• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI ASMA ULMYATI AMIR (Halaman 19-0)

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang diharapkan yaitu:

1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi peneliti dan pihak yang terlibat dalam menyelenggarakan pendidikan sehingga mampu memberikan perhatian lebih serius lagi dalam menangani permasalahan yang di hadapi siswa dan guru.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan manfaat bagi :

a. Sekolah

Dapat memberikan pelatihan terhadap guru tentang menggunakan media pembelajaran yang tepat digunakan dalam permasalahan siswa dikelas terutama dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

b. Guru

Memberikan pengetahuan kepada guru tentang media animasi audio visual. Sehingga guru dapat lebih kreatif dalam merancang pembelajaran. Serta dapat menambah wawasan guru dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran di kelas.

c. Siswa

Dengan penggunaan media animasi audio visual siswa dapat lebih tertarik dan mendapatkan kesan mendalam terhadap pembelajaran.

d. Pembaca

Memberikan pengetahuan serta wawasan dan dapat disajikan sebagai referensi sesuai dengan kebutuhannya.

e. Peneliti

Dapat menambah wawasan pengetahuan peneliti dan akan menjadi pedoman untuk penelitian selanjutnya.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

1. Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian ini didasarkan penelitian relevan yang dilakukan oleh beberapa peneliti yang menggunakan media audio visual. Adapun hasil penelitian tersebut antara lain:

Penelitian yang dilakukan oleh Ni Putu Ria Apriani, 2018

“Pengaruh Media Audio Visual Terhadap Kemampuan Menyimak Cerita Siswa Kelas V SDN 38 Ampenan Tahun 2017/2018”. Berdasarkan hasil post-test diperoleh bahwa nilai rata-rata kemampuan menyimak cerita siswa dengan menggunakan media audio visual kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas kontrol yang tidak menggunakan media audio visual. Rata -rata nilai post-test yang diperoleh kelas eksperimen yaitu sebesar 78,72, sedangkan pada kelas kontrol nilai rata-rata yang diperoleh yaitu sebesar 67,75. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji-t dua pihak dengan menggunankan rumus polled varians. Dari hasil perhitungan diperoleh thitung ≥ ttabel yaitu sebesar 4,9863 ≥ 1,9987 pada taraf signifikansi 5% dengan derajad kebebasan (dk) = n 1 + n2 – 2 = 33 + 33 -2 = 64. Sesuai dengan kriteria pengujian hipotesis, yaitu jika t hitung ≥ ttabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh media audio visual terhadap

kemampuan menyimak cerita siswa kelas V SDN 38 Ampenan Tahun 2017/2018.

Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Salam, 2016 “Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Terhadap Kemampuan Menyimak Cerita Siswa SD Negeri 5 Amparita”.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran di kelas kontrol yang diajar tanpa media audio visual adalah siswa hanya sebagai obyek penerima materi dan guru sebagai pusat pembelajaran, hanya terlihat beberapa siswa yang aktif bertanya kepada guru, sedangkan siswa yang lain kurang memperhatikan pembelajaran. Sebaliknya pada kelas eksperimen, siswa terlihat aktif, terfokus dan bersemangat dalam belajar.

Hasil tes pretes dan postes menunjukkan adanya peningkatan rata-rata hasil belajar siswa. Siswa yang diberi pengajaran dengan menggunakan media audio visual rata-rata hasil belajarnya lebih tinggi dibandingkan siswa yang tidak diberi pengajaran menggunakan media audio visual.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audio visual dalam pembelajaran bahasa Indonesia memberi pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan menyimak cerita pendek siswa di SDNegeri 5 Amparita.

Penelitian yang dilakukan oleh Fadly Akbar, 2017 “Keefektifan Media Animasi Audio Visual Dalam Pembelajaran Menyimak Cerita Anak-Anak Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba Kabupaten Bulukumba”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kemampuan siswa

pada kelas eksperimen dalam menyimak cerita anak-anak dengan menerapkan media animasi audiovisual menunjukkan hasil yang sangat memadai. Siswa yang mampu memperoleh dan berada di atas KKM yang ditetapkan yaitu sebesar 96,4% atau sebanyak 27 orang siswa dan yang berada di bawah nilai KKM 75 sebesar 3,6% atau sebanyak 1 orang siswa.

Kemampuan siswa pada kelas kontrol dalam menyimak cerita anak-anak dengan menerapkan metode konvensional menunjukkan hasil yang kurang dibandingkan kelas eksperimen. Siswa yang berhasil mencapai nilai di atas KKM 75 sebesar 85,7% atau sebanyak 24 orang siswa dan yang berada di bawah KKM 75 sebesar 14,3% atau sebanyak 4 orang siswa. Jadi, berdasarkan hasil penelitian tersebut, menunjukkan bahwa penggunaan media animasi audiovisual efektif diterapkan dalam pembelajaran menyimak cerita anak-anak. Hal ini ditunjukkan pada hasil uji hipotesis menggunakan analisis statistik inferensial jenis uji–t independent samples test diperoleh nilai thitung sebesar -2,571 dan ttabel sebesar 2,005 karena nilai thitung> ttabel, maka hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (H1) diterima. Hal ini menunjukkan bahwa media animasi audiovisual efektif diterapkan dalam pembelajaran menyimak cerita anak-anak siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba.

Penelitian yang dilakukan oleh Istihana Rahayu, 2006

“Peningkatan Keterampilan Menyimak Cerita Menggunakan Media Audio Visual Kelas V SD”. Berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa hasil belajar keterampilan menyimak siswa kelas V sekolah dasar masih

rendah. Sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menentukan tema dan menuliskankembali ceritadengankata-katanyasendiri. Faktor penyebabnya adalah guru tidak menggunakan media pembelajaran. Guru hanya membacakan teks cerita rakyat, kemudian menyuruh siswa mengerjakan tugas. Oleh karena itu, peneliti berupaya melakukan perbaikan dengan menggunakan media audio visual. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) sebanyak dua siklus, dan tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, tes, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas guru mengalami peningkatan pada I yaitu 71,8 dan pada siklus II meningkat menjadi 88,3. Sementara itu, ketuntasan belajar menyimak cerita dengan menggunakan media audio visual siswa mengalami peningkatan. Pada siklus I ketuntasan mencapai 68% dan pada siklus II ketuntasan mencapai 84%. Kendala-kendala yang dihadapi adalah suasana kelas kurang kondusif, siswa kurang aktif, dan pengelolaan waktu.

Cara mengatasinya dengan pengkondisian kelas yang baik, memberikan motivasi agar siswa lebih aktif dan pengaturan waktu pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audio visual dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita siswa kelas VB SDN Manukan Kulon II/499 Surabaya.

Penelitian yang dilakukan oleh Yusmarwati, 2018 “Efektifitas Penggunaan Media Audio Visual Terhadap Motivasi Dan Hasil Belajar

Mengidentifikasi Unsur-Unsur Cerita Anak Di Kelas V SD Negeri 018 Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu”. Dari analisis data hasil pengamatan kegiatan guru dalam pembelajaran menggunakan audio visual pada pertemuan petarma mendapatkan persentase sebear 89,5%. pada pertemuan kedua sebesar 95,83%. sedangakan hasil pengamatan dari kegiatan siswa pertemuan pertama siswa mendapatkan persentase sebesar 89 ,29%. Sedangkan pada pertemuan kedua 96,43% dilihat dari analisis data motivasi siswa kelas eksperimen lebih tinggi motivasinya dalam belajar dari pada kelas kontrol. Selanjutnya dai segi hasil belajar siswa dilihat dari skor dasar siswa yang berada di kelas eksperimen mendapatkan nilai rata-rata 58,86, sedangkan kelas kontrol mendapatkan nilai rata-rata 60,68. Setelah diberi pelakuan pada kelas eksperimen, nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 80,00 sedangkan nilai pada kelas kontrol yang tidak diberikan pelakuan mendapatkan nilai rata-rata 69,55. Dari analisis data tersebut, dapat disimpulkan bahwa media audio visual yang diterapkan pada proses pembelajaran sangat efektif, hal ini dibuktikan dengan meningkatnya motivasi dan hasil belajar siswa pada kelas V SD Negeri 018 Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar.

Berdasarkan penelitian relevan di atas diketahui bahwa bahwa media animasi audio visual dapat mempengaruhi kemampuan berbahasa dan hasil belajar siswa. Pada penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini menggunakan media yang sama tetapi pada penelitian ini diharapkan ada pengaruh pada kemampuan menyimak

dongeng siswa kelas III SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.

2. Media Audio Visual

Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.

Arsyad (dalam Fathurrahman 2011:39) mengatakanmedia yang artinya perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Heinich (dalam Susilana, 2008:6) mengemukakan bahwa media merupakan alat saluran komunikasi. Hal ini diperkuat dengan pendapat dari Miarso (dalam Musfiqon, 2012:15) media adalah wadah dari materi yang ingin disampaikan oleh pengajar dengan tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar.

Berdasarkan dari beberapa pengertian media di atas, dapat dirumuskan bahwa media pembelajaran adalah sarana atau alat perantara terjadinya proses pembelajaran dan memberikan rangsangan sehingga terjadinya proses interaksi belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Media pembelajaran sebagai suatu alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka materi pembelajaran sulit dimengerti dan dipahami oleh siswa, terutama pembelajaran yang sangat rumit dan kompleks.

Setiap materi pembelajaran mempunyai tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada bahan pembelajaran pembelajaran yang tidak memerlukan media pembelajaran, tetapi di lain sisi ada bahan pembelajaran yang memerlukan media pembelajaran. Materi pembelajaran mempunyai tingkat kesukaran tinggi tentu sulit dipahami oleh siswa, apalagi oleh siswa yang kurang menyukai materi pembelajaran yang disampaikan.

Terdapat banyak media pembelajaran, mulai dari yang sangat sederhana hingga ke kompleks, mulai dari yang hanya menggunakan indera mata hingga perpaduan lebih dari satu indera. Dari yang harganya murah dan tidak memerlukan listrik hingga yang mahal dan sangat tergantung pada perangkat keras. Seiring berkembangnya teknologi, muncullah berbagai macam bahan ajar baru yang semakin canggih, mulai dari berkembangnya bahan ajar cetak, lalu merambah ke bahan ajar audio, hingga bahan ajar audio-video. Ini semua menunjukkan bahwa bentuk bahan ajar selalu mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.

a. Pengertian Audio Visual

Media audio visual terdiri dari tiga kunci utama yaitu media, audio, dan visual. Media adalah perantara atau alat peraga, audio berarti suara, sedangkan visual berarti gambar yang dapat dilihat.

Kurniawan (2014:181) menyatakan media audio visual adalah media yang menyajikan pesan pembelajaran gabungan unsur audio dan

visual , baik yang bergerak maupun tidak bergerak, ada yang di proyeksikan juga ada yang tidak di proyeksikan. Djamarah (dalam Widyawanti,2015:15) menjelaskan bahwa media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Arsyad (dalam Rusman, 2013:151) memberikan pengertian media audio visual sebagai serangkaian gambar gerak yang disertai suara yang membentuk satu kesatuan yang dirangkai menjadi sebuah alur dengan pesan-pesan didalamnya untuk ketercapaian tujuan pembelajaran.

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media audio visual, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak dengan berbagai bentuk animasi atau media yang melibatkan pendengaran dan penglihatan dalam satu kegiatan proses pembelajaran.

b. Manfaat Penggunaan Media Audio Visual dalam Pembelajaran Media audio visual khususnya dalam bentuk video memiliki beberapa macam manfaat. Manfaat video menurut Arsyad (2013:50), antara lain:

1)Melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari siswa ketika membaca, berdiskusi, berpraktik, dan lain-lain; (2) suatu proses secara tepat yang dapat disaksikan berulang-ulang jika dipandang perlu; 3) mendorong dan meningkatkan motivasi serta menanamkan sikap dan segi-segi afektif lainnya; 4) mengandung nilai-nilai positif yang dapat mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok siswa; 5) video dapat menyajikan peristiwa yang berbahaya bila dilihat secara langsung seperti lahar gunung berapi atau perilaku binatang buas; 6) video dapat ditunjukkan kepada kelompok besar atau kelompok kecil, kelompok yang heterogen, maupun perorangan.

Menurut Lucas (2011:22) “waktu belajar yang lebih efektif dan bisa mengingat dengan baik adalah saat kita menggunakan lebih dari satu indera”. Sedangkan Said (2015:15) mengatakan bahwa pembelajaran dengan audio visual memiliki kemampuan proses yang sangat tajam dalam menyimpan informasi-informasi gambar. Cara ini sangat mudah terjadi pada bagian neocortex otak, sehingga detail-detail informasi baik lisan maupun gambar akan terenda dengan kuat pada bagian terkecil neo-cortex otak (sub long term memory).

Berdasarkan penjelasan di atas, keberadaan media audio visual sangat tidak dipungkiri lagi di dalam kelas. Media audio visual dapat membangkitkan semangat belajar siswa dan pemahaman siswa terhadap materi akan terasa lebih mudah. Pembelajaran dengan menggunakan media audio visual menumbuhkan minat serta motivasi siswa untuk selalu memperhatikan pelajaran.

c. Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Media Audio Visual Pembelajaran (Video Pembelajaran)

Mengingat bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, begitupun dengan penggunaan media pembelajaran. Meskipun penggunaannya dipandang sangat efektif dalam pembelajaran, namun video pembelajaran selain memiliki kelebihan juga tetap memiliki kekurangan.

1) Kelebihan video pembelajaran

Menurut Rusman (2012:152), kelebihan penggunaan media video pembelajaran, yaitu:

a) Pemberian pesan kepada siswa secara lebih merata.

b) Memberikan penjelasan yang lebih signifikan.

c) Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.

d) Dapat diputar kembali.

e) Memberikan kesan yang mendalam, yang dapat memengaruhi sikap siswa.

2) Kekurangan video pembelajaran

Menurut Rusman (2012:152) kekurangan penggunaan video pembelajaran sebagai berikut:

a) Jangkauannya terbatas.

b) Sifat komunikasinya satu arah.

c) Gambarnya relatif kecil.

d) Kadangkala terjadi kesalahan gambar atau warna akibat kerusakan atau gangguan.

e) Pada umumnya memerlukan biaya mahal dan waktu yang banyak dalam pengadaannya.

Sebuah media pembelajaran pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, begitu juga dengan media video. Dalam penayangannya, media video tidak dapat berdiri sendiri, media video ini membutuhkan pendukung seperti LCD untuk memproyeksikan gambar maupun speaker aktif untuk menampilkan suara agar terdengar jelas. Sifat komunikasi dalam penggunaan media hanya bersifat satu arah, siswa hanya memperhatikan media audio video. Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh guru karena media video dapat diulang maupun diberhentikan maka guru

bisa mengajak berkomunikasi dengan siswa tentang isi/pesan dari video yang dilihat, maupun tanya jawab tentang video yang disimak. Jadi komunikasi tersebut tidak hanya satu arah.

3. Tinjauan Tentang Kemampuan Menyimak di SD a. Definisi Menyimak

Menyimak adalah tahap pertama seseorang untuk memperoleh kemampuan berbahasa. Menyimak merupakan kemampuan memahami dan menafsirkan pesan yang disampaikan secara lisan oleh orang lain. Menurut Russel (dalam Tarigan, 2015:32) menyimak bermakna mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi. Sedangkan menurut Tarigan (2015:31) menyatakan bahwa:

Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah mendengarkan serta memperhatikan secara seksama yang diucapkan oleh si pembicara serta menangkap dan memahami isi dan makna komunikasi yang tersirat didalamnya.

b. Tujuan Menyimak

Menyimak pada dasarnya mempunyai tujuan. Tujuan menyimak berbeda-beda tergantung dari materi yang diberikan.

Menurut Hardini (2012:187) tujuan menyimak terbagi atas dua yaitu:

1) Persepsi, yakni ciri kognitif dari proses mendengarkan yang didasarkan pada pemahaman pengetahuan tentang kaidah-kaidah kebahasaan.

2) Resepsi, yakni pemahaman pesan atau penafsiran pesan yang dikehendaki oleh pembicara.

Menurut Logan (Tarigan, 2015:6) tujuan menyimak beraneka ragam antara lain sebagai berikut:

1)menyimak untuk belajar; 2)menyimak untuk memperoleh keindahan audial;3)menyimakuntuk mengevaluasi;4)menyimak untukmengapresiasi simakan; 5)menyimak untuk mengkomunikasikan ide-idenya sendiri; 6)menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi; 7)menyimak untuk memecahkan masalah secara secara kreatif dan analisis; 8)menyimak untuk meyakinkan.

Berikut ini dijelaskan satu persatu yaitu:

1) Menyimak untuk belajar, yaitu menyimak dengan tujuan utama agar siswa memperoleh pengetahuan baru dari apa yang disimak.

2) Menyimak untuk memperoleh keindahan audial, yaitu menyimak dengan menekankan pada penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang disampaikan atau yang diperdengarkan.

3) Menyimak untuk mengevaluasi, yaitu menyimak dengan maksud agar si penyimak dapat menilai apa-apa yang disimak itu.

4) Menyimak untuk mengapresiasi simakan, yaitu menyimak dengan maksud agar si penyimak dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang disimaknya itu.

5) Menyimak untuk mengkomunikasikan ide-idenya sendiri, yaitu menyimak dengan maksud agar si penyimak dapat mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat.

6) Menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi, yaitu menyimak dengan maksud dan tujuan agar si penyimak dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat mana bunyi yang membedakan arti dan mana bunyi yang tidak membedakan arti.

7) Menyimak untuk memecahkan masalah secara secara kreatif dan analisis, sebab dari sang pembicara dia mungkin memperoleh banyak masukan berharga.

8) Menyimak untuk meyakinkan, yaitu menyimak untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini diragukan oleh si penyimak ragukan, dengan perkataan lain, dia menyimak secara persuasif.

Tujuan menyimak seseorang berbeda-beda, ada yang menyimak dengan tujuan memperoleh pengetahuan, menikmati keindahan, mengevaluasi, mengapresiasi materi simakan, hingga mengkomunikasikan ide-ide atau gagasannya melalui menyimak. Melihat dari beberapa tujuan dari menyimak di atas, maka menyimak yang dilaksanakan dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran pembicaraan serta bertujuan untuk mengomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan dari kegiatan menyimaknya.

c. Jenis-Jenis Menyimak

Secara garis besar, Tarigan (2015:37) membagi jenis menyimak itu menjadi 2 macam, yaitu “ 1) menyimak ekstensif dan 2) menyimak intensif. Kedua jenis menyimak itu sangat berbeda, perbedaan itu tampak dalam cara melakukan kegiatan menyimak”.

Menyimak ekstensif lebih banyak dilakukan oleh masyarakat secara umum, misalnya orang tua dan anak-anak menyimak tayangan sinetron dari sebuah televisi, berita radio dan sebagainya.

Menyimak intensif merupakan kegiatan menyimak yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan tingkat konsentrasi yang tinggi untuk menangkap makna yang dikehendak. Dengan kata lain menyimak intensif lebih menekankan kemampuan memahami bahan simakan. Misalnya, dalam menyimak pelajaran di sekolah, guru menuntut agar siswa memahami penjelasannya. Selanjutnya untuk mengukur daya serap siswa, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan. Berikut ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan menyimak intensif menurut Tarigan (2015:15) yaitu:

1) Menyimak pada dasarnya menyimak pemahaman.

2) Menyimak intensif memerlukan tingkat konsentrasi pikiran dan perasaan yang tinggi.

3) Menyimak intensif pada dasarnya memahami bahasa formal.

4) Menyimak intensif memerlukan reproduksi materi yang disimak.

d. Proses Menyimak

Menurut Brown (dalam Hardini 2012:184 ) terdapat delapan proses dalam kegiatan menyimak, yakni sebagai berikut:

1) Pendengar memproses raw speech dan menyimpan image, dalam short term memory; 2) Pendengar menentukan tipe dalam setiap peristiwa pembicaraan yang sedang diproses; 3) Pendengar mencari maksud dan tujuan pembicara dengan mempertimbangkan bentuk dan jenis pembicaraan, konteks, dan isi; 4) Pendengar me-recall latar belakang informasi sesuai dengan masalah yang ada; 5) Pendengar mencari arti literal dari pesan yang iya dengar; 6) Pendengar menentukan arti yang dimaksud; 7) Pendengar mempertimbangkan informasi yang ia dengar harus disimpan dalam memorinya atau titunda;8) Pendengar menghapus pesan-pesan yang telah ia terima.

Menurut Logan (dalam Tarigan, 2015:63) menyimak adalah suatu kegiatan yang merupakan suatu proses memahami suatu simakan secara mendalam. Dalam proses menyimak pun terdapat tahap-tahap, antara lain:

1) Tahap mendengar, dalam tahap ini kita baru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atas pembicaraannya; 2) Tahap memahami, setelah mendengar maka ada keinginan bagi kita untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang disampaikan oleh pembicara; 3) Tahap menginterpretasi, penyimak yang baik, yang cermat dan teliti, belum puas kalau hanya mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara, dia ingin menafsirkan atau menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan tersirat dalam uraian itu; 4) Tahap mengevaluasi, setelah memahami serta dapat menafsir atau menginterpretasikan isi pembicaraan, penyimak pun mulailah menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan pembicaraan mengenai keunggulan dan kelemahan serta kebaikan dan kekurangan pembicara; 5) Tahap menanggapi, tahap ini merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak. Penyimak menyambut, mencamkan dan menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukan pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa menyimak mempunyai beberapa tahap diantaranya tahap mendengar, memahami, menginterpretasi, mengevaluasi dan menanggapi. Tahap-tahap tersebut saling berkaitan atau berkesinambungan. Pembelajaran akan lebih efektif jika dilakukan secara integratif dan linier terhadap suatu materi pelajaran.

e. Prosedur Pembelajaran Menyimak

Sebagaimana pembelajaran keterampilan berbahasa yang lain, pembelajaran menyimak juga mempunyai beberapa prosedur.

(Tarigan, 2015:40) menyatakan bahwa bertemali dengan prosedur pembelajaran menyimak, maka yang tidak boleh dilupakan dalam menghasilkan pembelajaran menyimak yang sesuai adalah:

1) Kesesuaian Isi

Kesesuaian isi dalam menyimak yang dimaksud adalah kesesuaian tulisan dengan dongeng yang didengar. Kesesuaian isi dilihat dari unsur intrinsik cerita dari video yang dilihat. Olehnya itu, siswa harus terlebih dahulu mengetahui unsur intrinsik cerita.

Hal ini dimaksudkan agar pesan dan tujuan dari cerita dapat tersampaikan dengan baik.

2) Koherensi

Koherensi adalah keterpaduan dalam sebuah paragraf apabila kalimat-kalimat yang menyusun paragraf itu tersusun secara logis dan berkaitan satu sama lain untuk mendukung gagasan utama.

3) Keefektifan kalimat

Unsur kalimat terdiri dari subjek, predikat, objek dan keterangan. Suatu kalimat yang efektif adalah kalimat yang dapat membangkitkan kembali gagasan yang dimiliki oleh pendengar, persis sama dengan apa yang dimiliki oleh pembicara. Kalimat

Unsur kalimat terdiri dari subjek, predikat, objek dan keterangan. Suatu kalimat yang efektif adalah kalimat yang dapat membangkitkan kembali gagasan yang dimiliki oleh pendengar, persis sama dengan apa yang dimiliki oleh pembicara. Kalimat

Dalam dokumen SKRIPSI ASMA ULMYATI AMIR (Halaman 19-0)

Dokumen terkait