BAB I PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah:
1. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pemahaman kepada peneliti mengenai bagaimana pengaruh leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue, dan pendapatan pajak daerah berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.
2. Bagi Pemerintah Daerah
Diharapkan dengan adanya penelitian ini maka pemerintah daerah dapat termotivasi untuk meningkatkan kinerja keuangan pemerintah daerahnya.
3. Bagi Akademisi atau Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan dapat dijadikan referensi untuk pengembangan penelitian selanjutnya khususnya dalam bidang sektor publik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemerintah Daerah di Indonesia
Menurut UU RI Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, disebutkan bahwa pemerintah daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintah oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi.
Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Daerah provinsi itu dibagi lagi atas daerah kota dan daerah kabupaten. Setiap daerah provinsi, daerah kota, dan daerah kabupaten mempunyai pemerintah daerah yang diatur dengan undang-undang. Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah lainnya. Tiap pemerintah daerah dipimpin oleh kepala daerah.
Sebutan kepala daerah untuk pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan pemerintah kabupaten, masing-masing ialah gubernur, walikota, dan bupati.
Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, kepala daerah berperan sebagai badan eksekutif, artinya kepala daerah menyusun dan menyampaikan anggaran untuk mendapatkan persetujuan,
kemudian melaksanakannya sesuai ketentuan perundang-undangan setelah mendapatkan persetujuan. Ditegaskan pula dalam Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, bahwa pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah.
Untuk saat ini kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan langsung kepala daerah (pilkada). Prosedur dan mekanisme pemilihan kepala daerah sekarang ini, yakni semenjak UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah diberlakukan, lebih menggambarkan pelaksanaan demokrasi.
Pilkada dilaksanakan secara langsung, terbuka kemungkinan bagi calon independen/nonparpol untuk maju melalui partai politik (parpol)/gabungan parpol, dan proses penyaringan bakal calon dilaksanakan secara terbuka dengan mewajibkan tiap parpol/gabungan parpol mengumumkan proses dan hasil penyaringan kepada masyarakat. Kewenangan politik yang dulu ada pada DPRD untuk memilih kepala daerah telah diserahkan pada rakyat sehingga rakyat dapat memilih kepala daerah secara langsung (Bastian, 2006).
Dengan diterapkannya prinsip desentralisasi dan otonomi daerah maka setiap pemerintah daerah diberikan kebebasan yang seluas-luasnya dalam melaksanakan otonomi daerahnya, kecuali untuk urusan pemerintah yang telah diatur dalam undang-undang. Hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dilaksanakan secara adil dan selaras sesuai dengan undang-undang yang berlaku saat ini.
2.2 Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah
Laporan keuangan pemerintah daerah merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban pemerintah daerah kepada masyarakatnya terkait dengan pengelolaan keuangan pemerintah daerah. Tujuan pelaporan keuangan diupayakan mempunyai cakupan yang luas agar memenuhi berbagai kebutuhan para pemakai dan melayani kepentingan umum dari berbagai pemakai yang potensial, bukan hanya untuk kebutuhan khusus kelompok tertentu saja (Kieso, Weygandt, dan Warfield, 2007). Oleh sebab itu, maka pelaporan keuangan pemerintah daerah merupakan salah satu tolok ukur bagi masyarakat dalam rangka menilai kinerja pemerintah daerah mereka.
Pelaporan keuangan adalah struktur dan proses akuntansi yang menggambarkan bagaimana informasi keuangan disediakan dan diungkapkan demi mencapai tujuan ekonomi dan sosial negara. Menurut Ghozali dan Chairani (2007), pengungkapan berarti memberikan data-data yang bermanfaat bagi setiap pihak yang memerlukan. FASB (Financial Accounting Standards Board) mengartikan pelaporan keuangan sebagai sistem dan sarana penyampaian (means of communication) informasi tentang segala kondisi dan kinerja entitas terutama atas segi keuangan dan tidak terbatas berdasarkan pada apa yang dapat disampaikan di dalam laporan keuangan. Singkatnya, pelaporan keuangan lebih luas dari pada laporan keuangan (Bastian, 2006).
2.2.1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD)
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (SPAP) No. 1 menjelaskan definisi laporan keuangan sebagai laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan.
Laporan keuangan menjadi alat yang digunakan untuk menunjukkan capaian kinerja dan pelaksanaan fungsi pertanggungjawaban dalam suatu entitas (Choiriyah, 2010). Oleh karena itu, pengungkapan informasi dalam laporan keuangan harus memadai agar dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan sehingga menghasilkan keputusan yang cermat dan tepat (Almilia dan Retrinasari, 2007).
Laporan keuangan juga merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan good governance (Sadjiarto, 2000). Hal ini dikarenakan melalui laporan keuangan maka unsur akuntabilitas dalam mencapai good governance dapat terpenuhi (Wiratraman, 2009). Melihat besarnya manfaat dari laporan keuangan maka pemerintah pusat menerbitkan aturan mengenai kewajiban Presiden dan Gubernur /Bupati/Walikota untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD berupa laporan keuangan pemerintah daerah. Berdasarkan PP no.71 tahun 2010 (perubahan dari PP no.24 tahun 2005) laporan keuangan pemerintah daerah harus meliputi:
1) Laporan realisasi Anggaran (LRA)
2) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan Perubahan SAL) 3) Neraca
4) Laporan Operasional (LO) 5) Laporan Arus Kas (LAK)
6) Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), dan 7) Catatan atas Laporan Keuangan
2.3 Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Kinerja merupakan pencapaian dari pelaksanaan suatu kegiatan dalam mewujudkan tujuan dari organisasi. Pengukuran kinerja berarti penilaian terhadap pelaksanaan kegiatan berdasarkan tujuan sehingga dapat diketahui kemajuan organisasi serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Sejak diterapkannya penganggaran berbasis kinerja, semua pemerintah daerah dituntut untuk mampu menghasilkan kinerja keuangan pemerintah daerahnya secara baik (Mahsun, 2006).
Pengkuran kinerja mulai menjadi perhatian besar semenjak adanya opini yang mengatakan bahwa pengukuran kinerja dapat meningkatkan efisiensi, keefektifan, penghematan dan produktifitas pada organisasi sektor publik (Halacmi, 2005). Pengukuran kinerja dimaksudkan untuk mengetahui pencapaian kinerja yang telah dilakukan organisasi dan sebagai alat untuk pengawasan serta evaluasi organisasi. Pengukuran kinerja akan memberikan umpan balik sehingga terjadi upaya perbaikan yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan di masa mendatang (Bastian, 2006). Mandell (1997) berpendapat bahwa dengan adanya pengukuran kinerja, maka pemerintah daerah dapat memperoleh informasi untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan sehingga akan meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Salah satu cara yang dapat
dilakukan untuk mengukur kinerja keuangan pemerintah daerah adalah dengan melihat tingkat efisiensi pemerintah daerah tersebut (Hamzah, 2008).
Pengukuran efisiensi dalam organisasi sektor publik merupakan hal yang penting, hal ini dikarenakan kurangnya net income sebagai gambaran akan kinerja keuangan pemerintah daerah saat ini (Hassanudin, 2009). Suatu kegiatan dapat dikatakan efisien apabila pelaksanaan pekerjaan tersebut telah mencapai hasil (output) maksimal dengan menggunakan biaya (input) yang terendah atau dengan biaya minimal (Hamzah, 2008). Dengan adanya pengelolaan keuangan yang efisien maka dapat dilakukan pengambilan suatu keputusan yang berkualitas sehingga dapat meningkatkan kinerja keuangan pemerintah daerah.
Dengan adanya kinerja keuangan yang baik dari pemerintah daerah maka akuntanbilitas dapat diwujudkan. Entitas yang mempunyai kewajiban membuat Pelaporan Kinerja Organisasi adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah, unit kerja pemerintah, dan unit pelaksana teknis. Pelaporan tersebut diserahkan ke masyarakat secara umum dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), sehingga masyarakat dan anggota DPR (users) bisa menerima informasi yang lengkap dan tajam tentang kinerja program pemerintah serta unitnya (PP RI No. 24 tahun 2005).
Pelaporan kinerja yang diterbitkan secara terus-menerus akan menjadi langkah maju dalam mendemonstrasikan proses akuntabilitas. Perbandingan pengukuran kinerja dapat dibangun atas pengukuran kinerja dan menambah dimensi lainnya untuk akuntabilitas perbandingan dengan unit kerja organisasi lain yang serupa.
Government Accounting Standard Board (GASB), dalam Concept Statements No. 2, mengungkapkan bahwa terdapat tiga kategori indikator dalam mengukur kinerja, yaitu:
(1) Service efforts, meliputi pemakaian rasio yang membandingkan sumber daya keuangan dan non-keuangan dengan ukuran lain yang menunjukkan permintaan potensial atas jasa yang diberikan.
(2) Service accomplishment, accomplishment atau prestasi yaitu outputs dan outcomes. Outputs mengukur hanya sebatas kuantitas jasa yang disediakan. Sedangkan, Outcomes mengukur hasil yang muncul dari penyediaan output tersebut. Pengukuran Outcomes menjadi bermakna jika dalam penggunaannya dibandingkan dengan outcomes tahun-tahun sebelumnya atau dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.
(3) Hubungan efforts dengan accomplishment. Pengukuran efisiensi dengan cara membandingkan antara efforts dengan outputs dapat memberikan informasi berupa sejauh mana hasil yang didapatkan sehubungan dengan penggunaan sejumlah sumber daya yang dipakai.
2.4 Leverage
Istilah leverage lebih sering digunakan di sektor swasta. Financial leverage menggambarkan kemampuan perusahaan memanfaatkan aktivanya untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya secara menyeluruh (Avianti, 2000:30). Bagi perusahaan swasta atau lembaga yang bersifat komersial umumnya menggunakan rasio leverage untuk mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemilik
dengan dana yang dipinjam perusahaan dari kreditur (Halim, 2007:231). Pada sektor publik khususnya entitas pemerintah daerah, rasio leverage ini digunakan untuk mengukur perbandingan antara ekuitas dana (kekayaan bersih pemerintah daerah) dengan total utang. Memang rasio leverage selama ini hanya digunakan di sektor perusahaan untuk mengukur komposisi sumber pembiayaan yang berasal dari kreditor dan investor. Di pemerintah daerah, rasio leverage ini mungkin belum merupakan rasio yang penting, dikarenakan utang daerah yang masih relatif kecil (STAN, 2007:108). Rumus perhitungan rasio leverage adalah sebagai berikut:
Rasio Leverage = 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦𝑑𝑒𝑏𝑡
Leverage menunjukkan proporsi pendanaan daerah yang dibiayai dengan hutang. Semakin tinggi leverage suatu daerah berarti semakin tinggi pula ketergantungan daerah tersebut kepada pemerintah pusat. Hal ini sesuai dengan agency teory, yaitu hubungan keagenan antara principal (pemerintah pusat) dengan agennya (pemerintah daerah). Pemerintah daerah akan berusaha memberikan informasi yang seluas-luasnya mengenai kondisi derahnya kepada debitur (pemerintah pusat). Dengan harapan pemerintah pusat lebih mengetahui dan memahami pemerintah daerah dalam kaitannya dengan kredit yang diberikan.
Semakin tinggi tingkat leverage daerah, maka akan semakin besar pula kemungkinan terjadinya transfer kemakmuran dari debitur. Sehingga untuk mempengaruhi hal tersebut pemerintah daerah dituntut untuk meningkatkan kinerja keuangan daerahnya guna memenuhi tuntutan debiturnya.
Leverage mempunyai hubungan positif dengan kinerja keuangan pemerintah daerah, hal ini seiring dengan tuntutan debitur akan informasi mengenai keadaan finansial kreditur dan untuk meyakinkan bahwa debitur akan dapat memenuhi kewajibannya saat jatuh tempo, maka daerah dengan rasio leverage yang tinggi akan melakukan disclosure yang lebih luas (Naim dan Rahman, 2000; Yularto dan Chariri, 2003).
2.5 Ukuran Legislatif
Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) atau anggota legislatif bertugas mengawasi pemerintah daerah agar pemerintah daerah dapat mengalokasikan anggaran yang ada untuk dapat didayagunakan dengan baik. Banyaknya jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) diharapkan dapat meningkatkan pengawasan terhadap pemerintah daerah sehingga berdampak dengan adanya peningkatan kinerja pemerintah daerah (Sumarjo, 2010).
Sumarjo (2010) menyatakan bahwa lembaga legislatif atau DPRD merupakan lembaga yang memiliki potensi dan peran strategis terkait dengan pengawasan keuangan daerah. Gilligan dan Matsusaka (2001) menemukan bahwa ada pengaruh positif ukuran legislatif terhadap kebijakan pendapatan dan pengeluaran suatu Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, semakin banyak anggota DPRD diharapkan semakin dapat meningkatkan pengawasan terhadap Pemerintah Daerah sehingga adanya peningkatan kinerja pada pengelolaan keuangan Pemerintah Daerah.
2.6 Intergovermental Revenue
Patrick (2007) mengartikan intergovernmental revenue sebagai salah satu pendapatan pemerintah daerah yang berasal dari transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk membiayai kegiatan pemerintah daerah. Sebagai timbal baliknya, pemerintah daerah membelanjakan pendapatan transfer antar pemerintah sesuai dengan alokasi dan petunjuk anggaran dan menurut undang-undang.
Pemerintah pusat berharap dengan adanya transfer tersebut maka pemerintah daerah dapat meningkatkan kinerjanya. Patrick (2007) menggunakan intergovernmental revenue sebagai salah satu variabel dalam menjelaskan karakteristik pemerintah daerah Pennsylvania. Transfer tersebut lebih dikenal di Indonesia sebagai dana perimbangan (Suhardjanto, 2010). Berdasarkan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Dana Perimbangan bertujuan mengurangi kesenjangan fiskal antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah dan antar Pemerintah Daerah. Dana perimbangan menurut UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terdiri dari:
1. Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi
2. Dana Alokasi Umum, selanjutnya disebut DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi
3. Dana Alokasi Khusus, selanjutnya disebut DAK, adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.
2.7 Pendapatan Pajak Daerah
Secara umum pajak adalah pungutan dari masyarakat oleh Negara (pemerintah) berdasarkan Undang-Undang yang bersifat dapat dipaksakan dan terutang oleh yang wajib membayarnya dengan tidak mendapat prestasi kembali (kontra prestasi/balas jasa) secara langsung, yang hasilnya digunakan untuk membiayai pengeluaran Negara dalam penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan. Hal ini menunjukkan bahwa pajak adalah pembayaran wajib yang dikenakan berdasarkan Undang-Undang yang tidak dapat dihindari bagi yang berkewajiban dan bagi mereka yang tidak mau membayar pajak dapat dilakukan paksaan. Dengan demikian, akan terjamin bahwa kas Negara selalu berisi uang pajak.
Selain itu, pengenaan pajak berdasarkan Undang-Undang akan menjamin adanya keadilan dan kepastian hukum bagi pembayar pajak sehingga pemerintah tidak dapat sewenang-wenang menetapkan besarnya pajak. Menurut Mardiasmo (2009:21), pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Berdasarkan Undang - Undang No. 28 Tahun 2009 sebagai perubahan dari Undang-Undang No. 34 Tahun 2000, Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pendapatan pajak daerah dalam penelitian ini diukur dari laporan Realisasi APBD masing-masing oleh pemerintah daerah. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Florida (2008), menunjukkan bahwa pendapatan pajak daerah mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah.
2.8 Penelitian Terdahulu
Sumarjo (2010) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh karakteristik pemerintah daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah (studi empiris pada pemerintah daerah kabupaten/kota di Indonesia) menyebutkan bahwa ukuran (size) pemerintah daerah, leverage, dan intergovermental revenue berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Kemakmuran (wealth) tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah disebabkan masih kecilnya peran Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.
Sesotyaningtyas (2012) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue dan pendapatan pajak daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah menyebutkan bahwa secara simultan variabel leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue, dan pendapatan pajak daerah, secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah berdasarkan rasio efisiensi. Sedangkan secara parsial, variable leverage, ukuran legislatif dan intergovernmental revenue tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah berdasarkan rasio efisiensi kinerja. Sedangkan variabel pendapatan pajak daerah berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah berdasarkan rasio efisiensi kinerja.
Anzarsari (2014) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh karakteristik pemerintah daerah terhadap kinerja pemerintah daerah (studi empiris pada kabupaten/kota se-Jawa Tengah) menyebutkan bahwa kemakmuran (wealth), dan intergovernmental renevue berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah.
Sedangkan ukuran (size) dan ukuran legislatif tidak berpengaruh.
Maiyora (2015) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh karakteristik pemerintah daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah kabupaten/kota (studi empiris kabupaten/kota di Pulau Sumatera) menyebutkan bahwa variable size dan intergovernmental revenue berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah sedangkan wealth, ukuran legislatif, dan leverage tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.
Alfarisi (2015) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh pajak daerah, retribusi daerah, dan dana perimbangan terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah (studi empiris pada kabupaten dan kota di provinsi Sumatera Barat) menyebutkan bahwa pajak daerah berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah, retribusi daerah berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah, dan dana perimbangan berpengaruh signifikan negatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.
Rochmah (2015) dalam penelitiannya yang berjudul faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah (studi empiris pada kota dan kabupaten di provinsi Jawa Tengah tahun 2009-2012) menyebutkan bahwa PAD dan pertumbuhan ekonomi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Dana perimbangan, belanja modal, ukuran legislatif, dan leverage tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Penelitian Variabel Penelitian Hasil Peneliti
1 Sumarjo (2010)
terhadap kinerja secara parsial, variable leverage, ukuran dan ukuran legislatif
kemakmuran (wealth),
Independen: Size, legislatif, dan leverage tidak berpengaruh belanja modal, ukuran legislatif, dan leverage tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah
2.9 Kerangka Konseptual
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan kedalam kerangka konseptual sebagai berikut:
Leverage (X1)
Ukuran legislatif
(X2) Kinerja Keuangan
Pemerintah Daerah
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.10 Hipotesis Peneliatian
H1: Levarage berpengaruh signifikan terhadap kinjera keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.
H2: Ukuran legislatif berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.
H3: Intergovernmental revenue berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia
H4: Pendapatan pajak daerah berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia
H5: Leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue dan pendapatan pajak daerah berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia
Intergovernmental Revenue (X3) Pendapatan Pajak
Daerah (X4)
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah asosiatif kausal yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan yang bersifat sebab akibat. Unit analisis dalam penelitian adalah semua website resmi pemerintah daerah di Indonesia. Horizon waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi cross-sectional, yaitu studi yang dilakukan dengan data yang hanya sekali dikumpulkan, Sekaran (2006).
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penulis mengumpulkan dan menganalisis data-data yang diperlukan dalam penelitian ini dari berbagai macam sumber seperti dari internet, jurnal-jurnal ilmiah, buku-buku teks, dan dari berbagai sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini, sehinggga tempat dilakukannya penelitian ini tidak dapat dinyatakan secara spesifik.
3.3 Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
3.3.1 Variabel Bebas
Variabel bebas adalah variabel yang dapat mempengaruhi variabel terikat secara positif atau negatif (Sekaran, 2006). Apabila setiap unit kenaikan variabel bebas diikuti oleh kenaikan variabel terikat maka variabel bebas mempengaruhi variabel terikat secara positif. Begitu juga sebaliknya, apabila setiap unit penurunan variabel bebas diikuti oleh penurunan variabel terikat maka variabel bebas mempengaruhi variabel terikat secara negatif. Didalam penelitian ini, variabel bebas yang digunakan penulis adalah Leverage, Ukuran Legislatif, Intergovernmental Revenue, dan Pendapatan Pajak Daerah.
3.3.2 Variabel Terikat
Variabel terikat merupakan variabel yang menjadi fokus utama peneliti di dalam penelitian ini. Melalui analisis terhadap variabel terikat adalah mungkin untuk menemukan jawaban atas suatu masalah (Sekaran, 2006). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia.
3.4 Defenisi Operasional Variabel 3.4.1 Leverage
Penelitian yang dilakukan Weill (2003) mengungkapkan bahwa leverage merupakan proporsi yang mengambarkan besarnya utang dari pihak eksternal dibandingkan dengan modal sendiri. Hal ini mengindikasikan bahwa jika jumlah
utang lebih besar daripada modal sendiri maka hal tersebut menggambarkan bahwa sumber utama pendanaan entitas tersebut berasal dari pihak eksternal (Perwitasari, 2010). Penelitian yang dilakukan Haniffa dan Cooke (2005), Miranti (2009), dan Choiriyah (2010) menggunakan rasio utang terhadap modal sendiri dalam menghitung leverage. Konsisten dengan penelitian yang dilakukan Cohen (2006), penelitian ini menggunakan debt to equity dalam mengukur leverage.
Adapun rumus untuk menghitung rasio leverage adalah sebagai berikut:
Rasio Leverage = 𝑑𝑒𝑏𝑡
𝑒𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦
3.4.2 Ukuran Legislatif
Pengawasan atas jalannya pemerintahan dilakukan oleh DPRD. Penelitian yang dilakukan oleh Afiah (2009) menggunakan jumlah anggota legislatif untuk menilai pengaruh terhadap sistem informasi akuntansi pemerintah daerah.
Beranjak dari penelitian terdahulu yang dilakukan Afiah (2009), maka peneliti menggunakan jumlah anggota DPRD dalam mengukur ukuran legislatif.
3.4.3 Intergovernmental Revenue
Intergovernmental Revenue adalah pendapatan yang diterima pemerintah daerah yang berasal dari sumber eksternal dan tidak memerlukan adanya pembayaran kembali (Patrick, 2007). Intergovernmental Revenue biasa dikenal dengan dana perimbangan (Suhardjanto 2010). Proksi dari intergovernmental revenue dalam penelitian ini menggunakan perbandingan antara total dana perimbangan dengan total pendapatan. Intergovernmental revenue diukur dengan proksi yang sama dalam penelitian Patrick (2007).
Pengukuran ini dipilih karena intergovernmental revenue merupakan bagian dari pendapatan daerah yang berasal dari lingkungan eksternal (luar kotamadya) dan besarnya ketergantungan pemerintah daerah dari transfer pemerintah pusat (80% - 98%) (Suhardjanto 2010). Adapun rumus perhitungan
Pengukuran ini dipilih karena intergovernmental revenue merupakan bagian dari pendapatan daerah yang berasal dari lingkungan eksternal (luar kotamadya) dan besarnya ketergantungan pemerintah daerah dari transfer pemerintah pusat (80% - 98%) (Suhardjanto 2010). Adapun rumus perhitungan