BAB VI PRAKTIK MENGKHATAMKAN AL-QUR’AN
C. Manfaat Tradisi Mengkhatamkan Al-Quran dalam
Mengkhatamkan al-Qur’an merupakan aktivitas yang bisa dilaksanakan di dalam salat ataupun di luar salat. Pada penelitian ini, aktivitas mengkhatamkan al-Qur’an dilaksanakan di dalam salat, yakni salat tarawih pada bulan Ramadan. Yang secara garis besar gambaran umumnya adalah seorang imam membaca atau melantunkan ayat-ayat al-Qur’an bi al-ghaib dengan disimak makmum atau jamaah yang lain. Dengan begitu, bacaan imam bisa didengarkan dan diteliti bacaannya oleh makmum. Tradisi khataman ini sendiri tentunya memiliki tujuan yang mempunyai manfaat tersendiri bagi para pelakunya. Fokus peneliti di sini adalah mengkhatamkan al-Qur’an dalam salat tarawih yang mana tradisi ini dianggap mempunyai manfaat bagi para santri.
Sebelum membahas manfaatnya, tentunya perlu diketahui pendapat mereka tentang arti khataman al-Qur’an itu sendiri. Berikut penulis lampirkan data pemahaman santri terkait pengetahuan mereka tentang khataman al-Qur’an dalam berbentuk tabel. Data ini diperoleh dari hasil wawancara terstruktur yang dibuat oleh penulis untuk para informan, lalu dikelompokkan sesuai dengan kesamaannya dengan santri lain. Hasilnya bisa dilihat dalam tabel di bawah ini:10
Tabel 4.2 Pemahaman Arti Khataman al-Qur’an
No Makna Khataman Jumlah
Santri 1 Membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan urut mulai dari
surah al-Fātiḥah hingga surah an-Nās secara bersama. 12 orang
2 Membaca sendiri ayat-ayat al-Qur’an dengan urut
mulai dari surah al-Fātiḥah hingga surah an-Nās. 1 orang
3
Membaca ayat-ayat al-Qur’an dari surah al-Fātiḥah hingga surah an-Nās baik sendiri maupun bersama-sama
3 orang
4
Mendengar/menyimak bacaan ayat-ayat al-Qur’an dengan urut mulai dari surah al-Fātiḥah hingga surah an-Nās
1 orang
6 Membaca keseluruhan al-Qur’an untuk tujuan mencari
ridho Allah SWT 1 orang
7 Melatih membaca al-Qur’an secara banyak hingga
terbiasa 1 orang
Dari tabel di atas, dapat disebutkan bahwa 12 santri yang berinisial WT, HL, NH, AQ, PN, RQ, IW, TS, SA, MA, MD, SN atau dapat dikatakan hampir setengah dari santri yang diwawancarai memaknai khataman al-Qur’an secara pengertian membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan urut mulai dari surah al-Fātiḥah hingga surah an-Nās secara bersama-sama. Berikut penuturan mendetail dari jawaban mereka:
Nilai kebersamaan menjadi inti dari pendapat kelompok pertama seperti WT yang menjawab bahwa khataman adalah membaca al-Qur’an 30 juz dari surah al-Fātiḥah hingga surah an-Nās bersama-sama.11 Hal yang sama diungkapkan oleh AQ bahwa khataman al-Qur’an yaitu membaca ayat-ayat al-Qur’an dari al-Fātiḥah sampai an-Nās secara bersamaan.12 Begitu juga SA, ia mengatakan bahwa khataman al-Qur’an ialah membaca bersama mulai surah al-Fātiḥah sampai surah an-Nās.13 MA menyatakan bahwa khataman al-Qur’an yaitu membaca al-Qur’an mulai al-Fātiḥah hingga an-Nās dengan beberapa orang dalam satu majelis.14 Hal yang serupa juga disebutkan oleh MD bahwa khataman al-Qur’an adalah membaca/menyimak al-al-Qur’an secara bersama-sama dengan membuat pembagian berapa masing-masing yang akan dibaca tiap orang (juz yang akan dibaca) yang diawali dengan tawassul dan diakhiri dengan doa khotmil Qur’an.15 Begitu juga dengan SN yang mengungkapkan jika khataman al-Qur’an adalah membaca bersama yang sudah terbagi per juz pada setiap orang yang ikut khataman, dimulai urut dari surah al-Fātiḥah sampai surah an-Nās yang diakhiri dengan doa
11 Wafda Taqiyya (Santri/pelaku jama’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.
12 Adillah Qoyyumillah (Santri/pelaku jama’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.
13 Sayyidah Aisyah (Santri/pelaku jama’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.
14 Maisyatul Aisyiyah (Santri/pelaku jama’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.
15 Mita Dwi N (Santri/pelaku jama’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.
khotmil Qur’an.16 Sedangkan HL, NH, PN, RQ, IW, dan TS, mereka memberikan jawaban yang sama yaitu membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan urut mulai dari surah al-Fātiḥah hingga surah an-Nās secara berjamaah.
Ada pula santri yang memaknai khataman dengan arti sebagai pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dengan urut dimulai dari surah al-Fātiḥah sampai surah an-Nās, namun bagi mereka itu dilakukan secara sendiri-sendiri atau individual. ER mengatakan jika khataman al-Qur’an ialah membaca sendiri ayat-ayat al-Qur’an dengan urut dimulai dari surah al- Fātiḥah sampai surah an-Nās.17
Dari semua responden, ada tiga santri yang memaknai khataman al-Qur’an bisa dilaksanakan sendiri ataupun secara bersama-sama. Seperti WF, ia mengatakan bahwa khataman al-Qur’an yakni membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan urut mulai surah al-Fātiḥah sampai surah an-Nās baik sendiri maupun bersama-sama.18 Begitu juga dengan NK yang mengatakan bahwa khataman al-Qur’an adalah membaca al-Qur’an baik melihat atau tidak, baik bersama-sama ataupun sendiri.19
Pendapat lain tentang khataman al-Qur’an, sama yang diungkapkan oleh AA bahwa menurutnya khataman al-Qur’an adalah mendengarkan/menyimak bacaan ayat-ayat al-Qur’an dengan urut mulai dari surah al-Fātiḥah hingga surah an-Nās.20 Sedangkan menurut MQ khataman al-Qur’an ialah membaca keseluruhan al-Qur’an yang tujuannya mencari ridha Allah Swt.21 Berbeda lagi dengan pendapat BQ mengenai khataman al-Qur’an, ia berpendapat bahwa khataman al-Qur’an adalah melatih kita agar membaca al-Qur’an secara banyak.22
16 Salsabila Nurir R (Santri/pelaku jama’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.
17 Elva Rahmatillah (Santri/pelaku jama’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.
18 Wafa Fatimah (Santri/pelaku jama’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.
19 Nabila Khafidzatuz Z (Santri/pelaku jama’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.
20 Aisyah Ali (Santri/pelaku jama’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.
21 Millatil Qur’aniyah Q, (Santri/pelaku jama’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.
22 Bilqis (Santri/pelaku jama’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.
Adapun manfaat khataman al-Qur’an dirasakan sedikit berbeda-beda oleh para santri. Setelah dilakukannya observasi, para santri ternyata memberikan argumentasi yang sedikit berbeda-beda dalam menjawab apa saja manfaat yang dirasakan dengan kegiatan khataman al-Qur’an dalam salat tarawih ini. Pendapat tersebut sesuai dengan pengalaman masing-masing tentang apa yang mereka rasakan, begitu juga terhadap kontribusinya mengikuti kegiatan khataman tersebut. Dari 19 informan, peneliti menemukan beberapa manfaat yang paling dirasakan dari mengikuti tradisi ini, yaitu: menguatkan hafalan, mengoreksi hafalan, melatih bacaan dengan benar, memperoleh ketenangan hati, melatih kesabaran.
Dari 19 informan, 15 di antaranya memiliki pendapat yang sama. Menurut mereka, manfaat yang paling dirasakan dari tradisi ini adalah menguatkan hafalan yang mana mereka murāja’ah hafalan dan dipraktikkan dalam salat tarawih. Seperti pendapat NH, BQ, WF, HL, dan WT, mereka berpendapat sama yaitu menganggap bahwa manfaat yang paling dirasakan setelah mengikuti tradisi ini adalah menguatkan sekaligus memperlancar hafalan mereka. Seperti yang disebutkan NH bahwa tradisi ini bermanfaat untuk menguatkan hafalan. Manfaat ini juga dirasakan oleh WT yang mengatakan tradisi ini dapat menguatkan hafalan walaupun kadang mengantuk saat mengikuti salat tarawih. Serupa dengan jawaban yang lain, WF juga mengatakan tradisi ini sangat bermanfaat untuk melancarkan hafalan dan memperbaiki bacaan. Selain menguatkan hafalan, tradisi ini juga menjadi sarana memperbaiki bacaan hafalan. HL mengatakan bahwa sangat bagus untuk melancarkan dan menguatkan hafalan, begitu juga dengan BQ yang mengatakan tradisi ini bermanfaat untuk menguatkan hafalan dan hafalan juga bisa lebih terjaga.
Sedikit berbeda dengan pendapat para santri yang disebutkan di atas, MD, SA, AQ, PN mengatakan bahwa selain menguatkan hafalan, ada keistimewaan sendiri dalam mengikuti kegiatan ini, seperti mereka bisa mengoreksi hafalan mereka apabila ada kesalahan dalam menghafal. Seperti yang disebutkan PN, “Ada keistimewaan tersendiri, kita jadi bisa tahu salah bacaan kita setiap hari yang kita murāja’ah ketika mendengarkan bacaan imam.” Karena dengan menyimak hafalan imam, makmum bisa meneliti bacaan mereka apakah sudah benar baik dari segi hafalannya maupun tajwidnya. Seperti pendapat AQ, “Meneliti bacaan dan makhārijul huruf.” Dengan begitu mereka bisa tahu letak kesalahan
hafalan dengan mendengarkan bacaan imam. Selain itu, menurut MD dan AQ manfaat lainnya adalah melatih mereka untuk membaca dengan tartil, artinya melatih cepat dan lambatnya ketika membaca al-Qur’an.
Sedangkan menurut TS, SN, IW, RQ, AA, NK, mereka merasa bahwa selain menguatkan hafalan, tradisi semacam ini adalah ibadah spiritual yang sangat bermanfaat untuk ketenangan hati. AA mengatakan, “Mendapat ketenangan hati sekaligus mendapat pahala dari Allah Swt dan bertambah kuat pula hafalan.” Karena dalam tradisi yang seperti ini, salat tarawih menjadi lebih khusyu’, lebih bisa menikmati ibadah sebab salah satu motivasi mereka ialah mendapat ridho dari Allah Swt. Seperti pendapat NK, “Melatih kesabaran dalam menyimak bacaan, melatih salat khusyu’, dan melatih kekuatan ketika salat lama.” TS juga mengatakan “Salat menjadi tambah khusyu’ dan belajar sabar karena salatnya lama.” Artinya bahwa salat tarawih seperti ini menurut mereka melatih kesabaran dalam menyimak bacaan imam mengingat lamanya waktu salat dan berbeda dengan sholat tarawih pada umumnya yang hanya menggunakan surah-surah pendek sebagai bacaan setelah surah al-fatihah.
Empat informan lainnya, mereka sedikit berbeda pendapat terkait manfaat yang dirasakan setelah mengikuti tradisi khataman ini. Menurut ER, dengan ia mengikuti tradisi khataman dalam salat ini, memiliki rasa puas tersendiri atas amal baik dari khataman dalam salat, kerena menurutnya hal itu menjadi nilai lebih tersendiri jika dibandingkan dengan tarawih tanpa khataman al-Qur’an. sedangkan menurut MQ, tradisi khataman al-Qur’an dalam salat tarawih ini adalah salah satu sarana untuk melatih diri agar mencontoh salatnya Rasululllah Saw. Sebagaimana yang kita tahu bahwa rasul dan para sahabat sering mempraktikkan khataman al-Qur’an dalam salat mereka.
Menurut KN dan MA, khataman al-Qur’an dalam salat ini bisa menjadi sarana murāja’ah yang paling baik, karena menurut mereka murāja’ah ketika dipraktikkan ke dalam salat, itu berbeda dengan murāja’ah seperti biasanya. Menurut mereka dalam segi kekuatan hafalan, murāja’ah dipraktikkan dalam salat itu lebih mutqin hafalannya. Menurut KN, dengan mengikuti tradisi ini kita berarti ikut serta menyemarakkan dan mengindahkan bulan suci Ramadan karena mengingat pahala yang dilipatgandakan dan juga merupakan bulan diturunkannya al-Qur’an.
Dari jawaban informan yang telah dipaparkan diatas, manfaat yang paling dirasakan dalam tradisi ini adalah menguatkan dan melancarkan
hafalan. Mengingat latar belakang mereka yang semuanya para penghafal al-Qur’an, memang yang paling berpengaruh dari mengikuti tradisi khataman dalam salat ini adalah kekuatan hafalan. Yang mana memiliki hafalan yang mutqin menjadi salah satu harapan mereka penghafal al-Qur’an.
Praktik mengkhatamkan al-Qur’an ini tentunya juga ada manfaat yang didapat oleh asrama, yang mana ketika tradisi ini terus berlangsung dan hafalan santri semakin kuat berarti hal ini telah membantu untuk kemajuan asrama dengan kualitas santri yang kuat hafalannya.
Dengan melihat manfaat yang diperoleh dari informan, artinya tradisi ini memiliki petunjuk untuk menjaga hafalan al-Qur’an, terlepas dari apakah tradisi itu dilakukan oleh Nabi Saw, sahabat, dan tabi’in, atau tidak, sama seperti penghafal al-Quran masa kini. Mereka berusaha menghadirkan suatu tradisi atau kebiasaan menggunakan berbagai macam cara untuk menghidupkan al-Qur’an dan menjaga hafalan al-Qur’an, termasuk mengikuti kebiasaan khataman al-Qur’an dalam salat tarawih ini. Dalam kitab al-Tibyān fī Adabī Hamalat al-Qur’ān karya Imam Nawawi23 mencatat beberapa hadis dan riwayat berkenaan dengan pembacaan al-Qur’an untuk menjaga hafalan sampai khatam, baik di dalam maupun di luar salat.