• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEOR

C. Manajemen Berbasis Pesantren

1. Pengertian Manajemen

Manajemen adalah pengelolaan. Manajemen juga dapat diartikan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas

36

sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Istilah manajemen mempunyai banyak arti, namun secara umum manajemen diartikan sebagai proses mengelola sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Jika ditinjau dari aspek pendidikan, maka arti dari manjemen adalah sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan melakukan sejumlah fungsi tertentu.

Manajemen menurut Hamalik (1991:29) adalah kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan tertentu dengan cara menggerakkan orang lain. Sedangkan menurut Made Pidarta (1988:17) manajemen adalah pusat administrasi, administrasi berawal dan berakhir pada manajemen. Maksudnya manajemen adalah suatu aktivitas yang menjadi pusat administrasi, pusat atau inti kerjasama antar anggota organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dalam perspektif pendidikan, manajemen adalah sebuah alat yang digunakan agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien, proses manajemen pendidikan memiliki peranan yang sangat penting karena sekolah merupakan suatu sistem yang di dalamnya melibatkan berbagai komponen dan sejumlah kegiatan yang perlu dikelola dengan baik. Jika manajemennya baik maka akan memudahkan terwujudnya suatu tujuan (pendidikan).

37

Berbasis dari kata basis atau bisa diartikan dengan dasar.Madrasah atau pondokpesantren merupakan suatu lembaga pendidikan atau tempat berlangsungnya proses pendidikan (KBM).

Pendidikan Berbasis Pesantren adalah sarana yang bertugas sebagai perangkat organisasi yang diciptakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung di dalam pondok pesantren (Halim, 2005:115).

Kemajuan dan keberhasilan pondok pesantren atau madarasahtergantung bagaimana kyai atau kepala madrasah itu sendiri mengatur dan mengelola pendidikan.Kyai atau kepala madrasah di sini bertugas sebagai manajer yaitu penggerak aktivitas operasional dan memainkan peran sebagai pembuat strategi, pemimpin, administrator, dan penyelesai masalah.

a. Sebagai pembuat strategi, seorang manajer harus bisa mempertimbangkan misi dan tujuan organisasi, memikirkan kemungkinan hal-hal yang akan terjadi dan menentukan arah atau tujuan yang akan diambil.

b. Sebagai pemimpin, seorang manajer harus mampu memberi dorongan (motivasi) dan membantu personil lainnya.

c. Sebagai administrator, seorang manajer harus bisa membuat dan mengimplementasikan sistem untuk membantu pelaksanaan tugas organisasi dan menyusun pedoman proses kerja sesuai kebutuhan.

38

d. Sebagai penyelesai masalah, seorang manajer harus mampu berpikir logis dan luwes serta membantu orang lain dalam menyelesaikan suatu masalah.

Menurut Saroni (2006:21) kepala sekolah adalah seorang manajer. Dialah yang mengatur segala sesuatu yang ada di sekolah untuk mencapai tujuan sekolah. Dengan posisi sebagai manajer, kepala sekolah mempunyai kewenangan penuh terhadap arah kebijakan yang ditempuh menuju visi dan misi sekolah. Kemampuan manajemen ini sangat mendukung pada saat mengatur personil/SDM yang dimiliki sekolah secara tepat, penggunaan sarana, dan alokasi pemakaian dana yang ada di sekolah.

Baik dan buruknya, merosot dan berkembangnya sebuah lembaga pendidikan adalah tergantung bagaimana sekolah itu diatur atau dengan kata lain bahwa kemajuan sekolah itu tergantung pada bagaimana kepala sekolah mengatur kegiatan sekolah dengan semua personil yang ada secara maksimal. Jadi sangatlah jelas, bahwa kepala sekolah sangat berperan penting dalam sebuah lembaga pendidikan. Tapi perlu ditegaskan, bahwa semua itu bukan hanya tugas dan kewajiban kepala sekolah saja, akan tetapi semua itu merupakan tugas bersama antara semua komponen yang berada di lingkungan sekolah itu sendiri.

2. Fungsi Manajemen

Terdapat empat fungsi manajemen menurut G. R. Terry dalam Rusman (2009:122), yaitu: (1) planning (perencanaan); (2) organizing

39

(pengorganisaian); (3) actuating (pelaksanaan); (4) controlling

(pengawasan).

a. Perencanaan (Planning)

Arti penting perencanaan adalah memberikan kejelasan arah untuk setiap kegiatan sehingga dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin.

b. Pengorganisasian (Organizing)

Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan yang efektif antara orang-orang sehingga mereka dapat bekerjasama secara efisien, dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan tertentu.Tiga langkah dalam proses pengorganisasian, yaitu (a) perincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi; (b) pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang logis dapat dilaksanakan oleh satu orang; (c) pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis.

c. Pelaksanaan (Actuating)

Dari rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating)

merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi

40

actuatingjustru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi.

d. Pengawasan (Controlling)

Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi yang terdahulu, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan.

3. Tujuan Manajemen

Menurut Raharjo dalam bukunya Manajemen Berbasis Sekolah tujuan Manajemen Berbasis Sekolah dibagi menjadi empat, yaitu:

a. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.

b. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama. c. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat,

dan pemerintah tentang mutu sekolahnya.

d. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.

Sedangkan tujuan Manajemen Berbasis Sekolah menurut Umiarso dan Gojali (2010:80) adalah meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui sumber daya yang ada, dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru, adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol, serta hal lain yang dapat menumbuhkembangkan suasana kondusif.

41

4. Paradigma Baru Manajemen Pendidikan

Dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka sebagai konsekuensi logis bagi manajemen pendidikan di Indonesia adalah perlu dilakukannya penyesuaian terhadap manajemen paradigma lama menuju manajemen paradigma baru yang lebih bernuansa otonomi dan yang lebih demokratis. Pergeseran paradigma pendidikan dasar dan menengah telah tercermin dalam visi pembangunan pendidikan nasional yang tercantum dalam GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) 1999 ” Mewujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan berkualitas guna mewujudkan bangsa yang berakhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas sehat, disiplin, bertanggung jawab, trampil, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi”. Amanat GBHN (Garis Besar Haluan Negara) ini menyiratkan suatu kekhawatiran yang mendalam dari berbagai komponen bangsa terhadap prestasi sistem pendidikan nasional yang kini tampak mulai menurun dalam mempersiapkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang tangguh dan mampu bersaing di era tanpa batas ke depan (Raharjo, 2003:7).

Tabel 1

Perubahan Paradigma Manajemen Pendidikan Paradigma Lama Paradigma Baru

Melaksanakan program Keputusan terpusat Ruang gerak terbatas Basis birokratis Sentralistik

Merumuskan/melaksanakan program Keputusan bersama

Ruang gerak fleksibel Basis profesional Desentralistik

42 Diatur Malregulasi Mengontrol Mengarahkan Boros Individual Informasi terbatas Pendelegasian Organisasi vertikal Mandiri Deregulasi Memotivasi Memfasilitasi Mengelola resiko Kerjasama Informasi terbuka Pemberdayaan Organiasi horisontal 5. Karakteristik

Karakteristik sekolah yang menerapkan sistem Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah perlu mengoptimalisasikan aspek-aspek tertentu, yaitu meningkatkan kinerja organisasi sekolah, proses pembelajaran, pengelolaan sumber daya dan administrasi. Menurut Raharjo (2003:40) dalam bukunya Manajemen Berbasis Sekolah, MBSmemiliki karateristik yang harus dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya yang meliputi komponen pendidikan dan perlakuannya pada setiap tahap pendidikan input, proses dan

outputnya.

Pada hasil pendidikan (output ) diharapkan mendapatkan prestasi akademik dan non-akademik. Prestasi akademik misalnya NEM, lomba karya ilmiah, olimpiade siswa berprestasi. Sedangkan non- akademik berupa kesenian, olah raga, kejujuran, kerajinan, pramuka dan lain-lain.

43

Pada proses pendidikan biasanya penekanannya pada :

1) Proses Belajar Mengajar (PBM) yang menekankan pada belajar hidup bersama dan belajar menjadidiri sendiri.

2) Kepemimpinan sekolah yang tangguh,memiliki kemampuan kepemimpinan yang kuat dan mampu meningkatkan mutu sekolah sesuai visi, misi, tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

3) Lingkungan sekolah yang tertib, aman dan nyaman. 4) Pengelolaan tenaga pendidik yang efektif.

5) Sekolah memiliki kualitas informasi untuk perbaikan hasil diikuti penghargaan atau sanksi.

6) Sekolah memiliki kebersamaan yang kompak tanpa adanya kelompok tertentu yang menghambat kemajuan sekolah.

7) Sekolah memiliki kewenangan yang merupakan kesanggupan kerja dan tidak menggantungkan orang lain.

8) Partisipasi warga sekolah dan masyarakat. Karena hubungan antara sekolah dan masyarakat merupakan bagian sekolah yang paling tinggi terutama di bidang akademik dan non-akademik. 9) Keterbukaan antara warga sekolah dan masyarakat, terutama

komite sekolah. Apalagi manajemen tersebut menyangkut perencanaan anggaran RAPBSdan penggunaan uang sekolah. Komite sekolah harus tahu menyangkut anggaran sekolah, seperti dana BOS, dan anggaran rutin sekolah lainnya.

44

10) Sekolah memiliki kemauan untuk berubah menjadi lebih baik. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan fisik sekolah, prestasi akademik dan non-akademik.

11) Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan. Evaluasi bukan hanya sekedar untuk mengetahui daya serap dan kemauan siswa menerima mata pelajaran, tetapi evaluasi dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk memperbaiki dan menyempurnakan PBM di sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

12) Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan sekolah terutama menyangkut mutu sekolah.

13) Sekolah memiliki komunikasi yang baik antara warga sekolah dalam membentuk kebersamaan yang kokoh sehingga kegiatan sekolah bisa dilakukan secara merata.

14) Sekolah memiliki akuntabilitas (pertanggungjawaban) terhadap prestasi penyelenggaraan program sekolah yang nantinya harus dilaporkan kepada pemerintah, orang tua dan masyarakat.

Pada Input pendidikan :

1) Pendidikan memiliki kebijakan, tujuan dari sasaran program yang jelas. Kebijakan, tujuan, dan sasaran sekolah harus disosialisasikan kepada semua warga sekolah, sehingga tertanam pemikiran, tindakan, dan karakter yang kuat oleh warga sekolah. 2) Sumber daya yang tersedia. Sekolah harus memiliki sumber daya

45

lainnya seperti uang, peralatan/perlengkapan, dan lain-lainnya untuk menjalankan proses pendidikan.

3) Staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi terhadap sekolahnya. 4) Memiliki harapan prestasi tinggi. Sekolah harus memiliki

komitmen dan dedikasi tinggi untuk mencapai prestasi serta anak didik yang mempunyai motivasi untuk meningkatkan prestasi sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya.

5) Fokus pada pelanggaran. Anak didik merupakan fokus utama semua kegiatan proses pembelajaran yang dikerahkan di sekolah dengan tujuan untuk meningkatkan mutu dan kepuasan siswa. 6) Manajemen kelengkapanyang dibutuhkan sekolah akan

membantu kepala sekolah mengelola sekolah denganefektif. 6. Fungsi-Fungsi Yang Didesentralisasikan

1) Perencanaan dan Evaluasi

Rencana peningkatan program berfungsi untuk menganalisis kebutuhan program sekolah.

2) Pengelolaan Kurikulum

Sejalan dengan pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), bahwa tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional dimana program dengan pendekatan kompetensi lebih sesuai dan pas dikelola melalui MBS, sekolah akan leluasa dalam mengimplementasikan kurikulum dan dalam pengembangan muatan lokal serta menyiapkan keterampilan bagi peserta didik.

46

3) Pengelolaan Proses Belajar Mengajar (PBM)

Proses Belajar Mengajar (PBM) merupakan kegiatan utama sekolah dimana sekolah diberi kebebasan memilih strategi atau metode pembelajaran yang efektif.

4) Pengelolaan Ketenagaan

Pengelolaan tenaga kependidikan dan lainnya mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, rekrutmen, pengembangan, sampai evaluasi kinerja tenaga kerja dapat dilakukan oleh sekolah.

5) Pengelolaan Fasilitas

Pengelolaan fasilitas khususnya yang berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar (PBM).

6) Pengelolaan Keuangan

Keuangan di sekolah merupakan bagian yang penting, karena setiap kegiatan membutuhkan dana. Untuk itu, sekolah perlu pengelolaan keuangan yang baik.

7) Pengelolaan Layanan Siswa

Pengelolaan layanan kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan lancar.

8) Pengelolaan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat

Hubungan masyarakat merupakan suatu kegiatan untuk menanamkan dan memperoleh pengertian, goodwill, kepercayaan, serta penghargaan dari publik suatu badan khususnya dan masyarakat umumnya (Suryosubroto, 2004:154).

47

Tabel 2

Fungsi-fungsi Pendidikan yang di Desentralisasikan ke Sekolah.

Masukan Pendidikan ProsesPendidikan Hasil Pendidikan 7. Komponen-Komponen Manajemen dalam MBS

Komponen adalah bagian yang merupakan seutuh ( W.J.S. Poerwodaminto, 1984:104 ). Secara umum, komponen merupakan bagian dari sebuah sistem utuh. Ada tujuh komponen manajemen sekolah dalam Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah, yaitu:

1. Manajemen Kurikulumdan Program Pengajaran

Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar yang diprogramkan dan direncanakan dan dirancang atas dasar norma yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.

Perencanaan &Evaluasi Pengelolaan Kurikulum Pengelolaan PBM Pengelolaan Ketengaan Pengelolaan Fasilitas Pengelolaan Keuangan Pengelolaan Layanan Siswa Penelolaan Hubungan Sekolah-Masyarakat Pengelolaan Iklim sekolah Prestasi siswa dan Tamatan Proses Belajar Mengajar

48

Kurikulum dan program pengajaran merupakan pijakan dalam proses pendidikan yang diselenggarakan pada sebuah

lembaga pendidikan.

Kurikulummerupakanseperangkatrencanadanpengaturanmengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai

pedoman penyelenggaraan

kegiatanpembelajaranuntukmencapaitujuanpendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian

dengankekhasan,kondisidanpotensidaerahsatuanpendidikan danpeserta

didik.Olehsebabitukurikulumdisusunolehsatuanpendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yangada di daerah. Perencanaan dan pengembangan kurikulum nasional pada umumnya telah dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Nasional pada tingkat pusat. Karena itu sekolah merealisasikan dan menyesuaiakan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran. Disamping itu, sekolah juga bertugas dan berwenang untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan setempat.

Jadi intinya adalah dalam pengelolaan kurikulum yang bersifat nasional, sekolah tidak berhak mengurangi isinya. Yang

49

boleh dikembangkan adalah muatan lokal yang disesuaiakan sesuai dengan kondisi dan karakteristik sekolah masing-masing.

Sekolah diharapkan dapat mengembangkan program pengajaran serta melaksanakan pengawasan dalam pelaksanaannya. Dalam proses pengembangan program sekolah, manajer hendaknya tidak membatasi diri pada pendidikan dalam arti sempit, ia harus menghubungkan peserta didik dan kebutuhan lingkungan.Dalam kepentingan kepala sekolah sebagai menejer, ia harus bertanggung jawab terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian perubahan atau perbaikan program pengajaran di sekolah. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, ada empat langkah yang harus dilakukan. Menurut Mulyasa (2009:41), empat langkah tersebut yaitu: menilai kesesuaian program yang ada dengan tuntutan kebudayaan dan kebutuhan murid, meningkatkan perencanaan program, memilih dan melaksanakan program, serta menilai perubahan program.

2. Manajemen Tenaga Kependidikan

Ketenagaan dalam sekolah identik dengan posisi guru sebagai pendidik maupun tenaga kependidikan. Adanya pembagian tugas yang jelas antara ketenagaan yang satu dengan yang lainnya akan menunjang kelancaran dari pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

Menurut Mulyasa (2009:42) manajemen tenaga kependidikan (guru dan personil) mencakup (1) perencanaan

50

pegawai, (2) pengadaan pegawai, (3) pembinaan dan pengembangan pegawai, (4) promosi dan mutasi, (5) pemberhentian pegawai, (6) kompensasi, (7) penilaian pegawai.

Mengenai pengelolaan ketenagaan, Nurkholis (2003:46)

menyatakan bahwa “Pengelolaan ketenagaan mulai dari analisis

kebutuhan perencanaan, rekrutmen, pengembangan, penghargaan dan sanksi, hubungan kerja hingga evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah dapat dilakukan oleh sekolah kecuali guru pegawai negeri

yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya”.

Tugas kepala sekolah dalam kaitannya dengan manajemen tenaga kependidikan bukanlah pekerjaan yang mudah karena tidak hanya mengusahakan tercapainya tujuan sekolah, tetapi juga tujuan tenaga kependidikan (guru dan pegawai) secara pribadi. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut untuk mengerjakan instrumen pengelolaan tenaga kependidikan, seperti daftar riwayat pekerjaan, dan kondisi pegawai untuk membantu kelancaran MBS di sekolah yang dipimpinnya.Hal ini menunjukkan, bahwa keberhasilan pengelolaan pendidikan pada sebuah sekolah apabila kepala sekolah memiliki kemampuan untuk menciptakan kondisi yang melibatkan semua unsur pengelola sekolah.

3. Manajemen Kesiswaan

Mengenai Manajemen Kesiswaan, Mulyasa (2009:46-47)

51

pengaturan kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah. Manajemen kesiswaan bukan hanya berbentuk pencatatan data peserta didik, melainkan meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.

Tujuan dari manajemen kesiswaan yaitu untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan dengan lancar, tertib, dan teratur, serta mencapai tujuan pendidikan sekolah.

Tanggung jawab kepala sekolah menurut Sutisna (1985:21) dalam Mulyasa (2009:46) sebagai berikut:

a. Kehadiran murid di sekolah dan masalah-masalah yang berhubungan dengan itu.

b. Penerimaan, orientasi, klarifikasi, dan penunjukkan murid kelas dan program studi.

c. Evaluasi dan pelaporan kemajuan belajar.

d. Program supervisi bagi murid yang mempunyai kelainan, seperti: pengajaran, perbaikan, dan pengajaran luar biasa. e. Pengendalian dan disiplin murid.

f. Program bimbingan dan penyuluhan. g. Program kesehatan dan keamanan.

52

Nurkholis (2003:46) dan Rohiat (2008:67) menyatakan

bahwa “Yang diperlukan dalam manajemen kesiswaan adalah

intensitas dan ekstensinya.”

Yang perlu diperhatikan dalam manajemen kesiswaan adalah bahwa sekolah tidak hanya mengembangkan pengetahuan anak saja, akan tetapi juga harus mengembangkan sikap kepribadian, aspek sosial emosional, disamping keterampilan-keterampilan yang lain. Sehingga akan tercipta peserta didik yang cerdas intelejen, emosional, maupun spiritualnya.

4. Manajemen Keuangan atau Pendanaan

Keuangan merupakan salah satu sumber daya dari sekolah yang secara langsung menunjang kelangsungan dari sekolah tersebut dalam efektifitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Dalam Manajemen Berbasis Sekolah, hal tersebut akan jauh lebih terasa, karena menuntut sekolah untuk merencanakan, mengelola, mengevaluasi, serta mempertanggungjawabkan penggunaan keuangan secara transparan.

Sekolah diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan- kegiatan yang mendatangkan penghasilan, sehingga sumber keuangan tidak semata-mata bergantung pada pemerintah (Nurkholis, 2003:46). Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling memahami kebutuhannya sehingga desentralisasi uang sudah seharusnya dilimpahkan ke sekolah (Rohiat, 2009:66).

53

Mulyasa (2009:48) menyatakan bahwa: “Sumber keuangan dan pembiayan sekolah secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: (1) pemerintah, (2) orang tua atau peserta

didik, (3) masyarakat.”

Dalam pengelolaan keuangan di sekolah, diperlukan rasa tanggungjawab yang besar dari semua komponen sekolah agar penggunaannya dapat maksimal dan sesuai sasaran. Dengan penggunaan yang tepat, maka semua kebutuhan sekolah dalam hal peningkatan pembelajaran, baik teknis ataupun non-teknis akan tercukupi sehingga sekolah dapat berjalan dengan lancar, teratur dan bertanggungjawab.

5. Manajemen Sarana dan Prasarana

Standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal yang harus dicapai oleh stuan pendidikan pada sarana dan prasarana sesuai Permendiknas nomor 24 tahun 2007. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Setiap satuan pendidikan memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pemimpin, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa,

54

tempat berolah raga, tempat beribadah, tempat bermain dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Setiap satuan pendidikan tidak dapat melepaskan faktor sarana dan prasarana yang dapat dipergunakan dan menunjang proses pendidikan atau proses belajar mengajar (PBM). Manajemen sarana dan prasarana bertujuan dapat menciptakan kondisi yang menyenangkan baik guru maupun murid untuk berada di sekolah.

Mengenai sarana dan prasarana pendidikan, Mulyasa

(2009:49) menyatakan bahwa “Sarana pendidikan adalah

peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat

dan media pengajaran”. Adapun yang dimaksud dengan prasarana

pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah, tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar, seperti taman sekolah untuk pengajaran biologi, halaman sekolah sebagai lapangan olahraga, komponen tersebut merupakan sarana pendidikan.

Manejemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi, indah sehingga

55

menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Nurkholis (2003:46) dan Rohiat (2008:66) sepakat bahwa pengelolaan fasilitas seharusnya dilakukan oleh sekolah mulai dari pengadaan, pemeliharaan, dan perbaikan hingga pengembannya.

Melihat alasan dari pendapat di atas, dapat dipahami bahwa dalam MBS, sekolah yang benar-benar mengetahui kondisi dan kebutuhan fasilitas untuk pengembangan sekolahnya masing- masing.

6. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat

Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakekatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah.Menurut Mulyasa (2009:50) tujuan dari hubungan sekolah dengan masyarakat adalah:

1) Memajukan kualitas pembelajaran, dan pertumbuhan anak. 2) Memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan

penghidupan masyarakat.

3) Menumbukan minat masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.

Gambaran dan kondisi sekolah dapat diinformasikan ke masyarakat melalui laporan kepada orang tua siswa, buletin bulanan, penerbitan surat kabar, pameran sekolah, open house, kunjungan ke sekolah, kunjungan ke rumah siswa (home visit),

56

penjelasan oleh staf sekolah, siswa itu sendiri, radio serta laporan tahunan.Esensi dari hubungan ini adalah meningkatkan keterlibatan, kepedulian, kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan moral dan finansial yang dari dulu telah didesentralisasikan (Nurkholis, 2003:46-47 dan Rohiat, 2008:67).

Dari beberapa pendapat di atas, dapat kita ketahui bahwa kelangsungan sebuah sekolah tidak bisa lepas dari peran serta masyarakat. Maka, seyogyanya jalinan atau hubungan yang baik

Dokumen terkait