• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen Oleh : YULIA METTY BUDIATI NIM: (Halaman 24-0)

BAB I PENDAHULUAN

F. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis:

a. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber referensi untuk penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh dukungan orang tua dan lingkungan sosial terhadap prestasi belajar.

b. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

2. Manfaat Praktis:

a. Bagi Penulis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa sehingga dapat menambah wawasan penulis.

b. Bagi Sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan tentang pengaruh lingkungan sosial dan dukungan orang tua terhadap prestasi belajar siswa.

Penelitian ini juga dapat digunakan dalam mengambil kebijakan sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar siswa di sekolah.

c. Bagi Lembaga Perguruan Tinggi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk melengkapi khazanah pustaka.

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Teoretik

Pada bagian ini akan diuraikan kajian teori tentang prestasi belajar, dukungan orang tua, dan lingkungan sosial.

1. Prestasi Belajar Ekonomi

a. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi adalah sebuah pencapaian yang diperoleh dari dari kemampuan seseorang. Indrawati (2013:217) berpendapat bahwa,

“prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang dapat diciptakan, dilakukan dan menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individu maupun kelompok”. Pendapat lain menurut Ekayani (2017:2), “prestasi dapat dicapai dengan mengandalkan kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual, serta ketahanan dalam menghadapi semua aspek situasi kehidupan proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan”.

Menurut Syarifuddin (2011:116), “belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap pada seseorang akibat pengalaman atau latihan yang menyangkut aspek fisik maupun psikis, seperti dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak berpengetahuan menjadi tahu tentang sesuatu, dari tahu menjadi

lebih tahu, dari tidak memiliki keterampilan menjadi memiliki keterampilan dan sebagainya.

Pengertian belajar menurut Pane dan Dasopang (2017:335) adalah belajar menunjukkan aktivitas yang dilakukan oleh seseorang yang disadari atau disengaja, aktivitas ini menunjuk pada keaktifan seseorang dalam melakukan aspek mental yang memungkinkan terjadinya perubahan pada dirinya. Di sisi lain menurut Wandini & Sinaga (2018:3), “belajar pada hakikatnya adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dan dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman atau pengetahuan baru dan dengannya dapat terbentuk suatu perubahan diri individu baik dengan lingkungannya maupun dengan individu lainnya”. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar adalah usaha seseorang dalam mendapatkan ilmu pengetahuan yang baru dan lebih dalam.

Pengertian prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang dalam belajar sesuai kapasitas (kemampuan, kecakapan, dan kesanggupan yang dimilikinya (Pratiwi N.K, 2015:81).

Kemudian menurut Syafi’i, Marfiyanto, & Rodiyah (2018:118),

“prestasi belajar adalah serangkaian dari kegiatan jiwa raga yang telah dilakukan oleh seseorang dari suatu hasil yang telah dicapai sebagai perubahan dari tingkah laku yang dilalui dengan pengalaman serta wawasan untuk bisa berinteraksi dengan

10

lingkungan yang menyangkut ranah kognitif, afektif dan psikomotorik yang telah dinyatakan dalam hasil akhir/rapor”.

Menurut Indrawati (2013:217), “prestasi belajar diartikan sebagai pencapaian hasil maksimal yang telah dicapai peserta didik menurut kemampuannya dalam penguasaan tugas-tugas atau materi pelajaran yang diterima, dikerjakan, dipelajari, dipahami dan diterapkan dalam jangka waktu tertentu, baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan yang diwujudkan dalam angka atau huruf sehingga dapat dibandingkan dengan satu kriteria”. Di sisi lain prestasi belajar adalah segala sesuatu yang dicapai di mana prestasi itu menunjang kecakapan seorang manusia. Dalam menentukan tingkat prestasi belajar anak sebagai tolak ukur adalah daya serap yang diperoleh peserta didik di dalam kelas terhadap setiap mata pelajaran (Reskia S., Herlina, &

Zulnuraini, 2014:86).

b. Pengertian Prestasi belajar Ekonomi

Bangun (2008:84) berpendapat bahwa, “prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai seseorang atau siswa berupa penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran yang diberikan oleh Guru atau Dosen dalam jangka waktu tertentu”. Kemudian mata pelajaran ekonomi sendiri diartikan sebagai salah satu mata pelajaran jurusan yang membina kemampuan siswa dalam merencanakan kegiatan ekonomi mikro

dan mengelola keuangan (Haryono, 2016:262). Pelajaran ekonomi yang dipelajari oleh siswa kelas XI MIPA di SMA Negeri 1 Kalasan ini adalah pelajaran ekonomi (lintas minat). Di sisi lain menurut Haryono (2016:262), “prestasi belajar merupakan tolak ukur keberhasilan peserta didik dalam belajar mata pelajaran ekonomi, dapat dikatakan bahwa prestasi belajar merupakan hasil akhir yang dicapai oleh peserta didik setelah melakukan proses belajar Ekonomi”.

Berdasarkan dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian prestasi belajar adalah hasil kemampuan seseorang dalam belajar dengan nilai tes sebagai acuan yang berupa angka-angka, sedangkan prestasi belajar ekonomi adalah hasil kemampu-an seseorkemampu-ang dalam melakskemampu-anakkemampu-an kegiatkemampu-an belajar ekonomi dengan nilai tes sebagai acuan.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (Syafi'i, Marfiyanto, & Rodiyah, 2018:121), terdapat 2 faktor yang dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, yaitu:

1) Faktor internal

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dalam diri seseorang, faktor ini dibagi menjadi:

a) Faktor jasmani meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh.

12

b) Faktor psikologis meliputi intelegensi, perhatian, minat, kemampuan, dan kesiapan.

c) Faktor kelelahan terdiri atas kelelahan dari dalam tubuh maupun dari jiwa.

2) Faktor eksternal merupakan faktor yang datang dari luar diri seseorang, faktor ini dibagi menjadi:

a) Faktor keluarga, terdiri dari gaya orang tua mendidik anak, hubungan antara anggota keluarga, situasi di dalam rumah, dan kondisi ekonomi.

b) Faktor sekolah, terdiri dari cara guru mengajar, kurikulum yang digunakan, hubungan antara guru dengan siswa, ketaatan di sekolah dalam pelajaran dan waktu sekolah, jam pelajaran standar, situasi gedung, dan gaya belajar.

c) Faktor masyarakat, terdiri dari kesibukan siswa dalam masyarakat, bermain sosial media, dan pengaruh dari teman dari siswa tersebut.

2. Dukungan Orang Tua

a. Pengertian Dukungan Orang Tua

Hidayat (2015:108) mengemukakan bahwa, “orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga”. Di sisi lain, orang tua

merupakan pembimbing dan pembina pertama dalam hidup anak terutama pendidikan (Sahputra & Hutasuhut, 2019:38).

Berdasarkan dari uraian di atas orang tua adalah pendidik yang utama. Seorang anak dilahirkan kemudian dapat berjalan, berbicara dan mengenal lingkungan sekitarnya berkat pendampingan orang tuanya. Siswa dapat berkembang tergantung dari cara orang tuanya mendidik siswa tersebut sedari kecil. Pada umumnya seorang anak dari bayi sudah dapat merekam setiap perkataan dan tindakan yang dilakukan orang lain yang di sekelilingnya. Pola asuh yang positif dari orang tua akan menghasilkan sesuatu yang positif pula bagi perkembangan anak.

Menurut Friedman (Fatimah, 2015), “dukungan orang tua adalah sikap, tindakan, dan penerimaan keluarga terhadap anggotanya, anggota orang tua memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan”. Dukungan orang tua adalah bantuan yang diberikan orang tua pada anak yang terdiri dari informasi atau nasehat yang dapat berbentuk verbal atau non verbal yang menyebabkan efek tindakan atau emosional yang menguntungkan bagi si penerima (Marliyah, Dewi, & Suyasa, 2014:7). Di sisi lain Prianto & Putri (2017:18) berpendapat bahwa, “dukungan orang tua yang dimaksud adalah empati, kepedulian, perhatian, penghargaan, bantuan langsung (uang/benda dan tindakan), dan

14

nasehat yang diterima oleh anak dalam hubungan yang dijalin akrab dengan orang tua, karena orang tua merupakan orang terdekat yang berperan penting dalam proses belajar anak”.

Orang tua dipandang sebagai orang yang bersifat selalu siap mendukung, memberikan pertolongan dan bantuan jika anak-anaknya membutuhkan bantuan. Dukungan orang tua sangat diperlukan untuk membentuk semangat siswa dalam belajar, karena siswa juga tidak 24 jam belajar di sekolah, guru juga sering memberikan tugas untuk siswa kerjakan di rumah. Orang tua selalu siap mendukung dan memberi pertolongan kepada anaknya.

Dengan demikian dapat dimpulkan bahwa, dukungan orang tua merupakan suatu tindakan dari orang tua yang dapat memotivasi dan mendorong anak berkembang menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya.

b. Jenis-jenis Dukungan Orang Tua

Jenis-jenis dukungan orang tua menurut House dan Khan (Tan, Ismanto, & Babakal, 2013:2) sebagai berikut;

1) Dukungan Informasional

Fungsi dari orang tua yaitu sebagai Orang tua kolektor (pengumpul) dan disseminator (penyebar) informasi. Informasi yang disampaikan tentang bermacam-macam peristiwa.

Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengungkapkan atau menyelesaikan suatu masalah, menjelaskan tentang pemberian

saran, dan sugesti. pendapat, nasehat, petunjuk, saran, dan pemberian informasi dari orang tua merupakan beberapa aspek yang termasuk dalam dukungan ini.

2) Dukungan Penilaian

Orang tua sebagai orang yang dapat membimbing, memecahkan masalah, memberikan sumber dan mengesahkan gambaran orang tua dalam memberikan semangat, perhatian, penghargaan dan menengahi di dalam proses.

3) Dukungan instrumental

Orang tua termasuk sebagai sumber bantuan yang langsung dan nyata. Contoh dari bantuan yang dapat diberikan orang tua yaitu seperti pemenuhan makan, minum, tidur dan fasilitas lain yang menyangkut kebutuhan finansial.

4) Dukungan Emosional

Pada bagian dukungan emosional ini, orang tua yaitu sebagai tempat istirahat dan penyembuhan sekaligus tempat yang aman dan bahagia dalam membantu mengelola emosi. Aspek dukungan emosional antara lain berupa cinta, kepercayaan, perhatian, mendengarkan, dan didengarkan.

c. Peran Dukungan Orang Tua Terhadap Anak

Sahputra dan Hutasuhut (2019:38) mengatakan bahwa,

“peran orang tua merupakan pembimbing dan pembina pertama dalam hidup anak terutama pendidikan”. Di sisi lain menurut

16

Lestari ('Aisyatinnaba' & Sutoyo, 2016:53) “peran orang tua adalah cara yang digunakan oleh orang tua berkaitan dengan pandangan mengenai tugas yang harus dijalankan dalam mengasuh anak.

Peran orang tua dibagi menjadi peran ibu dan peran ayah”.

Berdasarkan Werdiningsih & Astarani (2012:83), “Ibu berperan sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga sehingga ibu harus menyadari untuk mengasuh anak secara baik dan sesuai dengan tahapan perkembangan anak”. Kemudian menurut Marlina (2016:33-35) peran ibu terhadap anak adalah sebagai berikut:

1) Memastikan pasangan 2) Mengandung dan melahirkan 3) Merawat anaknya

4) Memberikan contoh/perbuatan yang teladan dalam mendidik serta membangun kepribadian anak yang baik

5) Membangun jiwa sosial, rasa tanggung jawab, ibu meletakkan diri sebagai penyaring dan juga teman

6) Memastikan jati diri anak dan mempertahankan hubungan yag baik dan memberikan nasihat saat anak akan mencari pasangan

Selanjutnya menurut Elia (2000:112), “peran seorang ayah adalah hidup dan bekerja pada perbatasan antara keluarga dan masyarakat, antara “dalam” dan “luar”, ayah juga memperkenalkan

dan membimbing anak-anaknya untuk mengarungi dunia luar atau kehidupan bermasyarakat”. Peran ayah dalam membimbing anak menurut Pakovits (Hidayati, Kaloeti, & Karyono, 2011:2) antara lain:

1) Selalu ikut serta dalam semua kegiatan anak 2) Menjaga komunikasi dengan anak

3) Memenuhi kebutuhan financial 4) Bermain bersama anak

Orang tua rela memberikan seluruh hidupnya untuk membahagiakan anak dan memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Orang tua pasti tidak mau anaknya hidup menderita. Berbagai macam cara akan dilakukan orang tua agar anaknya menjadi orang yang berhasil dan sukses. Pemberian dukungan/semangat kepada anak-anak terutama dalam belajar menjadi salah satu cara untuk sampai pada tujuan orang tua agar anak mereka berhasil dan sukses.

d. Hubungan Dukungan Orang Tua dengan Prestasi Belajar

Dukungan orang tua memiliki hubungan yang erat dengan prestasi belajar siswa. Dukungan dari orang tua merupakan salah satu hal penting dalam menunjang keberhasilan anak dalam belajar. Dukungan penghargaan, dukungan emosional, dukungan instrumental dan dukungan informasi, ketiganya adalah beberapa dukungan yang dapat diberikan oleh orang tua kepada anak.

18

Berdasarkan peran dari orang tua yang sudah diuraikan di atas dapat dilihat secara umum bahwa orang tua sangat penting untuk berpartisipasi dalam membantu dan memberikan motivasi selama anak menyelesaikan pendidikannya, baik berupa bantuan materiil maupun non materiil. Menurut Pratiwi (2018:37) bimbingan atau contoh dari orang tua merupakan contoh terdekat dari anak-anaknya dalam membantu proses pendidikan anak. Prestasi belajar dapat berhasil atau optimal apabila adanya dorongan/dukungan dari orang tua terhadap siswa, baik berupa dukungan penghargaan, dukungan emosional, dukungan instrumental atau dukungan informasi. Bimbingan dan dukungan dari orang tua tersebut akan membuat anak tidak kehilangan arah dan sangat penting dalam perkembangan kepribadian anak, memberikan pendidikan yang terbaik, mengasuh dan mendidik anak, sehingga anak menjadi pribadi yang baik dan memiliki motivasi dalam belajar, sehingga hal ini diduga akan mempengaruhi keberhasilan prestasi belajar anak.

3. Lingkungan sosial

a. Pengertian Lingkungan Sosial

Sebelum masuk kepada pengertian lingkungan sosial, menurut Hidayat (2015:107), “lingkungan adalah semua yang tampak di sekeliling kita dan terdapat banyak faktor yang mempengaruhi tingkah laku kita”. Hal ini sejalan dengan

pengertian lingkungan menurut Pitoewas (2018:10), “lingkungan dapat dikatakan sebagai apa yang ada di sekitar manusia, apa saja yang dimaksud meliputi tempat dan keadaan di lingkungan individu”. Oktorina (2018:35) berpendapat bahwa, “lingkungan sosial itu sendiri yaitu segala sesuatu yang terdapat di sekitar manusia yang dapat memberikan pengaruh pada manusia tersebut, seperti yang terjadi antara sesama keluarga, teman sebaya, dan masyarakat”. Kemudian lingkungan sosial merupakan suatu tinjauan sosiologis berarti sorotan yang didasarkan pada hubungan antar manusia, hubungan antar kelompok serta hubungan antar manusia dengan kelompok, di dalam proses kehidupan bermasyarakat (Pitoewas, 2018:10),”.

Pernyataan di atas sesuai dengan pendapat Kurniawan &

Wustqa (2014:178), “lingkungan sosial melibatkan kondisi, keadaan dan interaksi antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Lingkungan sosial juga mencakup seluruh individu, kelompok, organisasi, dan sistem di mana seseorang berhubungan dengannya”. Kemudian hal ini sejalan dengan pendapat Tamara (2016:45) yang menyatakan bahwa, “lingkungan sosial adalah semua orang dan suasana tempat yang dapat mempengaruhi kita baik secara langsung maupun tidak langsung”.

Berdasarkan dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan sosial yaitu suatu tempat di mana seseorang

20

melangsungkan hidupnya dan berinteraksi dengan masyarakat, maka manusia juga dikatakan sebagai makhluk sosial yang artinya seorang manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan tentunya manusia membutuhkan pertolongan dari orang lain. Di dalam lingkungan sosial kita mengenal keluarga, teman, dan masyarakat sekitar.

Lingkungan sosial memberikan dampak dan pengaruh yang signifikan bagi pribadi seseorang manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan sosial adalah tempat di mana manusia dapat berkembang. Lingkungan sosial memberikan 2 pengaruh yang bertolak belakang yaitu positif dan negatif.

b. Ruang Lingkup Lingkungan Sosial

Menurut Umah (2019:22-28) lingkungan sosial dibagi menjadi 3 bagian yaitu;

1) Lingkungan Keluarga

Muslih (2016:42) mengemukakan bahwa, “lingkungan keluarga adalah jumlah semua benda hidup dan mati serta seluruh kondisi yang ada di dalam kelompok sosial kecil tersebut, yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak yang mempunyai hubungan sosial karena adanya ikatan darah, perkawinan dan atau adopsi pendidikan yang pertama”. Seorang anak dididik dan dibimbing pertama kali di dalam keluarga. Lingkungan keluarga ini merupakan lingkungan yang paling penting.

Pendidikan yang diterima anak sebagian besar berasal dari keluarganya sendiri.

Lingkungan keluarga yang dimaksud adalah kondisi keluarga baik dari keluarga inti atau keluarga di luar keluarga inti. Peran keluarga juga harus sangat diperhatikan demi tercapainya prestasi belajar anak yang maksimal. Aspek lingkungan keluarga yang dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa terdiri dari relasi sesama anggota keluarga, kondisi keluarga, kondisi finansial, dan budaya yang dianut keluarga.

2) Lingkungan Sekolah

Muslih (2016:43) mengatakan bahwa, “Lingkungan sekolah adalah lingkungan pendidikan utama yang kedua. Lingkungan sekolah merupakan salah satu institusi sosial yang mempengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada anak”. Di sisi lain lingkungan sekolah yaitu lingkungan sosial (guru & tenaga kependidikan, teman-teman sekolah & budaya sekolah) dan lingkungan non sosial (kurikulum, program dan sarana prasarana) dalam lembaga pendidikan formal yang memberikan dukungan terhadap pembentukan jiwa kewirausahaan dan pengembangan potensi kewirausahaan peserta didik (Marini & Hamidah, 2014:200).

22

Lingkungan di sekolah ini juga memiliki peran dalam mempengaruhi proses belajar anak. Kemudian selain di rumah anak juga menghabiskan waktunya di sekolah untuk belajar.

Situasi lingkungan di sekolah yang positif akan sangat membantu dalam membuat kondisi belajar yang nyaman dan menyenangkan. Faktor lingkungan sekolah yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain; teman sekolah, metode mengajar, metode pembelajaran, kedisiplinan di sekolah, keaktifan siswa di sekolah, dan kerajinan siswa.

3) Lingkungan Masyarakat

Rahayu & Wigna (2011:251) mengungkapkan bahwa

“lingkungan masyarakat adalah suatu kawasan tempat sekelompok manusia yang secara relatif mandiri, hidup bersama-sama, memiliki kebudayaan yang sama, dan melakukan sebagian besar kegiatannya dalam kelompok tersebut.”.

Lingkungan masyarakat akan menciptakan pengaruh positif dan negatif bagi tumbuh kembang para siswa di masyarakat.

Jika seseorang anak memiliki teman sepergaulan yang giat dalam belajar, maka hal itu akan membuat anak ikut terdorong memiliki semangat dalam belajar pula begitu juga sebaliknya.

Lingkungan masyarakat juga memiliki peran dalam mempengaruhi prestasi belajar seorang anak. Lingkungan

masyarakat yang mencakup orang-orang terpelajar dengan cita-cita yang tinggi akan mendorong anak agar belajar dengan rajin agar cita-cita mereka dapat tercapai. Biasanya seorang anak merasa terdorong karena tidak mau kalah bersaing dengan anak-anak di lingkungan masyarakatnya.

c. Peran Lingkungan Sosial Terhadap Siswa

Aspek–aspek dari lingkungan sosial seperti lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat memiliki perannya masing-masing bagi prestasi belajar anak. Lingkungan sosial termasuk ke dalam faktor yang memiliki fungsi yang luas dalam dunia pendidikan. Menurut Soelaeman (Damayanti, 2011:41-42) fungsi keluarga yang berpengaruh terhadap prestasi belajar diantaranya;

1) Fungsi Edukasi

Di dalam fungsi ini keluarga memiliki fungsi dalam memberikan edukasi atau pendidikan bagi siswa. Keluarga memberikan pendampingan, pengarahan, serta dorongan agar siswa mencapai prestasi belajar yang maksimal. Edukasi dari keluarga juga penting dalam memilah informasi yang diterima anak dari lingkungan luar baik di masyarakat maupun sekolah.

2) Fungsi Sosialisasi

Fungsi keluarga juga sebagai sosialisasi. Arti dari fungsi sosialisasi ini adalah di mana keluarga berfungsi sebagai penghubung antara anak dengan norma-norma sosial dan

24

kehidupan sosial. Hal ini bertujuan agar seorang anak dapat menjadi masyarakat yang baik.

3) Fungsi Perlindungan atau proteksi

Keluarga berfungsi untuk melindungi anak. Khususnya dalam melindungi anak-anak dari pergaulan yang salah.

Semakin berkembangnya zaman perlindungan terhadap pergaulan anak harus semakin diperketat. Tugas dari keluarga melindungi anaknya daripada pengaruh yang negatif.

4) Fungsi perasaan atau fungsi afeksi

Maksud dari fungsi afeksi atau fungsi perasaan ini adalah keluarga bertugas untuk memberikan kasih sayang kepada anaknya. Disini keluarga harus menciptakan suasana keluarga yang harmonis agar anak merasakan ketenangan dan kebahagiaan di dalam keluarga. Kunci utama keberhasilan dalam pendidikan anak adalah semua tindakan, perbuatan dan ucapan dari keluarga.

5) Fungsi Religius

Fungsi ini termasuk dalam bidang keagamaan. Keluarga hendaknya sebagai yang pertama untuk mengenalkan Tuhan kepada anak. Hal ini dapat membuat anak taat pada agama sehingga anak pun dapat mengenal tindakan mana yang baik atau buruk.

6) Fungsi Ekonomis

Fungsi ekonomis dalam keluarga dimaksudkan agar keluarga dapat memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana anak untuk belajar. Pemenuhan ekonomi berpengaruh pada perkem-bangan pendidikan anak. Pada kenyataannya keberhasilan seorang anak tidak semata-mata tergantung pada materi.

7) Fungsi Rekreasi

Keluarga memiliki tugas untuk memberikan hiburan kepada anak. Hal yang dapat dilakukan adalah mengajak anak untuk berekreasi contohnya rekreasi ke Taman Mini Indonesia Indah.

Di Taman Mini ini anak dapat berjalan-jalan serta dapat belajar dari museum-museum yang ada di tempat wisata tersebut.

Rekreasi juga akan menciptakan suasana yang menyenangkan.

8) Fungsi Biologis

Arti dari fungsi ini adalah pemenuhan kebutuhan biologis keluarga. Kebutuhan biologis tersebut seperti perlindungan fisik, kebutuhan gizi, makanan dan minuman. Seorang anak dengan fisik yang sehat akan sangat berpengaruh bagi proses belajar anak .

Menurut Wahyudi (Nadziroh, 2018:26) lingkungan sekolah memiliki peran dalam bidang pendidikan yaitu antara lain:

1) Fungsi Transmisi Kebudayaan, yang dibagi menjadi dua jenis.

Kategori dua transmisi tersebut antara lain:

a) Transmisi keterampilan dan pengetahuan

26

b) Transmisi nilai, norma, dan sikap.

2) Fungsi memilih dan mengajarkan Peranan Sosial 3) Fungsi Integrasi Sosial

4) Fungsi Inovasi Sosial

5) Fungsi Pengembangan Kepribadian Anak

Peran Lingkungan di masyarakat terhadap proses belajar anak antara lain:

1) Masyarakat sebagai pelaksana pendidikan, baik berupa lembaga maupun tidak dilembagakan seperti seperti sekolah terbuka, kursus tertulis, pendidikan melalui radio, dan televisi dan sebagainya.

2) Kelompok sosial dalam masyarakat memiliki peran dan fungsi edukatif baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti kursus penyegaran, penataran, lokakarya, seminar, konperensi ilmiah dan sebagainya. Kelompok sosial juga dapat mengembangkan kehidupan beragama seorang anak seperti melalui pesantren, pengajian, pendidikan agama di surau/langgar, biara, sekolah minggu dan sebagainya.

2) Kelompok sosial dalam masyarakat memiliki peran dan fungsi edukatif baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti kursus penyegaran, penataran, lokakarya, seminar, konperensi ilmiah dan sebagainya. Kelompok sosial juga dapat mengembangkan kehidupan beragama seorang anak seperti melalui pesantren, pengajian, pendidikan agama di surau/langgar, biara, sekolah minggu dan sebagainya.

Dalam dokumen Oleh : YULIA METTY BUDIATI NIM: (Halaman 24-0)

Dokumen terkait