• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen Oleh Nizar Raihan Al Farisy NIM: (Halaman 20-0)

BAB I PENDAHULUAN

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

2. Manfaat Penelitian

Sedangkan manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

a. Memberikan sumbangsih pemikiran ilmiah dalam kajian keislaman terutama dalam hubungannya dengan hadis.

b. Menjaga keontentikan hadis, agar tidak disalahpahami oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

c. Menyemarakkan kajian hadis di Indonesia.

d. Hadis-hadis yang kualitasnya sudah diketahui ini dapat digunakan oleh masyarakat luas.

e. Memberikan informasi kepada masyarakat.14 F. Kajian Terdahulu

Setelah membaca kumpulan skripsi, tesis, dan disertasi serta buku-buku yang ada penulis menelusuri kajian-kajian yang pernah dilakukan orang atau memiliki unsur kesamaan. Berdasarkan hasil pengamatan telah ditemukan beberapa penelitian terdahulu, yaitu:

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2017, karya Awaludin Ramadhan Sujada yang berjudul “ Salat Sunnah Seperti Wudhu: Studi kritik Sanad Dan Matan Hadis Dalam kitab Ihya’ Al-‘Ulum Al-Din” yang berumusan masalah bagaimana kualitas sanad dan matan hadis mengenai salat setelah wudu di dalam Ihya’

al-‘Ulum al-Din. Metode yang digunakan adalah kepustakaan (library research).

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2018, karya Ceceng Kholilullah yang berjudul

14Karena tidak semua hadis yang disampaikan oleh penceramah berkualitas ṣaḥīḥ, ḥasan adapula yang kualitasnya ḍa’īf.

“Studi Kritik Sanad Hadis Fatwa MUI Tentang Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan” yang berumuskan masalah bagaimana kualitas sanad dan hadis-hadis dalam fatwa MUI tentang lesbian, gay, sodomi dan pencabulan. Metode yang digunakan adalah kepustakaan (library research).

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2018, Karya Muhammad Lutfi yang berjudul

“Studi Kritik Sanad dan Matan Hadis Libas Al-Syuhrah”. Skripsi ini memiliki rumusan masalah yaitu bagaimana kajjian sanad hadis ini, apakah dapat dipertanggung-jawabkan sebagai landasan hukum yang sah secara akademisi.

Metode yang digunakan adalah kepustakaan (library research).

Skripsi S1 IAIN Salatiga Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora Jurusan Ilmu Hadis tahun 2019, karya Helfiani yang berjudul “Hadist-Hadist Kontradiksi Tentang Berjabat Tangan Dengan Berlawanan Jenis Yang Bukan Mahramnya: Studi Kritik Sanad Dan Matan” yang berumuskan masalah bagaimamna kritik sanad dan matan hadist-hadist yang berkaitan dengan berjabat tangan dengan lawan jenis yang buan mahramnya, metode yang digunakan adalah kepustakaan (library research). Tenik dan analisis data yang digunakan yaitu analisis kualitatif.

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2019, karya Muhammad Abdul Qadir zaelani yang berjudul “Studi kritik Hadis Man Qala fi kitab Allah Bi Al-ra’yihi Dalam Buku Haji Pengabdi Setan karya Prof. kH. Ali Mustofa Ya’qub” yang berumusan masalah bagaimamnaah kedudukan sanad 2 hadis yang melarang menafsiran al-Qur’an bi al-Ra’ dalam buku Haji Pengabdi Setan, metode yang digunakan adalah kepustaaan (library research).

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2018, karya M Reza Syaokani yang berjudul

“Kritik Hadis-Hadis yang Disampaikan Oleh Para Khatib Semarang”

berumuskan masalah bagaimana kualitas hadis-hadis yang disampaikan oleh para khatib di 3 masjid Jami’ Semarang, Jawa Tengah, metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Teknik dan analisis data adalah deskriptif analisis.

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2017, karya Sartika yang berjudul “Studi Kritik Sanad dan Matan Hadis Tentang Ancaman Allah Bagi Penghina Pemimpin” berumuskan masalah bagaimana kualitas sanad dan matan hadis tentang ancaman Allah bagi penghina pemimpin yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, Ahmad bin Hanbal, metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research).

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2018, karya Uswatun Hasanah yang berjudul

“Studi Kritik Sanad dan Matan Tentang Hadis Dusta Untuk Membuat Orang Tertawa” berumuskan masalah bagaimana kualitas sanad dan matan tentang ancaman orang berdusta hanya untuk membuat orang tertawa, metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research). Tehnik dan analisis data adalah deskriptif analisis.

Mencermati karya-karya di atas, tidak terlihat adanya duplikasi, meski terdapat kesepadanan makna, istilah, hadis, bahkan kesamaan literatur yang dikaji, tetapi objek yang dikaji sangat berbeda jauh. Selanjutnya hasil penelusuran tersebut menjadi acuan penulis untuk tidak mengangkat persoalan yang sama, sehingga kajian ini tidak dianggap sebagai hasil plagiasi dari kajian sebelumnya.

G. Metode Penelitian

1. Subjek dan Objek Penelitian

Terdapat sumber data yang dijadikan subjek penelitian yaitu sumber primer15 dan sumber sekunder.16

Penelitian ini meggunakan penelitian kepustakaan (library research).

Adapun kepustaaan (library research) adalah penelitian yang menfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitian17 yaitu dengan merujuk pada kitab Rijāl-al-Ḥadīth, kitab Takhrīj al-Ḥadīth, kitab-kitab hadis serta data pendukung berupa jurnal ilmiah, buku-buku yang berkaitan dengan skripsi ini.

Adapun Sumber data penelitian ini adalah hadis-hadis yang disampaikan oleh penceramah dalam channel youtube Remisya official, pada bulan Januari tahun 2020.

2. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data tidak lain dari suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan peneliti, pada penggunaan hadis di channel youtube Remisya official ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data secara (pengamatan) dari video-video yang terdapat dalam channel youtube Remisya official tersebut.

Penelitian skripsi ini menggunakan metode deskriptif-analitis, yaitu dengan mendeskripsikan data yang ada, kemudian data tersebut dianalisis dengan men-takhrij18 hadis-hadisnya.

Untuk men-takhrij, penulis menggunakan pencarian indeks kata, yaitu mencari kata-kata yang menjadi kata kunci dalam indeks hadis, yang dimaksud dengan kata kunci hadis adalah kata yang terdapat dalam matan hadis baik fi’li

15Sumber primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Lihat: Sandu Siyoto, Dasar Metodologi Penelitian, (Sleman:

Literasi Media Publishing, 2015), 67

16Sumber sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada. Lihat: Sandu Siyoto, Dasar Metodologi Penelitian, 68

17Mestika Zed, Metodologi Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), 21

18Takhrij adalah pertunjukkan terhadap tempat di dalam sumber aslinya yang dijelaskan sanad dan martabatnya sesuai dengan keperluan. Lihat: Asep Herdi, Memahami Ilmu Hadis, (Bandung: Kelompok Humaniora-Anggota Ikapi Berkhidmat untuk Umat, 2014), 134

maupun isim. Metode ini menggunakan kitab Mu’jam Mufahrās li-Alfāẓ al-Ḥadīth al-Nabawī.19 Setelah itu penulis merujuk kepada kitab-kitab asli yang disebut dengan al-Kutub al-Tis’ah.

Kemudian penulis mengkritik sanad hadis yang terdapat di dalam al-Kutub al-Tis’ah saja selain Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim dengan menelusuri data setiap periwayat, menilai keadaannya, dan menelusuri guru dan muridnya.

Dalam menentukan kualitas sanad hadis, apabila hadis yang diteliti diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan Muslim yang terdapat dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya maka tidak perlu dikaji ulang karena sudah dianggap ṣaḥīḥ.20

H. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah penulisan sekaligus menyajikan gambaran yang jelas mengenai sistematika penulisan yang terdapat di dalam skripsi ini, maka pada bagian ini penulis membagi pembahasannya ke dalam beberapa bagian ataupun yang penjelasannya adalah sebagai berikut:

Bab pertama adalah pendahuluan, yang mengungkapkan hal-hal yang melandasi penelitian. Hal-hal tersebut terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan serta manfaat penelitian, kajian pustaka, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.

19Di antara kitab yang terkenal dalam metode takhrij melalui kata-kata yang terdapat dalam matan hadis adalah Mu’jam Mufahras li-Alfāẓ al-Ḥadīth al-Nabawīyang disusun oleh beberapa orientalis. Proses penyusunan dan penerbitan kitab ini dilasanakan oleh A.J.

Weinsinck, seorang orientalis dan guru besar bahasa Arab di Universitas Leiden. Kemudian bergabung dengannya beberapa orientalis lain dengan disertai Muhammad Fuad Abd al-Baqy.

Lihat: Ahmad Izzan, Studi Tahrij Hadis (Kajian Tentang Metodologi Tahrij dan Kegiatan Penelitian Hadis), (Bandung: Kelompok Humaniora-Anggota Ikapi berkhidmat untuk umat, 2012), 12. Dengan demikian, Penelusuran hadis dengan menggunakan kitab Mu’jam Mufahras li-Alfāẓ al-Ḥadīth al-Nabawī merupakan metode yang sangat cocok dalam melakukan penelitian ini, karena hadis-hadis yang disampaikan para penceramah tidak semuanya lengkap, bahkan hanya potongan. Maka dengan demikian, untuk mengambil jalan tengahnya, maka penulis mendahulukan menggunakan kitab ini.

20Kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Muslim merupakan kitab hadis yang paling sahih bahkan kebenarannya paling benar setelah al-Qur’an. Lihat: Algifri Muqsit Jabar, membahas Kitab Hadis (Kitab Ṣaḥīḥ Bukharī dan Sunan al-Tirmīdhī), (Skripsi S1 UIN Syarif hidayatullah Jakarta, 2017), 1

Bab kedua penulis mencoba membahas kajian teori metode kritik hadis dan gambaran umum tentang Remisya official.

Bab ketiga berisi tentang analisis atau kritik hadis-hadis yang disamapikan penceramah dalam channel youtube Remisya offical, yang mana dala kajian ini mencakup dalam tiga hal, yaitu: pertama, takhrij hadis, kedua, akurasi pengutipan, ketiga, rekapitulasi hadis-hadis yang di sampaikan penceramah.

Bab keempat adalah penutup. Yaitu merinci sejumlah simpulan dari keseluruhan skripsi ini, terkait kualitas hadis-hadis di dalam channel youtube Remisya official.

14 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Metode Kritik Sanad

Kedudukan sanad sangat penting dalam Islam. Sanad merupakan keistimewaan yang hanya diberikan kepada umat Islam. Seorang Muslim harus bersandar pada sanad dalam menerima sebuah pernyataan yang diriwayatkan sebagai hadis atau khabar. Para ulama memberikan berbagai komentar tentang pentingnya sanad, antara lain sebagai berikut.

a. Muḥammad b. Sirrin (w. 110 H728 M) berkata:

مكنيد نوذختأ نّمع اورظنﺎف نيد ملعلا اذه نإ

“Sesungguhnya ilmu itu (hadis) adalah agama, perhatikanlah dari siapa kamu memngambil agama itu”

b. Muḥammad b. al-Mubārak (w. 181 H/797 M) berkata:

ءﺎش ﺎم ءﺎش نم لﺎقل دﺎنسلإا لاولو نيدلا نم دﺎنسلإا

“Sanad itu bagian dari agama, jika tidak ada sanad maka siapa saja dapat mengatakan apa yang dikehendakinya”

c. Al-Zuhri berkata:

هجردب لاإ حطسلا ىقري نأ هلصيلا

“Tidak layak naik ke loteng/atap rumah kecuali dengan tangga”

Maksud tangga adalah sanad. Jadi, seseorang tidak mungkin sampai kepada Rasulullah dalam periwayatan hadis, melainkan harus melalui sanad.1

1Abdul Majid Khon, ulumul Hadis (Jakarta: Amzah, 2012), 10

Pernyataan di atas memberikan petunjuk bahwa apabila sanad suatu hadis benar-benar dapat dipertanggung jawabkan ke-ṣaḥīḥ-an-nya, maka hadis ini pada umumnya berkualitas shahih dan tidak ada alasan untuk menolaknya.2 1) Definisi Sanad

Secara etimologi, sanad adalah

دمتعلما

yang artinya sesuatu yang dijadikan sandaran, pegangan dan pedoman.

Adapun sanad menurut terminologi adalah

تلما لىإ ةلصولما لﺎجرلا ةلسلس

yang

artinya mata rantai perawi hadis yang menghubungkan sampai kepada matan hadis.3

2) Kaidah keshahihan Hadis a. Sanad yang bersambung

Sanad yang bersambung adalah setiap periwayat dalam meriwayatkan hadis betul-betul mengambil secara lansung hadis mulai dari awal sanad hingga akhirnya.4 Untuk mengetahui bersambung tidanya suatu sanad hadis, maa jalan yang ditempuh adalah:

1. Mencatat semua periwayat dalam sanad yang diteliti.

2. Mempelajari sejarah hidup masing-masing periwayat.

3. Meneliti kata-kata yang dipakai sebagai penghubung.5

Ibnu al-Ṣalah (w. 643 H) menjelaskan bahwa muttaṣil adalah setiap perawi mendengar hadis dari orang yang meriwayatkannya, begitu seterusnya hingga akhir sanad, baik hadis itu marfū’ dengan menyandarkannya kepada Rasulullah Saw. atau mauquf yaitu, menyandarkannya kepada sahabat.

Adapun contoh periwayatan mauquf seperti hadis yng diriwayatkan oleh Mālik

2Abdul Majid Khon, ulumul Hadis, 109

3Mahmud al-Tahhan, Taysīr Muṣṭalah al-Ḥadīth, (Beirut: Dār al-Fikr, tt), 16

4Mahmud al-Tahhan, Taysīr Muṣṭalah al-Ḥadīth, 56

5M. syuhudi Ismail, Kaedah Keshahihan Sanad Hadis. Telaah ktitis dan Tinjauan dengan Pendektan Ilmu Sejarah (cet. II, Jakarta: Bulan Bintang, 1995), 112

dari Ibn ‘Umar dari ‘Umar r.a periwayatan ini masih terhitung muttaṣil.

Al-‘Iraqi (w. 806 H) menjelaskan jika perkataan berasal dari tabi’in, sekalipun sanadnya bersambung tida disebut muttaṣil tapi maqtū’, yaitu periwayatan yang disandarkan kepada tabi’in, namun jika ada tabi’in yang menghubungkannya dengan mengatakan: sanad ini bersambung kepada Sa’īd Ibn al-Musayyab atau sanad ini bersambung kepada Mālik, hadis tersebut dapat dihukumkan muttaṣil.6

Untuk meneliti kebersambungan sanad, 2 hal penting yang harus diperhatikan adalah: pertama, biografi masing-masing perawi. Kedua, turuq al-tahammul wa siyagh al-ada’ yaitu lafal-lafal periwayatan yang digunakan oleh para perawi hadis dalam meriwayatkan hadis.7

Turuq al-Tahammul adalah metode periwayatan yang diambil dan diterima oleh para perawi hadis gurunya. Siyagh al-Ada’ adalah lafal-lafal periwayatan yang digunaan oleh perawi hadis dalam meriwayatkan hadis.

Berikut turuq al-tahammul dan lafal-lafal al-ada’ terdapat 8 tingkatan.

a) Al-Sama’, yaitu bacaan guru untuk murid-muridnya. Metode ini berwujud dalam 4 bentuk, yakni bacaan secara lisan, bacaan dari buku, tanyajawab dan mendiktekan.

b) ‘Arḍ, yaitu bacaan oleh para murid kepada guru. Dalam hal ini para murid atau seseorang tertentu yang disebut Qāri’, membacakan hadis di hadapan gurunya dan selanjutnya yang lain mendengarkan serta membandingkan dengan catatan mereka atau menyalin dari catatan tersebut.

6Muhammad Ansari, Takhrij Hadis-Hadis Tentang Wudu Pada Kitab Fath al-Mu’in Karya Zain ad-Din ‘Abd al-Aziz al-Malibari”, Medan: Tesis IAIN Sumatra Utara (2013), Tesis, 22-23

7Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, 6

c) Ijazah, yaitu memberi izin kepada seseorang untuk meriwayatkan sebuah hadis atau buku yang bersumber darinya, tanpa terlebih dahulu hadis atau buku tersebut dibaca dihadapannya.

d) Munawalah, yaitu memberikan kepada seseorang sejumlah hadis tertulis untuk diriwayatkan atau disebarluaskan, seperti yang dilaukan oleh al-Zuhrī kepada al-Thaurī, al-‘Auzā’ī dan lainnya.

e) Kitābah, yaitu menuliskan hadis untuk seseorang yang selanjutnya untuk diriwayatkan kepada orang lain.

f) I’lām, yaitu memberitahu seseorang tentang kebolehan untuk meriwayatkan hadis dari buku tertentu berdasarkan atas otoritas ulama tertentu.

g) Waṣiyyah, yaitu seseorang mewasiatkan sebuah buku atau catatan tentang hadis kepada orang lain yang dipercayainya dan dibolehkannya meriwayatkannya kepada orang lain.

h) Wajadah, yaitu mendapatkan buku atau catatan seseorang tentang hadis tanpa mendapatkan izin dari yang bersangkutan untuk meriwayatkan hadis tersebut kepada orang lain, dan cara seperti ini tidak dipandang oleh para ulama hadis sebagai cara untuk menerima atau mempelajari hadis.8

b. Diriwayatkan oleh perawi yang adil

Definisi perawi adil adalah

بﺎبسأ نم ﺎميلس لاقﺎع ﺎغلبا ﺎملسم يوارلا نوكي نأ

ةءرلما مراوخ نم ﺎميلس قسفلا

“seorang periwayat Muslim, baligh, berakal,

memelihara diri dari sifat yang menjerumuskannya kepada kefasikan dan senantiasa menjaga muru’ah atau moral.9

8Nawir Yuslem, Metodologi Penelitian Hadis, Teori dan Implementasinya dalam Penelitian Hadis, (Bandung: Cita Pustaka, 2008), 157-158

9Mahmud al-Tahhan, Taysīr Muṣṭalah al-Ḥadīth, 121

Kriteria dari seseorang yang dihukumi adil adalah:

a) Beragama Islam.

b) Mukallaf, yakni baligh dan berakal sehat.

c) Melasanakan ketentuan agama, yaitu tidak berbuat dosa besar, bid’ah, maksiat, dan harus berakhla mulia.

d) Memelihara muru’ah, yakni kesopanan pribadi yang membawa pemeliharaan diri manusia pada tegaknya kebajikan moral dan kebiasaan-kebiasaan. Hal itu dapat diketahu melalui adat istiadat yang berlaku dimasing-masing tempat.10

Secara umum ulama telah mengemukakan cara penetapan keadilan periwayat hadis yaitu berdasarkan:

a) Popularitas keutamaan peroiwayat dikalangan ulama hadis, periwayat yang terkenal keutamaan pribadinya, misalnya Mālik b. Anas dan Sufyān al-Thaurī, tidak lagi diragukan keadilannya.

b) Penilaian dari para kritikus periwayat hadis, penilaian ini pengungkapan kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri periwayat hadis.

c) Penerapan kaidah jarḥ wa ta’dīl, cara ini ditempuh bila para kritikus periwayat hadis tida sepakat tentang kualitas pribadi periwayat tertentu.11

c. Periwayat bersifat Ḍābiṭ

Secara etimologi, ḍābiṭ berarti kokoh, kuat dan tepat, mempuanyai hafalan yang kuat dan sempurna. Sedangkan menurut muḥaddithīn, ḍābiṭ adalah sikap penuh kesadaran dan tidal alai, kuat hafalannya bila hadis yang diriwayatkannya berdasarkan hafalan, benar tulisannya manakala hadis yang

10Suryadi dan Muhammad A suryadilaga, Metodolgi Penelitian Hadis, (Yogyakarta: teras, 2009), 103-104

11M. Syuhudi Ismail, Metode Penelitian Hadis Nabi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), 41-42

diriwayatkan berdasarkan tulisan , dan jika meriwayatkan secara makna, maka pintar memillih kata-kata yang tepat digunakan.

Adapun kaidah minornya sebagai berikut:

a) Periwayat ini memahami dengan baik riwayat yang telah didengarnya.

b) Periwayat hafal dengan baik riwayat yang diterimanya.

c) Mampu menyampaikan riwayat yang diterima dengan baik kepada orang lain kapan saja diperlukan.12

d. Terhindar dari kejanggalan (shādh)

Menurut bahasa kata shādh dapat berarti; jarang, yanag menyendiri, yang asing, yang menyalahi aturan dan yang menyalahi orang banyak. Maḥmūd Ṭahān dalam kitab Taysīr Muṣṭalāh al-Ḥadīth menyebutkan:

هنم قثوأ وه نلم ةقثلا ةفلﺎمخ وه ذوذشلا

“Shudhūdh ialah berbeda dengan hadis yang thiqah atau berbeda dengan yang lebih thiqah”

Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi terjadinya shādh dalam suatu sanad, namun acuan umum yang dapat dilaukan bertitik tolak dari rumusan Imām al-Shāfi’ī yang menjelaskan bahwa: “apabila suatu hadis diriwayatkan oleh seorang perawi yang thiqah sedangkan perawi thiqah yang lain tidak ikut meriwayatkan hadis tersebut. Suatu hadis dapat dinyatakan sebagai shādh, apabila hadis yang diriwayatkan seorang perawi yang thiqah bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi yang juga thiqah.13 Sanad hadis yang terhindar dari shādh disebut juga dengan sanad mahfūdh.14

12Nasir Akib, “Keshahihan Sanad dan Matan Hadis: Kajian Ilmu-Ilmu Sosial”, Jurnal Shautut Tarbiyah 21, no. XIV (2008), 107-108

13Ibnu Shalah, Muqaddimah Ibnu Shalah (Madinah: Maktabah al-‘Ilmiyah, 1972), 48

14 Zubaidah, Metode Kritik Sanad Dan Matan Hadith, jurnal komunikasi dan Pendidikan Islam, vol 4, no. 1 (2015), 45

e. Tidak ada ‘illat yang mencacatkannya

Menurut Ibnu al-Ṣalah, ‘illat dimaksudkan sebagai sebab yang tersembunyi dan dapat merusa kualitas suatu hadis. Kebenaran dan munculnya

‘illat dapat menyebabkan turunnya nilai suatu hadis (tidak ṣaḥīḥ). Atas dasar itu, maka seorang kritikus dapat memngetahui ‘illat dengan memperhatikan beberapa kategori berikut ini.

1) sanad yang tampak muttaṣil dan marfū’, ternyata setelah diselidiki muttaṣil dan mauquf.

2) sanad yang tampa muttaṣil dan marfū’, ternyata setelah diselidiki muttaṣil dan mursal.

3) terjadi pencampuran sebuah hadis dengan hadis yang lainnya.

4) terdapat kesalahan ketika menyebutkan peraw, karena terdapat adanya perawi-perawi yang mempunyai kemiripan nama, sedangkan kualitasnya berbeda dan tida semuanya thiqah.

Ketika menilai adanya cacat dalam sebuah hadis dengan berpatokan kepada kriteria terahir ini (‘illat), maa diperlukan bantuan kecerdasan, intuisi, hafalan hadis dalam jumlah banyak, pendalaman pengetahuan tentang tingkat ḍābiṭ perawi serta mempunyai keilmuan dalam kajian sanad dan matan hadis.15 3) Al-Jarḥ dan Al-Ta’dīl

1. Pengertian Al-Jarḥ dan Al-Ta’dīl

Secara bahasa lafadz al-Jarh adalah masdar dari kata kerja,

– حريج - حرج حرج

yang berarti “melukai” (mencela dan meremehkan),16 selanjutnya dikatakan bahwa al-jarḥ mempunyai arti “mengaibkan” seseorang yang oleh

15Taufiqurrahman, Kritik Hadis Dalam Kawasan Kajian Sejarah, Jurnal Ulunnuha 8, no.

1 (2019), 93-94

16Lous Ma’luf, Al-Munjid Fī Al-Lughah Wa A’lim, (Beirut: Dār Al-Misyriq, 1979), 86

karenanya ia menjadi kurang. Disamping itu juga mempunyai arti menolak seperti dalam bentuk kalimat

دهﺎشلا مكﺎلحا حرج

“hakim itu menolak saksi”.

Menurut istilah, al-Jarh adalah terlihatnya sifat seorang perawi yang dapat menjatuhkan ke ‘adalahannya, dan merusak hafalan dan ingatannya, sehingga menyebabkan gugur riwayatnya, atau melemahkannya hingga kemudian ditolak.17

Menurut istilah ilmu hadis, kata al-Jarḥ berarti menyifati seorang periwayat dengan sifat yang dapat membuat riwayatnya menjadi tidak kuat

ينل

atau

menjadi lemah

فعض

atau bahkan menjadikan riwayatnya tertolak

دودرم .

18

Adapun periwayat yang terkena sifat

دودرم

atau tertlak riwayatnya, maka dihukumi

ادج فعض

atau sangat lemah sehingga dia tidak dapat menguatkan periwayat dan juga tidak menjadi kuat dengan adanya dukungan dari yang lain.19

Menurut muhaddisin al-Jarḥ diartikan sebagai sifat seorang perawi yang dapat mencacatkan keadilan dan kedhabitannya, menjarah seorang perawi berarti mensifati seorang perawi dengan sifat-sifat yang dapat menyebabkan kelemahan atau tertolaknya apa yang diriwayatkannya.20

Kata al-Ta’dīl menurut bahasa berasal dari kata

ليدعت – لدعب – لدع

yang

berarti bersih, lurus tidak berlaku curang. Sedangkan menurut istilah al-Ta’dīl

17Manna al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadis, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005) Terj. Mifdhol Abdurrahman, 82

18Abd ‘Azīz ibn Muḥammad ibn Ibrahīm ‘Abd Laṭīf, Dawābit Jarḥ wa al-Ta’dīl, (Al-Mamlakah al-Su’ūdiyah al-Arabiyyah, 1412 H), 10

19Abd ‘Azīz ibn Muḥammad ibn Ibrahīm ‘Abd Laṭīf, Dawābit Jarḥ wa al-Ta’dīl, 10-11

20Fathurrahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits, (Bandung: al-Ma’arif, 1991), 268

yaitu pensifatan perawi dengan sifat-sifat yang mensucikannya, sehingga nampak ke ‘adalahannya, dan diterima beritanya.21 Adapun menurut Hasbi al-Shidieqi “At-ta’dil adalah mengakui keadilan seseorang, kedhabitan dan kepercayaannya.”22

Dengan demikian berdasarkan hal pengertian diatas bahwa Jarh wa Ta’dil adalah ilmu yang membicarakan hal ihwal (keadaan) para periwayatnya dari segi diterima atau ditolaknya riwayat mereka dalam meriwayatkan hadis.23 Adapun dalam kesimpulan lain Jarh wa Ta’dil adalah ilmu yang menerangkan tentang cacat-cacat yang dihapakan kepada perawi dan tentang penta’dilannya (memandang lurus perangai para perawi) dengan memaki kata-kata yang khusus dan untuk menerima atau menolak riwayat mereka.24

Ilmu al-jarḥ wa al-ta’dīl sangat berguna untuk menentukan kualitas perawi

Ilmu al-jarḥ wa al-ta’dīl sangat berguna untuk menentukan kualitas perawi

Dalam dokumen Oleh Nizar Raihan Al Farisy NIM: (Halaman 20-0)

Dokumen terkait