• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : FAKTOR-FAKTOR HAMBATAN DALAM PENGATURAN

B. Pelaksanaan Corporate Social Responsibility Bermanfaat

1. Manfaat Pelaksanaan Corporate Social Responsibility

menanyakan bahwa CSR telah diamanatkan undang-undang. Jika CSR dianggap penting hanya karena undang-undang, perusahaan akan cenderung terpaksa dan setengah hati melaksanakan CSR tersebut. Jadi, harus ada pemahaman filosofis dan komitmen secara etis tentang CSR. Pentingnya CSR perlu dilandasai oleh kesadaran perusahaan terhadap fakta tentang adanya jurang yang semakin menganga antara kemakmuran dan kemelaratan, baik pada tataran global maupun nasional. Oleh karena itu, CSR harus merupakan kewajiban terhadap kepedulian genuine dari para pelaku bisnis untuk mengambil bagian mengurangi nestapa kemanusiaan.

Memberi gaji kepada karyawan dan membayar pajak kepada negara kurang patut dijadikan alasan bahwa perusahaan tidak perlu melaksanakan CSR. Terlebih di Indonesia bahwa distribusi pendapatan mengalami distorsi luar biasa. Manfaat pajak sering tidak sampai ke masyarakat, terutama kelompok lemah dan rentan seperti orang miskin, pekerja sektoral informal, kaum perempuan, anak-anak, dan Komunitas Adat Terpencil (KAT). Akibatnya, sebagian besar dari mereka hidup tanpa perlindungan sosial yang memadai.

Dengan menerapkan CSR, perusahaan tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, namun juga turut berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan sekitar dalam jangka panjang. Manfaat

CSR dari sisi perusahaan terdapat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas CSR, yaitu:194

1) Mengurangi resiko dan tuduhan terhadap perlakuan tidak pantas yang diterima perusahaan. Perusahaan yang menjalankan tanggung jawab sosialnya secara konsisten akan mendapatkan dukungan yang luas dari komunitas yang telah merasakan manfaat dari berbagai aktivitas yang dijalankannya. CSR akan mendongkrak reputasi perusahaan;

2) Sebagai pelindung dan membantu perusahaan meminimalkan dampak buruk yang diakibatkan krisis. Demikian pula ketika perusahaan diterpa kabar miring bahkan ketika perusahaan melakukan kesalahan, masyarakat lebih mudah memarahi dan memanfaatkannya;

3) Keterlibatan dan kebanggaan karyawan. Karyawan akan merasa bangga bekerja pada perusahaan yang memiliki reputasi yang baik, yang secara konsisten melakukan upaya-upaya untuk membantu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Kebanggaan ini pada akhirnya akan menghasilkan loyalitas, sehingga mereka merasa lebih termotivasi untuk bekerja lebih keras demi kemajuan perusahaan. Hal ini akan berujung pada peningkatan kinerja dan produktivitas;

4) Mampu memperbaiki dan mempererat hubungan-hubungan antara perusahaan dengan para stakeholders-nya bila CSR dilaksanakan secara konsisten. Pelaksanaan CSR yang konsisten menunjukan bahwa perusahaan memiliki kepedulian terhadap pihak-pihak yang selama ini berkontribusi terhadap lancarnya berbagai aktivitas serta kemajuan yang diraih perusahaan. Hal ini mengakibatkan stakeholders senang dan merasa nyaman dalam menjalin hubungan dengan perusahaan;

5) Meningkatnya penjualan seperti yang terungkap dalam riset Roper Search Worldwilde,195 konsumen akan lebih menyukai produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang konsisten menjalankan tanggung jawab sosialnya sehingga memiliki reputasi yang baik;

6) Insentif-insentif lainnya seperti pajak dan berbagai perlakuan khususnya lainnya. Hal ini perlu dipikirkan guna mendorong perusahaan agar lebih giat menjalankan tanggung jawab sosialnya.

       194

A.B. Susanto., Op. cit., hal. 28-32. 195

Ibid., hal. 5. Menyebutkan bahwa riset yang dilakukan Roper Search Worldwide

menunjukkan 75 % responden memberi nilai lebih kepada produk dan jasa yang dipasarkan oleh perusahaan yang memberi kontribusi nyata kepada komunitas melalui program pengembang. Sekitar 66 % responden juga menunjukan mereka siap berganti merek kepada perusahaan yang memliki citra sosial yang positif. Hal ini membuktikan terjadinya perluasan minat konsumen dari produk menuju korporat.

Selain itu ada beberapa benefit lain yang patut dicermati untuk melakukan CSR antara lain:196

1) Mempertahankan dan mendongkrak reputasi dan citra merek perusahaan; 2) Mendapatkan lisensi untuk beroperasi secara sosial;

3) Mereduksi risiko bisnis perusahaan;

4) Melebarkan akses sumber daya bagi operasional usaha; 5) Membuka peluang pasar yang lebih luas;

6) Mereduksi biaya, misalnya terkait dampak pembuangan limbah; 7) Memperbaiki hubungan dengan stakeholders;

8) Memperbaiki hubungan dengan regulator;

9) Meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan; dan 10) Peluang mendapatkan penghargaan.

Pada mulanya, praktek CSR belum menjadi suatu keharusan yang umum, namun dalam abad informasi dan teknologi serta adanya desakan globalisasi, kemudian diundangkannya UUPT, maka tuntutan terhadap perusahaan untuk menjalankan CSR sudah merupakan suatu kewajiban. Tidak menutup kemungkinan bahwa CSR menjadi kewajiban baru berstandar bisnis yang harus dipenuhi seperti layaknya standar ISO. Dan setelah diluncurkannya ISO 26000 on Social Responsibility di akhir tahun 2008 yang lalu, tuntutan dunia usaha menjadi semakin jelas akan pentingnya program CSR dijalankan oleh perusahaan apabila menginginkan keberlanjutan dari perusahaan tersebut.197

       196

Harian Kompas., ”Harapan Untuk Berbagi Madu”, Tanggal 4 Agustus 2007 197

http://www.ekatjiptafoundation.org/index.php?id=26, diakses terakhir tanggal 2 Januari 2010.

Adapun manfaat lain yang dapat diperoleh oleh suatu perusahaan yang mengimplementasikan CSR sebagaimana yang disampaikan Bismar Nasution, antara lain:198

a. Peningkatan penjualan dan pangsa pasar (Increased sales and market share); b. Memperkuat posisi nama atau merek dagang (strengthened brand

positioning);

c. Meningkatkan citra perusahaan (Enhanced corporate image and clout);

d. Meningkatkan kemampuan untuk menarik, memotivasi dan mempertahankan pegawai (Increased ability to attract, motivate, and retain employees);

e. Menurunkan biaya operasi (Decreasing operating cost); dan

f. Meningkatkan daya tarik bagi investor dan analis keuangan (Increased appeal to investors and financial analysts).

Dengan demikian akan tercipta satu ekosistem yang menguntungkan semua pihak (true win win situation) konsumen mendapatkan produk unggul yang ramah lingkungan, produsen pun mendapatkan profit yang sesuai yang pada akhirnya akan dikembalikan ke tangan masyarakat secara tidak langsung.

2. Manfaat Pelaksanaan Corporate Social Responsibility Terhadap Masyarakat Secara umum manfaat CSR adalah peningkatan kualitas hidup mempunyai arti adanya kemampuan manusia sebagai individu anggota masyarakat untuk dapat menanggapi keadaan sosial, dapat menikmati, dan memanfaatkan serta memelihara       

198

Bismar Nasution (I), Op. cit, hal. 3. Untuk mencapai keberhasilan dalam melakukan

program CSR, diperlukan komitmen yang kuat, partisipasi aktif, serta ketulusan dari semua pihak yang peduli terhadap program-program CSR. Program CSR menjadi begitu penting karena kewajiban manusia untuk bertanggung jawab atas keutuhan kondisi-kondisi kehidupan umat manusia di masa datang. Perusahaaan perlu bertanggung jawab bahwa di masa mendatang tetap ada manusia di muka bumi ini, sehingga dunia tetap harus menjadi manusiawi, untuk menjamin keberlangsungan kehidupan kini dan di hari esok. CSR akan menjadi strategi bisnis yang inheren dalam perusahaan untuk menjaga dan meningkatkan daya saing melalui reputasi dan kesetiaan merek produk (loyalitas) atau citra perusahaan. Hal tersebut akan menjadi keunggulan kompetitif perusahaan yang sulit untuk ditiru oleh para pesaing. Di lain pihak, adanya pertumbuhan keinginan dari konsumen untuk membeli produk berdasarkan kriteria-kriteria berbasis nilai-nilai dan etika akan merubah perilaku konsumen di masa mendatang. Implementasi kebijakan CSR adalah suatu proses yang terus-menerus dan berkelanjutan.

lingkungan hidup, dapat juga dikatakan sebagai proses penting pengaturan biaya yang dikeluarkan dan keuntungan kegiatan bisnis dari stakeholders secara internal maupun eksternal.199

Salah satu yang mempengaruhi lahirnya CSR adalah DEAF (Dehumanisasi, Emansiapsi, Aquariumisasi, dan Feminisasi, yang memberikan manfaat sebagai berikut:200

a. Dehumanisasi industri. Efisiensi dan mekanisme yang semakin menguat di dunia industri telah menciptakan persoalan-persoalan kemanusiaan baik bagi kalangan buruh di perusahaan, maupun bagi masyarakat di sekitar perushaan. “Merger mania” dan perampingan perusahaan telah menimbulkan gelombang PHK dan pengangguran. Ekspansi dan eksploitasi industri telah melahirkan ketimpangan sosial, polusi dan kerusakan lingkungan yang hebat.

b. Emansipasi hak-hak publik. Masyarakat kini semakin sadar akan haknya untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan atas berbagai masalah sosial yang sering kali ditimbulkan oleh beroperasinya perusahaan. Kesadaran ini semakin menuntut kepedulian perusahaan bukan saja dalam proses produksi, melainkan pula terhadap berbagai dampak sosial yang ditimbulkannya.

c. Aquariumisasi dunia industri. Dunia kerja kini semakin transparan dan terbuka laksana sebuah akuarium. Perusahaan yang hanya memburu rente ekonomi cenderung mengabaikan hukum, prinsip etis dan filatropis tidak akan mendapat dukungan publik. Bahkan dalam banyak kasus, masyarakat menuntut agar perusahaan seperti ini ditutup;

d. Feminisasi dunia kerja. Semakin banyaknya wanita yang bekerja, semakin menuntut penyesuaian perusahaan bukan saja terhadap lingkungan internal organisasi, seperti pemberian cuti hamil dan melahirkan, keselamatan dan kesehatan kerja, melainkan pula terhadap timbulnya biaya-biaya sosial, seperti penelantaran anak, kenakalan remaja, akibat berkurangnya atau hilangnya kehadiran ibu-ibu di rumah dan tentunya di lingkungan masyarakat. Pendirian fasilitas pendidikan, kesehatan dan perawatan anak (child care) atau pusat- pusat kegiatan olah raga dan rekreasi bagi remaja adalah berberapa bentuk respon terhadap isu ini.

       199

Erni. R. Ernawan, Loc. cit., hal. 110 200

Sebagian besar perusahaan di Indonesia menjalankan CSR melalui kerja sama dengan mitra lain, seperti LSM, perguruan tinggi atau lembaga konsultan. Beberapa perusahaan ada pula yang bergabung dalam sebuah konsorsium untuk secara bersama-sama menjalankan CSR. Beberapa perusahaan bahkan ada yang menjalankan kegiatan serupa CSR, meskipun tim dan programnya tidak secara jelas berbendera CSR.201

Pada awal perkembangannya, bentuk CSR yang paling umum adalah pemberian bantuan terhadap organisasi-organisasi lokal dan masyarakat miskin di negara-negara berkembang. Pendekatan CSR yang berdasarkan motivasi karitatif dan kemanusiaan ini pada umumnya dilakukan secara adhoc, partial, dan tidak melembaga. CSR pada tataran ini hanya sekadar do good dan to look good, berbuat baik agar terlihat baik. Perusahaan yang melakukannya termasuk dalam kategori ”perusahaan impresif”, yang lebih mementingkan ”tebar pesona” (promosi) ketimbang ”tebar karya” (pemberdayaan).202

       201

Ibid., hal.45. 202

http://en.wikipedia.org/wiki/Corporatesocialresponsibility, diakses terakhir tanggal 2 Januari 2010. Semakin banyak perusahaan yang kurang menyukai pendekatan semacam itu, karena

tidak mampu meningkatkan keberdayaan atau kapasitas masyarakat lokal. Pendekatan Community

Development kemudian semakin banyak diterapkan karena lebih mendekati konsep empowerment dan

sustainable development. Prinsip-prinsip GCG, seperti fairness, transparency, accountability, dan

responsibility kemudian menjadi pijakan untuk mengukur keberhasilan program CSR. Sebagai contoh,

Shell Foundation di Flower Valley, Afrika Selatan, membangun Early Learning Centre untuk membantu mendidik anak-anak dan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru bagi orang dewasa di komunitas itu. Di Indonesia, perusahaan-perusahaan seperti Freeport, Rio Tinto, Inco, Riau Pulp, Kaltim Prima Coal, Pertamina serta perusahaan BUMN lainnya telah cukup lama terlibat dalam menjalankan CSR. Kegiatan CSR yang dilakukan saat ini juga sudah mulai beragam, disesuaikan

dengan kebutuhan masyarakat setempat berdasarkan needs assessment. Mulai dari pembangunan

fasilitas pendidikan dan kesehatan, pemberian pinjaman modal bagi UKM, social forestry, penakaran

Masyarakat terutama komunitas lokal sangat menentukan dalam upaya perusahaan memperoleh rasa aman dan kelancaran dalam berusaha, Peran serta mereka merupakan salah satu kunci sukses dalam penerapan program CSR. Bentuk peran serta masyarakat yang diharapkan adalah memberikan informasi, saran dan masukan atau pendapat untuk menentukan program yang akan dilakukan, Bentuk peran serta ini, bisa langsung oleh masyarakat atau melalui perwakilan dari seluruh komunitas lokal yang ada, seperti LSM, perguruan tinggi, kelompok pemuda dan mahasiswa, tokoh agama dan masyarakat, kelompok-kelompok keperempuan, serta yang tidak kalah penting yaitu masyarakat adat. Jika pilihan perwakilan menjadi konsensus bersama, maka masyarakat harus pula turut serta mengontrol penerapan CSR. Komunitas lokal harus dipandang sebagai satu kesatuan dengan perusahaan yang dapat memberikan manfaat timbal balik.

Sebaliknya perusahaan memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada warga lokal untuk menjadi pekerja dan menawarkan kepada kontraktor/rekanan lokal untuk menjadi mitra kerja. Kendatipun memang sering ditemui bahwa penduduk lokal umumnya mempunyai budaya kerja, ketrampilan dan pendidikan yang rendah serta masih sulit dibentuk, namun setidaknya untuk porsi tenaga kerja non skill mungkin masih bias dipertimbangkan.203 Pemerintah dan masyarakat, tidak hanya       

skema perlindungan sosial berbasis masyarakat dan seterusnya. CSR pada tataran ini tidak sekadar do

good dan to look good, melainkan pula to make good, menciptakan kebaikan atau meningkatkan

kesejahteraan masyarakat. 203

Yusuf Wibisono, Op. cit., hal. 112. Perusahaan dapat memperoleh dukungan (minimal

license to operate)dari warga. Hubungan timbal balik inilah yang menjadi perhatian dalam program CSR.

memposisikan perusahaan secara terus-menerus sebagai sinterklas yang selalu akan datang memberikan uang dan atau barang. Karena hal ini dikhawatirkan dapat melahirkan kebergantungan. Tetapi, bagaimana mengupayakan perusahaan sebagai mitra untuk membangun komunitas dalam mencapai kemajuan dan kemaslahatan bersama.

Rogovsky, menyatakan keterlibatan komunitas-perusahaan sebagai berikut dapat memberikan sejumlah manfaat yang diharapkan oleh komunitas yang sebaiknya dipahami oleh perusahaan yang beroperasi di wilayah sekitarnya antara lain:204

1) Income (pendapatan). Komunitas mengharapkan adanya perputaran uang melalui gaji atau upah sebagai karyawan, atau melalui pembelian kebutuhan perusahaan atau kebutuhan karyawan pada komunitas di sekitarnya;

2) Kontribusi perusahaan. Kontribusi yang dapat diberikan oleh perusahaan dapat berupa bantuan seperti pembangunan fasilitas umum (fasum) atau sarana atau prasarana umum seperti sarana ibadah, sekolah, taman bermain, sarana olah raga dan lainnya, memberikan bea siswa, sumbangan atau bantuan atau hadiah pada berbagai kegiatan, dan bentuk pemberdayaan kepada komunitas; dan

3) Kebanggaan. Banyak tempat yang diasosiasikan dengan keberadaan suatu perusahaan, misalnya ketika menyebut kota Kediri orang akan mudah mengingat sebuah perusahaan rokok, menyebut kota Gresik imajinasi akan mengantarkan kita pada perusahaan semen, dan perusahaan pupuk.

Dalam menerapkan konsep CSR, dapat dilakukan secara bersama-sama yang artinya, perusahaan mengajak pemerintah dan perwakilan masyarakat dalam mengkonsep serangkaian proses, sejak desain atau perencanaan program, implementasi program, monitoring program evaluasi program hingga membuat       

204

pelaporan (reporting). Atau dengan kata lain, melakukan siklus PDCA (Plan, Do, Check, Action). Hal ini diharapkan, agar program CSR yang digagas secara bersama- sama dapat berjalan secara nyata, bermanfaat, efektif, dan berjangka panjang.205

C. Pelaksanaan CSR di Indonesia Sebagai Pemenuhan GCG Untuk