• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.2 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan menambah sumber informasi, sumbangan pemikiran serta sebagai masukan untuk untuk mendukung dasar teori penelitian yang sejenis dan relevan.

2. Manfaat Praktis a. Peneliti

6 Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan peneliti berkaitan dengan kesehatan bank dan perbandingan Analisis CAMELS dan RGEC dalam menilai tingkat kesehatan bank.

b. Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh peneliti selanjutnya untuk dijadikan sebagai referensi penelitian yang menyangkut topik dalam penelitian ini.

c. Bagi Bank

Bank dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai pertimbangan untuk melakukan evaluasi terhadap kinerjanya dan menentukan strategi yang tepat kedepannya.

d. Masyarakat dan Para Pengguna Informasi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi atau wawasan kepada masyarakat tentang tingkat kesehatan beberapa bank. Sehingga menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan bank yang tepat untuk mempercayakan dananya. Juga diharapkan dapat memberikan wacana alternatif bagi para pemakai laporan keuangan dan praktisi penyelenggara perusahaan dalam memahami faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatan bank

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Lembaga Keuangan Bank

Dalam kegiatan ekonomi, transaksi antara pihak yang mengalami surplus uang dengan pihak yang memerlukan tambahan uang tidak hanya dapat dilaksanakan dengan pertemuan langsung. Kehadiran pihak perantara, baik dalam pengertian lembaga maupun pengertian fisik, menjadi sesuatu yang sangat penting. Perantara ini lebih dikenal dengan istilah Lembaga Keuangan.

Menurut Surat Keputusan Menteri Keuangan. Republik Indonesia No.

792 Tahun 1990 tentang Lembaga Keuangan, lembaga keuangan diberi batasan sebagai semua badan yang kegiatannya di bidang keuangan, melakukan penghimpunan dana dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan.

Lembaga keuangan dapat dikelompokkan dalam dua bentuk, yaitu bank dan bukan bank. Perbedaan utama kedua lembaga tersebut terletak pada penghimpunan dana. Bank dapat menghimpun dana baik secara langsung maupun secara tidak langsung dari masyarakat, sedangkan lembaga keuangan bukan bank hanya dapat menghimpun dana secara tidak langsung dari masyarakat.

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002), “Bank adalah suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary)

8 antara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana (surplus unit) dengan pihak-pihak yang memerlukan dana (deficit unit), serta sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran”.

Fungsi utama bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan atau sebagai financial intermediary.

Secara lebih spesifik bank dapat berfungsi sebagai:

a. Agent of Trust

Dasar utama kegiatan perbankan adalah kepercayaan (Trust), baik dalam hal penghimpunan dana maupun penyaluran dana. Masyarakat akan mau menitipkan dananya di bank apabila dilandasi unsur kepercayaan. Pihak bank sendiri akan mau menempatkan atau menyalurkan dananya pada debitur atau masyarakat apabila dilandasi adanya unsur kepercayaan.

b. Agent of Development

Kegiatan bank berupa penghimpunan dan penyaluran dana sangat diperuntukkan bagi lancarnya kegiatan perekonomian di sektor riil.

Kegiatan bank tersebut memungkinkan masyarakat melakukan kegiatan investasi, kegiatan distribusi, serta kegiatan konsumsi barang dan jasa, mengingat bahwa kegiatan investasi-distribusi-konsumsi tidak dapat dilepaskan dari adanya penggunaan uang. Kelancaran kegiatan investasi-distribusi-konsumsi ini tidak lain adalah kegiatan pembangunan perekonomian suatu masyarakat.

9 c. Agent of services

Bank juga menawarkan jasa jasa pengiriman uang, penitipan barang berharga, pemberian jaminan bank, dan penyelesaian tagihan di samping melakukan kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana. Jasa ini erat kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat secara umum.

2.1.2 Laporan Keuangan

Menurut Kasmir (2014), laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu.

Menurut Munawir (2002), laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil operasi yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan.

Menurut Bambang (2012), Laporan Finansial (Financial Statement) memberikan ikhtisar mengenai keadaan finansial suatu perusahaan, dimana Neraca (Balance Sheets) mencerminkan nilai aktiva, utang dan modal sendiri pada suatu saat tertentu, dan laporan Rugi dan Laba (Income Statement) mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama periode tertentu, biasanya meliputi periode satu tahun.

Dibuatnya laporan keuangan oleh suatu perusahaan tentunya memiliki tujuan dan manfaat.

Menurut Kasmir (2014), laporan keuangan bertujuan untuk :

10 a. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang

dimiliki perusahaan pada saat ini.

b. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini.

c. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh pada suatu periode tertentu.

d. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu.

e. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap aktiva, pasiva, dan modal perusahaan.

f. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.

g. Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan

Manfaat yang diperoleh dari pembuatan laporan keuangan seperti dikemukakan oleh Fahmi (2012), yang menyatakan bahwa: “Dengan adanya laporan keuangan yang disediakan pihak manajemen perusahaan maka sangat membantu pihak pemegang saham dalam proses pengambilan keputusan, dan sangat berguna dalam melihat kondisi pada saat ini maupun dijadikan sebagai alat untuk memprediksi kondisi masa yang akan datang”.

2.1.3 Tingkat Kesehatan Bank

2.1.3.1 Pengertian Tingkat Kesehatan Bank

Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor: 13/ 1 /PBI/2011 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, Tingkat Kesehatan Bank adalah hasil penilaian kondisi Bank yang dilakukan terhadap risiko dan kinerja Bank.

11 Kesehatan Bank harus dipelihara dan/atau ditingkatkan agar kepercayaan masyarakat terhadap Bank dapat tetap terjaga. Selain itu, Tingkat Kesehatan Bank digunakan sebagai salah satu sarana dalam melakukan evaluasi terhadap kondisi dan permasalahan yang dihadapi Bank serta menentukan tindak lanjut untuk mengatasi kelemahan atau permasalahan Bank, baik berupa corrective action oleh Bank maupun supervisory action oleh Bank Indonesia.

Bank wajib melakukan penilaian sendiri (self assessment) atas Tingkat Kesehatan Bank. Penilaian sendiri (self assessment) Tingkat Kesehatan Bank dilakukan paling kurang setiap semester untuk posisi akhir bulan Juni dan Desember.

2.1.3.2 Peringkat Komposit (Composite Rating)

Peringkat Komposit adalah peringkat akhir hasil penilaian Tingkat Kesehatan Bank. Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor:

13/ 1 /PBI/2011 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, Peringkat Komposit ditetapkan sebagai berikut:

a. Peringkat Komposit 1 (PK-1), mencerminkan kondisi Bank yang secara umum sangat sehat sehingga dinilai sangat mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.

b. Peringkat Komposit 2 (PK-2), mencerminkan kondisi Bank yang secara umum sehat sehingga dinilai mampu menghadapi

12 pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.

c. Peringkat Komposit 3 (PK-3), mencerminkan kondisi Bank yang secara umum cukup sehat sehingga dinilai cukup mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.

d. Peringkat Komposit 4 (PK-4), mencerminkan kondisi Bank yang secara umum kurang sehat sehingga dinilai kurang mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.

e. Peringkat Komposit 5 (PK-5), mencerminkan kondisi Bank yang secara umum tidak sehat sehingga dinilai tidak mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.

Peringkat Komposit Tingkat Kesehatan Bank ditetapkan berdasarkan analisis secara komprehensif dan terstruktur terhadap peringkat setiap faktor dengan memperhatikan materialitas dan signifikansi masing-masing faktor.

2.1.4 Metode CAMELS

Penggunaan metode CAMELS Capital, Assets Quality, Management, Earning, Liquidity, Sensitivity to Market Risk) untuk menilai tingkat kesehatan bank awalnya diatur dalam peraturan Bank Indonesia nomor

13 6/10/PBI/2004 tentang sistem penilaian tingkat kesehatan bank sebelum digantikan oleh metode RGEC.

2.1.4.1 Capital

Modal merupakan faktor penting dalam upaya mengembangkan usaha. Ketentuan pemenuhan permodalan minimum bank disebut Capital Adequacy Ratio (CAR). CAR adalah kecukupan modal yang menunjukkan kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang mencukupi dan kemampuan manajemen bank dalam mengidentifikasi, mengukur, mengawasi, dan mengontrol risiko-risiko yang timbul yang dapat berpengaruh terhadap besarnya modal bank (Kuncoro dan Suhardjono, 2002). Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia melalui Surat Edaran No. 14/37/DPNP bahwa bank yang dinyatakan termasuk sebagai bank yang sehat harus memiliki CAR minimum sebesar 8%. Rumus untuk menghitung Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah:

2.1.4.2 Assets Quality

Aktiva produktif adalah penanaman dana bank baik dalam Rupiah maupun valuta asing dalam bentuk pembiayaan, piutang, surat berharga, penempatan, penyertaan modal, penyertaan modal sementara, komitmen dan kontijensi pada transaksi rekening administratif. Kualitas aktiva produktif bank yang sangat jelek secara implisit akan menghapus modal bank. Walaupun secara riil bank

14 memiliki modal yang cukup besar, apabila kualitas aktiva produktifnya sangat buruk dapat saja kondisi modalnya menjadi buruk pula. Hal ini antara lain terkait dengan berbagai permasalahan seperti pembentukan cadangan, penilaian aset, pemberian pinjaman kepada pihak terkait, dan sebagainya.

Penilaian didasarkan kepada kualitas aktiva produktif yang dimiliki oleh suatu Bank yang diukur dengan 2 macam yaitu :

1. Rasio aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap aktiva produktif.

2. Rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif terhadap aktiva produktif yang diklasifikasikan.

NPL (Non Performing Loan) merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Standar kriteria yang ditetapkan Bank Indonesia dalam menjalankan kegiatan operasinya dengan baik jika NPL dibawah 5%. NPL dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah kredit yang bermasalah dibandingkan dengan total kredit.

Berikut rumus NPL sesuai dengan SE BI Nomor 07/ 10/DPNP tanggal 31 Maret 2005

15 2.1.4.3 Management

Tingkat kesehatan bank berdasar pada aspek manajemen dengan rasio Net Profit Margin (NPM). Hal ini berdasarkan pada seluruh kegiatan manajemen suatu bank yang mencakup manajemen umum, manajemen risiko dan kepatuhan bank yang mempengaruhi perolehan laba. Net Profit Margin dihitung dengan membagi Net Income atau laba bersih dengan Operating Income atau laba usaha.

Berikut rumus untuk menghitung Net Profit Margin menurut Muljono (1992):

2.1.4.4 Liquidity

LDR (Loan to Deposit Ratio) digunakan untuk menilai likuiditas suatu bank dengan cara membagi jumlah kredit yang diberikan oleh bank terhadap dana pihak ketiga. Rasio ini untuk mengetahui kemampuan bank dalam membayar kembali kewajiban kepada para nasabah yang telah menanamkan dana dengan kredit-kredit yang telah diberikan kepada para debiturnya.

Berikut rumus untuk menghitung LDR menurut Santoso dan Triandaru (2006) :

16 2.1.4.5 Sensitivity to Market Risk

Penilaian rasio sensitivitas terhadap risiko pasar didasarkan pada Interest Expense Ratio (IER). Rasio ini merupakan ukuran atas biaya dana yang dikumpulkan oleh bank yang dapat menunjukkan efisiensi bank didalam mengumpulkan sumber-sumber dananya.

Interest Expense Ratio (IER) semakin besar rasio akan semakin buruk, jika semakin kecil akan semakin baik. Standar kriteria oleh Bank Indonesia dinilai sehat jika rasio beban bunga dibawah 5%.

Berikut rumus untuk menghitung Interest Expense Ratio :

2.1.5 Metode RGEC

Sesuai PBI No. 13/1/PBI/2011 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, Bank Indonesia telah menetapkan sistem penilaian Tingkat Kesehatan Bank berbasis risiko menggantikan penilaian CAMELS. Metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital) ini berlaku secara efektif sejak tanggal 1 Januari 2012 yaitu untuk penilaian tingkat kesehatan bank periode yang berakhir 31 Desember 2011 dan sekaligus mencabut PBI No. 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dan SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dengan metode CAMELS.

17 Faktor – faktor penilai dalam metode RGEC digolongkan kedalam 4 faktor yaitu Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings, dan Capital.

2.1.5.1 Risk Profile

Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 Pasal 7 Profil risiko (risk profile) merupakan penilaian terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam operasional bank yang dilakukan terhadap 8 risiko, yaitu: risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan dan, risiko reputasi.

a. Penilaian Risiko Inheren

Penilaian Risiko Inheren merupakan penilaian risiko yang melekat pada kegiatan bisnis bank, baik yang dapat dikuantifikasikan maupun yang tidak, yang berpotensi mempengaruhi posisi keuangan bank. Inheren risk dapat berupa parameter yang bersifat ex-post (telah terjadi) maupun parameter yang bersifat ex-ante (belum terjadi). Penetapan tingkat Risiko Inheren atas masing-masing jenis risiko mengacu pada prinsip-prinsip umum penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.

Penetapan tingkat risiko Inheren untuk masing-masing jenis risiko dikategorikan ke dalam peringkat 1 (low), peringkat 2 (low to moderate), peringkat 3 (moderate), peringkat 4 (moderate to high), dan peringkat 5 (high). Berikut ini adalah

18 parameter/indikator yang wajib dijadikan acuan oleh bank dalam menilai Risiko Inheren:

1. Risiko Kredit

Risko Kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan/pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank.

Dalam menilai Risiko Inheren atau Kredit, parameter/indikator yang digunakan adalah komposisi portofolio aset dan tingkat konsentrasi, kualitas penyediaan dana dan kecukupan pencadangan, strategi penyediaan dana dan sumber timbulnya penyediaan dana, dan faktor eksternal.

Indikator yang digunakan dalam mengukur risiko kredit adalah Non Performing Loan (NPL). NPL merupakan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah dibandingkan dengan total kredit yang diberikan bank. Fungsi mengukur rasio ini adalah untuk mengetahui besarnya kredit bermasalah bank, sebagai acuan agar lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit. NPL dihitung dengan rumus:

19 2. Risiko Pasar

Risiko pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga option. Risiko pasar meliputi antara lain risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko ekuitas, dan risiko komoditas. Dalam menilai Risiko Inheren dalam Risiko Pasar, parameter/indikator yang digunakan adalah volume dan komposisi portofolio, kerugian potensial (potential loss) risiko suku bunga dalam Banking Book (interest rate risk in banking book), strategi dan kebijakan bisnis.

Risiko bunga adalah potensi timbulnya kerugian akibat bergeraknya suku bunga pasar ke arah yang berlawanan dengan ekspektasi posisi portofolio bank. Indikator yang digunakan untuk mengukur risiko pasar adalah rasio Interest Rate Risk (IRR) berdasarkan SE BI 13/24/DPNP/2011 dengan rumus:

Menurut Indrawati (2008) bank yang memiliki rasio IRR di atas 100% adalah bank yang mampu mengoperasikan dana hutang yang diterima oleh nasabah , baik dalam bentuk giro, deposito, ataupun dana pihak ketiga, sehingga risiko tingkat bunganya akan meningkat.

20 Tabel 2 - 1

Klasifikasi Aktiva Dan Pasiva Berdasarkan Sensitivitas Suku Bunga

No RSA

(Rate Sensitive Asset)

RSL

(Rate Sensitive Liabilities) 1 Surat berharga Bank

Indonesia

Giro 2 Giro pada bank lain Tabungan

3 Obligasi penyertaan Sertifikat deposito 4 Obligasi pemerintah Deposito berjangka 5 Penempatan pada bank lain Simpanan dari bank lain 6 Surat-surat berharga Pinjaman yang diterima 7 Kredit yang diberikan -

8 Penyertaan -

Sumber: Rifai dkk (2007) 3. Risiko Likuiditas

Risiko Likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas, dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank. Risiko ini disebut juga Risiko Likuiditas Pendanaan (Funding Liquidity Risk). Risiko likuiditas juga dapat disebabkan oleh ketidakmampuan bank melikuidasi aset tanpa terkena diskon yang material karena tidak adanya pasar aktif atau adanya gangguan pasar (market disruption) yang parah.

Risiko ini disebut juga Risiko Likuiditas Pasar (Market Liquidity Risk). Dalam menilai risiko inheren atas risiko likuiditas, parameter/indikator yang digunakan adalah komposisi dari aset,

21 kewajiban, dan transaksi rekening administratif, konsentrasi dari aset dan kewajiban, kerentanan pada kebutuhan pendanaan, dan akses pada sumber-sumber pendanaan.

Indikator yang digunakan untuk mengukur rasio likuiditas adalah Loan to Deposit Ratio (LDR) yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima bank.

Menurut Dendawijaya (2001) Loan to Deposit Ratio (LDR) menyatakan seberapa jauh kemampuan bank untuk membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Dengan kata lain, seberapa jauh pemberian kredit kepada nasabah, kredit dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah digunakan oleh bank untuk memberikan kredit. Rasio ini juga merupakan indikator kerawanan dan kemampuan dari suatu bank.

Semakin tinggi Loan to Deposit Ratio (LDR) maka laba perusahaan semakin meningkat (dengan asumsi bank tersebut mampu menyalurkan kredit dengan efektif, sehingga jumlah kredit macetnya akan kecil).

22 Nilai LDR dapat ditentukan melalui suatu formula yang ditentukan oleh Bank Indonesia melalu Surat Edaran Bank Indonesia No. 3/30/DPNP Tanggal 14 Desember 2001 yaitu:

4. Risiko Operasional

Risiko Operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya eksternal yang mempengaruhi operasional bank. Dalam menilai Risiko Inheren atas risiko operasional, parameter/indikator yang digunakan adalah, karakteristik dan kompleksitas bisnis, sumber daya manusia, teknologi informasi dan infrastruktur pendukung, fraud baik internal maupun eksternal, dan kejadian eksternal.

5. Risiko Hukum

Risiko Hukum adalah risiko yang timbul akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini juga dapat timbul antara lain karena ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendasari atau kelemahan perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak atau agunan yang tidak memadai. Dalam menilai risiko inheren atas risiko pasar, parameter/indikator yang

23 digunakan adalah faktor litigasi, faktor kelemahan perikatan, dan faktor ketiadaan /perubahan perundang-undangan.

6. Risiko Stratejik

Risiko Stratejik adalah adalah risiko akibat ketidaktepatan bank dalam mengambil keputusan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Dalam menilai risiko inheren atas risiko stratejik, parameter/indikator yang digunakan adalah kesesuaian strategi bisnis bank dengan lingkungan bisnis, strategi berisiko rendah dan berisiko tinggi, posisi bisnis bank dan pencapaian rencana bisinis bank.

7. Risiko Kepatuhan

Risiko kepatuhan adalah risiko yang timbul akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku. Sumber risiko kepatuhan antara lain timbul karena kurangnya pemahaman atau kesadaran hukum terhadap ketentuan ataupun standar bisnis yang berlaku umum. Dalam menilai risiko inheren atas risiko kepatuhan, parameter/indikator

24 yang digunakan adalah jenis dan signifikasi pelanggaran yang dilakukan, frekuensi pelanggaran yang dilakukan atau track record ketidakpatuhan bank, dan pelanggaran terhadap ketentuan atau standar bisnis yang berlaku umum untuk transaksi keuangan tertentu.

8. Risiko Reputasi

Risiko Reputasi adalah risko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam mengkategorikan sumber risiko reputasi bersifat tidak langsung (blow the line) dan bersifat langsung (above the line). Dalam menilai risiko inheren atas risiko reputasi, parameter/indikator yang digunakan adalah pengaruh reputasi negatif dari pemilik bank dan perusahaan terkait, pelanggaran etika bisnis, kompleksitas produk dan kerjasama bisnis bank, frekuensi, materialitas, dan eksposur pemberitaan negatif bank, serta frekuensi dan materialitas keluhan nasabah.

Penelitian ini mengukur faktor Risk Profile dengan menggunakan tiga indikator yaitu faktor risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas. Hal tersebut dikarenakan pada risiko diatas peneliti dapat memperoleh data kuantitatif yang tidak dapat diperoleh

25 pada faktor risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan dan risiko reputasi.

b. Penilaian Kualitas Penerapan Manajemen Risiko

Penilaian Kualitas Penerapan Manajemen Risiko mencerminkan penilaian terhadap kecukupan sistem pengendalian risiko yang mencakup seluruh pilar penerapan manajemen risiko sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai penerapan manajemen risiko bagi bank umum. Penilaian Kualitas Penerapan manajemen Risiko bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan manajemen risiko bank sesuai prinsip-prinsip yang diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai penerapan manajemen risiko bagi bank umum. Penilaian kualitas penerapan manajemen risiko merupakan penilaian terhadap empat aspek yang saling terkait, yaitu:

1. Tata Kelola Risiko

Tata kelola risiko mencakup evaluasi terhadap perumusan tingkat risiko yang akan diambil (risk appetite) dan toleransi risiko (risk tolerance) serta kecukupan pengawasan aktif oleh Dewan Komisaris dan Direksi termasuk pelaksanaan kewenangan dan tanggungjawab Dewan Komisaris dan Direksi.

2. Kerangka Manajemen Risiko

Kerangka manajemen risiko mencakup evaluasi terhadap strategi manajemen risiko searah dengan tingkat risiko yang

26 akan diambil dan toleransi risiko, kecukupan perangkat organisasi dalam mendukung terlaksananya manajemen risiko secara efektif termasuk kejelasan wewenang dan tanggungjawab, dan kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit.

3. Proses Manajemen Risiko, Kecukupan Sumber Daya Manusia, dan Kecukupan Sumber Informasi Manajemen

Proses manajemen risiko, kecukupan sumber daya manusia, dan kecukupan sumber informasi manajemen mencakup evaluasi terhadap proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko, kecukupan sistem informasi manajemen, serta kecukupan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia dalam mendukung efektivitas proses manajemen risiko.

4. Kecukupan Sistem Pengendalian Manajemen

Kecukupan sistem pengendalian manajemen mencakup evaluasi terhadap kecukupan sistem pengendalian intern dan kecukupan kaji ulang oleh pihak independen (independent review) dalam bank baik oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR) maupun oleh Satuan Kerja Audit Intern (SKAI).

2.1.5.2 Good Corporate Governance (GCG)

Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor: 13/1/PBI/2011 Pasal 7 ayat 2 penilaian terhadap faktor GCG sebagaimana dimaksud dalam

27 pasal 6 huruf b merupakan penilaian terhadap manajemen bank atas prinsip-prinsip GCG. Adapun prinsip-prinsip GCG tersebut diantaranya: keterbukaan, akuntabilitas, tanggungjawab, independensi

27 pasal 6 huruf b merupakan penilaian terhadap manajemen bank atas prinsip-prinsip GCG. Adapun prinsip-prinsip GCG tersebut diantaranya: keterbukaan, akuntabilitas, tanggungjawab, independensi

Dokumen terkait