BAB I PENDAHULUAN
1.5 Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis adalah untuk mengetahui hubungan antar variabel yang diteliti dan menambah wawasan penulis mengenai opinion shopping, reputasi auditor, audit client tenur, leverage dan kondisi keuangan terhadap pemberian opini audit going concern.
2. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi dan dapat memberi informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
3. Bagi pihak akademis, terutama pihak akademisi di bidang akuntansi, penelitian ini bisa bermanfaaat dan memberikan perspektif baru terhadap penerimaan opini audit going concern.
4. Bagi investor dan auditor independent, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan membuka wawasan baru dalam menentukan perusahaan yang menerima opini audit going concern sehingga dapat menimalisir kerugiaan dalam pengambilan keputusan.
Universitas Sumatera Utara
16 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Agensi (Agency Theory)
Teori agensi merupakan teori menggambarkan hubungan antara dua individu yang berbeda kepentingan yaitu prinsipal (pemilik usaha) dan agen (manajemen satu perusahaan). Dalam hubungan keagenan (agency relationship) terdapat suatu kontrak dimana satu orang atau lebih prinsipal memerintah orang lain untuk melakukan suatu jasa atas nama prinsipal dan memberi wewenang kepada agen untuk membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal.
Dalam kaitannya dengan teori agensi dengan opini audit going concern, agen bertugas menjalankan perusahaan dan menghasilkan laporan keuangan sebagai bentuk dari pertanggungjawaban manejemen. Laporan keuangan ini yang nantinya akan menunjukan kondisi keuangan perusahaan. Agen sebagai pihak yang menghasilkan laporan keuangan, sehingga dimungkinkan agen melakukan manipulasi data atas kondisi perusahaan. Oleh karena itu auditor sebagai pihak yang dianggap mampu menjembatani kepentingan prinsipal dan agen dalam melakukan monitoring terhadap kinerja manajemen sesuai dengan laporan keuangan. Akuntan publik (auditor) juga memberikan jasa untuk menilai atas kewajaran laporan keuangan perusahaan yang dibuat oleh agen, dengan hasil akhir adalah opini audit.
Opini yang dikeluarkan auditor ini haruslah berkualitas yang ditunjukkan dengan semakin objektif dan transparannya informasi keuangan perusahaan.
Universitas Sumatera Utara
Pemilik perusahaan menginginkan pihak manajemen menjalankan kegiatan perusahaan sesuai dengan keinginannya, dimana pihak manajemen yang diberikan wewenang untuk melakukan kegiatan operasional perusahaan. Akibatnya manajemen lebih mengetahui informasi internal perusahaan disbanding pemilik.
Hal ini sering menimbulkan masalah ketika pihak manajemen mengutamakan kepentingan pribadi disbanding kepentingan pemilik. Apabila hal ini terjadi, maka laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen tidak mencerminkan kondisi perusahaan yang sebenarnya, oleh karena itu, diperlukan pihak auditor independen untuk memeriksa, menilai dan mengaudit laporan keuangan yang diterbitkan oleh manajemen perusahaan dengan hasil akhir opini audit, dalam hal ini pihak yang independen adalah auditor eksternal.
konflik kepentingan antara principal dengan agen salah satunya dapat timbul karena adanya kelebihan aliran kas (excess cash flow).Kelebihan arus kas cenderung diinvestasikan dalam hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan utama perusahaan. Ini menyebabkan perbedaan kepentingan karena pemegang saham lebih menyukai investasi yang berisiko tinggi yang juga menghasilkan return tinggi, sementara manajemen lebih memilih investasi dengan risiko yang lebih rendah.
Perbedaan kepentingan secara ekonomis ini bisa saja menyebabkan timbulnya informasi asymmetri (Kesenjangan informasi) antara pemegang saham (Stakeholders) dan prinsipal.Manajer dapat menggunakan keleluasaan yang dimilikinya untuk memanipulasi laporan keuangan agar kinerjanya terlihat baik di mata pemegang saham.Sebaliknya pemegang saham menginginkan informasi yang
Universitas Sumatera Utara
18
sesungguhnya mengenai kinerja manajemen untuk menilai apakah manajemen telah bertindak sesuai kehendak pemegang saham atau
tidak (Gama dan Astuti, 2014).
Dalam kaitannya dengan penerimaan opini audit going concern, agen (manajemen) bertanggung jawab menjalankan perusahaan dan menghasilkan laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen. Informasi lebih banyak diketahui oleh agen dibandingkan pemilik karena agen diberi wewenang oleh prinsipal untuk melakukan kegiatan operasional perusahaan. Baik prinsipal maupun agen diasumsikan orang ekonomi rasional dan semata-mata termotivasi oleh kepentingan pribadi. Agen mungkin akan takut mengungkapkan informasi yang tidak diharapkan oleh pemilik, sehingga terdapat kecenderungan untuk memanipulasi laporan keuangan. Maka dari itu diperlukan pihak ketiga yang independen yaitu auditor.
Berdasarkan teori keagenan, auditor diminta menilai suatu laporan keuangan perusahaan, dimana seorang auditor mengharapkan pihak manajemen mampu bekerjasama dalam proses auditnya. Jika auditor menerbitkan opini going concern hal ini mengindikasikan bahwa kinerja pihak manajemen sedang memburuk. Manajemen mungkin menghadapi masalah financial distress ataupun ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Dalam menghadapi masalah tersebut manajemen seringkali mencoba menyembunyikan informasi kondisi perusahaan sebenarnya, sehingga akan menyebabkan munculnya kemungkinan pihak agen untuk melakukan kecurangan atau manipulasi atas informasi laporan keuangan yang akan disampaikan kepada pemilik perusahaan (principal). Manajemen yang memiliki informasi lebih mengenai kegiatan
Universitas Sumatera Utara
operasional perusahaan sulit memberikan informasi tersebut ketika mengetahui bahwa laporan keuangan yang disajikan akan memperoleh opini going concern setelah dilakukan audit. Sementara pemilik perusahaan yang mengutus auditor menginginkan audit diungkapkan secara penuh termasuk kemungkinan perusahaan dalam menerima opini going concern.
Auditor sebagai pihak ketiga yang independen dibutuhkan untuk melakukan pengawasan terhadap kinerja manajemen apakah telah bertidak sesuai dengan kepentingan principal melalui laporan keuangan. Auditor bertugas memberikan opini atas kewajaran laporan keuangan perusahaan dan mengungkapkan permasalahan going concern yang dihadapi perusahaan apabila auditor meragukan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Reputasi auditor menunjukkan prestasi dan kepercayaan publik yang disandang auditor atas nama besar yang dimiliki auditor. Reputasi Kantor akuntan publik didasarkan pada kepercayaan pemakai jasa auditor bahwa auditor memiliki kekuatan monitoring yang secara umum tidak dapat diamati. Dalam teori keagenan, auditor sebagai pihak ketiga harus menjaga independesinya. Auditor yang memiliki reputasi dari nama besar dapat menyediakan kualitas audit yang lebih baik, termasuk dalam masalah pengungkapan going concern demi menjaga reputasi mereka dari kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan dalam memberikan opini auditnya. Hal tersebut dapat terjadi karena auditor berskala besar memiliki teknologi yang lebih canggih, karyawan yang lebih berbakat dan telah memperoleh pengakuan secara internasional.
Dalam hal keagenan, pernyataan Kantor Akuntan Publik adalah sangat dipengaruhi dalam hal kelayakan pada saat laporan keuangan dan hasil audit lain
Universitas Sumatera Utara
20
yang dalam hal peraturan dan prosedur dapat dinyatakan telah dipenuhi persyaratan go public, maka dalam hal ini reputasi auditor juga berlaku dipertaruhkan karena jika perusahaan yang bermasalah dalam laporan keuangannya dan tidak bersikap independen, auditor bersama dengan Kantor Akuntan Publik yang akan mengalami efek negatif tersebut sebagai penurunan reputasi (Pane, et al, 2020). Oleh karena itu semakin besar Kantor Akuntan Publik akan memiliki reputasi yang baik dalam opini publik.
2.1.2 Teori Atribusi (Attribution Theory)
Konsep yang mendasari tentang ketepatan dalam pemberian opini audit merujuk kepada teori akuntansi keperilakuan, yaitu teori atribusi. Teori atribusi merupakan teori yang menjelaskan tentang perilaku seseorang. Teori ini dikembangkan oleh Fritz Heider pada tahun 1958. Teori atribusi ini mengacu pada bagaimana seseorang menjelaskan penyebab perilaku pada orang lain atau diri sendiri. Fritz Heider mengatakan bahwa perilaku seseorang dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu kekuatan internal dan kekuatan eksternal. Perilaku yang disebabkan oleh kekuatan yang bersifat internal tersebut diyakini berasal dari dalam pribadi individu itu sendiri. Contoh dari kekuatan internal tersebut adalah kemampuan, pengetahuan, dan usaha. Sedangkan perilaku yang berasal dari kekuatan eksternal tersebut merupakan hasil dari tekanan pada situasi atau keadaan tertentu yang memaksa seseorang melakukan perbuatan tertentu. Contoh dari kekuatan eksternal ini dapat berupa kesempatan dan lingkungan (Lubis, 2010).
Teori atribusi menjelaskan tentang pemahaman akan reaksi seseorang terhadap peristiwa di sekitar mereka, dengan mengetahui alasan-alasan mereka atas kejadian yang dialami. Teori atribusi dijelaskan bahwa terdapat perilaku yang
Universitas Sumatera Utara
berhubungan dengan sikap dan karakteristik individu, maka dapat dikatakan bahwa hanya melihat perilakunya akan dapat diketahui sikap atau karakteristik orang tersebut serta dapat juga memprediksi perilaku seseorang dalam menghadapi situasi tertentu. Oleh karena itu manajer (agen) akan melakukan hal yang terlihat baik agar mendapatkan perhatian dari investor dan menghindari mendapatkan opini audit going concern.
Manajer (agen) akan melakukan hal-hal yang diperlukan untuk mencapai tujuannya yaitu diberikan apresiasi atas kinerjanya. Kinerja manajer dinilai menggunakan media yaitu laporan keuangan yang dibuat oleh manajer dan dinilai oleh auditor dari kantor akuntan publik. Adanya dorongan manajer untuk meminta pergantian auditor apabila auditor tersebut tidak mendukung peraturan akuntan yang dipakai. Berdasarkan teori atribusi, adanya kekuatan internal yang dimiliki manajer dapat mendorong auditor untuk merubah pendapatnya mengenai laporan keuangan dengan mengancam melakukan pergantian auditor, hal ini kenal dengan opinion shopping. Pergantian auditor dilakukan karena auditor sebelumnya tidak mendukung akuntasi yang digunakan perusahaan dan biasanya auditor dalam tahun pertama, klien merasa bahwa mereka menerima nilai yang terkemuka untuk pendapatan mereka. Oleh karena itu, tingkat kepuasan mereka akan menjadi lebih tinggi (Simon, 1998).
2.2 Telaah Literatur
2.2.1 Opini Audit Going Concern
Universitas Sumatera Utara
22
Evaluasi mengenai going concern perusahaan merupakan pekerjaan krusial bagi seorang auditor. Auditor harus menilai kemampuan perusahaan untuk bertahan hidup melalui investigasi yang komprehensif tentang kejadian-kejadian dan kondisikondisi yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Auditor akan berhadapan dengan bukti-bukti yang kompleks dan mungkin saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Auditor mengumpulkan bukti dalam waktu yang berbeda dan mengintegrasikan informasi dari bukti baru tersebut untuk membuat suatu pertimbangan (judgment). Pertimbangan audit terkonsentrasi pada asersi laporan keuangan tertentu, yaitu mulai dari keyakinan awal atas asersi tersebut hingga proses perbaikan setelah menerima dan menilai bukti audit yang baru Pada proses pertimbangan audit, hasil prosedur yang dilaksanakan dalam perencanaan, pengumpulan bukti audit untuk berbagai tujuan audit, dan penyelesaian auditnya, dipertimbangkan karena mungkin diperlukan untuk memperoleh informasi tambahan mengenai kondisi dan peristiwa beserta bukti-bukti yang mendukung informasi tersebut.
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) mengindikasikan bahwa apabila auditor mendapatkan bukti audit mengenai suatu pengujian selama masa interim, auditor harus menentukan bukti audit tambahan apa yang harus diperoleh untuk masa tersisa. Dalam melakukan penugasan umum, auditor ditugasi memberikan opini atas laporan keuangan perusahaan. Pendapat atau opini audit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan audit. Dengan demikian auditor harus memberikan opini sudah didasarkan pada keyakinan profesonalnya.
Auditor akan mengeluarkan kualifikasi laporan audit jika dalam menjalankan auditnya gagal mengkonfirmasi kepatuhan klien terhadap peraturan yang berlaku.
Universitas Sumatera Utara
Menurut Standar Profesional Akuntan Publik (PSA 29), jenis - jenis opini audit sebagai berikut:
1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion) Jika auditor telah melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan standar auditing yang ditentukan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, yaitu standar profesional akuntan publik, dan telah mengumpulkan bahan-bahan pembuktian yang cukup untuk mendukung opininya, serta tidak menemukan adanya kesalahan material atau penyimpangan dari prinsip akutansi yang berlaku umum, maka auditor dapat memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian.
2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan yang ditambahkan (Unqualified Opinion with Explanatory Language) pendapat ini diberikan jika terdapat keadaan tertentu yang mengharuskan auditor menambahkan paragraf penjelasan dalam laporan audit, meskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian, seperti pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditor independen lain, terdapat keraguan yang besar tentang kemampuan suatu usaha dalam kelangsungan hidupnya, informasi lain dalam suatu dokumen yang berisi laporan keuangan auditan secara material tidak konsisten dengan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan, dan sebagainya.
3. Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion) Pendapat wajar dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, kecuali untuk dampak hal yang berkaitan dengan yang dikecualikan. Pendapat ini
Universitas Sumatera Utara
24
dinyatakan bilamana tidak adanya bukti kompeten yang cukup atau adanya pembatasan terhadap lingkup audit yang mengakibatkan auditor berkesimpulan bahwa ia tidak dapat menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian dan ia berkesimpulan tidak menyatakan tidak memberikan pendapat serta keyakinan auditor atas auditnya, bahwa laporan keuangan berisi penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum, yang berdampak material, dan ia berkesimpulan untuk tidak menyatakan pendapat tidak wajar.
4. Pendapat tidak wajar (Adverse Opinion) Suatu pendapat tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Pendapat ini dinyatakan bila menurut pertimbangan auditor, laporan keuangan secara keseluruhan tidak disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (Disclaimer of Opinion) Dalam pernyataan tidak memberikan pendapat, auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Pernyataan tidak memberikan pendapat ini cocok diberikan jika auditor, karena adanya pembatasan lingkup auditnya, tidak dapat melaksanakan audit yang cukup untuk memungkinkannya memberikan pendapat tidak boleh dinyatakan oleh auditor jika ia yakin berdasarkan auditnya, terdapat penyimpangan material dari prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Menurut IAPI, 2011 : SA Seksi 341, paragraf 01, menyatakan bahwa:
“Informasi yang secara signifikan berlawanan dengan asumsi kelangsungan hidup
Universitas Sumatera Utara
entitas adalah berhubungan dengan ketidakmampuan entitas dalam memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo tanpa melakukan penjualan sebagian besar aktiva kepada pihak luar melalui bisnis biasa, restrukturisasi utang, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar dan kegiatan serupa lainnya”.
Seorang auditor ketika memeriksa kondisi keuangan suatu perusahaan dalam audit tahunan, auditor harus menyediakan laporan audit untuk digabungkan denganlaporan keuangan perusahaan. Salah satu hal penting yang harus diputuskan adalahapakah perusahaan dapat mempertahankan hidupnya (going concern). Audit report dengan modifikasi mengenai going concern, mengindikasikan bahwa dalam penilaian auditor terdapat resiko perusahaan tidak dapat bertahan dalam bisnis. Di lain pihak, perusahaan yang “sehat” memperoleh opini “standar” atau unqualified.
Dari sudut pandang auditor, keputusan tersebut melibatkan beberapa tahap analisis.
Mengacu pada Statement On Auditing Standar No 59 (AICPA, 1988), auditor harus memutuskan apakah perusahaan klien akan bisa bertahan di masa yang akan datang. Selain itu IAI juga menyiapkan Interpretasi Pernyataan Standar Auditing (IPSA) Nomor 30 melalui komite Standar Profesional Akuntan Publik tentang “Laporan Auditor Independen tentang Dampak Memburuknya Ekonomi Indonesia terhadap Kelagsungan Hidup Entitas”. IPSA menganggap auditor perlu mempertimbangkan 3 hal sebagai berikut:
1. Kewajiban auditor untuk memberikan saran bagi kliennya dalam mengungkapkan dampak kondisi ekonomi tersebut (jika ada) terhadap kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.
2. Pengungkapan peristiwa kemudian yang mungkin timbul sebagai akibat kondisi ekonomi tersebut.
Universitas Sumatera Utara
26
3. Modifikasi laporan audit bentuk baku jika memburuknya kondisi ekonomi tersebut berdampak terhadap kemampuan Entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Pada penelitian ini menekankan pada keraguan besar bagaimana suatu perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidup dimasa akan datang dan mendasari auditor mengeluarkan opini audit going concern pada opini audit wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas.
Para pemakai laporan keuangan merasa bahwa pengeluaran opini audit going concern ini sebagai prediksi kebangkrutan suatu perusahaan. Pengeluaran opini audit going concern ini sangat berguna bagi para pemakai laporan keuangan untuk membuat keputusan yang tepat dalam berinvestasi. Investor perlu untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan, terutama yang menyangkut kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Hal ini membuat auditor mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengeluarkan opini audit going concern yang konsisten dengan keadaan sesungguhnya. Kewajiban auditor mengungkapkan dampak kondisi ekonomi terhadap kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Arens (dalam Fanny dan Saputra 2005) menyatakan beberapa factor yang dapat menimbulkan ketidakpastian mengenai kelangsungan hidup perusahaan adalah:
• Kerugian usaha yang besar secara berulang atau kekurangan modal kerja.
• Ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya pada saat jatuh tempo dalam jangka pendek.
• Kehilangan pelanggan utama, terjadinya bencana yang tidak diasuransikan seperti gempa bumi atau banjir atau masalah perburuhan yang tidak biasa.
Universitas Sumatera Utara
• Perkara pengadilan, gugatan hukum atau masalah serupa yang sudah terjadi yang dapat membahayakan kemampuan perusahaan untuk beroperasi.
Seorang auditor ketika memeriksa kondisi keuangan suatu perusahaan dalam audit tahunan, auditor harus menyediakan laporan audit untuk digabungkan dengan laporan keuangan perusahaan. Salah satu hal penting yang harus diputuskan adalah apakah perusahaan dapat mempertahankan hidupnya (going concern). Auditreport dengan modifikasi mengenai going concern, mengindikasikan bahwa dalam penilaian auditor terdapat resiko perusahaan tidak dapat bertahan dalam bisnis. Di lain pihak, perusahaan yang “sehat” memperoleh opini “standar” atau unqualified.
Dari sudut pandang auditor, keputusan tersebut melibatkan beberapa tahap analisis.
Kelangsungan hidupnya (going concern) merupakan keadaan yang mengharuskan auditor menambahkan paragraph (atas bahas penjelasan lain) dalam laporan audit, meskipun tidak mempengaruhi pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion) yang dinyatakan oleh auditor. Berikut panduan bagi auditor dalam menerbitkan opini auditgoing concern (SPAP,2011):
1. Jika auditor yakin terdapat keraguan mengenai kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu yang pantas, maka auditor harus memperoleh informasi mengenai rencana manajemen yang ditunjukkan untuk mengurangi dampak kondisi dan peristiwa tersebut serta menetapkan kemungkinan bahwa rencana tersebut efektif dilaksanakan.
2. Jika manajemen tidak memiliki rencana untuk mengurangi dampak kondisi dan peristiwa terhadap kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan
Universitas Sumatera Utara
28
kelangsungan hidupnya maka auditor mempertahankan untuk memberikan pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion).
3. Jika manajemen memiliki rencana untuk mengurangi dampak kondisi dan peristiwa diatas, maka auditor menyimpulkan (berdasarkan pertimbangannya) atas efektivitas rencana tersebut:
a. Jika auditor berkesimpulan bahwa rencana tersebut tidak efektif, maka auditor menyatakan tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion).
b. Jika auditor berkesimpulan bahwa rencana tersebut efektif dan klien mengungkapkan dalam catatan laporan keuangan, maka auditor menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas (unqualified opinion with expalanatory language/emphasis of matterparagraph).
4. Jika auditor berkesimpulan rencana tersebut efektif akan tetapi klien tidak mengungkapkan dalam catatan laporan keuangan, maka auditor dapat memberikan pendapat tidak wajar (qualified/adverse opinion).
Going concern dipakai sebagai asumsi dalam pelaporan keuangan sepanjang tidak terbukti adanya informasi yang menunjukan hal yang berlawanan (Contrary Information). Biasanya informasi yang secara signifikan dianggap berlawanan dengan ketidakmampuan satuan usaha dalam memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo tanpa melakukan penjualan sebagian besar aktiva kepada pihak luar melalui bisnis biasa, restrukturisasi hutang, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar dan kegiatan serupa yang lain (PSA no 30).
2.2.2 Opinion shopping
Universitas Sumatera Utara
Opinion shopping adalah sebagai kegiatan mencari auditor yang bersedia mendukung perlakuan akuntansi yang diusulkan oleh manajemen untuk mencapai tujuan pelaporan perusahaan (Simamora & Hendarjatno). Demi menghindari penerimaan opini going concern, biasanya perusahaan melakukan auditor switching (pergantian auditor). Teoh (1992) dalam Mirna dan Januarti (2007) menyatakan pergantian auditor dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, jika auditor bekerja pada perusahaan tertentu, perusahaan dapat mengancam melakukan pergantian auditor. Kedua, bahkan ketika auditor tersebut independen, perusahaan akan memberhentikan auditor (akuntan publik) yang cenderung memberikan opini going concern. Argumen tersebut dinamakan opinion shopping. Tujuan pelaporan dalam opinion shopping dimaksudkan untuk memanipulasi hasil operasi atau kondisi keuangan perusahaan. Opinion shopping selanjutnya akan menimbulkan dampak negatif. Istilah opinion shopping atau biasa disebut auditor switching adalah istilah yang digunakan apabila perusahaan melakukan pergantian auditor atau Kantor Akuntan Publik (KAP). Hal ini muncul karena rotasi audit. Rotasi audit merupakan batasan masa jabatan auditor dalam mengaudit suatu entitas atau klien (Mirna,2010). Berdasarkan bukti teoritis, adanya rotasi auditor akan mengakibatkan masa perikatan audit (audit tenure) yang lebih pendek dan perusahaan akan melakukan perpindahan auditor Nasser, et al (2006) dalam Martina (2010).
Beberapa faktor penyebab dilakukannya opinion shopping dapat berasal dari auditor maupun klien sendiri.
Terdapat dua argumen tentang opinion shopping yaitu: pertama jika auditor bekerja pada perusahaan tertentu, perusahaan dapat mengancam melakukan pergantian auditor. Kekawatiran untuk diganti mungkin dapat menghindari
Universitas Sumatera Utara
30
independensi auditor, sehingga tidak mengungkapkan masalah going concern.
Kedua, ketika auditor tersebut independen, perusahaan akan menghentikan akuntan publik (auditor) yang cenderung memberikan opini going concern.
Opinion shopping memberikan dampak negative pada perusahaan diantaranya dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan dan kualitas keputusan investasi dan kredit. Laporan keuangan yang dimanipulasi sering menyebabkan kehancuran bisnis, akibatnya berdampak pada reputasi auditor. Meskipun ada kekhawatiran regulasi atas perilaku opini shopping, terdapat sidikit bukti sistematis tentang prevalensi dan konsekuensi opini shopping untuk menghindari opini going concern di lingkungan audit saat ini (Chung, et al, 2019).
Geiger, et al, (1996) menemukan bukti banyaknya perusahaan yang melakukan penggantian auditor ketika auditor mengeluarkan opini going concern.
Dengan kata lain, semakin besar keinginan perusahaan melakukan pergantian auditor, maka semakin kecil perusahaan akan memperoleh opini audit going concern. Sehingga opinion shopping berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern.
Berdasarkan definisi-definisi opinion shopping di atas dapat disimpulkan bahwa opinion shopping adalah sebuah aktivitas mencari auditor yang mau
Berdasarkan definisi-definisi opinion shopping di atas dapat disimpulkan bahwa opinion shopping adalah sebuah aktivitas mencari auditor yang mau