• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.4.2 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian merupakan dampak dari tercapainya tujuan dan terjawabnya rumusan masalah. Oleh sebab itu, setiap penelitian harus memberikan manfaat. Manfaat dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis.

1.4.2.1 Manfaat Teoritis

1. Memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu sastra Indonesia, terutama dalam pengkajian novel Indonesia modern dengan kajian psikologi sastra.

2. Memperluas khasanah ilmu pengetahuan terutama dalam bidang sastra Indonesia, khususnya dalam analisis novel dengan kajian psikologi sastra.

1.4.2.2 Manfaat Praktis

1. Memperluas cakrawala apresiasi pembaca umum, khususnya terhadap novel.

2. Memberikan sumbangsih kekayaan kajian sastra Indonesia 3. Menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya.

BAB II

KONSEP, TINJAUAN PUSTAKA, DAN LANDASAN TEORI 2.1 Konsep

Dalam sebuah penelitian, konsep sangat diperlukan untuk mempermudah penelitian dan memberikan gambaran yang jelas tentang hal-hal yang berhubungan atau berkaitan dengan penelitian.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2005:588) konsep memiliki arti sebagai berikut; (1) rancangan, (2) ide yang diabstrakkan dari peristiwa konkret, (3) gambaran mental dari objek, proses, atau apapun yang ada di luar bahasa, yang dipergunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Dengan kata lain, konsep merupakan unsur penelitian yang menentukan arah pemikiran.

Konsep digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan, menggambarkan, ataupun mendeskripsikan suatu topik pembahasan. Konsep yang dimaksud adalah gambaran dari objek yang akan dianalisis berupa novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dalam penelitian yang berjudul “Bentuk-bentuk Perjuangan Tokoh Utama untuk Meraih Impian dalam Novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata: Analisis Psikologi Sastra”

Berdasarkan pengertian tersebut, maka penelitian ini akan melibatkan beberapa konsep yang akan menjadi dasar pembahasan untuk selanjutnya.

2.1.1 Perjuangan

Dalam KBBI (2005:478) perjuangan diartikan sebagai berikut; (1) perkelahian dalam hal merebut sesuatu, (2) usaha yang penuh dengan kesukaran dan bahaya.

Perjuangan merupakan sebuah motivasi yang menjadi dorongan tunggal untuk meraih atau mencapai suatu keberhasilan atau superioritas untuk menggantikan perasaan inferior atau lemah. Beberapa orang berjuang meraih superioritas dengan sedikit atau tanpa memperhatikan orang lain. Tujuan mereka bersifat personal dan usaha mereka dimotivasi sebagian besar oleh perasaan inferior yang berlebihan atau munculnya inferiority complex (Feist, 2010:84).

2.1.2 Tokoh

Peristiwa dalam karya sastra seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh (Aminuddin, 2000:79).

Dalam novel terdapat tokoh-tokoh yang sangat penting di dalamnya. Pada umumnya, tokoh-tokoh yang terdapat di dalam novel hanyalah sebuah rekaan saja.

Namun, tokoh-tokoh sangat berperan dalam kesuksesan sebuah novel.

Membaca sebuah novel, biasanya kita akan dihadapkan pada sejumlah tokoh yang dihadirkan di dalamnya. Namun, dalam kaitannya dengan keseluruhan cerita, peranan masing-masing tokoh tidak sama. Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita, ada tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus menerus sehingga mendominasi sebagian besar cerita, dan sebaliknya, ada tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita, dan itu pun mungkin dalam porsi penceritaan yang relatif pendek (Nurgiyantoro, 1994:176).

Berdasarkan sudut pandang dan tinjauan, tokoh dapat dikategorikan dalam berbagai jenis penamaan.

1.Tokoh utama dan tokoh tambahan

Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Sedangkan tokoh tambahan adalah tokoh yang tidak dipentingkan dalam cerita (Nurgiyantoro, 1994:176-177).

2.Tokoh protagonis dan tokoh antagonis

Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi yang juga disebut hero.

Sedangkan tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik disebut dengan tokoh antagonis (Nurgiyantoro, 1994:178-179).

3.Tokoh sederhana dan tokoh bulat

Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat dan watak tertentu saja. Sedangkan tokoh bulat adalah tokoh yang diungkapkan berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya. Ia memiliki watak dan tingkah laku bermacam-macam (Nurgiyantoro, 1994:181-183).

4.Tokoh statis dan tokoh berkembang

Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan, sedangkan tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan (Nurgiyantoro, 1994:

188).

5.Tokoh tipikal dan tokoh netral

Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya. Sedangkan tokoh netral adalah tokoh cerita yang bereksistensi demi cerita itu sendiri (Nurgiyantoro, 1994:190-191).

2.1.3 Meraih Impian

Dalam KBBI (2005:921) meraih diartikan sebagai mencapai atau memperoleh sesuatu dengan susah payah. Meraih dapat diartikan juga sebagai suatu usaha untuk mencapai tujuan akhir. Untuk mencapai tujuan akhir tersebut dibutuhkan proses yang panjang, perjuangan yang keras, pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran.

Dalam KBBI (2005:427) impian dapat diartikan sebagai suatu hal yang sangat diinginkan. Meraih impian dilakukan manusia ketika pemikiran sudah terbuka dan sadar akan kebutuhan atau tuntunan hidup yang mau tak mau harus dipenuhi. Selain itu, meraih impian dilakukan untuk membahagiakan orang-orang terdekat. Oleh sebab itu, meraih impian merupakan suatu keinginan atau ambisi untuk mencapai tujuan utama.

2.1.4 Novel

Novel merupakan karya fiksi yang diceritakan secara panjang lebar oleh pengarang dengan menyuguhkan tokoh atau karakter, serangkaian peristiwa, serta latar.

Novel juga merupakan hasil imajinasi pengarang yang mengandung nilai-nilai estetik dan aspek-aspek kehidupan manusia.

Dalam Kamus Istilah Sastra (KIS) (2007:136) menyatakan bahwa, “Novel adalah jenis prosa yang mengandung unsur tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang dan; mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan.”

Menurut Abrams, novel merupakan sebuah karya fiksi yang menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajiner, yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, dan sudut pandang (Nurgiyantoro, 1994:4).

2.2 Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka bertujuan untuk mengetahui keaslian penelitian, karena pada dasarnya suatu penelitian berasal dari acuan yang mendasarinya. Tinjauan pustaka dilakukan sebagai titik tolak untuk mengadakan suatu penelitian. Untuk mengetahui keaslian penelitian ini, dipaparkan beberapa tinjauan pustaka yang telah dimuat dalam bentuk skripsi.

Penelitian terhadap novel SP karya Andrea Hirata pernah dilakukan oleh beberapa peneliti. Berdasarkan pengamatan penulis, novel SP sudah pernah diteliti sebelumnya oleh mahasiswi di Departemen Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara, yaitu oleh Listi Mora Rangkuti (2009) dengan judul “Sang Pemimpi Novel Karya Andrea Hirata: Analisis Sosiosastra”. Listi Mora Rangkuti mengkaji novel SP dengan pendekatan sosiosastra ini dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang nilai-nilai sosiosastra yang diperoleh dengan menguraikan unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel SP karya Andrea Hirata.

Muhamamad Heru Wibawa (2009) dari Universitas Negeri Semarang juga meneliti novel Sang Pemimpi dengan judul ”Watak dan Perilaku Tokoh Utama dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata”. Penelitiannya bertujuan untuk mendeskripsikan tipe watak dan perilaku tokoh utama dan mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi watak dan perilaku tokoh utama novel SP karya Andrea Hirata.

Novita Rihi Amalia (2010) dari Universitas Sebelas Maret dengan judul “Analisis Gaya Bahasa dan Nilai-Nilai Pendidikan Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata”.

Skripsi Novita Rihi Amalia ini dilakukan untuk menganalisis dan mengelompokkan gaya bahasa apa saja yang terdapat dalam novel SP dan menganalisis nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam novel tersebut.

Arie Effendi (2010) dari Universitas Ahmad Dahlan dengan judul “Nilai Sosial Budaya dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata: Kajian Sosiologi Sastra”.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai–nilai sosial budaya yang tercermin di dalam novel SP karya Andrea Hirata. Pada kesempatan ini, penulis mencoba mengkaji novel SP dengan judul “Bentuk-bentuk Perjuangan Tokoh Utama untuk Meraih Impian dengan analisis Psikologi Sastra”.

Selanjutnya oleh Ninin Yunita Kristanti (2012) dari Universitas Jember dengan judul “Majas dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata dan Implementasinya dalam Pengayaan Materi Pembelajaran Sastra di SMA”. Ninin Yunita Kristianti mengkaji majas yang ada dalam novel SP dengan penerapan pembelajaran sastra pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pada kesempatan ini, penulis mengkaji novel SP ini dengan judul “Bentuk-bentuk Perjuangan Tokoh Utama untuk Meraih Impian dengan analisis Psikologi Sastra”.

2.3 Landasan Teori

Perkembangan kajian sastra yang bersifat interdisipliner telah mempertemukan ilmu sastra dengan berbagai ilmu lain. Seperti contohnya, psikologi yang berhubungan dengan sastra. Sastra muncul dari dalam jiwa manusia dan ditunjukkan dengan berbagai macam ekspresi melalui proses imajinasi. Psikologi sastra saling membutuhkan, karena sastra muncul disebabkan oleh adanya rasa yang ingin disampaikan dari dalam jiwa manusia.

Psikologi sastra adalah telaah karya sastra yang diyakini mencerminkan proses dan aktivitas kejiwaan. Dalam menelaah suatu karya psikologis hal penting yang perlu dipahami adalah sejauh mana keterlibatan psikologi pengarang dan kemampuan pengarang menampilkan tokoh-tokoh rekaan yang terlibat dengan masalah kejiwaan (Minderop, 2011:54-55).

Endraswara (2008:87-88) menyatakan “Sastra sebagai „gejala kejiwaan‟, di dalamnya terkandung fenomena-fenomena kejiwaan yang tampak lewat prilaku tokoh-tokohnya. Dengan demikian, karya sastra dapat didekati dengan pendekatan psikologi.”

Pendekatan psikologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah psikologi individual yang dikembangkan oleh Alfred Adler. Adler yang dijuluki sebagai bapak psikologi individual memiliki pandangan yang berbeda dengan apa yang telah dikemukakan oleh Sigmund Freud.

Perbedaan pertama, Adler melihat manusia lebih banyak dimotivasi oleh pengaruh sosial dan perjuangan mereka untuk mencapai superiorita atau keberhasilan, sedangkan Freud mereduksi semua motivasi menjadi seks dan agresi. Kedua, Adler percaya bahwa manusia mempunyai tanggung jawab besar akan siapa diri mereka, sedangkan Freud berasumsi bahwa manusia mempunyai sedikit pilihan atau tidak punya sama sekali dalam membentuk kepribadian.

Ketiga, Adler berasumsi bahwa perilaku saat ini dibentuk oleh pandangan manusia akan masa depan, sedangkan Freud berasumsi bahwa perilaku saat ini disebabkan oleh pengalaman masa lalu. Keempat, Adler percaya bahwa manusia sadar dengan apa yang mereka lakukan, sedangkan Freud menekankan pada komponen ketidaksadaran (Feist, 2010:76-77).

Psikologi individual Adler terus menekankan nama superiorita. Pengertian dari superiorita ialah bukan lebih baik daripada orang lain atau mengalahkan orang lain, tetapi berjuang menuju kesuksesan. Superiorita merupakan perjuangan secara terus menerus dan berusaha menjadi lebih baik, menjadi semakin dekat dengan tujuan akhir. Perjuangan menjadi superior disebabkan oleh motivasi, dan motivasi ini disebabkan oleh adanya suatu keinginan. Alwisol (2009:67) motif utama setiap orang, pria dan wanita, anak-anak dan dewasa, adalah untuk menjadi kuat, kompeten, berprestasi, dan kreatif.

Adler telah mengemukakan bahwa perilaku penentu masa depan. Tekad yang kuat akan memberi harapan pada masa yang akan datang. Kepribadian manusia dibangun bukan oleh realita, tetapi oleh keyakinan akan masa depannya. Keyakinan dan pikiran itulah yang akan membentuk tingkah laku. Oleh sebab itu, teori psikologi individual yang dikembangkan oleh Adler menekankan pada kepribadian. Pikiran dan perasaan diarahkan pada satu tujuan.

Perjuangan merupakan sebuah ambisi untuk mencapai tujuan, Adler menjabarkannya dalam empat bentuk, yaitu:

1. Berjuang Mencapai Tujuan Akhir

Manusia berjuang demi sebuah tujuan akhir, entah itu superioritas pribadi atau

2. Daya Juang sebagai Kompensasi

Manusia berjuang meraih superioritas atau keberhasilan sebagai cara untuk mengganti perasaan inferior atau lemah (Feist, 2010:83).

3. Berjuang Meraih Superioritas Pribadi

Manusia berjuang dengan sedikit atau tanpa memperhatikan orang lain. Tujuan mereka bersifat personal dan usaha mereka dimotivasi oleh perasaan inferior atau lemah (Feist, 2010:84).

4. Berjuang Meraih Keberhasilan

Manusia dimotivasi oleh minat sosial dan keberhasilan untuk umat manusia.

Keberhasilan mereka tidak diperoleh dengan mengorbankan orang lain (Feist, 2010:85).

Teori Psikologi individual Adler sangatlah penting bagi peneliti untuk dapat menganalisis dan mendeskripsikan bentuk-bentuk perjuangan tokoh utama untuk meraih impian dalam novel SP.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Dalam melakukan sebuah penelitian, peneliti diwajibkan menggunakan sebuah metode untuk mempermudah penelitian, sehingga penelitian yang dilakukan lebih terarah dan tertata rapi. Menurut Endraswara (2008:8) “Metode dalam penelitian sastra adalah cara yang dipilih oleh peneliti dengan mempertimbangkan bentuk, isi, dan sifat sastra sebagai subjek kajian.”

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode yang berhubungan dengan nilai atau kesan dari sebuah objek yang diteliti. Menurut Semi (2012:11) “Metode penelitian kualitatif yang diutamakan bukan kuantifikasi berdasarkan angka-angka, tetapi yang diutamakan adalah kedalaman penghayatan terhadap interaksi antarkonsep yang sedang dikaji secara empiris.”

Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2006:4) “Metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis ataupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.” Oleh sebab itu, metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Penelitian kualitatif umumnya menekankan pada data yang didapat oleh peneliti.

3.2 Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa kata-kata atau kalimat-kalimat dan bukan angka-angka. Dalam penelitian kualitatif, data formal adalah kata-kata, kalimat, dan wacana (Ratna, 2004:47). Data yang dimaksud adalah kata-kata, kalimat, dan wacana yang terdapat dalam novel SP.

Sumber data dalam penelitian ini terbagi atas data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari objek penelitian (Djojosuroto dan Sumaryati, 2000:10). Data sekunder merupakan data yang diperoleh melalui sumber lain dan tidak langsung dari objek penelitian (Djojosuroto dan Sumaryati, 2000:10).

Data primer berupa novel SP, selanjutnya data sekunder diperoleh dari sumber-sumber tertulis berupa buku, kamus, ataupun dari sumber-sumber internet yang berisi tentang informasi yang berkaitan dengan penelitian.

Dalam perkembangan selanjutnya, penulis menemukan tiga cover atau warna sampul novel SP yang beredar luas di pasaran. Novel SP yang pertama sampulnya berwarna biru, novel SP yang kedua sampulnya berwarna merah, sedangkan novel SP yang ketiga sampulnya berwarna hijau. Secara lebih rinci, penulis membuat gambar sampul dan tabel ketiga novel SP tersebut sebagai perbandingannya.

Novel SP yang pertama (sampul biru) :

Judul Sang Pemimpi

Pengarang Andrea Hirata

Penerbit Bentang

Jumlah Halaman x+292 Halaman

Ukuran 13 cm x 20,5 cm

Cetakan Ke-25

Tahun 2009

Warna Sampul Biru Langit dan Putih Awan

Gambar Sampul Seorang Lelaki yang Duduk di Dermaga

Desain Sampul Andreas Kusumahadi

Novel SP yang kedua (sampul merah) :

Judul Sang Pemimpi

Pengarang Andrea Hirata

Penerbit Bentang

Jumlah Halaman x+247 Halaman

Ukuran 13 cm x 20,5 cm

Cetakan Ke-28

Tahun 2010

Warna Sampul Merah, dan sedikit warna biru laut di Dermaga

Gambar Sampul Tiga Tokoh Utama

Desain Sampul Kuswanto

Novel SP yang ketiga (sampul hijau) :

Judul Sang Pemimpi

Pengarang Andrea Hirata

Penerbit Bentang

Jumlah Halaman x+247 Halaman

Ukuran 13 cm x 20,5 cm

Cetakan Ke-3

Tahun 2012

Warna Sampul Hijau, dan sedikit warna biru langit

Secara substansi atau isinya, ketiga novel SP tersebut hampir tidak ada perbedaanya atau tidak terlalu signifikan. Perbedaannya hanya pada sampul, edisi dan tahun cetakan, serta jumlah halamanya. Novel SP yang pertama (sampul biru) lebih banyak jumlah halamannya karena dilengkapi dengan glosarium dibandingkan dengan novel SP yang kedua (sampul merah) dan yang ketiga (sampul hijau) yang memiliki jumlah halaman yang sama. Oleh sebab itu, penulis memilih novel SP yang pertama (sampul biru) sebagai sumber data primer.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik studi kepustakaan, yaitu memanfaatkan referensi buku yang ditulis oleh pakar sastra khususnya psikologi sastra. Studi pustaka sangatlah penting karena dapat memberikan gambaran awal yang kuat untuk menyelesaikan penelitian ini. Referensi buku akan menambah pengetahuan peneliti dan juga akan berfungsi sebagai pembuka pintu untuk memahami dan menyelesaikan masalah di dalam penelitian ini.

Novel SP menjadi data primer dalam penelitian ini. Pengumpulan data yang dibutuhkan, diperoleh dengan cara membaca dan menghayati data primer. Membaca dilakukan secara berulang-ulang terhadap data primer dan kemudian menghayati secara mendalam apa yang menjadi sumber informasi penting di dalam data primer. Selanjutnya dilakukan teknik simak dan catat.

Teknik simak dilakukan dengan cermat, teliti, dan terarah terhadap data primer untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Dari hasil penyimakan yang dilakukan terhadap seluruh teks novel SP kemudian dilakukan pencatatan data beserta kode sumber data.

3.4 Teknik Analisis Data

Dalam sebuah penelitian yang menggunakan metode kualitatif, maka secara otomatis penelitian dilakukan secara deskriptif. Menurut Endraswara (2008:5) “Penelitian secara deskriptif artinya terurai dalam bentuk kata-kata atau gambar yang diperlukan, bukan berbentuk angka.”

Menurut Kuntjara (2006:99) ”Dalam paradigma penelitian kualitatif, data dilihat bukan sebagai informasi mentah yang didapat dari lapangan tetapi didapat dari hasil interaksi antara peneliti dan sumber data baik dari manusia maupun diperoleh dari sumber data.”

Adapun teknik analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan data yang diperoleh dari hasil membaca dan mengahayati data primer dan data sekunder, kemudian melakukan pemahaman dan penafsiran terhadap data yang sudah ada serta mendeskripsikan bentuk-bentuk perjuangan tokoh utama untuk meraih impian dengan menggunakan psikologi individual yang dikemukakan oleh Adler.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis data:

1. Memahami secara mendalam objek yang dikaji atau diteliti.

2. Menyajikan data yang diperlukan lewat membaca berulang-ulang objek yang akan diteliti.

3. Melakukan penafsiran secara sistematis terhadap data.

4. Menyimpulkan hasil analisis sehingga diperoleh bentuk-bentuk perjuangan tokoh

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Perjuangan Tokoh Utama

Perjuangan merupakan proses yang panjang dengan pengorbanan yang besar untuk mencapai suatu impian atau tujuan yang diinginkan. Pengorbanan yang besar tersebut dapat berupa waktu, tenaga, dan pikiran. Perjuangan terjadi karena adanya dorongan atau motivasi untuk mengubah keadaan. Keadaan yang dimaksud adalah keterbatasan secara ekonomi, atau dengan kata lain, yaitu kemiskinan.

Kemiskinan tidak menjadi suatu alasan untuk tidak melanjutkan pendidikan.

Selama kita terus berusaha, maka selalu ada jalan untuk melanjutkan pendidikan tersebut.

Apapun kita lakukan demi mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Demikianlah yang dilakukan oleh Ikal, Arai, dan Jimbron dalam novel SP. Hal ini tergambar dalam kutipan berikut ini.

“Karena di kampung orangtuaku tak ada SMA, setelah tamat SMP aku, Arai, dan Jimbron merantau ke Magai untuk sekolah di SMA Bukan Main. Pada saat itulah PN Timah Belitong, perusahaan di mana sebagian besar orang Melayu menggantungkan periuk belanganya, termasuk ayahku, terancam kolaps.

Gelombang besar karyawan di-PHK. Ledakan PHK itu memunculkan gelombang besar anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah dan tak punya pilihan selain bekerja membantu orang tua.” (SP:67)

Dari kutipan di atas, tergambar bahwa Ikal, Arai, dan Jimbron berjuang untuk melanjutkan pendidikannya dengan merantau ke Magai karena di kampung mereka tidak ada SMA. Setelah tamat SMP, mereka sudah berpisah atau jauh dengan orang tua dan kerabatnya. Pada saat situasi sulit, PN Timah Belitong terancam kolaps, menimbulkan gelombang besar karyawan yang di-PHK, termasuk orang tua mereka.

Gelombang besar karyawan yang di-PHK ini, memunculkan gelombang besar anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah dan bekerja membantu orang tua. Hal ini tidak membuat Ikal, Arai, dan Jimbron untuk berhenti melanjutkan pendidikannya. Apapun mereka lakukan agar tetap bisa melanjutkan pendidikannya.

Mereka yang masih bersemangat sekolah umumnya bekerja di warung mi rebus.

Mencuci piring dan setiap malam pulang kerja harus mengerus tangan tujuh kali dengan tanah karena terkena minyak babi. Atau menjadi buruh pabrik kepiting.

Berdiri sepanjang malam menyiangi kepiting untuk dipaketkan ke Jakarta dengan risiko dijepiti hewan nakal itu. Atau, seperti aku, Arai, dan Jimbron, menjadi kuli ngambat.” (SP:68)

Ngambat berasal dari kata menghambat yang merupakan suatu pekerjaan untuk menunggu perahu nelayan yang tambat, kemudian memikul ikan-ikan hasil tangkapan nelayan ke pasar ikan. Pekerjaan yang demikian itu dinamakan dengan kuli ngambat.

Bahkan pekerjaan ini sudah cukup lama mereka lakukan.

“Aku hafal lingkungan ini karena sebenarnya aku, Jimbron, Arai, tinggal di salah satu los di pasar kumuh ini. Untuk menyokong keluarga, sudah dua tahun kami menjadi kuli ngambat –tukang pikul ikan-di dermaga.” (SP:3-4)

Pekerjaan seperti ini mereka lakukan untuk membantu keluarga yang tidak mampu untuk membiayai semua keperluan sekolah. Sejak PN Timah Belitong terancam kolaps dan menimbulkan gelombang besar karyawan di-PHK, sehingga memunculkan gelombang besar anak-anak terpaksa berhenti sekolah. Mereka yang mempunyai keinginan dan semangat yang tinggi untuk tetap bisa bersekolah, maka mau tidak mau mereka harus mandiri dan bekerja keras untuk membiayai sekolahnya.

Seperti yang dilakukan oleh Ikal, Arai, dan Jimbron, mereka hidup secara mandiri dan bekerja keras demi membiayai semua keperluan sekolahnya. Mereka bekerja setiap

“Setiap pukul dua pagi, berbekal sebatang bambu, kami sempoyongan memikul

“Setiap pukul dua pagi, berbekal sebatang bambu, kami sempoyongan memikul

Dokumen terkait