E. Penentuan Debit Optimal
5. MANAJEMEN DAN KEEKONOMIAN
5.1. JENIS KEGIATAN PROYEK
Sesuai dengan ketentuan yang lazim didalam pelaksanaan kegiatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air/PLTA pada umumnya. Di dalam pembangunan PLTA Orya 3 & 4 mengikuti urut-urutan kegiatan dengan memperhatikan komponen kegiatan, jenis dan tahap kegiatan pembangunan.
a. Kegiatan Development / Pengembangan.
Kegiatan ini meliputi : Studi Identifikasi, Pra Studi Kelayakan, Studi Kelayakan termasuk pelaksanaan studi UKL – UPL, Penyiapan Desain Dasar dan Dokumen Lelang penyelengaraan kegiatan EPC, Pembebasan lahan dan Pengurusan Perijinan : Urusan Kerjasama dengan PT PLN (Persero), Urusan Perijinan dengan PEMDA Setempat dan Institusi terkait, Urusan Perijinan dengan PSDA dan Urusan Perijinan dengan ESDM dan mendapatkan Ijin prinsip dan IUKU’s, Urusan untuk mendapatkan PPA dengan PT PLN (Persero) Distribusi.
b. Kegiatan Konstruksi
Kegiatan ini meliputi Pelaksanaan tender EPC, Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi, Uji Komissioning dan uji laik Operasi Pembangkit dan sertifikasi laik operasi (SLO) sampai dengan Pelaksanaan Pengoperasian Komersial Pertama/Commercial Operation Date (COD).
c. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan.
Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan pembentukan organisasi operasional serta pelaksanaan kegiatan Operasi dan pekerjaan pemeliharaan sehingga sistem PLTA dapat beroperasi sesuai dengan yang sudah direncanakan. Kegiatan pengembangan dan konstruksi di atas merupakan kegiatan investasi dan belum menghasilkan revenue yang masih bersifat Cost Oriented, pada tahapan ini segala bentuk pembiayaan dilakukan melalui pembiayaan sendiri dan pembiayaan dari lembaga keuangan perbankan.Pada kegiatan Operasidan
pemeliharaan merupakan masa pengembalian Investasi dengan revenue yang didapat dari pengoperasian pembangkit. Dimana hasil penjualan energi untuk kepentingan umum didapatkan dari PT. PLN ( Persero) berdasarkan kontrak PPA yang disepakati.
5.2. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN PROYEK
Pengendalian pelaksanaan pekerjaan dilakukan dengan fasilitas jadwal pelaksanaan kegiatan. Jadwal Pelaksanaan kegiatan memberikan informasi kepada semua yang berkepentingan untuk mengetahui proses pelaksanaan kegiatan dan pencapaian hasil kegiatan yang sudah dilaksanakan.
Secara manajerial aktifitas ini sangat diperlukan dalam pengendalian pelaksanaan pekerjaan, karena dibutuhkan informasi yang akurat tentang titik kritikal pelaksanaan proyek dan lama pelaksanaan pekerjaan. Kualitas hasil pekerjaan dan ketepatan waktu pelaksanaan akan memberikan dampak secara langsung terhadap penyerapan biaya investasi. Jadwal pelaksanaan kegiatan pembangunan PLTA Orya3 & 4 secara garis besar ditunjukan pada gambar 5-1.
5.3. RENCANA ANGGARAN BIAYA
Berdasarkan perhitungan desain teknik yang dilakukan dan dengan mempertimbangkan harga satuan setiap komponen PLTA kemudian diperoleh Rencana Anggaran Biaya yang dibutuhkan untuk melakukan pembangunan PLTA Orya.
Komponen investasi proyek terdiri dari : a. Biaya Tidak Langsung
b. Biaya Engineering Procurement Construction Biaya Pekerjaan Sipil dan Metal
Biaya Elektrikal dan Mekanikal Komponen Biaya Tidak Langsung
Biaya ini secara garis besar terdiri dari : biaya studi awal (reconnaissance study), pra studi kelayakan (studi potensi, disain dasar), studi kelayakan (termasuk biaya studi lingkungan dan penyiapan dokumen design & build / EPC).
Item pekerjaan ini juga termasuk biaya pembebasan lahan & perijinan dan biaya pembangunan masyarakat & lingkungan (Community Development), juga biaya organisasi untuk penugasan inisiator proyek didalamnya termasuk biaya manajemen dan dewan komisaris dan direksi perusahaan. Komponen bunga bank selama konstruksi (IDC) juga ditetapkan sebagai biaya proyek pada kelompok ini. Komponen Biaya Engineering Procurement Construction
Termasuk di dalam komponen biaya ini biaya pekerjaan sipil dan logam, terdiri dari pekerjaan: persiapan, bendung-intake-sand trap/silt trap; saluran pembawa / water way; kolam tando harian (KTH); headpond; pondasi penstok / penstock
fondation; power house & tailrace; bangunan instrastruktur : gorong, drainase
dan rumah jaga dan rumah operator; termasuk ke dalam komponen pekerjaan logam /metal works terdiri dari pintu-pintu air dan pipa penstock; dan dudukan pipa penstok.
Biaya lain yang termasuk ke dalam komponen biaya Engineering Procurement &
Construction ini adalah pekerjaan elektrikal & mekenikal. Pekerjaan elektrikal
dan mekanikal meliputi pekerjaan : pengadaan turbine & hidro generator set, switchgear, transformer, neutral grounding resistor / NGR, asesories (kabel
kontrol, kabel power & pentanahan), monorail hoist crane, instlallation & erection dan jaringan tegangan menengah 20 kV. Pekerjaan pelengkap seperti : komisioning, pelatihan dan pemeriksaan pabrikan, pengiriman barang peralatan elektrikal & mekanikal.
5.4. PARAMETER KEEKONOMIAN
Asumsi Makro EkonomiDalam proyeksi keuangan ini diasumsikan kondisi ekonomi Indonesia tercermin dalam variabel-variabel sebagai berikut:
- Pertumbuhan ekonomi yang positif yang berpengaruh pada peningkatan kebutuhan listrik dan daya beli masyarakat, hal ini ditunjukan dengan adanya pertumbuhan growth positif dari perekonomian Indonesia, dan naiknya peringkat Negara Indonesia menjadi Investment Grade.
- Kondisi moneter yang kondusif ditandai dengan laju inflasi satu digit dan tingkat bunga SBI yang stabil.
- Pada periode triwulan I-2011, perekonomian Wilayah Papua yang meliputi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi kedua Provinsi yang masing-masing tumbuh sebesar 12,62% (yoy) dan 12,99% (yoy).
( sumber : kajian ekonomi regional 2011,Bank Indonesia )
- Laju inflasi di Kota Jayapura, Manokwari dan Sorong yang merupakan kota indikator inflasi di Provinsi Papua dan Papua Barat masing-masing mencapai 4,12%,4,03% dan 5,12% mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya. Sekalipun laju inflasi di Jayapura dan Manokwari masih jauh lebih rendah dari tingkat inflasi nasional 6,65% (yoy).( sumber : kajian ekonomi regional
2011, Bank Indonesia )
- Sejalan dengan membaiknya kondisi moneter diatas maka diasumsikan selama periode proyeksi nilai tukar rupiah terhadap US Dollar tetap sebesar Rp 9.000/US$ 1.
Harga Jual Listrik/Tarif
Tarif listrik merupakan kesepakatan harga jual beli listrik, di mana kesepatan harga tersebut tertuang dalam kontrak PPA tarif (Power Purchase Agreement). Tarif PPA ( Power Purchase Agreement ) yang disepati memiliki pengaruh yang besar terhadap pendapatan perusahaan, karena jumlah energi listrik yang terjual dikalikan dengan harga PPA (Power Purchase Agreement) merupakan jumlah pendapatan perusahaan. Dan secara langsung perubahan PPA (Power Purchase Agreement) akan mempengaruhi hasil perhitungan analisa ekonomi kelayakan bisnis proyek. Harga pembelian tenaga listrik sebagaimana di maksud ditetapkan
untuk Wilayah Papua harga jual beli tenaga listrik dengan PT. PLN (Persero) sebesar Rp.984/kwh.
Operasional dan Pemeliharaan
Beberapa asumsi dasar yang digunakan dalam penyusunan Struktur Tarif energi listrik yang di jual ke PT. PLN memiliki beberapa komponen sebagai berikut: a. Komponen A (Capacity Charge): dimaksudkan untuk pengembalian biaya
pembangunan yang dikapitalisasikan yaitu biaya kapital dan biaya-biaya lain yang terkait dengan konstruksi. Biaya pengembalian ini dinyatakan sebagai Capital Cost Recovery Charge Rate (CCR).
b. Komponen B (Fixed Overhead and Maintenance Charge): dimaksudkan untuk memenuhi biaya tetap operasional dan pemeliharaan. Yang termasuk dalam komponen biaya ini antara lain adalah biaya untuk pegawai, pendukung teknis dan biaya pemeliharaan tetap, biaya umum dan administrasi serta asuransi.
c. Komponen C (Fuel Charge): dimaksudkan sebagai pengembalian biaya bahan bakar (debit air) yang dibebankan pada setiap periode penagihan.
d. Komponen D (Variabel Overhead and Maintenance Charge): dimaksudkan sebagai pengembalian biaya variabel O & M seperti bahan habis pakai untuk operasional dan suku cadang pemeliharaan dan biaya variabel O & M.
e. Harga jual energi listrik untuk komponen A akan tetap, sedangkan untuk komponen B dan D akan disesuaikan berdasarkan indeks harga konsumen Indonesia. Untuk komponen C bersifat pass trough (dibebankan kembali kepada PLN) selama masa periode proyeksi. Berikut ini adalah detail kondisi komponen struktur tarif yang dipergunakan :
5.5. HASIL PENILAIAN INVESTASI
Nilai Total Investasi, termasuk IDC : Rp 607,425,549,013 ,- Komponen pembiayaan :
o Modal sendiri (Equity) : 30% o Debt / Bank Loan (Modal pinjaman) : 70% Tingkat Suku bunga pinjaman : 12%
Depresiasi : 30 tahun
Net Present Value (NPV) : Rp 184,623,555,482,- Internal Rate of Return (IRR) : 16.34%
Benefit Cost Ratio (BCR) / profitability indeks : 1136.47%
6. KESIMPULAN
Program pembangunan PLTA Orya sangat strategis untuk menunjang sistem ketenagalistrikan Papua, khususnya wilayah Kabupaten Jayapura. Keberadaan PLTA ini dikemudian hari bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan pelistrikan desa, tetapi berpotensi untuk mendorong kegiatan ekonomi produktif.
Berikut hasil dari kegiatan studi lapangan:
Potensi daya PLTA Orya adalah 3 x 4.5 MW dengan mode operasi on grid.
PLTA Orya akan memanfaatkan sumber daya air Sungai Sermo dengan debit desain 27 m3/detik dan gross head 62.59 m.
Rencana PLTA Orya menggunakan teknologi turbin jenis Francis Horizontal dengan mesin 3 unit.
Investasi PLTA Orya, secara keekonomian layak untuk dilaksanakan, pada skema Investasi dan Sistem pendanaan 30% Equity dan 70% Dana Pinjaman.
Tingkat kelayakan keekonomian PLTA Orya adalah pada IRR ~ 16.34%, Simple Payback Periods ~ 6.21, NPV pada df 12% ~ Rp
184,623,555,482,-Secara umum, pembangunan PLTA Orya layak baik dari aspek kajian teknik maupun kajian ekonomi. Pada tahap selanjutnya dapat ditindaklanjuti kegiatan:
Mencari pendanaan dari lembaga keuangan untuk mendapatkan dukungan Dana pinjaman investasi.
Melaksanakan detail desain, sosialisasi dan persiapan pembangunan. Segera melaksanakan pembebasan lahan.
Melakukan pengikatan kerjasama dengan PT. PLN (Persero) untuk mendapat Perjanjian Jual Beli Energi (PPA).