• Tidak ada hasil yang ditemukan

8.1. Kelompok Tani

8.1.3. Manfaat Kelompok Tani

Beragam manfaat yang dirasakan anggota kelompok tani setelah bergabung dengan kelompok tani. Contoh manfaat yang petani responden rasakan adalah mendapat kemudahan dalam mendapat modal dan input produksi karena modal dan input-input produksi tersebut dapat doperoleh di koperasi kelompok tani yang menjadi salah satu unit usaha dari gapoktan. Pengalokasian modal tersebut berasal dari bantuan pemerintah sebesar Rp 1 Miliar melalui program Gerakan Multiaktivitas Agribisnis (GEMAR). Oleh karena itu, dana tersebut digunakan untuk membantu petani mendanai usahatani mereka.

Dalam hal peminjaman modal, petani responden anggota kelompok tani cukup mengajukan permohonan kepada ketua kelompok tani mereka dan setelah diijinkan maka uang pinjaman tersebut akan langsung cair atau paling lama 3 hari setelah pengajuan pinjaman. Manfat tersebut adalah manfaat yang paling dirasakan oleh petani responden yaitu sebesar 53 persen petani responden.

Manfaat lain yang dirasakan adalah banyak mendapat ilmu, karena kelompok tani ini bertugas sebagai fasilitator antar petani untuk berbagi informasi dan pengetahuan yang dimiliki. Selain itu, kelompok tani juga bertugas untuk memberikan informasi, teknologi, penyuluhan dan pelatihan baik yang diadakan oleh kelompok tani itu sendiri, gapoktan, maupun dinas atau instansi yang terkait. Penyuluhan dan pelatihan yang diberikan seperti pelatihan kepemimpinan, pelatihan pertanian organik, penyuhulan pertanian, dll. Selain itu setiap ada teknologi baru selalu dinformasikan dan didiskusikan bersama anggota kelompok yang lain yang tak jarang juga mendatangkan pihak-pihak yang ahli dalam teknologi tersebut. Jumlah petani responden yang merasakan manfaat ini adalah sebanyak 17 persen.

Manfaat tersebut juga erat kaitannya dengan manfaat mendapatkan pengalaman. pengalaman tersebut dapat diperoleh dari pelatihan seperti Sekolah Lapang Pertanian Terpadu (SLPT), ataupun penyuluhan dan pelatihan yang diadakan di luar desa tersebut. Sebanyak 7 persen petani responden merasakan manfaat ini.

Adanya ketersediaan fasilitas-fasilitas menjadi manfaat bagi para petani. Ketersediaan fasilistas tersebut diantaranya ketersediaan alat-alat dan mesin pertanian seperti alat semprot dan mesin traktor. Bagi mereka anggota kelompok tani dapat meminjam alat tersebut, namun tetap dipungut biaya untuk biaya pemeliharaan dan pembelian solar untuk traktor. Orang yang menjalankan mesin traktor tersebut merupakan petani anggota kelompok tani juga, sehingga ada ada satu petani yang merasakan adanya manfaat memperoleh pekerjaan setelah tergabung menjadi anggota kelompok tani. Selain itu, melalui kelompok tani ini, penyaluran bantuan menjadi lebih mudah. Seperti ketika ada bantuan pupuk, benih dari pemerintah dapat dibagikan langsung atau dijual dengan harga yang murah. Kemudahan mendapat bantuan ini ditanggapi positif oleh 4 orang petani responden.

Manfaat-manfaat yang dirasakan petani responden pun berpengaruh positif pada efisiensi teknis petani. Hal ini dikarenakan, semakin lama petani bergabung maka semakin banyak manfaat yang dirasakan. Sehingga efisiensi teknis petani responden semakin meningkat.

Tabel 22. Sebaran Responden Anggota Kelompok tani Berdasarkan Manfaat yang Diarasakan oleh Petani di Desa Ciburuy Tahun 2011

Manfaat Jumlah (orang) Persentase (%)

Kemudahan Mendapat Modal 16 53,33

Mendapat Ilmu 5 16,67 Fasilitas Tersedia 2 6,67 Mendapat Bantuan 4 13,33 Mendapat Pengalaman 2 6,67 Mendapat Kerjaan 1 3,33 Total 30 100,00

Manfaat yang dirasakan petani menunjukkan jika kelompok tani yang ada di desa ini telah memiliki kinerja yang baik, karena manfaatnya berdampak positif bagi petani di daerah tersebut. Tugas kelompok tani ini diantaranya : menjadi sumber serta pelayanan informasi dan teknologi bagi usahatani para petani, menyalurkan berbagai bantuan baik dari pemerintah maupun pihak swasta, menjadi faslitator dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang dirasakan para petani, menjalin kerjasama dengan pihak lain seperti pemerintah atau dinas- dinas terkatik untuk memberikan penyulihan, pelatihan maupun pendidikan kepada petani. Dengan bergabungnya petani-petani kedalam kelompok tani akan memberikan bargaining power yang baik pada mereka dalam pemjualan hasil panen maupun pembelian input-iput produksi.

8.1.4. Efektivitas Peranan Kelompok Tani

Peranan suatu kelembagaan dilihat dari kemampuannya dalam mengelola dan memberikan manfaat secara efektif berdasarkan kriteria penilaian baik. Maka guna menilai seberapa efektif kinerja kelompok tani yang dirasakan petani responden tersebut, dilakukan penilaian berdasarkan persepsi petani sebagai anggota kelompok tani terhadap kelompok tani di lokasi penelitian tanpa menggunakan indikator pembanding. Penilaian kinerja kelompok tani ini dilakukan baik kepada anggota kelompok tani maupun dari pihak kelompok tani. Dari 30 petani responden 27 petani diantaranya adalah anggota kelompok tani dan sisanya sebanyak 3 petani responden adalah ketua kelompok tani.

Tabel 23. Sebaran Responden Berdasarkan Partisipasi dalam Kelompok tani di Desa Ciburuy Tahun 2011

Partisipasi Jumlah (orang) Presentase (%)

Ketua 3 8,82

Anggota 27 79,41

Bukan Anggota 4 11,76

Total 34 100,00

Pengukuran dilakukan dengan pemberian skor penilaian hasil tanggapan petani responden terhadap efektivitas keberadaan kelembagaan yang kemudian diuraikan secara deskriptif. Terdapat tiga tingkatan skor yang diberikan untuk jawaban atau tanggapan responden, yaitu skor tiga untuk yang paling mendukung, skor dua untuk tanggapan sedang, dan jawaban satu untuk jawaban yang tidak mendukung. Efektifitas keberadaan kelompok tani di Desa Ciburuy ini didasarkan pada penilaian dan tanggapan petani anggotanya da beberapa komponen penilaian, diantaranya:

a. Syarat Awal Masuk Anggota

Kategori penilaian pertama untuk mengukur peranan kelompok tani ini adalah kemudahan syarat masuk anggota kelompok tani. Skor satu (1) untuk tanggapan sulit (banyak persyaratan), skor dua (2) tanggapan sedang (Tidak terlalu banyak persyaratan), skor tiga (3) untuk tanggapan sangat mudah (sedikit persyaratan). Dari hasil analisis menunjukkan bahwa sebesar 83 persen petani responden menyatakan syarat-syarat masuk kelompok tani ini adalah mudah (sedikit persyaratan) dan tidak ada satupun petani yang menyataan bahwa syarat masuk kelompok tani ini sulit. Persyaratan masuk kelompok tani ini hanya berdomisili di Desa Ciburuy dan bekerja sebagai petani. Hal ini membuktikan bahwa kelompok tani di Desa Ciburuy ini terbuka bagi siapapun petani yang ada di Desa Ciburuy dan tidak ada persyaratan khusus sehingga tidak akan mempersulit dan membebani petani untuk ikut bergabung menjadi anggota kelompok tani.

b. Bimbingan dan Penyuluhan

Kategori penilaian kedua untuk mengukur kinerja kelompok tani, adalah mengenai bimbingan dan penyuluhan, dengan maksud seberapa sering bimbingan dan penyuluhan ini diadakan oleh kelompok tani tersebut. Penilaian tersebut

berdasarkan tiga tingkatan skor, skor satu (1) untuk kategori jarang dimana bimbingan dan penyuluhan dilakukan setiap sebulan sekali, skor dua (2) untuk kategori ada yaitu bimbingan dan penyuluhan diadakan setiap dua minggu sekali, dan skor tiga (3) untuk kategori sering dimana bimbingan dan penyuluhan diadakan setiap seminggu sekali. Hasil analisis menunjukkan bahwa bimbingan dan penyuluhan ini jarang diadakan pada tahun-tahun terakhir, yaitu sebesar 60 persen petani responden anggota kelompok tani menanggapi hal tersebut. Padahal beberapa tahun sebelumnya bimbingan dan penyuluhan ini sering dilaksanakan apalagi ketika ada program pelaksanaan pertanian sehat yang diadakan oleh Lembaga Pertanian Sehat Dompet Dhuafa (LPS DD). Bimbingan dan penyuluhan ini diadakan dari mulai pembekalan ilmu tentang pertanian sehat, pelatihan, sampai pelaksanaan sistem pertanian sehat. Karena program sistem pertanian sehat di desa ini telah terlaksana dan telah diterapkan oleh petani, maka sejalan dengan berakhirnya program tersebut bimbingan dan penyuluhan tersebut pun sudah jarang dilaksanakan lagi. Oleh karena itu, jarangnya diadakan bimbingan dan penyuluhan yang diberikan kelompok tani tidak mampu meningkatkan produktivitas padi sehat.

c. Interaksi Kelompok

Kategori penilaian ketiga pada analisis kinerja kelompok tani ini adalah mengenai interkasi kelompok. Pengukuran dilakukan pada seberapa sering interaksi kelompok ini dilakukan. Terdapat tiga skor untuk mengukur kategori penilaian ini, yaitu skor satu (1) untuk kategori jarang dilakukan, skor dua (2) untuk kategori ada, dan skor tiga untuk kategori sering dilakukan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 73 persen responden menyatakan sering melakukan interaksi kelompok. Interaksi kelompok tersebut tidak hanya dilakukan melalui rapat secara normal, tetapi juga diskusi yang dapat dilakukan di sawah atau tempat manapun. Interkasi kelompok yang dilakukan pada umumnya membahas tentang permasalahan yang dialami para petani seperti hama, dan juga menjadi tempat untuk menyampaikan informasi-informasi maupun pengalaman baru yang dialami para petani. Dengan dilakukannya interaksi tersebut diharapkan permasalahan-permasalahan yang dialami petani mendapat solusi dan dapat diatasi dan juga memperoleh informasi baru. Namun interaksi ini juga bergantung

pada keaktifan dari ketua kelompok tani mereka untuk mengumpulkan anggotanya dan berdiskusi. Oleh karenanya terdapat 17 persen petani yang menyatakan jarang diadakan interaksi kelompok. Hal ini dikarenakan pemimpin kelompok tani tersebut kurang cekatan dan rajin untuk mengadakan interaksi kelompok.

d. Gaya Kepemimpinan Kelompok Tani

Penilaian keempat pada kinerja kelompk tani adalah gaya kepemimpinan kelompok tani. Pengukuran pada kategori ini adalah berdasarkan tanggapan responden terhadapa gaya kepemimpinan ketua kelompok tani, dan terbagi menjadi tiga tingkatan skor, yaitu skor satu (1) untuk gaya kepemimpinan yang tidak sesuai keinginan anggota, skor dua (2) untuk kategori biasa saja,dan skor tiga (3) untuk kategori sesuai keinginan anggota. Hasil analisis menunjukkan bahwa 87 persen petani responden menyatakan gaya kepemimpinan dari pemimpin kelompok tani yang sekarang sudah sesuai dengan keinginan anggota. e. Motivasi Kerja

Kategori penilaian terakhir dalam kinerja kelompok tani ini adalah motivasi kerja petani setelah menjadi anggota kelompok tani. Pengukuran terhadap penilaian ini dilihat dari dampak yang dirasakan oleh petani responden terhadap peningkatan motivasi kerja di dalam usahatani padi sehat yang terbagi dalam tiga tingkatan yaitu skor satu (1) untuk kategori motivasi kerja menurun, skor dua (2) untuk kategori motivasi kerja tidak berubah dan skor tiga (3) untuk kategori motivasi kerja meningkat setelah ikut bergabung dengan kelompok tani. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebesar 83 persen petani responden menyatakan keikutsertaan mereka dalam kelompok tani telah meningkatkan motivasi kerja mereka dalam berusahatani. Hal ini dikarenakan dengan bergabungnya petani menjadi anggota kelompok tani, permasalahan-permasalahan seperti kesulitan memperoleh input-input produksi sampai kesulitan dalam memasarkan hasil produksi petani dapat diatasi.

Tabel 24.Perhitungan Skor Efektivitas Kelompok Tani di Desa Ciburuy No Keterangan Tolak Ukur Skor Jumlah (orang) Total Skor

1 Syarat Awal Masuk Anggota

Sulit (Banyak Persyaratan) 1 0 0

Mudah (Tidak Terlalu Banyak) 2 25 50

Sangat Mudah (Sedikit Persyaratan) 3 5 15

Sub Total 30 65

2 Bimbingan dan Penyuluhan

Jarang (Sebulan sekali) 1 18 18

Ada (dua minggu sekali) 2 9 18

Sering (setiap minggu) 3 3 9

Sub Total 30 45

3 Interaksi Kelompok

Jarang (Sebulan sekali) 1 5 5

Ada (dua minggu sekali) 2 3 6

Sering (setiap minggu) 3 22 66

Sub Total 30 77

4 Gaya Kepemimpinan Kelompok Tani

Tidak Sesuai Keinginan Anggota 1 2 2

Biasa Saja 2 2 3

Sesuai Keinginan Anggota 3 26 72

Sub Total 30 84 5 Motivasi Kerja Menurun 1 2 2 Tidak Berubah 2 3 6 Meningkat 3 25 75 Sub Total 30 83 Total Skor 354 Kategori Efektif

Berdasarkan perolehan skor tersebut, dapat ditentukan rentang skala atau selang untuk menentukan efektivitas keberadaan kelompok tani. Dimana selang tersebut diperoleh dari :

Selang =

Nilai minimal berasal dari hasil pengalian skor terendah (1) dengan jumlah parameter yang digunakan yaitu lima, dan jumlah petani responden yang tergabung dengan kelompok tani yaitu 30 responden, atau dapat ditulis (1 x 5 x 30 = 150). Sedangkan skor maksimal dapat diperoleh dari hasil pengalian skor

tertinggi (3) dengan jumlah parameter yang digunakan yaitu lima, dan 30 petani responden, atau dapat ditulis (3 x 5 x 30 = 450). Sehingga selang yang diperoleh adalah

Selang =

Penilaian jawaban responden terhadap efektivitas keberadaan kelompok tani, dibagi ke dalama tiga kategori, yaitu efektif, cukup efektif, dan tidak efektif. Berdasarkan tabel 26, jika total skor berada pada rentang nilai 150-249, berarti keberadaan kelompok tani dapat dikatakan efektif. Jika total skor berada pada rentang nilai 250-349, maka keberadaan kelompok tani dapat dikatakan cukup efektif. Jika total skor berada pada rentang nilai 350-450, maka keberadaan kelompok tani dapat dikatakan efektif.

Tabel 25. Kategori Penilaian Efektifitas Kinerja Kelompok Tani

Kategori Rentang

Belum Efektif (1x 5 x 30) 150-249

Cukup Efektif 250-349

Efektif ( 3 x 5 x 30) 350-450

Hasil penjumlahan skor penilaian tanggapan responden terhadap lima penilaian kinerja kelompok tani, menunjukkan hasil yang diperoleh total skor sebesar 354 seperti terlihat pada Tabel 25. Total skor tersebut menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian persepsi petani anggota kelompok tani, maka kelompok tani di desa ini termasuk dalam selang 350-450, yang berarti keberadaan kelompok tani ini sudah efektif bagi petani. Hasil tersebut menunjukkan kinerja kelompok tani di Desa Ciburuy sudah baik karena efektifitasnya sudah tinggi dilihat dari skala penilaian kinerja kelompok tani.

Dokumen terkait