• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.3 Manfaat Riset

Sebagai dasar penelitian lebih lanjut dalam pemanfaatan bahan natural resources untuk meningkatkan kekuatan geser perlekatan restorasi resin komposit nanopartikel pada gigi setelah bleaching dengan hidrogen peroksida 40 %.

14

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Diskolorasi gigi yang terjadi pada gigi anterior sering menimbulkan masalah estetika yang sangat mempengaruhi penampilan. Gigi yang mengalami diskolorasi dapat dirawat secara estetik dengan bleaching , mikro-abrasi, makro-abrasi, veneer , dan penempatan mahkota porselen (crown). Bleaching merupakan perawatan yang paling minimal invasif untuk mendapatkan hasil estetik yang optimal pada gigi geligi alami (Youn dkk, 2015).

2.1 Bleaching Gigi

Bleaching gigi adalah perawatan yang dapat dilakukan untuk mencerahkan warna gigi dengan mengaplikasikan bahan kimia untuk mengoksidasi pewarnaan organik. Proses eliminasi noda pada permukaan ini menggunakan larutan peroksida kuat pada gigi yang mengalami diskolorasi intrinsik maupun ekstrinsik. Teknik bleaching gigi dapat diklasifikasikan menurut vitalitas gigi yaitu bleaching gigi vital dan nonvital serta menurut prosedur yang dilakukan yaitu pemutihan yang dilakukan di klinik dokter gigi (in office) dan di luar klinik (home). Teknik in office bleaching meliputi penggunaan gel atau pasta yang komposisi umumnya mengandung 25 % hingga 40 % hidrogen peroksida, sedangkan teknik home bleaching umumnya menggunakan bahan karbamid peroksida dengan konsentrasi 10%

sampai 15% dalam bentuk gel atau pasta. (Malkondu dkk, 2011)

Bleaching in- office adalah proses pemutihan gigi yang dilakukan di klinik dokter gigi dengan teknik termokatalitik (aktivasi panas). Sedangkan home bleaching dilakukan sendiri

15 oleh pasien di rumah dengan petunjuk dan pengawasan dokter gigi. Proses home bleaching memerlukan tray yang dirancang khusus untuk mengaplikasikan bahan pemutih gigi.

2.1.1 Bleaching Vital

Bleaching vital merupakan tehnik in office bleaching yang disebut juga sebagai power bleaching dan juga termasuk home bleaching . Pewarnaan pada gigi vital biasanya disebabkan oleh karena faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik, misalnya karena fluorosis atau defek superfisial (Heymann, 2011).

2.1.2 Bleaching Non Vital

Intrakoronal bleaching adalah pilihan konservatif yang lebih invasif minimal untuk perawatan estetik pada gigi non vital yang mengalami diskolorisasi. Metode yang paling sering digunakan untuk memutihkan gigi yang berkaitan dengan perawatan saluran akar adalah tehnik termokatalitik dan disebut walking bleach (Heymann, 2011). Pada tehnik walking bleach, bahan yang digunakan adalah kombinasi dari natrium perborate dan air atau hidrogen peroksida. Bahan tersebut ditempatkan pada ruang pulpa gigi yang terkena, ditutup, dibiarkan selama 3- 7 hari dan diulang pada interval waktu yang sama sampai hasil pemutihan yang diinginkan tercapai (Setien dkk, 2008)

2.2 Bahan Bleaching

Bahan bleaching yang umum dipakai adalah hidrogen peroksida dengan berbagai konsentrasi. Natrium perborate dan karbamid peroksida merupakan bahan kimia yang sedikit demi sedikit mengalami degradasi dan melepaskan hidrogen peroksida. Hidrogen peroksida

16 dan karbamid peroksida diindikasikan untuk bleaching secara eksternal sedangkan natrium perborate dipakai untuk bleaching secara internal (Alqahtani, 2014).

Perawatan home bleaching biasanya menggunakan karbamid peroksida dengan konsentrasi 10%- 22%, sedangkan in office bleaching biasanya menggunakan hidrogen peroksida dengan konsentrasi 35%- 40%. Bleaching juga dapat menggunakan karbamid peroksida konsentrasi tinggi untuk in office bleaching ataupun hidrogen peroksida konsentrasi rendah untuk home bleaching (Heyman, 2011).

2.2.1 Hidrogen Peroksida

Hidrogen peroksida merupakan senyawa kimia reaktif yang mengandung unsur hidrogen dan oksigen (H2O2). Bentuk murni berupa likuid tidak berwarna dan bentuk sediaan komersial berupa larutan dalam air yang mengandung 33%- 37% hidrogen peroksida murni dan bahan lainnya untuk mencegah produk mengalami dekomposisi (Turker dan Biskin, 2003).

Hidrogen peroksida relatif tidak stabil dan mengalami dekomposisi secara perlahan serta melepaskan oksigen. Hidrogen peroksida dapat larut dalam air dan menyebabkan suasana asam. Hidrogen peroksida tersedia dalam berbagai konsentrasi namun yang paling banyak adalah konsentrasi 30- 35% (Kihn dkk, 2000). Hidrogen peroksida melepaskan radikal bebas yang toksik, anion perhidroksil, ataupun keduanya. Larutan hidrogen peroksida dengan konsentrasi tinggi harus ditangani secara hati- hati karena bersifat tidak stabil secara

17 termodinamis dan dapat meledak kecuali jika disimpan dalam lemari pendingin dan dimasukkan dalam wadah yang gelap (Walton dan Torabinejad, 1998).

2.2.2 Karbamid Peroksida

Karbamid peroksida disebut juga urea peroksida karena kombinasi urea dan hidrogen peroksida. Karbamid peroksida tidak berwarna, tidak berbau , tidak toksik, dan berbentuk kristal putih yang dapat larut dalam alkohol, eter dan air. Karbamid peroksida dapat digunakan dalam dua konsentrasi, yaitu konsentrasi tinggi (30- 50%) yang dipakai untuk metode in office bleaching dan konsentrasi rendah (10- 16%) yang digunakan untuk metode home bleaching.

Bahan pemutihan gigi dengan karbamid peroksida biasanya juga mengandung gliserin atau propilen glikol, sodium stanat, asam fosfat atau asam sitrat, dan zat perasa tambahan. Dalam beberapa bahan, karbopol, polimer asam poliakrilat yang larut air, ditambahkan sebagai bahan pengental untuk memperpanjang waktu penyimpanan. Karbopol juga dapat menambah kekentalan dan daya lekat serta memperlambat proses pelepasan oksigen dari karbamid sehingga memungkinkan oksigen bereaksi lebih lama dengan bahan yang menyebabkan pewarnaan (Gladwin dan Bagby, 2004).

Karbamid peroksida memiliki rumus kimia CO(NH2)2.H2O2 yaitu senyawa organik terdiri dari hidrogen peroksida dan urea 1:1. Karbamid peroksida dengan konsentrasi 10%

mengandung 3,6 % hidrogen peroksida dan 6,4% urea sedangkan pada 35% karbamid peroksida setara dengan 12% hidrogen peroksida (Turker dan Biskin, 2003).

18 Perbedaan penting dari hidrogen peroksida dan karbamid peroksida adalah tingkat kecenderungan melepas peroksida. Urea menstabilkan karbamid peroksida sehingga lebih lambat terurai menjadi peroksida daripada hidrogen peroksida. Karbamid peroksida melepaskan sekitar 50 % peroksida dalam dua jam pertama, kemudian sisanya dilepaskan selama 6 jam ke depan. Hidrogen peroksida akan terurai melepaskan peroksida sepenuhnya dalam waktu sekitar satu jam pertama sehingga diperkirakan hidrogen peroksida dapat berefek lebih besar terhadap pulpa dibanding karbamid peroksida.

2.3 Mekanisme Bleaching

Bleaching merupakan proses dekolorasi atau pemutihan yang dapat terjadi pada larutan atau permukaan gigi. Bahan yang dapat menghasilkan warna dalam larutan atau permukaan merupakan senyawa organik yang memiliki rantai konjugasi yang panjang baik dalam bentuk ikatan tunggal maupun rangkap. Bahan tersebut mengandung heteroatom, karbonil, dan cincin fenil dalam sistem konjugasi dan sering dikenal dengan sebutan kromofor. Pemutihan dan dekolorasi kromofor dapat terjadi melalui perusakan satu atau lebih ikatan rangkap dalam rantai konjugasi, dengan memotong rantai konjugasi, atau dengan mengoksidasi molekul kimia lainnya dalam rantai konjugasi (Joiner, 2006 ; Abdullah dkk, 2017) .

Hidrogen peroksida mengoksidasi berbagai variasi senyawa organik maupun inorganik. Mekanisme reaksi ini bervariasi tergantung pada substrat, lingkungan reaksi, dan katalisis. Secara umum, mekanisme pemutihan dengan hidrogen peroksida belum dapat diketahui secara pasti (Heyman, 2011).

19 Hidrogen peroksida masuk ke tubuli dentin melalui perantara enamel dan mengoksidasi pigmen pada dentin, menyebabkan warna gigi menjadi lebih cerah. Proses ini dapat dipercepat dengan menggunakan pemanasan sinar dengan berintensitas cahaya rendah atau tinggi, misalnya sinar pada lightcure untuk resin komposit, sinar laser, dan sinar plasma arc dengan intensitas tinggi (Shahabi dkk, 2018). Larutan peroksida mengalir secara bebas melalui email dan dentin karena porositas dan permeabilitas struktur keduanya. Perpindahan secara bebas ini terjadi karena berat molekul peroksida yang relatif rendah serta penetrasi alami radikal oksigen dan superoksida. Bahan pemutih dapat berperan sebagai oksidator atau reduktor, kebanyakan preparat yang tersedia adalah oksidator (Alqahtani, 2014).

Hidrogen peroksida merupakan suatu zat yang mempunyai kemampuan untuk menembus email mencapai dentin yang terkena pewarnaan. Penembusan ini terjadi karena berat molekul hidrogen peroksida yang rendah dan mempunyai kemampuan denaturasi protein sehingga dapat meningkatkan gerakan- gerakan ion melalui gigi (Basting dkk, 2004).

Noda- noda pada email dan dentin akan dioksidasi oleh hidrogen peroksida yang bersifat sebagai oksidator kuat. Bahan oksidator ini mempunyai kemampuan untuk merusak molekul- molekul zat warna, melalui reaksinya dengan oksigen bebas yang dilepaskan, sehingga warna menjadi netral dan menyebabkan terjadinya efek pemutihan (Abdulah dkk, 2017).

Hidrogen peroksida merupakan suatu bahan yang dapat menghasilkan radikal bebas, HO2 + O2 yang sangat reaktif (Perchyonok, 2015). Hidrogen peroksida akan menghasilkan radikal bebas dan berinteraksi dengan sumber perubahan warna yang menyebabkan senyawa dan memecah ikatan molekul perubahan warna menjadi bentuk

20 senyawa sederhana yang menghasilkan penghapusan perubahan warna dan mencapai titik jenuh (saturation point). Jika melanjutkan proses ini (over bleaching), itu akan merusak struktur gigi (Wang, 2008). Radikal bebas adalah setiap molekul yang memiliki satu elektron tidak berpasangan, memberikan reaktivitas tinggi yang mengaktualisasikan proses pemutihan dengan mengoksidasi makromolekul noda dengan cepat dan memecahnya menjadi fragmen linier, sehingga akibatnya berdifusi ke seluruh jaringan keras gigi (Arumugam dkk, 2015).

Ikatan senyawa kimia dari hidrogen peroksida yang terdapat pada sodium perborate dan karbamid peroksida akan melepas radikal bebas, dimana radikal bebas yang terlepas mengandung hidroksil dan radikal pertridroksil dan anion superoksida. Akibat dari terlepasnya radikal bebas menyebabkan oksigen reaktif menjadi tidak stabil dan menjadi oksigen, hal ini yang akan terjadi pada permukaan gigi pasca dilakukan bleaching.

Gambar 1. (1)formasi hydrogen peroksida dari sodium perborate dan karbamid peroksida.

(2)Radikal bebas dari hidrogen peroksida yang mengandung hidroksil dan radikal pertidroksil dan anion superoksida(3a )molekul oksigen reaktif yang tidak stabil dan berubah menjadi oksigen(3b) anion hydrogen peroksida(3c)

21 2.3.1 Mekanisme Kemikal Bleaching

Mekanisme pemutihan oleh hidrogen peroksida sampai saat ini tidak dapat dipahami dengan baik. Gel pemutih yang mengandung hidrogen peroksida atau prekursornya, karbamid peroksida, sebagai bahan aktif dalam konsentrasi mulai dari 3%

hingga 40% setara hidrogen peroksida. Pemutihan hidrogen peroksida umumnya berlangsung melalui anion perhidroksil (HO2-). Kondisi ini dapat menimbulkan pembentukan radikal bebas, misalnya, dengan pembelahan homolitik baik ikatan O – H atau ikatan O – O dalam hidrogen peroksida menghasilkan titik radikal H + radikal OOH dan 2 OH radikal (radikal hidroksil), masing-masing (Tanaka, 2003). Di bawah reaksi fotokimia yang diprakarsai oleh cahaya atau laser, pembentukan radikal hidroksil dari hidrogen peroksida telah terbukti meningkat (Tanaka, 2003). Hidrogen peroksida adalah oksidator yang berdifusi ke dalam gigi, berdisosiasi menghasilkan radikal bebas tidak stabil yang merupakan hidroksil radikal (HO), perhidroksil radikal (HOO), anion perhidroksil (HOO–), dan anion superoksida (OO-), yang akan menyerang molekul berpigmen organik di ruang anorganik di email gigi dengan menyerang ikatan rangkap molekul kromofor di dalam jaringan gigi (Dahl dan Pallesen, 2003, Joiner, 2006, Minoux dan Serfaty, 2008). Perubahan dalam hasil konjugasi ikatan rangkap ini membentuk konstituen yang lebih kecil, lebih sedikit berpigmen, dan akan ada pergeseran dalam spektrum absorpsi molekul kromofor;

dengan demikian, terjadi pemutihan jaringan gigi.

Bleaching dapat meningkatkan kelarutan Glass Ionomer Cement dan mengurangi kekuatan ikatan antara tambalan berbahan dasar resin pada enamel dalam 24 jam pertama,

22 tetapi tidak lebih lama. Setelah pemutihan, residu H2O2 dalam enamel dapat menghambat polimerisasi bahan berbasis resin dan mengurangi kekuatan ikatan. Oleh karena itu, bahan bleaching tidak boleh digunakan selama 24 jam sebelum perawatan dengan bahan berbahan resin.

Konsentrasi karbamid peroksida yang tinggi dapat merusak integritas permukaan enamel, tetapi tidak lebih parah disbanding dengan etsa asam fosfat. Akibat dari peningkatan kekasaran permukaan, kemungkinan gigi lebih rentan terhadap perubahan warna ekstrinsik setelah pemutihan.

2.3.1.1 Kondisi email setelah bleaching

Pada gigi yang telah dilakukan prosedur bleaching menunjukkan adanya perubahan morfologi pada enamel. Perubahan yang terjadi seperti terbentuknya porous, kawah, meningkatnya kedalaman alur enamel dan hilangnya sebagian dari prisma enamel.

Kerusakan ini terjadi secara acak pada permukaan enamel.

2.4 Efek bleaching

Efek samping dari prosedur bleaching gigi vital pada jaringan keras dan lunak rongga mulut telah dilaporkan dalam literatur. Sensitivitas gigi dan iritasi gingiva atau mukosa adalah efek samping paling umum dari bleaching gigi vital. Efek lainnya termasuk gerakan gigi ortodontik minor, disfungsi temporomandibular karena penggunaan tray home bleaching dalam jangka panjang, dan sakit tenggorokan (Majeed, 2015)

23 2.4.1 Sensitivitas gigi

Sebanyak 55% pasien mungkin dapat mengalami sensitivitas ringan sedangkan 10% mengalami sensitivitas sedang dan hanya 4% dapat mengalami sensitivitas parah (Rauen dkk, 2015). Etiologi sensitivitas gigi setelah perawatan bleaching bersifat multifaktorial dan kurang dipahami. Sensitivitas diduga disebabkan oleh difusi produk yang dihasilkan selama pemecahan hidrogen peroksida dan karbamid peroksida melalui tubuli dentin. Gliserin, yang digunakan sebagai carrier pada sebagian besar zat pemutih, bersifat hidrofilik dan menyebabkan dehidrasi struktur gigi selama perawatan pemutihan. Hal ini juga dapat menyebabkan sensitivitas gigi. Penggunaan bahan bleaching dengan konsentrasi peroksida yang lebih tinggi juga meningkatkan risiko sensitivitas gigi.

2.4.2 Iritasi gingiva atau mukosa

Selama prosedur in office bleaching, konsentrasi hidrogen peroksida yang biasa digunakan lebih tinggi. Hidrogen peroksida adalah zat kaustik dan dapat menyebabkan luka bakar pada jaringan gingiva atau mukosa. Oleh karena itu, penggunaan rubber dam atau light cure resin yang sesuai pabrikan, harus selalu digunakan untuk melindungi jaringan lunak selama prosedur in office bleaching (Majeed, 2015).

2.4.3 Efek pada struktur gigi

Al-Salehi dkk (2007) menemukan bahwa bahan bleaching gigi dapat menimbulkan efek samping pada struktur gigi dengan konsentrasi hidrogen peroksida yang meningkat, pelepasan ion baik dari enamel dan dentin meningkat dan kekerasan mikro dari enamel

24 mengalami penurunan. Bleaching pada gigi vital melibatkan kontak langsung pada permukaan enamel untuk waktu yang cukup panjang sehingga efek samping yang mungkin terjadi adalah bahan oksidasi yang kuat pada enamel atau dentin. Penelitian dengan SEM (Scanning Electron Microscopy) melaporkan perubahan morfologi permukaan dari enamel setelah bleaching dengan karbamid peroksida atau hidrogen peroksida (Majeed dkk, 2015).

Penelitian Hegedus dkk dengan AFM (Atomic Force Microscopy) mendemonstrasikan bahwa karbamid peroksida dan hidrogen peroksida dapat menyebabkan alterasi atau perubahan pada permukaan enamel (Hegedus dkk, 1999).

2.4.4 Efek pada restorative materials

Oksidasi dari pigmen pada permukaan dan komponen amine dari bahan bleaching dapat mengubah warna dari restorative materials. Efek oksidasi pada matriks polimer resin juga meningkatkan porositas permukaan. Pemolisan dari resin komposit sangat disarankan setelah prosedur bleaching untuk menurunkan perlekatan dari mikroorganisme kariogenik (Spalding, 2003).

2.4.5 Efek terhadap kekuatan geser perlekatan

Efek dari prosedur bleaching terhadap shear bond strength dan tensile bond strength dari resin komposit pada enamel dan dentin telah diteliti secara luas. Beberapa faktor yang bertanggung jawab atas pengurangan bond strength dari resin komposit pada enamel dan dentin. Penghambatan polimerisasi dari sistem bonding resin, karena adanya oksigen yang dilepaskan oleh proses bleaching pada permukaan email dan di dalam tubulus dentin

25 (Barbosa, 2008). Kehilangan kandungan kalsium dan fosfor merupakan perubahan morfologis dari sebagian besar kristal lapisan permukaan yang disebabkan oleh zat pemutih berbasis peroksida, bleaching akan mengubah kandungan protein dan mineral dari lapisan superfisial enamel, yang mungkin bertanggung jawab untuk mengurangi bond strength (Perdigao,1998).

Agen bleaching melepaskan radikal bebas berupa oksigen yang immature dan hidroksil atau peri-hidroksil ion pada struktur gigi. Radikal bebas merupakan molekul elektron yang tidak berpasangan Molekul-molekul ini mampu bereaksi dengan daerah pigmen yang kaya elektron di dalam struktur gigi, memecah pigmen besar molekul menjadi lebih kecil, yang kurang berpigmen. Pada di sisi lain, hal ini bisa merusak ikatan bahan resin.

Salah satu teori untuk menjelaskan pengaruh bleaching agent terhadap bonding menunjukkan bahwa peroksida dan produk sampingannya ada di dalamnya struktur gigi dapat mengganggu proses polimerisasi bahan bonding.

Whang dkk, menyatakan bahwa gambaran SEM antara permukaan resin dan enamel yang diputihkan diamati terfragmentasi dan terlihat hanya resin tag yang sangat halus menembus ke kedalaman yang lebih dangkal jika dibandingkan dengan kontrol. Selain itu, masuknya ion peroksida ke dalam enamel yang diputihkan menghasilkan enamel dengan interface resin yang granular dan berporus. Perubahan zat organik, hilangnya kalsium, dan penurunan kekerasan mikro merupakan hal yang dapat terjadi akibat dari penggunaan bleaching (Whang, 2015).

26 Hal ini mungkin dapat terjadi karena sisa oksigen yang dihasilkan oleh zat pemutih pada permukaan gigi menghambat ikatan polimerisasi. Akibatnya, struktur gigi yang kaya oksigen tidak memberikan permukaan yang baik untuk ikatan bonding. Moosavi dkk, menyatakan efek dari bahan bleaching dapat mencapai bagian dalam struktur gigi. Whang dan Shin mengamati menggunakan SEM, mengungkapkan bahwa 40% hidrogen peroksida menghasilkan banyak pola tidak teratur pada dentin, dengan gambaran erosif pada permukaan sampel.

Perawatan pemutihan dengan hidrogen peroksida, menyebabkan radikal hidroksil dalam kisi apatit digantikan oleh ion peroksida, menghasilkan pembentukan peroksida-apatit.

Setelah menunggu selama dua minggu, ion peroksida dapat terurai dan menggantikan hidroksil radikal kembali ke kisi apatit, mengeliminasi perubahan struktural yang disebabkan oleh penggabungan ion peroksida. Tingkat peroksida atau oksigen yang lebih tinggi dari normal ditemukan dalam bonding interace, menghambat reaksi polimerisasi dan mengurangi kekuatan geser ikatan.

Adebayo dkk, melaporkan bahwa penggunaan kondisioner sebelum bonding dengan sistem self etching adhesive pada enamel paska bleaching dapat secara signifikan meningkatkan bond strength. Namun, pengurangan bond strength tergantung pada waktu dan kembali normal setelah beberapa hari, ketika sisa oksigen telah dibebaskan. Waktu yang disarankan sebelum melakukan prosedur pengikatan setelah bleaching gigi berkisar antara 3 - 7 hari, 7 - 14 hari dan hingga 3 minggu. Oleh karena itu, disarankan untuk menunggu beberapa saat sebelum melakukan prosedur bonding setelah bleaching (Adebayo, 2007).

27 Setelah pemutihan, residu hidrogen peroksida dalam enamel dapat menghambat polimerisasi bahan berbasis resin dan dengan mengurangi kekuatan ikatan (Lai, 2002). Oleh karena itu, agen pemutih gigi tidak boleh digunakan sebelum perawatan restoratif dengan bahan berbasis resin.

2.5 Resin komposit

Dalam restorasi estetik, terutama untuk gigi anterior telah dikembangkan nanoteknologi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Nanoteknologi adalah teknologi yang memproduksi bahan yang memiliki struktur 0,1- 100 nanometer (nm) dengan menggunakan berbagai macam metode fisik maupun kimiawi. Salah satu kontribusi yang paling signifikan dalam bidang kedokteran gigi adalah dikembangkannya teknologi resin berbasis komposit (Miletic, 2018).

Resin komposit nanofiller mempunyai keuntungan pada sifat optisnya. Secara keseluruhan resin ini menyediakan opasitas visual yang rendah sebagai dental komposit yang tidak berpigmen (Ratri dkk, 2015). Hal ini memungkinkan dokter gigi memanipulasi shade dan opasitasnya, sehingga resin komposit nanofiller ini menjadi restorasi dengan nilai estetis yang tinggi. Kekuatan dan estetika resin berbasis nanokomposit telah teruji dapat digunakan untuk restorasi anterior dan posterior.

Resin komposit nanofiller mengandung bahan pengisi dengan volume 69% dan berat 84% yang memungkinkan resin ini memuat bahan pengisi lebih banyak sehingga kekuatannya juga akan semakin meningkat serta shrinkage yang akan berkurang. Bahan

28 pengisi higher filler memiliki angka shrinkage yang lebih rendah sekitar 1,6 % (Costa dkk, 2009).

2.5.1 Sifat- sifat Resin Komposit

Secara fisik resin komposit memiliki nilai estetik yang tinggi sehingga baik digunakan pada gigi anterior. Selain itu juga kekuatan, waktu pengerasan dan karakteristik permukaan juga menjadi pertimbangan dalam penggunaan bahan ini. Sifat mekanis pada bahan restorasi resin komposit merupakan faktor yang penting terhadap kemampuan bahan ini bertahan pada kavitas (Chan dkk, 2010).

Resin komposit tidak berikatan secara kimia dengan email gigi. Adhesi diperoleh dengan dua cara. Pertama dengan menciptakan ikatan fisik antara resin dengan jaringan gigi melalui etsa. Pengetsaan pada email menyebabkan terbentuknya porositas tersebut sehingga tercipta retensi mekanis yang cukup baik. Kedua dengan penggunaan lapisan yang diaplikasikan antara dentin dan resin komposit dengan maksud menciptakan ikatan antara dentin dengan resin komposit tersebut (dentin bonding agent) (Anusavice, 2003).

Resin komposit menjadi padat bila berpolimerisasi. Polimerisasi adalah reaksi kimia yang terjadi ketika molekul- molekul resin dengan berat molekul kecil yang disebut monomer bergabung bersama untuk membentuk rantai panjang.

29 2.5.2 Resin Komposit Nanopartikel

Perkembang nanoteknologi yang memproduksi filler yang memiliki ukuran struktur nanometer (nm) dengan menggunakan metode prepolimerisasi. Resin komposit partikel nano terdiri atas dua yaitu nanofiller dan nanohybrid (Garg, 2013).

2.5.2.1 Resin Komposit Nanofill

Resin komposit nanofil terbuat dari partikel silika atau nanosilika dengan ukuran 20 nm dan memiliki rata- rata ukuran filler adalah 0,6- 1,4 m (Costa, 2009). Kelebihan dari resin nanofiller adalah ukuran partikel yang kecil, volume anorganik filler 78,5 % mudah dilakukan pemolisan, kekuatan baik, modulus tinggi, estetik lebih baik, permukaan yang halus dan mengkilat serta shrinkage polimerisasi yang lebih rendah dan resistensi yang lebih baik dibandingkan resin komposit konvensional (Miletic, 2018).

Jenis partikel pengisi pada resin komposit nanofiller , yaitu nanometer dan nanocluster. Nanomer adalah silika yang berukuran sangat kecil, hanya 20- 70 nanometer dan berikatan secara sempurna dengan matriks resin. Nanokluster adalah SiO2 dan ZrO2

yang saling berikatan dan berukuran 0,4- 1 mikron (Kwon dkk, 2010).

2.5.2.2 Resin Komposit Nanohybrid

Resin komposit nanohybrid mengandung partikel yang berukuran nano (0,005-0,01m) pada matriks resin dengan bahan pengisi yang lebih konvensional (Abdullah, 2016).

Resin komposit nanohybrid dapat diklasifikasikan sebagai resin komposit universal pertama

30 yang memiliki sifat penanganan dan kemampuan poles didapat dari komposit mikrofilled serta kekuatan dan ketahanan aus dari hybrid tradisional (Heymann, 2011).

Keuntungan resin komposit nanohybrid diantaranya adalah kemampuan poles yang baik karena memiliki ukuran partikel yang sangat kecil sehingga dapat mengurangi retensi sisa makanan, memiliki kekerasan yang lebih baik daripada bahan restorasi komposit lainnya dan memiliki ciri-ciri seperti enamel dan dentin (Garg, 2013).

2.6 Bahan Antioksidan

Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi, dengan cara mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif (Amin et al., 2015). Radikal bebas adalah suatu atom atau molekul yang mempunyai elektron tidak berpasangan. Elektron tidak berpasangan tersebut menyebabkan radikal bebas sangat reaktif yang kemudian akan menangkap atau mengambil elektron dari senyawa lain seperti protein, lipida, karbohidrat,

Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi, dengan cara mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif (Amin et al., 2015). Radikal bebas adalah suatu atom atau molekul yang mempunyai elektron tidak berpasangan. Elektron tidak berpasangan tersebut menyebabkan radikal bebas sangat reaktif yang kemudian akan menangkap atau mengambil elektron dari senyawa lain seperti protein, lipida, karbohidrat,