• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.2. Manfaat Bagi Tenaga Kesehatan, Institusi, Akademisi,

Manfaat penelitian ini bagi tenaga kesehatan adalah sebagai informasi mengenai kanker payudara pada pasien wanita usia sangat muda < 35 tahun yang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan.

Bagi Institusi akademisi penelitian ini menambah informasi mengenai kanker payudara pada pasien wanita usia sangat muda < 35 tahun yang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan.

Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang kanker payudara pada pasien wanita usia sangat muda < 35 tahun yang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan.

Bagi pasien dan masyarakat awam, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dan pemahaman, supaya tidak terlambat untuk berobat dalam penanganan kanker payudara pada wanita usia sangat muda < 35 tahun serta memahami penatalaksanaan yang harus diikuti dan dipatuhi bagi pasien.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KankerPayudara 2.1.1Definisi

Menurut The American Cancer Society (2012), kanker payudara adalah tumor ganas yang dimulai pada sel dipayudara.Tumor ganas adalah sekelompok sel-sel kanker yang dapat berkembang kejaringan disekitarnya atau menyebar(metastasis) menuju area yang jauh dibadan. Penyakit ini kebanyakan menyerang wanita, namun laki-laki juga memiliki kemungkinan menderita penyakit ini.

Payudara wanita dewasa terletak diantara tulang rusuk kedua dan keenam dan antara tepi sterna dan linea midaxillaris. Payudara terdiri dari kulit,jaringan subkutan,dan jaringan payudara,dengan jaringan payudara termasuk elemen epitel dan stroma. Elemen epitel membentuk 10%sampai15% dari massa payudara, dan sisanya adalah stroma (Morrowetal.,2015).

Setiap payudara terdiri terdiri dari 15 sampai 20 lobus dari kelenjar yang didukung oleh jaringan ikat fibrosa. Ruang antara lobus diisi dengan jaringan adiposa, dan jumlah jaringan adipose berpengaruh dalam perubahan ukuran payudara. Pasokan darah dipayudara berasal dari interna payudara dan arteri torakalislateral (Morrowetal.,2015).Kanke rpayudara dapat tumbuh dalam kelenjar susu, saluran susu,jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara(Pane, 2002).

5

Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi (Morrowet al.,2015). Kedua tahap tersebut diperjelas melalui gambar 2.1.Beberapa agen bertindak sebagai inisiator, agen ini disebut karsinogen yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi atau sinar matahari. Selanjutnya agen menyebabkan perubahan permanen pada sel-sel namun tidak secara langsung menyebabkankanker.Tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu karsinogen. Kontak dengan inisiator ini menyebabkan mutasi gen. Agen lain bertindak sebagai promotor, mengakibatkan perubahan sementara dan hanya menyebabkan kanker jika kontak terjadi terus-menerus pada sel yang telah diinisiasi oleh agen lain. Dari pandangan klinik, kanker muncul akibat paparan jangka lama oleh suatu agen (Morrow et al., 2015; Tobias & Hochhauser, 2010)

Gambar2.1.Inisiator dan promotor pada karsinogenesis.

TahapA, kerusakan kromosom disebabkan oleh inisiator. Kerusakan ini bias diperbaiki (tahapB)atau, akibat pengaruh promotor dapat menyebabkan

pertumbuhan neoplastik (tahapC) (Tobias & Hochhauser,2010)

2.1.2TipeKanker

NationalComprehensiveCanceNetwork(NCCN) Guidelinestahun 2012 membagi tipe kanker payudara menjadi 2 tipe utamayaitu:

1. Kanker payudaranoninvasif a. Kanker tipe lobular in situ

Merupakan diagnosis mikroskopik,bukan abnormalitasyang mencolok.Olehkarenaitu,tipe kanker ini selalutidak teraba danhampir tidakmungkindilakukandiagnosisdengan pemeriksaan klinik secaralangsung(Dipiroet al.,2009).

b. Kanker tipe duktal in situ

Tipeinilebihsering ditemukandibandingkanker tipe lobular in situdengan rasiosekitar 6 hingga 3:1. Terdapatlima perbedaan pola histologi dari kanker ini yaitu: comedo, cribriform, micropapillary, papillary, dan solid (Dipiro et al., 2009). Pada awalnya kanker muncul sebagai proliferasi atipikal dari ductal epitheliumyang akhirnya mengisi danmenyumbatpembuluh denganselneoplastik. Kanker tipe duktal in situ terlokalisasitak dapatdirasakan denganrabaannamunlebih sering nampak padapemeriksaanmamografi sebagaidaerahdengan mikrokalsifikasi. Tidak semua kanker tipe duktal in situakan berkembang secara pasti, tetapikemungkinan perkembangankanker invasif diperkirakan sekitar 30-50% (Cassidyet al., 2002).

2. Kanker payudarainvasif a. Kanker tipe duktal

Tipe initer dapat pada 75% kanker payudara. Sel-sel ganas berasosiasi dengan stroma fibrosa sehingga berubah menjadi cairan kental(kanker scirrhous). Tumor menyerang melalui jaringan payudara ke dalam limfatikdan vaskular, untuk mendapatkan akses menujunoda regional (aksila dan,terkadang,internal mammae) dan sirkulasi sistemik. Tingkatan histologist tumor dinilai daritiga fitur (pembentukan tubulus, pleomorfisme nuklir, dan frekuensi mitosis) dan prediksi perilaku tumor (Cassidy et al.,2002).Tipe ini sering kali mengalamimetastasisketulang,liver, paru-paru atau otak (Dipiro et al., 2009).

b. Kanker tipe lobular

Kanker tipe lobular terjadi sekitar 5-10% pada tumor payudara.Presentasi yang khas dari tipe ini adalah adanya penebalan dipayudara,berbeda dengan adanya gumpalan yang menonjol pada kanker tipe duktal. Tipe ini lebih umum mengalami metastasis kepermukaan meningeal dan serosal serta bagian lainnya yang lebih jarang (Dipiroet al., 2009)

2.1.3 Faktor Risiko

Beberapa factor risiko dari kanker payudarayaitu:

1. Usia

Risiko perkembangan kanker payudara meningkat dengan bertambahnya umur.

Menurut The American Cancer Society(2012), sekitar 1 dari 8 kanker payudara noninvasive ditemukan pada wanita yang lebih muda dari 45tahun, sementara

sekitar 2 dari 3 kanker payudara invasif ditemukan pada wanita dengan umur 55tahunatau lebih tua. Dibandingkan dengan kanker paru-paru, kejadian kanker payudara lebih tinggi pada usia yang lebih muda (McPhersonet al.,2000).

2. Jenis Kelamin

Wanita termasuk dalam faktor risiko terjadinya kanker payudara. Laki-laki dapat terkena kanker payudara namun penyakit ini 100 kali lebih sering terjadi pada wanita dibanding laki-laki (TheAmerican Cancer Society, 2012).

3. Riwayat Keluarga

Riwayat keluarga pada kanker payudara diketahui berhubungan secara kuat dengan risiko terjadinya kanker payudara pada wanita. Perkiraan empiris dari risiko tersebut berhungan dengan pola tertentu pada riwayat keluarga,yaitu (Dipiroet al., 2009):

a. Memiliki garis keturunan pertama dengan pasien kanker payudara meningkatkan risiko 2 hingga 3 kali.

b. Risiko lebih tinggi berhubungan dengan kanker payudara yang muncul pada usia lebih muda dari 45 tahun pada satu atau lebihgaris keturunan pertama.

c. Memiliki lebih dari satu garis keturunan pertama yang menderita kanker payudara secara tidak konsisten berhubungan dengan kenaikan risiko.

d. Memilikigarisketurunankeduayangmenderitakankerpayudara meningkatkan risiko sekitar 50%.

e. Keluargadarisisimaternalmaupunpaternalmemilikirisikoyang hampir sama.

4. GayaHidup

Diet dan berat badan merupakan beberapa factor gaya hidup yang berhubungan dengan risiko kanker payudara. Terdapa tkorelasi antara kejadian kanker payudara dengan dietary fat intake, namun korelasi in itidak kuat.Obesitas berhubungan dengan kenaikan dua kali lipat risiko kanker payudara pada wanita postmenopause sementara pada wanita premenopause berhubungan dengan penurunan kejadian kanker payudara(McPhersonetal.,2000).

5. Hormonal

Menarch pada usia di bawah 12 tahun risiko 1,7- 3,4 kali dan menopause usia di atas 55 tahun risiko 1,5 kali. Penggunaan kontrasepsi oral lebih dari 8-10 tahun juga meningkatkan risiko terhadap kanker payudara (Suyatnoet al., 2009).

6. Riwayat Kanker

The American Cancer Society pada tahun 2012 menjelaskan bahwa wanita dengan kanker pada salah satu sisi payudara memiliki peningkatan risiko 3 hingga 4 kali untuk kembali menderita kanker pada sisi lain dari payudaranya.

2.1.4 Diagnosis

a. PemeriksaanKlinis

Pemeriksaan awal merupakan pemeriksaan padapasien dalam posisi duduk dengan mengamati simetri, inversi puting, perubahan kulit dan kontur payudara (Barberetal.,2008).Pemeriksaan klinik ini direkomendasikan pada wanita dengan risiko menengah kanker payudara dan dimulai sejak awal umur 20an tahun.

Pemeriksaan ini hendaknya menjadi pemeriksaan kesehatan periodic minimal setiap 3 tahun sekali. Wanita dengan umur diatas 40 tahun hendaknya melakukan

pemeriksaan ini setiap tahun dan lebih ideal bila dilakukan sebelum mamografi rutin tiap tahun (Cassiatoet al., 2009).

b. Teknik Imaging

 Mamografi

Mamografi merupakan teknik yang paling sensitif dan spesifik untuk mendeteksi kanker payudara. Payudara dikompresi untuk meratakan jaringan payudara dan untuk mengurangi gerakan dan tumpang tindih

bayangan. Ketebalan yang seragam dari jaringan meningkatkan kualitas gambar dan kontras. Radiasi rendah

energi dipaparkan pada payudara sehingga menghasilkan gambar dengan kontras tinggi. Sekitar 7% wanita menyatakan pemeriksaan sangat menyakitkan, dan sebagian besar merasa tidak nyaman (Cassidyetal., 2002).

Mamografi memungkinkan deteksi massa lesi,d Daerahdistorsi parenkim,dan mikro kalsifikasi. Payudara relatif lebih padat pada wanita yang lebih muda maka mamografi biasanya tidak dilakukan pada mereka yang berusia di bawah 35 tahun(Barber et al.,2008).

 Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan melalui USG dilakukan menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi yang dilewatkan pada payudara, refleksi terdeteksi dan diubah menjadi gambar.USG payudara aman, tanpa rasa sakit, dan cocok untuk digunakan di segala usia. Pada pasien kanker, teknik ini berguna untuk memandu biopsi inti dan menilai

ukuran,multifokalitas,dan adanya metastasis kelenjar getah bening(Barberet al., 2008).

c. Biopsi

Jika pasien memiliki gambaran mamogram mencurigakan, dokter akan menjalan kanbiopsi. Ada dua cara unutk mendapatkan biopsi yangdilakukan hanyadengan sedikit operasi (David, 2010):

Biopsi aspirasi jarum halus (fineneddle aspiration biopsy)

Jarum berongga sangat kecil dimasukkanke dalam payudara. Sampel sel diambil dan diperiksa dibawah mikroskop. Metode ini tidak meninggalkan bekas luka.

Biopsi jarum cor inti (core needle biopsy)

Jarum dengan ukuran lebih besar dimasukkan untuk mengambil beberapa sampel jaringan yang lebih besar dari area yang terlihat mencurigakan.

Untuk melakukan metode ini,ahli bedah harus membuat sayatan kecil.

Halter sebutakan meninggalkan bekas luka kecil yang nyaris tak terlihat setelah beberapaminggu.

2.1.5 Stadium

Stadium penyakit kanker adalah suatu keadaan dari hasil penilaian dokter saat mendiagnosis suatu penyakit kanker yang diderita pasiennya, sudah sejauh manakah tingkat penyebaran kanker tersebut baik ke organ atau jaringan sekitar maupun penyebaran ketempat jauh. Stadium hanya dikenal pada tumor ganas atau kanker dan tidak pada tumor jinak. Banyak sekali cara untuk menentukan stadium, namun yang paling banyak dianut saat ini adalah

stadium kanker berdasarkan klasifikasi sistim TNM yang direkomendasikan oleh UICC (InternationalUnion Against Cancer) atau AJCC (AmericanJointCommitteeOn Cancer). Pada system TNM ini dinilai tiga factor utama,yaitu:

1. T = tumor (Seberapa besar ukuran tumornya dan dimana lokasinya) 2. N = node (Kelenjar getah bening di sekitar tumor. Apakah tumor

telah menyebar ke kelenjar getah beningdisekitarnya)

3. M = Metastasis (Kemungkinan tumor telah menjalar keorgan lain) Ketiga factor T,N,M dinilai baik secara klinis sebelum dilakukan operasi, juga sesudah operasi dan dilakukan pemeriksaan histopatologi (PA).Pada kanker payudara, penilaian TNM berdasarkan AJCC edisi 8 sebagai berikut:

1) T (Tumor size), ukurantumor

- T0 tidak ditemukan tumor primer

- T1 ukuran tumor diameter 2cm atau kurang - T2 ukuran tumor diameter antara 2-5cm - T3 ukuran tumor diameter >5cm

- T4 ukuran tumor berapa saja, tetapi sudah ada penyebaran kekulit atau dinding dada atau pada keduanya , dapat berupa borok, edema atau bengkak, kulit payudara kemerahan atau ada benjolan kecil di kulit di luar tumor

2) N (Node), kelenjar getah bening regional (KGB)

- N 0 tidak terdapat metastasis pada KGB regional di ketiak/aksila - N 1 ada metastasis ke KGB aksila yang masih dapat digerakkan

- N 2 ada metastasis ke KGB aksila yang sulit digerakkan atau hanya pada

mammari interna

- N 3 ada metastasis ke KGB di atas/di bawah tulang selangka

(supraclavicular/infracavicular) atau pada KGB di mammari interna dan aksila

3) M (Metastatic), penyebaran jauh

- M x metastasis jauh belum dapat dinilai - M 0 tidak terdapat metastasis jauh - M 1 terdapat metastasis jauh

Berdasarkan TNM, kanker payudara dapat dikelompokkan menjadi beberapa stadium, yaitu: stadium 0, IA dan IB, IIA dan IIB, IIIA IIIB dan IIIC, dan IV.

- Stadium 0 adalah Tis No M0 - Stadium IA adalah T1a N0 M0

- Stadium 1B adalah T0 N1mi M0, dan T1a N1mi M0 - Stadium IIA adalah T0 N1b M0, dan T1 N1b M0 - Stadium IIB adalah T2 N1 M0, dan T3 N0 M0

- Stadium IIIA adalah T0 N2 M0, T1a N2 M0, T2 N2 M0, T3 N1 M0, dan T3 N2 M0

- Stadium IIIB adalah T4 N0 M0, T4 N1 M0, dan T4 N2 M0 - Stadium IIIC adalah T apapun N3 M0

- Stadium IV adalah T apapun N apapun M1

2.1.6 Grading Histopatologi

Selain menggunakan metode TNM untuk menilai ekspansi tumor, para dokter juga menggunakan metode grading dalam menilai suatu keganasan. Cara yang paling umum digunakan untuk menilai kanker payudara adalah cara Nottingham atau Elston-Ellis (modifikasi dari sistem grading Scarff-Bloom-Richardson). Cara tersebut dalam menilai grading adalah dengan menggunakan kategori dibawah ini

- Tubule formation: seberapa banyak duktus payudara yang normal yang terdapat di jaringan tumor

- Nuclear grade: evaluasi mengenai ukuran dan bentuk inti sel pada sel-sel tumor

- Mitotic rate: seberapa banyak jumlah sel yang terlihat sedang membelah diri, terkait dengan kecepatan sel-sel tumor dalam bertumbuh dan membelah diri.

Setiap kategori memiliki nilai 1 sampai dengan 3. Skor 1 berarti sel-sel dan jaringan tumor terlihat sama dengan sel-sel dan jaringan yang normal, dan skor 3 berarti sel-sel dan jaringan tumor terlihat sangat tidak normal. Kemudian total skor ketiga kategori tersebut dijumlahkan dan akan menghasilkan skor 3 sampai dengan 9. Hasil tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 grade:

- Skor total: 3-5: G1 (Low grade atau well differentiated)

- Skor total: 6-7: G2 (Intermediate grade atau moderately differentiated) - Skor total: 8-9: G3 (High grade atau poorly differentiated)

2.1.7. Terapi

a. Terapi Loko-Regional

 Pembedahan

Hampir semua wanita yang menderita kanker payudara mendapatkan terapi dengan pembedahan. Dua tipe pembedahan yang paling umum adalah breast conserving surgery dan mastektomi (NCCN, 2012).

Kuadran tektomi diperkenalkan pada awal 1970-an merupakan breast conserving surgery dengan menghilangkan kanker primer yang memiliki margin 2,0cm dari jaringan payudara normal. Lumpektomi adalah operasi untuk menghilangkan massa tumor dengan jaringan normal yang terbatas (1cm). Percobaan acak dengan membandingkan breast conserving surgery diikuti radio terapi dengan mastektomi menunjukkan tingkat kontrol lokal dan kelangsungan hidup. Breast conserving surgery tidak selalu cocok untuk wanita dengan penyakit multifokal dan tumor besar pada payudara yang kecil. Beberapa pasien memilih mastektomi karena kemungkinan dapat menghindari radioterapi (Cassidyet al., 2002).

 Terapi radiasi

Terapi radiasi dilakukan dengan menggunakan sinar berenergi tinggi(atau partikel) untuk menghancurkan sel kanker yang tertinggal dibelakang payudara, dinding dada, atau limfanodi setelah pembedahan (NCCN,2012). Iradiasi payudara telah terbukti mengurangi risiko kekambuhan lokal setelah operasi payudara dari sekitar 30% sampai

<10% pada 10tahun(Cassidyet al., 2002).

b. Terapi Sistemik

 Kemoterapi

Kemoterapi adalah terapi dengan obat yang dapat membunuh sel kanker yang dapat diberikan secara intravena atau peroral. Obat tersebut mengikuti aliran darah untuk mencapai sel kanker pada semua bagian tubuh. Kemoterapi direkomendasikan berdasarkan ukuran tumor, stadium tumor, serta ada atau tidaknya keterkaitan limfa nodi (The American Cancer Society, 2012).

Efek samping umum dari kemoterapi diantaranya kelesuan, mual dan muntah, rambut rontok, mucositis,supresi sumsum tulang, dan tromboemboli. Antrasiklin jika diberikan dalam dosis besar kumulatif dapat menyebabkan kerusakan jantung dan taxanes berhubungan dengan kemungkinan tinggi sepsis neutropaenic dan neurotoksisitas (Barberet al., 2008).

Pasien kanker payudara yang bebas penyakit setelah pengobatan lokal dan regional pengobatan tetap memiliki kemungkinan kambuh dan metastase penyakit.Risiko metastasis rendah dalam kasus-kasus dengan kanker berukuran kecil dan noda negatif, risiko semakin meningkat dengan ukuran kanker primer dan jumlah noda metastasis aksila (Cassidyet al., 2002).

Kemoterapi umumnya digunakan dalam pengaturan ajuvan setelah pengobatan lokal kanker payudara pada pasien dengan prognosis kanker moderat dan buruk. Terapi endokrin (yang mengurangi pembelahan sel-sel kanker) umumnya tidak digunakan bersamaan dengan kemoterapi.

Kemoterapi juga dapat digunakan dalam pengaturan neoadjuvant untuk pengobatan awal pada kanker payudara dengan ukuran besar atau stadium lanjut, dalam upaya untuk mengurangi ukuran kanker agar memungkinkan dilakukan operasi (Barberet al., 2008)

 Terapi hormonal

Enam puluh persen dari kanker payudara memiliki estrogen reseptor positif. Tamoxifen dapat meningkatkan kelangsungan hidup dengan bebas penyakit secara keseluruhan pada semua wanita, terutama pasca-menopause. Manfaat dari terapi ini berkurang jika ER (estrogen-receptor) diketahui negatif (Cassidy et al., 2002).

Tamoxifen adalah modulator reseptor estrogen selektif yang memiliki aksi antagonis dalam kanker payudara dengan reseptor estrogen.

Tamoxifen mengurangi risiko kematian akibat kanker payudara sekitar 25% dan efektif dalam semua kelompok usia terlepas dari status menopause-nya. Dosis 20 mg perhari biasanya diberikan selama 5 tahun.

Tamoxifen mengurangi risiko kanker payudara kontralateral antara 40 dan 50%, tetapi kurang efektif terhadap tumor dengan human epidermal growth factor receptor (HER)2-positif. Efek samping dari tamoxifen termasuk tromboemboli vena, hot flushes, gangguan pencernaan, vagina kering, perubahan libido, gangguan menstruasi, dan kanker endometrium(Barberet al., 2008).

 Terapi antibodimonoklonal

HER2 diekspresikan secara berlebihan pada sekitar 20% dari kanker payudara. HER2 telah lama dikenal sebagai penanda prognosis yang

buruk pada kanker payudara. Pada pasien dengan kanker HER2- positif, pemberian trastuzumab sendiri atau dalam kombinasi dengan agen kemoterapi sitotoksik dapat meningkatkan kelangsungan hidup pasien dengan penyakit metastasis dan mengurangi kekambuhan bila diberikan dalam pengaturan ajuvan (Barber et al., 2008).

Trastuzumab adalah antibodi monoklonal yang menghambat efek dari faktor pertumbuhan protein HER2, protein yang mengirim sinyal pertumbuhan ke sel kanker payudara. Pertuzumab merupakan antibodi monoklonal yang bisa dikombinasikan dengan trastuzumab dan kemoterapi lainnya. Antibodi monoklonal ini digunakan untuk mengobati pasien dengan kanker payudara HER2 positif yang telah bermetastasis (Anonim, 2012)

2.2 Kanker Payudara pada Usia Sangat Muda

Kanker payudara pada wanita remaja dan dewasa muda didefinisikan sebagai keganasan payudara pada rentang umur < 35 tahun dengan jumlah insiden 18,8 per 100.000 wanita menduduki 14% dari seluruh kasus kanker dan menempati 7% dari seluruh diagnosis kanker payudara pada seluruh umur (Gabriel, 2010).

Secara global terdapat peningkatan insiden kanker payudara pada remaja dan wanita muda yang diakibatkan karena peningkatan populasi dunia itu sendiri, peningkatan kesadaran baik pasien maupun klinisi dalam mendiagnosis penyakit dan peningkatan pelaporan kasus (Partidge, 2009). Serta kontribusi faktor – faktor risiko lainnya seperti halnya faktor internal yang meliputi paritas di usia sangat muda, riwayat keluarga dengan kanker payudara ataupun malignansi

lainnya, mutasi breast cancer susceptibility gene 1 (BRCA 1) atau breast cancer susceptibility gene 2 (BRCA 2), mutasi p 53, maupun faktor lingkungan seperti halnya terapi radiasi karena penyakit Hodgkin, paparan hormon eksternal, penggunaan terapi pengganti hormon termasuk gaya hidup di dalamnya (merokok, konsumsi alkohol, jarang berolahraga) (Gnerlich, 2009). Puncak insiden kanker payudara pada wanita muda terdapat pada rentang umur 15 – 39 tahun dan terdapat peningkatan risiko relatif terkena kanker payudara seiring berjalannya usia pada seorang wanita (Keegan, 2012).

Penyakit kanker payudara pada wanita muda memiliki perbedaan yang signifikan dalam faktor risiko, derajat klinis, prognosis serta biologis tumor yang lebih agresif seperti halnya jenis histopatologi, subtipe, rekurensi serta berbagai isu psikososial bila dibandingkan dengan wanita berusia 50 tahun ke atas. Bentuk histopatologis yang cenderung invasif direpresentasikan dengan stadium lanjut, ukuran tumor yang besar (> 2 cm), adanya keterlibatan nodus limfe dan adanya perluasan komponen sel kanker intraduktus (Partridge, 2009).

Berdasarkan beberapa studi terdahulu, kanker di usia yang sangat muda sesungguhnya adalah prediktor independen dari angka harapan hidup yang rendah serta prognosis yang buruk dan diasosiasikan dengan keterlambatan diagnosis serta kurangnya skrining sehingga sebagian besar pasien datang dengan stadium lanjut dan high grade. Kanker pada wanita usia kurang dari 35 tahun juga cenderung mengalami rekurensi lokal 9 kali lebih banyak setelah operasi konservatif dan radioterapi dibandingkan dengan pasien kanker pada usia yang lebih tua (Keegan, 2013).

Pada pemeriksaan imunohistokimia wanita usia sangat muda dengan kanker payudara, lebih banyak terdapat hasil dengan klasifikasi estrogen-receptor negatif, progesterone-estrogen-receptor negatif, HER2 negatif, dan ekspresi Ki-67 yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita usia tua (>50 tahun). Gambaran histopatologi yang didefinisikan sebagai morfologi jaringan kanker secara mikroskopis dari patologi anatomi, merupakan parameter penting dan baku emas (gold standard) bersama dengan pemeriksaan fisik payudara dan pemeriksaan ultrasonografi dalam diagnosis kanker payudara. Pada kasus kanker payudara usia sangat muda, gambaran histopatologi menunjukkan hasil dengan grading yang lebih tinggi disertai invasi pembuluh limfe. Tipe kanker yang dominan ditemukan adalah kanker tipe duktal invasif tipe tidak spesifik dengan batas tumor yang tidak tegas, terdapat invasi ke pembuluh darah, pembuluh limfe dan sangat sedikit kasus ditemukan kanker tipe duktal in situ. Gambaran lain yang memungkinkan seperti halnya kanker tipe lobular invasif, tumor filoides malignan dan jenis kanker lainnya. Sebagian besar kasus kanker payudara pada usia sangat muda adalah dengan stadium – stadium lanjut (stadium III dan stadium IV). Stadium merupakan tingkatan kanker payudara yang dialami oleh pasien berdasarkan kriteria ukuran tumor, keterlibatan nodul dan ekstensi metastase (TNM) oleh American Joint Committee on Cancer (AJCC) dengan kategori stadium awal (I, IIA, IIB, IIIA) dan stadium lanjut (IIIB, IIIC dan IV).

Pasien kanker payudara pada populasi ini juga cenderung dengan grade tinggi yang menandakan tingginya tingkat anaplasia pada sel – sel kanker (Keegan, 2012).

Selain hal tersebut di atas, terdapat isu – isu serius lain pada kelompok usia ini seperti halnya kehamilan, menopause dini, fertilitas dan kontrasepsi, seksualitas dan body image hingga isu psikososial yang erat kaitannya dengan kanker yang agresif serta dampak terapi (Gabriel, 2010).

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dengan rancangan deskriptif untuk melihat angka kejadian kanker payudara pada wanita usia sangat muda ≤ 35 tahun yang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di divisi Bedah Onkologi Departemen Ilmu Bedah FK USU RSUP H. Adam Malik Medan. Penelitian ini dilaksanakan setelah proposal disetujui oleh komite etik, yaitu sejak bulan April hingga Juni 2018.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1Populasi

Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien kanker payudara di RSUP H. Adam Malik Medan pada tanggal 1 Januari 2013 – 31 Desember 2017.

3.3.2 Sampel

Sampel penelitian ini adalah seluruh wanita pasien kanker payudara di RSUP H.

Adam Malik Medanpada tanggal 1 Januari 2013 – 31 Desember 2017 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Kriteria Inklusi:

- Kanker payudara pada wanita dengan usia < 35 tahun

23

- Telah ada pemeriksaan histopatologi Kriteria Eksklusi:

- Sumber data tidak lengkap

3.4 Metode Pengumpulan Data

Data dikumpulkan dari rekam medik dari RSUP H. Adam Malik Medan selama 5 tahun (1 Januari 2013 – 31 Desember 2017).

Data yang diambil dari penelitian ini adalah: usia, keluhan utama, faktor risiko, riwayat keluarga, usia menarche, riwayat menyusui, stadium kanker, grading tumor, dan imunohistokimia (subtipe).

3.5 Pengolahan Data

Data yang dikumpulkan akan diolah dan disajikan dengan tabel distribusi frekuensi menggunakan bantuan Program SPSS ver. 22

Data yang dikumpulkan akan diolah dan disajikan dengan tabel distribusi frekuensi menggunakan bantuan Program SPSS ver. 22

Dokumen terkait