• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH: ROMAULI BATUBARA (Halaman 25-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan manfaat.

Manfaat yang diharapkan tersebut yaitu:

1. Bagi penulis, diharapkan penelitian ini dapat menambah dan memperdalam pengetahuan dan wawasan peneliti, khususnya mengenai pengaruh DPR, Earning Growth, Kesempatan Investasi, Price to Book Value dan size terhadap PER.

2. Bagi akademisi dan peneliti lain, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan bacaan dan bahan referensi melakukan penelitian selanjutnya.

3. Bagi investor, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk menentukan strategi investasinya.

4. Bagi manajemen perusahaan, sebagai bahan masukan dalam meningkatkan nilai perusahaan di bursa efek.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Signalling Theory (Teori Sinyal)

Signalling Theory atau teori sinyal adalah suatu tindakan yang diambil manajemen perusahaan yang memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Signalling Theory menjelaskan bahwa informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan termasuk cash dividend yang dibayarkan dianggap investor sebagai sinyal prospek perusahaan di masa mendatang (Brigham dan Waston, 1990).

Dalam penelitian Anggraini (2012) menyatakan bahwa Signalling Theory menekankan kepada pentingnya informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap keputusan investasi pihak di luar perusahaan. Informasi merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis karena informasi pada hakikatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran baik untuk keadaan masa lalu, saat ini maupun keadaan masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan dan bagaimana efeknya di pasaran. Informasi yang lengkap, relevan, akurat dan tepat waktu sangat diperlukan oleh investor di pasar modal sebagai alat untuk mengambil keputusan investasi.

Menurut Jogiyanto (2000), informasi yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi. Jika pengumuman tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh

pasar. Pada waktu informasi diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut, pelaku pasar terlebih dahulu menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut sebagai signal baik (good news) atau sinyal buruk (bad news).Jika pengumuman informasi tersebut sebagai sinyal baik bagi investor, maka terjadi perubahan dalam volume perdagangan saham.

2.2 Price Earning Ratio (PER)

Salah satu rasio yang banyak digunakan oleh investor dalam menganalisis nilai saham untuk pengambilan keputusan investasi saham adalah price earning ratio (Malikova & Brabec, 2012). Rasio Harga Laba (Price Earning Ratio/PER) merupakan bagian dari rasio saham biasa (common stock ratio). Rasio saham biasa menunjukkan bagian dari laba perusahaan, dividen dan modal yang dibagikan pada setiap saham. Price earning ratio mencerminkan seberapa besar seorang investor bersedia membayar harga sebuah saham untuk memperoleh pendapatan setelah pajak. Saham dengan price earning ratio yang tinggi memberikan indikasi bahwa prospek ke depannya saham tersebut baik dan akan tercermin pada tingginya harga saham (Purwaningrum, 2013).

Price earning ratio digunakan untuk menentukan apakah investasi yang dilakukan menguntungkan atau merugikan, dengan cara membandingkan antara harga per lembar saham dengan laba bersih per sahamnya. Sebelum melakukan investasi baik pemerintah maupun pihak swasta diharapkan untuk menganalisis terlebih dahulu kelayakan dari investasi tersebut, Ansori dan Denica (2010).

Besaran price earning ratio akan berubah-ubah mengikuti perubahan harga di pasar dan proyeksi laba bersih perseroan, jika harga naik proyeksi laba tetap, maka price earning ratio akan naik, sebaliknya jika proyeksi laba naik, harga dipasar tidak bergerak maka price earning ratio akan turun (Pratama, 2015).

Price earning ratio juga menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, dengan demikian price earning ratio digunakan oleh investor untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba di masa yang akan datang (Arslan, 2014).

Perhitungan price earning ratio berfokus pada laba bersih yang dihasilkan perusahaan. Nilai laba bersih yang dihasilkan perusahaan mencerminkan kinerja perusahaan sesungguhnya (Husnan dan Pudjiastuti, 2006:75). Besarnya price earning ratio biasanya terkait dengan tahap pertumbuhan perusahaan. Jika price earning ratio perusahaan tinggi berarti saham perusahaan dapat memberikan return yang besar bagi investor (Arisona, 2013).

Menurut Husnan (2001) ada tiga komponen yang mempengaruhi besar atau kecilnya PER diantaranya adalah:

1. Dividend Payout Ratio, menunjukkan besarnya dividen yang akan dibayarkan perusahaan kepada investor dari earning yang diperoleh, dengan kata lain DPR merupakan perbandingan antara dividen yang dibayarkan perusahaan terhadap earning yang diperoleh perusahaan.

2. Tingkat return yang disyaratkan, yang merupakan tingkat return yang disyaratkan investor atas suatu saham sebagai kompensasi atas risiko yang harus ditanggung investor.

3. Tingkat pertumbuhan dividen yang diharapkan, merupakan fungsi dari besarnya ROE dan tingkat laba ditahan.

2.3 Dividend Payout Ratio (DPR) 2.3.1 Pengertian Dividend

Perusahaan yang berhasil dalam mengelola operasional perusahaan akan memperoleh income (pendapatan). Pendapatan yang diperoleh perusahaan inilah yang sebagian akan dijadikan dividen dan diberikan kepada pemegang saham.

Dividen adalah suatu bentuk pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan baik dalam bentuk kas maupun saham kepada para pemegang saham suatu perusahaan sebagai proporsi dari jumlah saham yang dimiliki oleh pemilik. Menurut Halim (2007:16) “deviden merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang diperoleh perusahaan”.

Dividen merupakan salah satu return yang paling dinanti-nantikan oleh investor sekaligus juga merupakan sinyal bahwa perusahaan berada pada tingkat profitabilitas tinggi. Bagi para investor, dividen ini merupakan gambaran keyakinan manajemen atas prospek perusahaan di masa yang akan datang. Bila perusahaan yakin dengan prospeknya di masa mendatang baik maka akan terjadi peningkatan pembayaran dividen dan tentu selanjutnya pasar akan merespon positif atas pengumuman kenaikan dividen tersebut. Hal ini tentunya akan meningkatkan jumlah maupun harga saham perusahaan.

Dividen merupakan hak pemegang saham biasa (common stock) untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Jika perusahaan memutuskan untuk membagi keuntungan dalam dividen maka semua pemegang saham biasa mendapatkan hak yang sama. Pembagian dividen untuk saham biasa dapat

dilakukan jika perusahaan sudah membayar dividen untuk saham preferen (Jogiyanto, 2003:85).

2.3.2 Jenis-jenis Dividend

Terdapat beberapa jenis dividen yang dapat dibayarkan kepada para pemegang saham, tergantung pada posisi dan kemampuan perusahaan bersangkutan.

Berikut ini adalah jenis - jenis dividen menurut Brigham (2006 : 95):

a. Cash Dividend (dividen tunai) yaitu dividen yang dibayarkan dalam bentuk uang tunai.

b. Stock Dividend (dividen saham) yaitu dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham, bukan dalam bentuk uang tunai. Pembayaran stock dividend juga harus disarankan adanya laba atau surplus yang tersedia, dengan adanya pembayaran dividen saham ini maka jumlah saham yang beredar meningkat, namun pembayaran dividen saham ini tidak akan merubah posisi likuiditas perusahaan karena yang dibayarkan oleh perusahaan bukan merupakan bagian dari arus kas perusahaan.

c. Property dividend (dividen barang) yaitu dividen yang dibayarkan dalam bentuk barang (aktiva selain kas). Property dividend yang dibagikan ini haruslah merupakan barang yang dapat dibagi-bagi atau bagian-bagian yang homogeny serta penyerahannya kepada pemegang saham tidak akan mengganggu kontinuitas perusahaan.

d. Scrip Dividend yaitu dividen yang dibayarkan dalam bentuk surat (scrip) janji hutang. Perseroan akan membayar sejumlah tertentu dan pada waktu tertentu, sesuai dengan yang tercantum dalam scrip tersebut.

Pembayaran dalam bentuk ini akan menyebabkan perseroan mempunyai hutang jangka pendek kepada pemegang scrip.

e. Liquidating dividend yaitu dividen yang dibagikan berdasarkan pengurangan modal perusahaan, bukan berdasarkan keuntungan yang diperoleh perusahaan.

Secara umum, pemegang saham lebih menyukai dividen dalam bentuk tunai. Dalam teori bird-in-the-hand (Brigham, 2001:103) menyatakan bahwa nilai perusahaan akan dimaksimumkan oleh rasio pembayaran dividen yang tinggi karena investor menganggap bahwa dividen tunai lebih kecil risikonya

dibandingkan keuntungan modal potensial. Deviden tunai mengacu pada dividen yang diberikan perusahaan kepada pemegang saham dalam bentuk uang tunai Biasanya terdapat 3 syarat mutlak untuk pembayaran dividen tunai yaitu:

1. Cukupnya laba ditahan yang belum diapropriasikan 2. Cukupnya uang tunai

3. Tindakan resmi oleh dewan komisaris

2.3.3 Pengertian Dividend Payout Ratio

Dividend Payout Ratio (DPR) merupakan perbandingan antara dividend per share (DPS) dengan earning per share (EPS) semakin besar dividen yang dibagikan maka akan semakin besar dividend payout ratio-nya dan hal tersebut sangat menarik buat investor (Ang,1997).

Perubahan atas dividen payout ratio (DPR) dapat mempengaruhi perubahan PER (Husnan, 2001). Karena apabila laba yang ditahan semakin kecil maka pertumbuhan laba yang akan dibagikan kepada investor akan semakin besar sehingga penilaian saham atas PER akan meningkat.

Menurut (Horne dan Wachowicz, 2007) ada tiga faktor yang mempengaruhi perusahaan melakukan pembayaran dividen yang stabil, yaitu:

1. Kandungan Informasi.

Ketika laba jatuh dan perusahaan tidak memotong dividennya pasar mungkin akan lebih yakin pada saham perusahaan daripada jika dividen tiba-tiba dikurangi.

2. Keinginan untuk mendapatkan penghasilan.

Pada investor yang menginginkan penghasilan periodik tertentu lebih menyukai perusahaan yang dimiliki dividen stabil, walaupun kedua perusahaan tersebut mungkin memiliki pola laba dan pembayaran dividen jangka panjang yang sama.

3. Pertimbangan Institusional.

Dividen yang stabil mungkin menguntungkan dari sisi hukum untuk memungkinkan para investor institusi tertentu membeli saham biasa.

Pembagian dividen memberikan sinyal positif kepada para investor mengenai prospek saham karena mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Semakin tinggi DPR akan menguntungkan para investor tetapi dari pihak perusahaan akan memperlemah internal financial karena memperkecil laba ditahan. Tetapi sebaliknya DPR semakin kecil akan merugikan para investor tetapi internal financial perusahaan akan semakin meningkat.

Banyak perusahaan yang telah memiliki kebijakan dividen yang mantap dan tidak menginginkan terjadinya fluktuasi dividen (khususnya arah yang menurun), karena hal ini justru akan berpengaruh negatif terhadap harga saham.

2.4 Earning Growth (Pertumbuhan Laba) 2.4.1 Konsep Laba

Secara operasional laba merupakan perbedaan antara pendapatan yang direalisasi yang timbul dari transaksi selama satu periode dengan biaya yang berkaitan dengan pendapatan tersebut. Menurut Harahap (2001:267) yang dimaksud dengan laba adalah “perbedaan antara realisasi penghasilan yang berasal dari transaksi perusahaan pada periode tertentu dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan itu.

2.4.2 Jenis – Jenis Laba

Laba adalah salah satu hal yang paling penting dalam sebuah perusahaan, laba terdiri dari atas beberapa jenis yaitu :

1. Laba kotor, yaitu selisih antara hasil penjualan dengan harga pokok penjualan.

2. Laba opersional, merupakan hasil dari aktivitas-aktivitas yang termasuk rencana perusahaan kecuali ada perubahan-perubahan besar dalam perekonomiannya.

3. Laba sebelum dikurangi pajak atau EBIT (Earning Before Tax), adalah laba operasional ditambah hasil dan biaya di luar operasi biasa perusahaan.

4. Laba setelah pajak atau laba bersih, yaitu laba yang telah dikurangi seluruh pajak yang ada.

2.4.3 Pengertian Earning Growth

Pertumbuhan laba merupakan perbandingan yang tepat atas pendapatan dan biaya tergambar dalam laporan laba rugi. Penyajian laba melalui laporan tersebut merupakan fokus kinerja perusahaan yang penting. Kinerja perusahaan merupakan hasil dari serangkaian proses dengan mengorbankan berbagai sumber daya. Adapun salah satu parameter penilaian kinerja perusahaan tersebut adalah pertumbuhan laba. Pertumbuhan laba dihitung dengan cara mengurangkan laba periode sekarang dengan laba periode sebelumnya kemudian dibagi dengan laba periode sebelumnya (Warsidi dan Agus, 2000).

Pertumbuhan laba perusahaan yang baik mencerminkan bahwa kinerja perusahaan juga baik. Dengan kata lain, laba merupakan ukuran kinerja dari suatu perusahaan, sehingga semakin tinggi laba yang dicapai perusahaan, akan mengindikasikan semakin baik kinerja perusahaan tersebut.

2.5 Kesempatan Investasi

Pengertian investasi secara umum adalah kegiatan menanamkan modal yang dilakukan oleh investor pada suatu aset tertentu untuk mendapatkan pengembalian yang lebih besar dibandingkan yang dikorbankan.Untuk melakukan investasi, perusahaan membutuhkan kesempatan, suatu rencana atau proyek yang bisa dipilih untuk mewujudkan tujuannya untuk menghasilkan lebih banyak uang.

Kesempatan investasi merupakan keputusan investasi dalam bentuk kombinasi antara aktiva yang dimiliki (assets in place) dan opsi investasi di masa yang akan datang, dimana kesempatan investasi tersebut akan mempengaruhi nilai perusahaan.

Kesempatan investasi di dalam perusahaan adalah menyangkut pemilihan investasi yang diinginkan dari sekelompok atau set kesempatan investasi yang ada, memilih salah satu atau lebih alternative investasi yang dinilai paling menguntungkan. Keputusan investasi diamati dengan mempergunakan kesempatan investasi yang menunjukkan lebih luas di mana nilai perusahaan yang nantinya tergantung pada pengeluaran perusahaan di masa yang akan datang dengan net present value positif (Ayuningtias dan Kurnia, 2013).

Kesempatan investasi menentukan kemampuannya memperoleh keuntungan dari prospek pertumbuhan. Potensi pertumbuhan dapat ditunjukkan dengan perbedaan antara nilai pasar saham dengan nilai buku dan adanya kesempatan investasi yang dapat menghasilkan keuntungan. Semakin tinggi kesempatan investasi maka perusahaan akan memiliki nilai di masa mendatang dan akan dinilai tinggi oleh investor (Jati 2005).

Investment Opportunity Set merupakan kesempatan dalam bentuk kombinasi aktiva yang dimiliki dan opsi investasi dimasa mendatang. Semakin besar kesempatan investasi, maka dividen yang dapat dibagikan menjadi lebih sedikit karena lebih baik jika dana tersebut ditanamkan pada investasi yang menghasilkan NPV positif (Hanafi, 2004:375).

Untuk pengukuran set kesempatan investasi, terdapat beberapa proksi yang digunakan dalam bidang akuntansi dan keuangan untuk memahami proyek IOS (Investment Opportunity Set). Menurut Kallapur dan Trombley (2001) dalam Saputro (2003), IOS dibagi menjadi tiga proksi, yaitu:

1. Proksi IOS berdasar harga (price based proxies) a. Market to book value of equity (MVEBVE) b. Tobins`Q

c. Ratio firm value to depreciation expense

d. Ratio firm value to book value of property, plant, and equipment 2. Proksi IOS berdasar investasi (investment-based proxies)

a. Rasio capital expenditure to book value asset (CAPBVA) b. Rasio capital expenditure to market value of asset (CAPMVA)

c. Rasio investment to net sales (IONS) 3. Proksi IOS berbasis varian (variance measure)

a. VARRET (variance of total return) b. Market Model Beta

Kesempatan invesatsi pada penelitian ini diproksikan dengan market to book value of equity ratio (MVE/BVE). Rasio MVE/BE ini digunakan karena memiliki korelasi yang tinggi dengan realisasi pertumbuhan perusahaan. Market to book value memberikan indikasi pandangan investor atas perusahaan.

Perusahaan yang dianggap baik oleh investor yang artinya perusahaan dengan laba dan arus kas yang aman serta terus mengalami pertumbuhan. MVE/BE dapat dihitung dengan membandingkan jumlah saham yang beredar dan harga penutupan saham dengan total ekuitas pada sektor industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018 (dengan satuan persentase).

2.6 Price to Book Value (PBV)

2.6.1 Pengertian Price to Book Value

Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2012:157) Price to Book Value atau PBV merupakan suatu ratio yang dapat menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Semakin tinggi rasio PBV semakin tinggi perusahaan dinilai oleh pemodal relatif dibandingkan dengan dana yang telah ditanamkan di perusahaan. PBV menunjukkan seberapa jauh suatu perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan relative terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Semakin besar rasio, semakin besar nilai pasar (market value) dibandingkan nilai buku (book value).

Menurut Tryfino (2009:9) Price to Book Value (PBV) adalah perhitungan atau perbandingan antara market value dengan book value suatu saham. Rasio ini berfungsi untuk melengkapi analisis book value. Jika pada analisis book value, investor hanya mengetahui kapasitas per lembar dari nilai saham, pada rasio PBV investor dapat mengetahui langsung sudah berapa kali market value suatu saham dihargai dari book value nya.

Semakin tinggi PBV suatu perusahaan menggambarkan pasar percaya akan prospek perusahaan. PBV yang tinggi dapat mencerminkan tingkat kemakmuran para pemegang saham. Dengan kata lain, saham berbanding lurus dengan PBV. Jika perusahaan ingin meningkatkan PBV, hendaknya perusahaan dapat meningkatkan harga saham.

2.6.2 Keunggulan Price to Book Value (PBV)

Menurut Damodaran (2001) Price to Book Value (PBV) mempunyai beberapa keunggulan sebagai berikut :

1. Nilai buku mempunyai ukuran intutif yang relatif stabil yang dapat diperbandingkan dengan harga pasar. Investor yang kurang percaya dengan metode discounted cash flow dapat menggunakan Price to Book Value Ratio sebagai perbandingan.

2. Nilai buku memberikan standar akuntansi yang konsisten untuk semua perusahaan PBV dapat diperbandingkan antara perusahaan – perusahaan yang sama sebagai petunjuk adanya under atau overvaluation.

3.

Perusahaan – perusahaan dengan earning negatif, yang tidak bisa dinilai dengan menggunakan price earning ratio dapat dievaluasi menggunakan Price to Book Value (PBV).

2.7 Size

Size atau ukuran perusahaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan. Perusahaan besar akan mempertahankan kebesarannya dengan menjaga agar tidak terjadi penurunan nilai saham di pasar modal. Perusahaan yang berukuran besar pada umumnya usahanya lebih terdiversifikasi, lebih mudah dalam mengakses pasar modal, dan membayar tingkat suku bunga rendah (Sartono, 2001).

Berbeda dengan perusahaan besar, perusahaan baru dan yang masih kecil akan mengalami kesulitan untuk memiliki akses ke pasar modal. Kemudahan akses ke pasar modal cukup berarti untuk fleksibilitas dan kemampuannya untuk memperoleh dana yang lebih besar. Ukuran perusahaan menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh investor dalam pengambilan keputusan investasi.

Menurut Febriani (2010):

Ukuran perusahaan adalah ukuran besarnya perusahan yang dilihat dari jumlah aktiva perusahaan. Ukuran perusahaan juga bisa menjadi ukuran mengenai kemungkinan terjadinya kegagalan perusahaan mengembalikan utang. Perusahaan yang lebih besar akan lebih mudah memperoleh pinjaman dibandingkan dengan perusahaan kecil. Hal ini terkait dengan tingkat kepercayaan yang diberikan oleh kreditur kepada perusahaan-perusahaan besar, dibandingkan dengan kepercayaan mereka kepada perusahaan kecil.

Jika perusahaan memiliki total asset yang besar menunjukkan bahwa perusahaan telah mencapai tahap kedewasaan dimana tahap ini arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap telah memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif lama. Selain itu juga mencerminkan bahwa perusahaan relatif lebih stabil dan lebih mampu menghasilkan laba dibanding perusahaan dengan total asset yang kecil.

2.8 Tinjauan Peneliti Terdahulu

Penelitian terdahulu adalah ilmu yang dalam cara berpikir menghasilkan kesimpulan berupa ilmu pengetahuan yang dapat diandalkan, dalam proses berfikir menurut langkah - langkah tertentu yang logis dan didukung oleh fakta empiris. Penelitian ini merupakan pengembangan dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti – peneliti sebelumnya.

Pramudya (2007) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi Price Earning Ratio (PER) dimana variabel yang mempengaruhinya antara lain leverage, return on equity, dividend payout ratio, earning growth. Variabel leverage dan earning growth berpengaruh negatif terhadap price earning ratio

sedangkan variabel return on equity dan dividend payout ratio berpengaruh positif terhadap price earning ratio.

Hayati (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Price Earning Ratio (PER) Sebagai Salah Satu Kriteria Keputusan Investasi Saham Perusahaan Real Estate dan Property di Bursa Efek Indonesia.”

Sebagai variabel independen adalah Earning per Share (EPS), Debt Equity Ratio (DER), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE) dan Price to Baook Value (PBV). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel EPS, DER, ROA, ROE berpengaruh terhadap PER sedangkan PBV tidak berpengaruh terhadap PBV.

Ramadhani (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi PER”. Variabel independennya antara lain Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Price to Book Value (PBV) dan Size. Penelitian dilakukan terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2011. Variabel dependen yang digunakan adalah PER. Variabel DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap PER,variabel ROE berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PER, variabel PBV berpengaruh positif dan signifikan terhadap PER, variabel Size tidak berpengaruh signifikan terhadap PER.

Gulo (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Faktor-faktor yang mempengaruhi PER”. Sebagai variabel independen adalah Dividend Payout Ratio, Size dan Earning Growth. Penelitian dilakukan terhadap Perusahaan Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2011. Hasil

menunjukkan bahwasanya secara parsial DPR dan Size berpengaruh signifikan terhadap PER. Sementara earning growth tidak berpengaruh signifikan terhadap PER.

Rahma (2014) dengan judul penelitian “Analisis Variabel Fundamental yang Berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER) sebagai Dasar Penilaian Saham pada Perusahaan Automotive and Allied yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Dimana variabel independennya adalah ROE, DER, earning per share, earning growth, price to book value dan dividend payout atio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel earning growth, debt equity ratio dan return on equity berpengaruh negatif signifikan terhadap price earning ratio, sedangkan dividend payout ratio, price to book value dan earning per share berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap price earning ratio.

Penelitian berikutnya dilakukan oleh Zakin (2015), dengan judul penelitian

“Analisis Dividend Payout Ratio (DPR) dan Investment Opportunity Set (IOS) terhadap Price Earning Ratio (PER). Penelitian dilakukan pada perusahaan sektor manufaktur di Jakarta Islamic Index periode 2011-2014. Hasil dari penilitiannya menyatakan bahwa variabel dividend payout ratio tidak berpengaruh terhadap price earning ratio, dan investment opportunity set berpengaruh terhadap price earning ratio.

Kusumadewi (2016) dengan judul penelitian “Pengaruh Likuiditas, Dividend Payout Ratio, Kesempatan Investasi dan Leverage terhadap Price Earning Ratio.”Penelitian dilakukan terhadap perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2014. Variabel likuiditas dan dividend payout ratio berpengaruh positif tidak signifikan terhadap

PER. Faktor kesempatan investasi berpengaruh positif signifikan terhadap PER dan faktor leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap PER.

Dutta (2018) dengan judul penelitian “Determinant of P/E Ratio: An Empirical Study on Listed Manufactured Companies in DSE.”Variabel independen antara lain Dividend Yield, Size, Leverage dan Net Asset Value per Share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dividend Yield dan Size berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PER sedangkan Leverage dan Net Asset Value per Share berpengaruh secara positif terhadap PER.

Dutta (2018) dengan judul penelitian “Determinant of P/E Ratio: An Empirical Study on Listed Manufactured Companies in DSE.”Variabel independen antara lain Dividend Yield, Size, Leverage dan Net Asset Value per Share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dividend Yield dan Size berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PER sedangkan Leverage dan Net Asset Value per Share berpengaruh secara positif terhadap PER.

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH: ROMAULI BATUBARA (Halaman 25-0)

Dokumen terkait