• Tidak ada hasil yang ditemukan

Marjinalisasi Sosial dan Budaya

Dalam dokumen PENDIDIKAN RUSAK-RUSAKAN (Halaman 150-153)

Secara sosial dan budaya, marjinalisasi peran guru itu dapat dilihat melalui semakin merosotnya citra dan status sosial guru, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas. Di ling-kungan sekolah, profesi guru tidak lagi dipandang sebagai pro-fesi yang berwibawa, dihormati, dan diturut segala perkataan-nya, apalagi diteladani, melainkan dipandang sebagai penjual jasa lainnya, seperti dokter, pengacara, arsitek, dan lain-lain, y a n g hubungan mereka sangat fungsional, bukan hubungan kemanusiaan. Dengan kata lain, guru sekarang bukan lagi profesi yang istimewa.

Hal yang sama terjadi di masyarakat. Profesi guru di ma-syarakat bukan lagi sebagai profesi yang mulia, yang dijunjung tinggi, dihormati, disegani, diidam-idamkan oleh setiap anak muda, dan diimpikan oleh setiap orang tua. Para orang tua gadis kelas menengah pun tidak ada yang bermimpi memiliki menantu guru karena diidentikkan dengan tingkat pendapatan yang ren-dah. Guru dianggap sebagai profesi untung-untungan saja: un-tung masih bisa menjadi pegawai negeri, meskipun hanya sebagai guru. Konsep " u n t u n g " di situ memperlihatkan bahwa menjadi guru itu bukan cita-cita sejak awal, tapi cita-cita sampingan. Demikian pula kata " h a n y a " memiliki makna, bahwa profesi guru bukan merupakan pilihan pertama. Dan kenyataannya, orang yang menjadi guru m e m a n g mereka yang secara ekonomis, politik, dan b u d a y a k u r a n g b e r u n t u n g . O r a n g - o r a n g yang tergolong sepuluh terbaik di perguruan tinggi, bukan lari menjadi guru, melainkan memilih bekerja di sektor perbankan, jasa ke-uangan lain, pemasaran, periklanan, atau businessman.

Marjinalisasi, baik secara ekonomi, politik, sosial, maupun budaya yang paling menyedihkan terjadi pada guru-guru swasta, baik di kota-kota besar maupun kota-kota kecil atau bahkan di desa-desa, baik di sekolah kere (miskin) maupun sekolah-sekolah elite. Posisi mereka sama saja: sama-sama terpuruk. Yang membedakan hanya soal tampangnya doang. Artinya, guru-guru yang mengajar di sekolah elite dan di kota-kota besar, karena tuntutan profesi, tampangnya agak keren, sedangkan yang di sekolah-sekolah kere dan di desa lagi, tampangnya agak lusuh dan kurang percaya diri. Tapi secara subtstansial mereka meng-alami masalah yang sama, yaitu terpuruknya posisi mereka di hadapan murid maupun masyarakat secara luas.

Baik secara ekonomi, politik, maupun budaya, guru-guru swasta itu mengalami marjinalisasi ganda: dari penguasa negara maupun penguasa yayasan. Dan mereka tidak pernah memiliki bayangan kapan dirinya akan terbebas dari bayang-bayang ceng-keraman seperti itu. Dengan kata lain, guru-guru swasta itu sampai sekarang dalam posisi hopeless (tanpa pengharapan), kecuali harap-an akharap-an datharap-angnya bencharap-ana yharap-ang lebih buruk lagi.

Situasi lebih buruk yang dialami oleh para guru swasta (baik yang ada di sekolah-sekolah swasta maupun para guru honorer di sekolah-sekolah negeri) itu sebagai akibat dari saling lempar tanggung jawab antara pemerintah dengan pengusaha sekolah. Pemerintah menganggap bahwa guru-guru swasta itu menjadi tanggung jawab para pengusaha sekolah. Asumsi peme-rintah, kalau mau mendirikan sekolah mestinya juga harus berani bertanggung jawab. Sebaliknya, para pengusaha sekolah swasta berdalih bahwa dirinya hanya membantu pemerintah turut men-cerdaskan masyarakat. Oleh sebab itu, seharusnya pemerintah memperhatikan orang yang telah membantu dirinya untuk men-cerdaskan bangsa.

Akibat saling lempar tanggung jawab tersebut, nasib para guru swasta bukan makin baik, tapi malah makin buram, karena tidak tahu persis kapan akan mengalami perbaikan. Para guru

honorer di sekolahsekolah negeri konon justru sering m e m -peroleh perlakuan yang lebih menyakitkan karena mereka sering diperlakukan sebagai pengemis: pengemis jam mengajar, penge-mis honor, dan fasilitas lainnya. Seakan-akan yang mereka laku-kan itu berbeda sekali dengan yang dilakulaku-kan oleh para guru negeri sendiri. Nasib para guru honor di sekolah-sekolah negeri sangat tergantung pada budi baik kepala sekolah. Bila kepala sekolah memandang guru itu cukup manutan, tidak kritis, maka akan diberi jam mengajar, tapi bila dipandang ngrecoki (ganggu karena kekritisannya), maka tidak akan diberi jam meng-ajar lagi alias di-PHK.

Jadi jelaslah bahwa dengan kata lain, sekolah yang seharus-nya mengajarkan soal kebenaran, keadilan sosial, toleransi, dan solidaritas sosial itu pada praktiknya melakukan sesuatu yang berlawanan dengan yang seharusnya diajarkan. Para pimpinan sekolah negeri (yang didukung oleh para guru yang suka men-jilat) sebenarnya memberikan contoh yang kurang baik bagi pen-d i pen-d i k a n m e l a l u i t i n pen-d a k a n m e r e k a y a n g pen-d i s k r i m i n a t i f pen-dan semena-mena terhadap para guru honorer. Padahal, rekrutmen guru honorer di sekolah-sekolah negeri itu juga dilakukan secara sadar untuk menutupi kebutuhan kekurangan guru pelajaran. Tapi ironisnya, ketika sudah masuk di dalamnya malah tidak diperlakukan secara wajar.

Para guru negeri, selama masa Orde Baru, memang meng-alami marjinalisasi dalam semua segi kehidupan. Tapi sejak refor-masi, mereka secara ekonomis harus diakui telah mengalami beberapa kali perbaikan. Perbaikan itu terutama terjadi pada masa Presiden B.J. Habibie dan G u s Dur. Artinya, secara berta-hap status ekonomi mereka terus ditingkatkan melalui perbaikan kesejahteraan mereka. Demikian pula secara politis, posisi guru juga dinaikkan melalui adanya otonomi guru. Sayang, pemberian otonomi guru itu masih setengah-setengah, sehingga secara empiris belum memberikan peningkatan posisi tawar pada guru terhadap birokrasi pendidikan. Tapi sekali lagi para guru negeri itu relatif lebih baik dibanding para guru swasta yang tidak

memiliki bayangan kapan proses marjinalisasi yang mereka alami sekarang itu akan berakhir. Tidak seorang pun dapat menjawab-nya, kecuali para guru sendiri dengan satu syarat kalau mereka berani menutut perbaikan tersebut, baik kepada pemerintah maupun pengusaha sekolah.

Dalam dokumen PENDIDIKAN RUSAK-RUSAKAN (Halaman 150-153)