• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 16-0)

1 PENDAHULUAN

1.5. Manfaat Penelitian

1.5.1 Bagi Laboratorium Politeknik Kemenkes Jakarta II

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur untuk mencegah dan meminimalisirkan bahaya di laboratorium Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta II, sehingga dapat dilakukan pengendalian dan perbaikan di laboratorium tersebut.

1.5.2 Bagi Penulis

Dapat meningkatkan pengetahuan dan sarana pengembangan teori yang telah di dapat dalam perkuliahan sehingga diperoleh pengalaman langsung khususnya mengenai keselamatan dan kesehatan kerja yang ditulis dalam bentuk tulisan ilmiah.

1.5.3 Bagi Instansi Pendidikan

1. Menambah referensi di Universitas Indonesia tentang penerapan K3 Radiasi

2. Meningkatkan hubungan kerjasama antara institusi pendidikan 1.6 Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah identifikasi bahaya dan penilaian risiko keselamatan kerja kemudian melihat nilai konsekuensi, pajanan dan kemungkinan serta tingkat risiko yang terdapat di laboratorium teknik radiodiagnostik dan radioterapi. Peneliti melakukan identifikasi bahaya dengan cara observasi berdasarkan area kerja dan tahapan kerja. Kemudian menganalisis nilai konsekuensi, pajanan dan kemungkinan serta tingkat risiko dengan mengacu pada standar AS/NZS 4360 : 2004 tentang management risiko.

Penelitian dilakukan pada pertengahan bulan Mei sampai pertengahan Juni 2012. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara mengobservasi area kerja, tahapan kerja dan wawancara dengan pihak-pihak terkait. Sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan dengan melihat data-data dan dokumen.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Secara filosofi adalah pemikiran dan upaya utuh untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan tenaga kerja, manusia pada umumnya baik jasmani maupun rohani serta hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur dan sejahtera.

Secara keilmuan adalah ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam upaya penanggulangan kecelakaan kerja termasuk kebakaran, peledakan, pencemaran dan penyakit akibat kerja. Secara yuridis (hukum) upaya perlindungan yang ditujukan kepada tenaga kerja dan orang lain yang berada ditempat kerja dalam keadaan selamat dan sehat serta semua sumber maupun proses produksi dapat dipergunakan secara aman dan efisien.

Keselamatan kerja adalah sarana utama untuk pencegahan kecelakaan baik yang berhubugan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, cacat, dan kematian sebagai akibat dari kecelakaan kerja.

Keselamaan kerja yang baik adalah pintu gerbang bagi keamanan tenaga kerja dan landasan terhadap lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan dengan baik dan benar. (Suma’mur, 1981: 2)

Keselamatan dan kesehatan kerja sebagai ilmu terapan yang bersifat multidisiplin. Sebagai ilmu yang bersifat multidisiplin, pada hakekatnya keselamatan dan kesehatan kerja mempunyai tujuan untuk memperkecil atau menghilangkan potensi bahaya atau risiko yang dapat mengakibatkan kesakitan dan kecelakaan serta kerugian yang mungkin terjadi. Kerangka konsep berpikir keselamatan dan kesehatan kerja adalah menghindari risiko sakit dan celaka dengan pendekatan ilmuah dan praktis secara sistematis dan dalam kerangka fikir kesisteman.

Secara umum K3 mempunyai tujuan, antara lain :

1. Untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan manusia yang terlibat dalam sistem, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan.

2. Mengamankan suatu sistem kegiatan/pekerjaan, mulai dari input, proses, maupun output. Kegiatan yang dimaksud dapat berupa kegiatan produksi dalam sektor industri maupun di luar industri seperti di sektor publik dan yang lainnya.

Adapun tujuan keselamatn dan kesehatan kerja menurut Undang-undang No 1 tahun 1970:

a. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktifitas nasional

b. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada ditempat kerja c. Menjamin proses produksi dapat berjalan secara lancar, aman dan

tanpa hambatan

Disamping itu, keselamatan kerja dapat membantu peningkatan produksi dan produktivitas, atas dasar :

a) Dengan tingkat keselamatan yang tinggi, kecelakaan yang dapat menjadi sebab sakit, cacat, kelemahan dapat di kurangi atau di tekan seminimal mungkin, sehingga pembiayaan yang tidak perlu dapat di hindarkan.

b) Tingkat keselamatan yang tinggi sejalan dengan pemeliharaan dan penggunaan perlatan kerja dan mesin yang produktif dan effisien.

c) Dalam berbagai hal, tingkat keselamatan yang tinggi menciptakan kondisi yang mendukung kenyamanan kerja.

d) Praktek keselamatan tidak bisa di pisahkan dari keterampilan, keduanya berjalan sejajar dan merupakan unsur essensial bagi kelangsungan proses produksi.

e) Partisipasi antar pengusaha dan buruh dalam pelaksanaannya keselamatan dan kesehatan kerja, sehingga membantu hubungan buruh dan pengusaha yang merupakan landasan kuat bagi terciptanya kelancaran produksi (Suma’mur, 1986).

Ruang lingkup keselamatan dan kesehatan kerja dapat dijelaskan sebagai berikut (Rachman, 1990) :

a. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja diterapkan disemua tempat kerja yang didalamnya melibatkan aspek manusia sebagai tenaga kerja, bahaya akibat kerja dan usaha yang dikerjakan.

b. Aspek perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja meliputi:

1.Tenaga kerja dari semua jenjang keahlian 2.Peralatan dan bahan yang dipergunakan

3.Faktor-faktor lingkungan fisik, biologi, kimia, maupun sosial 4.Proses produksi

5.Karakteristik dan sifat pekerjaan 6.Teknologi dan metode kerja

c. Penerepan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja dilaksanakan sejak perencanaan sampai proses pekerjaan selesai.

d. Semua pihak yang terlibat dalam proses industri atau perusahaan ikut bertanggung jawab atas keberhasilan usaha keselamatan dan kesehatan kerja.

2.2 Bahaya

Bahaya dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berpotensi menyebabkan kerugian, baik dalam bentuk cidera atau gangguan kesehatan pada pekerja maupun kerusakan harta benda antara lain berupa kerusakan mesin, alat, properti, termasuk proses produksi dan lingkungan serta terganggunya citra perusahaan (Kurniawidjaja, 2010).

Bahaya kesehatan adalah bahaya yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Dari sudut pandang kesehatan kerja, sistem kerja mencakup empat komponen kerja, yaitu pekerja, lingkungan kerja, pekerjaan, pengorganisasian pekerjaan dan budaya kerja. Setiap komponen kerja dapat menjadi sumber atau situasi yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi kesehatan pekerja (Kurniawidjaja, 2010).

Bahaya / Hazard dapat digolongkan berdasarkan jenisnya (Kurniawidjaja, 2010) ;

1. Bahaya fisik, misalnya yang berkaitan dengan peralatan seperti bahaya listrik.

2. Bahaya kimia, misalnya yang berkaitan dengan material / bahan seperti antiseptik, aerosol, insektisida. Dll

3. Bahaya biologi, misalnya yang berkaitan dengan makhluk hidup yang berada di lingkungan kerja seperti virus dan bakteri.

4. Bahaya Psikososial, misalnya yang berkaitan dengan perilaku pekerja dan kehidupan masyarakat dimana pekerjaan berlangsung seperti sikap ceroboh dan salah persepsi karena nilai budaya yang berbeda.

Klasifikasi bahaya menurut jenisnya tersebut membawa juga pengertian mengenai sumber bahaya yang dapat dibagi atas (Kurniawidjaja, 2010):

a. Manusia dengan segala karakteristiknya baik secara fisik, mental, pengetahuan, keterampilan dan yang lainnya.

b. Peralatan yang disainnya tidak tepat, kualitasnya mudah rusak ataupun kurang terawat.

c. Material / bahan yang secara kimiawi misalnya mempunyai tingkat toksisitas yang tinggi.

d. Lingkungan tepat berlangsungnya pekerjaan kurang memadai, seperti sempit, kotor, licin, dll.

Dan bahaya juga dapat diklasifikasikan terdiri daridua yaitu : 2.2.1 Bahaya Keselamatan Kerja

Merupakan bahaya yang berdampak pada timbulnya kecelakaan kerja yang dapat menyebabkan luka (injury), cacat hingga kematian serta kerusakan property, dampak yang timbulkan bersifat akut. Jenis bahaya keselamatan kerja diklafisikasikan menjadi :

1. Bahaya mekanis yaitu bersumber dari peralatan mekanis dan benda bergerak secara manual atau bergerak dengan menggunakan penggerak. Gerakan mekanis ini dapat menyebabkan cedera atau kerusakan, seperti tersayat, terpotong, terpeleset dan lain – lain.

2. Bahaya elektrik yaitu bersumber dari energy listrik yang dapat mengakibatkan berbagai bahaya seperti kebakaran, konsleting, sengatan listrik.

3. Bahaya kebakaran dan peledakan yaitu bersumber dari bahan kimia yang bersifat explosive atau flammable.

2.2.2 Bahaya Kesehatan Kerja

Bahaya kesehatan kerja merupakan bahaya yang mempunyai dampak terhadap kesehatan manusia dan penyakit akibat kerja. Dampak yang ditimbulkan bersifat kronis. Jenis bahaya kesehatan kerja dapat diklasifikasikan menjadi :

a. Bahaya fisik, antara lain yaitu kebisingan, getaran, radiasi, suhu ekstrim dan pencahayaan.

b. Bahaya kimia, mengandung berbagai potensi bahaya sesuai dengan sifat dan kandungannya. Bahaya yang dapat ditimbulkan seperti keracunan dan iritasi.

c. Bahaya biologi, yaitu bahaya yang berkaitan dengan makhluk hidup seperti bakteri, virus, dan jamur.

d. Bahaya ergonomik, antara lain yaitu manual handling, postur janggal, dan repetitive movement.

e. Bahaya psikologi, antara lain yaitu beban kerja berat, hubungan dan kondisi kerja yang tidak nyaman.

2.3 Risiko

Risiko adalah kemungkinan kejadian yang tidak di kehendaki yang dapat menghasilkan bahaya dikarenakan pekerjaan atau aktifitas (Kurniawidjaja, 2010). Risiko merupakan suatu ukuran kemungkinan dari dampak yang merugikan termasuk cedera, penyakit maupun kerugian ekonomi, resiko juga dapat diartikan sebagai besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan atau potensi kerugian yang muncul (Kalloru, 1996).

Menurut AS/NZS 4360:2004, risiko adalah peluang terjadinya sesuatu yang akan mempunyai dampak terhadap sasaran, diukur dengan hukum sebab akibat. Risiko diukur berdasarkan nilai kemungkinan dan

konsekuensi atau dampak hanya akan terjadi bila ada bahaya dan kontak atau pajanan antara manusia dengan peralatan ataupun material yang terlibat dalam suatu interaksi. Formula yang digunakan dalam melakukan perhitungan risiko adalah :

Menurut Soehatman Ramli (2010), risiko yang dihadapi oleh suatu organisasi atau perusahaan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam maupun dari luar. Oleh karena itu, risiko dalam organisasi sangat beragam sesuai dengan sifat, lingkup, skala, dan jenis kegiatannya antara lain yaitu :

2.3.1 Risiko finansial (financial risk)

Setiap organisasi atau perusahaan mempunyai risiko finansial yang berkaitan dengan aspek keuangan. Ada berbagai risiko finansial seperti piutang macet, perubahan suku bunga, nilai tukar mata uang dan lain-lain. Risiko keuangan ini harus dikelola dengan baik agar organisasi tidak mengalami kerugian atau bahkan sampai gulung tikar.

2.3.2 Risiko pasar (market risk)

Risiko pasar dapat terjadi terhadap perusahaan yang produknya dikonsumsi atau digunakan secara luas oleh masyarakat.

Setiap perusahaan mempunyai tanggung jawab terhadap produk dan jasa yang dihasilkannya. Perusahaan wajib menjamin bahwa produk barang atau jasa yang diberikan aman bagi konsumen. Dalam Undang-undang No. 8 tahun 1986 tentang Perlindungan Konsumen memuat tentang tanggung jawab produsen terhadap produk dan jasa yang dihasilkannya termasuk keselamatan konsumen atau produk (product safety atau product liability). Perusahaan harus memperhitungkan risiko pasar seperti adanya penolakan terhadap produk atau mungkin tuntutan hukum dari masyarakat konsumen atau larangan beredarnya produk dimasyarakat oleh lembaga yang berwenang. Risiko lain yang berkaitan dengan pasar dapat berupa persaingan pasar. Dalam era pasar terbuka kosumen memiliki

kebebasan untuk memilih produk atau jasa yang disukainya dan sangat kritis terhadap mutu, harga, layanan dan jaminan keselamatannya. Setiap produk yang bersaing di pasar bebas menghadapi risiko untuk ditinggalkan konsumen.

2.3.3 Risiko alam (natural risk)

Bencana alam merupakan risiko yang dihadapi oleh siapa saja dan dapat terjadi setiap saat tanpa bisa diduga waktu, bentuk dan kekuatannya.

Bencana alam dapat berupa angin topan atau badai, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, dan letusan gunung berapi. Disamping korban jiwa, bencana alam juga mengakibatkan kerugaian materil yang sangat besar yang memerlukan waktu pemulihan yang lama. Di Indonesia, bencana alam merupakan ancaman serius bagi setiap usaha atau kegiatan.

Indonesia berada di pertemuan lempeng yang meningkatkan risiko terjadinya gempa. Indonesia berada di antara dua benua dan dua lautan luas yang berpengaruh terhadap pola cuaca dan iklim. Indonesia juga memiliki rantai gunung berapi yang masih aktif. Oleh karena itu, faktor bencana alam harus diperhitungkan sebagai risiko yang dapat terjadi setiap saat.

2.3.4 Risiko operasional

Risiko dapat berasal dari kegiatan operasional yang berkaitan dengan bagaimana cara mengelola perusahaan yang baik dan benar.

Perusahaan yang memiliki sistem manajemen yang kurang baik mempunyai risiko untuk mengalami kerugian. Risiko operasional suatu perusahaan tergantung dari jenis, bentuk dan skala bisnisnya masing-masing. Yang termasuk kedalam risiko operasional antara lain yaitu :

a. Ketenagakerjaan

Tenaga kerja merupakan asset paling berharga dan menentukan dalam operasi perusahaan. Pada dasarnya perusahaan telah mengambil risiko yang berkaitan dengan ketenagakerjaan ketika perusahaan memutuskan untuk menerima seseorang bekerja. Perusahaan harus membayar gaji yang memadai bagi pekerjanya serta memberikan jaminan

sosial yang diwajibkan menurut perundangan. Disamping itu perusahaan juga harus memberikan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja serta membayar tunjangan jika tenaga kerja mendapat kecelakaan. Tenaga kerja merupakan salah satu unsur yang dapat memicu atau menyebabkan terjadinya kecelakaan atau kegagalan dalam proses produksi.

Mempekerjakan pekerja yang tidak terampil, kurang pengetahuan,

b. Teknologi

Aspek teknologi disamping bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas juga mengandung berbagai risiko.

Penggunaan mesin modern misalnya dapat menimbulkan risiko kecelakaan dan pengurangan tenaga kerja. Teknologi juga bersifat dinamis dan terus berkembang dengan inovasi baru. Perusahaan yang buta terhadap perkembangan teknologi akan mengalami kemunduran dan tidak mampu bersaing dengan perusahaan lain yang menggunakan teknologi yang lebih baik. Penerapan teknologi yang lebih baik oleh pesaing akan mempengaruhi produk, biaya dan kualitas yang dihasilkan sehingga dapat menjadi ancaman bagi perusahaan.

Oleh karena itu, pemilihan dan penggunaan teknologi harus mempertimbangkan dampak risiko yang ditimbulkan.

c. Risiko K3

Risiko K3 adalah risiko yang berkaitan dengan sumber bahaya yang timbul dalam aktivitas bisnis yang menyangkut aspek manusia, peralatan, material dan lingkungan kerja. Umumnya risiko K3 dikonotasikan sebagai hal yang negatif seperti :

Kecelakaan terhadap tenaga kerja dan asset perusahaan

Kebakaran dan peledakan Penyakit akibat kerja Kerusakan sarana produksi

Gangguan operasi

Menurut data kecelakaan di Indonesia, pada tahun 2007 terjadi 89.000 kecelakaan kerja pada seluruh perusahaan yang menjadi anggota Jamsostek yang meliputi 7 juta pekerja. Salah satu upaya untuk mengendalikan risiko K3 adalah dengan menerapakan sistem manajemen K3 dengan salah satu aspeknya adalah melalui identifikasi bahaya dan penilaian risiko yang diimplementasikan di berbagai perusahaan.

2.3.5 Risiko keamanan (security risk)

Masalah keamanan dapat berpengaruh terhadap kelangsungan usaha atau kegiatan suatu perusahaan seperti pencurian asset perusahaan, data informasi, data keuangan, formula produk, dll. Di daerah yang mengalami konflik dan gangguan keamanan dapat menghambat atau bahkan menghentikan kegiatan perusahaan. Risiko keamanan dapat dikurangi dengan menerapkan sistem manajemen keamanan dengan pendekatan manajemen risiko. Manajemen keamanan dimulai dengan melakukan identifikasi semua potensi risiko keamanan yang ada dalam kegiatan bisnis, Melakukan penilaian risiko dan selanjutnya melakukan langkah pencegahan dan pengamanannya.

2.3.6 Risiko sosial

Risiko sosial adalah risiko yang timbul atau berkaitan dengan lingkungan sosial dimana perusahaan beroperasi. Aspek sosial budaya seperti tingkat kesejahteraan, latar belakang budaya dan pendidikan dapat menimbulkan risiko baik yang positif maupun negatif. Budaya masyarakat yang tidak peduli terhadap aspek keselamatan akan mempengaruhi keselamatan operasi perusahaan.

2.4 Manajemen risiko

Tujuan dari manajemen risiko adalah untuk memperkecil kerugian dan meningkatkan kesempatan atau peluang. Pada dasarnya manajemen risiko bersifat pencegahan terhadap terhadap terjadinya kerugian maupun kecelakaan kerja.

Menurut AS/NZS 4360, “Risk management is an iterative process consisting of well-defined steps which, taken in sequence, support better

decision-making by contributing a greater insight into risks and their impacts.” Manajemen risiko adalah suatu proses yang terdiri dari langkah-langkah yang telah dirumuskan dengan baik, mempunyai urutan langkah- (langkah-langkah) dan membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik dengan melihat risiko dan dampak yang dapat ditimbulkan.

Manajemen risiko merupakan metode yang sistematis yang terdiri dari menetapkan konteks, mengidentifikasi, meneliti, mengevaluasi, perlakuan, monitoring dan mengkomunikasikan risiko yang berhubungan dengan aktivitas apapun, proses atau fungsi sehingga dapat memperkecil kerugian perusahaan. Pelaksanaan manajemen risiko haruslah menjadi bagian integral dari suatu bentuk manajemen yang baik. Proses manajemen risiko ini merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk terciptanya perbaikan yang berkelanjutan. Proses ini dapat diterapkan di semua tingkatan kegiatan, jabatan, proyek, produk, maupun asset. Manajemen risiko dapat memberikan manfaat yang optimal jika diterapkan sejak awal kegiatan.

Proses manajemen risiko juga sering dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi/perusahaan.

Proses manajemen risiko harus dilakukan secara komprehensif dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen proses. Proses manajemen risko sebagaimana yang terdapat dalam Risk Management Standard AS/NZS 4360, yang meliputi :

1. Menentukan konteks (tujuan) 2. Identifikasi risiko

3. Analisis risiko 4. Evaluasi risiko 5. Pengendalian risiko 6. Monitor dan review

7. Komunikasi dan konsultasi.

Gambar 2.1 : Bagan proses manajemen risiko AS/NZS : 4360 Elemen utama dari proses manajemen risiko AS/NZS : 4360 meliputi:

A. Menentukan konteks

Dalam konteks manajemen risiko organisasi perlu menetapkan tujuan, strategi, ruang lingkup dan parameter dari aktivitas atau bagian dari organisasi dimana proses manajemen risiko harus dilaksanakan dan ditetapkan. Proses tersebut dilakukan dengan pemikiran dan pertimbangan yang matang untuk memenuhi keseimbangan biaya, keuntungan dan kesempatan. Prasyarat sumber risiko dan pencatatannya dibuat secara spesifik. Dalam melakukan aktivitas manajemen risiko, organisasi perlu menetapkan ruang lingkup dan batasan-batasan. Penentuan batasan-batasan dan lingkup aplikasi dari manajemen risiko dipengaruhi oleh :

Organisasi, proses, merancang atau aktivitas dan menetapkan sasaran dan tujuannya

Kebijakan dan keputusan yang harus dibuat

Waktu dan lokasi aktivitas proyek manajemen risiko

Identifikasi studi pelaksanaan, ruang lingkup, sasaran dan sumber daya yang diperlukan

Gambaran luas dan kedalaman dari aktivitas manajemen risiko Hubungan dengan aktivitas/pekerjaan lain dalam organisasi

Tanggung jawab dan peran dari berbagai bagian di dalam organisasi dalam proses manajemen risiko

B. Identifikasi bahaya

Identifikasi risiko merupakan suatu langkah untuk mengenali atau untuk menjawab pertanyaan apa risiko yang dapat terjadi, bagaimana dan mengapa hal tersebut dapat terjadi. Tujuan dari identifikasi risiko adalah untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya sumber bahaya dan aktivitas berisiko yang dapat mengganggu tujuan, sasaran dan pencapaian organisasi.

Beberapa hal yang harus dilakukan dalam identifikasi bahaya antara lain yaitu :

a. Menyusun daftar risiko secara komprehensif dari kejadian-kejadian yang dapat berdampak pada setiap elemen kegiatan.

b. Pencatatan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi risiko yang ada secara rinci sehingga menggambarkan proses yang terjadi.

c. Menyusun scenario proses kejadian yang akan menimbulkan risiko berdasarkan informasi gamabaran hasil identifikasi masalah/bahaya. Penyusunan scenario proses kejadian dapat memberikan faktor-faktor yang dapat diduga menjadi penyebab ataupun mempengaruhi timbulnya risiko.

Hal-hal tersebut dapat memberikan gambaran mengenai konsekuensi dan probabilitas dari risiko yang ada. Konsekuensi dan probabilitas merupakan variabel yang diperlukan dalam penentuan tingkat/level risiko. Metode dan teknik yang dapat digunakan untuk identifikasi risiko diantarnya yaitu metode checklist, penilaian berdasarkan pengalaman dan pencatatan, flowcharts, brainstorming, analisis sistem, analisis scenario dan teknik sistem engineering.

C. Analisis risiko

Dilakukan dengan menentukan tingkatan probabilitas, exposure dan konsekuensi yang akan terjadi. Kemudian ditentukan tingkatan risiko yang ada dengan mengalihkan ketiga variabel tersebut (probabilitas x eksposure x konsekuensi).

D. Evaluasi risiko

Evaluasi risiko mempunyai tujuan untuk melihat apakah risiko yang telah dianalisa dapat diterima atau tidak dengan membandingkan tingkat risiko yang telah dihitung pada tahapan analisis risiko dengan criteria standar yang digunakan. Hasil evaluasi risiko antara lain yaitu:

a. Gambaran tentang seberapa penting risiko yang ada

b. Gambaran tentang prioritas risiko yang perlu ditanggulangi

c. Gambaran tentang kerugian yang mungkin terjadi baik dalam parameter biaya ataupun parameter lainnya

d. Masukan informasi untuk pertimbangan tahapan pengendalian.

E. Pengendalian risiko

Pengendalian risiko merupakan langkah penting dan menentukan dalam keseluruhan manajemen risiko. Risiko yang telah diketahui besar dan potensi risikonya harus dikelola dengan tepat, efektif dan sesuai dengan kemampuan dan kondisi perusahaan.

Menurut AS/ANZ 4360, pengendalian risiko secara general dilakukan dengan pendekatan sebagai berikut :

1. Hindarkan risiko dengan mengambil keputusan untuk menghentikan kegiatan atau penggunaan proses, bahan, alat ynag berbahaya

2. Mengurangi kemungkinan terjadi 3. Mengurangi konsekuensi terjadi 4. Pengalihan risiko ke pihak lain 5. Menanngung risiko yang tersisa.

Proses pengendalian risiko menurut AS/NZS 4360 adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil analisa dan evaluasi risiko dapat ditentukan apakah suatu risiko dapat diterima atau tidak. Jika risiko dapat diterima, cukup dengan melakukan pemantauan daan monitoring berkala dalam pelaksanaan operasi.

2. Dalam peringkat risiko, dikategorikan sebgai risiko sedang sehingga dapat diterima perusahaan. Karena itu tidak perlu dilakukan tindakan pengendalian lebih lanjut. Perusahaan cukup melakukan pemantauan berkala baik ditempat kerja maupun terhadap terhadap tenaga kerja untuk mengetahui apakah ada efek yang tidak diinginkan.

F. Monitor dan Review

Monitor dan review terhadap hasil sistem manajemen risiko yang dilakukan serta mengidentifikasi perubahan-perubahan yang perlu dilakukan.

G. Komunikasi dan Konsultasi

Komunikasi dan konsultasi dengan pengambil keputusan internal dan eksternal untuk tindak lanjut dari hasil manajemen risiko yang dilakukan.

Manajemen risiko dapat diterapkan di setiap level di organisasi.

Manajemen risiko dapat diterapkan di level strategis dan level operasional. Manajemen risiko juga dapat diterapkan pada proyek yang spesifik, untuk membantu proses pengambilan keputusan ataupun untuk pengelolaan daerah dengan risiko yang spesifik.

2.4.1 Identifikasi Risiko

Pada tahap ini dilakukan identifikasi terhadap risiko yang akan dikelola. Identifikasi harus dilakukan terhadap semua risiko, baik yang berada didalam ataupun diluar organisasi. Identifikasi dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

a. Apa yang dapat terjadi

Tujuannya adalah untuk menyusun daftar risiko secara komprehensif dari kejadian-kejadian yang dapat berdampak pada setiap elemen

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 16-0)

Dokumen terkait