BAB I PENDAHULUAN
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.5.2 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat menambah wawasan dan gambaran dalam bagi pembaca karya sastra mengenai struktur pembangun novel “Murder at Shijinso” karya Imamura Masahiro.
2. Dapat memberikan pengkajian dan pengapresiasikan terhadap karya sastra dalam penggunaan pendekatan objektif.
12 1.6 Metode Penelitian
Dalam skripsi ini penulis menggunakan metode deskriptif. Menurut Nasir dalam Tantawi (2017:66) metode deskriptif adalah berupaya mendeskripsikan tentang situasi atau kejadian, gambaran, lukisan, secara sistematis, faktual, akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan anatara fenomena dengan fenomena pada objek diteliti.
Dalam penelitian ini akan dianalisis dan dijelaskan tentang masalah-masalah yang ada dalam novel “Murder at Shijinso” dengan menggunakan teori-teori yang sudah dipaparkan di atas. Dalam penelitian penulis juga menggunakan teknik pengumpulan data-data dengan metode studi kepustakaan (library research), pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara mengumpulkan dan menganalisis bahan-bahan penelitian dari skripsi dan buku yang menjadi refrensi dalam penelitian ini. Selain itu data juga dapat diperoleh melalui situs-situs internet.
Dalam melakukan penelitian ini penulis akan memaparkan langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Membaca novel yang merupakan sumber dari data penelitian.
2. Menentukan teori yang digunakan.
3. Menentukan metode pengumpulan data berdasarkan pada cuplikan atau dialog yang berhubungan dengan unsur-unsur instrinsik pada novel.
4. Menganalisis novel dengan cara mengambil beberapa cuplikan yang ada di dalam novel.
13
5. Membuat kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan.
14 BAB II
TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL “MURDER AT SHIJINSO”
KARYA IMAMURA MASAHIRO DAN KAJIAN STRUKTURAL
2.1 Definisi Novel
Sebagai bagian dari sastra, novel telah menarik banyak perhatian dan minat banyak kalangan terutama dari kalangan muda. Novel merupakan sebuah karya fiksi yang menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan dan dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur instrinsiknya seperti peristiwa, alur, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain yang semuanya juga bersifat imajinatif (Nurgiyantoro, 2019: 5). Selain itu Aziez dan Hasim (2010: 7) berpendapat novel merupakan sebuah genre sastra yang memiliki bentuk utama prosa yang menggambarkan kehidupan nyata dalam suatu plot yang cukup kompleks.
Dalam hal ini novel dijelaskan sebagai sebuah karya sastra berbentuk fiksi yang melibatkan imajinasi dan kehidupan yang dialami oleh pengarang itu sendiri dan dituangkan kedalam bentuk cerita, yang disusun melalui unsur-unsur instrinsik novel itu sendiri.
Nurgiyantoro (2019: 19-22) membagi novel menjadi dua yaitu novel serius dan novel populer. Novel serius adalah novel yang hanya populer pada masanya dan banyak penggemarnya, terutama dikalangan para remaja. Novel ini menampilkan masalah-masalah yang aktual dan selalu mengikuti zaman keluarnya novel tersebut, tetapi hanya pada tingkat permukaannya saja. Novel
15
populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan secara intens. Novel serius adalah novel yang menceritakan pengalaman dan permasalahan kehidupan yang dijelaskan sampai ke inti hakikat kehidupan yang universal.
Selain memberikan hiburan, novel serius juga bertujuan memberikan pengalaman berharga atau paling tidak mengajak pembaca untuk meresapi dan merenungkan secara lebih tentang permasalahan yang diangkat.
Novel “Murder at Shijinso” termasuk kedalam novel populer, karena novel ini membawa permasalahan yang ringan dan mengikuti zaman serta disukai oleh para kalangan remaja. Meskipun novel ini termasuk kedalam novel populer akan tetapi novel ini juga memiliki amanat-amanat yang terkandung didalamnya.
2.2 Unsur-unsur Instrinsik Novel
2.2.1 Tema
Istilah tema menurut Scharbach berasal dari bahasa Latin yang berarti
‘tempat meletakkan suatu perangkat’. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang untuk memaparkan karya fiksi yang diciptakannya (Aminuddin, 2000: 91).
Menurut Aminuddin dalam Siswanto (2008: 161) tema adalah ide yang mendasari suatu cerita. Tema berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang diciptakannya. Tema merupakan
16
kaitan hubungan antara makna dengan tujuan pemaparan prosa oleh pengarangnnya.
Brooks menjelaskan bahwa dalam mengapresiasikan tema suatu cerita apresiator harus memahami ilmu-ilmu humanis karena tema merupakan pendalaman dan hasil perenungan pengarang yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan dan masalah lain yang bersifat universal. Dalam hal ini tema tidaklah berada di luar cerita tetapi berada di dalamnya. Akan tetapi meskipun termasuk kedalam cerita tidaklah terumus dalam satu atau dua kalimat tetapi tersebar dibalik unsur-unsur yang signifikan atau media pemapar prosa (Aminuddin, 2000: 92).
Berdasarkan beberapa pendapat yang diuraikan maka dapat disimpulkan bahwa tema adalah ide pokok atau gagasan utama yang menjadi pondasi suatu cerita pada karya sastra. Untuk mengetahui sebuah tema tentu tidaklah mudah. Karena dalam mengetahui sebuah tema, seorang pembaca harus tahu isi atau kesimpulan dari seluruh cerita yang dibuat oleh pengarang.
Novel “Murder at Shijinso” ini mengangkat tema misteri pembunuhan di vila Shijinso.
2.2.2 Alur
Menurut Abrams alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan para pelaku dalam suatu cerita (Siswanto, 2008: 159).
17
Pendapat ini juga sejalan dengan Nurgiyantoro yang mengatakan bahwa alur adalah berbagai peristiwa yang diseleksi dan diurutkan berdasarkan hubungan sebab akibat untuk mencapai efek tertentu dan sekaligus membangkitkan suspense dan surprise pada pembaca. Plot atau alur juga merupakan cerminan atau perjalanan tingkah laku para tokoh dalam bertindak, berpikir, berasa, dan bersikap dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan (2019: 168-169).
Montage dan Hensaw dalam Aminuddin (2000: 84) menjelaskan tahapan peristiwa dalam alur suatu cerita tersusun dalam beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Exposition, yaitu tahap awal yang berisi penjelasan tentang tempat terjadinya peristiwa serta perkenalan dari setiap pelaku yang mendukung cerita.
b. Inciting Force, yaitu tahap ketika timbul kekuatan, kehendak maupun prilaku yang bertentangan dari pelaku.
c. Rising Action, yaitu situasi menjadi karena pelaku-pelaku dalam cerita mulai berkonflik.
d. Crisis, yaitu situasi semakin panas dan para pelaku sudah diberi gambaran nasib oleh pengarangnya.
e. Climax, yaitu situasi puncak ketika konflik berada dalam kadar yang paling tinggi hingga para pelaku itu mendapatkan kadar nasibnya sendiri-sendiri.
18
f. Falling Action, yaitu kadar konflik sudah menurun hingga ketegangan dalam cerita mulai mereda sampai menuju conclusion atau penyelesaian cerita.
Nurgiyantoro (2019: 213-215) menjelaskan alur terbagi menjadi tiga jenis yaitu sebagai berikut:
1. Alur maju (Progresif), yaitu jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis yang menyebabkan terjadinya sebab akibat. Secara runtut cerita hal ini dimulai dari tahap awal (penyituasian, pengenalan, pemunculan konflik), tengah (konflik meningkat, klimaks), dan akhir (penyelesaian).
2. Alur mundur (Flashback), yaitu urutan alur dalam karya fiksi tidak bersifat kronologis. Cerita tidak dimulai dari tahap awal, melainkan mungkin dari tahap tengah atau bahkan tahap akhir, baru kemudian tahap awal dikisahkan.
3. Alur campuran, yaitu urutan alur bersifat kronologis akan tetapi sering adanya adegan-adegan yang bersifat kilas balik.
Berdasarkan uraian-uraian diatas novel “Murder at Shijinso” memiliki urutan cerita yang berurutan dimulai dari Exposition sampai Falling Action dan memiliki alur campuran.
2.2.3 Penokohan
19
Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh disebut penokohan (Aminuddin, 2000: 79).
Penokohan sering juga disamakan artinya dengan karakter dan perwatakan menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak tertentu dalam sebuah cerita.
Jones dalam Nurgiyantoro mengemukakan penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Istilah “penokohan” lebih luas pengertiannya daripada “tokoh” dan
“perwatakan” sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan dan bagaimana penempatan atau pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas pada pembaca. Penokohan juga kadang menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam cerita (2019:247- 248).
Tokoh dapat dibedakan berdasarkan dari segi peran dan pentingnya seorang tokoh dalam cerita yaitu:
1. Tokoh Utama
Tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan.
Baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.
2. Tokoh Tambahan
20
Tokoh yang jarang sekali muncul dalam cerita. Tokoh ini sering sekali digunakan sebagai pelengkap dalam cerita dan kemunculannya hanya ketika ada hubungan dengan tokoh utama baik itu langsung atau tidak.
Dilihat berdasarkan dari segi fungsinya Nurgiyantoro membagi tokoh dalam cerita menjadi dua yaitu:
1. Tokoh Protagonis
Tokoh yang paling dikagumi dan membawa nilai-nilai yang ideal bagi pembaca.
2. Tokoh Antagonis
Tokoh yang menyebabkan konflik dalam cerita dan memiliki sifat yang berlawanan dengan tokoh protagonis.
Dalam novel “Murder at Shijinso” banyak sekali tokoh yang terlibat tetapi tokoh utama dalam novel ini adalah Hamura Yuzuru karena hampir semua konflik dalam novel melibatkan dia.
2.2.4 Latar
Latar atau Setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisik dan psikologis.
Setting dalam karya fiksi bukan hanya berupa tempat, waktu, peristiwa, suasana serta benda-benda dalam lingkungan tertentu, melainkan juga dapat berupa suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka,
21
maupun gaya hidup masyarakat dalam menanggapi suatu problema tertentu (Aminuddin, 2000: 67-68).
Kenny dalam Siswanto (2008: 149) mengungkapkan cakupan latar cerita dalam cerita fiksi yang meliputi penggambaran lokasi geografis, pemandangan, perincian perlengkapan sebuah ruangan, pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya, musim terjadinya sebuah tahun, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional para tokoh.
Nurgiyantoro (2019: 314) menjelaskan bahwa latar dibedakan kedalam tiga jenis yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.
1. Latar tempat
Latar tempat menunjukkan terjadinya peristiwa tertentu yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang digunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama yang jelas.
Penggunaan latar tempat dengan nama-nama tertentu haruslah mencerminkan, atau paling tidak, tidak bertentangan dengan sifat dan keadaan geografis tempat yang bersangkutan.
Dalam novel “Murder at Shijinso” latar tempat yang digunakan ada banyak tetapi yang paling sering digunakan dan menjadi tempat awal mula konflik adalah Vila Shijinso.
2. Latar Waktu
22
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadi peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual dan waktu yang dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah.
Latar waktu dalam novel “Murder at Shijinso” adalah akhir bulan Agustus dan musim panas.
3. Latar Sosial
Latar sosial menunjukkan pada hal-hal yang berhubungan dengan prilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Hal tersebut dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap.
Latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan misalnya rendah, menengah, atau atas.
Latar sosial dalam novel “Murder at Shijinso” adalah kehidupan sosial masyarakat Jepang pada umumnya seperti kepercayaan terhadap jimat dan hal-hal gaib. Selain itu adanya perbedaan status sosial antar tokoh. Seperti Nanamiya Kanemitsu yang merupakan orang kaya dan anak pemilik dari Vila Shijinso, berbeda dengan para tokoh yang lain yang rata-rata semuanya berasal dari kalangan menengah dan bawah.
23 2.2.5 Sudut Pandang
Menurut Siswanto sudut pandang adalah tempat pengarang memandang ceritanya. Dari tempat itulah pengarang bercerita tentang tokoh, peristiwa, tempat, waktu dengan gayanya sendiri (2008: 151).
Nurgiyantoro (2019: 346) membagi sudut pandang menjadi tiga yaitu:
1. Sudut pandang persona ketiga “Dia”
Penggunaan cerita dengan sudut pandang ketiga , gaya “dia”.
Pengarang adalah seseorang yang tidak terlibat atau berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama atau kata gantinya seperti ia, dia, mereka.
2. Sudut pandang persona pertama “Aku”
Penggunaan cerita dengan sudut pandang pertama, gaya “aku”.
Pengarang adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah “aku” tokoh yang mengisahkan kesadarannya sendiri, mengisahkan peristiwa dan tindakan yang diketahui atau dialaminya sendiri serta sikapnya terhadap tokoh lain terhadap pembaca.
3. Sudut pandang campuran
Penggunaan sudut pandang lebih dari satu teknik. Pengarang dapat berganti-ganti dari teknik yang satu ke teknik yang lain tergantung dari cerita yang dituliskannya.
24
Sudut pandang pada novel “Murder at Shijinso” menggunakan sudut pandang persona pertama “Aku”. Pengarang ikut terlibat dalam cerita yang diceritakan.
2.2.6 Amanat
Amanat adalah gagasan atau pokok pikiran yang mendasari karya sastra, pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar (Siswanto, 2008: 162).
Dilihat dari pendapat diatas bisa dikatakan bahwa amanat adalah pesan moral dan nilai-nilai positif yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita yang ia sampaikan kepada pembaca.
2.3 Pendekatan Struktural dalam Karya Sastra
Menurut Satoto (1993 : 32) pendekatan struktural adalah suatu pendekatan dalam ilmu sastra yang cara kerjanya menganalisis unsur-unsur struktur yang membangun karya sastra dari dalam, serta mencari relevansi atau keterkaitan unsur-unsur tersebut dalam rangka mencapai kebulatan makna. Pendekatan struktural merupakan pendekatan intrinsik yakni membicarakan karya tersebut pada unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam.
Menurut Teeuw analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makan menyeluruh (Siswanto, 2008: 185). Nurgiyantoro
25
berpendapat bahwa strukturalisme dipandang sebagai salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan kajian hubungan antarunsur intrinsik pembangun karya yang bersangkutan dan analisis struktural karya sastra dalam hal ini fiksi, mesti fokus pada unsur-unsur instrinsik pembangunnya. Ia dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur instrinsik yang bersangkutan.
Dengan pendekatan struktural penulis dapat menganalisis dan mengidentifikasi unsur-unsur instrinsik pada karya sastra. Sehingga penulis bisa mengetahui fungsi dan keterkaitan antar unsur instrinsik tersebut.
2.4 Biografi Pengarang
Imamura Masahiro (今村昌弘) lahir di Nagasaki pada tahun 1985. Setelah lulus dari fakultas kedokteran Universitas Okayama, dia bekerja di bidang radiografi sambil menulis novelnya. Pada usia yang ke-29, dia berhenti bekerja, dan berfokus untuk menyelesaikan novelnya.
Pada tahun 2017, Murder at Shijinso menyabet posisi pertama dalam penghargaan Ayuka Tetsuya Award yang merupakan acara tahunan untuk novel misteri yang tidak diterbitkan di Jepang. Didirikan pada tahun 1990 oleh Tokyo Sogensha , penerbit Jepang yang terutama menerbitkan buku-buku bergenre fiksi . Novel pemenang diterbitkan oleh penerbit dan pemenang menerima patung Arthur Conan Doyle. Selain itu dia juga mendapatkan posisi pertama pada Weekly Bunshun dalam kategori novel
26
misteri terbaik pada 2017, posisi pertama pada Authentic Mistery pada tahun 2018, dan masih banyak lagi. Novel Murder at Shijinso ini memiliki judul asli dalam Bahasa Jepang yaitu 屍人荘の殺人 (Shijinso no Satsujin) lalu novel tersebut diadaptasi dan diterjemahkan ke bahasa asing. Pada tahun 2019 novel ini diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama.
2.5 Sinopsis Cerita
Ketika Akechi dan Hamura sedang nongkrong di café Akechi bertanya pada Hamura apakah dia mempunyai rencana di akhir Agustus nanti. Hamura mengatakan tidak. Akechi menjelaskan sebenarnya di liburan musim panas ini klub peneliti film akan mengadakan acara menginap. Hamura yang merupakan mahasiswa baru tidak pernah mendengar tentang klub tersebut.
Akechi pun melanjutkan bahwa klub peneliti film menyewa vila di suatu tempat, lalu merekam film hantu. Mereka berencana membuat film pendek seperti ‘Paranormal Activity’. Setelah membuat film tersebut mereka pun berencana untuk menjualnya.
Tiba-tiba Akechi memiliki ide supaya mereka berdua bergabung dengan mereka. Hamura kaget dan bertanya-tanya mengapa Akechi memaksakan hal tersebut. Dia bilang sudah tiga kali memohon dan selalu ditolak. Hamura berpikir wajar saja mereka menolak, bagaimana mungkin mereka bisa menerima orang asing untuk masuk dalam kegiatan klub mereka.
Memasuki bulan Agustus Hamura dan Akechi hampir setiap hari nongkrong di kafe sekitaran kampus. Akechi menghela nafas karena
27
permintaanya ditolak lagi. Karena hal tersebut Hamura pun mengajaknya untuk melupakan hal tersebut. Ketika mereka sedang berbedebat seorang wanita mendatangi mereka. Wanita yang tinggi, langsing, dan cantik.
Seketika mereka berdua terpana dengan kecantikannya. Wanita tersebut duduk dan memperkenalkan diri. Namanya Kenzaki Hiruko mahasiswi tingkat dua Fakultas Sastra. Kenzaki ingin bernegosiasi dengan mereka berdua perihal klub peneliti film. Dia menjelaskan alasan kenapa Akechi selalu ditolak karena tujuan utama dari acara tersebut bukanlah membuat film melainkan semacam pesta keakraban sesama anggota klub, baik laki-laki maupun perempuan. Vila tersebut ternyata dipinjamkan oleh seorang alumni klub peneliti film. Namun, karena jumlah kamar yang terbatas, tidak semua anggota bisa ikut dalam acara tersebut. Namanya saja acara menginap bersama akan tetapi acara tersebut hanya untuk orang-orang yang diundang.
Karena hal tersebut tak ada tempat untuk orang luar.
Tetapi belakangan ini keadaannya berubah. Banyak anggota klub peneliti film yang menolak untuk pergi. Penyebabnya adalah sebuah surat ancaman yang diletakkan di klub peneliti film. Isi surat tersebut adalah ‘Siapa korban persembahan tahun ini?’. Kenzaki lanjut menjelaskan sebenarnya tahun lalu ada seorang mahasiswa yang ikut acara menginap tapi berakhir bunuh diri pada akhir liburan musim panas. Sehingga anggota klub peneliti film yang tahu akan surat tersebut merasa bahwa surat tersebut adalah kutukan.
Karena kekurangan anggota, ketua klub peneliti film juga mengajak beberapa mahasiswi dari klub drama. Karena merasa pembicaraan dalam
28
negosiasi ini terlalu lancar dan menguntungkan mereka, Hamura pun menanyakan apa keuntungan untuk Kenzaki tetapi dia menolak untuk memberitahunya dan mengganggap bahwa pertukaran informasi ini sebagai persyaratan.
Hamura, Akcehi, dan Kenzaki berjanji untuk bertemu di stasiun sekitaran kampus dan pergi naik kereta. Vila yang mereka tuju terletak di Prefektur S, tepatnya di dekat Danau Sabea. Pada saat menuruni tangga peron sesaat seseorang menyapa dari belakang. Dia adalah Shindo Ayumu dan Hoshikawa Reika. Shindo adalah ketua dari klub peneliti film dan Hoshikawa adalah pacarnya. Mereka dijemput oleh Kanno Yuito. Dia adalah pengurus dari vila tersebut. Ternyata di dalam mobil sudah anggota yang ikut acara penginapan ini mereka adalah Nabari, Takagi, dan Shizuhara. Ketika sudah sampai di vila mereka disambut oleh tiga orang alumni yaitu Deme Tobio, Tatsunami Haruya, dan anak pemilik vila Nanamiya Kanemitsu.
Dihari itu juga klub peneliti film melakukan syuting film pendek mereka.
Disitu juga Hamura baru mengetahui bahwa ada anggota klub peneliti film yang lain. Mereka adalah Kudamatsu Takako seorang perempuan berpenampilan khas gyaru dan Shigemoto Mitsuru seorang lelaki bertubuh tambun. Setelah selesai syuting mereka pun melakukan pesta barbekyu yang dipersiapkan Kanno. Ketika sedang asyik menikmati pemandangan, tiba-tiba terdengar suara yang mengguncang hutan. Itu pasti Festival Musik Rock Danau Sabea. Disaat itu juga Hamura melihat tiga helicopter terbang melintasi vila mereka
29
Selesai pesta barbekyu acara uji nyali pun dimulai. Di uji nyali ini Shindo pun mengacak nomor urut untuk menentukan pasangan uji nyali. Nanamiya dan Kudamatsu, Akechi dan Shizuhara, Shindo dan Hoshikawa, Shigemoto dan Takagi, lalu Tatsunami dan Nabari, Hamura dan Kenzaki. Tempat yang menjadi tujuan uji nyali adalah kuil. Hamura dan Kenzaki mendapatkan nomor urut 4. Nanamiya dan Kudamatsu mendapatkan nomor urut 1. Setelah tim 1 pergi dilanjutkan tim 2 dengan jeda lima menit tiap tim. Setelah tim 3 pergi giliran Hamura dan Kenzaki pergi.
Ketika berjalan sekitar 15 menit. Di persimpangan jalan Hamura mendengar suara teriakan. Hamura berpikir tidak mungkin itu teriakan Akechi yang ketakutan. Tidak lama kemudian sebuah pemandangan luar biasa terlihat oleh Hamura. Dia menunjuk kearah lain kira-kira tiga ratus meter dari tempat mereka berdiri. Tampak bayangan orang-orang yang berjalan terhuyung-huyung dibawah cahaya lampu jalan yang tersebar di sana sini dan berjalan mengarah Hamura dan Kenzaki. Orang-orang itu terus melangkah jalanan yang luas itu.
Ketika Hamura mendekatinya dia diserang dan hampir digigit oleh orang-orang tersebut. Sekilas wajah mereka terlihat karena sorot lampu jalan. Wajah mereka terlihat seperti sorotan mata yang kehilangan fokus. Dari mulutnya terdengar suara geraman yang tidak jelas. Wajah dan bajunya, lengket karena noda darah yang sudah berubah kehitaman. Akan tetapi, yang paling parah adalah baunya. Bau busuk kuat yang terdiri dari campuran darah, lemak, dan entah apalagi menyerang hidung.
30
Detik itu juga Hamura merasa ini adalah bahaya. Karena nalurinya dia menarik tangan Kenzaki dan berlari sekencang mungkin dari orang-orang tersebut. Dari kejauhan Hamura melihat Shigemoto dan Takagi sedang
Detik itu juga Hamura merasa ini adalah bahaya. Karena nalurinya dia menarik tangan Kenzaki dan berlari sekencang mungkin dari orang-orang tersebut. Dari kejauhan Hamura melihat Shigemoto dan Takagi sedang