BAB 1 PENDAHULUAN
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.2. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan dokumentasi untuk menambah referensi mengenai Sulim di Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
2. Sebagai pengaplikasian ilmu yang diperoleh penulis selama perkuliahan di Program Studi Etnomusikologi.
3. Sebagai upaya untuk melestarikan musik tradisional daerah sebagai dari budaya Nasional.
4. Sebagai syarat untuk menyelesaikan jenjang Studi S-1 pada Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
5. Sebagai referensi untuk menjadi acuan pada penelitian yang relefan dikemudian hari.
6 1.4 Konsep Penelitian
1.4.1 Konsep
Konsep merupakan penggabungan dan perbandingan bagian – bagian dari suatu penggambaran dengan bagian – bagian dari berbagai penggambaran lain yang sejenis, berdasarkan asas – asas tertentu secara konsisten (Koentjaraningrat 2009 : 85). Konsep merupakan rancangan ide atau pengertian yang di abstrak kan dari peristiwa konkret (Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1991 : 431).
Berikut ini penulis akan membuat pengertian dari kata-kata yang terdapat pada judul. Deskripsi adalah menjelaskan objek dengan menerangkan ke pembaca secara tulisan maupun lisan dengan sedetail-detailnya Seeger (1958 : 184). Teknik adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan (L James Havery). Pembuatan adalah kegiatan meciptakan atau memproses sesuatu. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan sesuatu dengan beberapa cara atau langkah yang sesuai dengan benda yang akan dibuat (KBBI). Permainan adalah usaha olah diri, olah pikiran dan olah fisik yang sangat bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan motivasi, kinerja, dan prestasi dalam melaksanakan tugas dan kepentingan dengan lebih baik (Kimpraswil dalam As’adi Muhammad, 2009:26). Dalam perhatian Etnomusikologi, bahwa Etnomusikologi tidak hanya berhubungan dengan
7
musikal, aspek sosial, konteks budaya, psikologis, dan estetika, melainkan paling sedikit ada enam aspek yang menjadi pusat perhatiannya. Dapat dilihat dalam buku The Antropologi of Music oleh Alan P. Merriam (1964:45-48), yang menegaskan tentang 6 objek studi Etnomusikologi, yaitu:
1. Instrumen, 2. Teks dan lagu,
3. Asal – usul dan klasifikasi musik, 4. Peranan dan kedudukan pemain musik, 5. Fungsi Musik terhadap aspek lainnya, 6. Musik sebagai hasil dari ciptaan.
Seperti yang dikemukakan oleh Mantle Hood (1982 : 124), bahwa Organologi yang digunakan adalah berhubungan dengan alat musik itu sendiri.
Menurut Hood Organologi adalah ilmu pengetahuan musik yang tidak hanya meliputi sejarah dan deskripsi alat musik, akan tetapi sama pentingnya dengan ilmu pengetahuan dari alat musik itu sendiri antara lain: teknik pertunjukkan, fungsi musikal, dekoratif, dan variasi sosial budaya.
Dari uraian di atas, penulis mengambil pengertian bahwa Deskripsi Organologis adalah suatu penelitian dan pembelajaran tentang instrumen musik baik mencakup tentang sejarahnya maupun deskripsi alat musik itu sendiri, tanpa mengesampingkan aspek aspek yang terdapat di dalam alat musik tersebut.
8 1.4.2 Teori
Teori merupakan landasan pendapat yang dikemukakan mengenai suatu peristiwa (KBBI, Balai Pustaka, 1991 : 1041). Sebagai landasan dalam melihat suatu permasalahan dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan teori- teori yang relevan yang sesuai untuk permasalahan tesebut.
Untuk membahas pokok permasalahan yang ada, penulis menggunakan teori yang dikemukakan oleh Khasima Shushumu, (1978 : 174) bahwa studi musik dapat dibagi kedalam dua kelompok sudut pandang mendasar, yaitu : a. Studi struktural; berkaitan dengan pengukuran, perekaman, atau bentuk
pencatatan, konstruksi, serta bahan – bahan yang dipakai untuk pembuatan alat musik tersebut.
b. Studi fungsional; memperhatikan fungsi dari alat – alat atau komponen yang memproduksi suara, antara lain membuat pengukuran dan pencatatan terhadap metode memainkan alat musik tersebut, metode pelarasan dan keras lembutnya suara (loudness), bunyi, nada, warna nada dan kualitas suara yang dihasilkan oleh alat musik tersebut”.
Sulim adalah instrumen musik aerophone yang sumber penggetar utama bunyi nya dihasilkan dari udara. Oleh karena itu dalam pengklasifikasian alat musik tersebut penulis juga menggunakan teori yang dikemukakan oleh Curt Sach dan Hornbostel 1961, yaitu: “Sistem pengklasifikasian alat musik berdasarkan sumber penggetar utama bunyi. Sistem klasifikasi ini terbagi menjadi empat bagian yang terdiri dari :
9
1) Idiofon, badan alat musik itu sendiri sebagai penggetar utama penghasil bunyi,
2) Aerofon, udara sebagai penggetar utama penghasil bunyi, 3) Membranofon, kulit sebagai penggetar utama penghasil bunyi, 4) Kordofon, senar sebagai sumber penggetar utama penghasil
bunyi.
Berdasarkan teori di atas, penulis menggolongkan teknik pembuatan dan teknik permainan alat musik Sulim yang dilakukan oleh Bapak Marsius Sitohang kedalam studi struktural dan studi fungsional serta pengklasifikasian alat musik.
1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan suatu pendekatan pada melakukan penelitian yang berorientasi pada fenomena atau gejala yang bersifat alami. Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang memperdulikan produk atau hasil, pada penelitian kualitatif keperduliannya adalah pada proses. Penelitian kualitatif tidak berupaya mencari bukti-bukti untuk pengujian hipotesis yang diturunkan dari teori, seperti halnya pada pendekatan kuantitatif. Akan tetapi, peneliti berangkat ke lapangan untuk mengumpulkan berbagai bukti melalui penelaahan terhadap fenomena.
Meskipun demikian, bukan berarti peneliti berangkat ke lapangan tanpa pegangan atau perencanaan. Sebagai pegangan peneliti saat mengumpulkan data dari lapangan, peneliti memiliki kerangka kerja atau kerangka acuan yang
10
bersifat asumsi teoritis sebagai pengorganisasian kegiatan pengumpulan data.
Penelitian kualitatif sangat tepat digunakan untuk studi ini karena seperti yang dijelaskan di atas, bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk mencari tahu bagaimana proses pembuatan Sulm, cara memainkannya dan fungsi dari instrumen musik. Metode adalah cara yang digunakan dalam melaksanakan suatu pekerjaan agar hasil dari pekerjaan tersebut sesuai dengan yang diharapkan dan dikehendaki melalui cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka 2005). Metode Penelitian, tata cara yang di lakukan peneliti yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang menjadi sasaran ilmunya atau data serta melakukan investigasi terhadap data yang telah didapatkan tersebut. Untuk memperoleh data secara sistematis, maka peneliti menggunakan metode penelitian dengan pendekatan analisis deskriptif. Untuk memperoleh data tersebut sesuai dengan metode kerja lapangan, dipergunakan kerangka kerja Nettl (1964:29-30) meliputi:
1. Wawancara mendalam, dengan tujuan agar informan dapat memberikan pandangan- pandangan tentang kebudayaan secara luas dan terbuka.
2. Observasi budaya, meliputi proses dokumentasi audio dan visual, data statistik, dan sumber-sumber tertulis lainnya.
3. Pengamatan serta, yaitu pengamatan dimana peneliti
berperan-11
serta dalam aktifitas masyarakat. Penelitian ini adalah penelitian dekriptif, dengan lebih banyak bersifat uraian dari hasil obeservasi, wawancara dan dokumentasi.
Data yang telah diperoleh dianalisi secara kualitatif diuraikan dalam bentuk deskriptif. Teknik analisis data dikumpulkan dan dianalisis berdasarkan data yang ada. Tahapan- tahapan analisis data untuk menginterpretasi data secara spesifik dengan cara sebagai berikut: Reduksi data, Penyajian data, Penarikan simpulan dan verifikasi.
Di lapangan, penulis mengumpulkan data langsung. Untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin, penulis menggunakan peralatan perekam dalam bentuk foto maupun video beserta buku catatan. Selanjutnya, peneliti melakukan rekonstruksi ulang terhadap pembuatan dan cara memainkan alat musik ini. Peneliti melakukan rekonstruksi ulang di Kelurahan Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan.
1.5.1 Studi Kepustakaan
Pada tahap sebelum ke lapangan (pra lapangan), dan sebelum mengerjakan penelitian, penulis terlebih dahulu mencari dan membaca serta mempelajari bukubuku, tulisan-tulisan ilmiah, literature, majalah, situs internet, dan catatan-catatan yang berkaitan dengan objek penelitian.
Studi pustaka ini diperlukan untuk mendapatkan konsep-konsep dan teori juga informasi yang dapat digunakan sebagai pendukung penelitian pada saat melakukan penelitian dan penulisan skripsi.
12 1.5.2 Kerja Lapangan
Menurut Harja W. Bachtiar (1985 : 108), bahwa pengumpulan data dilakukan melalui kerja lapangan (field work) dengan menggunakan teknik observasi untuk melihat, mengamati objek penelitian denga n tujuan mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan.
Dalam hal ini, penulis juga langsung melakukan observasi langsung ke lokasi penelitian yang telah diketahui sebelumnya, dan langsung melakukan wawancara bebas dan juga wawancara mendalam antara penulis dengan informan, yaitu dengan mengajukan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya, walaupun saat melakukan penelitian terdapat juga hal-hal baru, yang menjadi bahan pertanyaan yang dirasa mendukung dalam proses penelitian ini, ini dilakukan untuk tetap memperoleh keterangan-keterangan dan data-data yang dibutuhkan dan data yang benar, untuk mendukung proses penelitian.
1.5.2.1 Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan kegiatan untuk melakukan pengukuran dengan menggunakan indra penglihatan yang juga berarti tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
1.5.2.2 Wawancara
Adapun teknik wawancara yang dilakukan penulis ialah melakukan dengan dua cara yang dikemukakan oleh Koentjaningrat untuk melakukan
13 wawancara ( 1985 : 139 ) yaitu :
1. Wawancara berfokus (focused interview) adalah pertanyaan yang selalu bepusat kepada pokok permasalahan.
2. Wawancara bebas (casual interview) adalah pertanyaan yang selalu beralih dari satu pokok permasalahan ke pokok permasalahan yang lain.
Dalam hal ini penulis terlebih dahulu menyiapkan daftar pertanyaan yang akan ditanyakan pada saat wawancara secara bebas ataupun tertuju dari satu topik ke topik lain dan materinya tetap berkaitan dengan topik penelitian.
Penulis melakukan wawancara langsung terhadap informan dalam hal ini Bapak Marsius Sitohang sebagai informan kunci, dan beberapa informan lainnya.
Menurut Sutrisno Hadi (1989:192), wawancara sebagai suatu proses tanya jawab lisan, dua orang atau lebih dan berhadap – hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri.
Suaranya tampaknya merupakan alat pengumpulan informasi yang langsung tentang beberapa jenis data sosial, baik yang terpendam (latent) maupun yang memanifes.
Wawancara adalah alat yang sangat baik untuk mengetahui tanggapan, pendapat, keyakinan, perasaan, motivasi serta proyeksi seseorang terhadap masa depannya; mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk menggali masa lalu seseorang serta rahasia – rahasia hidupnya. Wawancara juga dapat di gunakan sewaktu tanya – jawab sedang berjalan. Wawancara merupakan alat
14
pengumpulan data yang sekaligus mengecek dan sebagai bahan ricek ketelitian dan kemantapannya.
1.5.2.3 Perekaman Data Visual dan Audio
Untuk pemotretan dan perekaman wawancara, penulis menggunakan kamera dan handphone sebagai alat rekam sedangkan untuk pengambilan gambar ( foto ) digunakan kamera Canon, dan Iphone 7+.
1.5.3 Kerja Laboratorium
Keseluruhan data yang telah terkumpul dari lapangan, selanjutnya di proses dalam kerja laboratorium. Data – data yang bersifat analisis di susun dengan sistematika penulisan ilmiah. Data – data berupa gambar dan rekaman di teliti sesuai ukuran yang telah di tentukan kemudian di analisis seperlunya.
Semua hasil pengolahan data tersebut disusun dalam satu laporan hasil penelitian berbentuk skripsi (Alan P. Merriam,1995:85).
1.5.4 Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini adalah tempat tinggal keluarga informan yaitu Keluarga Bapak Marsius Sitohang di Kelurahan Timbang Deli Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan.
15 BAB II
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT BATAK TOBA DI KELURAHAN TIMBANG DELI KECAMATAN MEDAN AMPLAS DAN BIOGRAFI
SINGKAT MARSIUS SITOHANG
Pada bab ini penulis akan memaparkan mengenai gambaran umum lokasi penelitian serta biografi dari Bapak Marsius Sihotang sebagai seniman dan pembuat alat musik sulim. Pada bab ini peneliti juga akan menjelaskan bagaimana gambaran umum masyarakat Batak Toba di Kelurahan Timbang Deli Kecamatan Medan Amplas.
2.1 Gambaran Umum Kelurahan Timbang Deli
Kelurahan Timbang Deli merupakan bagian dari pemerintah Kota Medan dimana Kelurahan Timbang Deli merupakan salah satu dari tujuh Kelurahan di Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan. Kantor kelurahan Timbang Deli beralamat di Jalan Balai Desa No. 17. Batas batas wilayah Kelurahan Timbang Deli adalah :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Amplas.
2. Sebelah Selatan berbatasn dengan Desa Marindal-II Kabupaten Deli Serdang.
3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Bangun Mulia.
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Harjosari-I dan Kelurahan Harjosari-II.
16
Gambar 2.1Peta Wilayah Kelurahan Timbang Deli Sumber : Kecamatan Medan Amplas
Kelurahan Timbang Deli terbagi atas 4 batas wilayah yang dimana pola permukiman bersifat terpusat, dimana permukiman masyarakat dekat dengan pusat ibadah, pemerintahan dan juga pasar. Berdasarkan penelitian di Kelurahan Timbang Deli, untuk sistem kekerabatan, sistem kesenian, sistem kepercayaan, dan sistem bahasa pada Masyarakat Batak Toba di Kelurahan Timbang Deli tidak terjadi banyak perubahan dari daerah asal suku Batak Toba seperti di Kabupaten Samosir. Masyarakat Batak Toba di Kelurahan Timbang Deli masih memiliki beberapa pemahaman yang sama dengan Masyarakat Batak Toba di daerah lainnya baik dalam sistem kekerabatan, sistem kesenian, sistem kepercayaan, dan sistem bahasa.
17 2.2 Keadaan Penduduk
Berdasarkan data yang diperoleh penulis dari Kecamatan Medan Amplas dalam angka 2019 jumlah penduduk, persentase Agama, dan persentase Etnis yang ada di Kelurahan Timbang Deli adalah sebagai berikut:
Sumber : Kecamatan Medan Amplas Dalam Angka 2019 Persentase Agama yang ada di Kelurahan Timbang Deli:
No Agama Persentase
1. Protestan 50%
2. Katolik 10%
3. Islam 40 %
Sumber: Kecamatan Medan Amplas Dalam Angka 2019 Persentase Etnis yang ada di Kelurahan Timbang Deli:
No Etnis Persentase
Bahasa Batak Toba merupakan bagian dari kelompok bahasa “selatan”
dalam kesatuan induk suku Batak, bersama-sama dengan bahasa Mandailing dan Angkola. Sedangkan yang tercakup kedalam kelompok bahasa “utara” adalah bahasa Karo, Dairi, dan Pak-pak. (Uli Kozok, Warisan Leluhur, (Pustaka
18
Grafindo, 1999): 16). Bahasa Batak Toba terdiri dari tiga jenis, yaitu bahasa Hasomalan, bahasa Harajaon, bahasa Andung yang memiliki penggunaan tersendiri. Bahasa Hasomalan dipergunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari, sedangkan bahasa harajaon lebih banyak dipergunakan dalam aktivitas adat istiadat. Bahasa Andung dipergunakan dalam melakukan aktivitas andung.
Selain untuk keperluan komunikasi sehari-hari, bahasa Batak Toba juga dipergunakan dalam seni sastra masyarakat Batak Toba, yang mencakup turi-turian, tonggo-tonggo, torsa-torsa, huling-huling. Semuanya disampaikan dalam beberapa bentuk penyajian sastra, yang berfungsi sebagai hiburan, bagian dari adat, hukum dan religi.
Masyarakat Batak Toba di Kelurahan Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas menggunakan Bahasa Batak Toba dan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Bahasa Batak Toba digunakan oleh sesama Etnis Batak Toba sedangkan dengan Etnis lain masayarkat berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia.
2.4 Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam tiga posisi yang disebut Dalihan Na Tolu. Dalam berbagai tulisan yang membicarakan masyarakat Toba – kini sudah lebih sering disebut Batak Toba – istilah Dalihan Na Tolu selalu diartikan atau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Tiga Tungku Sejerangan atau Tungku Nan Tiga.
19
Dalihan Na Tolu dianalogikan dengan tiga tungku masak di dapur tempat untuk meletakkan periuk. Maka adat Batak Toba pun mempunyai tiga tiang penopang dalam kehidupan, yaitu (1) pihak semarga (in group); (2) pihak yang menerima istri (wife receving party); (3) pihak yang memberi istri (giving party).
(Nalom Siahaan, Adat Dalihan Na Tolu dan Pelaksanaannya, (Jakarta: Grafindo, 1982): 35).
Ketiga unsur atau posisi penting dalam kekerabatan Masyarakat Batak Toba tersebut yaitu: Hula-hula yaitu kelompok orang orang yang posisinya paling tinggi di Adat Batak Toba yang berasal dari keluarga marga pihak istri, sebagai wujud penghormatan terhadap kelompok ini pada Masyarakat Batak Toba dikenal dengan sebutan “Somba marhula-hula” yang memiliki arti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan. Dongan Tubu yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar” seperti teman/saudara semarga yang harus tetap kompak dan akrab, sehingga dalam Masyarakat Batak Toba dikenal dengan sebutan “Manat mardongan tubu” yang memiliki arti menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan. Adapun unsur kekerabatan yang ketiga adalah Boru, yaitu kelompok penerima istri, yang dalam suatu acara adat posisinya adalah sebagai “pekerja” sehingga dalam masyarakat Batak Toba dikenal dengan sebutan “elek marboru” yang memiliki arti harus memperhatikan dan mengayomi kelompok penerima istri ini, karena merekalah yang akan bekerja apabila ada suatu upacara adat/pesta.
20
Kedudukan Hula-hula, Boru, dan Dongan Tubu pada upacara adat bisa menjadi berganti. Posisi Hula-hula bisa menjadi Boru, demikian juga Boru bisa menjadi Hula-hula. Dengan demikian setiap kelompok Masyarakat Batak Toba akan menduduki ketiga fungsi Dalihan Na Tolu.
Nilai kekerabatan atau keakraban berada di tempat yang tinggi bagi aturan kehidupan Masyarakat Batak Toba. Nilai inti kekerabatan Masyarakat Batak Toba utamanya terwujud dalam pelaksanaan ada, selain itu terlihat pada tutur sapa dan bersikap.
Dengan perkawinan terjadilah ikatan dan integritas di antara tiga pihak yang disebut tadi, seolah-olah mereka bagai tiga tungku di dapur yang besar.
Fungsi adat ini diantaranya adalah Patuduhon Holong yang artinya menunjukkan kasih sayang diantara sesama yang penuh sopan santun. Dari fungsinya yang penuh kehikmatan maka adat Dalihan Na Tolu dapat diterima oleh setiap masyarakat Batak Toba, sekalipun mereka berbeda agama. Setiap Masyarakat Batak Toba yang sudah berumah tangga otomatis menjadi anggota pemangku adat Dalihan Na Tolu. Tidak ada alasan bagi mereka yang telah berumah tangga untuk tidak ikut tampil dalam menyelesaikan urusan ditengah-tengah masyarakat secara Dalihan Na Tolu. Karena bila salah satu dari unsur Dalihan Na Tolu tidak hadir maka suatu perkerjaan adat dipandang tidak sah dan tidak kuat.
2.4.1 Hula-hula
Kedudukan hula-hula dianggap sebagai penyalur berkat, karena itu harus dihormati. Hula-hula juga disebut parrajaon, artinya dirajakan, dan mereka
21
sangat dihormati oleh boru nya. Rasa hormat terhadap hula-hula tercermin dalam falsafah Dalihan Na Tolu, bahwa somba marhula-hula artinya seseorang yang memiliki hula-hula harus hormat dan patuh kepada hula-hulanya walaupun kedudukan dari segi jabatan dan kepangkatan di luar adat lebih tinggi, namun harus tetap menghormati hula-hulanya.
Penghormatan terhadap hula-hula itu karena mereka dianggap sebagai tempat meminta berkat yang disebut dengan pasu-pasu, sehingga hula-hula dalam Masyarakat Batak Toba dianalogikan sebagai perwujudan “Allah yang kelihatan”.
Tidak jarang kita lihat Boru pergi mengunjungi hula-hula yang tujuannya untuk menerima berkat dari Tuhan melalui doa dari pihak hula-hula. Keadaan ini seolah-olah memberi gambaran bahwa berkat atau pasu-pasu akan tercapai apabila hula-hula mendoakan borunya. Fungsi hula-hula dalam kehidupan Masyarakat Batak Toba dapat dirinci menjadi tiga yaitu:
1. Dalam suatu musyawarah dan mufakat untuk sebuah rencana, hula-hula sebagai tempat meminta nasihat dan bantuan moral agar terlaksananya suatu upacara adat.
2. Pada upacara adat berlangsung, Hula-hula bertugas memimpin upacara memberkati dan berdoa, agar acara adat tidak mendapat hambatan.
3. Sebagai juru damai dalam suatu perselisihan, misal dalam hal pembagian harta warisan. Hula-hula yang bersusah payah untuk mendamaikan tanpa memihak.
22 2.4.2 Dongan Sabutuha
Sehubungan dengan kekerabatan Dongan Sabutuha, Schreiner mengemukakan: golongan-golongan “seperut” ini menganggap dirinya sebagai persekutuan-persekutuan pemujaan yang anggota-anggotanya secara berkala memperkuat kesatuan mereka dan ikatan persekutuan dengan bapa leluhur mereka melalui pesta pesta-pesta perjamuan bersama. Ikatan mereka diteguhkan melalui musik gondang dan melalui pertukaran pemberian-pemberian kepada upacara-upacara pesta yang disertai pertukaran barang-barang antara golongan-golongan yang seketurunan semacam itu termasuk juga kawin dan mengawinkan, yang mempertahankan keselaran makrokosmos-makrokosmos. (Lothar Schreiner, Adat dan Injil (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2002): 42, “seperut” adalah istilah Schreiner untuk semarga yang dalam Bahasa Batak Toba disebut dengan istilah Dongan Sabutuha).
Dongan Sabutuha adalah hubungan berdasarkan garis keturunan dari ayah.
Namun dalam cakupannya dalam suatu pelaksanaan upacara adat lebih luas lagi, setiap marga yang dianggap satu nenek moyang juga termasuk dalam klasifikasi dongan tubu. Dari kata “Dongan” yang artinya adalah teman sudah dapat diartikan bahwa kedudukan mereka adalah sejajar. Sabutuha berarti satu perut yang apabila diartikan secara langsung “satu ayah” dan “satu ibu”. Dongan Sabutuha itu haruslah seiya dan sekata, ringan sama dijinjing berat sama dipikul sebagai keluarga kandung seibu-sebapak.
23 2.4.3 Boru
Boru merupakan tiang beban pelaksana setiap horja dalam hubungan formal dan nonformal. Penerima Boru dalam suatu horja berada pada posisi yang lebih rendah dari Hula-hula. Dalam posisi ini kelompok hula-hula harus mengasihi dan bersikap mengayomi boru yang tercermin dari istilah elek marboru. Pada upacara adat pihak boru berperan sebagai parhobas yaitu orang yang bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kelancaran jalannya pesta. Jika Masyarakat Batak Toba hendak melaksanakan suatu horja, pada saat musyawarah kelompok Dongan Sabutuha, pendapat dan pertimbangan dari boru juga diminta terutama mengenai sanggup atau tidaknya rencana keputusan dilaksanakan.
Jadi dapat dikatakan peranan utama dari boru dalam adat adalah memberi sumbangan tenaga, materi, dan pemikiran pada setiap upacara adat. Selain itu, Boru juga memegang peranan penting dalam mendamaikan hula-hulanya apabila terjadi perselisihan.
2.5 Sistem Kesenian
Masyarakat Batak Toba di Kelurahan Timbang Deli memiliki sistem kesenian yang beragam baik dari seni tari, seni musik, dan seni sastra. Kesenian merupakan bentuk dari ekspresi perasaan manusia terhadap keindahan, dalam kebudayaan suku-suku bangsa yang pada mulanya bersifat deskriptif
Masyarakat Batak Toba di Kelurahan Timbang Deli memiliki sistem kesenian yang beragam baik dari seni tari, seni musik, dan seni sastra. Kesenian merupakan bentuk dari ekspresi perasaan manusia terhadap keindahan, dalam kebudayaan suku-suku bangsa yang pada mulanya bersifat deskriptif