• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.4.2 Manfaat Penelitian

1. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan untuk menambah pengetahuan tentang gambaran ajaran agama Islam dalam novel Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala.

2. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan untuk memperoleh konsep baru guna memperluas wawasan dan pengetahuan kita dalam bidang sastra.

B. Manfaat Praktis:

1. Hasil penelitian ini dapat membantu untuk memahami novel Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala.

2. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya, yang ingin meneliti dari bidang-bidang lain.

BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

Dalam penelitian ini terdapat beberapa konsep, seperti berikut ini.

2.1.1 Novel

Novel berasal dari bahasa Italia, yaitu novella yang berarti ‗sebuah barang baru yang kecil‘. Novel diartikan sebagai sebuah karya dalam bentuk prosa. Novel adalah karya imajinatif yang mengisahkan sisi utuh problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang tokoh. Kisah novel berawal dari kemunculan persoalan yang dialami oleh tokoh hingga tahap penyelesaiannya (Kosasih, 2016:54).

Jassin (dalam Tantawi, 2015:56) menyatakan, bahwa novel adalah fiksi yang berbentuk prosa yang menceritakan suatu periode kehidupan pelaku utamanya. Di dalam novel selalu ada bagian-bagian yang berkembang menjadi alur atau jalan cerita.

Menurut Sayuti (dalam Mardhiah, 2011:13), novel juga memungkinkan adanya penyajian secara panjang lebar mengenai tempat (ruang) tertentu. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika posisi manusia dalam masyarakat menjadi pokok permasalahan yang selalu menarik perhatian para novelis. Masyarakat memiliki dimensi ruang dan waktu. Sebuah masyarakat jelas berhubungan dengan dimensi tempat, tetapi peran seseorang (baca:tokoh) dalam masyarakat berubah dan berkembang dalam waktu karena panjangnya novel memungkinkan untuk itu.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa novel merupakan sebuah karya sastra yang menceritakan tentang problematika kehidupan seseorang dan beberapa orang tokoh, baik itu dalam kehidupannya sehari-hari maupun

kehidupan berkelompok atau bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, terkandung berbagai macam pesan, baik itu pesan moral, sosial, budaya, maupun keagamaan.

2.1.2 Ajaran Agama Islam

Agama berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu ‖a‖ yang berarti tidak dan ‖gama‖

yang berarti kacau. Maka agama berarti tidak kacau (teratur). Dengan demikian, agama adalah peraturan, yaitu peraturan yang mengatur keadaan manusia maupun mengenai sesuatu yang gaib, mengenai budi pekerti dan pergaulan hidup bersama (Ismail, 1997:28).

Menurut Ishomuddin (2002:29), agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut ‖agama‖.

Agama terdiri dari tipe-tipe simbol, citra, kepercayaan, dan nilai-nilai spesifik dengan mana makhluk manusia menginterpretasikan eksistensi mereka. Akan tetapi, karena agama juga mengandung komponen ritual, maka sebagian agama tegolong juga dalam struktur sosial.

Perasaan keagamaan merupakan salah satu faktor yang menentukan motivasi dan perilaku manusia. Komitmen agama merupakan faktor-faktor yang sangat mempengaruhi perilaku manusia, misalnya: di bidang politik, pendidikan, pemilihan teman hidup, dan lain sebagainya (Soekanto, 1985:97).

Menurut Daradjat, dkk (1996:58), agama adalah risalah yang disampaikan Tuhan kepada nabi sebagai petunjuk bagi manusia dan hukum-hukum sempurna untuk dipergunakan manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dan bertanggung jawab kepada Allah, dirinya sendiri,

manusia, masyarakat, serta alam sekitarnya. Agama sebagai sumber nilai merupakan petunjuk, pedoman dan pendorong bagi manusia untuk memecahkan berbagai masalah hidupnya seperti dalam ilmu agama, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan militer, sehingga terbentuk pola motivasi, tujuan hidup dan perilaku manusia yang menuju kepada keridhaan Allah.

Dari pengertian agama yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa agama adalah peraturan yang mengatur segala sesuatu tentang manusia, baik itu hubungan manusia dengan Tuhan, manusia yang lain, dan alam sekitarnya. Agama dapat menjadi pedoman manusia untuk mengetahui baik buruknya sesuatu dan membatasi diri untuk tidak melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama itu sendiri. Ajaran agama adalah peraturan yang dapat mengatur dan menjadi pedoman bagi manusia untuk menjalankan kehidupan yang terarah. Ajaran agama ini dibagi berdasarkan jenis agama yang dianut oleh manusia, salah satu bagian dari ajaran agama ini adalah ajaran agama Islam.

Kata Islam menurut bahasa berasal dari kata ‖aslama‖ yang berarti tunduk, patuh, dan berserah diri. Agama Islam berisi aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Islam dalam pengertian ini adalah agama yang dibawa oleh para rasul Allah sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad (Suryana, dkk, 1996:29).

Menurut Daradjat, dkk (1996:58), agama Islam adalah agama Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad untuk diteruskan kepada seluruh umat manusia yang mengandung ketentuan keimanan (aqidah) dan ketentuan-ketentuan ibadah dan muamalah (syariat), yang menentukan proses berfikir, merasa dan berbuat dan proses terbentuknya kata hati.

Akidah, syariat, dan akhlak merupakan tiga hal yang tidak bisa dipisahkan, sebab dalam prakteknya ketiganya meyatu secara utuh dalam pribadi seorang muslim (Suryana, dkk, 1996:35). Ali (2012:4) juga berpendapat bahwa Islam sebagai agama tauhid tidak memisahkan antara hal-hal yang disebut akidah, syariat, dan akhlak.

2.1.2.1 Akidah

Menurut Ali (2012:2), akidah (aqidah dalam bahasa Arab) secara etimologi adalah ikatan dan/atau sangkutan. Akidah dalam pengertian terminologi adalah iman, keyakinan yang menjadi pegangan hidup bagi setiap pemeluk agama Islam. Oleh karena itu, akidah selalu ditautkan dengan rukun iman yang merupakan asas seluruh ajaran Islam.

Akidah Islam di dalam Alquran disebut iman, ia bukan hanya berarti percaya, melainkan keyakinan yang mendorong seorang muslim untuk berbuat, karena itu lapangan iman itu sangat luas bahkan mencakup segala sesuatu yang dilakukan seorang muslim yang disebut amal saleh (Suryana, dkk, 1996:67).

Menurut Ali (2012:4), pengertian iman secara luas ialah keyakinan penuh yang dibenarkan oleh hati, diucapkan oleh lidah, dan diwujudkan oleh amal perbuatan.

Lain halnya pengertian akidah secara khusus, yaitu mengandung pengertian rukun iman yang memuat keyakinan kepada: (1) Allah, (2) malaikat-Nya, (3) kitab-Nya, (4) rasul-Nya, (5) hari akhir, dan (6) qada dan qadar.

1. Iman kepada Allah

Beriman kepada Allah merupakan keimanan yang paling pokok dan mendasar, karena merupakan dasar bagi keimanan selanjutnya. Jika seseorang

telah beriman kepada Allah, maka apa saja yang datang dari Allah akan diterimanya tanpa ragu. Iman kepada Allah adalah meyakini sepenuh hati terhadap sifat-sifat Allah dan adanya iman kepada Allah pada diri seseorang dibuktikan dengan perbuatannya sebagai dampak dari keyakinannya itu (Suryana, dkk, 1996:71).

2. Iman kepada Malaikat

Keyakinan kepada malaikat didasarkan kepada firman Allah, jika Allah telah memfirmankan adanya, maka seorang muslim pasti meyakininya, karena itu jika ia telah beriman kepada Allah, maka ia pun akan beriman terhadap malaikat.

Keyakinan terhadap adanya malaikat, bukan hanya sebatas mengetahui nama dan tugas malaikat, melainkan melahirkan dampaknya pada perilaku (Suryana, dkk, 1996:711).

3. Iman kepada Kitab

Iman kepada kitab Allah bagi manusia dapat memberikan keyakinan yang kuat akan kebenaran yang ditempuhnya, karena jalan yang harus ditempuh manusia telah diberitahukan Allah dalam kitab suci. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk melihat masa depan yang akan ditempuhnya setelah kehidupan ini berakhir, maka dengan pemberitahuan kitab suci, manusia dapat mengatur hidupnya menyesuaikan dengan rencana Allah, sehingga hidup manusia memiliki harapan masa depan yang jelas. Itulah sebagian implementasi iman kepada kitab yang membentuk perilaku manusia dalam kehidupannya di dunia (Suryana, dkk, 1996:73).

4. Iman kepada Rasul

Beriman kepada rasul merupakan prasyarat adanya keimanan terhadap kebenaran ajaran yang dibawanya, karena itu antara iman kepada Allah dan iman

kepada rasul tidak bisa dipisahkan, sehingga dalam ajaran agama Islam syahadat menjadi pintu masuk dan syarat seorang muslim (Suryana, dkk, 1996:74).

5. Iman kepada Hari Akhir

Beriman kepada hari akhir adalah meyakini akan kedatangannya. Keimanan itu melahirkan dampak bagi kehidupan seorang muslim, yaitu meyakini bahwa tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini, semua akan dihitung. Ketidakadilan bisa terjadi dan bisa ditutupi di dunia, tetapi ada keadilan yang tidak bisa ditutupi, yaitu pengadilan Allah, karena itu seorang muslim tidak akan putus asa atau kecewa apabila ketidakadilan menimpa dirinya, sebab ia menyakini adanya pengadilan yang Maha Adil (Suryana, dkk, 1996:74).

6. Iman kepada Qada dan Qadar

Beriman kepada takdir akan melahirkan sikap optimisme, tidak mudah kecewa atau putus asa, sebab apa yang menimpa setelah segala usaha dilakukan merupakan takdir Allah, dan Allah akan selalu memberikan yang terbaik. Karena itu, jika terjadi suatu musibah, maka kita mampu bersabar sebab yang buruk menurut kita tidak selalu buruk menurut Allah, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, kaitan takdir ini melahirkan sikap sabar dan tawakal yang dibuktikan dengan terus menerus berusaha sesuai dengan kemampuan untuk mencari takdir yang terbaik dari Allah (Suryana, dkk, 1996:75).

2.1.2.2 Syariat

Menurut Abidin (dalam Mardhiah, 2011:36), secara etimologis, syariat berarti jalan menuju ke sumber air atau jalan ke arah sumber pokok bagi kehidupan. Kata ini merupakan derivasi dari akar syara’a yang berarti menetapkan. Syariat adalah jalan yang ditetapkan Allah dan manusia harus mengarahkan hidupnya untuk

merealisasikan kehendak Tuhan. Ia adalah konsep praktis yang menyangkut seluruh tingkah laku manusia, spiritual, mental, dan fisik.

Syariat adalah ketentuan-ketentuan agama yang merupakan pegangan bagi manusia di dalam hidupnya untuk meningkatkan kualitas hidupnya dalam rangka mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (Daradjat, dkk, 1996:302). Ruang lingkup syariat ada dua, yaitu ibadah dan muamalah (Mardhiah, 2011:37).

1. Ibadah

Ibadah adalah perhambaan seorang manusia kepada Allah sebagai pelaksanaan tugas hidup selaku makhluk yang diciptakan Allah (Suryana, dkk, 1996:82).

Menurut Daradjat, dkk (1996:298-299), ibadah merupakan peraturan-peeraturan yang mengatur hubungan langsung dengan Allah, terdiri atas:

1) Rukun Islam: mengucapkan dua kalimat syahadat, mengerjakan shalat, zakat, puasa, dan haji.

2) Ibadah lainnya, yaitu ibadah yang berhubungan dengan rukun Islam:

a. Badani (bersifat fisik): bersuci meliputi wudu, mandi, tayamum, pengaturan menghilangkan najis, peraturan air, istinja. Dan juga meliputi hal lain seperti azan, ikamah, iktikaf, doa, umrah, tasbih, istighfar, khitan, pengurusan mayat, dan lain-lain.

b. Mali (bersifat harta): kurban, akikah, wakaf, fidiah, hibah, dan lain-lain.

2. Muamalah

Muamalah adalah hubungan antarmanusia, hubungan sosial atau hablum minannas. Dalam syariat Islam hubungan antar manusia tidak dirinci jenisnya,

tetapi diserahkan kepada manusia apa dan bagaimana bentuknya (Suryana, dkk, 1996:92).

Menurut Daradjat, dkk (1996:299), muamalah merupakan peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan lainnya dalam hal tukar menukar harta (jual beli dan yang searti). Di antaranya: dagang, pinjam-meminjam, sewa-menyewa, kerja sama dagang, simpanan, penemuan, pengupahan, rampasan perang, utang piutang, pungutan, warisan, wasiat, nafkah, titipan, dan lain-lain.

2.1.3.3 Akhlak

Akhlak secara etimologi berasal dari kata khalaqa yang berarti mencipta, membuat, atau menjadikan. Akhlaq adalah kata yang berbentuk mufrad, jamaknya adalah khuluqun, yang berarti perangai, tabiat, adat atau khalqun yang berarti kejadian, buatan, ciptaan. Jadi, akhlaq (selanjutnya disebut akhlak = bahasa Indonesia) secara etimologi berarti perangai, adat, tabiat, atau sistem perilaku yang dibuat oleh manusia. Akhlak secara kebahasaan bisa baik atau buruk tergantung kepada tata nilai yang dipakai sebagai landasannya, meskipun secara sosiologis di Indonesia kata akhlak sudah mengandung konotasi baik sehingga orang yang berakhlak berarti orang yang berakhlak baik (Ali, 2012:29).

Akhlak tidaklah semata-mata kelakuan manusia yang nampak atau lahiriah, tetapi banyak aspek yang berkaitan dengan sikap batin ataupun pikiran (Suryana, dkk, 1996:148).

Ruang lingkup yang menjadi objek kajian akhlak, yaitu (1) akhlak yang berhubungan dengan Allah, (2) akhlak yang berhubungan dengan diri sendiri, (3) akhlak yang berhubungan dengan keluarga, (4) akhlak yang berhubungan dengan masyarakat, dan (5) akhlak yang berhubungan dengan alam (Ali, 2012:30).

1. Akhlak yang Berhubungan dengan Allah

Menurut Ali (2012:33), perilaku manusia yang berhubungan dengan Allah adalah ucapan dan perbuatan manusia. Oleh karena itu, akhlak manusia yang baik kepada Allah adalah manusia yang mengucapkan dan bertingkah laku yang terpuji kepada Allah, baik ucapan melalui ibadah langsung kepada Allah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya, maupun melalui perilaku tertentu yang mencerminkan hubungan manusia dengan Allah di luar ibadah tersebut seperti bersyukur, bertasbih, dan beristighfar.

2. Akhlak yang Berhubungan dengan Diri Sendiri

Perilaku manusia yang berhubungan dengan individu manusia adalah seperangkat norma hukum yang dibuat oleh Allah SWT (pencipta) yang diperuntukkan kepada makhluk manusia (ciptaan). Norma hukum yang dimaksud bersifat mengatur hak perseorangan manusia dan kewajiban yang harus dipikulnya. Hal ini, tercermin dalm hukum-hukum Alquran yang bersifat yang bersifat hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Perilaku yang berhubungan dengan diri sendiri terdiri atas: a) sabar, b) syukur, c) tawadhuk, d) benar, e) menahan diri untuk tidak melakukan yang terlarang, f) menahan diri untuk tidak marah, g) amanah atau jujur, h) berani karena benar, i) merasa cukup atas apa yang sudah ada (Ali, 2012:34).

3. Akhlak yang Berhubungan dengan Keluarga

Perilaku yang berhubungan dengan keluarga, dapat diketahui dan dipahami bahwa ikatan hubungan keluarga di dalam ajaran agama Islam diatur oleh Allah dalam bentuk sistem kekerabatan dan perkawinan dalam hukum Islam. Oleh karena itu, salah satu kelompok manusia yang berhak mendapatkan harta warisan adalah orang yang mempunyai hubungan kekerabatan (darah) dengan pewaris.

Perilaku terhadap keluarga termasuk di dalamnya hubungan antara orang tua dengan anaknya dan antara suami dengan istrinya. Perilaku yang berhubungan dengan keluarga meliputi: a) berbuat baik kepada kedua orang tua, b) adil terhadap saudara, c) membina dan mendidik keluarga, dan d) memelihara keturunan (Ali, 2012:35).

4. Akhlak yang Berhubungan dengan Masyarakat

Perilaku yang berhubungan dengan masyarakat, yaitu: a) persaudaraan, b) tolong-menolong, c) adil, d) pemurah, e) penyantun, f) pemaaf, g) menepati janji, h) musyawarah, dan i) berwasiat dalam kebenaran (Ali, 2012:35).

5. Akhlak yang Berhubungan dengan Alam

Berakhlak kepada alam berarti menyikapi alam dengan cara memelihara kelestariannya. Karena itu Allah memberikan isyarat agar manusia dapat mengendalikan dirinya dalam mengeksploitasi alam, sebab alam yang rusak akan dapat merugikan bahkan menghancurkan manusia sendiri (Suryana, 1996:150).

2.2 Landasan Teori

Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi lahir pada abad ke-19 di Eropa.

Nama sosiologi pertama kali digunakan oleh August Comte pada tahun 1839.

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan positif yang mempelajari masyarakat (Tirtarahardja dan Sulo, 2005:94). Sosiologi sastra adalah penelitian yang terfokus pada masalah manusia karena sastra sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depannya berdasarkan imajinasi, perasaan, dan

intuisi. Dari pendapat ini, tampak bahwa perjuangan panjang hidup manusia akan selalu mewarnai teks sastra (Endraswara, 2008:79).

Menurut Wellek dan Warren (1989:111), telaah sosiologi memiliki tiga klasifikasi sebagai berikut:

a. Sosiologi pengarang, profesi pengarang, dan institusi sastra. Masalah yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang dan ideologi pengarang di luar karya sastra.

b. Sosiologi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri berkaitan dengan masalah sosial.

c. Sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra. Sejauh mana sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan sosial.

Berdasarkan uraian di atas, telaah sosiologi yang digunakan untuk menganalisis novel Tuhan Maha Romantis adalah telaah sosiologi yang kedua, yaitu sosiologi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain tersirat dalam karya sastra itu sendiri berkaitan dengan masalah sosial. Masalah sosial yang dimaksud adalah ajaran agama Islam yang terdapat di dalam novel Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala.

Menurut Ali (2012:4), Islam sebagai agama tauhid tidak memisahkan antara hal-hal yang disebut akidah, syariat, dan akhlak.

1. Akidah

Menurut Ali (2012:2), akidah (aqidah dalam bahasa Arab) secara etimologi adalah ikatan dan/atau sangkutan. Akidah dalam pengertian terminologi adalah iman, keyakinan yang menjadi pegangan hidup bagi setiap pemeluk agama Islam. Oleh karena itu, akidah selalu ditautkan dengan rukun iman yang merupakan asas seluruh ajaran Islam.

Menurut Ali (2012:4), pengertian iman secara luas ialah keyakinan penuh yang dibenarkan oleh hati, diucapkan oleh lidah, dan diwujudkan oleh amal perbuatan.

Lain halnya pengertian akidah secara khusus, yaitu mengandung pengertian rukun iman yang memuat keyakinan kepada: (1) Allah, (2) malaikat-Nya, (3) kitab-Nya, (4) rasul-Nya, (5) hari akhir, dan (6) qada dan qadar.

2. Syariat

Menurut Abidin (dalam Mardhiah, 2011:36), secara etimologis, syariat berarti jalan menuju ke sumber air atau jalan ke arah sumber pokok bagi kehidupan. Kata ini merupakan derivasi dari akar syara’a yang berarti menetapkan. Syariat adalah jalan yang ditetapkan Allah dan manusia harus mengarahkan hidupnya untuk merealisasikan kehendak Tuhan. Ia adalah konsep praktis yang menyangkut seluruh tingkah laku manusia, spiritual, mental, dan fisik.

Syariat adalah ketentuan-ketentuan agama yang merupakan pegangan bagi manusia di dalam hidupnya untuk meningkatkan kualitas hidupnya dalam rangka mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (Daradjat, 1996:302). Ruang lingkup syariat ada dua, yaitu: ibadah dan muamalah (Mardhiah, 2011:37).

3. Akhlak

Akhlak secara etimologi berasal dari kata khalaqa yang berarti mencipta, membuat, atau menjadikan. Akhlaq adalah kata yang berbentuk mufrad, jamaknya adalah khuluqun, yang berarti perangai, tabiat, adat atau khalqun yang berarti kejadian, buatan, ciptaan. Jadi, akhlaq (selanjutnya disebut akhlak = bahasa Indonesia) secara etimologi berarti perangai, adat, tabiat, atau sistem perilaku yang

dibuat oleh manusia. Akhlak secara kebahasaan bisa baik atau buruk tergantung kepada tata nilai yang dipakai sebagai landasannya, meskipun secara sosiologis di Indonesia kata akhlak sudah mengandung konotasi baik sehingga orang yang berakhlak berarti orang yang berakhlak baik (Ali, 2012:29).

Ruang lingkup yang menjadi objek kajian akhlak, yaitu (1) akhlak yang berhubungan dengan Allah, (2) akhlak yang berhubungan dengan diri sendiri, (3) akhlak yang berhubungan dengan keluarga, (4) akhlak yang berhubungan dengan masyarakat, dan (5) akhlak yang berhubungan dengan alam (Ali, 2012:30).

2.3 Tinjauan Pustaka

Belum ada penelitian yang menjadikan novel Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala sebagai objek kajiannya. Baik itu dari segi agama, sosial, pendidikan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap novel Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala dari segi ajaran agama Islam, untuk dapat mendeskripsikan gambaran ajaran agama Islam yang terkandung di dalamnya sehingga dapat menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Metode penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak mengutamakan angka-angka, tetapi mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar-konsep yang dikaji secara empiris (Endaswara, 2008:5). Strauss (2003:4) berpendapat bahwa penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya.

3.2 Sumber Data

Sumber yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah:

Judul : Tuhan Maha Romantis Pengarang : Azhar Nurun Ala Penerbit : Azharologia Tebal Buku : 204 halaman

Cetakan : Kelima

Tahun : 2016

Warna Sampul : Hitam, dengan judul berwarna putih dan kuning.

Gambar Sampul : Berupa gambar bulan berwarna kuning serta gambar perempuan dan laki-laki berwarna hitam.

Desain Sampul : YS Gunawan

3.3 Cara Memperoleh Data

Cara memperoleh data dalam penelitian ini adalah studi perpustakaan atau Library Research. Menurut Tantawi (2015:61), studi perpustakaan adalah penelitian yang menggunakan buku sebagai objek penelitian.

Penelitian ini menggunakan cara memperoleh data dengan metode heuristik dan hermeneutik. Menurut Pradopo (dalam Tantawi, 2015:61), metode Heuristik adalah pembacaan karya sastra berdasarkan struktural bahasanya, sedangkan hermeneutik pembacaan karya sastra berdasarkan konvensi sastranya.

Pada metode heuristik dilakukan dengan cara membaca novel yang menjadi objek utama (primer) penelitian ini. Pada bagian ini novel dipahami berdasarkan konvensi bahasa-bahasa yang digunakan oleh pengarang sebagai media untuk menyampaikan pesan kepada pembaca (Tantawi, 2015:61).

Pada metode hermeneutik yaitu membaca novel objek penelitian dilakukan dengan cara memahami konvensi-konvensi yang berlaku terhadap sebuah karya sastra, terutama konvensi sastra dan budaya (Tantawi, 2015:62).

Kemudian, segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sosial, hak, kewajiban, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai agama Islam dipahami melalui kehidupan tokoh utama, lawan tokoh utama, dan tokoh tambahan yang terlibat sampai akhir cerita.

3.4 Cara Menganalisis Data

Cara yang digunakan untuk menganalisis data penelitian ini adalah dengan analisis deskriptif. Menurut Nasir, metode deskriptif berupaya mendeskripsikan tentang situasi atau kejadian, gambaran, lukisan, secara sitematis, faktual, akurat

mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena dengan fenomena pada objek yang diteliti (dalam Tantawi, 2015:84).

BAB IV

GAMBARAN AJARAN AGAMA ISLAM DALAM NOVEL TUHAN MAHA ROMANTIS KARYA AZHAR NURUN ALA: ANALISIS

SOSIOLOGI SASTRA

4.1 Akidah

Akidah merupakan salah satu ajaran dalam agama Islam. Ajaran tentang akidah selalu berhubungan dengan rukun iman yang menjadi dasar dari ajaran agama Islam, yaitu keyakinan kepada Allah, keyakinan kepada malaikat, keyakinan kepada kitab suci, keyakinan kepada rasul, keyakinan akan adanya hari kiamat, dan keyakinan kepada qada dan qadar.

Di dalam novel ini, terdapat empat dari enam nilai akidah dalam ajaran agama Islam yaitu: iman kepada Allah, iman kepada kitab-Nya, iman kepada rasul-Nya, dan iman kepada qada dan qadar.

4.1.1 Iman kepada Allah

Dalam kehidupan umat Islam terdapat beberapa ajaran yang harus diyakini dan diamalkan, seperti rukun iman yang menjadi pokok ajarannya. Iman kepada Allah merupakan salah satunya. Iman kepada Allah yaitu meyakini dengan sepenuh

Dalam kehidupan umat Islam terdapat beberapa ajaran yang harus diyakini dan diamalkan, seperti rukun iman yang menjadi pokok ajarannya. Iman kepada Allah merupakan salah satunya. Iman kepada Allah yaitu meyakini dengan sepenuh