BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.11. Manajemen Dan Analisis Data
Seluruh data yang diperoleh akan dicatat dan ditabulasi. Data yang diperoleh akan diolah secara statistik dengan menggunakan SPSS 16.0. Untuk mengetahui hubungan tingkat kepatuhan dengan mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) dan untuk mengetahui hubungan umur, jenis kelamin, suku dan pendidikan dengan tingkat kepatuhan akan diuji dengan menggunakan uji Chi square jika memenuhi syarat uji Chi square yaitu minimal 80% nilai sel mempunyai nilai ekspetasi >5, jika tidak memenuhi syarat maka dilakukan uji alternatif Fisher atau Kolmogorov – Smirnov. Ditentukan batas penerimaan hipotesis nol (alpha) sebesar 5%. Hubungan dikatakan bermakna secara statistik jika p < 0.05.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Telah dilakukan penelitian cohort terhadap 100 pasien TB paru BTA positif yang akan mulai mengkonsumsi INH. Dilakukan skrining awal mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) Mycobacterium tuberculosis, hasilnya 100 sampel tidak mengalami mutasi (wild type) di awal dan seluruhnya dijadikan sampel penelitian ini. Tidak terdapat subjek yang dikeluarkan dari penelitian ini.
Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2014 sampai Mei 2015 di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Medan dan Laboratorium Terpadu Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Seluruh subjek penelitian yang diikutsertakan adalah berdasarkan consecutive sampling. Semua subjek menandatangani pernyataan persetujuan (informed consent). Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Bidang Kesehatan FK USU.
4.1.1 Karakteristik subjek penelitian 4.1.1.1 Jenis kelamin
Karakteristik subjek penelitian berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini.
Tabel 4.1 Distribusi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin N %
Laki – laki 54 54,0
Perempuan 46 46,0
Total 100 100,0
4.1.1.2 Umur
Pasien yang paling muda berumur 16 tahun sedangkan yang paling tua berumur 81 tahun. Pasien TB paru BTA positif yang akan mulai mengkonsumsi OAT terbanyak ditemukan pada kelompok umur 41 – 60 tahun yaitu 34 orang (34%), kemudian disusul kelompok umur 21-40 tahun sebesar 33 orang (33%).
Distribusi subjek penelitian berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini.
Tabel 4.2 Distribusi subjek penelitian berdasarkan umur Kelompok
Karakteristik subjek penelitian berdasarkan suku dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini.
Tabel 4.3 Distribusi subjek penelitian berdasarkan suku
Suku N %
4.1.1.4 Pendidikan
Karakteristik subjek penelitian berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada table 4.4 berikut ini.
Tabel 4.4 Distribusi subjek penelitian berdasarkan pendidikan
Pendidikan N %
Tidak sekolah 2 2,0
SD 10 10,0
SMP 16 16,0
SMA 57 57,0
S1 15 15,0
Total 100 100,0
Pendidikan subjek penelitian yang terbanyak adalah SMA (57%) dan yang terkecil adalah tidak sekolah (2%).
4.1.2 Distribusi mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) M. tuberculosis pada subjek penelitian
Distribusi mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) M. tuberculosis pada subjek penelitian dapat dilihat pada tabel 4.5. Hasil elektroforesis produk PCR dan produk PCR-RFLP ditunjukkan pada gambar 4.1 & 4.2 berikut ini.
Tabel 4.5 Distribusi mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) M. tuberculosis Pada Subjek Penelitian
Distribusi Mutasi N %
Wild type 100 100,0
Mutan 0 0,0
Total 100 100,0
Gambar 4.1 Elektroforesis produk PCR 200 bp fragmen gen KatG M. tuberculosis dengan primer KatGF dan KatGR dalam agarose 3%.
Keterangan Gambar:
• Lane A : hasil PCR M. tuberculosis strain H37RV (kontrol positif)
• Lane B : 1000 bp DNA Ladder/Marker
• Lane C - L : hasil PCR subjek 1 – 10
Gambar 4.2 Elektroforesis produk PCR-RFLP dengan MspI dalam agarose 3%. Ukuran band 153 bp menunjukkan tidak ada mutasi kodon ke 315 (wild type) dan band 132 bp menunjukkan adanya mutasi kodon ke 315 (mutan).
Keterangan Gambar:
• Lane A : 1000 bp DNA Ladder/Marker
• Lane B : hasil PCR M. tuberculosis strain H37RV (kontrol positif tanpa restriksi enzim MspI)
• Lane C : hasil PCR-RFLP M.tuberculosis strain H37RV (kontrol positif wild type)
• Lane D : hasil PCR-RFLP M. tuberculosis yang berasal dari pasien MDR- TB (kontrol positif mutan)
• Lane E - L : hasil PCR-RFLP wild type (subjek 1 sampai 8)
4.1.3 Distribusi kepatuhan subjek penelitian mengkonsumsi INH
Data distribusi kepatuhan subjek penelitian mengkonsumsi INH dapat dilihat pada tabel 4.6. Hasil pemeriksaan kepatuhan menggunakan Taxo urine test strip ditunjukkan pada gambar 4.3 & 4.4. Data hasil pemeriksaan metabolit INH urin subjek penelitian yang tidak patuh mengkonsumsi INH dapat dilihat pada tabel 4.7.
Tabel 4.6 Distribusi kepatuhan subjek penelitian mengkonsumsi INH Distribusi Kepatuhan N %
Patuh 84 84,0
Tidak patuh 16 16,0
Total 100 100,0
Gambar 4.3a&b. Hasil pemeriksaan metabolit INH urin menggunakan Taxo urine test strip. Gambar 4.3a menunjukkan hasil negatif karena tidak terbentuk warna hijau, hijau kebiruan atau biru. Gambar 4.3b menunjukkan hasil positif terbentuk warna hijau kebiruan pada stik
Tabel 4.7. Data hasil pemeriksaan metabolit INH urin subjek penelitian yang
K (Kosong) : bila tidak dilakukan pemeriksaan metabolit INH urin
Pasien no. 1 : pada hari ke 14 (akhir minggu II) tidak datang untuk pemeriksaan, datang pada hari ke 16 dengan hasil metabolit INH urin (-)
Pasien no. 2 : pada hari ke 28 (akhir minggu IV) tidak datang untuk
pemeriksaan, datang pada hari ke 34 dengan hasil metabolit INH urin (-)
Pasien no. 9 : pada hari ke 28 (akhir minggu IV) tidak datang untuk
pemeriksaan, datang pada hari ke 32 dengan hasil metabolit INH urin (-)
Pasien no 15 : pada hari ke 14 (akhir minggu II) dan ke 28 (akhir minggu IV) tidak datang untuk pemeriksaan, datang pada hari ke 18 & 32 dengan hasil metabolit INH urin keduanya (-)
Pasien no. 17 : pada hari ke 14 (akhir minggu II) tidak datang untuk pemeriksaan, datang pada hari ke 17 dengan hasil metabolit INH urin (-)
Pasien no. 31 : pada hari ke 28 (akhir minggu IV) tidak datang untuk
pemeriksaan, datang pada hari ke 30 dengan hasil metabolit INH urin (-)
Pasien no. 36 : pada hari ke 28 (akhir minggu IV) tidak datang untuk
pemeriksaan, datang pada hari ke 32 dengan hasil metabolit INH urin (-)
Pasien no. 41 : pada hari ke 7 (akhir minggu I) hasil metabolit INH urin (-), pada hari ke 14 (akhir minggu II) tidak datang untuk pemeriksaan dan datang pada hari ke 17 dengan hasil metabolit INH urin (-) Pasien no. 53 : pada hari ke 14 (akhir minggu II) dan ke 28 (akhir minggu IV)
tidak datang untuk pemeriksaan, datang pada hari ke 17 & 32 dengan hasil metabolit INH urin keduanya (-)
Pasien no. 64 : pada hari ke 28 (akhir minggu IV) tidak datang untuk
pemeriksaan, datang pada hari ke 31 dengan hasil metabolit INH urin (-)
Pasien no. 68 : pada hari ke 28 (akhir minggu IV) tidak datang untuk
pemeriksaan, datang pada hari ke 30 dengan hasil metabolit INH urin (-)
Pasien no. 81 : pada hari ke 14 (akhir minggu II) dan ke 28 (akhir minggu IV) tidak datang untuk pemeriksaan, datang pada hari ke 16 & 31 dengan hasil metabolit INH urin keduanya (-)
Pasien no. 90 : pada hari ke 28 (akhir minggu IV) tidak datang untuk
pemeriksaan, datang pada hari ke 30 dengan hasil metabolit INH urin (-)
Pasien no. 94 : pada hari ke 14 (akhir minggu II) tidak datang untuk pemeriksaan, datang pada hari ke 18 dengan hasil metabolit INH urin (-)
Pasien no. 98 : pada hari ke 28 (akhir minggu IV) tidak datang untuk
pemeriksaan, datang pada hari ke 30 dengan hasil metabolit INH urin (-)
Pasien no.100 : pada hari ke 21 (akhir minggu III) hasil metabolit INH urin (-), pada hari ke 28 (akhir minggu IV) tidak datang untuk
pemeriksaan dan datang pada hari ke 33 dengan hasil metabolit INH urin (-)
NB: Untuk pasien yang tidak tercantum, seluruh hasil pemeriksaan metabolit INH urinnya (+) pada akhir minggu I, II, III & IV. Seluruh pasien subjek
penelitian diberikan daftar ceklis harian minum OAT sebagai tambahan penilaian kepatuhan mengkonsumsi INH (lampiran 7).
4.1.4 Pengaruh tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH dengan terjadinya mutasi gen KatG Ser315 (G944C) Thr M. tuberculosis
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan seluruh sampel gen KatG M.
tuberculosis adalah tipe wild type sehingga walaupun terdapat distribusi kepatuhan pada subjek penelitian, tetapi tidak dapat dilakukan analisa data untuk menilai pengaruh tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH dengan terjadinya mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) M. tuberculosis.
4.1.5 Hubungan jenis kelamin, umur, suku dan pendidikan dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH
4.1.5.1 Hubungan jenis kelamin dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH
Data hubungan jenis kelamin dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut ini.
Tabel 4.8 Hubungan jenis kelamin dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH Kepatuhan
Patuh Tidak Patuh P
N % N %
Jenis Kelamin
Laki-laki 42 77.8 12 22.2 0.066
Perempuan 42 91.3 4 8.7
Total 84 84 16 16
Pearson Chi Square
4.1.5.2 Hubungan umur dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH Data hubungan umur dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut ini.
Tabel 4.9 Hubungan umur dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH Kepatuhan
4.1.5.3 Hubungan suku dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH
Data hubungan suku dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut ini.
Tabel 4.10 Hubungan suku dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH Kepatuhan
Mandailing 11 91.7 1 8.3
Melayu 7 100 0 0
Minang 10 90.9 1 9.1
Tionghoa 2 100 0 0
Total 84 84 16 16
Kolmogorov-Smirnov
4.1.5.4 Hubungan pendidikan dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH Data hubungan pendidikan dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut ini.
Tabel 4.11 Hubungan pendidikan dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH Kepatuhan
Patuh Tidak Patuh P
N % N %
Pendidikan Tidak sekolah 1 50 1 50 0.096
SD 6 60 4 40
4.2 Pembahasan
Jumlah seluruh subjek pada penelitian ini adalah 100 orang pasien TB paru BTA positif yang akan mulai mengkonsumsi INH dengan skrining awal pemeriksaan PCR-RFLP seluruhnya belum dengan mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) M. tuberculosis. Terdiri dari 54 (54%) laki – laki dan 46 (46%) perempuan. Hasil ini sesuai dengan pernyataan WHO bahwa negara dengan angka kejadian TB paru yang tinggi seperti Afrika Selatan dan Asia Tenggara didapatkan jumlah penderita TB paru laki – laki lebih banyak dari perempuan.
Andina tahun 2012 di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan, Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan dan di Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4) Medan mendapatkan pasien TB Paru laki – laki lebih banyak dari perempuan yaitu 25 (69%) dan 11 (31%). Al – Hajjaj et al tahun 2000 di Saudi Arabia mendapatkan laki – laki 385 ( 61,3%) dan perempuan 243 (38,7%) dari keseluruhan 628 pasien. Naing et al tahun 2001 di Kota Bharu Kelantan Malaysia mendapatkan laki – laki 248 (63,6%) dan perempuan 142 (36,4%) dari keseluruhan 390 orang pasien TB Paru.
Rentang umur subjek penelitian antara 16 sampai 81 tahun. Jumlah kelompok umur 41 – 60 tahun didapatkan paling banyak yaitu 34 orang (34%), lebih besar 1% dari kelompok umur 21 – 40 tahun yang berjumlah 33 orang (33%). Al – Hajjaj et al mendapatkan kelompok umur paling banyak adalah 21 – 40 (52,5%) dan disusul kelompok umur 41 – 60 (21,8%) di tempat kedua. Naing et al mendapatkan kelompok umur paling banyak adalah 21 – 40 tahun (41%) dan kelompok umur 41 – 60 tahun (30,2%). Hal ini sesuai dengan pernyataan WHO dalam Global Tuberculosis Report tahun 2014 yang menyatakan bahwa insidensi
TB paru terbanyak pada usia produktif sehingga sangat mengganggu perekonomian dari tingkat keluarga sampai negara. Di negara berkembang angka kejadian TB terbanyak adalah usia muda, sedangkan di negara maju lebih tinggi pada kelompok usia tua.
Pada penelitian ini didapatkan distribusi suku subjek penelitian meliputi Aceh (2%), Batak Toba (32%), Jawa (28%), Karo (6%), Mandailing (12%), Melayu (7%), Minang (11%) dan Tionghoa (2%). Penelitian Prianty et al tahun 2012 di Pematang Siantar mendapatkan suku Batak (67,9%), Jawa (29,2%), Melayu (0,9%) dan lain – lain (2,0%). Penelitian Naing et al tahun 2001 di Kota Bharu Kelantan Malaysia mendapatkan Melayu (94%), Tionghoa dan India (6%).
Hal ini sesuai dengan pernyataan WHO pada global TB report tahun 2014 yang menyatakan bahwa TB paru adalah penyakit yang dapat menyerang semua ras dan suku di seluruh dunia.
Distribusi mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) M. tuberculosis pada sampel penelitian ini didapatkan 100% tidak bermutasi (wild type). Penelitian Marahatta et al tahun 2011 mendapatkan 62,2% mutan dan 37,8 wild type , Ahmad et al tahun 2002 mendapatkan 64,3% mutan dan 35,7% wild type.
Perbedaan distribusi mutasi yang mencolok antara penelitian ini dengan penelitian Marahatta et al dan Ahmad et al kemungkinan disebabkan oleh perbedaan asal DNA yang menjadi sampel penelitian. Mereka menggunakan sampel DNA yang berasal dari isolat M. tuberculosis yang telah dinyatakan resisten terhadap INH dengan metode kultur (drug susceptibility test), sementara penelitian ini menggunakan sampel DNA yang langsung berasal dari sputum pasien TB paru BTA positif yang akan mulai mengkonsumsi INH. Selain itu, sampel penelitian
ini harus tidak dengan mutasi gen KatG pada skrining awal, kemudian dinilai terjadi tidaknya mutasi setelah 1 bulan subjek mengkonsumsi INH. Sebab itu kemungkinan ditemuinya mutasi pada sampel penelitian ini akan lebih kecil dari pada penelitian Marahatta et al dan Ahmad et al. Penelitian dengan menggunakan sampel DNA M. tuberculosis dari sputum penderita TB paru aktif dilakukan oleh Bostanabad et al tahun 2008 di Belarusia, didapatkan mutasi Ser315Thr (G944C) adalah 22% dan wild type 78%. Walaupun sampel DNA M. tuberculosis yang digunakan Bostanabad et al berasal dari sumber yang sama dengan penelitian ini, yaitu dari sputum penderita TB paru, tetapi Bostanabad et al tidak meng-inklusi subjek penelitiannya hanya pada pasien TB paru BTA positif yang akan memulai konsumsi INH dan tidak dengan mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) diawal, melainkan semua pasien TB paru aktif yang ditemui menjadi sampel penelitiannya. Selain itu, terdapat beberapa variasi mutasi gen KatG M.
tuberculosis di kodon 315 dan pada penelitian ini hanya dilakukan pemeriksaan salah satu tipe mutasi, yaitu Ser315Thr (G944C) yang merupakan tipe mutasi terbanyak pada gen ini. Sehingga ada kemungkinan mutasi bukan terjadi pada tipe Ser315Thr (G944C) tetapi pada tipe mutasi yang lain di kodon ini.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan seluruh sampel gen KatG M.
tuberculosis adalah tipe wild type dan distribusi kepatuhan pada subjek penelitian yaitu 84% patuh dan 16% tidak patuh. Tidak terjadi mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) M. tuberculosis baik pada kelompok yang patuh maupun pada kelompok yang tidak patuh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat kepatuhan penderita mengkonsumsi INH selama pengobatan OAT dengan terjadinya mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) M. tuberculosis. Akan
tetapi hal ini menunjukkan bahwa INH masih sangat sensitif untuk digunakan sebagai obat lini pertama bagi penderita TB paru yang akan mulai mendapat pengobatan OAT.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa jenis kelamin tidak mempunyai hubungan dengan kepatuhan subjek penelitian mengkonsumsi INH selama pengobatan OAT dengan nilai p = 0.066. Sejalan dengan Naing et al yang mendapatkan tidak adanya hubungan antara jenis kelamin dan kepatuhan dalam mengkonsumsi INH selama pengobatan OAT dengan nilai p = 0,456.
Umur tidak memiliki hubungan dengan tingkat kepatuhan pada penelitian ini, sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Naing et al pada 390 pasien TB paru yang mendapat pengobatan INH menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan kepatuhan pasien (Naing et al 2001). Umur tidak berpengaruh terhadap kepatuhan dalam pengobatan pasien TB paru (Naing et al., 2001; Chuah, 1991). Walaupun penelitian yang dilakukan di Arab Saudi menunjukkan adanya hubungan antara umur dengan tingkat kepatuhan, yang mana pasien dengan kelompok umur lebih tua cenderung lebih tidak patuh dibandingkan kelompok umur yang lebih muda (Al-Hajjaj dan Al-Khatim, 2000), tetapi Haynes et al dan Stephenson et al menyimpulkan dalam penelitiannya bahwa umur bukan merupakan alat ukur yang konsisten untuk memprediksi kepatuhan dalam pengobatan (Haynes et al., 1997; Stephenson et al., 1993).
Suku tidak mempunyai hubungan dengan kepatuhan penderita TB paru dalam mengkonsumsi INH pada proses pengobatan OAT. Kesimpulan ini didapat dalam penelitian ini dengan nilai p = 0,464. Sejalan dengan penelitian Naing et al yang juga tidak menemukan adanya hubungan antara suku dengan kepatuhan
pasien TB paru dalam pengobatan OAT (Naing et al., 2001). Jin et al dalam telaah literaturnya tentang faktor – faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien dalam pengobatan dengan menggunakan 102 artikel dari tahun 1970 sampai 2005 menyimpulkan bahwa ras, etnik dan suku bukanlah prediktor yang baik untuk menilai kepatuhan pasien dalam pengobatan, kalaupun sebagian penelitian mendapatkan ada hubungan tetapi penjelasan yang lebih masuk akal tentang ini adalah akibat rendahnya status sosio-ekonomik dan kendala bahasa yang dimiliki suku tertentu dalam negara tempat penelitian (Jin et al., 2008).
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suswati di Jember pada tahun 2006 yang mendapatkan bahwa tingkat pendidikan tidak mempunyai hubungan dengan kepatuhan. Kelompok subjek penelitian yang tidak bersekolah pada penelitian ini 50% patuh minum obat dan sisanya 50% tidak patuh, Suswati mendapatkan 74,23% patuh dan 25,74 tidak patuh. Dari kelompok berpendidikan SD pada penelitian ini 60% patuh minum obat dan 40% tidak patuh, Suswati mendapatkan 72,42% patuh dan 27,58% tidak patuh. Dari kelompok berpendidikan SMP pada penelitian ini 75% patuh minum obat dan sisanya 25% tidak patuh, Suswati mendapatkan 78,38% patuh dan 21,62 tidak patuh. Dari kelompok berpendidikan SMA pada penelitian ini 87,7% patuh dan sisanya 12,3% tidak patuh, Suswati mendapatkan 86,84% patuh dan 13,16% tidak patuh. Pada kelompok Sarjana pada penelitian ini didapatkan seluruhnya (100%) patuh, Suswati mendapatkan 50% patuh dan 50% tidak patuh. Walaupun terlihat kecenderungan bahwa semakin tinggi pendidikan subjek penelitian semakin besar persentase yang patuh dan semakin kecil persentase yang tidak patuh, tetapi setelah dilakukan analisis data dengan uji Kolmogorov- Smirnov tidak didapati
hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan pada penelitian ini dengan nilai p = 0,096. Juga sejalan dengan Gad et al di Alexandria Mesir yang mendapatkan tidak ada hubungan tingkat pendidikan dengan kepatuhan mengkonsumsi INH pada pengobatan OAT (Gad et al., 1997). Bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bello dan Itiola yang mendapatkan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh dengan kepatuhan penderita TB paru dalam pengobatan OAT, mereka menyimpulkan bahwa semakin tinggi pendidikan pasien maka semakin baik pemahamannya terhadap instruksi penggunaan obat, dan ini akan meningkatkan kepatuhan (Bello dan Itiola, 2010). Telaah artikel Jin et al mendapatkan hasil yang tidak konsisten dalam hubungan antara tingkat pendidikan dan kepatuhan pengobatan pasien, sebagian mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi lebih patuh, sebagian mendapatkan tidak ada hubungan bahkan sebagian lagi mendapatkan pasien dengan tingkat pendidikan lebih rendah lebih patuh terhadap pengobatan (Jin et al., 2008).
Umur, jenis kelamin, suku, penghasilan keluarga, pekerjaan dan pendidikan bukanlah prediktor yang konsisten dari ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan TB(Haynes et al., 1979; Stephenson et al., 1993). Besarnya masalah ketidakpatuhan dalam pengobatan TB lebih tergantung pada promosi yang digunakan pada pendefinisian penyakit ini, populasi pasien, dan keseriusan program pengendalian (Naing et al., 2001).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Pada penelitian ini, berdasarkan analisa statistik dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
1. Karakteristik penderita TB paru BTA positif :
1.1 Berdasarkan jenis kelamin, jumlah penderita laki – laki lebih besar daripada perempuan yaitu 54 (54%) dan 46 (46%).
1.2 Berdasarkan umur didapatkan jumlah kelompok umur 41 – 60 tahun didapatkan paling banyak yaitu 34 orang (34%), lebih besar 1% dari kelompok umur 21 – 40 tahun yang berjumlah 33 orang (33%). Diikuti oleh kelompok umur ≤ 20 tahun sebanyak 17 orang (17%) dan kelompok umur terkecil adalah yang > 60 tahun sejumlah 16 orang (16%).
1.3 Karakteristik penderita berdasarkan suku dijumpai sangat bervariasi hampir pada semua jenis suku yang ada di kota Medan yaitu Batak Toba, Jawa, Mandailing, Karo, Minang, Melayu, Aceh dan Tionghoa.
1.4 Berdasarkan tingkat pendidikan dijumpai yang terbanyak adalah SMA 57 orang (57%) dan diikuti oleh SMP 16 orang (16%), Strata satu 15 orang (15%), SD 10 orang (10%) dan tidak bersekolah 2 orang.
2. Keseluruhan sampel gen KatG M. tuberculosis pada penelitian ini adalah wild tipe dan tidak dijumpai adanya mutasi Ser315Thr (G944C) M. tuberculosis pada penderita TB paru.
3. Distribusi kepatuhan penderita TB paru mengkonsumi INH dalam penelitian ini adalah patuh 84 orang (84%) dan tidak patuh 16 orang (16%).
4. Pada penelitian ini tidak dijumpai adanya mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) M. tuberculosis baik pada kelompok penderita TB paru yang patuh maupun tidak patuh mengkonsumsi INH selama pengobatan OAT. Hal ini menunjukkan bahwa INH masih sangat sensitif untuk digunakan sebagai obat lini pertama bagi penderita TB paru yang akan mulai mendapat pengobatan OAT.
5. Tidak terdapat hubungan antara karakteristik umur, jenis kelamin, suku dan pendidikan penderita TB dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH.
5.2 Saran
Ekstraksi DNA M. tuberculosis yang langsung berasal dari sputum sebagai bahan untuk pemeriksaan PCR masih jarang dilakukan pada penelitian – penelitian terdahulu. Kemungkinan akibat sering gagal atau terlalu sedikitnya konsentrasi DNA yang didapatkan dari hasil ekstraksi langsung ini. Sehingga produk PCR DNA M. tuberculosis yang berasal dari sputum sering tidak memuaskan saat visualisasi hasil elektroforesis gel agarosa dengan alat Gel Documentation. Penelitian terdahulu umumnya melakukan kultur terlebih dahulu sebelum melakukan ekstraksi untuk mendapatkan jumlah koloni M. tuberculosis yang cukup. Pada penelitian ini, peneliti mendapatkan hasil yang cukup memuaskan dengan melakukan sedikit modifikasi pada cara kerja persiapan sampel sebelum proses PCR dan elektroforesis, tidak hanya terpaku pada instruksi pabrikan bahan atau jurnal – jurnal terdahulu, peneliti menyarankan cara kerja
tersebut agar dapat membantu peneliti selanjutnya yang akan menggunakan sputum sebagai sumber sampel DNA M. tuberculosis.
Karena dalam penelitian ini didapati setelah 1 bulan tidak terjadi mutasi gen KatG Ser315Thr (G944C) M. tuberculosis baik pada yang patuh dan tidak patuh maka disarankan untuk dilakukan penelitian sampai bulan ke 6 secara berkesinambungan untuk melihat kapan terjadinya mutasi gen ini baik pada yang patuh maupun tidak patuh.
Karena tidak muncul mutasi di gen KatG Ser315Thr (G944C) M.
tuberculosis pada penelitian ini, ada kemungkinan mutasi terjadi dengan alel yang lain di kodon AGC/Ser315 selain Ser315Thr (AGCACC) / G944C. Maka disarankan untuk selanjutnya memeriksa varian mutasi yang lain dari kodon ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abe, C., I. Kobayashi, S. Mitarai, M. Wada, Y. Kawabe, T. Takashima, K.
Suzuki, L-H Sng, S. Wang, H H Htay, dan H. Ogata. 2008. Biological and Molecular Characteristics of Mycobacterium tuberculosis Clinical Isolates with Low-Level Resistance to Isoniazid in Japan. J. Clin. Microbiol 46(7):2263-2268.
Ahmad, S., E. Fares, G. F. Araj, T. D. Chugh dan A. S. Mustafa. 2002.
Prevalence of S315T mutation within the katG gene in isoniazid-resistant clinical Mycobacterium tuberculosis isolates from Dubai and Beirut. Int J Tuberc Lung Dis. 6(10):920-926.
Al-Hajjaj, M. S dan I. M. Al-Khatim. 2000. High rate of non-compliance with anti-tuberculosis treatment despite a retrieval system: a call for implementation of directly observed therapy in Saudi Arabia. Int J Tuberc Lung Dis. 4(4):345–349.
Amin, A. G., R. Goude, L. Shi, J. Zhang, D. Chatterjee dan T. Parish. 2008.
EmbA is an essential arabinosyltransferase in Mycobacterium tuberculosis.
Microbiology:Society for General Microbiology Journals.154(1): 240-248.
Ananthanarayan, R dan C. K. J. Paniker. 2005. Textbook of Microbiology.7th ed.
Orient Longman Private Ltd. Hiderabad.
Andina, M. 2012. Deteksi Mycobacterium tuberculosis Pada Sputum Penderita Tuberculosis Paru Basil Tahan Asam Negatif Dengan Reaksi Rantai Polimerase. Program Studi Magister Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Medan.
Becker, C., J. B. Dressman, G. L. Amidon, H.E. Junginger, S. Kopp, K.K. midha,
Becker, C., J. B. Dressman, G. L. Amidon, H.E. Junginger, S. Kopp, K.K. midha,