• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

4) Manfaat Pendekatan Tematik Integratif

Menurut Ahmadi (2014: 224) ada beberapa manfaat tematik integratif yaitu 1) kebebasan dalam pemanfaatan waktu dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa, 2) menyatukan pembelajaran siswa, konvergensi pemahaman yang diperolehnya sambil mencegah terjadinya inkonsistensi antar mata pelajaran, merefleksikan keadaan nyata yang dihadapi anak di rumah dan lingkungannya, sesuai dengan cara anak berfikir, dimana menurut penelitian otak mendukung teori pedagogi dan psikologi bahwa anak menerima banyak hal serta mengolah dan merangkumnya menjadi satu.

Selain itu manfaat lain yang didapatkan dengan menggunakan pendekatan tematik integratif yaitu a) suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan, b) menggunakan

kelompok kerja sama, memadukan (kolaborasi) kelompok belajar dan strategi pemecahan konflik yang mendorong siswa untuk memecahkan masalah c) mengoptimasi lingkungan belajar sebagai kunci kelas yang ramah otak d) siswa dengan cepat dan tepat waktu dapat memproses informasi e) proses pembelajaran di kelas mendorong siswa berada dalam format ramah otak, f) materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru dapat diaplikasikan langsung oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari g) siswa yang relatif mengalami keterlambatan untuk menyelesaikan program belajar dapat dibantu oleh guru dengan cara memberikan bimbingan secara khusus dan menerapkan prinsip belajar tuntas h) program pembelajaran yang bersifat ramah otak memungkinkan guru untuk mewujudkan ketuntasan belajar dengan menerapkan variasi cara penilaian.

Melihat penyempurnaan pola pikir pada pembahasan sebelumnya dapat diketahui bahwa pola pikir pada Kurikulum 2013 merujuk pada perubahan yang memiliki karakteristik hampir sama dengan konsep pembelajaran kontekstual. Yang menekankan pembelajaran berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung, pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, bersifat luwes (fleksibel), dan menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.

Jika pembelajaran sudah kontekstual, maka guru juga harus berwawasan luas memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi dan berani mengembangkan materi pembelajaran. Secara akademik guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada bidang tertentu saja. Begitu juga dengan peserta didik, pembelajaran terpadu menuntut kemampuan belajar peserta didik yang relatif “baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun krativitas. Hal ini terjadi karena pembelajaran terpadu menekankan pada kemampuan analitis (mengurai), asosiatif (menghubung-hubungkan), dan kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan menggali). Majid (2014: 93).

Berdasarkan teori-teori yang sudah diuraikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik integratif merupakan pembelajaran yang dilakukan secara terpadu dan terdapat keterkaitan antar bidang studi, antar konsep, antar pokok bahasan, antar tema bahkan antar topik melalui pengalaman langsung sehingga pembelajaran dapat bermakna bagi siswa.

d. Pendekatan Saintifik

Pembelajaran tematik terpadu dalam proses pembelajarannya menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik memberikan pemahaman kepada peserta didik untuk mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, segala informasi bisa datang dari mana saja dan kapan saja tidak tergantung dari guru. Oleh karena itu, kondisi pembelajaran yang diharapkan mampu mendorong peserat didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, bukan diberi tahu (Modul Diklat Kurikulum 2013).

Pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah adalah sebuah pendekatan yang berbasis ilmiah dengan merujuk pada kegiatan menginvestigasi atas sesuatu atau beberapa fenomena atau gejala dengan tujuan memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Dalam pendekatan saintifik menekankan kegiatan berbasis metode ilmiah yang meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran. Pendekatan ilmiah ini mempunyai ciri tertentu yang terdiri dari dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Proses pembelajaran dalam pendekatan saintifik harus dilaksanakan dengan menggunakan nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah. Menurut Sudarwan dalam Majid, (2014: 194).

Kondisi pembelajaran saat ini diharapkan agar peserta didik mampu merumuskan masalah dengan banyak bertanya, bukan hanya menyelesaikan masalah dengan menjawab saja. Proses pembelajaran diarahkan untuk melatih berpikir analitis (peserta didik diajarkan bagaimana mengambil keputusan) bukan berpikir mekanitis (rutin dengan mendengarkan dan menghafal semata). Pendekatan pembelajaran ilmiah menekankan pada pentingnya kolaborasi dan kerjasama di antara peserta didik dalam menyelesaikan setiap permasalahan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu guru sedapat mungkin menciptakan pembelajaran selain dengan tetap mengacu pada Standar Proses dimana pembelajarannya diciptakan suasana yang memuat eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, juga dengan mengedepankan kondisi peserta didik yang berprilaku ilmiah dengan bersama-sama diajak untuk mengamati, menanya, menalar, merumuskan, menyimpulkan, dan mengomunikasikan, sehingga peserta didik dapat penguasaan materi yang dipelajari dengan baik. Untuk lebih jelasnya berikut adalah langkah-langakah pendekatan saintifik. 1. Mengamati

Kegiatan mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran seperti menyajikan media objek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang.

2. Menanya

Pada saat kegiatan menanya guru dapat membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan , guru sebenarnya sedang menanamkan sikap kepada siswa agar menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.

3. Menalar

Penalaran yaitu proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Dalam kegiatan ini peserta didik mencoba mengkoneksikan antara pengetahuan baru yang didapat dengan pengetahuan sebelumnya untuk menjadi sebuah temuan pengetahuan, baik untuk mengoreksi atau pun memperoleh pelajaran baru.

4. Mencoba

Dalam kegiatan ini peserta didik mencoba melakukan eksperimen terkait materi pembelajaran untuk menemukan kesimpulan dan mengetahui secara langsung apa yang sedang mereka pelajari. Selama proses ini berlangsung guru ikut membimbing peserta didik yang bertujuan untuk mengatasi dan memecahkan masalah-masalah yang akan menghambat kegiatan pembelajaran.

Membentuk jejaring merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama untuk memudahkan suatu usaha demi mencapai tujuan bersama.

Berdasarkan uraian di atas pendekatan saintifik yang diterapkan dalam pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum 2013 merupakan suatu proses yang dilakukan siswa dengan mengedepankan ide-ide kreatif. Kemampuan siswa dapat dikembangkan secara holistik mulai dari ranah pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

e. Penilaian Otentik

Dokumen terkait