1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kemudahan mempelajari konsep IPA pada pembelajaran tematik di sekolah dasar
2. Manfaat praktis
Manfaat praktis penelitian ini sasarannya berbagi sebagai berikut:
a. Siswa
Bahan ajar yang berupa LKPD yang telah dikembangkan dapat membantu peserta didik dalam proses pembelajaran agar memotivasi dan memabntu memahami konsep IPA dan memecahkan masalah sesuai tujuan pembelajaran.
b. Guru
Untuk menjadi bahan guru dalam proses pembelajaran di sekolah dan meningkatkan keterampilan mengajar guru dalam mengolah LKPD di kelas.
c. Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya sumber belajar alternatif.
d. Peneliti
Penelitian dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta pengalaman mengenai pengembangan LKPD dan peneliti juga dapat meningkatkan kreatifitas dan dalam merancang LKPD.
F. Asumsi dan Batasan Penelitian dan Pengembangan 1. Asumsi Penelitian dan Pengembangan
Beberapa asumsi yang mendasari pengembangan ini, yaitu:
a. Pembelajaran akan menarik dan memotivasi belajar peserta didik serta berwarna apabila LKPD (lembar kerja peserta didik) sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
b. LKPD yang disusun dan terstruktur sesuai capaian kompetensi pembelajaran untuk memperoleh hasil belajar kognitif peserta didik melalui LKPD berbasis literasi sains siswa kelas VI sekolah dasar yang didesain secara individu maupun kelompok untuk menemukan pembelajaran IPA yang disajikan di LKPD yang lebih menarik dan mudah dipahami.
2. Batasan Penelitian dan Pengembangan
a. Pengembangan ini batasi pada buatan LKPD ddengan berbasis literasi sains pada energi listrik secara global untuk meningkatkan Hasil belajar peserta didik.
b. Pengembangan ini hanya terbatas pada mata pelajaran IPA pada kelas VI sekolah dasar
c. Pengembangan LKPD ini dilakukan sampai penyebaran (Disseminate) untuk sekolah (guru, siswa sampai dinas Pendidikan kota makassar)
G. Defenisi Operasional
Defenisi operasional diperlukan untuk menghindari terjadinya kekeliruan penafsiran pembaca terhadap variabel-variabel atau kata-kata dan istilah-istilah teknis dan dinyatakan sebagai berikut:
1. LKPD berbasis literasi sains merupakan bahan ajar berupa lembaran yang berisi ringkasan materi dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan oleh peserta didik dalam rangka memecahkan masalah menghasilkan solusi, gagasan, desain, dan menjawab pertanyaan peserta didik dan mengukur kemampuan peserta didik dalam memahami teks bacaan yang disajikan dalam LKPD untuk memperoleh pengetahuan dan mengacu pada kemampuan siswa menggunakan ilmu pengetahuan terutama untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan IPA. Literasi sains memiliki 3 indikator kompetensi yaitu (a) menjelaskan suatu fenomena ilmiah; (b) mengevaluasi dan merancang penyelidikan ilmiah; dan (c) menginterpretasikan data dan
bukti-bukti ilmiah. Pengembangan perangkat pembelajaran berupa yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Four-D oleh Thiagaraja, Semmel, dan Semmel (1974) yang terdiri atas empat tahap yaitu:
pendefinisian (Define), tahap perancanaan (Design), tahap pengembangan (Develop) dan tahap diseminasi (Dissemenation).
2. Hasil belajar merupakan kemampuan yang melibatkan hasil kogniti, psikomotorik dan afektif peserta didik dalam mengambil keputusan atau tindakan yang terarah dan logis untuk menyelesaikan tes/soal melalui evaluasi, dan memberikan jawaban berupa fakta atau fenomena sehingga peserta didik dapat menarik kesimpulal.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritis 1. Literasi Sains
a. Definisi Literasi Sains
Literasi sains berasal dari dua kata yaitu literasi dan sains. Asal kata literasi yaitu literature yaitu mempunyai arti melek huruf dan asal kata sains yaitu scientia yang mempunyai arti pengetahuan. (Pertiwi, et al., 2008)
Literasi sains menurut PISA yaitu “the capacity to use scientific knowledge, to identifity questions and to draw evidence-based conclusions in order to understand and help make decisions about the natural world and the changes made to it through human activity (kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengindentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang dilakukan melalui aktivitas manusia. (Yuliati, 2017)
Literasi sains adalah kemampuan seseorang untuk memahami sains, megkomunikasikan sains (lisan dan tulisan), serta menerapkan pengetahuan sains untuk memecahkan masalah sehingga memiliki sikap dan kepekaan yang tinggi terhadap diri dan lingkungannya dalam mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sains. Toharuddin (2011)
14
Literasi sains merupakan suatu ilmu pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan proses sains yang akan memungkinkan seseorang untuk membuat suatu keputusan dengan pengetahuan yang dimilikinya, serta turut terlibat dalam kenegaraan, budaya dan pertumbuhan ekonomi, termasuk didalamnya kemampuan spesifik yang dimilikinya. (cahyana, 2017).
Berdasarkan dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT menaikkan derajat manusia yang menuntut ilmu dan belajar melalui proses pembelajaran dan literasi sains adalah kemampuan peserta didik untuk mengetahui dan menerapkan konsep atau fakta yang didapatkan di sekolah atau lingkungan sekitar dengan fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
b. Ruang Lingkup Literasi Sains
Dalam pengukuran literasi sains, PISA menetapkan tiga aspek yaitu kandungan literasi sains, proses sains dan konteks aplikasi sains. PISA 2003 memaparkan literasi sains sebagai berikut:
1) Kandungan Literasi Sains
Konsep ilmiah (scientific concepts), peserta didik perlu menangkap sejumlah konsep kunci atau esensial dapat memahami fenomena alam tertnetu dan perubahan-perubahan yang terjadi akibat kegiatan mansuia. Hal ini merupakan gagasan besar pemersatu yang berupaya menjelaskan aspek-aspek ingkungan fisik. PISA mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
mempersatukan konsep-konsep fisika, kimia, biologi, serta ilmu pengetahuan bumi dan antariksa. (Toharuddin, et.al., 2011)
2) Proses Literasi Sains
Proses literasi sains dalam PISA mengkaji kemampuan peserta didik untuk menggunkan pengetahuan dan pemahaman ilmiah, seperti kemampuan peserta didik untuk menemukan, menafsirkan dan mencari bukti-bukti. PISA menguji lima proses semacam itu, yaitu: 1) mengenali pertanyaan ilmiah, 2) mengindetifikasi bukti, 3) menarik kesimpulan, 4) mengomunikasikan kesimpulan, dan 5) menunjukkan pemahaman konsep ilmiah. (Toharuddin, et.al., 2011)
3) Konteks Literasi Sains
Konteks literasi dalam PISA mengacu pada kehidupan sehari-hari daipada kelas atau laboratorium dan konteks sains pun melibatkan isu-isu yang sangat penting dalam kehidupan secara umum serta pertanyaan-pertanyaan dalam PISA 2000 dikelompokkan menjadi tiga tempat sains diterapkan yaitu kehidupan dan Kesehatan, bumi dan lingkungan, serta teknologi. (Toharuddin, et.al., 2011)
Seseorang yang memiliki literasi sains adalah orang yang menggunakan konsep sains, memiliki keterampilan proses sains untuk menilai dalam kehidupan sehari-hari. Semakin berkembangnya pemikiran seseorang
mengenai sains tetapi sains dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. (Abidin, Y. et al., 2017). Literasi sains diharapkan peserta didik mampu memenuhi berbagai tuntutan zaman yaitu menjadi problem solver dengan pribadi kompetitif, inovatif, serta berkarakter. Hal tersebut dikarenakan penguasaan kemampuan literasi sains dapat mendukung pengembangan dan penggunaan kompetensi abad ke 21. (Yuliati, 2017)
Seseorang yang memiliki lietarasi sains dan teknologi ditandai dengan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah dengan mengguakan konsep-konsep sains yang diperoleh dalam Pendidikan sesuai dengan jenjangnya, mengenai produk yang ada disekitarnya beserta dampaknya, mapu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya, kreatif dalam membuat hasil tenologi yang sederhanakan sehingga peserta didik mampu mengambil keputisan berdasarkan nilai dan budaya masyarakat setempat.
(Toharuddin, et.al., 2011)
Berdasarkan uraian diatas bahwa ruang lingkup literasi sains kemampuan peserta didik untuk mempelajari dan memahami isu-isu literasi sains untuk memecahkan masalah ilmiah berdasarkan konsep, keterampilan serta berbasi teknologi sehingga peserta didik dapat kompetitif, inovatif dan berkarakter dalam mengambil keputusan.
c. Tujuan Literasi Sains
Membangun Literasi Sains tidak terlepas dari tujuan utama yakni untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang siap memasuki Abad 21.
Oleh karena itu, tujuan operasional dari literasi sains bagi peserta didik adalah:
a) memiliki kemampuan pengetahuan dan pemahaman tentang konsep ilmiah dan proses yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam masyarakat di era digital, b) kemampuan mencari atau menentukan jawaban pertanyaan yang berasal dari rasa ingin tahu yang berhubungan dengan pengalaman sehari-hari, c) memiliki kemampuan, menjelaskan dan memprediksi fenomena. d) dapat melakukan percakapan sosial yang melibatkan kemampuan dalam membaca dalam mengerti artikel tentang Ilmu pengetahuan; e) dapat mengindentifikasi masalah-masalah ilmiah dan teknologi informasi; f) memiliki kemampuan dalam mengevaluasi informasi ilmiah atas dasar sumber dan metode yang dipergunakan; g) dapat menarik kesimpulan dan argument serta memiliki kapasitas mengevaluasi argument berdasarkan bukti. Untuk mengukur tingkat kemampuan literasi sain, diperlukan penilaian literasi sains tersebut. (Kusuma, 2018)
Ruba (Toharuddin, et.al., 2011) menyatakan bahwa peserta didik harus memiliki karakteristik individu yang harus dimiliki dalam lietrasi sains adalah sebagai berikut:
1) Bersikap positif terhadap sains 2) Mampu menggunakan proses sains
3) Berpengetahuan luas tentang hasil-hasil riset
4) Memiliki penegtahuan tentang konsep dan prinsip sains, serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat,
5) Memiliki pengertian hubungan antar sains, teknologi, masyarakat dan nilai-nilai manusia,
6) Berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut.
Dari hasil diatas berdasarkan dari tujuan dan karakteristik peserta didik harus dimiliki adalah peseserta didik harus mampun memahami dan memiliki pengetahuan yang luas dan mengambil keputusan serta mengikuti perkembangan teknologi terkait kehidupan sehari-hari.
d. Indikator Literasi Sains
Kemampuan peserta didik dalam memahami lietasi sains sangat diperlukan guna pembelajaran yang rancang secara optimal agar terjalin komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik terhadap materi pembelajaran yang disampaikan. Untuk mengukur seberapa baik tingkat kemampuan peserta didik tentunya diperlukan beberapa indikator yang berfungsi sebagai acuan dasar dalam pengukuran tersebut. Berikut ini beberapa indikator yaitu sengai berikut:
Tabel 2.1 Indikator Literasi Sains
Indikator Deskripsi Indikator
Menjelaskan
dan bukti ilmiah Mengalisis Sumber: OECD, 2015 (Abidin, 2017)
Pembelajaran lietrasi sains yaitu pembelajaran yang relevan untuk mengembangkan kemampuan literasi sains yang sesuai dengan proses dan produk kehidupan sehari-hari dalam masyarakat dan memasukkan isu-isu social yang memerlukan komponen konsep sains dalam pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah dan membantu peserta didik dalam hal penyelesaian masalah (Holbrook dan Miaa, 2009)
e. Aspek Literasi Sains
Domain lietasi sains terdiri atas konteks, pengetahuan, kompetensi dan sikap. Asesmen PISA dibuat agar siswa dapat memahami bahwa ilmu pengetahuan memiliki nilai tertentu bagi individu dan masyarakat dalam meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup dan dalam pengembangan kebijakan publik. (OECD, 2013)
Oleh karen aitu, soal-soal lietrasi saons PISA berfokus pada situasi terkait pada diri individu, sosial dan peraturan global sebagai konteks, atau situasi spesifik untuk Latihan penilaian. Asesmen literasi sains PISA tidak
menilai konteks, tetapi menilai kompetensi, pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan konteks. Penelitian ini merujuk pada asesmen PISA 2013, dimana domain literasi sains yang dinilai adalah aspek pengetauan dan kompetensi yaitu sebagai berikut:
1) Aspek Pengetahuan Sains
Tujuan penilaian PISA adalah untuk menggambarkan sejauh mana siswa dapat menerapkan pengetahuan dalam konteks yang relevan dengan kehidupan, oleh karen aitu, penilaian pengetahuan akan dipilih dari hiding utama fisika, kimia, biologi, ilmu bumi dan ruang angkasa dan teknologi.
2) Aspek Kompetensi Sains
Penilaian PISA dalam literasi sains memberikan prioritas terhadap beberapa kompetensi, yaitu:
a) Mengindetifikasi isu ilmiah, yaitu mengenal isu yang mungkin diselidiki secara ilmiah, mengidentifikasi kata-kata kunci untuk informasi ilmiah, mengenal ciri khas penyelidikan ilmiah.
b) Menjelaskan fenomena ilmiah, yaitu mengaplikasikan pengetahuan sains dalam situasi yangdiberikan, mendeskripsikan atau menafsirkan fenomena dan meprediksi perubahan, mengindetifikasi deskripsi, eksplanasi dan prediksi yang sesuai.
c) Menggunakan bukti ilmiah, yaitu menafsirkan bukti ilmiah dan menarik kesimpulan, memberikan alas an untuk mendukung atau menolak kesimpulan dan mengindentifikasi asumsi-asumsi yangdibuat dalam
mencapai kesimpulan, mengomunikasikan kesimpulan terkait bukti dan penalaran dibalik kesimpulan dan membuat refleksi berdasarkan implikasi sosial dari kesimpulan ilmiah. (OECD, 2013)
Berdasarkan hasil pemaparan diatas bahwa aspek literasi sains bagi peserta didik dari indikatornya adalah menjelaskan suatu fenomena ilmiah;
mengevaluasi dan merancang penyelidikan ilmiah; dan menginterpretasikan data dan bukti-bukti ilmiah yang diharapkan peserta didik dapat memahami berbagai displin ilmu dalam penegmbangan sains dan menfasirkan berbagai pokok permasalahan atau isu-isu lokal maupun global dari domain literasi sains dan menganalisis materi stimuluas peserta didik, kompetensi peserta didik dan menunjukkan tanggapan peserta didik dari permasalah dalam kehidupan sehari-hari.
2. Hasil Belajar a. Pengertian Hasil Belajar
Purwato (2011) Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian dari hasil adalah (product) menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukan suatu aktifitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.
Abdurrahman (1999) menjelaskan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar menurutnya juga anak-anak yang berhasil dalam belajar ialah berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.
Hasil belajar dicapai oleh siswa dalam mengikuti program belajar mengajar, sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar suatu proses untuk melihat sejauh mana siswa dapat menguasai pembelajaran setelah mengikuti kegiatan proses belajar mengajar, atau keberhasilan yang dicapai seorang peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran yang ditandai dengan bentuk angka, huruf, atau simbol tertentu yang disepakati oleh pihak penyelenggara Pendidikan.
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar merupakan hasil akhir yang diperoleh kognitif peserta didik dalam pemahamannya tentang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan proses mental (otak) dan merupakan dasar penguasaan ilmu pengetahuan yang harus dikuasai oleh peserta didik setelah ia melakukan suatu pembelajaran.
b. Ranah Hasil Belajar
Menurut Anderson dan Krathwol hasil revisi dari taksonomi Bloom (Nur Astriany, 2016), hasil peserta didik ditunjukkan oleh penguasaan tiga kompetensi yang meliputi ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.
Dalam ranah kognitif meliputi kemampuan peserta didik dalam (1) mengingat, (2) memahami, (3) menerapkan, (4) menganalisis, (5) mengevaluasi, dan (6) menciptakan. Selain ranah kognitif, juga terdapat tingkatan ranah psikomotorik dan afektif. Ranah afektif meliputi (1) menerima, (2) merespon, (3) menghargai,
(4) mengorganisasikan, (5) karakterisasi. Sedangkan ranah psikomotorik meliputi (1) meniru, (2) manipulasi, (3) presisi, (4) artikulasi, (5) naturalisasi.
Suharsimi Arikunto (2007) mengungkapkan ranah kognitif pada siswa SD yang cocok diterapkan adalah ingatan, pemahaman dan aplikasi dan analisis. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, model atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah. Hasil belajar yang baik adalah hasil belajar yang memenuhi dan dapat mencapai tujuan belajar serta mencakup tiga ranah kecerdasan siswa, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar dari segi kognitif berupa penguasaan materi yang akan ditunjukkan dengan penilaian tes kognitif dengan jenjang kemampuan yang diperoleh siswa dibagi ke dalam tiga kategori yaitu pengetahuan, pemahaman, dan penerapan pada saat pembelajaran IPA dengan menggunakan LKPD siswa
c. Indikator Hasil Belajar Kognitif
Belajar merupakan suatu proses mencari informasi untuk mengembangkan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik seseorang. Menurut
Roger, belajar adalah sebuah proses internal yang menggerakkan anak didik agar menggunakan seluruh potensi kognitif, afektif dan psikomotoriknya agar memiliki berbagai kapabilitas intelektual, moral, dan keterampilan lainnya (Nata, 2011).
Penilaian Ranah Kognitif Ranah kognitif merupakan ranah yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan sesorang yang dapat dilihat melalui tes maupun nontes. Menurut Yanti (2020), Penilaian ranah kognitif bisa dilakukan dengan tes dan nontes. Penilaian dengan tes memerlukan instrumen berupa tes tertulis dan tes lisan. Tes tertulis bisa berupa pilihan ganda , menjodohkan, menguraikan, isian singkat, teslian bia dilkakukan dengan wawancara dan tanhya jawab. Dalam proses belajar mengajar, aspek kognitif inilah yang paling menonjol dan bisa dilihat langsung dari hasil tes. Dimana disini pendidik dituntut untuk melaksanakan semua tujuan tersebut. Hal ini bisa dilakukan oleh pendidik dengan cara memasukkan unsur tersebut kedalam pertanyaan yang diberikan. Pertanyaan yang diberikan kepada siswa harus memenuhi unsur tujuan dari segi kognitif, sehingga peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Ranah kognitif merupakan ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk ranah kognitif. Menurut Nana Sudjana (2010) Ranah kognitif meliputi lima tipe hasil belajar yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan
evaluasi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 3 tahapan yaitu sebagai berikut:
a. Pengetahuan Pengetahuan diidentikkan dengan hafalan atau untuk diingat. Contoh tipe hasil belajar ini yaitu rumus, batasan, definisi, istilah, pasal dalam undangundang, nama tokoh, nama tempat (kota).
b. Pemahaman Tingkat pemahaman lebih tinggi daripada pengetahuan.
Contoh tipe pemahaman yaitu menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri, memberikan contoh lain dsb.
c. Aplikasi Tipe hasil belajar aplikasi merupakan penerapan sebuah ide, teori, atau petunjuk teknis pada situasi yang baru. Jika aplikasi atau penerapan ini dilakukan secara berulang-ulang maka akan menjadi hafalan atau keterampilan.
Dari pendapat di atas, dapat ditegaskan bahwa indikator hasil belajar kognitif siswa adalah proses pembelajaran yang mengkaji tentang masalah-masalah kehidupan sehari-hari.
d. Faktor-Faktor Mempengaruhi Hasil Belajar
Widoyoko (2010) Proses pembelajaran melibatkan dua subjek, yaitu guru dan siswa akan menghasilkan suatu perubahan pada diri siswa sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran. Perubahan yang terjadi pada diri siswa sebagai akibat kegiatan pembelajaran bersifat non-fisik seperti perubahan sikap, pengetahuan maupun kecakapan. Berbagai perubahan yang terjadi pada diri siswa sebagai hasil proses pembelajaran.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, yang meliputi kondisi lingkungan disekitar.
Kemudian faktor yang berasal dari dalam diri siswa, yang meliputi keadaan jasmani dan rohani siswa. Menurut Slameto (2003) ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu (1) Faktor internal (berasal dari dalam diri), (2) Faktor eksternal (berasal dari luar diri.
Slameto (2003) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Yang termasuk dalam faktor intern seperti, faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan.
Sedangkan faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar, dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu, faktor keluarga, faktor sekolah (organisasi) dan faktor masyarakat.
Faktor-faktor di atas sangat bepengaruh terhadap proses belajar mengajar. Ketika dalam proses belajar peserta didik tidak memenuhi faktor tersebut dengan baik, maka hal tersebut dapat berpengaruh terhadap hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Untuk mencapai hasil belajar yang telah direncanakan sesuai dengan tujuan dalam pembelajaran, seorang guru harus memperhatikan faktor-faktor diatas agar hasil belajar yang dicapai peserta didik bisa maksimal.
Menurut Muhibbin Syah (2011), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar peserta didik yaitu:
1. Faktor internal meliputi dua aspek yaitu:
a) Aspek fisiologis b) Aspek psikologis 2. Faktor eksternal meliputi:
a) Faktor lingkungan sosial
b) Faktor lingkungan nonsosial Faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain:
1) Faktor internal yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani peserta didik.
2) Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar peserta didik misalnya faktor lingkungan.
3) Faktor pendekatan belajar, yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pembelajaran.
Sudjana dan Rivai (2001) Faktor yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya faktor jasmani dan rohani siswa, hal ini berkaitan dengan masalah kesehatan siswa baik kondisi fisiknya secara umum, sedangkan faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi. Hasil belajar siswa di sekolah 70 % dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30 % dipengaruhi oleh lingkungan.
Menurut Chalijah Hasan (1994) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar antara lain:
1. Faktor yang terjadi pada diri organisme itu sendiri disebut dengan faktor individual adalah faktor kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi.
2. Faktor yang ada diluar individu yang kita sebut dengan faktor sosial, faktor keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang digunakan atau media pengajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial.
Sabri (2010) Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa secara garis besar terbagi dua bagian, yaitu factor internal dan eksternal.
1. Faktor internal siswa
a. Faktor fisiologis siswa, seperti kondisi kesehatan dan kebugaran fisik, serta kondisi panca inderanya terutama penglihatan dan pendengaran.
b. Faktor psikologis siswa, seperti minat, bakat, intelegensi, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif seperti kemampuan persepsi, ingatan, berpikir dan kemampuan dasar pengetahuan yang dimiliki.
2. Faktor-faktor eksternal siswa
a. Faktor lingkungan siswa Faktor ini terbagi dua, yaitu pertama, faktor lingkungan alam atau non sosial seperti keadaan suhu, kelembaban
udara, waktu (pagi, siang, sore, malam), letak madrasah, dan sebagainya. Kedua, faktor lingkungan sosial seperti manusia dan budayanya.
b. Faktor instrumental Yang termasuk faktor instrumental antara lain gedung atau sarana fisik kelas, sarana atau alat pembelajaran, media pembelajaran, guru, dan kurikulum atau materi pelajaran serta strategi pembelajaran.
Tinggi rendahnya hasil belajar peserta didik dipengaruhi banyak
Tinggi rendahnya hasil belajar peserta didik dipengaruhi banyak