• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Ekonomi COREMAP

Dalam dokumen IMPLEMENTASI COREMAP DI KABUPATEN SELAYAR : (Halaman 84-116)

PARTISIPASI MASYARAKAT DAN MANFAAT SOSIAL EKONOMI COREMAP

3.1.3. Manfaat Ekonomi COREMAP

Program penyelamatan terumbu karang secara langsung maupun tidak langsung diharapkan dapat berpengaruh positif bagi perekonomian masyarakat. Pengaruh positif tersebut dapat terjadi melalui peningkatan jumlah ikan yang ditangkap sebagai dampak dari membaiknya terumbu karang. Pada waktu ditanyakan tentang kondisi pendapatan dari hasil tangkap dibandingkan dengan sebelum ada Coremap sebagian besar responden (70,3 persen) menyatakan sama saja,

sedangkan 20,3 persen mengalami peningkatan dan 9,4 persen mengalami penurunan. Penurunan pendapatan dapat terjadi karena penurunan kualitas sarana prasarana, maupun penurunan populasi ikan dilaut. Sebagian nelayan di Buki dan bungaiya merupakan nelayan tradisional dengan alat tangkap berupa sero, pancing, jaring maupun bubu. Sebagian sero sudah tidak dipasang lagi karena hasil tangkapan semakin rendah. Meskipun demikian ada sebagian nelayan mengaku bahwa pendapatan dan jumlah hasil tangkap mereka mengalami peningkatan yang disebabkan oleh peningkatan jumlah ikan dilaut.

Program penyelamatan terumbu karang berkaitan dengan daerah perlindungan laut yang dibuat di setiap desa yang dimaksudkan untuk melindungi terumbu karang dari kerusakan. Zona inti pada DPL merupakan wilayah yang tidak boleh dimanfaatkan sama sekali oleh masyarakat, sedangkan zona pemanfaatan dapat dimanfaatkan dengan persyaratan tertentu. DPL di kedua desa sebenarnya baru didirkan pada tahun 2009 dan sebagian pelampung sudah hilang baik secara alami maupun dirusak oleh nelayan luar. Oleh sebab itu, program penyelamatan terumbu karang di kedua desa secara langsung belum memberikan dampak bagi pendapatan dari kenelayanan maupun hasil tangkap. Peningkatan pendapatan dan jumlah hasil tangkap lebih disebabkan oleh faktor di luar coremap.

Tabel 3.1.5.

Pendapatan dari kenelayanan dan jumlah hasil tangkap satu tahun terakhir di Buki dan Bungaiya, Tahun 2009

Pendapatan Jumlah hasil tangkap

No Kondisi N Persentase N Persentase 1 Naik 13 20.3 13 10,7 2 Sama saja 45 70.3 43 35,2 3 Menurun 6 9.4 8 6,6 Jumlah 64 100,0 64 100,0

Manfaat ekonomi coremap juga dapat dilihat dari manfaat dana bergulir bagi masyarakat yang dikelola oleh LKM. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) berfungsi untuk menyalurkan dana simpan pinjam kepada masyarakat di lokasi coremap dengan tujuan utama untuk membuat usaha ekonomi produktif yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di lokasi Coremap. Kegiatan ini sangat penting karena dapat menjadi faktor utama keberhasilan program Coremap. Jika masyarakat hanya dilarang untuk tidak menggunakan peralatan tangkap yang merusak, namun tanpa disertai dengan alternatif kegiatan yang dapat meningkatkan pendapatan, maka sulit untuk dapat menghentikan kegiatan ilegal yang dilakukan masyarakat.

LKM di Desa Buki dan Bungaiya telah terbentuk sejak tahun 2005, tetapi sampai tahun 2007, kelompok tersebut tidak aktif. Hal ini disebabkan oleh belum turunnya dana simpan pinjam dari Coremap. Pada waktu dana seed fund turun, LKM yang telah terbentuk pada tahun 2005 kemudian berusaha untuk mensosialisasikan kepada masyarakat perihal dana usaha produktif tersebut. Masing-masing desa mendapatkan seed funt sebesar 25 juta rupiah dan pemanfaatannya diserahkan kepada pengurus LKM setempat. Pengurus LKM sendiri terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan kolektor. Meskipun demikian, pengurus yang aktif di kedua desa masih sebatas ketua LKM karena dana yang dikelola terlalu sedikit. Pada tahun 2009 LKM akan mendapat tambahan dana bergulir sebesar 25 juta rupiah. Tambahan dana ini diharapkan dapat meningkatkan cakupan penerima dana pinjaman, sehingga fungsi Coremap semakin dirasakan oleh masyarakat desa.

Pada waktu ditanyakan apakah apakah rumah tangga responden memperoleh bantuan dana bergulir dari Coremap maka sebanyak 23,0 persen menjawab ya dan sisanya (77 persen) menjawab tidak. Dari 23 persen responden yang memperoleh dana bantuan tersebut sebagian besar (79,3 persen) merasa bahwa bantuan yang mereka terima dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga, sedangkan sisanya menjawab tidak meningkatkan pendapatan maupaun tidak tahu. Alasan yang dikemukakan mengapa dana bantuan tersebut tidak meningkatkan

pendapatan adalah dana terlalu kecil mauapun usaha belum menghasilkan.

Pendapatan Masyarakat dan Faktor yang berpengaruh

Pendapatan masyarakat di desa lokasi coremap yang disajikan dalam tulisan ini meliputi rata-rata pendapatan rumah tangga, pendapatan perkapita, rata-rata pendapatan dari kegiatan kenelayanan menurut musim, dan pendapatan khusus anggota pokmas.

ƒ Pendapatan rumah tangga

Rata-rata pendapatan rumah tangga di Buki dan Bungaiya pada tahun 2009 sebesar 774.396 rupiah. Pendapatan rumah tangga di Desa Buki (851.246) lebih tinggi daripada pendapatan rumah tangga di Desa Bungaiya (704.735). Hal ini menunjukkan tingkat kesejahteraan penduduk di Buki lebih baik dibandingkan dengan Bungaiya. Salah satu hal yang berpengaruh terhadap tingginya pendapatan ini di Buki adalah letak geografis desa yang lebih dekat dengan kota kabupaten. Jarak Desa Bungaiya dengan kota kabupaten dua kali lebih jauh dibandingkan jarak antara Buki dengan kota kabupaten. Kondisi tersebut berdampak pada sulitnya mobilitas penduduk Desa Bungaiya ke kota kabupaten, yang berdampak pada rendahnya pendapatan masyarakat.

Perbedaan pendapatan rumah tangga yang terendah dengan terbesar di Desa Buki dan Bungaiya cukup tinggi yaitu Rp 30 ribu/ bulan dibanding dengan 4,1 juta/bulan (Tabel 3.6). Perbedaan pendapatan yang tinggi antara rumah tangga kaya dan miskin terjadi karena perbedaan jumlah dan jenis sumber pendapatan, jumlah ART yang bekerja, akses informasi dan teknologi dalam pengelolaan SDA. Penduduk di Desa Buki dan Bungaiya merupakan penduduk yang mayoritas bekerja di sektor perikanan, pertanian tanaman pangan, jasa dan perdagangan.

Hasil penelitian menunjukkan program pembangunan daerah perdesaan nelayan yang secara spesifik ditujukan untuk peningkatan

kesejahteraan masyarakat pesisir seperti Coremap, PEMP, dan PNPM Mandiri belum dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. Hal ini berhubungan langsung dengan aspek sosial, dan operasional program. Coremap misalnya selama beberapa tahun terakhir memiliki beberapa program ekonomi produktif yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui dana bergulir yang dikelola lembaga keuangan mikro di perdesaan. Sebagian besar masyarakat memang telah mengakui pentingnya dana pinjaman dari Coremap yang dapat digunakan untuk pengembangan usaha ekonomi produktif. Tetapi jumlah dana yang sangat kecil membuat usaha yang dimiliki tidak dapat berkembang dengan baik.

Tabel 3.1.6.

Statistik Pendapatan penduduk di Desa Buki dan Bungaiya, Tahun 2009 Desa No Pendapatan Buki Bungaiya Buki dan bungaiya 1 Per kapita 258.152 181.893 218.147 2 Rata-rata RT 851.264 704.735 774.396 3 Median 466.666 491.666 466.667 4 Minimum RT 30.000 100.000 30.000 5 Maksimum RT 4.000.000 4.166.666 4.166.667 N 58 64 122

Sumber : Data primer, Survei Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2009.

Hasil survei sosial ekonomi menunjukkan nilai median pendapatan rumah tangga sebesar 467 ribu rupiah, artinya 50 persen rumah tangga di kedua desa tersebut mempunyai pendapatan di bawah median dan sisanya (50 persen) mempunyai pendapatan di atas median. Nilai median di kedua desa relatif rendah, sehingga sebagian besar rumah tangga merupakan rumah tangga miskin. Median pendapatan rumah tangga di Bungaiya lebih tinggi dibandingkan dengan Buki, yang menunjukkan pemerataan pendapatan di Bungaiya lebih baik dibandingkan dengan desa Buki.

o Pendapatan per kapita

Pendapatan perkapita penduduk Buki dan Bungaiya pada tahun 2009 mencapai 218.147 rupiah. Pendapatan perkapita ini masih berada di bawah garis kemiskinan kabupaten, sehingga sebagian besar penduduk di Buki dan Bungaiya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Pendapatan perkapita di Buki lebih besar dibandingkan dengan Bungaiya yang menunjukkan secara umum tingkat kesejahteraan penduduk di Buki lebih baik dibandingkan dengan Bungaiya. Akses nelayan terhadap laut di kedua daerah ini tidak ada perbedaan, sehingga perbedaan pendapatan lebih disebabkan oleh faktor di luar kegiatan kenelayanan. Dibandingkan dengan garis kemiskinan 1,5 US$ per hari, sebagian besar penduduk Buki dan Bungaiya masih tergolong sebagai penduduk miskin.

Grafik 3.1.1.

Pendapatan perkapita dan garis kemiskinan 1,5 US$/hari di Desa Buki dan Bungaiya tahun 2009

-500 1.000 1.500 2.000 2.500 0 20 40 60 80 100 120 P enda pa ta n ( x10 00)

Pendapatan perkapita Garis kemiskinan 1,5 US$/hari

Sumber: Data primer, Survei Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2009.

Distribusi pendapatan penduduk menurut kelompok pendapatan menunjukkan ada variasi pendapatan rumah tangga yang terendah hingga pendapatan tertinggi. Sebagian besar rumah tangga

mempunyai pendapatan di bawah 1 juta rupiah (72,6 persen), sementara sebagian kecil mempunyai pendapatan di atas 1 juta rupiah. Kelompok penduduk yang mempunyai pendapatan menengah ke atas biasanya merupakan penduduk yang bekerja di luar sektor kenelayanan seperti jasa pemerintahan dan perdagangan. Penduduk yang termasuk dalam kelompok pendapatan terendah di Bungaiya (<0,5 juta) sekitar 50 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan di Desa Buki (53,4 persen). Tingginya persentase rumah tangga yang masuk dalam kelompok pendapatan terendah menunjukkan sebagian besar penduduk di kedua lokasi masih termasuk dalam kelompok yang miskin.

Grafik 3.1.2

Distribusi rumah tangga di Desa Buki dan Bungaiya menurut kelompok pendapatan, Tahun 2009

0 10 20 30 40 50 60 < 0,5 0,5-0,99 1,0-1,49 1,50-1,99 2,00-2,49 2,50-2,99 >3.0 Kelompok pendapatan (Juta)

Pe rs en ta se ( % ) Buki Bungaiya Buki+bungaiya

Sumber : Data primer, Survei Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2009

Modus/frekuensi terbanyak dari pendapatan rumah tangga di Buki dan Bungaiya berada pada level di bawah 500 ribu rupiah (51,6 persen), sementara yang mempuyai pendapatan tinggi (>3,0 juta) sebanyak 2,5 persen. Penduduk dengan pendapatan yang tinggi umumnya merupakan rumah tangga yang mempunyai sumber

pendapatan dari pekerjaan sampingan. Sebanyak 55 persen rumah tangga mempunyai pekerjaan sampingan seperti perikanan laut, perikanan budidaya, perdagangan, jasa, dan peternakan.

Pendapatan dari Kegiatan Kenelayanan

Pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan di kedua desa, bersifat tidak stabil karena dipengaruhi oleh kondisi musim (barat dan timur). Nelayan Desa Buki melaut dalam satu wilayah penangkapan yang berdekatan dengan permukiman penduduk, sehingga dalam satu tahun mereka hanya melaut pada waktu musim banyak ikan dan pancaroba. Kondisi berbeda terdapat di Bungaiya dimana pada waktu musim gelombang kuat sebagian dari mereka dapat berpindah di perairan laut bagian utara. Perubahan gelombang menyebabkan ada sebagian nelayan yang tidak mempunyai pendapatan dari melaut, karena mereka tidak melaut atau melaut tetapi tidak ada hasil yang didapatkan. Pada waktu gelombang kuat beberapa sarana tangkap seperti sero mengalami kerusakan dan harus diperbaiki lagi jika mau digunakan untuk musim berikutnya.

Tabel 3.1.7.

Statistik Pendapatan penduduk dari kegiatan kenelayanan di Desa Buki dan Bungaiya, Tahun 2009

Desa No Pendapatan

Buki Bungaiya Nilai (rupiah)

1 Per kapita 71.536 81.455 77.426 2 Rata-rata RT 253.589 362.719 318.385 3 Median 208.333 300.000 283.333 4 Minimum RT 76.666 33.333 33.333 5 Maksimum RT 683.333 1.450.000 1.450.000 N 26 38 64

Sumber: Data primer, Survei Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2009.

Rata-rata pendapatan dari kegiatan kenelayanan di Bungaiya lebih besar dibandingkan dengan Desa Buki yang disebabkan oleh jumlah hari melaut yang lebih besar. Peralatan tangkap yang digunakan

oleh nelayan dikedua desa hampir sama, sehingga perbedaan pendapatan lebih disebabkan oleh faktor yang lain yaitu jumlah hari melaut, maupun jarak melaut. Pendapatan dari kegiatan kenelayanan tertinggi di Bungaiya sebesar 1,4 juta terdapat pada nelayan yang memiliki wilayah tangkap cukup jauh. Pada awalnya banyak nelayan dikedua desa yang berprofesi sebagai nelayan penyelam, tetapi mengingat adanya resiko tinggi terhadap penyakit kelumpuhan atau bahkan mati, maka profesi tersebut sudah banyak ditinggalkan oleh nelayan.

Rata-rata pendapatan dari kegiatan kenelayanan bervariasi berdasar musim (gelombang lemah, pancaroba, dan gelombang kuat). Rata-rata pendapatan tertinggi terjadi pada musim gelombang tenang (banyak ikan), karena frekuensi melaut dan hasil tangkapan nelayan lebih besar dibandingkan musim yang lain. Pada musim gelombang tenang rata-rata pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan sebesar 410 ribu rupiah, sementara pada musim gelombang kuat pendapatan mereka lebih rendah (193 ribu rupiah). Nelayan dengan pendapatan dari kegiatan kenelayanan lebih dari 1 juta sulit dijumpai di daerah ini, karena teknologi penangkapan yang digunakan masih sederhana, baik alat penangkapan maupun sarana penangkapan. Sarana penangkapan yang umum ditemukan di daerah ini adalah jukung dan perahu tanpa motor.

Tabel 3.1.8.

Rata-rata Pendapatan penduduk dari kegiatan kenelayanan menurut musim di Desa Buki dan Bungaiya, Tahun 2009

Pendapatan (Rp)

No Musim

Buki Bungaiya Buki

Bungaiya

1 Tenang 382,692 428,947 410.156

2 Pancaroba 231,923 432,894 351.250

3 Gelombang kuat 146,153 226,315 193.750

N 26 38 64

Rendahnya pendapatan nelayan juga berhubungan dengan penurunan populasi ikan di laut sebagai dampak penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Saat ini intensitas penggunaan bom di daerah Buki dan Bungaiya sudah sangat berkurang bahkan tidak ada lagi, tetapi penggunaan air tuba yang mudah didapatkan di daerah tersebut masih cukup tinggi. Penggunaan air tuba sulit dikendalikan karena bahan dasarnya mudah didapat dan dilakukan oleh penduduk yang tinggal jauh dari pantai.

Nelayan di Buki dan Bungaiya mempunyai wilayah penangkapan yang berbeda menurut musim. Pada waktu angin barat, sebagian besar dari nelayan akan mencari ikan di sebelah timur pulau. Hal ini disebabkan terjadi ombak besar di bagian barat sehingga mereka tidak bisa melaut. Hal sebaliknya terjadi jika terdapat angin timur, maka sebagian besar nelayan menangkan ikan di barat pulau. Selama ini tidak ada perubahan terhadap jenis armada maupun alat penangkapan ikan, sehingga tidak ada perubahan signifikan dalam hasil penangkapan. Sebagian besar nelayan merakan terjadinya penurunan hasil tangkap karena faktor makin berkurangkan populasi ikan di laut. Sebagian besar masyarakat yang jauh dari laut masih banyak yang menggunakan air tuba untuk menangkan ikan di laut, terutama pada waktu gelombang surut. Perpindahan pasar induk di Kabupaten Selayar juga berdampak pada penjualan hasil tangkapan nelayan, karena pasar baru masih sepi dikunjungi pembeli, sehingga ikan sering tidak terjual/tidak laku.

Pendapatan Anggota Pokmas

Kelompok masyarakat (pokmas) usaha ekonomi produktif di Buki dan Bungaiya yang dibentuk dalam rangka kegiatan Coremap jumlahnya cukup banyak, sehingga dapat menampung sebagian besar anggota masyarakat. Anggota pokmas diharapkan dapat memperoleh manfaat coremap melalui dana bergulir untuk pengembangan usaha ekonomi produktif. Akan tetapi pokmas yang terbentuk usaha ekonomi produktif tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, karena masyarakat belum terbiasa berusaha secara berkelompok. Sebagian besar

masyarakat memilih untuk usaha sendiri-sendiri, sehingga kelompok yang terbentuk tidak dapat terkoordinasi secara baik. Oleh sebab itu, dana pinjaman pengembangan usaha ekonomi produktif yang dikelola LKM tidak diberikan secara berkelompok, tetapi diberikan pada individu. Tanggung jawab pengembalian dana juga didasarkan pada tanggung jawab individu.

Tabel 3.1.9.

Statistik Pendapatan anggota pokmas di Desa Buki dan Bungaiya, Tahun 2009

No Pendapatan Pokmas Non pokmas

1 Perkapita 237.054 212.773 2 Rata-rata 914.503 734.577 3 Median 533.333 433.333 4 Minimum 100.000 30.000 5 Maximum 2.300.000 4.166.666 N 27 95

Sumber: Data primer, Survei Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2009.

Pendapatan rumah tangga di Buki dan Bungaiya baik yang memperoleh dana pinjaman bergulir bervariasi dari pendapatan rendah hingga tinggi. Secara umum rata-rata pendapatan rumah tangga yang mendapat dana bergulir lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan dana bergulir. Tabel 3.1.9 menunjukkan pendapatan perkapita dari anggota pokmas sekitar 237.054 rupiah, sementara rata-rata pendapatan rumah tangga mencapai 914 ribu rupiah. Dibandingkan dengan pendapatan seluruh penduduk, pendapatan perkapita anggota pokmas hampir sama dengan pendapatan perkapita penduduk yang tidak menjadi anggota pokmas.

Tingkat pendapatan rumah tangga yang menjadi anggota pokmas bervariasi dari terendah (100 ribu rupiah) sampai dengan tertinggi (2,3 juta rupiah). Variasi yang hampir sama terdapat pada pendapatan penduduk yang tidak mendapat dana bergulir. Kondisi ini

menunjukkan adanya keterbukaan dalam penyaluran pinjaman dana LKM yang tidak membedakan penduduk menurut tingkat pendapatan. Semua kalangan berpenghasilan tinggi sampai rendah dapat meminjam dana asalkan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Meskipun demikian sebagian besar anggota pokmas berasal dari kalangan ekonomi lemah yang membutuhkan dukungan dana untuk peningkatan taraf hidup mereka. Usaha ekonomi produktif yang diusahakan bervariasi mulai dari perdagangan, industri rumah tangga, dan jasa. Sampai saat ini pengembalian dana bergulir masih cukup lancar, karena peminjam harus menyerahkan agunan sebagai jaminan seperti surat/ barang berharga.

3.2.

P

ASIMASUNGGU

T

IMUR

3.2.1. Pengetahuan dan Partisipasi

Walaupun sejak tahun 2005 Coremap mulai diadakan di daerah ini, namun belum semua masyarakat mengetahui keberadaan Coremap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah yang mengetahui adanya Coremap cukup besar, yaitu sebesar 86%. Meskipun demikian jumlah mereka yang belum mengetahui masih cukup besar, yaitu 14%. Hal itu tentunya mengherankan karena sudah empat tahun Coremap dilaksanakan di daerah ini. Kondisi itu menunjukkan bahwa meskipun sosialisasi tentang keberadaan Coremap sudah dilaksanakan, namun pelaksanaannya masih belum optimal, perlu ditingkatkan.

Tabel 3.2.1.

Pengetahuan adanya Coremap

Kategori Persentase

Mengetahui 86,0

Tidak mengetahui 14,0

Jumlah (N=129) 100,0

Untuk memperkenalkan program Coremap yang sudah beberapa tahun dijalankan di daerah ini, maka dilakukan sosialisasi kepada warga. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian terumbu karang. Walaupun upaya peningkatan pengetahuan masyarakat itu sudah dilakukan, namun jumlah mereka yang tidak mengetahui adanya upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang Coremap yang dilakukan oleh LPSTK masih cukup banyak, yaitu sekitar 24%. Hal itu disebabkan pengurus LPSTK masih kurang aktif dalam melaksanakan tugasnya, termasuk motivator desa, fasilitator dan Seto (senior fasilitator). Hal itu terjadi karena fasilisator maupun Seto jarang berada di lokasi desa binaan, sedangkan motivator maupun pengurus lainnya kurang punya inisiatif untuk melakukan sosialisasi. Akibatnya kegiatan sosialisasi tidak dilakuksan secara terencana dan terarah.

Responden yang mengetahui adanya kegiatan peningkatan pengetahuan dan kesadaran pentingnya pelestarian terumbu karang, dan keterlibatannya dalam kegiatan tersebut di atas jumlah yang menjawab terlibat dalam kegiatan sangat kecil, yaitu hanya 17,5% dari 97 orang. Selebihnya (82,5%) justru mengaku tidak terlibat. Itu menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam sosialisasi tentang pentingnya upaya pelestarian terumbu karang masih sangat kurang.

Hal yang sama juga terjadi pada saat responden ditanyakan apakah mereka mengetahui adanya kegiatan perlindungan/pengawasan pesisir dan laut. Persentase yang menjawab mengetahui jumlahnya cukup besar, mencapai 65,1% (83orang), sementara jumlah yang tidak mengetahuinya juga masih relatif besar, sekitar 34,9%. Masih banyaknya responden yang tidak mengetahui itu dapat dipahami karena belum ada kegiatan konkret untuk perlindungan/pengawasan pesisir dan laut, kecuali baru terbatas penentuan DPL dan pembuatan RPTK.

Begitu pula pada saat ditanyakan tentang keterlibatan mereka yang mengetahui adanya kegiatan tersebut, maka yang mengaku terlibat hanya sebesar 18,1%, dan selebihnya (81,9%) menyatakan tidak terlibat dalam kegiatan itu. Ini menunjukkan bahwa kegiatan tersebut belum

melibatkan masyarakat secara luas. Hal itu karena kegiatan penentuan DPL dan pembuatan RPTK hanya dilakukan secara terbatas oleh pengurus LPSTK bersama dengan fasilisator dan motivator. Memang ada beberapa warga yang dilibatkan, namun itu hanya beberapa orang yang dianggap sebagai tokoh masyarakat.

Di Desa Bontobulaeng dan Bontobaru masing-masing sudah dibentuk LPSTK pada tahun 2005. Ketua, pengurus dan staf LPSTK dipilih oleh sekelompok kecil masyarakat, terutama tokoh-tokoh masyarakat seperti tetua desa, pemerintah desa dan BPD (Badan Perwakilan Desa) yang diprakarsai oleh fasilisator. Ketua LPSTK selanjutnya ditentukan oleh masyarakat yang hadir dalam rapat yang berjumlah sekitar 10 orang. Sedangkan Ketua Pokmas dipilih berdasarkan kesepakatan dari anggota pokmas sendiri. Meskipun demikian tidak semua responden mengetahui kegiatan pembentukan LPSTK itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah yang mengetahui dan yang tidak mengetahui hampir seimbang. Responden yang mengaku mengetahui kegiatan pembentukan LPSTK sebesar 57,4 % , sedangkan jumlah yang mengaku tidak mengetahuinya jumlahnya sebesar 42,6 %. Hal itu disebabkan meskipun pembentukan LPSTK melibatkan masyarakat, namun masih banyak orang yang belum dilibatkan. Hal itu terbukti bahwa dari 74 responden yang mengetahui kegiatan pembentukan LPSTK, hanya 6,8% yang mengaku terlibat, sedangkan sebagian besar (93,2%) mengaku tidak terlibat.

Untuk pelaksanaan program Coremap, LPSTK di dua desa dengan bimbingan fasilisator mengembangkan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK), yaitu untuk menentukan kawasan (wilayah) pengelolaan terumbu karang di lokasi Coremap. Saat ini RPTK dan lokasi DPL di dua desa, Bontobulaeng dan Bontobaru telah disusun oleh LPSTK bersama fasilisator, dan telah disahkan menjadi peraturan desa (Perdes). DPL di desa Bontobulaeng di Taka Dapak, sementara DPL desa Bontobaru di sebelah barat Pulau Batu. Berkaitan dengan keberadaan DPL tersebut, maka disusun pula rencana pemanfaatan dan pelestarian terumbu karang (RPTK). Dalam RPTK tersebut diatur berbagai kegiatan

yang dilarang dilakukan nelayan di kawasan DPL, antara lain : (1) tidak boleh melintas, (2) tidak boleh memancing dan (3) tidak boleh membuang jangkar di kawasan DPL. Untuk menjaga agar larangan tersebut tidak dilanggar, juga dibuat aturan tentang sanksi bagi yang melanggar. Bagi orang yang melanggar sekali, dikenakan denda sebesar Rp 250 ribu. Bagi yang melanggar kedua kalinya, dikenakan denda Rp 500 ribu. Uang denda tersebut diserahkan kepada desa. Apabila mereka melanggar untuk ketiga kalinya, maka sanksinya menjadi berlipat ganda, tergantung keputusan desa. Khusus bagi yang merusak terumbu karang, seperti melakukan pengeboman dan/atau menggunakan potasium sianida, maka langsung diserahkan kepada polisi untuk diproses secara hukum.

Terkait dengan kegiatan penyusunan RPTK tersebut, sebagian besar responden (54,3%) mengaku mengetahuinya, namun yang mengaku tidak mengetahuinya juga cukup besar, yaitu 45,7%. Ini menunjukkan bahwa sosialisasi terkait dengan pelaksanaan kegiatan tersebut masih sangat kurang. Bagi mereka yang mengetahui kegiatan tersebut, yaitu sebanyak 72 orang, justru tidak ada satu orang pun yang mengaku terlibat dalam kegiatan. Itu menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan ini masih belum melibatkan masyarakat. Hal itu terjadi karena

Dalam dokumen IMPLEMENTASI COREMAP DI KABUPATEN SELAYAR : (Halaman 84-116)

Dokumen terkait