• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.2 Manfaat Penelitian

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan, terutama mengenai financial distress dan metode yang menjadi alat ukur untuk memprediksi terjadinya financial distress terkhusus dengan alat analisis Springate (S-Score).

2. Bagi Investor

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi calon investor sebelum berinvestasi di perusahaaan perbankan guna melihat kondisi kesehatan perusahaan perbankan tersebut.

3. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi evaluasi secara khusus untuk pihak manajemen dalam meningkatkan kinerja perusahaan serta dapat menjadi landasan untuk memperbaiki kinerja perusahaan.

4. Bagi Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai teori dan metode financial distress.

14 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Bank

Menurut Undang-Undang No 10 tahun 1998 tentang Perbankan, Perbankan adalah “segala sesuatu yang menyangkut bank, mencakup kelembangaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya”.Bank ialah badan usaha keuangan yang kegiatannya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lain. Kegiatan ini dilakukan untuk membantu serta meningkatkan kegiatan perekonomian masyarakat. Menurut Dahlan (2005:275) bank merupakan “suatu segmen usaha yang kegiatannya banyak diatur oleh pemerintah.”

Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa perbankan merupakan sesuatu yang mencakup kelembangaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegitan usaha. Dalam menjalankan usaha perbankan meliputi tiga kegiatan, yaitu menghimpun dana, menyalurkan dana, dan memberikan jasa bank lainnya. Perbankan sebagai lembaga kepercayaan dimana yang kegiatannya banyak diatur oleh

Universitas Sumatera Utara

pemerintah dan berperan penting dalam bidang perekonomian suatu negara khususnya di bidang pembiayaan perekonomian.

2.1.2 Peranan Bank

1. Penyedia Berbagai Jasa Perbankan

Berkembangnya kegiatan perekonomian mendorong bank sebagai lembaga keuangan yang menyediakan berbagai macam layanan jasa keuangan.

2. Bagian Penting Perekonomian

Bank-bank umum berperan sebagai pusat perekonomian negara yang berhubungan dengan berbagai sektor yang banyak kegiatan perekonomian perputar secara cepat. Keadaan bank umum sangat menentukan perekonomian yang efektif dan efesien.

3. Pelaksana Kebijakan Moneter

Bank umum berperan sebagai sarana yang menjalankan kebijakan Bank Indonesia.

2.1.3 Prinsip dan Fungsi Bank

Berdasarkan hukum perbankan dikenal beberapa prinsip perbankan, yaitu:

1. Prinsip kepercayaan (Fiduciary Relation).

2. Prinsip kehati-hatian (Prudential Principle).

16

3. Prinsip kerahasian (Secrecy Principle).

4. Prinsip Mengenal Nasabah (Know How Costumer Principle).

Bank memiliki tiga fungsi yakni:

1. Agent of trust

Bank merupakan lembaga yang didasari oleh kepercayaan antara satu pihak dengan pihak yang lain dalam melakukan kegiatannya.

2. Agent of Development

Bank melakukan kegiatan penyaluran dan penghimpunan dana yang diperlukan untuk menunjang kegiatan perekonomian di sektor rill.

3. Agent of service

Bank berfungsi sebagai pemberi pelayanan jasa keuangan bagi masyarakat.

Universitas Sumatera Utara

2.1.4 Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan suatu laporan yang berisi informasi mengenai kondisi dan kinerja suatu perusahaan dalam suatu periode dan menjadi alat komunikasi antara data keuangan dan aktivitas perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan. Menurut Standar Akuntansi Keuangan, laporan keuangan merupakan bagian dari salah satu dari proses pelaporan kauangan yang lengkap biasanya meliputi laporan laba rugi, neraca, laporan perubahan posisi keuangan yang disajikan dalam berbagai cara, misalnya sebagai laporan arus kas, catatan dan laporan lain dan juga materi penjelasan yang merupakan bagian dari integral dari laporan keuangan tersebut. Menurut Kieso dan Weygant (1995:65) laporan keuangan adalah “alat komunikasi yang terformalisasi dan terstruktur.”

Laporan posisi keuangan memberikan gambaran mengenai posisi keuangan entitas pada suatu waktu tertantu, kemampuan suatu perusahaan dalam membayar kewajibannya yang akan jatuh tempo dan kemampuan perusahaan tersebut memenuhi kewajibannya secara menyeluruh serta memberikan informasi bagaimana suatu perusahaan dapat beradaptasi terhadap lingkungan dengan melakukan inovasi-inovasi sehingga perusahaan tersebut dalam kondisi sehat dan dapat bertahan.

18

2.1.5 Tujuan Laporan Keuangan

Laporan keuangan dimaksudkan untuk menyediakan informasi keuangan mengenai suatu perusahaan yang akan digunakan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan sebagai sumber pertimbangan dalam mengambi keputusan dan kebijakan ekonomi. Informasi laporan keuangan dapat digunakan oleh berbagai pihak seperti: inverstor, calon investor, pemberi pinjaman, karyawan, pemasok, kreditur lainnya, pelanggan, pemerintah, lembaga, dan masyarakat. Informasi dapat digunakan berdasarkan kebutuhkan masing-masing tiap pihak.

Menurut kerangka konseptual IFRS, tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta menyangkut posisi keuangan yang bermanfaaat bagi sebagian besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan diharapkan menajadi sarana dalam memenuhi kebutuhan tiap pihak-pihak yang membutuhkan informasi keuangan suatu entitas atau perusahaan, seperti pihak investor yang dapat menilai entitas dan kemampuan entitas membayar deviden di masa mendatang dan investor dapat memutuskan untuk membeli atau menjual saham entitas, pihak pemberi jaminan akan menilai dari laporan keuangan kemampuan entitas dalam membayar utang dan Bunga yang memengaruhi keputusan apakah pahak tersebut akan memberikan pinjaman atau tidak, pihak kreditur akan menilai kemampuan

Universitas Sumatera Utara

entitas dalam membayar liabilitasnya pada saat jatuh tempo. Manajemen perusahaan merupakan penanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan dan melalui laporan keuangan dapat dinilai bagaimana pertanggung jawaban manajeman dalam mengelola sumber daya perusahaan serta menilai keputusan dan kebijakan ekonomi selama satu periode.

2.1.6 Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan

Laporan keuangan memiliki sifat historis karena laporan keuangan merupakan akumulasi dari transaksi yang telah terjadi dalam suatu perusahaan dalam masa yang bersangkutan, dan bersifat menyeluruh karena meurpakan akumulasi dari seluruh kegiatan usaha yang dapat diukur atau dinyatakan dengan uang.

Menurut Kasmir (2008) terdapat beberapa keterbatasan laporan keuangan, yakni sebagai berikut:

1. laporan keuangan yang dibuat secara periodeik pada dasarnya merupakan interim report (laporan yang dibuat antara waktu tertentu yang sifatnya sementara dan bukan merupakan laporan yang final).

2. Laporan keuangan menunjukkan angka dalam rupiah yang kelihatannya bersifat pasti dan tepat, tetapi sebenarnya dasar penyusunannya dengan standar nilai yang mungkin berada atau berubah-ubah.

3. Laporan keuangan disusun berdasarkan hasil pencatatan transaksi keuangan atau nilai rupiah dari berbagai waktu atau tanggal yang lalu, dimana daya beli (purchasing power) uang tersebut semakin menurun.

20

4. Laporan keuangan tidak dapat mencerminkan berbagai factor yang dapat mempengaruhi posisi atau keadaan keuangan perusahaan karena faktor-faktor tersebut tidak dapat dinyatakan dengan satuan uang.

2.1.7 Analisis laporan keuangan

Menurut Subramanyam (2017:3) Analisis laporan keuangan merupakan “bagian integral dari kerangka kerja analisis bisnis yang luas, analisis yang digunakan untuk mencapai keberhasilan dalam bisnis”.

Analisis laporan keuangan ialah bagian yang tidak dapat dipisahkan dan penting dari bidang analisis bisnis yang lebih luas. Analisis laporan keuangan mengurangi ketergantungan kepada firasat, tebakan, dan intuisi untuk mengambil keputusan bisnis sehingga mengurangi ketidakpastian analisis bisnis.

2.1.8 Tujuan Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan mencakup pengaplikasian berbagai alat dan teknik analisis pada laporan keuangan dan data keuangan dalam rangka untuk memperoleh ukuran-ukuran dan hubungan yang berarti dan berguna dalam proses pengambilan keputusan.

Menurut Fahmi (2008) Analisis laporan keuangan dilakukan untuk mencapai tujuan, yakni sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui perubahan posisi keuangan perusahaan pada satu periodetertentu baik aktiva, kewajiban, dan harta maupun hasil usaha yang telah dicapai perusahaan.

Universitas Sumatera Utara

2. Untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan apa saja yang dimiliki oleh perusahaan.

3. Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukankedepan yang berkaitan dengan posisi keuangan saat ini.

4. Untuk melakukan penilaian atau evaluasi kinerja manajemen kedepan,apakah perlu penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil.

2.1.8 Langkah Analisis Laporan Keuangan

Terdapat beberapa langkah dalam melakukan kegiatan analisis laporan keuangan sehingga laporan tersebut dapat menghasilkan hasil analisis yang akurat. Menurut Subramanyam (2017:454) dalam menganalisis laporan keuangan “sebaiknya diringkas untuk konsistensi dan efisiensi perusahaan”. Terdapat generalisasi dan perpaduan yang dapat membantu dalam menganalisis laporan keuangan.

1. secara eksplisit menentukan tujuan analisis.

2. merumuskan pertanyakan dan kriteria spesifik yang sesuai dengan tujuan analisis

3. mengidentifikasi alat analisis yang paling efektif dan efisien 4. mengintepesikan bukti yang ada.

2.1.9 Rasio keuangan

Laporan keuangan yang telah dilakukan suatu entitas dalam suatu periode tertentu tertuang dalam bentuk angka-angka nominal baik itu dalam mata uang rupiah maupun dalam mata uang asing, hasil laporan keuangan tersebut tentu tidak terlalu berarti apabila hanya sampai pada tahap pelaporan oleh sisi suatu entitas saja.

22

Hasil kinerja perusahaan yang dapat tergambar dalam angka-angka dapat dibandingkan antara satu komponen dengan komponen lainnya dengan begitu dapat dilihat bagaimana kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode. Kegiatan membandingkan ini dapat disebut dengan analisis rasio keuangan. Hubungan antara suatu komponen dengan komponen lainnya dalam laporan keuangan dapat digambarkan dalam bentuk sistematis dalam rasio laporan keuangan.

Menurut Pirmatua Sirait (2017:37) analisis rasio (ratio analysis) merupakan:

”Analisis melalui operasi aritmetika sederhana dengan menghubungkan antara dua kuantitas secara sistematis. Analisis rasio memakai perhitungan kalkulasi yang sederhana sebagai dasar hubungan antara data dan penafsiran yang dihasilkan.”

Berdasarkan definisi tersebut maka pengertian rasio keuangan ialah kegiatan membandingkan antara angka-angka yang ada dalam laporan keuangan entitas dengan membagi satu angka dengan angka lainnya yang dapat dibandingkan dengan satu periode dengan periode lain. Rasio keuangan hanya menggambarkan kuantitas sehingga dalam melakukan interpretasi harus dengan hati-hati. Melalui hasil rasio keungan dapat dinilai bagaimana pihak manajemen dalam memberdayakan sumber daya perusahaan dengan efektif dan efesien serta dapat menjadi evaluasi

Universitas Sumatera Utara

terhadap hal-hal yang perlu dilakukan di masa depan supaya kinerja pihak menajemen dapat dipertahankan dan ditingkatkan sesuai dengan target yang telah ditetapkan oleh seuatu entitas.

2.1.10 Manfaat Analisis Rasio Keuangan

Menurut Fahmi (2017:109) terdapat beberapa manfaat yang dapat diambil dengan menggunakan rasio keuangan, yakni:

1. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai alat menilai kinerja dan prestasi perusahaan.

2. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat bagi pihak manajemen sebagai rujukan untuk membuat perencanaan.

3. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai alat untuk mengevaluasi kondisi suatu perusahaan dari perspektif keuangan.

4. Analisis rasio keuangan juga bermanfaat bagi para kreditor karena dapat digunakan untuk memperkirakan potensi risiko yang akan dihadapi dikaitkan dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman.

5. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak stakeholder organisasi.

2.1.11 Keunggulan Rasio Keuangan

Melakukan kegiatan analisis laporan keuangan menggunakan rasio keuangan menyajikan infomasi yang sederhana, dan mudah dibaca karena merupakan angka-angka dan ikhtisar statistik. Menggunakan rasio keuangan pun dapat digunakan dalam berbagai model pengambilan keputusan dan model prediksi.

24

2.1.12 Keterbatasan Rasio Keuangan

Sebagai instrumen analisis laporan keuangan, rasio keuangan memiliki keterbatasan atau kelemahan dimana hasil perhitungan yang diperoleh tidak sepenuhnya menjamin kondisi keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Banyaknya kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi kondisi perusahaan serta menjadi acuan dalam mengambil keputusan namun masih memiliki beberapa kelemahan yang harus diperhatikan agar dapat memperkecil atau menutupi kelemahan-kelemahan tersebut.

Mengetahui kemungkinan atau potensi terjadinya kesalahan perhitungan rasio keuangan dengan mengetahui kelemahan dan keterbatasan rasio keuangan tiap pihak yang menganalisa kondisi perusahaan dapat menggunakan prinsip kehati-hatian agar hasil yang peroleh akurat dan menghasilkan keputusan yang bijaksana untuk kemajuan perusahaa dan tercapainya tujuan pihak yang memerlukan informasi keuangan.

2.1.13 Financial Distress

Menurut Plat dan Plat dalam Fahmi (2017) Financial distress merupakan “sebagai tahap penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan atau likuidasi”. Financial distress dimulai dari ketidakmampuan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya, terutama kewajiban yang bersifat jangka pendek. Menurut Almilia dalam Kurniasari dan Ghozali (2013) financial distress atau kondisi bermasalah sebagai “suatu kondisi di mana perusahaan mengalami delisted akibat laba

Universitas Sumatera Utara

bersih dan nilai buku ekuitas negatif berturut-turut serta perusahaan tersebut telah di merger”.

Kondisi suatu perusahaan yang mengalami masalah dalam likuiditas maka sangat berpotensi perusahaan tersebut mulai memasuki masa kesulitan keuangan (financial distress), dan apabila kondisi ini tidak cepat diatasi maka dapat berakibat kebangkrutan usaha (bankruptcy).Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa financial distress atau kesulitan keuangan merupakan kondisi dimana perusahaan tidak mampu dalam memenuhi kewajiban atau utang yang jatuh tempo. Gejala kesulitan keungan ini pun menjadi awal dari kebangkrutan perusahaan yang harus menjadi perhatian khusus oleh pihak internal perusahaan terutama pihak manajemen agar tidak terus berlanjut pada kebangkrutan

2.1.14 Indikator dan Penyebab Financial Distress

Berdapat beberapa keadaan yang dapat mengindikasikan terjadinya financial distress pada perusahaan, ditinjau dari kondisi keuangan ada tiga keadaan yang menyebabkan financial distress yaitu faktor ketidakcukupan modal atau kekurangan modal, besarnya beban utang dan bunga serta menderita kerugian. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan.Financial distress dapat terjadi pada semua perusahaan yang jika alokasi sumber daya di dalam perusahaan dilakukan dengan tidak tepat, penacampuran

26

asset yang tidak dengan struktur dengan liquidity constrants yang benar akan menunjukkan perusahan akan bangkrut dalam jangka pendek, dan pengelolaan asset-aset keuangan yang tidak efisien akan menyebabkan tata kelola perusahaan yang buruk.

2.1.15 Jenis-Jenis Financial Distress

Menurut Fahmi (2017:159) Secara umum terdapat empat jenis financial distress yang dapat menggambarkan tentang kondisi keuangan perusahaan, yakni:

a) Pertama, financial distress ketegori A atau sangat tinggi dan benar-benar membahayakan. Kategori ini memungkinkan perusahan dinyatakan untuk berada di posisi bangkrut atau pailit. Pada kategori ini memungkinkan pihak perusahaan melaporkan ke pihak terkait seperti pengadilan dengan menyatakan bahwa perusahaan berada dalam posisi bankruptcy atau pailit. Menyerahkan berbagai hal yang perlu diurus kepada pihak luar perusahaan.

b) Kedua, financial distress kategori B atau tinggi dan dianggap berbahaya. Pada posisi ini perusahaan harus memikirkan berbagai solusi realistis untuk menyelamatkan asset yang dimiliki perusahaan, seperti halnya sumber-sumber asset yang ingin dijual atau tidak dijual atau dipertahankan. Termasuk juga memikirkan berbagai dampak jika disalahgunakan keputusan merger (penggabungan) dan akuisisi (pengambilalihan). Salah satu dampak yang sangat nyata terlihat pada keadaan kondisi ini ialah perusahan mulai memutuskan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan pensiunan dini pada beberapa karyawan yang dianggap tidak layak (infeasible) untuk dipertahankan sebagai karyawan perusahaan.

c) Ketiga, financial distress kategori C atau sedang, pada keadaan ini perusahaan masih dianggap mampuu untuk menyelamatkan keberlangsungan perusahaan dengan tindakan mengambil tambahan dana yang bersumber dari internal atau eksternal perusahaan. Pada keadaan ini perusahana harus sudah

Universitas Sumatera Utara

melakukan perombakan atau perbaikan terhadap kebijakan perusahaan dan konsep manajemen yang diterapkan selama ini, bahkan melakukan perekrutan tenaga ahli baru yang memiliki kompetensi tinggi jika diperlukan untuk ditempatkan diposisi-posisi yang strategis yang bertugas mengendalikan dan menyelamatkan perusahaan, termasuk target dalam meningkatkan perolehan laba perusahaan.

d) Keempat, financial distress kategori D atau rendah. Pada keadaan ini perusahaan hanya dianggap mengalami fluktuasi finansial temporer yang disebebkan oleh berbagai kondisi eksternal dan internal, termasuk lahirnya dan dilaksanakannya keputusan yang kurang begitu tepat.

2.1.16 Manfaat Informasi Potensi Financial Distres Menurut Almilia dan Kristijadi (2003) a) Pemberi Pinjaman atau Kreditor

Pihak pemberi pinjaman dapat memprediksi financial distress dalam memutuskan apakah akan memberikan pinjaman dan menentukan kebijakan mengawasi pinjaman yang telah diberikan pada perusahaan. Selain itu juga dapat digunakan untuk menilai kemungkinan masalah suatu perusahaan dalam melakukan pembayaran kembali pokok dan bunga.

b) Investor

Informasi prediksi financial distress dapat membantu investor ketika akan memutuskan untuk berinvestasi pada suatu perusahaan. Selain itu juga dapat digunakan untuk menilai kemungkinan masalah suatu perusahaan dalam melakukan pembayaran kembali pokok dan bunga.

c) Pembuat Peraturan atau Badan Regulator

Badan regulator mempunyai tanggung jawab mengawasi kesanggupan membayar hutang dan menstabilkan perusahaan individu. Hal ini menyebabkan perlunya suatu model untuk mengetahui kesanggupan perusahaan membayar hutang dan menilai stabilitas perusahaan.

d) Pemerintah

Prediksi financial distress penting bagi pemerintah dalam melakukan antitrust regulation.

28

e) Auditor

Model prediksi financial distress dapat menjadi alat yang berguna bagi auditor dalam membuat penilaian going concern perusahaan. Pada tahap penyelesaian audit, auditor harus membuat penilaian tentang going concern perusahaan. Jika ternyata perusahaan diragukan going concern-nya, maka auditor akan memberikan opini wajar tanpa pengeculian dengan paragraf penjelas atau bisa juga memberikan opini disclaimer (atau menolak memberikan pendapat).

f) Manajemen

Apabila perusahaan mengalami kebangkrutan, maka perusahaan akan menanggung biaya langsung (fee akuntan dan pengacara) dan biaya tidak langsung (kerugian penjualan atau kerugian paksaan akibat ketetapan pengadilan). Oleh karena itu, manajemen harus melakukan prediksi financial distress dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk dapat mengatasi kesulitan keuangan yang terjadi dan mencegah kebangkrutan pada perusahaan.

2.1.17 Cara Memprediksi Financial Distress

Memprediksi financial distressdapat dilakukan dengan beberapa cara yakni, Analisis Rasio Keuangan merupakan cara yang paling banyak digunakan untuk memprediksi potensi terjadinya financial distress.

Banyak penelitian dilakukan untuk menemukan rasio keuangan yang bisa digunakan untuk memprediksi financial distress hingga terdapat berbagai model dalam mendeteksi terjadinya financial distress. Lalu Analisis Arus Kas, prediksi financial distress dilakukan melalui penilaian terhadap tata kelola perusahaan yang apabila perusahaan tidak dikelola denganbaik maka dapat di prediksi mengalami financial distress. Prediksi financial

Universitas Sumatera Utara

distress pada perusahaan dapat dinilai dari kondisi mikro negara tersebut, apabila kondisi perekonomian negara mengalami krisis maka memungkinkan apabila perusahaan dalam negara tersebut mengalami financial distress.

2.1.18 Analisis Prediksi Financial Distress Metode Springate (S-Score)

Model prediksi Springate (S-Score) merupakan metode prediksi potensi adanya kebangkrutan pada 1978 yang dibuat oleh gordon L.V springate. Springate menggunakan metode Multi Discriminat Analysis (MDA) yang hampir mirip dengan metode altman (1968), yaitu yang membedakan antara perusahaan yang mengalami financial distress dan perusahaan yang tidak mengalami financial distress. Pada awalnya Springate menggunakan 19 rasio-rasio keuangan yang popular dalam mendeteksi terjadinya financial distress. Springate menggunakan 40 sampel perusahaan manufaktur yang berlokasi di Kanada, yaitu 20 perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan dan 20 perusahaan yang dalam keadaan sehat.

pengembangan metode ini menggunakan 14 rasio namun setelah melakukan pengembangan, springate memilih 4 rasio yang dikombinasikan dalam suatu formula S-Score. Menurut Ghodrati memiliki tingkat keakuratan hingga 92,5%. Keempat rasio itu ialah rasio modal kerja terhadap total asset, rasio laba sebelum bunga dan pajak terhadap total asset, rasio laba sebelum pajak terhadap total liabilitas lancar, dan rasio total penjualan terhadap total asset.

30

Model kebangkrutan Springate membedakan antara perusahaan yang distress dan yang tidak distress, model ini menggunakan empat rasio keuangan yang dikombinasikan dalam suatu persamaan yang dikenal dengan model Springate (S-Score). Nilai cut-off yang berlaku ialah sebesar 0,862.

Nilai Springate (S-Score) yang lebih kecil dari 0,862 menunjukkan bahwa perusahaan diprediksi mengalami financial distress yang akan menjadi gejala awal kebangkrutan perusahaan dan apabila nilai Springate (S-Score) lebih besar dari 0,862 maka menunjukkan bahwa perusahaan diprediksi sehat atau tidak berpotensi bangkrut.

Model Springate (S-Score) memprediksi adanya potensi kesulitan keuangan dalam suatu perusahaan, empat rasio keuangan ini dapat digunakan bukan hanya perusahaan sektor perbankan, namun dapat digunakan oleh perusahaan sektor lain. Beberapa penelitian terdahulu seperti yang dilakukan oleh Adriana, Nasir dan Rusli (2015) yang meneliti prediksi kebangkrutan menggunakan metode Springate pada perusahaan food and beverages dan penelitian oleh Suwandani dan Nuzula (2017) yang memprediksi financial distress pada perusahaan Tekstil dan Garmen.

Financial distress yang terjadi pada perusahaan perbankan terjadi karena kinerja perbankan yang kurang baik, pengambilan keputusan yang tidak tepat yang dapat dilihat dari permasalahan solvabilitas yakni perbankan mengalami kekurangan dana dalam melunasi kewajiban perusahaan,

Universitas Sumatera Utara

permasalahan likuiditas yakni kesulitan perusahaan dalam melunasi hutang jangka pendek, dan permasalahan profitabiltas yakni kemampuan perusahaan dalam mengelola asset yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba secara keseluruhan yang dapat diukur dengan Return on Assets (ROA).

Springate dikenal dengan metode Springate (S-Score) yang dirumuskan metodenya sebagai berikut:

S = 1.03X1+3.07X2+0.66X3 +0.4X4

Keterangan:

X1=𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡

X2= 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡

X3= 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟

X4= 𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡

32

Nilai skor yang diperoleh merupakan gabungan dari empat rasio

keuangan yang berbeda. Definisi dari diskriminan Springate (S-Score) adalah:

1. Rasio X1 (Modal Kerja/Total Aset)

Rasio ini mengukur likuiditas dengan membandingkan aset lancar terhadap total aset.Nilai rasio yang semakin tinggi menunjukkan semakin besar modal kerja yang diperoleh perusahaan dibanding total aktivanya. Pada kondisi financial distress, modal kerja akan menurun lebih cepat dibanding dengan total asset, sehingga menyebabkan nilai rasio ini rendah.

2. Rasio X2 (Laba Sebelum Bunga dan Pajak/Total Aset)

Rasio ini untuk mengukur profitabilitas perusahaan, yaitu tingkat pengembalian aset dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak dengan total aset perusahaan. Rasio ini menekankan tentang pentingnya efektivitas dan efesiensi pengelolan dalam mencapai laba perusahaan terutama dalam memenuhi kewajiban bunga para investor. Semakin tinggi nilai rasio ini maka semakin baik perusahaan dalam mengelola seluruh aset dalam

Rasio ini untuk mengukur profitabilitas perusahaan, yaitu tingkat pengembalian aset dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak dengan total aset perusahaan. Rasio ini menekankan tentang pentingnya efektivitas dan efesiensi pengelolan dalam mencapai laba perusahaan terutama dalam memenuhi kewajiban bunga para investor. Semakin tinggi nilai rasio ini maka semakin baik perusahaan dalam mengelola seluruh aset dalam

Dokumen terkait