• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah : a) Manfaat Teoritis

1) Penelitian ini dapat menambah dan memperkaya khazanah Islam mengenai pendidikan, khususnya mengenai Muhammad Abduh dan pemikirannya tentang Pendidikan Islam.

2) Dari segi kepustakaan diharapkan dapat menjadi salah satu karya ilmiah yang dapat menambah koleksi pustaka Islam yang bermanfaat.

b) Manfaat Praktis

1) Diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pendididkan Islam utamanya mengenai kajian tokoh Pendidikan Islam.

2) Penelitian ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi pada peneltian berikutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Muhammad Abduh

1. Biografi Muhammad Abduh

a. Riwayat Hidup Muhammad Abduh

Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 M di desa Mahallat Nasr, kabupaten al-Buhairah Mesir dan wafat tahun 1905 M. Nama panjangnya adalah Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah. (M.Quraish Shihab, 2008:11) Ayahnya bernama Abduh bin Hasan Kharallah, mempunyai silsilah keturunan dengan bangsa Turki dan ibunya mempunyai silsilah keturunan dengan orang besar Islam, Umar bin Khaththab, khalifah yang kedua.(Muhammad Abduh,1992:vii) Muhammad Abduh mengawali pendidikan dalam lingkungan petani di Pedesaan. Di bawah asuhan ibu-bapak yang tidak ada hubungannya dengan pendidikan sekolah, namun memiliki jiwa religius yang kuat.

b. Pendidikannya

Muhammad Abduh mengawali pendidikannya belajar pelajaran pada umumnya, seperti membaca, menulis, dan menghafal al-Qur’an pada ayahnya di rumah. Berkat otaknya yang cemerlang, hanya dalam jangka waktu dua tahun ia mampu menghafal al-Qur’an seluruhnya, ketika itu ia berusia 12 tahun.(Harun Nasution,1987:11) Kemudian

diusianya yang ke 14 tahun, ia dikirim ayahnya ke Thanta untuk belajar di Masjid al-Ahmadi (al-Jami al-Ahmadi). Di sini, di samping melancarkan hafalan al-Qurannya, ia juga belajar bahasa Arab dan fikih. Setelah belajar selama satu setengah tahun, metode hafalan yang dipakai sebagai sistem pengajaran di tempat ini membuat Abduh yang sedari kecil sudah terlihat nalar kritisnya menjadi kecewa. Dalam riwayatnya ia menulis, “aku menghabiskan satu setengah tahun tanpa mengerti sesuatu apa pun”, karena metode dan sistem belajar yang buruk, guru-guru mengajar dengan menghafal istilah-istilah tentang nahwu dan fikih yang tidak dimengerti. Guru-guru bahkan tidak merasa penting apa kita mengerti atau tidak mengerti arti istilah-istilah tersebut”. Dengan rasa kecewa Abduh pun kembali ke Mahallat Nasr.

Kemudian ayahnya tetap memaksakan agar ia meneruskan belajar di Thanta, dan akhirnya ia terpaksa pergi, namun bukan ke Thanta melainkan ke rumah paman ayahnya yang bernama Syeikh Darwisy Khadr untuk bersembunyi. Darwisy kemudian mendidik Abduh untuk belajar dan mencintai ilmu dan buku. Darwisy juga memberikan imbauan dan dorongan serta nasihat kepada Abduh agar kembali bersamangat dan bergairah dalam menuntut ilmu. Didikan Darwisy ternyata berhasil dan akhirnya Abduh mau meneruskan studinya di Thanta.(M.Quraish Shihab, 2008:21-22)

Dari Thanta, Muhammad Abduh menuju ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar, yaitu pada bulan Februari 1866 M. Namun Sistem pengajaran ketika itu tidak berkenan di hatinya, karena menurut Abduh: ”kepada para mahasiswa hanya dilontarkan pendapat-pendapat para ulama terdahulu tanpa mengantarkan mereka pada usaha penelitian, perbandingan, dan penarjihan.” Namun, di perguruan ini dia sempat berkenalan dengan sekian banyak dosen yang di kaguminya, antara lain:

1. Syaikh Hasan ath-Thawil, yang mengajarkan kitab-kitab filsafat karangan Ibnu Sina, logika karangan Aristoteles dan lain sebagainya, padahal kitab-kitab tersebut tidak di ajarkan di al-Azhar pada waktu itu.

2. Muhammad al-Basyumi, seorang yang banyak mencurahkan perhatian dalam bidang sastra dan bahasa, bukan melalui pengajaran tata bahasa, melainkan melalui kehalusan rasa dan kemampuan mempraktikkannya. (M. Quraish Shihab, 2008:8-9) c. Berguru dengan Jamaluddin al-Afghani

Pada tahun 1871 M adalah awal pertemuan dan interaksi intelektual Abduh dengan salah satu pembaharu Islam, yaitu seorang alim besar bernama Said Jamaluddin al-Afghani yang sudah terkenal dalam dunia Islam sebagai Mujahid (pejuang), Mujaddid (pembaharu/reformer) dan ulama yang sangat alim, yang pada saat itu datang ke Mesir. Muhammad

Abduh bertemu dengan al-Afghani untuk pertama kalinya, ketika Abduh datang ke rumahnya bersama-sama dengan Hasan at-Tawil, di mana dalam pertemuan itu mereka berdiskusi tentang ilmu tasawuf dan tafsir, ketika itu Muhammad Abduh masih mahasiswa al-Azhar (Muhammad Abduh,1992:vii)

Muhammad Abduh dibimbing oleh al-Afghani dengan berbagai ilmu pengetahuan, walaupun sebelumnya telah didapatkan dari luar al-Azhar, namun menancapkan kesan dan pandangan berbeda bagi Abduh, karena metode yang dipakai al-Afghani adalah studi kritis seperti berdiskusi dan yang lainnya, metode pengajaran yang diterapkan Afghani membuat Abduh tertarik dan termotivasi untuk tetap kritis, al-Afghani juga memberikan penjelasan yang luas, mendalam dan mengagumkan pada setiap kajiannya. Dalam tatanan dunia ilmiah dan wawasan pengetahuan umum, al-Afghani mungkin bisa dikatakan yang paling berjasa dalam hidup Abduh dan mempengaruhinya dalam banyak hal, tidak hanya pengetahuan teoritis, al-Afghani juga mengajarkan Abduh pengetahuan praktis, politik, berpidato, menulis artikel, dan sebagainya. Kecakapan yang membawanya tampil di depan publik dan jeli melihat situasi sosial politik di negerinya. Sejak itulah abduh tertarik kepada al-Afghani oleh ilmunya yang dalam dan cara berfikirnya yang modern, sehingga akhirnya Abduh benar-benar dan selalu di

sampingnya. Selain Abduh, banyak pula mahasiswa-mahasiswa al-Azhar yang ditarik Abduh untuk ikut datang kepada al-Afghani untuk belajar.(Muhammad Abduh, 1992:viii)

Mereka di samping diskusi-diskusi ilmu-ilmu agama, juga belajar pula pengetahuan-pengetahuan modern, filsafat, sejarah, hukum, ke-tata-negaraan dan lain-lain. Pelajaran yang diberikan kepada mereka oleh al-Afghani yaitu semangat berbakti kepada masyarakat dan berjihad memutus rantai-rantai kekolotan dan cara berfikir yang fanatik serta merombaknya dengan cara berfikir yang lebih maju. Abduh telah memiliki cara berfikir yang lebih maju, karena telah banyak membaca buku-buku filsafat dan banyak mempelajari perkembangan jalan berfikir kaum Rasionalis Islam (Mu’tazilah), maka para guru al-Azhar pernah menuduhnya telah meninggalkan mazhab Asy’ari. Terhadap tuduhan itu Abduh menjawab; “sudah jelas saya telah meninggalkan taklid Asy’ari, maka kenapa saya harus bertaklid pula kepada Mu’tazilah? Saya akan meninggalkan taklid kepada siapapun juga, dan hanya berpegang kepada dalil yang dikemukakan”.(Muhammad Abduh, 1992:viii)

Jadi menurut penulis melalui gurunya inilah Muhammad Abduh banyak dipengaruhi dari segi pemikiran-pemikirannya kelak. Muhammad Abduh Akhirnya menammatkan pendidikan tingginya di Universitas Al-Azhar dengan mencapai tingkat tertinggi di Al-Al-Azhar pada tahun 1877 M

(Usia 28 tahun) dengan mandapat Ijazah Amaliyyah (sekarang L.C.).

Dalam perkembangannya lebih jauh Muhammad Abduh di kenal sebagai seorang tokoh ilmu tafsir, hukum Islam, bahasa Arab dan kesusteraan, logika, ahli ilmu kalam, filsafat, dan soal-soal kemasyarakatan, seorang pembela Islam yang gigih, seorang wartawan yang tajam penanya, seorang hakim yang suatu jabatan keagamaan yang tinggi di mesir.(A.Hanafi,1967:149)

d. Menjadi Dosen Darul Ulum dan Al-Azhar

Setelah Abduh menamatkan kuliahnya, atas nama usaha Perdana Menteri Mesir Riadl Pasya, ia diangkat menjadi dosen pada Universitas

“Darul Ulum”, di samping itu pula ia menjadi dosen di al-Azhar. Di saat memangku jabatannya, ia terus mengadakan perubahan-perubahan yang radikal sesuai dengan cita-citanya, yaitu memasukan udara segar ke dalam perguruan-perguruan tinggi Islam itu, dengan cara menghidupkan Islam dengan metode-metode baru yang sesuai dengan kemajuan zaman, memperkembangkan kesusastraan Arab, sehingga menjadi bahasa yang hidup dan kaya-raya, serta melenyapkan cara-cara lama yang kolot dan fanatik.(Muhammad Abduh, 1992:viii)

e. Dibuang ke Beirut (Syria)

Pada tahun 1882 terjadi di Mesir suatu pemberontakan, Abduh dituduh terlibat di dalamnya yang kemudian diusir. Pemberontakan itu di

awali oleh suatu gerakan yang dipimpin oleh Arabia Pasya, di mana Abduh dipilih sebagai penasihatnya. Setelah pemberontakan itu dapat dipadamkan, maka Abduh dibuang ke Syiria (Beirut). Di sana ia mendapat kesempatan mengajar pada Perguruan Tinggi Sulthaniyah selama kurang lebih satu tahun. Kemudian pada permulaan tahun 1884 ia pergi ke Paris atas panggilan al-Afghani yang waktu itu berada di Paris.( Muhammad Abduh, 1992:ix)

f. Gerakan Al-Urwatul Wutsqa

Bersama-sama dengan al-Afghani, disusunlah sebuah gerakan yang bernama “al-Urwatul Wutsqa”, di Paris, yakni gerakan kesadaran umat Islam sedunia. Untuk mencapai cita-cita gerakan ini diterbitkannya sebuah majalah dengan nama yang sama pula dengan gerakan itu yaitu majalah “al-Urwatul Wutsqa”. Dengan perantara majalah itulah ditiupkannya suara keinsyafan ke seluruh dunia Islam, supaya mereka bangkit dari tidurnya, melepaskan cara berfikir fanatik dan kolot dan bersatu membangun kebudayaan Islam di dunia. Suara itu lantang sekali terdengar yang kemudian memperlihatkan pengaruhnya dikalangan umat Islam sehingga dalam waktu singkat, kaum imperialis (penjajahan) menjadi gempar dan cemas karenanya. Akhirnya Inggris melarang majalah itu masuk ke Mesir dan India. Kemudian pada tahun 1884, setelah majalah itu terbit baru 18 halaman, pemerintah Prancis

melarangnya terbit dan beredar. Karena mendapat tekanan dari pihak Barat, Jamaluddin dan Abduh meninggalkan Paris. (Muhammad Abduh,1992:x)

g. Kembali ke Beirut

Setelah meninggalkan Prancis Muhammad Abduh kemudian menuju ke Bairut. Di kota Beirut inilah Muhammad Abduh memulai babakan perjuangan baru, kalau semula Ia aktif di bidang Politik, mengikuti pola perjuangan guru besarnya al-Afghany maka mulai dari kota Beirut ini ia mengaktifkan diri dalam bidang sosial pendidikan. Ia di terima sebagai guru di Madrasah Sultaniyah. Di antara murid-muridnya di Madrasah tersebut tercatat nama Amir Syakib Arslan dan Rasyid Ridla.

Kedua Murid Abduh ini kelak tercatat sebagai siswa berotak cemerlang dan mempunyai bakat menulis. Kelak dari Sakib Arslan tokoh in lahirlah buah karya tulisnya yang terkenal berjudul “ْْنُهُرْيَغ َْمَّدَقَت َْو َْنْوُمِل ْسُمْلا َْرَّخَأَت

َْذاَمِل” atau “mengapa orang Islam menjadi mundur sementara orang lain maju? Karya yang bagus ini hakekatnya adalah hasil diskusi dengan Muhammad Abduh maupun Jamaluddin al-Afghany. Lewat analisis yang cukup teliti Amir menyimpulkan bahwa sebab musabab orang Barat menjadi maju karena meninggalkan ajaran agamanya, sedangkan umat Islam menjadi mundur karena meninggalkan ajaran agamanya. Adapun mata kuliah yang disampaikan Muhammad Abduh di Madrasah

Sultaniyah antara lain adalah mata kuliah tauhid. Kelak di kemudian hari dari kumpulan kuliah-kuliahnya di sekitar masalah tauhid ini dikumpulkan menjadi sebuah buku yang berjudul “Risalah Tauhid: sebuah buku yang cukup terkenal di dunia Islam sampai hari ini. (Musthafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, 2009:47)

h. Menjadi Mufti Mesir

Pada tahun 1889 Muhammad Abduh kembali ke Mesir. Jabatan yang pertama-tama diberikan oleh Pemerintah kepadanya adalah jabatan hakim, setelah menekuni jabatan ini sekitar 2 tahun, ia diberi jabatan penting oleh pemerintah Mesir sebagai “Mufti”, yakni suatu jabatan yang paling tinggi dipandang oleh kaum Muslimin. Berbeda dengan Mufti-mufti sebelumnya, Abduh tidak mau membatasi dirinya sebagai alat penjawab pertanyaan-pertanyaan pemerintah saja melainkan ia memperluas tugas jabatan itu untuk kepentingan kaum Muslimin. Di samping itu ia pun diangkat sebagai anggota Majelis Perwakilan. Dalam badan ini Abduh banyak memberikan jasa-jasanya dan karena itu pula ia sering ditunjuk sebagai ketua penghubung dengan pemerintah. Abduh pernah juga diserahi jabatan sebagai Hakim Mahkamah dan dalam tugas ini ia dikenal sebagai seorang Hakim yang adil. (Muhammad Abduh,1992:20)

Demikian jabatan tersebut dijabatnya sampai beliau meninggal dunia akibat menderita kangker hati. Abduh meningal dunia di Iskandaria

tanggal 11 Juli 1905 dan jenazahnya dimakamkan dikawasan Qurafat al-Mujawirin, dengan meniggalkan empat orang putri. (Harun Nasution,1987:27)

i. Karya-Karya Muhammad Abduh

Sebenarnya Abduh tidak terlalu tertarik menerangkan pemikiran-pemikirannya dalam buku. Abduh lebih memilih metode pidato dalam menyampaikan ide dan pandangannya, menurutnya, pemikiran yang disampaikan lewat ucapan lebih menyentuh hati sanubari pendengar, ketimbang menerangkan dalam bentuk tulisan. Hal tersebut dapat dimaklumi karena waktu yang ia miliki habis terpakai untuk mengajar ketimbang untuk menulis.

Adapun beberapa karya-karya dari Muhammad Abduh seperti : 1. Risalah Al-Aridat tahun 1873 M

2. Hasyiah-Syarah Al-Jalal Ad-Dawwani lil-Aqa’id Al-Adhudhiyah tahun 1875 M. Karya ini ditulis Muhammad Abduh ketika berumur 26 tahun. Isinya tentang aliran-aliran filsafat, ilmu kalam (teologi) dan tasawuf. Serta berisikan kritikan pendapat-pendapat yang salah.

3. Risalah At-Tauhid, karya ini berisikan tentang bidang teologi.

4. Syarah Nahjul-Balaghah, karya ini berisikan komentar menyangkut kumpulan pidato dan upacara Imam Ali bin Abi Thalib.

5. Menerjemahkan kitab karangan Jamaluddin Al-Afghani yaitu Ar-Raddu Ala Al-Dahriyyin dari bahasa Persia. Karya ini berisikan bantahan terhadap orang yang tidak memercayai wujud Tuhan.

6. Syarah Maqamat Badi Al-Zaman Al-Hamazani, karya ini

berisikan tentang bahasa dan sastra arab.

7. Tafsir Al-Manar, karya ini berorientasi pada sastra-budaya dan kemasyarakatan. (M.Quraish Shihab, 2008:9-11)

8. Tafsir Juz Amma (1904), al-Maktabaah al-Amiriyya, Kairo. (Abd.

Assegaf, 2013:156)

Sebenarnya karya Abduh cukup sedikit untuk ukuran pemikir yang cukup berpengaruh dalam dunia intelektual keIslaman. Meskipun demikian, ide-ide pembaharuanya baik dalam bidang syariat, aqidah maupun pendidikan begitu berpengaruh di dunia Islam. Ide-ide Abduh menyebar ke dunia Islam melalui karya-karya Abduh sendiri maupun melalui murid dan pengikutnya.

2. Latar Belakang Pemikiran Muhammad Abduh

Pemikiran Muhammad Abduh, khususnya dibidang pendidikan tampaknya muncul di latar belakangi oleh faktor situasi, yaitu situasi sosial keagamaan, situasi pendidikan pada saat itu terutama yang dialaminya sendiri, dan juga situasi politik.

Faktor sosial, berupa sikap hidup yang dibentuk keluarga dan gurunya, terutama Syekh Darwisy dan Sayyid Jamaluddin al-Afghani, disamping itu lingkungan sekolah di Tanta Mesir tempat ia menemukan system pendidikan yang tidak efektif, serta pandangan agama yang statis dan pikiran-pikiran yang fatalis (menyerah kepada takdir Tuhan). Faktor kebudayaan yang berupa ilmu pengetahuan yang diperolehnya selama

belajar di sekolah-sekolah formal, dari Jamaluddin al-Afghani, serta pengalaman yang timbul dari Barat.

Faktor politik yang bersumber dari situasi politik di masanya, sejak ia hidup dalam lingkungan keluarganya di Mahallad Nasr. Dari kezaliman yang dilakukan oleh para pegawai di masa pemerintahan Muhammad Ali sampai pada gejala-gejala politik di Mesir disebabkan oleh system pemerintahan yang absolut, politik realisme dan campur tangan asing di negara Mesir. (M.Sugeng Sholehuddin, 2010:121-123)

Sehingga menurut penulis yang melatar belakangi pemikira-pemikiran Muhammad Abduh adalah dari situasi sosial dan politik pada waktu itu, baik ketika di Mesir, Syiria, dan Prancis.

3. Corak Pemikiran Muhammad Abduh a. Modernisme

Sebagaimana telah disinggung pada latar belakang pemikiran Muhammad Abduh, bahwa semenjak perjumpaannya dengan Al-Afghani, Abduh berusaha mengadakan penyesuaian ajaran Islam dengan tuntutan zaman, seperti penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Gagasan penyesuaian inilah yang kemudian disebut dengan modernisasi. Sumber dari gagasan modernisasi Abduh tersebut bersumber dari penentangannya terhadap taqlid (Abd. Rahman Assegaf, 2013:166). Menurut Muhammad Abduh, al-Quran memerintahkan kepada

umatnya untuk menggunakan akal sehat mereka, serta melarangnya mengikuti pendapat-pendapat terdahulu tanpa mengetahui secara pasti hujah-hujah yang menguatkan pendapat tersebut, walaupun pendapat itu dikemukakan oleh orang yang seyogianya paling dihormati dan dipercaya. Abduh menetapkan tiga hal yang menjadi kreteria perbuatan taqlid ini. Ketiga kreteria tersebut adalah:

a) Sangat mengagung-agungkan para leluhur dan para guru mereka secara berlebihan.

b) Mengitikadkan agungnya pemuka-pemuka agama yang silam, seolah-olah telah mencapai kesempurnaan.

c) Takut dibenci orang dan dikritik bila ia melepaskan pikirannya serta melatih dirinya untuk berpegang kepada apa yang dianggapnya benar secara mutlak.

Berdasarkan pada pandangannya tersebut, Abduh memahami al-Quran, terutama yang berkaitan dengan kecaman terhadap sikap dan perbuatan taqlid tersebut, walaupun menyangkut sikap kaum musyrikin.

Selanjutnya ia mengecam sikap kaum muslimin - khususnya yang berpengetahuan - yang mengikuti pendapat ulama-ulama terdahulu tanpa memerhatikan hujjahnya.(Abd. Rahman Assegaf, 2013:167)

Muhammad Abduh sebagai pelaku modernis telah menyikapi peradaban Barat modern dengan selektif dan kritis. Dia senantiasa

menggunakan prinsip ijtihad sebagai metode utama untuk meretas kebekuan pemikiran kaum muslim. Nilai-nilai dan gagasan tertentu yang lahir dari peradaban Barat, seperti demokrasi, prinsip kebersamaan, dan kemerdekaan, serta konsep negara-bangsa diterima Muhammad Abduh dengan bingkai Islam secara kritis.

Namun demikian, Abduh tidak berfikir, apalagi berusaha, untuk mengambil alih secara utuh segala yang datang dari dunia barat. Karena di samping hal ini hanya akan berarti mengubah taqlid yang lama kepada taqlid yang baru, juga karena hal tersebut tidak akan berguna, disebabkan adanya perbedaan-perbedaan pemikiran dan struktur sosial masyarakat masing-masing daerah. Islam, menurut Abduh “harus mampu meluruskan kepincangan-kepincangan perebedaan Barat serta membersihkannya dari segi-segi negatif yang menyertainya. Dengan demikian, peradaban tersebut pada akhirnya, akan menjadi pendukung terkuat ajaran Islam, sesaat setelah ia mengenalnya dan dikenal oleh pemeluk-pemeluk Islam”. Di samping itu, banyak pendapat dari para modernis yang menyatakan bahwa pendekatan pembaruan yang digunakan Muhammad Abduh di dasarkan pada: Pertama, Muhammad Abduh menekankan perlunya peran agama bagi kehidupan manusia, yang secara mutlak merupakan wahyu yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Kedua, Muhammad Abduh menekankan perlunya

penggunaan bagian terbaik dari peradaban Barat yang telah sedemikian rupa mencapai kemajuan. (Abd. Rahman Assegaf, 2013:169).

Sehingga penulis menarik sebuah kesimpulan yaitu dalam modernisme yang dilakukan Muhammad Abduh terhadap tubuh agama Islam dengan cara mengambil kemajuan-kemajuan dari Barat namun semuanya tidak diambil secara mentah-mentah

b. Rekonstruksionisme

Muhammad Abduh senatiasa melihat tradisi dengan prespektif pembangunan kembali (rekonstruksi). Agar tradisi suatu masyarakat dapat tetap survive dan terus diterima, ia harus dibangun kembali, atau dengan istilah lain Iadad al-bunyat min jadid. Pembangunan kembali ini tentunya dengan kerangka modern yang bersyarat rasional. Hal ini diakui juga oleh Fazlul Rahman, bahwa pemikiran pembaruan yang bercorak reformistik dalam bentuknya yang pertama, secara filosofis, telah dikemukakan Muhammad Abduh dan kemudian diperkuat oleh Muhammad Iqbal.

Masih terdapat satu lagi pendekatan yang digunakan Abduh yakni pendekatan identifikatif-modernis. Penggunaan pendekatan ini bisa diamati dari esensi pemikirannya pada perumusannya terhadap pemikiran dan rivitalisasi masyarakat muslim melalui identifikasi gagasan dan institusi-institusi modern. Adapun pendekatan apologetiknya

(pemikiran Ilmiahnya) terlihat dari upaya gigihnya untuk mengukuhkan dan mempertahankan eksistensi doktrin Islam sebagai landasan utamanya.

Muhammad Abduh pernah menyatakan bahwa Al-quran mengajarkan kepada penganutnya agar menuntut hujjah karena Al-quran mengantarkan mereka ke jalan yang benar. Adalah wajar bagi seseorang yang memiliki keyakinan untuk menuntut dari lawannya atau mengajaknya dengan menggunakan dalil-dalil. Demikianlah kebiasaan ulama terdahulu; mengutarakan sesuatu dengan dalil, menuntut dalil, serta melarang menerima sesuatu yang tanpa dalil. Tetapi, setelah kepergian mereka, datanglah “khalaf yang taleh” (penerus-penerus yang tidak saleh) untuk menetapkan taqlid, bahkan memerintahkannya. (Abd.

Rahman Assegaf, 2013:169-170).

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemikiran Muhammad Abduh Tidak ada sesuatu apa pun yang berangkat dari ruang hampa, begitu juga dengan pemikiran Muhammad Abduh. Banyak hal yang mendorongnya untuk melakukan pembaruan bagi masyarakat Islam di Mesir, di antara faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.

a. Faktor Sosial

Dari catatan biografi di atas, terdapat dua hal penting yang dapat digunakan untuk menganalisis faktor sosial Muhammad Abduh. Pertama,

kedudukan orangtua Muhammad Abduh yang menyertai masa-masa awal kehidupannya. Kedua, status sosialnya ketika ia telah mandiri, dan lembaga-lembaga sosial, seperti Kuttab al-Qaryah dan al-Azhar, tempat ia mengadakan kegiatan kemasyarakatan dan politik. Kondisi sosial yang bervariasi pada saat itu di Mesir, pada masa-masa sebelum abad ke-19, mempunyai hubungan dengan kondisi sosial masyarakat Mesir secara umum pada paro kedua abad ke-19. Kemudian, Syaikh Darwisy dan Sayyid Jamaluddin Al-Afghani juga sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap Muhammad Abduh.

b. Faktor Politik

Untuk menganalisis pengaruh-pengaruh faktor politik pada pemikiran Muhammad Abduh, yaitu kedudukannya dalam pemberontakan Urabi menjadi sangat penting untuk di bicarakan.

Tulisan-tulisannya tentang politik, telah memberikan andil besar dalam membangkitkan opini publik sebelum terjadi pemberontakan itu. Abduh pernah melontarkan pemikiran politiknya yang menghendaki perombakan kerangka berpikir yang darinya muncullah pemberontakan tersebut.

Dalam tulisan-tulisannya itu, ia menuntut kehidupan politik yang demokratis melalui lembaga perwakilan rakyat, begitu pun ia pernah menulis tentang nasionalisme. Akan tetapi, dalam tulisan-tulisannya itu, Muhammad Abduh tampaknya tetap konsisten pada pembaruan secara

bertahap. Dalam kerangka yang lebih luas, pemikiran-pemikiran politiknya sesungguhnya bermuara pada pembaruan di bidang sosial dan pendidikan. Keikutsertaannya dalam pemberontakan Urabi dapat dibenarkan, dengan alasan, antara lain, karena ia ingin mempertahankan Undang-Undang Dasar (al-dustur).

c. Faktor Kebudayaan

Dalam uraian sebelumnya dijelaskan bahwa Muhammad Abduh, sejak masa-masa awal hidupnya telah memusatkan perhatiannya pada

Dalam uraian sebelumnya dijelaskan bahwa Muhammad Abduh, sejak masa-masa awal hidupnya telah memusatkan perhatiannya pada