Australia Indonesia
Keberlanjutan 12 Apakah Manfaat AIIRA Berkelanjutan?
Semua kemitraan AIIRA melihat peluang akan kegiatan kolaboratif yang berkelanjutan. Dalam hal kemitraan antara Universitas Diponegoro dan Queensland University of Technology, misalnya, dicatat bahwa:
Kemitraan proyek yang erat…telah menciptakan atmosfer saling mempercayai dan menjadi dasar untuk kolaborasi di kemudian hari. Kolaborasi ini berkelanjutan dan melibatkan kunjungan staf yang rutin. Oleh karena itu, mekanisme dibuat untuk meningkatkan pengetahuan yang ada saat ini.13
12 Keberlanjutan didefinisikan sebagai potensi program atau manfaatnya untuk terus berlanjut.
13 Kutipan mitra riset QUT & Undip, November 2016.
Pemangku kepentingan di Ende memetakan kecakapan berbagai pihak pemasok air minum sebagai bentuk kegiatan selama kemitraan AIIRA.
HASIL KONSEKUENSI
Jangka Pendek
Metode dan hasil riset baru yang
dikembangkan dan diterapkan. Dari 11 kemitraan riset AIIRA, semuanya menunjukkan bukti jelas dari teknik riset yang baru dan seringkali inovatif yang dikembangkan secara bersama.
Partisipan melaporkan peningkatan kapasitas untuk melakukan riset di wilayah-wilayah tertentu.
Meskipun sebagian besar bukti peningkatan kapasitas dilaporkan oleh mitra Indonesia, mitra internasional juga melaporkan peningkatan kapasitas, khususnya oleh para peneliti karir awal.
Pengaturan kemitraan mendukung
alokasi sumber daya dan inisiatif riset. Dalam sebagian besar kesempatan, sumber daya dibagi secara adil sesuai dengan keragaman (berbagai tingkat) kegiatan riset. Dalam satu kesempatan, mitra Indonesia mengeluh bahwa mitra internasional memiliki akses ke sebagian besar sumber daya yang tersedia; hal ini diselesaikan setelah intervensi oleh IndII.
Jangka Menengah
Kegiatan menerapkan hasil riset baru pada kebijakan dan praktik infrastruk-tur.
Umpan balik dari badan dan lembaga Pemerintah Indonesia yang berpartisipasi men-unjukkan bahwa banyak dari mereka siap/bersedia untuk menerima rekomendasi dan perangkat yang dihasilkan melalui program AIIRA.
Perbaikan kapasitas menggerakkan berbagai kegiatan dan inisiatif riset baru.
Lembaga dan badan pemerintah Indonesia dan Australia yang berpartisipasi telah meningkatkan kapasitas untuk menetapkan riset baru dan yang diperlukan, serta proses yang tepat untuk memprakarsai hal ini.
Kemitraan terus berlangsung terlepas
dari kegiatan AIIRA. Sebagian besar kemitraan AIIRA dimaksudkan untuk melanjutkan kegiatan riset dan pertukaran mereka saat ini, berdasarkan pengalaman AIIRA mereka. Jangka Panjang
Riset dan peningkatan kapasitas memberikan masukan bagi proses infrastruktur dan kebijakan di Indonesia.
Meskipun hasil jangka panjang kegiatan riset AIIRA sulit dinilai pada tahap ini, indikasi awal menunjukkan bahwa badan Pemerintah Indonesia di tingkat kabupaten, provinsi dan nasional giat melaksanakan kegiatan berdasarkan hasil riset.
Tabel 2: Hasil dan Konsekuensi Berdasarkan Logika Program/Teori Perubahan
Meskipun berbagai kegiatan telah dimulai, upaya kolaboratif lain memerlukan pengembangan lebih lanjut, dan dalam beberapa kasus, sumber daya tambahan. Perlu diketahui bahwa beberapa rencana kegiatan kolaboratif mungkin tidak akan berkembang lebih dari sekadar konsep, sebagian karena terbatasnya pendanaan yang tersedia bagi lembaga tersier dan lembaga riset di Indonesia. Namun, salah satu hal penting dari strategi keberlanjutan AIIRA adalah menunjukkan nilai dari model pengembangan kapasitas yang berbiaya relatif rendah dalam sektor riset
infrastruktur dan menciptakan hubungan antar sejawat yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan hasil yang baik pada saat sumber daya tersedia.
Hal yang sama pentingnya untuk keberlanjutan program adalah terjalinnya hubungan antara lembaga dan badan pemerintah Indonesia. Bagi badan-badan Pemerintah Indonesia di semua tingkat, kemitraan riset AIIRA memenuhi berbagai prioritas yang akan terus mengambil manfaat dari program dan mendorong pembahasan atas kebijakan nasional terkait. Tabel 2 (di bawah ini) menunjukkan pencapaian AIIRA terhadap tujuan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang yang ditetapkan dalam Logika Program. Selanjutnya, Tabel 3 memberikan garis besar yang lebih terperinci akan hasil kunci riset AIIRA dan beberapa rencana kegiatan kolaboratif atau perluasan di kemudian hari yang ditetapkan oleh berbagai mitra AIIRA.
Tabel 3: Kemitraan Riset AIIRA: Proses/Hasil dan Langkah Selanjutnya
No. Penelitian Proses/Hasil dan Langkah Selanjutnya
1 Memastikan keberlangsungan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat melalui kerangka hukum
Proses/Hasil. Enam puluh persen upaya bersasaran khusus dari Pemerintah Indonesia untuk mencapai akses universal ke sanitasi dan air minum bersih per 2019 bergantung pada keberlanjutan upaya Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum dan Sanitasi (HIPPAMS). Kemitraan menghasilkan serangkaian rekomendasi untuk membantu Pemerintah Indonesia mengatasi ketidakcukupan terkait kerangka peraturan dan kelembagaan untuk HIPPAMS. Rekomendasi-rekomendasi tersebut didasarkan pada pertanyaan riset kunci “Bagaimana kerangka peraturan dapat memastikan keberlanjutan HIPPAMS”?
Langkah selanjutnya. UIK Bogor baru-baru ini menandatangani kontrak kerjasama dengan sebuah universitas Australia untuk menyelidiki lebih lanjut topik AIIRA. UIK telah mengidentifikasi dua proyek riset potensial lainnya yang akan dibangun berdasarkan hasil dari proyek AIIRA.
2 Riset transparansi anggaran berbasis web Kota Kita: perencanaan pembangunan infrastruktur pro-masyarakat miskin yang akuntabel
Proses/Hasil. Perangkat pemantauan berbasis web baru pada Forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di Surakarta, bernama Mus-Tracker, diperkenalkan oleh kemitraan riset antara Yayasan Kota Kita dan Australia National University. Perangkat baru tersebut diharapkan mendorong lebih banyak warga untuk berpartisipasi dan secara efektif memantau kinerja dan hasil proses Musrenbang.
Langkah selanjutnya. Staf kecamatan pemerintah kota Surakarta telah dilatih untuk mendigitalkan data Musrenbang, dan untuk memasukkan data secara elektronik ke Kantor Walikota. Sebuah pengaya (add-on) kegiatan bernama Mus-Tracker, yaitu sebuah (prototip) platform web pemantauan digital, terus memberikan akses ke data tentang proyek yang ada di berbagai penjuru kota. Perangkat web ini beroperasi dengan menghubungkan basis data seluruh kota dengan penjelajah web (web browser) yang dapat diakses oleh siapa pun melalui koneksi internet. Warga saat ini menggunakan perangkat ini untuk melacak berbagai proyek individu dan memantau status mereka, serta untuk memberikan komentar tentang proyek-proyek tersebut.
3 Mengembangkan penyediaan layanan air minum terpadu untuk menyelamatkan ekosistem
Proses/Hasil. Untuk memperbaiki pengelolaan air minum antar beragam organisasi berbeda di berbagai tingkat pemerintahan di Indonesia, kemitraan riset menghasilkan makalah mengenai opsi terperinci untuk memperkuat hubungan antara hulu dan hilir dari daerah tangkapan air. Kemitraan riset menetapkan pembayaran untuk skema layanan daerah aliran sungai, dipadukan dengan reformasi kelembagaan, sebagai solusi potensial untuk berbagai tantangan penyediaan layanan air minum di Indonesia.
Langkah selanjutnya. Proyek riset dilakukan di wilayah-wilayah yang dilayani oleh lima perusahaan daerah air minum (PDAM) – Medan, Jakarta, Semarang, Mataram dan Ambon. Keragaman wilayah sasaran meningkatkan penerapan temuan untuk berbagai pusat kawasan perkotaan di daerah lain di Indonesia. 4 Perangkat sosial ekologis dalam pembangunan infrastruktur mineral
Proses/Hasil. Perangkat perencanaan yang menyertakan teknologi spasial dan pelibatan sosial dapat membantu perancangan berbagai koridor infrastruktur yang sensitif terhadap berbagai faktor sosial ekologis dan mendorong partisipasi aktif masyarakat terdampak. Kemitraan menghasilkan laporan yang merinci bagaimana perangkat ini sangat berpotensi untuk memenuhi tujuan pembangunan dalam sektor pertambangan dengan konflik minimal, dan, pada saat yang sama, membantu memperbesar kemungkinan agar proyek dapat diterima oleh masyarakat.
Langkah selanjutnya. Hubungan riset lebih lanjut antar lembaga riset di setiap universitas mitra telah ditetapkan dan saat ini terdapat pertukaran.
5 Pembelajaran sosial dan kontrak sosial untuk meningkatkan tata kelola, perencanaan infrastruktur, dan penyediaan layanan air minum
Proses/Hasil. Kemitraan menghasilkan studi komparatif yang mempertimbangkan apakah kontrak sosial dapat berkontribusi terhadap tata kelola air minum dan kinerja perusahaan air minum. Dua lokasi yang telah mengembangkan kontrak sosial, sebagai bagian dari proyek percontohan IndII, dipilih untuk penelaahan, dan lokasi ketiga yang memiliki perusahaan daerah air minum (PDAM) berkinerja tinggi tanpa menggunakan kontrak sosial, digunakan sebagai perbandingan.
Langkah selanjutnya. IWC telah memperkuat hubungannya dengan Bappenas dan dengan pemain-pemain utama di sektor air minum dan sanitasi di Indonesia; hubungan ini akan mendukung kolaborasi berkelanjutan dalam pelaksanaan kontrak sosial di mana pun.
No. Penelitian Proses/Hasil dan Langkah Selanjutnya 6 Optimalisasi pembangunan infrastruktur multimoda di Indonesia untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi rantai logistik
Proses/Hasil. Studi Harmonisasi Logistik Indonesia mengungkap serangkaian penghambat efisiensi di sepanjang rantai logistik pelabuhan laut internasional Jakarta, dan mengusulkan solusi. Apabila ditindaklanjuti industri dan pemerintah, solusi yang diusulkan dapat meningkatkan efisiensi logistik transportasi laut dalam jangka pendek.
Langkah selanjutnya. Riset menetapkan solusi praktis dan 35 rekomendasi (dalam kategori yang mencakup Infrastruktur Teknologi Informasi Komunikasi, Peraturan Perundang-Undangan, serta
Pendidikan dan Pelatihan), yang apabila dilaksanakan, akan membantu peningkatan efisiensi dan
membangun sebuah platform peningkatan produktivitas guna mendukung daya saing rantai pasokan global Indonesia. 7 Meningkatkan infrastruktur irigasi untuk ketahanan pangan dan air minum yang lebih kuat di Indonesia bagian timur
Proses/Hasil. Kemitraan mengeksplor tantangan penyediaan layanan air irigasi yang efektif dan adil, serta akses untuk memperoleh layanan air minum yang sesuai dan layanan sanitasi yang memadai di seluruh wilayah irigasi NTT. Tim riset yang berasal dari berbagai disiplin, berusaha untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi tantangan-tantangan ini agar penghidupan dapat diperbaiki melalui kebijakan yang disusun berdasarkan informasi memadai. Tim menggunakan pendekatan terpadu yang mempertimbangkan penggunaan air karena berkaitan dengan sumber daya air irigasi, sanitasi, dan rumah tangga.
Langkah selanjutnya. Hasil berkelanjutan kunci dari proyek adalah berupa kapasitas riset para mitra Indonesia yang telah berkembang dan nilai serta efektivitas dari model yang melibatkan pemerintah daerah. Karena semua perangkat riset proyek dikembangkan secara kolaboratif bersama dengan mitra dan perwakilan pemerintah, maka menghasilkan rasa kepemilikan yang tinggi.
8 Infrastruktur sanitasi untuk masa mendatang
Proses/Hasil. Kemitraan menghasilkan metodologi yang kuat guna mendorong pengambilan keputusan terkait penyediaan infrastruktur sanitasi yang baik untuk pengelolaan saluran pembuangan yang aman di berbagai wilayah perkotaan di Indonesia. Kerangka Pendukung Pengambilan Keputusan (Decision
Support Framework, DSF) diperkuat oleh konsep risiko epidemiologi lanskap dan kesehatan masyarakat.
DSF selanjutnya diperkuat oleh kerja lapangan kolaboratif, uji laboratorium, pengembangan basis data spasial, analisis Geospasial, dan penetapan model sistem dengan anggota tim riset dari Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Drainase dan Energi Sumber Daya Mineral (Dinas PSDA ESDM).
Langkah selanjutnya. Kegiatan telah menghasilkan basis data geografis yang berharga dan Kerangka Pendukung Pengambilan Keputusan (DSF) yang memiliki relevansi praktis untuk berbagai wilayah perkotaan lain. Kegiatan AIIRA telah membantu membentuk kemitraan kolaboratif yang kuat antar tim riset QUT dan Undip, dan lima kegiatan “lanjutan” telah ditetapkan, dengan dua di antaranya telah memperoleh pendanaan.
9 Memperkuat pengaturan tata kelola untuk sanitasi kota besar dan kota kecil
Proses/Hasil. Kemitraan menghasilkan laporan terperinci yang memberikan pandangan mengenai efektivitas kelompok kerja sanitasi di tingkat pemerintah daerah (Pokja Sanitasi) dan peran serta tanggung jawab para pemangku kepentingan pemerintah daerah dalam menyusun Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota.
Langkah selanjutnya. Keterlibatan SNV dan Kemitraan diharapkan menghasilkan inisiatif riset aksi yang berkelanjutan. 10 Pengembalian sosial atas investasi untuk proyek air minum dan sanitasi oleh Pemerintah Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur
Proses/Hasil. Untuk membantu Pemerintah Daerah memilih proyek sanitasi terbaik (dan paling hemat biaya) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat jangka panjang, kemitraan riset menyusun kerangka kerja sederhana untuk mengukur dan mempertanggungjawabkan nilai inisiatif infrastruktur kepada masyarakat. Hasil kuncinya adalah Penghitung Dampak Infrastruktur berdasarkan pendekatan Pengembalian Sosial atas Investasi (Social Return on Investment, SROI).
Langkah selanjutnya. Pemerintah Gresik bermaksud menerapkan metode Pengembalian Sosial atas Investasi pada berbagai proyek infrastruktur lain (yaitu non-air minum dan sanitasi) guna membantu mereka mengukur dampak sosial dan lingkungan. Selanjutnya, Penghitung Dampak Infrastruktur dianggap sebagai perangkat yang fleksibel yang dapat digunakan oleh Pemerintah Daerah Indonesia lain untuk menghitung Pengembalian Sosial dari Investasi dari berbagai proyek air minum dan sanitasi.
11 Investigasi pembiayaan patuh Syariah dalam proyek infrastruktur Indonesia
Proses/Hasil. Dalam konteks pasar keuangan syariah di Indonesia, kemitraan mengeksplor kesesuaian antara keuangan Syariah dan proyek infrastruktur, dan jenis-jenis pembiayaan Syariah dalam bidang infrastruktur. Hasil kuncinya adalah kerangka kerja Toolkit Pembiayaan Syariah untuk mencatat langkah-langkah dan prosedur yang diperlukan untuk Pembiayaan Syariah, khususnya Sukuk, sebagai instrumen pembangunan infrastruktur transportasi.
Langkah selanjutnya. Toolkit yang diusulkan dalam rencana riset awal tidak lengkap. Kerangka kerja yang dikembangkan memerlukan pekerjaan lebih lanjut untuk memastikan dapat diterapkannya Toolkit secara praktis dalam situasi-situasi tertentu.
Tentang penulis
Geoff Lacey adalah seorang penasihat
pembangunan internasional, bertanggung jawab untuk mendukung program-program tersier, dan program-program riset, pendidikan, pelatihan dan beasiswa kelembagaan dan sistemik, serta kemitraan kelembagaan di Australia dan berbagai negara di Asia, Pasifik, dan Afrika. Geoff telah memberikan konsultasi dan menyusun sejumlah dokumen desain program dan melakukan kajian teknis atas berbagai prakarsa yang tengah berlangsung dan yang akan segera berakhir dalam sektor pembangunan di sejumlah negara. Dalam perannya sebagai penasihat atas pelaksanaan AIIRA, ia bekerja bersama Lynton Ulrich (Kepala Penasihat Pembiayaan Infrastruktur IndII) dan Nur Hayati (Senior Program Officer IndII).