pengharapan (expectancy theory). Motivasi adalah serangkain sikap dan nilai-nilai yang spesifik sesuai dengan tujuan individu. Sikap dan nilai tersebut merupakan hal yang tidak terlihat yang dapat memberikan kekuatan untuk mendorong individu bertingkah laku dalam mencapai tujuan (Aprilyan, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mahasiswa Akuntansi dalam Pemilihan

Karir Menjadi Akuntan Publik (Studi Empiris pada Mahasiswa Akuntansi UNDIP dan Mahasiswa Akuntansi UNIKA). Skripsi, 2011). Dewasa ini penjelasan yang paling diterima secara luas mengenai motivasi adalah teori pengharapan dari Victor Vroom, dalam istilah yang lebih praktis, teori pengharapan mengatakan bahwa karyawan akan berupaya lebih baik dan lebih keras jika karyawan tersebut meyakini upaya itu menghasilkan penilaian kinerja yang baik. Penilaian kinerja yang baik akan mendorong imbalan organisasi seperti bonus, kenaikan penghargaan finansial/ gaji atau promosi. Dan imbalan tersebut akan memenuhi sasaran pribadi karyawan tersebut. Oleh karena itu, teori tersebut berfokus pada tiga hubungan (Aprilyan, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mahasiswa Akuntansi dalam Pemilihan Karir Menjadi Akuntan Publik (Studi Empiris pada Mahasiswa Akuntansi UNDIP dan Mahasiswa Akuntansi UNIKA). Skripsi, 2011) :

1. Hubungan upaya-kinerja. Probabilitas yang dipersepsikan oleh individu yang mengeluarkan sejumlah upaya tertentu itu akan mendorong kinerja.

2. Hubungan kinerja-imbalan. Sampai sejauh mana individu itu meyakini bahwa berkinerja pada tingkat tertentu akan mendorong terciptanya kinerja yang diinginkan.

3. Hubungan imbalan-sasaran pribadi. Sampai sejauh mana imbalan-imbalan organisasi memenuhi sasaran atau kebutuhan pribadi individu serta potensi daya tarik imbalan tersebut bagi individu tersebut.

Secara singkat, kunci dari teori pengharapan adalah pemahaman sasaran individu dan keterkaitan antara upaya dan kinerja, antara kinerja dan imbalan.

Oleh karena itu, pemilihan karier mahasiswa akuntansi ditentukan oleh pengharapan akan karier yang akan mereka pilih apakah karier tersebut dianggap dapat memenuhi kebutuhan individu dan apakah karier tersebut mempunyai potensi daya tarik bagi mereka. Misalnya apakah karier tersebut dapat memberikan imbalan organisasi yang layak seperti bonus, kenaikan penghargaan finansial/ gaji atau promosi. Dengan kata lain mahasiswa mempunyai pengharapan terhadap karier yang dipilihnya ini dapat memberikan apa yang mereka inginkan ditinjau dari faktor-faktor motivasi, gender, penghargaan finansial, pelatihan profesional dari IAPI, pengakuan profesional, lingkungan kerja, pertimbangan pasar kerja, dan personalitas.

2.1.3. Profesi Akuntan Publik

Menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 2011 Tentang Profesi Akuntan Publik menyatakan bahwa :

profesi akuntan publik merupakan suatu profesi yang jasa utamanya adalah jasa asurans dan hasil pekerjaannya digunakan secara luas oleh publik sebagai salah satu pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, profesi akuntan publik memiliki peranan yang besar dalam mendukung perekonomian nasional yang sehat dan efisien serta meningkatkan transparansi dan mutu informasi dalam bidang keuangan.

Akuntan publik merupakan akuntan profesional yang menjual jasanya kepada masyarakat, terutama bidang pemeriksaan terhadap laporan keuangan

yang dibuat oleh kliennya. Pemeriksaan tersebut terutama ditujukan untuk memenuhi kebutuhan para kreditor, investor, calon kreditor, calon investor, dan instansi pemerintah (terutama instansi pajak). Disamping itu akuntan publik juga menjual jasa lain kepada masyarakat seperti, konsultasi pajak, konsultasi bidang manajemen, penyusun sistem akuntansi, dan penyusun laporan keuangan (Mulyadi, 2002).

Jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah pemeriksaan atas laporan keuangan serta konsultasi di bidang keuangan. Jenis pekerjaan tersebut mencerminkan seorang akuntan yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) akan selalu berhubungan dengan klien, yaitu perusahaan yang meminta jasa pada kantor akuntan publik (Sari, 2016).

Bekerja di KAP dapat mengetahui berbagai macam perusahaan terutama perlakuan auditnya, sering bepergian keluar kota untuk mengaudit klien.

Pengalaman di KAP membuat seorang individu dicari oleh perusahaan karena dianggap telah menguasai akuntansi sesuai standar yang berlaku. Namun bekerja di KAP juga terdapat kekurangannya, seperti pekerjaan yang melebihi perusahaan biasa yang mengharuskan lembur (Astuti, 2014).

Jika seseorang memasuki karier sebagai akuntan publik, ia harus terlebih dahulu mencari pengalaman profesi di bawah pengawasan akuntan senior yang lebih berpengalaman. Di samping itu pelatihan teknis yang

mempunyai cukup arti pula bahwa akuntan harus mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia usaha dan profesinya (Mulyadi, 2002).

Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 2011 Tentang Akuntan Publik Pasal 6, izin menjalankan praktik sebagai akuntan publik diberikan oleh Menteri Keuangan jika seseorang memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Memiliki sertifikat tanda lulus ujian profesi akuntan publik yang sah;

2. Berpengalaman praktik memberikan jasa asurans dan jasa lainnnya yang berkaitan dengan akuntansi, keuangan, dan manajemen;

3. Berdomisili di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;

4. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak;

5. Tidak pernah dikenai sanksi administratif berupa pencabutan izin Akuntan Publik;

6. Tidak pernah dipidana yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih;

7. Menjadi anggota Asosiasi Profesi Akuntan Publik yang ditetapkan oleh Menteri;

8. Tidak berada dalam pengampunan.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 tahun 2011 Tentang Akuntan Publik, jenis jasa yang diberikan oleh akuntan pubik yaitu :

1. Jasa asurans yaitu jasa akuntan publik yang bertujuan memberikan keyakinan bagi pengguna atas hasil evaluasi atau pengukuran atas informasi keuangan dan non keuangan berdasarkan suatu kriteria.

2. Jasa lainnya yang berkaitan dengan akuntansi, keuangan, dan manajemen yaitu : jasa audit kinerja, jasa internal audit, jasa perpajakan, jasa kompilasi laporan keuangan, jasa pembukuan, jasa prosedur yang disepakati atas informasi keuangan, dan jasa sistem teknologi informasi.

Jenjang karier pada profesi akuntan publik cukup jelas. Berikut gambaran jenjang karier akuntan publik (Mulyadi, 2002) :

1. Auditor Junior, bertugas melaksanakan prosedur audit secara rinci, membuat kertas kerja untuk mendokumentasikan pekerjaan audit yang telah dilaksanakan.

2. Auditor Senior, bertugas untuk melaksanakan audit dan bertanggung jawab untuk mengusahakan biaya audit dan waktu audit sesuai rencana, mengarahkan dan me-review pekerjaan auditor junior.

3. Manajer, merupakan pengawas audit yang bertugas untuk membantu auditor senior dalam merencanakan program audit dan waktu audit; me-review kertas kerja, laporan audit dan management letter.

4. Partner, bertanggung jawab atas hubungan dengan klien dan bertanggung jawab secara keseluruhan mengenai auditing.

Akuntan publik dapat dikatakan sebagai suatu profesi karena telah memenuhi syarat suatu pekerjaan yang bersifat profesional. Menurut Rachman

(2011), suatu pekerjaan dapat dikatakan profesional apabila telah memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Menguasai keahlian intelektual melalui pendidikan dan pelatihan yang sudah cukup lama;

2. Praktik umum yang memberikan pelayanan kepada masyarakat;

3. Bertindak objektif dalam menguasai masalah;

4. Mensubordinasikan kepentingan pribadi;

5. Terdapat perhimpunan atau ikatan independen yang dapat menetapkan standar persyaratan yang berlaku bagi setiap anggotanya serta membina dan mengembangkan keahlian dan standar pelayanan;

6. Terdapat forum pertukaran pendapat, pengetahuan dan pelayanan antar rekan sejawat dalam meningkatkan fungsi.

2.1.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Karier Sebagai Akuntan Publik

Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah : 1. Motivasi

Motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi sangat penting dimiliki setiap individu dalam dirinya karena motivasi menyebabkan individu mau bekerja giat dan antusias mencapai

hasil yang optimal (Sembiring, 2009). Motivasi pada dasarnya dibagi menjadi dua jenis utama yaitu :

a. Motivasi intrinsik (motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang) yang disebut juga motivasi murni.

b. Motivasi ekstrinsik (motivasi yang timbul disebabkan faktor dari luar diri seseorang) seperti kenaikan pangkat, pujian, hadiah, dan lain-lain.

Menurut Herawati (2015) orang mau bekerja karena faktor-faktor berikut : a. The Desire to Live (keinginan untuk hidup)

Keinginan untuk hidup merupakan keinginan utama dari setiap orang, manusia bekerja untuk dapat makan dan makan untuk dapat melanjutkan hidupnya.

b. The Desire for Position (keinginan untuk suatu posisi)

Keinginan untuk suatu posisi dengan memiliki sesuatu merupakan keinginan manusia yang kedua dan ini salah satu sebab mengapa manusia mau bekerja.

c. The Desire for Power (keinginan akan kekuasaan)

Keinginan akan kekuasaaan merupakan keinginan selangkah diatas keinginan untuk memiliki, yang mendorong orang mau bekerja.

d. The Desire for Recognition (keinginan akan pengakuan)

Keinginan akan pengakuan, penghormatan, dan status sosial merupakan jenis terakhir dari kebutuhan yang mendorong orang untuk bekerja. Dengan demikian setiap pekerja mempunyai motif keinginan (want) dan kebutuhan (needs) tertentu dan mengharapkan kepuasan dan hasil kerjanya.

2. Gender

Sunarto (2004) menjelaskan bahwa konsep gender tidak mengacu pada perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki, melainkan pada perbedaan psikologis, sosial, dan budaya yang dikaitkan masyarakat antara laki-laki dan perempuan.

Gender merupakan hal yang dipertimbangkan dalam pemilihan karier sebagai akuntan publik. Andersen (2012) berpendapat bahwa perbedaan gender menjadi salah satu penghambat dalam memilih dan menentukan profesi pada mahasiswa akuntansi. Berdasarkan faktor kesetaraan gender, kebanyakan mahasiswa lebih memilih untuk menjadi akuntan pendidik karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan dasar nilai etika dalam proses membuat keputusan.

3. Penghargaan Finansial

Penghargaan finansial atau gaji merupakan hasil yang diperoleh sebagai kontraprestasi dari pekerjaan yang telah diyakini secara mendasar bagi sebagian besar perusahaan sebagai daya tarik utama untuk memberikan kepuasan kepada karyawannya. Kompensasi finansial yang rasional menjadi kebutuhan mendasar bagi kepuasan kerja. Penelitian sebelumnya menegaskan bahwa dalam melakukan pertimbangan pemilihan karier, para mahasiswa lulusan jurusan akuntansi menempatkan penghargaan finansial atau gaji sebagai alasan utama (Aprilyan, 2011). Herawati (2015) menemukan bahwa orang-orang bisnis,

psikologi, dan bidang pendidikan selain akuntansi beranggapan bahwa akuntansi menawarkan penghasilan yang lebih tinggi daripada pekerjaan di bidang pemasaran, manajemen umum, keuangan dan perbankan.

Penghargaan finansial dalam profesi akuntan publik diatur oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) dalam surat keputusan No.

KEP.024/IAPI/VII/2008 tentang Kebijakan Penentuan Fee Audit. Surat keputusan ini diterbitkan sebagai panduan bagi akuntan publik dalam menetapkan besaran imbalan yang wajar atas jasa profesional yang diberikannya. Dalam menetapkan imbalan jasa, Akuntan Publik harus mempertimbangkan :

1. Kebutuhan klien;

2. Tugas dan tanggung jawab menurut hukum;

3. Independensi;

4. Tingkat keahlian dan tanggung jawab yang melekat pada pekerjaan yang dilakukan, serta tingkat kompleksitas pekerjaan;

5. Banyaknya waktu yang diperlukan dan secara efektif digunakna oleh anggota dan stafnya untuk menyelesaikan pekerjaan; dan

6. Basis penetapan fee yang disepakati.

Tarif harus ditetapkan dengan memperhitungkan :

1. Gaji yang pantas untuk menarik dan mempertahankan staf yang kompeten dan berkeahlian;

2. Imbalan lain di luar gaji;

3. Beban overhead, termasuk yang berkaitan dengan pelatihan dan pengembangan staf, serta riset dan pengembangan;

4. Jumlah jam tersedia untuk suatu periode tertentu (projected charge out-time) untuk staf profesional dan staf pendukung; dan

5. Marjin laba yang pantas.

4. Pelatihan Profesional dari IAPI

Untuk memenuhi persyaratan sebagai seorang profesional, akuntan publik harus menjalani pelatihan teknis dan berpelangaman di bidang auditing, antara lain memiliki pengalaman kerja di KAP minimal 3 tahun yang setara dengan 4000 jam, serta pendidikan profesional yang berkelanjuatan selama menjalani karier sebagai akuntan publik. Mahasiswa akuntansi yang memilih karier menjadi akuntan publik memerlukan pelatihan kerja. Hal ini dimaksudkan karena untuk menjadi seorang akuntan publik yang dapat melaksanakan pekerjaan audit dengan baik, tidak cukup hanya dengan bekal pendidikan formal semata tetapi juga harus ditunjang oleh pengalaman praktek di lapangan dengan jam kerja yang memadai (Herawati, 2015).

5. Pengakuan Profesional

Pengakuan profesional ini dapat dikategorikan sebagai penghargaan yang tidak berwujud finansial. Pengakuan secara formal diberikan oleh suatu badan atau lembaga yang mempunyai kewenangan untuk itu, yaitu pemerintah

dan/atau organisasi profesi, dalam hal ini pengakuan dari IAI berlaku untuk orang yang memenuhi kualifikasi sebagai akuntan profesional. Sedangkan secara informal pengakuan itu diberikan oleh masyarakat luas dan para pengguna jasa, dalam hal ini jasa akuntan publik.

Aprilyan (2011) mengungkapkan bahwa mahasiswa tingkat IV menganggap bahwa profesi akuntan publik lebih mengakui prestasi dan memberi kesempatan yang lebih besar untuk berkembang daripada profesi akuntan perusahaan. Merdekawati dan Sulistyawati (2011) mengungkapkan elemen-elemen dalam pengakuan profesional diantaranya adalah adanya pelatihan kerja, adanya pelatihan profesi, adanya pengakuan profesi, pengalaman kerja yang bervariasi, kesempatan berkompetisi dan perlunya keahlian untuk mencapai sukses. Hal ini dapat dikatakan bahwa pengakuan profesional dapat diukur melalui adanya kesempatan untuk berkembang yang diberikan, adanya pengakuan apabila berprestasi, memiliki cara untuk naik pangkat, dan memilik keahlian untuk mencapai sukses agar dapat diakui.

6. Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja merupakan sesuatu yang berkaitan dengan sifat pekerjaan, tingkat persaingan dan banyaknya tekanan kerja. Lingkungan kerja diuji dengan pernyataan mengenai sifat pekerjaan (rutin, atraktif, sering lembur). Herawati (2015) mengungkapkan bahwa mahasiswa yang memilih profesi sebagai akuntan publik menganggap jenis pekerjaannya tidak rutin,

akan tetapi pekerjaannya mempunyai banyak tantangan dan tidak dapat dengan cepat terselesaikan. Dengan mengetahui lingkungan kerja masing-masing profesi maka dapat memberikan pertimbangan yang matang sebelum memilih karir apa yang cocok untuk dijalani. Oleh karena itu, lingkungan kerja akuntan publik perlu dipertimbangkan sebelum memilih karier tersebut.

7. Pertimbangan Pasar Kerja

Pertimbangan pasar kerja adalah hal yang dipertimbangkan oleh seseorang dalam memilih sebuah pekerjaan, karena setiap pekerjaan mempunyai peluang dan kesempatan yang berbeda-beda. Profesi yang memiliki pasar kerja yang luas akan lebih diminati daripada profesiyang pasar kerjanya lebih kecil (Zaid, 2015).

Pasar kerja merupakan suatu hal yang perlu dipertimbangkan sebelum seseorang memilih kariernya. Seperti pada masa sekarang ini telah dibuka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan memberikan peluang dan tantangan yang cukup besar bagi profesi akuntan publik. Akuntan publik sebagai salah satu jenis profesi yang mampu memberikan peluang dalam dunia kerja saat ini karena akuntan publik merupakan salah satu profesi yang dapat membantu perusahaan domestik maupun multinasional yang memerlukan bantuan audit keuangan dalam rangka pelaporan perpajakan dan juga sebagai informasi bagi investor dalam kegiatan investasinya.

8. Personalitas

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “personalitas adalah keseluruhan reaksi psikologis dan sosial seorang individu, sintesis kehidupan emosionalnya dan kehidupan mentalnya, tingkah laku dan reaksinya terhadap lingkungan”. Herawati (2015) menyebut personalitas sebagai kepribadian yang juga berarti “ciri-ciri watak seseorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus”. Hal ini menjelaskan bahwa personalitas berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang dalam lingkungannya. Personalitas mencerminkan kepribadian seseorang dalam bekerja secara profesional.

2.2. Review Penelitian Terdahulu

Beberapa peneliti telah melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa akuntansi dalam pemilihan karier sebagai akuntan publik antara lain oleh :

Publik Oleh

karier. Hasil ini sangat

Secara parsial variabel lingkungan kerja tidak

pelatihan profesional,

Secara parsial nilai-nilai sosial, pertimbangan pasar

berkarir sebagai akuntan publik.

Secara simulan variabel motivasi, gender,

Variabel yang paling berpengaruh dalam penelitian ini adalah personalitas.

Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara

 Gender tidak berpengaruh terhadap minat mahasiswa akuntansi untuk berkarir menjadi akuntan publik.

 Penghargaan finansial dan pertimbangan pasar kerja berpengaruh signifikan terhadap minat mahasiswa akuntansi untuk berkarier

Untuk

Publik (Y) menjadi akuntan publik.

Gender, penghargaan

Hasil dari penelitian M. Simba Sembiring (2009) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan karir menjadi akuntan publik oleh mahasiswa departemen akuntansi fakultas ekonomi usu medan adalah variabel penghargaaan finansial, pelatihan profesional, pengakuan profesional, nilai-nilai sosial, lingkungan kerja, pertimbangan pasar kerja, dan personalitas berpengaruh secara simultan dan positif terhadap pemilihan profesi menjadi Akuntan Publik. Sementara itu secara parsial hanya variabel pengakuan profesional yang berpengaruh secara signifikan terhadap pemilihan karir sebagai Akuntan Publik. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi USU Program Strata-1 Reguler Angkatan 2005 dan 2006, sampel penelitian ditentukan secara Purposive Sampling, dan data diolah dengan teknik analisis Regresi Berganda.

Penelitian yang dilakukan oleh Satoshi Sugahara dan Gregory Boland (2009) berjudul “The Accounting Profession as a Career Choice for Tertiary Business Students in Japan-A factor Analysis”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara faktor yang mempengaruhi profil karier antara

mahasiswa akuntansi dan non-akuntansi. Pengaruh utama yang mempengaruhi pilihan mahasiswa jurusan akuntansi didasarkan pada nilai-nilai intrinsik. Mahasiswa non-akuntansi menunjukkan prospek karier sebagai faktor utama ketika memilih karier. Ruang lingkup penelitian Satoshi Sugahara dan Gregory Boland ini dilakukan di Jepang dan Teknik analisis dengan Eksploratori Faktor Analisis Uji t.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuanita Widyasari (2010) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi mahasiswa mengenai pemilihan karir ditinjau dari faktor gaij, pelatihan profesional, pengakuan profesional, nilai-nilai sosial, lingkungan kerja, pertimbangan pasar kerja. Sedangkan ditinjau dari faktor personalitas tidak ada perbedaan persepsi mahasiswa. Populasi penelitian Yuanita Widyasari ini adalah mahasiswa akuntansi Universitas Diponegoro dan Unika Soegijapranata Semarang Angkatan 2004 – 2008, sampel didasarkan pada formula Yamane dan analisis data dengan One Way Anova.

Hasil penelitian Lara Absara Aprilyan (2011) menunjukkan secara simultan variabel nilai intrinsik pekerjaan, gaji, lingkungan kerja, pertimbangan pasar kerja, dan personalitas berpengaruh signifikan terhadap pemilihan karir menjadi akuntan publik oleh mahasiswa akuntansi. Sementara itu secara parsial variabel lingkungan kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemilihan karir menjadi akuntan publik.. Populasi penelitian ini dilakukan pada mahasiswa akuntansi UNDIP dan UNIKA yang berlokasi di Semarang, sampel penelitian ditentukan secara Purposive Sampling dan analisis data dengan analisis Regresi Berganda menggunakan SPSS versi 17.

Hasil penelitian Anita Astuti (2014) menunjukkan bahwa faktor penghargaan finansial, pengakuan profesional, nilai-nilai sosial, pertimbangan pasar kerja, personalitas, lingkungan kerja dan nilai intrinsik pekerjaan secara simultan mempengaruhi minat mahasiswa akuntansi menjadi akuntan publik. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi Universitas Kristen Satya Wacana Angkatan 2008 – 2010, sampel penelitian ditentukan secara Purposive Sampling. Alat analisis data dengan analisis Regresi Berganda serta ukuran sampel diukur dengan formula Yamane.

Hasil penelitian Lily Herawati (2015) menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok dan mahasiswa akuntansi Universitas Sumatera Utara, Universitas Negeri Medan, dan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi minat berkarir sebagai akuntan publik.

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa akuntansi berkarir sebagai akuntan publik adalah variabel motivasi, gender, penghargaan finansial, pelatihan profesional, pengakuan profesional, nilai-nilai sosial, lingkungan kerja, pertimbangan pasar kerja dan personalitas berpengaruh secara simultan terhadap minat mahasiswa akuntansi berkarir sebagai akuntan publik. Sementara itu secara parsial motivasi, gender, penghargaan finansial, pelatihan profesional, pengakuan profesional, dan lingkungan kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap minat mahasiswa akuntansi berkarir sebagai akuntan publik. Variabel yang paling berpengaruh dalam penelitian ini adalah personalitas. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi USU, Universitas Negeri Medan, dan UISU Angkatan 2011 dan 2012, sampel

penelitian ditentukan secara Purposive Sampling. Serta analisis data dengan analisis Regresi Linear Berganda, dan ukuran sampel diukur dengan formula Slovin.

Hasil penelitian Muhammad Ikhwan Zaid (2015) menunjukkan variabel gender, penghargaan finansial, pertimbangan pasar kerja secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap minat mahasiswa akuntansi untuk berkarier menjadi akuntan publik. Sementara itu secara parsial variabel gender tidak berpengaruh terhadap minat mahasiswa akuntansi untuk berkarir menjadi akuntan publik. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta Angkatan 2012, sampel penelitian ditentukan secara Purposive Sampling, teknik pengambilan sampel dengan Quota Sampling, serta teknik analisis data yang digunakan adalah analisis Regresi Sederhana dan Regresi Ganda.

Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah variabel motivasi, gender, penghargaan profesional, pengakuan profesional, lingkungan kerja, pertimbangan pasar kerja, personalitas, pemilihan karier menjadi akuntan publik, dan

Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah variabel motivasi, gender, penghargaan profesional, pengakuan profesional, lingkungan kerja, pertimbangan pasar kerja, personalitas, pemilihan karier menjadi akuntan publik, dan

Dokumen terkait